This is my longest chapter that I did. I copy-paste what I have on Wattpad to here. I'm gonna be honest, there are flaws here and there, but I always want to make sure everything was done properly. Intinya,
Enjoy...
Saint Seiya Series, belongs to Masami Kurumada
Granblue fantasy franchise, belongs to Cygames
Corrupted Judgement
Canaan
Shaka menaikkan alisnya. Ia melewatkan detail itu karena terlalu terburu-buru mencari anggota Gold Saint yang mungkin masih hidup.
"Demi Tapak Buddha, kau benar. Kita melewatkan petunjuk lain yang mungkin bisa menuntun kita pada pelakunya." Shaka menepuk dahinya, kemudian terbang melayang pergi untuk kembali ke tempat kejadian.
"Phew..." Belial akhirnya bisa bernapas lega.
"Dohko?" Sahut Saga pada Dohko, mendengar sayup-sayup suara nafas yang terdengar seperti desahan.
"Ya?" Dohko melirik Saga.
"Suara apa itu tadi?"
"Oh, itu hanya aku." Jawab Dohko sambil menggaruk kepala. "Saga, kau mau mandi di danau? Aku juga mau mandi. Panas sekali disini."
"Tidak usah. Kau mandi saja sana." Saga melambaikan tangannya, mengisyaratkan Dohko untuk pergi jauh.
"Baiklah. Aku pergi dulu." Dohko berjalan ke dalam semak-semak, hingga kemudian sampai di pinggir danau. Dilepaskannya zirah yang menempel di tubuhnya, kemudian duduk bersila dan memejamkan matanya. Meditasi untuk memfokuskan kekuatannya. Kesadaran Dohko kemudian terbawa ke dalam sebuah ruang kosong yang putih bersih. Di hadapannya, Belial berkacak pinggang.
"Kau beruntung, Tokui-ten. Aku hampir impoten melihat orang yang kau panggil Shaka itu." Kata Belial menatap Dohko manja.
Awan di langit berubah semakin kelam. Langit berubah jingga kemerahan. Mereka tak punya banyak waktu. Belial dan empat Gold Saint harus segera menemui Beelzebub sebelum dunia langit hancur di tangannya.
"Waktunya membakar Cosmo." Dohko meregangkan kedua tangannya. Tersenyum menyeringai.
"Semuanya, salurkan Cosmo kalian padaku. " Saga memerintahkan tiga temannya untuk saling bergandengan tangan dan menyambungkan tangan mereka pada pundak Saga.
"Another Dimension!"
Sebuah portal yang cukup besar ke dimensi lain telah terbentuk. Atau sebenarnya, terlalu besar. Belial terbelalak.
"Bagus. Lubangmu tak hanya muat untuk kita berlima, tapi juga satu kapal udara. Apa kau merencanakan untuk menggunakannya di rumah bordil?" Goda Belial.
Tak lama kemudian, sebuah kapal udara melaju cepat. Tak lain dan tak bukan adalah Grandcypher. Di dalamnya ada sesosok lelaki yang muntah di kabin kapal karena mabuk udara.
"Itu kapal siapa?" Tanya Mu.
"Sebentar." Dohko berjalan menghampiri kapal itu, melihat orang yang muntah itu dengan lebih dekat. "Sandalphon?"
"Halo, semuanya! Ada yang butuh tumpangan?" Ucap lelaki bersurai putih yang menghampiri mereka di kabin kapal.
"San-chan! Sudah lama sekali!" Belial datang menghampiri Sandalphon yang bersandar di bibir kapal dan merangkul lehernya, namun Sandalphon muntah tepat di wajahnya hingga mengotori kemeja hitamnya.
"Serius? Tepat di kemeja kesukaanku?" Belial memijit dahinya.
"Ayo, aku ambilkan baju untukmu. Kebetulan aku baru selesai mencuci pakaian." Lucio datang menghampiri Belial dan menuntunnya ke dalam kebin kapal untuk membersihkan diri.
