"Bangun! Bangun! Bangun!"

Pegas matras berderit pelan ketika sosok mungil keranjingan lompat naik-turun di permukaannya. Berat tubuhnya belum cukup untuk membuat seluruh ranjang bergetar, namun sudah lebih dari cukup untuk mendepak penghuni kasur dari buaian alam mimpi.

Takao Kazunari mengerang. Tubuh refleks bergelung ke sisi matras yang dingin. Desisan melesat ketika ia tak sengaja membuka mata dan cercah matahari pagi menembus retina. Bantal ditarik sampai menutupi seluruh wajah.

Satu guncangan hebat kemudian, pendengarannya dijebol oleh sebuah teriakan cempreng.

"Ka—zu—kun!" panggil gadis cilik bersurai hijau sambil anarkis mengguncang bahunya yang tidak terlindung perisai bantal. Kikikan geli terlepas dari bibir mungilnya ketika ia melompat-lompat lagi, kini beralas lutut. "Ohayou! Bangun! Bangun!"

"Ugh, sepuluh menit lagi…" Kazunari menggumam dengan pengucapan amburadul. Ingin sekali menekan tombol mute imajiner untuk membisukan semua suara di dunia, sebentar saja. Kasurnya terlalu empuk baginya untuk mampu meninggalkan dekapan matras.

Tak gentar, gadis itu berdiri lagi dan beralih menarik lengan kaus yang dikenakannya. "A—yooooo!" ujarnya penuh paksa, mengerahkan seluruh tenaga, sampai tiba-tiba genggamannya terlepas dan ia tumbang beralas punggung.

Mendengar pekikan terkejut itu, Kazunari sontak mendudukkan diri.

"Haku-chan!" Ketar-ketir, Kazunari meraup tubuh gadis kecil itu—yang untungnya terjatuh ke kasur dan bukannya ke lantai. "Jangan aneh-aneh!"

Kontras dengan teguran khawatir Kazunari, Kohaku yang masih berada di dekapannya malah tertawa girang. "Kazu-kun sudah bangun!" ujar gadis kecil itu senang, "Ohayou!"

Tawa gembira itu membuat Kazunari luluh seketika. Disibaknya poni berhelai sewarna dedaunan dengan penuh sayang, lalu dahi mungil dikecup.

"Ohayou juga, Haku-chan." Senyum identik merekah di paras Kazunari. "Mau sarapan apa?"

Dengan netra batu ambar yang berbinar, Kohaku menjawab, "Pancakes!"

.

.

「KALEIDOSCOPE」by xxcrystalinerose

黒子のバスケ belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei

Warning: Future Fic. Post-canon. OOC/MxM/Implied M-Preg/OC(s). Multipair. Anakronis. Slice of life yang ada plotnya. Family/Friendship dengan bumbu genre Romance dan Drama berstandar Korea.

Happy Reading!

.

.

02.

6700 Miles

(緑 x 高)

.

.

"Eh, telurnya habis."

Pintu kulkas ditutup kembali. Kazunari mengamati perkakas dan bahan-bahan yang sudah terkumpul di konter dapur. Bagaimana caranya membuat panekuk tanpa telur? Sepertinya ia harus berkompromi kali ini.

Kepala dilongokkan dari tikungan dapur. Kazunari mendapati Kohaku yang terduduk di karpet depan televisi dan asyik menonton tayangan Oha-Asa.

"Haku-chan, di kulkas nggak ada telur." Panggilnya, suara agak dikeraskan. "Panekuknya buat camilan nanti saja, ne? Sekarang sarapan roti dulu."

Kohaku mengeluarkan bunyi sarat protes. Dengan muka memberengut, ia akhirnya mengangguk juga—meski dengan hati yang super berat. Tercermin dari kerut-kerut halus di antara alisnya dan kedua pipi yang masih menggembung ketika Kazunari bergabung di ruang tengah dengan sarapan mereka.

Setangkap roti berlapis selai apel yang dipotong menjadi empat dan segelas kecil susu vanila untuk Kohaku, dua tangkap roti berisi daging asap dan segelas jus jeruk untuknya.

"Jangan ngambek, dong."

Celetukan inspiratif dianggap angin. Kohaku mendengus sebal. Potongan roti dilumat dengan penuh paksa, sementara tatapnya terpaku pada layar televisi seolah-olah eksistensi Kazunari nihil.

Yah, setidaknya sarapannya masih dimakan.

