Thank you for the reviews, guys!
For a surprising struggle of writer's block, I could finally continue this chapter. I don't know if the plot seems rushed whatsoever. I tried to continue this story for you. It was an honor to have beautiful patrons to keep pushing me into finishing the story. And thank you to dearly beloved artist ZeruZeru(on pixiv) who wants to have my questions answered to keep this plot going as a dedicated fan to both Belial and Beelzebub. Simply, I can't do this without your help and support towards me.
Enjoy...
Saint Seiya Series, belongs to Masami Kurumada
Granblue fantasy franchise, belongs to Cygames
Corrupted Judgement
Busted
Dohko menenggak ludah. Ia paham jika ucapan Shaka bukanlah kebohongan. Sudah tentu Shaka akan melemparnya ke Enam Alam Samsara jika ketahuan memiliki iblis yang melekat di tubuhnya.
"Uh, Shaka..." Kata Dohko. "Apa kau punya petunjuk lain tentang Aiolos? Maksudku, selain jejak energi gelap yang ada di tubuhnya."
Shaka menaikkan alisnya. Ia melewatkan detail itu karena terlalu terburu-buru mencari anggota Gold Saint yang mungkin masih hidup.
"Demi Tapak Buddha, kau benar. Kita melewatkan petunjuk lain yang mungkin bisa menuntun kita pada pelakunya." Shaka menepuk dahinya, kemudian terbang melayang pergi untuk kembali ke tempat kejadian.
"Phew..." Belial akhirnya bisa bernapas lega.
"Dohko?" Sahut Saga pada Dohko, mendengar sayup-sayup suara nafas yang terdengar seperti desahan.
"Ya?" Dohko melirik Saga.
"Suara apa itu tadi?"
"Oh, itu hanya aku." Jawab Dohko sambil menggaruk kepala. "Saga, kau mau mandi di danau? Aku juga mau mandi. Panas sekali disini."
"Tidak usah. Kau mandi saja sana." Saga melambaikan tangannya, mengisyaratkan Dohko untuk pergi jauh.
"Baiklah. Aku pergi dulu." Dohko berjalan ke dalam semak-semak, hingga kemudian sampai di pinggir danau. Dilepaskannya zirah yang menempel di tubuhnya, kemudian duduk bersila dan memejamkan matanya. Meditasi untuk memfokuskan kekuatannya. Kesadaran Dohko kemudian terbawa ke dalam sebuah ruang kosong yang putih bersih. Di hadapannya, Belial berkacak pinggang.
"Kau beruntung, Tokui-ten. Aku hampir impoten melihat orang yang kau panggil Shaka itu." Kata Belial menatap Dohko manja.
"Apa kau yang melakukannya?" Tanya Dohko.
"Maksudmu melakukan apa?" Belial menaikkan sebelah alisnya.
"Jawab saja." Dohko menarik kerah baju Belial hingga wajah mereka saling bertatapan. "Apa kau yang mengendalikan Aiolos, Iblis?"
"Aku bukan iblis! Aku terlalu sibuk menyatukan hubungan kita berdua untuk melakukan apapun yang temanmu lihat!" Hardik Belial.
"Jika jejak energi gelap yang dilihat Shaka itu bukan ulahmu, lalu siapa?"
"Bahkan jika aku tahu, aku takkan memberitahunya padamu! Seperti yang kau bilang, aku hanya iblis pembuat kekacauan bagimu!"
Dari sudut mata Dohko, Ia melihat sekilas luka-luka di tubuh Belial, seperti bekas dicakar dan dicambuk.
"Apa Faa-san yang kau bicarakan itu melakukan ini padamu?" Dohko mengubah pertanyaannya.
"Rasa sakitnya sepadan dengan kenikmatannya di ranjang. Rawr~" jawab Belial dengan membuat pose kucing liar.
"Ternyata kau jenis orang menyembunyikan perasaannya dengan melampiaskan nafsu birahi pada orang lain. Meremehkan dirimu yang selalu lima langkah di depan mereka."
"Oooh, pembacaan yang bagus, Kakek. Apa yang di bawah perutmu juga begitu pintar?" Belial kembali menggoda Dohko sebelum dijatuhkan ke lantai.
"Cukup dengan rayuannya. Orang yang mengendalikan Aiolos bisa jadi sedang mengincarmu, atau lebih buruk! Faa-san yang kau bilang sedang lemah, dia dalam bahaya."