"Teman-teman, ini Sandalphon." Dohko dengan girangnya mendorong teman-temannya naik Grandcypher untuk berkenalan dengan Sandalphon yang masih dalam keadaan mabuk udara. "Sebenarnya, dia malaikat. Tapi, aku tidak tahu kalau malaikat juga bisa mabuk udara. Jangan tanya kenapa. Dia mudah tersinggung."
"Kau yakin dia seorang malaikat? Dia tampak...sakit." Kata Saga menatap Sandalphon nanar.
"Apa katamu? Aku tidak sakit!" Ucap Sandalphon sebelum kembali muntah untuk ketiga kalinya.
"Kenapa kau datang membantu kami?" Tanya Dohko.
"Kau masih tahananku, sampai aku melihat sekumpulan mayat hidup yang juga ikut menyerangku saat aku hendak mencarimu." Jawab Sandalphon. "Tapi si peniru Lucifer itu memaksa untuk ikut denganku dan membawa kapal ini saat aku masih di dalamnya."
"Tenbu Hourin" Shaka merapal mantranya pada Sandalphon agar berhenti berbicara, tapi justru membuat Sandalphon jatuh pingsan.
Semua mata tertuju pada Shaka.
"Apa?" Shaka mengangkat bahunya. "Seseorang harus membungkamnya."
Tak lama kemudian, Lucio kembali bersama Belial yang kini mengenakan kemeja serba putih dengan selendang merah di pundaknya dan sarung tangan hitam yang menutupi sebagian jarinya. Kemeja yang tampak seperti seragam saat dirinya masih seorang malaikat yang bekerja untuk Lucilius.
"Maaf jadi lama menunggu. Tidak ada pakaian yang lain di kapal ini." Belial memalingkan wajahnya malu.
"Aku sudah pasti akan menemanimu di ranjang dengan pakaianmu yang sekarang." Canda Dohko seraya merangkul Belial untuk menghiburnya.
"Oh, sekarang kau bicara dengan bahasaku. Aku suka itu." Belial tersenyum dan lidahnya menjulur, menjilat bibirnya sendiri.
"Semuanya, berpegangan! Perjalanan kali ini akan menimbulkan banyak guncangan." Lucio mengangkat jangkar dan berlari menuju ruang kemudi kapal, disusul oleh Mu dan Shaka beserta yang lainnya sementara Saga menjaga portal dimensinya tetap terbuka.
"Apa kau pernah mengemudikan kapal ini sebelumnya?" Tanya Mu pada Lucio.
"Tidak. Tapi aku belajar sedikit tentang kemudi kapal udara dari Sierokarte dan Rackam. Aku sempat mengira mereka kapten kapalnya. Mereka sehebat itu." Lucio kemudian menarik tuas satu per satu, membuat kapal udara itu melaju memasuki portal dimensi. Sekeliling mereka berubah menjadi ruang yang agak gelap dengan puing-puing yang melayang kesana kemari. Bagi para penghuni langit, ini adalah sesuatu yang biasa. Tapi untuk bangsa Primal Beast seperti Sandalphon, Belial dan Lucio? Bisa jadi lain cerita.
"Ini aneh." Kata Belial. "Tidak biasanya aku ke tempat dimana aku tidak bisa melacak Canaan ataupun Babu-san. Tempat apa ini?"
"Secara teknis, ini duniaku. Aturan dimensi Labirin Gemini berbeda dengan dunia kalian. Kemanapun kau pergi, hanya cakrawala sejauh mata memandang," Jelas Saga.
Dohko kemudian menatap Belial dalam. Kedua tangannya diletakkan di pundak Belial dan berkata, "Aku sudah lama ingin mencoba ini tapi aku butuh bantuanmu."
"Oh, jadi kau ingin berciuman-"
"Colok mataku"
"APA?!"
"Apa kau tuli? Colok mataku-ARGH!" Dohko meringis kesakitan karena tiba-tiba saja Belial sudah mencolok kedua matanya.
"Aku hanya menuruti perintahmu!" Kata Belial panik karena dirinya hanya menuruti perintah Dohko.