"Dan kita sampai di peringkat nomor satu hari ini!" Dendang ceria presenter Oha-Asa—yang rupanya sudah ganti orang—menguar. "Selamat untuk para Cancer! Lucky item kalian adalah sebuah garpu! Nasihat spesial hari ini: jangan lupa untuk memberi ciuman untuk orang yang kalian sayangi! Sekian dan sampai jumpa di episode berikutnya~"

Selepas wejangan kolom 'nasihat spesial' disampaikan, Kazunari nyengir. Menengok ke putrinya, ia mendapati Kohaku yang pipinya mirip warna buah tomat.

"Hmm, Cancer yang baik seharusnya memberi hadiah ciuman…" Mengkode dengan sangat tidak implisitnya, Kazunari pura-pura tidak tahu. "… mana, ya? Kok belum kelihatan?"

Kohaku, dengan wajah merona hebat, cepat-cepat mendaratkan satu kecupan singkat ke pipi kirinya. Kazunari kontan terbahak menyaksikan momen tsun langka dari putrinya yang hampir setiap saat condong ke ujung skala dere-dere itu. Ia langsung meraup anak itu ke pelukannya—yang memprotes keras-keras ketika dihujani ciuman, namun berujung larut menjadi gelak ceria.

.

.

Menelusuri rak-rak yang berjajar, Kazunari akhirnya menemukan objek buruannya di ujung suatu lorong.

Sekarton telur dibolak-balik. Dengan hati-hati, ia menginspeksi cangkang setiap butir putih yang tersusun rapi pada kemasannya. Satu lengan menenteng keranjang belanja, sementara Kohaku—yang puncak kepalanya baru sebatas pinggul—memegangi belakang jaket katun Kazunari.

Tarikan pelan pada jaketnya membuat Kazunari menengok ke bawah. "Hm?"

"Kazu-kun, kenapa telur dilihat?" Kohaku bertanya, sambil menunjuk ke arah karton-karton telur lain yang masih terduduk manis di etalase.

"Biar tahu kalau ada yang retak," jawab Kazunari, sembari memasukkan belanjaannya ke keranjang. "Nanti kalau retak, jadinya tidak bisa buat panekuk yang banyak!"

Manik ambar yang kembar dengannya membola horor. Kohaku melepaskan pegangannya dan meraih ke dalam keranjang belanja. "Jangan retak!" ujarnya sambil menepuki permukaan telur-telur itu.

Kazunari tertawa. Mengerling ke kanan, etalase bahan segar berada di kejauhan. Seingatnya tadi sudah ada sayur untuk makan siang dan makan malam. Kemarin mereka belum makan sesuatu yang berkuah, dan bahan-bahan sup miso di rumah masih ada. Opsi yang tersisa adalah camilan—sepertinya sudah waktunya makan buah juga.

Tangan mungil digandeng. Kazunari menuntun sang putri cilik menuju rak-rak pendingin. "Haku-chan mau buah apa?"

"Stroberi!" jawabnya riang.

Diam-diam Kazunari bersyukur pada kami-sama karena anaknya yang satu ini tidak butuh diguna-guna supaya mau mengonsumsi khalayak buah dan sayur.

Dendang ceria Kohaku yang mengulang-ulang kata 'stroberi' dengan nada random menemani langkah mereka. Mereka memilah buah yang dicari—Kazunari berpikir, buahnya bisa dibuat selai karena yang apel di rumah sudah mau habis tadi pagi—kemudian mengumpulkannya bersama sisa belanjaan yang lain.

Kazunari menilik belanjaannya, memastikan bahwa semuanya sudah lengkap. Telur, cek. Stroberi, cek. Tadi ia sempat mengambil daging segar (bumbu lebih enak kalau membuat sendiri, walau tersedia opsi praktis yang sudah dimarinase), lalu stok sereal jagung rendah gula yang kerap menjadi sarapan dadakan.

"Yosh," ujar Kazunari dengan anggukan puas. "Sudah selesai! Ayo ke kasir—"

Ketika ia mundur dari etalase tujuan terakhir mereka, punggungnya menabrak sesuatu.

"Ah, maaf, maaf!"

Berbalik, Kazunari mendapati dirinya bersitatap dengan azure kembar—dan buntalan merah cerah yang berada di dekapan sosok itu.

"Are, Kazu-kun?"

Akashi Tetsuya membelalak. Kou kecil—yang terakhir Kazunari lihat masih berwujud bayi delapan bulan sekian—anteng di dekapan Bunda-nya, menggelayuti depan sweater putih yang dikenakan Tetsuya. Tubuh mungilnya berbalut jaket lembut yang bertudung.

"Eh, Tecchan?!" Kazunari berseru. Seulas senyum cerah terbit seketika melihat perwujudan ayah-anak yang, usut punya usut, sama-sama berhawa tipis itu. "Hisashiburi! Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu!"

"Sudah lama, memang." Tetsuya membalas senyumannya. Ia menengok ke Kou yang masih pendiam seperti biasanya. "Salam untuk Kazunari-san?"

