Hal yang pertama ia rasakan—layaknya tiap-tiap hari di mana mereka terlelap di ranjang yang sama—adalah sebuah sentuhan lembut di dahi.

Kise Ryouta menggumam pelan. Satu helaan dihembus ketika sentuhan itu kembali lagi, menemani sensasi dunia yang mulai memenuhi inderanya. Hangat selimut, garis-garis sinar mentari yang menyembul dari tirai, kicau burung pipit di luar jendela.

Masih setengah dibutakan kantuk, ia bergeser menuju sumber sentuhan itu. Bergelung, Ryouta mendarat tepat ke dalam rengkuhan sepasang lengan kekar nan hangat.

"Pagi, Daikicchi…" Ryouta menggumam, dengan suara yang agak serak. Menarik napas lamat-lamat, aroma maskulin familiar itu berdesakan memasuki penciumannya. Seulas senyum merekah tatkala sebelah tangan meraba kulit punggung dan pelukan semakin mengerat pada tubuhnya.

Yang disebut namanya tidak menjawab.

"Daikicchi?"

Ryouta mendeham—sial, kenapa tenggorokannya terasa serak sekali, sih—kemudian menepuk-nepuk bahu teman tidurnya. Menggeliat tak nyaman, pria bersurai emas itu berusaha melepaskan rengkuhan yang sedikit terlalu erat itu. "Daikicchi, kenapa sih? Ayo bangun, nanti telat—"

"Ryouta,"

"Y-Ya?"

Mendengar namanya dilafalkan dengan vokal berat itu, Ryouta seketika berjengit. Nada ucapan barusan sigap memicu alarm bahaya imajiner dalam benaknya. Raganya membeku ketika telapak yang kasar dari bertahun-tahun menggulir si bundar oranye itu menjamah terlalu rendah.

"Tanggung jawab, Ryouta," Aomine Daiki berujar dalam geraman rendah. "Sialan, rasanya makin hari kau makin seksi sa—BUAGH!"

Perkataan tidak senonoh yang nyaris rampung terpotong tragis. Pasca satu tonjokan mantap ke ulu hati, Daiki terpelanting hingga terjatuh menggelinding di lantai kayu yang dingin. Tanpa busana.

Netra emas membelalak liar. Ryouta beringsut mundur layaknya perawan yang nyaris digauli lelaki hidung belang. Abai dengan si korban yang mengaduh sambil mencengkeram bagian torsonya yang dihajar, Ryouta mengambil bantal terdekat dan melemparkannya tepat ke pangkuan Daiki.

"Pergi ke kamar mandi sana, dasar Ero-mine!"

.

.

「KALEIDOSCOPE」by xxcrystalinerose

黒子のバスケ belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei

Warning: Future Fic. Post-canon. OOC/MxM/Implied M-Preg/OC(s). Multipair. Anakronis. Slice of life yang ada plotnya. Family/Friendship dengan bumbu genre Romance dan Drama berstandar Korea.

Happy Reading!

.

.

03.

Sunshine

(青x黄)

.

.

"Mou, apa-apaan sih, Daikicchi itu! Gak tahu diri! Serampangan! Menyebalkaaan!"

Kata terakhir terlepas dalam sebuah hempasan beroktaf tinggi. Di hadapan kompor, Ryouta mencak-mencak. Sulit dipercaya bahwa ini adalah hari ketiga berturut-turut di mana ia terbangun dan hampir seketika itu juga jadi korban sekuhara.

Telur dadar di penggorengan diibaratkan wajah Aomine Daiki. Permukaannya masih keemasan—sekilas terlewat godaan untuk memasaknya sampai sewarna dengan kulit pasangan hidupnya yang kelewat langsat itu.

Kalau Ryouta sudah niat, membuat Daiki makan omelet gosong tiap pagi adalah hal yang sangat mudah. Tinggal berdalih kalau sesi bergurunya kepada macan distrik sebelah itu kurang sering. Lalu ia bisa kabur dan numpang makan sekalian. Asyik.

Sarapan yang sudah selesai disajikan di meja makan. Ryouta bolak-balik sambil memboyong pecah belah—empat rangkap gelas, piring, dan alat makan, kemudian berlari menaiki tangga.

Entah kenapa selalu ia yang berlarian keliling rumah tiap pagi. Mungkin karena—setelah bukti empiris bertahun-tahun—Kise Ryouta cocok berperan sebagai alarm biologis, secara harfiah.

"TSUBASACCHI! TSUBAKICCHI!"

Panggilan alam membelah atmosfer lantai dua. Ryouta sudah di penghujung dakian tangga dalam sekejap. Gagang pintu kedua di lorong itu ditarik dengan tenaga berlebih. "AYO BANGUN! KALIAN NANTI TERLAM—bat..."

Ryouta mingkem.

"Papacchi ngapain teriak-teriak, sih?" ujar gadis bersurai dongker—Aomine Tsubaki—kesal. Pakaiannya sudah lengkap, dari ujung kaki sampai ujung bando camellia merah muda pemberian Aunty Satsuki. Penampilannya sudah sempurna, dengan ransel yang sudah siap terduduk manis di ujung ranjangnya. "Kasihan tetangga kita, lho."