Belial terbelalak, menyadari sosok yang dia panggil Faa-san mungkin dalam bahaya, dan hanya satu orang yang tak segan melawannya.
"Babu-san..." Gumam Belial.
"Maaf, aku tidak mendengarmu." Dohko mendekatkan telinganya pada wajah Belial.
"Namanya Beelzebub. Jika kesulitan menyebut namanya, cukup panggil Bubs. Aku memanggilnya Babu-san. Aku akui kau sangat hebat dalam menginterogasi. Aku sangat..."
"Jelaskan dalam 20 kata dan saring mulut kotormu." Dohko memotong pembicaraan.
"Baiklah. Kau memberiku impoten." Belial memutar bola matanya. "Babu-san adalah teman yang kubicarakan padamu waktu itu. Kau tidak sengaja membebaskan kita semua, dan maksudku, termasuk Babu-san dan Faa-san."
"Dan kau tahu dia sekarang dimana?"
Belum ada jawaban lagi dari Belial, terjadi guncangan besar yang menggetarkan mereka berdua.
Dohko kembali tersadar. Sekelilingnya telah menjadi kawah meteor yang besar.
"Dohko, awas!" Saga menunjuk ke langit. Hujan meteor bersiap untuk menghantamnya. Di balik meteor-meteor itu, sekumpulan orang dengan zirah hitam dengan retakan keemasan melesat menuju mereka berdua. Dohko segera berlari menyingkir, namun dirinya tak cukup cepat untuk menghindari meteor-meteor itu.
"Crystal Wall!"
Sebuah suara terdengar di telinga mereka. Suara yang memanggil dinding pelindung yang menahan serangan tersebut. Dohko mencari sumber suara itu kemana-mana. Ia masih tak menggunakan zirahnya.
Kemudian suara lain menyusul.
"Tenbu Hourin!"
Sesuatu menghentikan gerak mereka, lalu menjatuhkan prajurit-prajurit mayat hidup itu ke tanah. Tak lama kemudian, seorang lagi prajurit zirah emas bergabung dengan Shaka. Dia adalah Aries Mu, Gold Saint pandai besi.
"Syukurlah kau selamat, Mu. Kita sedang membutuhkan keahlianmu." Saga kemudian datang menghampiri Mu.
"Bagus. Mari berharap namanya tidak hilang dalam terjemahan saat seseorang mencoba membaca cerita ini." Gumam Belial.
"Dohko, kau dengar suara itu?" Tanya Mu.
"Itu perasaanmu saja." Ucap Dohko mencoba mengabaikan suara Belial yang terdengar oleh mereka.
"Shaka, bagaimana kau bisa menemukan Mu?" Tanya Saga.
"Oh, aku menemukan Mu karena dia menemui seorang pria misterius yang berpenampilan seperti Pope." Jelas Shaka.
"Aku melihat dia mencari benda ini." Mu kemudian menunjukkan pecahan kaca berwarna kehitaman yang ada di tangannya. Aura kehitaman memancar dari pecahan kaca tersebut. "Aku menemukan ini ketika sedang mencari Aldebaran, sebelum dia tertusuk oleh orang itu dan menjadi seperti mayat hidup."
Kedua mata Dohko berubah kemerahan, kemudian tubuhnya bergerak dengan sendirinya, mengambil pecahan kaca tersebut. Tiga Gold Saint itu kaget dengan tingkahnya yang aneh.
"Dohko, kembalikan pecahan itu sekarang." Saga perlahan mendekati Dohko dan menenangkannya.
"Maafkan aku, teman-teman. Aku ingin meniup peluit kalian, tapi ada urusan yang lebih intim dari ini." Ucap Dohko dengan suara yang terdistorsi dengan nada yang menggoda.
"Tenbu-"
"Anagenesis!"
Belum selesai Shaka merapal mantranya, Dohko tiba-tiba bisa merapal mantra kegelapan yang mengikat mereka bertiga dan mengembangkan tiga pasang sayap kelelawar yang membawanya terbang menjauh.
"Dohko juga salah satu dari mereka yang dikendalikan?" Tanya Mu.
"Tidak." Shaka menggeleng. "Seperti yang dia bilang, pasti ada sesuatu yang lain."
Dohko terbang selama beberapa jam, sebelum kemudian terjatuh di sebuah pulau kecil yang terpisah dari tempat dirinya tiba sebelumnya. Seluruh tenaganya terkuras, atau sebenarnya itu kekuatan dari Belial.