Pipi gembil bocah itu disapu rona sewarna surainya. Kou menengadahkan sebelah telapak ke arah Kazunari sejenak, kemudian ia langsung berpaling dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Tetsuya. Aih, lucu sekali.

Tetsuya terkekeh pelan melihat gelagat malu-malu putra bungsunya. Ia berlutut, menyapa gadis kecil yang sedari tadi memperhatikan Kou dengan sorot berbinar.

"Ohayou, Kohaku-chan." Tetsuya mengelus mahkota hijau itu dengan senyum teduh.

Cekikikan Kohaku menemani balasannya. "Tecchan! Ohayou!" ujarnya, dan Kazunari merasa kalau ia akan mati overdosis gula jika dihadapi dengan tingkah periang putri semata wayangnya. Gadis itu meraih dan melarikan tangannya di antara helai-helai scarlet Kou yang masih bersembunyi. "Kou-chan juga!"

"Tumben kemari, ada acara spesial kah?" celetuk Kazunari. Masih pukul segini dan mereka sudah berpakaian 'keluar'. Shinjuku-ku berjarak setengah jam dari Ueno, dan Tetsuya terlihat seperti ingin jalan-jalan.

"Hanami," jawab Tetsuya seraya kembali berdiri di kedua kaki. "Karena kita tahun lalu sudah ke Shinjuku-Gyoen, jadi aku berpikir sebaiknya kali ini anak-anak melihat sakura di tempat lain saja."

"Ahh, begitu."

Kazunari teringat akan kanopi berbunga merah muda yang tersebar sejauh mata memandang dari balkon apartemen mereka. Firasat melankolis selalu berdesir dalam batin tiap kali ia melihat sakura tahun lalu hingga tahun ini. Dua hanami terakhir rasanya kekurangan sesuatu.

"Ngomong-ngomong, Kazu-kun."

Celetukan miskin nada menyepak Kazunari dari lamunannya. Mengerjap, ia mendapati Tetsuya yang menatapnya lekat. Binar geli terpancar dari iris lazuardi.

"Kenapa kaus itu masih ada padamu?"

Tiba-tiba merasa sadar diri, Kazunari melepas tawa nerfes. Objek komentar Tetsuya adalah kaus merah yang dikenakannya. Agak longgar sampai mengekspos sebagian besar tulang selangka dan bercetak kanji yang sudah agak pudar dimakan waktu.

Kazunari mengibas-ngibas sebelah tangan. "Hei, kaus ini bersejarah. Lagipula, sekarang tulisannya sudah in-character denganku, kok!"

"Megane-danshi nanodayo!" Kohaku mengimbuhkan.

Mereka semua—minus Kou yang hanya tersenyum supertipis—tertawa bersamaan, mengundang tatapan miring dari sesama pengunjung supermarket. Rasanya seperti mendengar candaan namun tidak mendapat konteks di baliknya.

Menghela napas, Tetsuya melirik jam yang melingkar pada pergelangannya. "Ah, seharusnya Seijuurou-kun sudah mendapat semua yang kita butuh…" gumamnya. Mengembalikan atensinya ke Kazunari, pria bersurai langit itu berpetuah, "Jaga kesehatan, Kazu-kun. Kohaku-chan juga, oke?"

"Siap, sensei!" Kazunari nyengir, berbarengan dengan seruan 'oke!' dari Kohaku.

Setengah berbalik, Tetsuya menambahkan, "Sampaikan salam kami ke Midorima-kun."

Mereka melambai tanda selamat tinggal ke duo yang menjauh itu. Menajamkan penglihatanya, Kazunari dapat melihat di kejauhan, tak terhalang etalase dari sudut pandangnya; sosok dewasa bersurai merah yang menenteng kresek agak besar di satu lengan dan bocah yang puncak kepalanya tertutupi hoodie berkuping kucing di lengan satunya.

Tetsuya menyusul mereka, bercakap-cakap sejenak, kemudian menunjuk ke arah Kazunari.

Akashi Seijuurou mengangguk dengan senyum yang terlalu tipis untuk diapresiasi dari sini. Kazunari cukup balas melambai, lalu keluarga empat orang itu menghilang ke luar.

Cengirannya pudar ketika nyeri terasa di belakang mata. Desisan singkat terlepas. Kazunari mengerjap cepat, lalu menggeleng, berusaha menepis denyut tumpul yang perlahan menjalar ke kepala.

Genggaman tangan mungil Kohaku pada jaketnya mengerat. "Kazu-kun…?"

"Nggak, nggak apa-apa." Ujarnya santai. Kazunari mencolek bingkai kacamatanya yang agak melorot, lalu menggapai tangan hangat putrinya itu, menuntun langkah mereka menuju kasir, yang dijeda pertemuan tak terduga tadi.