"Kita kan nggak kayak Papa," Aomine Tsubasa menimpali dengan memicing tidak terima ke arah Ryouta. Bocah pirang yang mirip wajah, beda warna dengan saudari kembarnya itu tengah menyiapkan tas sekolahnya, terduduk di matras atas kasur susun di sudut kamar mereka. "Nggak usah diteriakin juga udah bangun."

"O-Oh..."

Ryouta tidak tahu gen bangun pagi didapat anak-anaknya itu dari siapa. Yang jelas ia bersyukur kalau mereka tidak ikut-ikut Papa-nya.

Cengir cemerlang disuguhkan. Entah mengapa rasanya ia bangga sekali mendengarnya, namun ia dari dulu memang sentimental terhadap hal-hal sederhana. Apalagi kalau sudah menyangkut buah hatinya—Ryouta akan langsung bertransformasi menjadi khalayak bapak-bapak bangga di telenovela malam Minggu favoritnya (yang Daiki benci dengan sepenuh hati).

"Yosh, bagus kalau begitu!" ujarnya seraya menggiring Tsubasa dan Tsubaki dari bilik mereka. "Sarapannya sudah siap. Sekalian suruh Papa kalian cepat-cepat ya!"

Dengan pasang tawa girang, kedua bocah yang baru berusia enam itu berhambur keluar sambil menenteng ransel.

"Yang turun duluan dapat susu ekstra!"—Gerudukan langkah kaki diikuti suara khas pertanda birai tangga yang dijadikan perosotan.

"Oi! Jangan curang, Tsubaki!"—Kemudian derap langkah yang melompati anak tangga dua-dua terdengar, disusul gelak tawa yang lebih feminin.

Ryouta geleng-geleng. Energi mereka memang tidak ada habisnya. Reputasinya sebagai makhluk paling energetik sedunia telah resmi digeser oleh si kembar.

Tak lama kemudian, gedoran terdengar.

"POLISI! BUKA PINTU—WAA!"

Jeritan kombinasi dari kedua bocah di bawah sana sanggup mengguncang fondasi rumah mereka—sebelum larut dalam suara-suara berteriak setengah tertawa.

Ryouta sendiri tergelak singkat ketika ia kembali ke bawah dan mendapati Daiki yang dengan entengnya berputar dengan tumpuan satu kaki sambil menggotong si kembar layaknya onggokan karung beras.

"Papa menangkap polisi gadungan!" ujar Aomine keras-keras, abai dengan protes dari kedua 'karung' yang meronta. Seringai jahil merekah ketika netra birunya bertemu dengan emas Ryouta yang menatap trio ganjil itu geli. "Ryouta, berandal-berandal ini sepertinya harus dihukum!"

Jerit histeris terburai dari Tsubasa dan Tsubaki yang terkatung-katung di rengkuhan Daiki tatkala tubuh mereka diguncang anarkis.

"Papaaa! Rambutku jadi berantakan lagi!" Rengek Tsubaki, menyibak rancu helai-helai gelap yang berjatuhan ke wajahnya. Bando bunga yang miring berusaha dipertahankan supaya tidak jatuh.

Tsubasa memasang mimik sarat horor ketika ia naik-turun dipermainkan gravitasi dan Daiki. Rona kulit yang dari sananya agak gelap itu tiba-tiba pias kala tatap penuh desperasinya bertemu dengan Ryouta. "Papacchi, selamatkan kami!"

"Sudah-sudah," Menahan diri supaya tidak terbahak, Ryouta bergestur tanda berhenti. "Tadi kita mau makan, bukan polisi-polisian."

Permainan itu dapat dibilang merupakan sebuah tradisi di kediaman Aomine-Kise. Aturannya sederhana; satu pihak jadi polisi, satu pihak jadi yang ditangkap polisi. Jika 'tuduhan' pihak polisi benar, maka yang ditangkap yang dihukum. Jika salah atau tertangkap duluan, maka 'polisi'-nya adalah polisi gadungan dan harus dihukum.

Ketika diperkenalkan, Tsubasa dan Tsubaki menyukainya, namun Ryouta tak sampai hati memberitahukan mengapa permainan itu diciptakan.

Singkat cerita, sesi 'Zona panas' dan eksistensi dua anak hiperaktif itu bukan kombinasi yang baik. Salah satu dari mereka pasti berakhir tersepak dari mana saja tempat kejadian perkaranya dan berujung push-up seratus kali.

Kata Ryouta, lumayan biar tetap sehat. Kata Daiki, lumayan sekalian fanservice.

Daiki masih nyengir ketika ia membopong anak-anak ke meja makan mereka. Ryouta menghilang sesaat untuk mengambil sebuah sisir guna meluruskan surai putrinya yang cantik itu.

"Oh ya, Papa nanti pulang lebih awal," Daiki menyeletuk tiba-tiba, setengah jalan menyuap omeletnya—yang tidak jadi Ryouta buat gosong karena pendirian Ryouta sebenarnya lebih lemah dari itu. "Kalian mau titip apa?"

Diberi kesempatan, Tsubasa spontan menjawab, "Pizza yang dekat kantornya Papa!"