"Tapi aku belum beri aba-aba!" Dohko masih mengusap matanya yang sakit, lalu perlahan membuka matanya yang merah. Dari jendela kapal, Ia bisa melihat garis gelap yang tipis, hampir tak terlihat. Dohko perlahan menepuk pundak Lucio untuk menuntunnya mengikuti jejak tersebut. Kapal itupun berbelok mengikuti jejak yang setipis benang itu hingga kemudian melihat secercah cahaya di ujung cakrawala. Kapal melaju cepat menuju cahaya tersebut. Membawa mereka ke sebuah pulau kecil yang melayang di antara awan dengan sebuah kuil tampak di bagian tengahnya. Tujuan mereka: Canaan.
"Teman-teman, aku punya kabar baik dan kabar buruk." Kata Lucio. "Kabar baik: kita sampai di Canaan dengan selamat."
"Dan kabar buruk?" Tanya Mu.
"Aku tidak tahu cara mendaratkan kapal ini." Lucio terbelalak, tidak mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk mendaratkan kapal udara yang sedang melesat turun dengan kecepatan tinggi.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!"
Suara jeritan dari para awak kapal(kecuali Shaka dan Sandalphon yang pingsan) terdengar hingga keliar kapal sebelum kapal itu mendarat darurat dengan posisi hidung kapal menabrak tanah. Beruntung, Mu menggunakan Crystal Wall yang mencegah kapal tersebut menjadi rata dengan tanah. Awak kapal pun terselamatkan. Sandalphon keluar dari kapal itu dengan keadaan lebam karena saling bertubrukan dengan awak kapal yang lain, berjalan ke semak-semak untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Kabar lebih baik: kita semua masih hidup!" Lucio keluar dari kapal dengan kedua tangannya mengepal di udara sebelum kemudian seekor burung raksasa memakannya hidup-hidup. Tiga Gold Saint terperanjat melihat burung besar yang memakannya. Perjalanan di hadapan mereka akan jauh lebih berbahaya. Tak lama kemudian, sesosok lelaki bersurai biru awan berparas menawan datang menghampiri kapal itu. Zirahnya menyerupai seorang Pisces Saint, Aphrodite. Namun warnanya hitam metalik dengan urat keemasan menjulur di sekujur tubuhnya. Dohko terbelalak, melihat sosok yang paling setia kepada Sanctuary juga terpengaruh kekuatan gelap.
"Akhirnya kau tiba. Aku sudah menunggumu." Ucap Aphrodite.
"Kau bicara padaku?" Dohko menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan kau, tapi dia." Aphrodite menunjuk Belial yang berdiri di belakangnya.
"Ooh, la, la. Tidak disangka akan disambut oleh gadis cantik sepertimu." Goda Belial sembari berjalan menghampiri Aphrodite sebelum setangkai mawar putih dilemparkan ke wajahnya. Beruntung, Belial sempat menghindarinya.
"Ini aku, Beelzebub. Berbicara lewat orang ini." Aphrodite yang dikendalikan oleh Beelzebub memijit dahinya. "Lupakan. Ayo jalan."
"Tidak tanpa kami." Saga berjalan menghampiri Belial, diikuti Gold Saint yang lain.
"Lebih banyak sumber masalah untukku. Tapi tidak ada salahnya jika kalian ikut berpesta." Aphrodite tersenyum, melambaikan jemarinya tanda mengajak empat Gold Saint untuk ikut dengannya.
Mereka semua berjalan menuju sebuah kuil kecil dimana sesosok lelaki berbadan tegap bertudung hitam duduk menunggu mereka. Aphrodite kembali bergabung dengan Gold Saint yang telah menjadi budak kegelapan. Beelzebub membuka tudungnya, menampakkan kulit hitam eksotis dan rambut pirang yang panjang tergerai serta paras menawan, memberi kontras pada tubuhnya yang besar. Ia berjalan menghampiri Belial dengan tatapan nanar.
"Dimana pecahan yang terakhir?" tanya Beelzebub.
"Ada di tempat yang aman." Jawab Belial.
"Biar aku tebak, kau menyimpannya di belahan bokongmu?" kata Beelzebub datar.