"Nanti malam kita telepon Shin-chan, ya?"

"Tapi pancakes dulu!"

"Tentu saja!"

.

.

.

Pertama kali Akashi Seijuurou melihat wajah putrinya, ia berkata; "Entah kenapa aku hanya bisa melihat Midorima versi mini."

Tetsuya, yang kala itu juga hadir dengan menimang Seiichi kecil, mengangguk mafhum. Perkataannya adalah; "Kohaku-chan… mirip sekali dengan Midorima-kun."

Mendengar opini mereka, Kazunari ngakak sampai setengah sekarat, sementara Shintarou berdiri dengan mimik ditegarkan namun sewarna udang rebus.

Kala itu pula, Kazunari mengira kalau komentar pasangan kontras warna itu hanya tertuju pada penampilan fisik putrinya. Setelah dipikir-pikir lagi, ia jadi merinding—jangan-jangan perkataan Akashi Seijuurou adalah ramalan, karena sekarang Kazunari melihat bahwa Midorima Kohaku benar-benar mirip dengan ayahnya.

Denting kunci piano menggaung di seluruh ruang apartemen mereka.

Kazunari yang masih mengocok adonan panekuk langsung menengok ke arah ruang tengah. Tidak ada melodi harmonis; hanya bunyi acak. Penasaran, ia bermigrasi ke konter pusat dapur—sekalian mengawasi karena Kohaku yang mudah penasaran itu pernah nyaris terjatuh dari kursi piano.

Tampaklah perwujudan gadis cilik yang tengah menekan-nekan tuts piano tanpa arah. Kohaku terduduk di depan grand piano putih. Tubuhnya terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan instrumen itu.

Dari sini, Kazunari hanya bisa melihat surai hijaunya yang dikepang rapi, dan mendengar cekikik geli yang sesekali terlepas tatkala Kohaku menemukan kombinasi kunci yang nadanya enak didengar.

Tersenyum sendiri, Kazunari kembali ke pekerjaannya. Adonan yang sudah tercampur dituangkan ke wajan yang sudah panas. Harum vanila menguar dari adonan yang perlahan termasak.

Nasib piano itu diperjuangkan ketika mereka pindahan ke Ueno dulu. Shintarou bersikeras membawa instrumen itu dari rumah keluarganya. Mereka menghabiskan berhari-hari untuk mencari apartemen yang mengizinkan keberadaan dan cukup luas untuk sebuah grand.

Pertama mereka resmi pindah kemari, Shintarou langsung merayakannya dengan sebuah lagu. Kohaku saat itu masih mungil sekali, namun mendengarkan alunan melodinya, ia langsung jatuh cinta dengan instrumen itu—dengan menunjukkan senyum secerah mataharinya, dan ceguk tawa khas anak kecil.

Tiap kali Shintarou bermain, Kohaku akan menontonnya. Memperhatikan bagaimana cara jemarinya menari di atas tuts. Ketika ia sudah bisa duduk anteng, Kazunari sering melihat gadis cilik itu di pangkuan Shintarou, sesekali ikut menekan tuts piano.

Sekarang, Kohaku terduduk sendirian. Kazunari tidak bisa bermain untuknya, apalagi mengajari, namun putrinya masih gemar bereksperimen—tidak seperti dirinya yang hingga kini masih mengecap rasa getir setiap kali ia melihat instrumen itu.

Sampai di panekuk kelima-nya, Kazunari yang separuh melamun tersadar bahwa bunyi piano sudah berhenti dan kepala hijau itu sudah mejeng di belokan menuju dapur, mengintip kegiatannya.

"Kazu-kun, sudah jadi?" langkah-langkah kecil memasuki arena dapur. Kohaku berjinjit, penasaran dengan progress camilan favoritnya.

"Kurang sedikit lagi habis." jawab Kazunari seraya membalik panekuknya.

Wajan diabaikan sebentar, ia meraih sebuah piring dan pisau, lalu mengiris sebuah pancake menjadi potongan yang dapat habis sekali lahap. Madu dituangkan secukupnya ke atas irisan-irisan itu, kemudian dihias dengan butir stroberi segar.

Piring berbahan plastik dan sebuah garpu disodorkan. "Hati-hati, masih agak panas."

"Arigatou, Kazu-kun!" seru Kohaku, mengambil piring itu dan membawanya kabur ke ruang tengah secepat kilat.

Ketika Kazunari selesai menghabiskan seluruh adonannya, mencuci semua perkakas dapurnya, dan mengekori putrinya ke ruang keluarga sambil memboyong setumpuk panekuk dan botol madu, piring Kohaku sudah nyaris kosong.