Mendengar pilihan kembarannya, Tsubaki menambahkan, "Yang ada seafood-nya!" Kemudian, gadis itu berbalik dan memberi Ryouta tatapan memelas yang eksekusinya sama persis dengan teknik Papacchi-nya sendiri. "Boleh, ya? Boleh?"

"Errr," Ryouta menggumam, membayangkan kalendernya yang dibubuhi jadwal hari-hari 'ngemil' untuk kedua anaknya itu. Poin nasihat parenting terbaik dari sosok tsundere yang masih in-denial kalau tabiatnya lebih cocok jadi dokter anak daripada spesialis saraf. "Boleh, kok! Lagipula, hari ini juga hari istimewa."

Ryouta mengerling penuh makna ke arah Daiki yang tengah menggilas sarapannya—dan mendapat balasan anggukan.

Setelah sarapan adalah giliran berpamitan. Tsubasa dan Tsubaki mengekori Daiki seperti anak itik yang mengikuti induknya.

"Jangan nakal, ya." Ryouta berpetuah seraya mengecup dahi si kembar bergiliran.

Melihat senyum bermakna ambigu Papacchi-nya, pipi Tsubasa merona malu, sementara Tsubaki memalingkan muka ke suatu arah, pura-pura tidak tahu. Ryouta pikir, sudah cukup satu kali Michiko-sensei menelepon soal insiden lem kertas, terima kasih.

Ryouta merasa lengan atasnya digapai, dan tawa kecil melesat darinya ketika Daiki menariknya berdiri dan memberinya satu ciuman yang—sangat—serius.

"Ew!" Tsubaki kontan berseru dengan raut tertekuk jijik. Kedua tangan ditangkupkan di depan mata Tsubasa yang membatu dengan mulut ternganga. "Papa jangan sembarangan dong! Ada anak kecil di sini!"

"Apa sih, Lili?" Daiki berujar santai sambil memberi ekstra kecupan di dahi Ryouta yang cengengesan. "Kan Papa memang sayang sama Papacchi kalian."

"Tapi!"

Pria bersurai navy itu mengedikkan bahu (dan mengabaikan protes, "Namaku Tsubaki! Papa sendiri yang memberi—"), kemudian memberikan senyum terbaiknya untuk Ryouta—senyum yang hanya Daiki tunjukkan untuk orang-orang tertentu, yang kerap membuat hati Ryouta meleleh.

"Happy anniversary, Ryouta."

"Yup, happy anniversary, Daikicchi."

Seketika itu juga mereka berdua seperti kembali menjadi dua remaja yang kesengsem romansa masa muda, namun Ryouta cepat-cepat mendorong Daiki keluar dari ambang pintu depan. Cengir bahagia sulit ditahan ketika Tsubaki yang masih mengomel ikut menarik saudaranya keluar.

"Hati-hati!" Ryouta memanggil setengah berteriak ketika keluarga kecilnya sudah memasuki mobil mereka.

Jendela sisi pengemudi bergulir turun dan Daiki melongok sedikit. "Jangan lupa ambil pesanan di tempatnya Murasakibara!" ujarnya, sebelum memberi salut dua jari.

Ryouta masih berdiri di sana sampai kuda besi hitam itu menjauh, kemudian berbalik dengan anggukan puas. Agenda hari ini mendikte dirinya untuk keliling Tokyo demi selebrasi kecil-kecilan mereka—

—tapi sebentar, mandi cantiknya lebih penting.

.

.

.

Jalanan Nakano berlalu-lalang di luar kaca jendela mereka. Orang-orang bersliweran kesana-kemari, menuju kantor, pertokoan, menggandeng anak mereka menuju sekolah. Kelopak-kelopak berguguran dari pepohonan sakura yang tumbuh di sepanjang jalan, jatuh dalam hujan merah muda yang menandai akhir musim mereka.

"Jadi…" Tsubasa memulai, berusaha melongok ke arah Papa-nya dari posisi tubuhnya yang terduduk di jok belakang kursi pengemudi. "… hari ini, dulu banget, Papa sama Papacchi nikah?"

Tumpangan mereka berhenti dicegat bangjo perempatan. Daiki menggeleng, jemari mengetuk-ngetuk roda kemudi. Tatapan digulir menuju spion yang tergantung di langit-langit mobil.

Dari mana coba anak-anak ini tahu tentang tetek bengek hari jadi? Mereka mungkin pasangan yang tak gentar masalah display afeksi, bahkan di sekitar anak-anak mereka, sampai ke level tak tahu malu kalau Daiki mau mengutip protesan Ryouta; tapi mereka belum lama mengumbar kata 'anniversary'.

Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan roman picisan yang gemar ditonton anak ayam pirangnya itu sampai kelar season lima? Beginilah jadinya kalau Daiki membiarkan Ryouta keluyuran di sekitar Satsuki tanpa pengawasan—selera mereka terlalu mirip.

"Bukan begitu," jawab Daiki setelah dijeda kontemplasi beberapa saat. "Hari ini, lima belas tahun lalu, Papa sama Papacchi kalian jadian."