Dohko terbaring lemah. Matanya yang kemerahan kini berubah kembali menjadi hijau. Tersadar bahwa dirinya sudah tak bersama teman-temannya lagi.
"Aku dimana? Apa yang sedang terjadi?" Dohko kemudian melihat tubuhnya. Belial berbentuk tato itu berpindah ke dadanya. "Belial, apa yang baru saja kau lakukan?"
"Barang yang mereka temukan akan menjadikan mereka sasaran utama Babu-san. Kita masih belum tahu sejauh apa dia akan bertindak untuk mencariku." Jelas Belial.
"Jadi kau akan membiarkan mereka jadi budak kegelapan demi pecahan kaca-kenapa ini ada di tanganku?" Dohko melihat pecahan kaca yang entah bagaimana sudah ada di tangannya.
"Yang kau pegang itu pecahan Primal Core dari Avatar, ciptaan terbaik Faa-san. Saat Babu-san dibuang di retakan dimensi, inti kekuatannya pecah termasuk yang ada di tubuhku. Aku yakin dia sedang mencari pecahan terakhir untuk memulihkan kekuatannya."
Tiba-tiba, terdengar suara tepukan tangan dari kejauhan. Sesosok pria tinggi bertudung hitam datang menghampiri mereka.
"Penelitian yang cerdas, Belial." Kata pria misterius itu. "Sayangnya kau sudah terlambat. Oh, aku lupa. Kau terjebak bersama orang asing ini."
Mata Dohko berubah menjadi kemerahan, tanda Belial sedang mengendalikan tubuhnya.
"Babu-san, sudah lama sekali, ya? Aku merindukan adegan panas kita di ranjang. Aku masih ingat eranganmu saat kau kesulitan bernapas."
"Cukup, Belial. Dimana inti kekuatan itu?" Sosok bertudung hitam yang disebut sebagai Beelzebub itu mengulurkan tangannya.
"Bahkan jika aku punya, aku takkan memberitahumu." Ucap Belial ketus.
"Benar. Hanya satu hal yang bisa meyakinkanmu." Beelzebub mengayunkan tangannya. Sayap-sayapnya yang terdiri dari pecahan-pecahan logam membawakan sesosok pria berkulit pucat dengan jahitan di lehernya.
"Kau takkan tega membunuh Faa-san. Aku tahu kau juga mengidolakannya." Belial berusaha tenang meskipun dirinya sedang panik.
"Ya, tapi aku yang membawa tubuhnya dan kubangkitkan dia dengan kekuatanku. Aku bisa mengambilnya kembali." Beelzebuh menutup mulut pria di cengkeramannya itu dan membentuk sayapnya menjadi mata tombak yang tajam.
"Jangan!"
"Kau bilang apa?" Beelzebuh menghentikan aksinya, mendengar sahutan dari Belial.
"Aku akan menyerahkan pecahannya padamu, tapi membunuh Faa-san akan menarik perhatian para prajurit emas itu. Aku melihat kekuatan mereka melebihi sekumpulan anak kecil yang mengurungmu dahulu, bahkan lebih kuat dari makhluk astral manapun."
"Oh, Belial yang manis. Kau pikir karena kau terjebak bersama seorang prajurit emas yang mengeluarkan kita dari ruang kosong terkutuk itu, aku akan mempercayai ucapanmu. Kau lihat itu, Lucilius? Bahkan nadanya terdengar putus asa."
"Aku bahkan tak tahu siapa dirimu." Kata pria yang dipanggil Lucilius itu.
"Kau akan." Mata tombak pada sayap Beelzebub menghunus jantung Lucilius, lalu tubuhnya terbakar hingga menjadi abu yang beterbangan. "Tidak ada kebangkitan kali ini."
Belial menyaksikan kematian itu tepat di hadapannya, membuatnya jatuh terduduk.
"Bawa pecahan intinya ke Canaan saat bulan purnama. Jangan membuatku menunggu." Beelzebub mengibarkan jubah hitamnya, menghilang dalam sekejap mata.
Mata Dohko kembali berwarna hijau, lalu terjatuh tak sadarkan diri. Seluruh tenaganya kali ini sudah terkuras habis. Dohko berpaling dari Gold Saint, dan Belial kehilangan sosok kebanggaannya. Harapan mereka hanyalah satu sama lain.