Dengan garpu di tangan kiri, Kohaku menyuap sisa pancake-nya. Netra ambarnya memandangi layar televisi yang tengah menayangkan kartun yang Kazunari lupa judulnya. Ia terduduk manis, piringnya di pangkuan.

"Kazu-kun, pancake-nya beda." Celetuk Kohaku tiba-tiba, setelah kunyahannya selesai.

Potongan yang sudah setengah jalan ke mulut terhenti. Kazunari melirik. "Hm? Beda bagaimana?"

"Yang ini lebih enak."

Kalimat itu terlontar dengan nada sedikit kecewa. Kazunari otomatis membatin, astaga, itu pujian atau hinaan?

Perkataan putrinya sungguh menohok hati. Sedikit sensi, ia membalas, "Ya, dari dulu masakan Kazu-kun-mu ini memang lebih enak dari punyanya Shin-chan!"

"Nggak." Kohaku menjawab singkat. Satu butir stroberi yang tersisa di piringnya disundul kesana-kemari dengan ujung garpu. "Yang ini beda."

Setelahnya, gadis bersurai hijau itu terdiam dan Kazunari tiba-tiba tak tahu cara memulai sebuah percakapan.

.

.

.

Senja harinya, Kazunari yang baru saja keluar kamar mandi terkejut bukan kepalang ketika ia membuka pintu dan langsung disambut perwujudan Kohaku.

"Dari Shin-chan!" pekik Kohaku antusias, menyodorkan sebuah tablet yang mendengungkan nada dering. "Ayo jawab, Kazu-kun!"

Seumur hidupnya, Kazunari tidak pernah bergerak secepat ini—menyambar atasan ganti, memungut putrinya, dan berlari setengah kesetanan ke kamar dengan memboyong Kohaku yang memeluk tab hitam miliknya itu dalam waktu kurang dari lima menit.

"Shin-chan!" Kohaku memanggil, ketika layar tablet menampakkan sosok yang familiar itu. "Konbanwa!"

"Konbanwa untukmu, Kohaku," balas Midorima Shintarou dengan senyuman langka yang terbit di wajahnya yang digelayuti kantuk. Menghela napas, ia menambahkan, "Di sini masih pagi."

"Baru pulang lagi, Shin-chan?" sekarang giliran Kazunari yang menyeletuk. Cengiran merekah ketika ia menangkap latar belakang video call. Hampir seluruh permukaan meja kerja sederhana itu tertutupi alkitab medis dan dokumen-dokumen antah berantah.

"Begitulah. Bahkan setelah enam tahun lebih aku masih benci tahap destruksi." Shintarou mendumel. Zamrud kembar menteleng ke direksi berkas-berkasnya yang semewarut. "Selain itu, aku belum tidur sama sekali dari kemarin."

Tak tahu diri, Kazunari tertawa lepas. Shintarou memang terlihat seperti orang yang belum bertemu kasur lebih dari dua puluh empat jam—terbukti dari kantung mata yang tampak menyembul dari balik bingkai kacamatanya.

Ekspresi Shintarou tampak tidak terkesan.

"Jangan mengejekku, Kazu." Bingkai hitam dicolek sekali. Ketika perhatiannya teralih ke putrinya, vokalnya melembut. "Apa harimu menyenangkan, Kohaku?"

Kohaku mengangguk cepat. "Kazu-kun mau buat pancakes, kan, terus telurnya habis. Terus kita ke supaa—dan habis kita belanja semuaaanya, kita ketemu Tecchan dan Kou-chan!"

Narasi itu adalah kalimat terpanjang yang diutarakan Kohaku hari ini. Melihat kebahagiaan putri tunggalnya, Kazunari tak tahan. Helaian sewarna dedaunan diusap lembut—rasanya seperti ada beban berat yang terangkat dari dada.

"Shin-chan, kamu dapat salam dari Tecchan sekeluarga." Ujar Kazunari, seraya menyandarkan dagu ke puncak mahkota Kohaku yang terduduk di pangkuannya.

Shintarou mengangguk. "Hn. Sebenarnya Akashi tadi mengirimkan pesan padaku. Aku hanya telat membacanya karena masih terjebak di lab."

"Isinya?"

"Mirip kereta. Akashi cerewet seperti biasanya."

Mengesampingkan insiden Winter Cup yang rasanya sudah berabad-abad lalu, Akashi—yang sebenarnya—ternyata adalah pribadi yang bawelnya sanggup menyaingi nyonya Takao kalau sudah terlanjur berpetuah.

Sesuai kata seorang polisi bersurai dongker, di suatu ketika mereka melakukan reuni Vorpal Swords; Akashi itu 'cerewet ibu-ibu'.