"Ehehe..." Belial garuk kepala. "Dengar, aku ingin sekali membuat kekacauan bersamamu seperti dahulu. Tapi, aku sudah berjanji pada seorang teman untuk mengembalikan prajurit-prajurit ini ke rumah mereka sebagai bayaran untuk mengeluarkan kita dari retakan dimensi."
"Aku mengenalmu begitu lama, Belial. Kau bisa mengkhianati mereka seperti kau mengkhianatiku terakhir kalinya." Tangan Beelzebub yang besar dan halus, memegang wajah Belial dengan lembut, lalu menarik dagunya agar mata mereka saling bertemu. "Semua tipuan, tusukan dari belakang, pembunuhan, dan kemana semua itu membawamu? Kembali kepadaku."
"Benar sekali. Aku masih ingin kembali padamu. Tidak ada tipuan kali ini. Kau sudah bunuh Faa-san untukku, dan itu meringankan pekerjaanku." Belial merogoh ke dalam celananya, mengambil pecahan Primal Core yang terakhir. Beelzebub mengambil pecahan itu dan mengamatinya dengan hati-hati. Pecahan itu tampak asli. Beelzebub tersenyum senang.
"Terima kasih sudah mengantarkannya padaku, tapi aku sudah tak percaya tipuanmu." Sayap Beelzebub yang terbentuk dari pecahan logam dan pedang, menghunus tubuh Belial. Matanya berubah menghitam dan cipratan darah keluar dari mulutnya, membuatnya jatuh terduduk. Beelzebub menyatukan pecahan itu pada bola kristal hitam yang ada di tangannya. Aura gelap yang semakin besar menyelimuti bola kristal yang kembali utuh. Demikian juga Beelzebub yang akhirnya bisa menggunakan kekuatan Avatar untuk membuat lebih banyak kekacauan.
Sementara itu, Sandalphon yang masih di sekitar kapal baru saja pulih dari mabuk udara. Ia sadar bahwa para awak kapal sudah pergi dan kapal udara itu hancur sebagian. Namun, Ia merasakan kekuatan gelap memanggilnya. Penasaran, Sandalphon memutuskan untuk masuk ke dalam kapal udara dahulu. Namun semakin jauh Sandalphon masuk ke dalam kapal, udara di sekitarnya semakin mencekik lehernya dan semakin kuat juga kekuatan gelap yang mengitarinya hingga terjatuh karena kehabisan nafas. Sandalphon terus berjuang untuk tetap berjalan dan merangkak mengikuti jejak kekuatan gelap itu menuju sebuah sabit besar berwarna hitam dengan mata pedang semerah darah serta mantel bulu keunguan yang melingkari gagangnya.
"Belial..." Gumamnya.
Bajingan apa yang berani membuat perjanjian pada Belial untuk membuat senjata terkutuk itu? Pikirnya. Pada saat itu juga, Ia yakin bahwa sabit besar itu harus kembali pada pemiliknya. Diambilnya sabit besar itu dan dibawanya terbang mencari Belial.
Kembali pada Belial yang sekarat dengan tanda hitam yang sudah menjalar di sekujur tubuhnya dan tumbuhnya tanduk kemerahan di kepalanya. Beelzebub terhibur karena sudah menyingkirkan ancaman besar baginya, lalu mengayunkan tangan kirinya, mengisyaratkan para budak kegelapan untuk menyerbu empat Gold Saint itu hingga mereka kewalahan. Dohko tidak terima dengan keputusan Belial yang bodoh. Teman-temannya masih dalam kendali Beelzebub dan Belial akan ikut dalam pengaruhnya.
"ROZAN HYAKURYUUHA!"
Kekuatan Dohko memanggil ribuan naga hijau raksasa yang memukul mundur para budak kegelapan agar dirinya dapat berlari menghampiri Belial sebelum mendekati ajalnya. Kedua tangannya memegang tubuh Belial yang terbaring lemah.
"Belial, kenapa kau bodoh sekali mengorbankan dirimu seperti ini?" kata Dohko.
"Ini...sepadan dengan resikonya. Maaf jika tidak akan bisa tidur di satu ranjang lagi..." Belial tersenyum pada Dohko, memegang tangannya.