Kedua bocah di kursi belakang bertukar tatap datar. Seperti biasanya, Daiki tidak dapat menerjemahkannya. Anak kembar memang punya frekuensi komunikasi yang hanya mereka yang dapat mengakses, mirip sebuah channel radio privat.

"Ada bedanya?" sekarang Tsubaki yang bertanya, sambil memainkan helai rambut yang tergerai panjang di balik telinga.

Lampu lalu lintas menyala hijau. Daiki menjejak pedal gas, lalu menyetir ke tempat tujuan mereka. "Emm," gumamnya, sembari berpikir bagaimana cara menjelaskan isu ini. "Begini—pernah lihat tangannya Satsuki, nggak?"

Netra gelap Tsubasa berbinar antusias ketika ia mengangguk. "Pernah! Aunty Satsuki pakai cincin yang cantik sekali itu, kan?"

"Yang permatanya bentuk sakura itu," tukas Tsubaki.

"Kalau Tetsu?"

"Tetsu oji-san pernah cerita kalau cincinnya ada tulisannya, gitu…"

"… dari tokoh yang Seijuurou oji-san juga suka."

"Nah, kalau pakai cincin, itu biasanya sudah menikah, atau mau menikah." Jelas Daiki, dan poin kedua membuatnya teringat akan rekannya yang berambut sewarna dedaunan dan partner-nya yang berisik itu. "Tapi Papa sama Papacchi kalian nggak, karena kita memang nggak ingin."

Si kembar menelengkan kepala nyaris bersamaan, tanda bingung akan maksud perkataan itu. Daiki hanya tersenyum mafhum—tentu saja mereka tidak akan paham sepenuhnya, dan jujur saja ia enggan menjelaskan cerita lengkapnya.

Insiden itu sudah cukup lampau, namun masih terngiang jelas dalam relung pikiran. Ia masih ingat berang luar biasa yang menggelapkan paras Tetsu kala itu dan Daiki selalu tahu kalau ia tidak suka melihat Satsuki menangis untuk alasan apapun.

Semua itu menciptakan domino bencana yang tidak hanya melibatkan Daiki dan Ryouta, namun juga hampir seluruh anggota perkumpulan mereka. Tetsu melakukan perang dingin sepihak dengannya, kesabaran Akashi mencapai dasar jurang terendah, ia berdiskusi sangat panjang dengan Satsuki sementara di latar belakang Kagami menahan diri untuk tidak menerkamnya.

Itu adalah kali pertama Midorima turun tangan, karena sebelumnya pria berkacamata itu selalu melipir tiap kali nama Daiki terlibat dalam sesuatu—dengan caranya yang notabene berkelit-kelit. Daiki tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak.

Insiden itu selalu mengingatkannya bahwa ia berhasil mematahkan tiga hati sekaligus dalam satu malam.

Rekor terburuk dalam sejarah seorang Aomine Daiki.

Memikirkan hal-hal seperti ini membuat Daiki merasa sentimental. Membuatnya merasa tua, padahal krisis paruh baya saja ia belum benar-benar mengalami. Mengesampingkan Ryouta yang selalu tewas setengah hari penuh sepulang dari penerbangan panjang, belum.

Melirik lagi ke spion, Daiki tersenyum yang agak getir tatkala mengecap memori kelam itu. "Papa tadi kan sudah bilang, kalau Papa sayang sama Papacchi kalian," tukasnya simpul. "Itu saja sudah cukup."

Jeda sebentar, kemudian ketika Daiki mengerling ke refleksi anak-anaknya lagi, ia mendapati Tsubaki yang berbagi cengir identik dengan Tsubasa.

"Kita tahu, kok." Kata mereka, berbarengan.

.

.

.

.

Sebenarnya, Kise Ryouta adalah orang yang agak perfeksionis.

Bertahun-tahun bekerja di industri modelling—sejak SMP, bayangkan, Ryouta jadi merasa tua—bisa dibilang membuatnya memiliki standar cukup tinggi. Kalau ia sudah menginvestasikan diri dalam sesuatu, maka ia akan bekerja semaksimum mungkin. Mengejar hal-hal yang ia suka adalah hobi.

Termasuk perayaan hari jadinya dengan Daiki.

Daiki itu romantis kloset. Daiki menyukai makan malam dengan ditemani nyala lilin. Daiki sering memberinya hadiah-hadiah kecil yang mungkin tidak jelas gunanya apa tapi selalu berakhir di lemari Ryouta. Daiki menyukai bunga, terutama bunga matahari, karena kembang itu mengingatkannya pada liburan musim panas di pegunungan antah-berantah dan senyuman Ryouta.

Jadi, semua itu masuk ke agenda Ryouta.

Ryouta bisa memasak, walau tidak sehandal makhluk dapur seperti Kagami dan Kazunari atau bahkan Tetsuya (terima kasih untuk sang macan Seirin yang layaknya mahaguru baginya dan pria bersurai langit itu). Rencana makanan penutup sudah ada, nanti akan dipungut dari lokasi pemesanan.

Bunganya agak susah, namun Ryouta punya relasi. Lagipula, mana mungkin metropolitan seperti Tokyo tidak punya rumah kaca, bukan?

"Ahh, iya-iya. Begitu, ya? Oke, aku akan mampir secepatnya. Terima kasih banyak, Himuro-san!"