"Shin-chan, kapan pulang?"

Pertanyaan polos Kohaku menepis seluruh humornya seketika. Dari perantara layar, sorot mata Shintarou berubah sendu. Jawaban diberikan mengikuti sebuah jeda menyesakkan. "Sebentar lagi, Kohaku."

"Terakhir juga bilang begitu," ujar Kohaku pelan. Dalam kotak kecil yang menampakkan tampilan mereka di sudut antarmuka, Kazunari melihat bahwa mata putrinya itu mulai berkaca-kaca.

Oh, tidak.

"Haku kangen sama pancakes-nya Shin-chan."

"Bukannya buatan Kazu lebih enak?"

Kohaku menggeleng keras. "Tapi beda!"

Respon itu lagi. Kazunari mengerti maksud kata-kata itu. Mendengar nada bicara putrinya yang mulai meninggi, nyeri di hatinya semakin terasa.

"Shin-chan jahat," Kohaku berkata ketus. Shintarou membelalak—begitu pula Kazunari—tatkala bulir-bulir basah mulai menuruni pipi gadis itu. "Shin-chan sudah nggak mau dengan Haku dan Kazu-kun lagi, 'kan!"

"Kohaku—"

Kazunari terkejut ketika tubuh mungil itu tiba-tiba berdiri dan kabur dari pelukannya. Kohaku melempar diri ke lantai berkarpet, mendarat pada kedua kaki yang agak canggung, lalu berlari ke arah pintu yang menganga.

"Haku-chan!"

Panggilannya tidak dipedulikan. Kazunari ingin mengejar langkah putrinya, tapi kakinya sendiri entah mengapa menolak digerakkan. Debam pintu sebelah—kamar Kohaku yang dua tahun ini jarang ia tempati—adalah balasannya.

Kazunari mengutuk—entah dirinya, Shintarou, nasib, atau semuanya sekaligus. Membanting diri ke matras, ia melepas kacamatanya dan menangkupkan sebelah tangan menutupi wajah.

Hening.

Air matanya sendiri mulai menggenang. Kazunari mengusapnya kasar. Kekeh singkat sarat desperasi melesat.

"Kazu."

Bariton halus yang terlapis statis mikrofon terdengar. Kazunari meraih tablet-nya yang tergeletak, lalu bergelung ke samping. Membuka pandangannya sekali lagi, netranya bersitatap dengan Shintarou yang juga tampak sama tersesatnya dengan dirinya sendiri.

"Kohaku benar, tahu." Bisiknya, sebelum Shintarou dapat mengucap sepatah kata pun. Meski ia tak dapat membendung tangis lagi, Kazunari masih mengumbar senyum. "Shin-chan, kamu ini orang yang sangat jahat."

Shintarou terdiam.

Isi hatinya akhirnya tumpah. Kazunari sudah cukup lama menahan diri. Tidak boleh egois, pikirnya. Daripada ia terbawa suasana batin dan berujung kesulitan meladeni Kohaku yang sampai sekarang masih belum sepenuhnya paham akan alasan Shintarou meninggalkan mereka—walau ia tahu hanya untuk sementara.

"Sebenarnya Boston tidak buruk juga."

Kazunari hanya menatap kosong layar panggilan video itu. Grasak-grusuk terdengar tatkala Shintarou berdiri. Pemandangan berubah ketika jemari berlapis perban menyibakkan tirai jendela. Di luar sana, tampak sebuah lapangan luas. Beberapa orang berlalu-lalang, hendak kembali ke asrama, atau mungkin keluyuran untuk bertugas.

"Rasanya lebih seperti Eropa, melihat arsitekturnya." Shintarou melanjut. "Kota ini lebih kecil dari dugaanku. Jika ingin pergi kemana-mana, cukup berjalan kaki. Selain itu, makanannya enak—walau bahan-bahan Jepang agak sulit dicari di area ini. Banyak yang menyajikan seafood."

Jeda lagi. Kemudian, "Kazu."

Kazunari masih enggan berbicara, meski antarmuka di tablet sudah kembali ke wajah Shintarou.

"Aku lumayan menyukai kota ini," Shintarou mendeham sedikit, menekankan pada kata 'lumayan'. "Kupikir—ini adalah tempat yang cocok untuk pernikahan kita."

"…Hah?"

Kerjap satu kali, dua kali. Kazunari merasa pendengarannya malfungsi. Shin-chan tadi bilang apa?

"Jangan pura-pura tidak dengar." Kedua alisnya terpilin kusut. Tanpa tersandung mengucap kata-katanya, Shintarou mengulang, "Aku akan menyelesaikan internship-ku secepatnya, lalu aku akan kembali dan kita akan menikah di Boston."