Tepat ketika harapan hilang dan Dohko setengah sadar, tampak samar-samar tiga Gold Saint yang datang menyusulnya. Salah satunya mengangkat tubuhnya dengan pikirannya, dan satu lagi menepuk dada Dohko dengan sangat keras hingga dirinya tersadar kembali.
"Aduh, itu sakit sekali." Dohko mengelus dadanya yang sakit. Kemudian dia melihat tiga teman-temannya. "Bagaimana kalian menemukanku?"
"Ada aura gelap di sekitarmu. Tidak terlalu sulit bagiku." Jawab Shaka.
"Terima kasih, teman-teman." Dohko kemudian berdiri dan berbalik badan. Melihat Belial yang duduk di bawah pohon. Tatapan matanya sendu.
"Belial, ada apa denganmu? Kita sudah terpisah. Itu berita yang bagus!" Dohko tersenyum sambil menepuk pundak Belial sementara tiga Gold Saint memasang kuda-kuda untuk membunuhnya.
"Menjauh dari iblis itu, Dohko. Dia yang sejak awal mengendalikan tubuhmu." Mu mengarahkan telunjuknya pada Belial.
"Teman-teman, Belial bukan sasaran kalian!" Dohko beranjak berdiri di hadapan Belial, melindunginya. "Dia mungkin iblis, tapi bukan dia yang membantai teman-teman kita."
"Lupakan saja, Tokui-ten." Kata Belial. "Aku akan datangi Babu-san sendiri. Ini pertempuranku dengannya."
Belial mengeluarkan tiga pasang sayap kelelawarnya dan hendak terbang pergi, namun Dohko menggenggam kakinya, menariknya kembali ke tanah.
"Belial, aku tahu kau setia pada Faa-san. Aku tahu kau juga memiliki pertikaian dengan Bubs dan aku tak tahu apa lagi rentetan masalah yang kau bawa dengannya. Tapi, demi Perisai Aegis dewi Athena, aku takkan biarkan kau membawa beban masalahmu sendiri dan jika aku harus terjebak denganmu untuk menyelamatkan teman-temanku yang menjadi budak kegelapan, maka biarlah." Dohko menahan Belial di tanah, kedua pasang mata itu saling berdekatan.
Tiga Gold Saint itu menurunkan tangan mereka. Dohko sudah mempercayakan tugasnya pada Belial. Bisa jadi, ucapannya memang benar.
"Akhirnya, adegan film biru yang istimewa. " Belial terkekeh. "Tapi perjalanan ke Canaan akan sangat jauh dari sini, dan kita butuh lebih dari kekuatan sihir dan inti kekuatan Avatar untuk menemukan pulau terpencil itu."
"Mungkin, sihir tidak selalu menjadi jawabannya." Saga menggosok dagunya. "Bagaimana dengan Cosmo?"
"Cosmo?" Belial menaikkan satu alisnya. "Apakah itu yang membuat kalian lebih kuat dari bangsa Astral?"
"Kurang lebih begitu." Jawab Saga. "Aku bisa menggunakan Another Dimension, Shaka bisa melacak energi gelap yang besar itu untuk menuntun kita ke Canaan."
Belial menendang selangkangan Dohko hingga jatuh tersungkur, kemudian berdiri dengan kedua kakinya.
"Itu ide yang bagus, tapi yang kalian hadapi bukan lagi dewa atau monster atau Primal Beast. Babu-san adalah anggota Dewan Astral, dan dengan teman-teman kalian yang dikendalikan olehnya menggunakan Chaos Matter, kita kalah jumlah."
Belial menyelipkan tangannya ke dalam celananya, merogoh selangkangannya.
"Kita butuh rencana untuk menggunakan kekuatan ini melawannya."
"Dan kenapa kami harus mempercayaimu?" Tanya Shaka.
"Aku yakin di dunia kalian ada ungkapan 'musuh dari musuhku adalah temanku'. Aku melakukan ini karena dia juga membunuh Faa-san dan layak untuk diberi pelajaran."
"Dohko, aku rasa ini milikmu." Mu mengambil sebuah kotak emas dengan pikirannya, menyerahkannya pada Dohko.
"Terima kasih, Mu." Dohko langsung mengenakan zirah emas yang berada di dalam kotak itu.
"Waktunya membakar Cosmo."
~TBC~