Pip. Panggilan diputus. Ryouta bersandar pada kursinya, berusaha menjulurkan kaki sejauh mungkin tanpa mengganggu orang lain. Jadi orang tinggi itu susah kalau menyangkut angkutan umum yang penumpangnya mendesak-desak.

"Perhentian berikutnya; Stasiun Shinjuku."

Suara otomatis announcer bergema di seluruh gerbong. Ryouta terhenyak. Perasaan baru sebentar ia menumpang kereta, sekarang harus turun lagi.

Bangkit, Ryouta bergerak menuju pintu terdekat. Topi ditarik agak turun, kacamata aksesori dibenahi. Glamor dunia entertainment memang sudah lama berlalu baginya, namun kadang kala masih ada yang mengenalinya sebagai Kise Ryouta sang model, bukan Kise Ryouta sang pilot profesional sekaligus ayah dari dua anak yang luar biasa.

Para penumpang bertumpahan ke peron ketika kereta yang mereka tumpangi berhenti di tujuan akhirnya. Ryouta bergegas menyusuri lorong-lorong Shinjuku-kei, berfokus untuk mencari tumpangan menuju destinasi akhirnya.

.

.

.

Finalnya, langkah Ryouta berakhir di teras sebuah rumah yang ukurannya jauh lebih kecil dari ekspektasi awalnya sekian tahun lalu.

Dahulu, Ryouta menyangka kalau keluarga putra tunggal konglomerat Akashi itu akan mengikuti jejak orang tuanya (siapa yang belum pernah tahu luasnya kediaman mereka di Kyoto?). Realitanya, mereka pindah di sebuah kediaman yang relatif sederhana.

Bel depan dipencet. Tidak butuh lama setelah jingle berkumandang, pendengaran Ryouta menangkap gerudukan langkah kaki dan grendel dilepas. Sapaan meriah sudah menggantung di ujung lidah.

"Tetsuyacchi, oha—eh?"

Yang menyambutnya bukan mahkota biru langit, namun sosok bersurai segelap malam.

"Kise-kun!" Takao—atau lebih tepatnya Midorima—Kazunari menyapa riang. Sebuah bando merah bertengger di kepala, menyibak sebagian besar poninya dari wajah. Ia tampak begitu sumringah. "Hai, lama tidak bertemu!"

Kazunari pasti menotis tampang pongo Ryouta dengan cengiran itu. "Kaget, ya? Tecchan sedang di dapur, makannya kubukakan pintu. Masuk, masuk!"

Mengucap permisi, Ryouta menapaki genkan dan melepas sepatu sementara Kazunari yang bermain jadi tuan rumah menutup pintu. Berbalik, tatapnya bertemu dengan netra sewarna madu. "Hisashiburi, Kazucchi. Tumben kemari?"

"Aku bosan," Kazunari memutar bola mata. "Bayangkan, Shin-chan sudah menghilang sejak pagi buta. Lalu Haku-chan bilang kalau dia ingin menghabiskan akhir minggunya dengan Nagisa-chan—pengkhianat memang, tapi siapa aku untuk menolak permintaan Haku-chan yang manis?

"Rasanya seperti aku ditikung semua yang bermarga Midorima hari ini," leguh nelangsa terlepas dari sang hawk-eye. "Kalau aku berdiam terus di rumah aku akan mati bosan atau mungkin mengepel seluruh permukaan yang ada sampai Akashi pun bangga melihatnya."

Ryouta tertawa lepas, mengiringi langkah mereka menuju posisi sang tuan rumah. "Lah, bukannya malah bagus? Kapan lagi bisa malam mingguan berdua?"

(Itu adalah sentimen Ryouta pula, mengingat ia dan Daiki tidak bisa terus merecoki Satsuki untuk kurang-lebih mengadopsi anak-anak mereka tiap akhir pekan.)

"Itu dia masalahnya!" pekik Kazunari frustrasi. Jemari kedua tangan mengimitasi kacamata bolo-bolo lengkap dengan suara yang agak diberatkan ketika racauannya berlanjut, "Kayak kamu nggak tahu Shin-chan saja. 'Aku tahu, Kazu, tapi pasienku yang ini tidak bisa ditinggal,' atau 'minggu depan ada konferensi di Yokohama nanodayo,' atau apalah itu!"

"Midorimacchi orangnya masih merepotkan seperti biasa, ya." Ryouta mengangguk mafhum. "Susah memang punya suami yang sering keluyuran."

"Kise-kun juga, bukan? Bagaimana Sydney?"

"Sulit dipercaya, tapi di sana hangat sekali—padahal musim gugur."

"Ehh, cuaca Australia memang nggak main-main ya."

Melewati ruang tengah luas itu, Ryouta akhirnya mendapati punggung Tetsuya yang sedang berkutat dengan sesuatu di atas meja makan. Tetsuya pasti mendengar langkah mereka karena kemudian ia berbalik dengan sebuah senyum teramat manis yang kian sering singgah di paras yang biasanya datar itu.

"Ryouta-kun, selamat datang." Ujar Tetsuya, sigap meletakkan pekerjaannya untuk menghampiri dan memeluk Ryouta.