Sepertinya otak salah satu atau mereka berdua tengah korslet. Cengkeraman pada tepi tablet mengerat. Kazunari mendudukkan diri secepat kilat. "Jangan bercanda, Shin-chan."

"Bercan—" Tersinggung, Shintarou mendengus. Kerutan di dahinya semakin bertumpuk. "Apa aku terlihat bercanda, Kazunari?"

Setelah menyandingi Shintarou selama satu dekade lebih, jawabannya adalah; tidak sama sekali. Kalau lelaki itu bercanda, Kazunari akan tahu dalam sekali lihat. Seburuk apapun penglihatannya, ia tidak bisa dibohongi soal beginian.

"Kau mau aku mengulanginya lagi, bodoh?" Lelaki yang di belahan dunia lain itu beralih ke pengecaman. Kalau sudah senewen, Shintarou akan memanggil dengan julukan-julukan yang agaknya nyelekit. "Kubilang kita akan meni—"

"Iya-iya! Aku mendengarmu!"

Kewalahan, responnya termuntahkan sebelum kata sakral itu diulang untuk ketiga kalinya. Kazunari merasakan panas yang mulai menyapu wajah. Dalam hati ia merutuki Shintarou yang berani mengombang-ambingkan perasaannya.

Tangan dilarikan rancu melalui helai-helai gelap. Kazunari mengacak stres rambutnya sendiri. Kalau Shintarou ada di sini dapat dipastikan akan menerima satu-dua geplakan di lengan, dada, atau mana saja yang dapat ia jangkau.

Menjatuhkan tablet-nya ke matras, Kazunari menangkupkan kedua tangan ke wajah.

"Shin-chan, ini foul play namanya!"

Shintarou tertawa.

Hatinya semakin dongkol disambut suara langka itu, walau rona wajahnya semakin menjadi-jadi. Dari semua situasi yang memungkinkan, Shintarou mentertawainya setelah menyinggung topik itu.

Rasanya Kazunari ingin menangis lagi. Perasaannya campur aduk. Yang sanggup ia pikirkan hanyalah Shintarou, dan Kohaku, dan mereka bersama.

"Aku juga serius, Shin-chan." Kazunari berujar setelah jeda sekian menit yang terasa seperti selamanya. "Jangan tiba-tiba bilang begitu karena ingin membuktikan soal kita ke ayahmu."

Ekspresi Shintarou menggelap seketika. "Kau tahu aku sudah berhenti peduli akan opini ayahku sejak dulu sekali." Balasnya tajam. "Jangankan itu. Aku tidak ingin kita menikah untuk kita, Kazu."

Iris sewarna madu membola.

"Oh."—adalah satu-satunya respon yang sanggup ia kemukakan.

"'Oh' itu maksudnya apa, 'oh' itu, hah."

Cetak perempatan imajiner terpampang di pelipis Shintarou. Delikan sinis terpancar deras. Kazunari terceguk dihadapi intensitasnya meski mereka hanya terhubung dengan gawai dan internet.

Hening, entah untuk keberapa kalinya dalam satu sesi telepon.

"Shin-chan sudah bicara sampai segitunya, ya." senyum melankolis mengembang di belah bibir, Kazunari berujar, "Kalau rencanamu sampai gagal, aku bisa malu juga, lho."

Kini giliran Shintarou yang wajahnya merona samar. "Jangan terlalu percaya diri, Bakao."

Panggilan yang menyinggung sekaligus penuh afeksi itu sukses membuat Kazunari tergelak lagi. "Sudah tidur sana, Shin-chan. Tidak lucu kalau kamu mati kelelahan sebelum Harvard tuntas."

"Baiklah." Pucuk jemari Shintarou kembali menyundul bingkai kacamatanya. Menghela napas berat, ia menambahkan, "Katakan pada Kohaku kalau aku meminta maaf. Aku tahu dia akan menolaknya tapi… tolong, bicaralah dengannya."

Kazunari mengangguk. "Oyasumi, Shin-chan."

"Oyasumi, Kazu."

Panggilan diputus.

Tanpa menunggu, Kazunari langsung bangkit. Memungut kacamatanya, ia mengambil langkah lebar-lebar menuju bilik tetangga.

Pintu diketuk pelan. "Haku-chan?"

Tidak ada balasan. Kazunari menekan gagang dan berusaha masuk, namun pintunya terganjal sesuatu. Decihan terlepas tanpa sadar. Kohaku itu anak yang cerdas, entah patut disayangkan dalam konteks ini atau tidak. Tentu saja jalan masuknya akan dibarikade.

Mengerahkan tenaga ekstra, Kazunari mendorong daun pintu dengan bahu—perlahan. Ia tidak ingin entah apa yang mengganjal pintu itu terjatuh dan mungkin membuat Kohaku tersadar kalau ia hendak masuk.