"Tidak, kau harus tetap bersamaku! Kita terjebak bersama, ingat?"
Belial terkekeh. Bukan hanya karena Dohko masih sangat polos meski usianya tak muda lagi, tapi juga untuk mengejek Beelzebub.
"Tertawalah sepuasmu dan katakan selamat tinggal. Belial takkan membawamu pulang." Ucap Beelzebub ketus sambil memegang bola kristal hitam miliknya dengan kedua tangannya.
"Kau salah, Babu-san." Belial masih memandang langit, tampak Sandalphon sedang mengantarkan sabit besar miliknya yang dijatuhkan langsung ke wajahnya. Dengan sigap Belial menangkap sabit itu dan berteriak, "SEKARANG!"
Bola kristal hitam yang dipegang Beelzebub kehilangan aura kegelapannya, lalu perlahan retakan kembali terbentuk pada bola kristal itu. Pecahan yang tadi dipegang oleh Beelzebub pecah menjadi debu yang terbawa angin.
"Tidak mungkin!" Beelzebub kaget melihat bola kristal itu hancur di hadapannya. Ia segera menyerap setiap kekuatan yang tersisa di dalamnya sebelum hancur berkeping-keping, kemudian melepas jubahnya dan melompat ke arah Belial.
"Tenbu Hourin!"
Shaka meluncurkan serangannya, membekukan Beelzebub di udara, tak berkutik dan jatuh ke tanah.
"Belial!" Mu melemparkan pecahan Primal Core yang kemudian ditangkap oleh Dohko, lalu Belial menggores tangan Dohko dengan bagian pecahannya yang tajam hingga tangannya berdarah.
"Belial, kau melukaiku!" Kata Dohko panik dengan tingkah Belial.
"Benar. Aku sengaja melakukannya untuk bersetubuh denganmu. Pegang teman kecilku." Belial mengoleskan darahnya pada zirah Libra, lalu meminta Dohko untuk memegang sabit besar yang ada di tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang tangan Dohko yang menggenggam pecahan Primal Core dengan erat. Belial teringat kembali dengan kejadian di kapal udara, saat Dohko sedang sibuk menuntun Lucio dalam perjalanan menuju Canaan. Saat itu, Belial berkumpul dengan Saga, Mu, dan Shaka.
"Saga, apa aku boleh bertanya?" Kata Belial. "Apa lagi yang bisa kau lakukan selain membuat lubang tambahan dan labirin kehidupan?"
"Aku bisa membuat ilusi yang tampak sangat nyata, kau bisa merasakannya dengan panca indera." Jawab Saga.
"Bagaimana denganmu?" Belial mengalihkan pandangannya pada Mu.
"Aku seorang pandai besi yang bertugas membuat dan memperbaiki zirah para Saint, tapi aku juga bisa telekinesis." Jawab Mu.
"Jadi kau tahu cara meningkatkan kekuatan zirah emas." Belial mengangguk pelan. "Bagaimana jika kita gunakan pecahan Primal Core untuk meningkatkan zirah emas? Apa itu bisa dilakukan?"
"Secara teori, ya. Tapi secara penerapan, peningkatan kekuatan zirah emas memerlukan pengorbanan. Dan maksudku adalah menggunakan darah seorang Saint." Tutur Mu.
"...Atau darah seorang Fallen Angel yang terkontaminasi Chaos Matter." Gumam Belial.
"Tunggu dulu, kau akan mengorbankan dirimu untuk kembali merasuki Dohko?" Saga menggenggam tangannya di pundak Belial. "Kau beruntung Shaka bisa memisahkanmu!"
"Ssst, dia bisa mendengarmu." Belial menunjuk Dohko yang sedang berada di ruang kemudi kapal. "Babu-san sudah tahu aku akan berkhianat, lagi. Menyerahkan pecahan Primal Core begitu saja tetap akan membunuhku. Atau lebih parah, menjadi budaknya karena kemampuannya menyalurkan Chaos Matter ke dalam sayapnya. Itulah yang mengendalikan teman-teman kalian. Jika aku beritahu ini pada Dohko, dia akan menolak. Jadi kumohon, jangan beritahukan rencana ini padanya."