Ryouta mengembalikan rengkuhannya, mungkin sedikit terlalu erat. "Tetsuyacchi! Aku kangen sekali! Kamu masih imut seperti biasanya!"

Bunyi helaan napas berat terlepas dari Tetsuya yang mulai remuk dalam pelukan maut Ryouta. "Sesak, Ryouta-kun. Tolong lepaskan aku," punggung yang lebih bidang ditepuk-tepuk khidmat.

Ryouta cengengesan. Melepas rengkuhannya, ia menyodorkan sebuah tas jinjing untuk Tetsuya. "Omiage [hadiah] untuk guardian angel terbaikku!"

"Terima kasih, Kise-kun." Pemberian diterima dengan anggukan singkat. Bingkisannya diletakkan di atas meja bar, kemudian Tetsuya bergestur ke arah meja makan. "Bouquet-mu sudah kudapatkan, bagaimana menurutmu?"

Terduduk di atas meja kaca itu adalah seikat bunga matahari yang diselingi kamelia putih dan merah. Bunga mataharinya tidak sebesar kembang-kembang yang biasa ia lihat di padang bunga kala musim panas, mungkin karena ditumbuhkan di rumah kaca. Batang bunga-bunga itu diikat dengan seutas pita putih.

Kumpulan bunga-bunga itu melambangkan mereka semua—Daiki dan Ryouta, dan mereka dengan anak-anak. Musim semi adalah musim kamelia. Warna putih mengingatkannya pada awan-awan di langit musim panas, musim bunga matahari.

"Tetsuyacchi, ini indah sekali! Terima kasih!"

"Uff—sudah cukup, Ryouta-kun."

.

.

.

"Huh, tahu kalau Aomine Daiki yang itu ternyata penggemar hal-hal seperti ini…"

Kazunari yang bertopang dagu mengerling ke arah Ryouta. Es batu dalam gelasnya bergemelinting ketika membentur dinding kaca. "Apa itu bahasa kerennya?"

"Gap moe?"

Celetuk inspiratif Tetsuya disambut bunyi persetujuan dari rekan-rekan semeja.

"Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa cukup banyak dari kita yang seperti itu, ya?" Ryouta menimpali, bersandar agak jauh dalam kursinya. Netra emas menerawang langit-langit ruang. "Daikicchi sok alim, bilangnya tidak suka melihat drama yang malam Minggu jam tujuh itu lho, padahal dia sendiri orangnya persis protagonisnya."

"Aww, tsundere juga, ya." Kazunari nyengir. Tetsuya melempar tatap ironis, mengingat suami sang penutur adalah pengidap virus tsundere kronis.

"Dan juga, kenapa kita malah menggosip seperti—seperti—"

"Ibu rumah tangga," Yang bersurai pucat menyambung, ditemani dengan seruputan seduhan vanila. Penyair memang bisa diandalkan untuk main sambung kata atau mengisi simile yang gagal tersampaikan.

Ryouta mendesah sarat melankoli. "Anak-anak itu tumbuhnya cepat, ya?"

Ujarannya mengundang pandangan penuh simpati dari Tetsuya dan Kazunari. Topik pembicaraan mereka semakin mengokohkan perumpamaan 'ibu-ibu pengangguran' yang mereka bagi statusnya.

"Un, rasanya baru kemarin Kou-kun mulai berbicara," Anekdot pertama disampaikan oleh Tetsuya yang paras blank-nya mulai dirambati geli. "Itu akan selamanya menjadi momen paling berkesan untukku."

"Hah, yang paling kuingat malah kalian!" Kazunari bergestur ke Ryouta dan udara kosong di sebelahnya, seolah mengindikasikan Daiki yang tidak hadir namun tetap sepaket dalam percakapan mereka.

Ryouta tergelak, sementara Tetsuya terbatuk menahan tawa.

Masih teringat jelas krisis awal kehadiran si kembar di dunia yang acap kali membuatnya kelayapan tengah malam dan menjebol notifikasi chat teman-teman mereka guna memohon bala bantuan. Ia dan Daiki memang tipikal pasangan yang kewalahan menghadapi momongan sendiri. Tidak seperti Tetsuya yang dari sananya natural dengan anak-anak atau Kazunari yang tidak hanya high spec kareshi namun juga high spec husbando.

Tetsuya mendeham. Gelas tinggi diletakkan di permukaan meja. "Bagaimana kabar kalian, Ryouta-kun?"

"Baik-baik saja!" balas Ryouta dengan berseri-seri. "Well, jatah liburku sebentar lagi habis. Sedih memang, harus meninggalkan rumah sering-sering. Aku bisa mati kalau tidak dapat dosis harian Tsubasacchi dan Tsubakicchi—Kalau Kazucchi bagaimana?"

Ryouta menyadari kalau pria bersurai raven itu sudah kembali ke lensa kontak, padahal tahun-tahun sebelumnya ia selalu berkacamata ke mana saja. Kazunari juga terlihat lebih bahagia—tentu saja, Ryouta tidak melewatkan cincin platina yang tersemat di jari manisnya.

"Yah, ada beberapa hal yang sudah terlanjur," Kazunari menerawang sendu. "Tapi menurut Shin-chan, kalau melihat progresi terapiku, kemungkinan penglihatanku semakin memburuk sangat kecil."