"Ugh, apa sih ini?" Kazunari mengomel dengan volume seminim mungkin begitu terbuka celah cukup lebar untuk membuatnya mampu menyelinap masuk.

Jawabannya adalah sebuah karpet—biasanya terletak di lantai samping ranjang—yang salah satu ujungnya diselipkan secara strategis di bawah pintu, kemudian ditindih peti mainan.

Pantas saja pintunya susah digeser. Kazunari ingin berbangga melihat akal-akalan putrinya, tapi keinginan itu pupus dengan cepat ketika garis pandangnya menangkap sebuah gundukan berlapis selimut di kasur.

Lisan terkunci, Kazunari menghampiri gundukan itu. Dari gumulan material tebal bergambar kelinci menyembul seujung kepala mungil. Ia perlahan menyibakkan selimutnya hingga tampak perwujudan Kohaku yang terlelap.

Bantalnya basah.

"Oh, Haku-chan…"

Kazunari menggumam miris. Refleks, jemarinya menyisir helai sewarna dedaunan musim panas itu. Besok akan menjadi hari yang sulit, pikirnya.

Tanpa pikir panjang, Kazunari berusaha memuatkan tubuhnya ke single bed yang dihuni putrinya itu. Meski ia tidak semampai amat, tingginya masih sedikit di atas rata-rata, dan ia agak kepayahan memposisikan diri di matras.

Akhirnya, ia berhasil masuk juga. Kazunari melingkarkan sebelah lengan di sekitar tubuh gadis cilik itu. Menghela napas lagi, ia memilih untuk berfokus pada hangat Kohaku, dan selimut yang menaungi mereka.

Dalam tidurnya, Kohaku bergeser, merapatkan diri ke dada Kazunari, dan Kazunari tersenyum.

.

.

TBC

.

.

[Pojok Curhatan Author]

Saya ingin istighfar berkali-kali setelah selesai menulis bab ini-nodayo.

Tenang saja, bab depan humornya akan saya seret kemari lagi. Entah kenapa, kebanyakan headcanon MidoTaka kami banyak sekali dramanya. Jadi tolong maafkan kami.

Untuk bab ini, saya sampe sengaja muter Lantana sama Ashita e Tsurete on loop.

Bagi yang ketar-ketir menunggu update NxB SS, jangan khawatir karena saya masih bejibun inspirasi. Masalahnya adalah bab berikutnya ini—ide saya masih nol besar, apalagi dengan target word count-nya. Saya malah mengerjakan bab 9-10. Silakan gampar saya.

.

[Balasan Review]

@AkaKuro-nanodayo: ini update-nya, kak :") Maaf karena setelah domestic fluff bab sebelumnya saya malah menggampar Anda dengan angst…

(Terima kasih untuk stargem100, drunkenfish, Mel-985, yorukakusaku, AkaKuro-nanodayo, dan Amberwolfie untuk fave, follow, dan reviewnya!)

.

[Trivia]

Midorima itu lulusan kedokteran Todai (University of Tokyo). Kebetulan di tengah pelatihan spesialisnya dia kena beasiswa dan sekarang magang di Harvard Medical. Sementara itu, Takao cukup jadi stay-at-home dad.

Destruksi itu nama keren untuk proses bersih-bersih alat lab.

Penulisan nama Kohaku adalah「琥珀」. Artinya 'amber'. Anak yang nyaris mirip 100% dengan Shin-chan—kecuali mata, senyum, dan sebagian besar kepribadiannya yang lebih mirip Kazu-kun.

Kaos yang dipakai Takao adalah kaos legendaris yang muncul di dua endcard Kurobas. Kebetulan itu adalah kaos yang membuat semua shipper MidoTaka jadi gak waras.

Kenapa Takao pakai kacamata? Akan dijawab di bab-bab kedepannya (wink)

Jarak dari Ueno ke Boston adalah kurang lebih 6700 mil (lebih tepatnya 6698 mil, tapi kurang keren kalau jadi judul bab, kan).

Sesuai yang sudah diimplikasikan di bab ini, keluarga Akashi tinggalnya di Shinjuku-ku (Shinjuku, Tokyo) dan keluarga Midorima tinggalnya di Ueno (Taitō, Tokyo).

Taman Ueno adalah tempat populer untuk hanami, kemungkinan besar karena entry fee-nya gratis (tidak seperti Shinjuku-Gyoen yang tarif masuknya 200 yen).

.

Akhir kata, terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca fic ini! Saya terkejut karena mendapat fave/follow sebanyak ini dalam waktu singkat. Terima kasih karena telah memotivasi saya dan sampai jumpa lagi di bab berikutnya!