"Lalu bagaimana cara membuat orang ini percaya bahwa kita tidak menggunakan pecahan Primal Core?" Tanya Shaka.
"Ilusi dan pengalihan adalah bagian kalian. Buat dia percaya itu pecahan Primal Core yang asli. Dan berharaplah rencana ini berhasil."
Kepulan awan hitam perlahan turun dari langit, menyelimuti Dohko dan Belial. Ia sangat mengharapkan ini terjadi. Awan yang hitam itu berubah menjadi petir dahsyat dan kabut merah. Shaka tak mampu lagi menahan Beelzebub, Ia kembali sadar dan terbang untuk meluncurkan serangannya.
"CHAOS LEGION!" Beelzebub membuat bola meteor raksasa yang siap untuk menghantam kepulan awan tersebut.
"GALAXIAN EXPLOSION!" Saga juga membuat meteor raksasa untuk menahan serangan Beelzebub, namun serangannya kalah kuat. Chaos Legion menghantam Saga dan dua Gold Saint lainnya yang sudah kewalahan. Mereka terkapar di tanah.
"Kalian bisa melawan sesuka hati, tapi aku menguasai dunia ini. Kekuatan Avatar dan Chaos Matter ada di tanganku. Aku harus dihormati!"
Kabut awan hitam itu perlahan menipis, menampakkan sosok makhluk laknat bermata merah menyala. Zirah Libra yang menampilkan enam pasang senjata, dilengkapi tiga pasang sayap kelelawar di punggungnya, kini berwarna kehitaman dengan urat nadi keemasan di sekujur tubuhnya. Sepasang tanduk kemerahan tumbuh di atas kepalanya, dan matanya berwarna hitam dengan iris merah menyala.
"Maaf, tadi kau bilang apa?"
~TBC~
"Belial, ada apa denganmu? Kita sudah terpisah. Itu berita yang bagus!" Dohko tersenyum sambil menepuk pundak Belial sementara tiga Gold Saint memasang kuda-kuda untuk membunuhnya.
"Menjauh dari iblis itu, Dohko. Dia yang sejak awal mengendalikan tubuhmu." Mu mengarahkan telunjuknya pada Belial.
"Teman-teman, Belial bukan sasaran kalian!" Dohko beranjak berdiri di hadapan Belial, melindunginya. "Dia mungkin iblis, tapi bukan dia yang membantai teman-teman kita."
"Lupakan saja, Tokui-ten." Kata Belial. "Aku akan datangi Babu-san sendiri. Ini pertempuranku dengannya."
Belial mengeluarkan tiga pasang sayap kelelawarnya dan hendak terbang pergi, namun Dohko menggenggam kakinya, menariknya kembali ke tanah.
"Belial, aku tahu kau setia pada Faa-san. Aku tahu kau juga memiliki pertikaian dengan Bubs dan aku tak tahu apa lagi rentetan masalah yang kau bawa dengannya. Tapi, demi Perisai Aegis dewi Athena, aku takkan biarkan kau membawa beban masalahmu sendiri dan jika aku harus terjebak denganmu untuk menyelamatkan teman-temanku yang menjadi budak kegelapan, maka biarlah." Dohko menahan Belial di tanah, kedua pasang mata itu saling berdekatan.
Tiga Gold Saint itu menurunkan tangan mereka. Dohko sudah mempercayakan tugasnya pada Belial. Bisa jadi, ucapannya memang benar.
"Akhirnya, adegan film biru yang istimewa. " Belial terkekeh. "Tapi perjalanan ke Canaan akan sangat jauh dari sini, dan kita butuh lebih dari kekuatan sihir dan inti kekuatan Avatar untuk menemukan pulau terpencil itu."
"Mungkin, sihir tidak selalu menjadi jawabannya." Saga menggosok dagunya. "Bagaimana dengan Cosmo?"
"Cosmo?" Belial menaikkan satu alisnya. "Apakah itu yang membuat kalian lebih kuat dari bangsa Astral?"