Tetsuya menghela napas lega. "Itu—aku senang mendengarnya."

"Akhir-akhir ini banyak sekali kabar yang menyenangkan, ya?"

"Menakjubkan, memang!"

Sulit dipercaya. Setelah bertahun-tahun mereka bersama melalui badai kehidupan dan berjuta suka-duka, akhirnya mereka sampai pada suatu masa di mana semua terasa begitu damai. Seolah tidak ada yang salah dengan dunia.

Tiap kali Ryouta terbangun dan menyambut sinar mentari, ia tidak bisa menahan rasa kagum yang membuncah di dada. Mereka semua telah berjalan begitu jauh, telah berkembang menjadi sosok yang lebih baik.

"Ryouta-kun bilang ingin ke tempat Murasakibara-kun dan Himuro-san, bukan?"

Mengerjap, Ryouta tersadar dari lamunannya ketika Tetsuya menyeletuk. "Iya, kenapa?"

"Kupikir kita bisa mengunjungi mereka bersama," balas Tetsuya seraya merogoh saku. Sebuah kunci kontak mobil diputar berporos telunjuk. "Kebetulan Seijuurou-kun berangkat bersama Reo-san tadi pagi, jadi…"

.

.

.

Ketika Ryouta kembali menapaki jalanan Nakano, matahari sudah sedikit tergelincir dari puncaknya.

Mereka bertiga berakhir mengunjungi home café sekaligus kediaman Murasakibara dan Himuro—setelah sebuah perjalanan di mana Ryouta diingatkan lagi bahwa Tetsuya yang bercokol di kursi pengemudi itu acap kali bukan ide bagus—dan berlama-lama di sana. Fakta bahwa rekannya yang berpostur gigantik itu selalu mempunyai ide dessert berbeda tiap minggu adalah suatu hal yang mengagumkan.

Kunjungannya terhenti ketika Himuro menengok jam dan berkata bahwa ia harus menjemput anak-anak—dan itu mengingatkan Ryouta akan anak-anaknya sendiri.

Sebelum mereka berpamitan, Himuro menyelipkan sekotak macaron dalam berbagai rasa ke genggaman Ryouta. On the house, katanya, untuk Tsubasa-kun dan Tsubaki-chan. Semua orang tahu kalau ia gemar memanjakan anak kecil.

Sambil melangkahkan kaki, Ryouta menenteng kotak pesanannya di satu tangan dan buket bunga di tangan satunya. Sedari tadi ia merasa kalau orang-orang yang berpapasan dengannya memberinya tatap yang beragam.

Ojii-san yang duduk di sebelahnya saat di kereta berkata, kamu terlihat bahagia, Nak. Apa bunga-bunga itu untuk kekasihmu?

Ya, Ryouta menjawab, dengan sebuah senyum cemerlang, hari ini adalah hari kami.

Langkahnya terhenti tiba-tiba ketika melihat mobil yang terparkir di depan kediamannya. Sebelah alis terangkat dalam tanya. Daikicchi di rumah?

Herannya terjawab tatkala ia menapaki teras—dan langsung disambut oleh dua sosok cilik yang berhambur keluar dari genkan.

"Papacchi!" sapa Tsubasa dan Tsubaki bersamaan. Cengir identik merekah ketika mereka berkorus, "Selamat datang!"

"Oh, Ryouta. Okaeri."

Dari belakang mereka, Daiki muncul. Posturnya disandarkan santai pada kusen pintu. Seringainya memamerkan deret gigi putih ketika mendapati Ryouta yang terbengong tak berkutik. Satu jempol bergestur ke arah jalan masuk rumah mereka. "Kenapa wajahmu seperti orang bego begitu? Jangan berdiri terus di sana, ayo kemari."

Kargo bawaannya diambil begitu saja. Mengerjap cepat, Ryouta mengelus puncak kepala si kembar sebelum mereka kembali mengekori Daiki yang mengangkut oleh-olehnya. "Daikicchi tidak di kantor…?" tanyanya, kebingungan, sambil melepas sepatu.

"Bo—doh," Daiki membalas cepat, terus berjalan tanpa berbalik. "Kau kira aku lebih senang di berlama-lama di kantor daripada di rumah untuk hari ini?"

"Papa bilang kalau hari ini itu anniversary ke-limabelas kalian," Tsubaki menyambung, menadahi buket bunga yang Daiki berikan padanya, sementara ia sendiri meletakkan kotak pesanan mereka di meja makan. "Angkanya cantik, lho."

"Papacchi sebentar lagi juga kembali kerja, 'kan?" Tsubasa menambahkan, merogoh ke dalam laci meja televisi dan mengeluarkan beberapa kaset. Pilihannya disodorkan ke arah Ryouta. "Kita mau nonton film, ayo pilih!"

Ryouta masih cengo, entah mengapa kata-katanya tersangkut semua di ujung lidah. Pekik singkat terlepas ketika sebuah kepalan mengetuk tempurung kepalanya.

"Itai-ssu!"

Daiki memasang raut senewen. "Apa-apaan dengan ekspresimu itu." Mendecih, pria bersurai dongker itu berkacak pinggang. "Menyebalkan, tahu!"

"Enggak enggak!" Tangan dilambai dalam formasi menyilang sebelum Daiki dapat melancarkan serangan lanjutan berupa dekopin—sentilan ke dahi. "Aku cuma kaget saja, kok! Aku—aku nggak menyangka kalau… kalau…"

Ryouta mematung ketika bulir-bulir basah mulai menuruni pipinya. Daiki menghela napas panjang.

"Kamu ini," ujar Daiki, pasrah, namun tetap saja ia menghampiri Ryouta dan mendekapnya erat. Ryouta semakin terisak ketika ia merasakan usapan lembut di antara belikatnya. "Satu-satunya hal yang tidak berubah darimu adalah sifat cengengmu itu, ya, Ryouta?"

"Berisik, Daikicchi." Responnya ketus, namun Ryouta juga mengeratkan pelukannya pada lelaki yang—sangat—dicintainya itu.

Mereka berdiam begitu saja, selama beberapa saat yang terasa seperti berabad-abad. Ketika tangis diam Ryouta berhenti, Daiki mundur, dan ibu jarinya menghapus jejak air mata yang masih tersisa dengan sebuah senyuman lembut. Ryouta membalas senyumannya, menangkupkan sebelah tangannya di atas tangan Daiki yang masih bergeming di pipinya—

"Ehem."

Berjengit, Ryouta melongok ke belakang Daiki. Tsubaki berdiri dengan kedua lengan terlipat di dada, tampak sama sekali tidak terkesan. Kontras dengannya, Tsubasa menatap pemandangan mereka dengan netra safirnya yang berbinar.

"Oke, kalian juga." Ujar Ryouta, tidak bisa menahan gelak jenaka yang mendesak-desak untuk diutarakan. "Sini peluk Papa dan Papacchi kalian!"

Dalam sekejap, mereka langsung menghempaskan diri ke pelukan mereka—Tsubasa ke dekapan Ryouta, dan Tsubaki ke Daiki—dan mereka berbagi tawa, bertukar senyuman secerah matahari.

.

.

TBC

.

.

[Pojok Curhatan Author]

Maafkan update yang datang telat sekali ini. Sesuai ekspektasi, saya sekarat dilanda praktikum. Sehubungan jadwal saya baru benar-benar penuh mulai minggu depan, saya mohon maaf seandainya kesulitan mengupdate fic ini~

Iya, saya berpikir kalau Aomine itu sebenarnya gap moe alias imut karena punya dua sifat yang sangat kontras. Satu lagi kesamaannya dengan Kagami; wajah dan tabiat sangar nan buas tapi sebenarnya manis dan banyak soft spot. Ingat alasan Aomine menghajar Haizaki setelah pertandingan Kaijo-Fukuda Sogo? Itu juga momen di mana saya semakin ngeship pair ini.

Fujimaki-sensei sendiri yang menggunakan frasa 'high spec' untuk mendeskripsikan Takao (di Character Bible). Tentu saja, ini saya korelasikan dengan istilah gaul 'high spec kareshi' atau terjemah harfiahnya 'pacar kualitas tinggi'.

.

[Balasan Review]

@Akakuro-nanodayo: AAA saya tidak kuasa menulis bab 2. Mungkin karena saya baca (ulang) antologi doujin karya Gusari-san yang judulnya 13 Centimeters itu. Very recommended kalau belum baca. Tenang saja, MidoTaka berakhir bahagia kok~

(Terima kasih untuk Akakuro-nanodayo, gyldea, dan Izumi-H untuk review dan fave/follow-nya!)

.

[Trivia]

Arti bunga kamelia: kagum (putih), penantian (merah muda), jatuh cinta (merah). Arti bunga matahari: rasa hormat, cinta yang bergairah, cahaya. Kamelia putih biasa diberikan ke orang yang disukai, dan jika diberikan ke seorang laki-laki maknanya menjadi 'beruntung'.

Penulisan nama anak-anak AoKi adalah「翼」(Tsubasa) dan「椿」(Tsubaki). Terjemahannya cukup harfiah ?

Tsubasa dan Tsubaki itu kembar fraternal alias tidak identik. Tsubaki yang lebih tua. Mereka sama-sama fotogenik, sama-sama suka basket, dan sama-sama suka ngemil.

Sesuai yang sudah disebutkan di sini, AoKi tinggal somewhere di Nakano, Tokyo. Nakano adalah distrik yang lumayan ramai, dengan banyak shopping center (Nakano Broadway!), makanan dan jajanan murah, dan berbagai taman kota.

Cincinnya Takao, sederhananya, berbahan platinum. Cincin yang terbuat dari alloy platinum cenderung lebih tahan banting dari emas, dan tidak perlu sering-sering dipoles ulang atau dibenahi.

Di sebelah kantor kepolisian Nakano beneran ada resto pizza (merk Saiz*riya). Terima kasih, Google Earth.

Apa yang terjadi di antara Aomine dan Kise di masa lalu? Tune in untuk AoKi ronde dua!

.

Akhir kata, terima kasih karena telah sabar menunggu datangnya update ini. Don't forget to RR!