Part 1

Byun Baekhyun terbangun dengan murung karena tetangganya. Tetangga terkutuk itu baru pulang pukul tiga dini hari dengan mobil yang menggerung-gerung. Berisik sekali. Kalaupun knalpotnya pernah punya saringan, Baekhyun yakin pasti sudah lama sekali tidak berfungsi. Sialnya, kamar tidur Baekhyun berada di sisi yang berdekatan dengan jalur masuk rumah tetangganya. Bahkan bantal yang menutupi kepalanya pun tidak mampu menghambat bunyi Pontiac delapan silinder itu ke telinganya. Terdengar laki-laki itu membanting pintu mobilnya, menyalakan lampu teras dapur—yang sialnya, letaknya di desain sedemikian rupa sehingga sinarnya langsung menyorot ke mata Baekhyun jika ia berbaring menghadap jendela—yang sialnya lagi, posisinya saat ini. Tetangganya itu juga membiarkan pintu kasanya terhempas tiga kali ketika ia masuk, kembali keluar beberapa menit kemudian, lalu masuk lagi, dan kebetulan lupa dengan lampu terasnya, karena tidak lama kemudian lampu di dapur padam tapi lampu teras sialan itu tetap menyala.

Jika Baekhyun sudah tahu tentang tetangganya itu sebelumnya, pasti ia tidak akan pernah membeli rumah ini. Baru dua minggu ia tinggal di sini, tetapi semua kebahagiaan yang dirasakannya karena bisa membeli rumahnya yang pertama telah dirusak laki-laki itu.

Baekhyun yakin laki-laki itu pasti pemabuk. Dan kenapa dia bukan pemabuk yang gembira?, pikirnya kecut.

Tidak, dia pasti pemabuk yang jorok dan menyeramkan, jenis yang membuat Baekhyun takut membiarkan kucing keluar rumah ketika laki-laki itu ada di rumah. BooBoo bukan kucing yang menyenangkan—bahkan bukan milik Baekhyun—tapi ibunya menyayangi kucing itu, sehingga Baekhyun tidak ingin sesuatu terjadi pada BooBoo sementara kucing itu dititipkan padanya. Ia takkan pernah sanggup menghadapi ibunya lagi jika kedua orang tuanya kembali dari liburan impian mereka, berkeliling Eropa selama enam minggu, dan menemukan BooBoo mati atau hilang.

Bagaimanapun tetangganya itu sudah punya niat jahat terhadap BooBoo yang malang, karena menemukan jejak-jejak tapak kaki si kucing pada kaca depan dan kap mobilnya. Dari caranya bereaksi, orang akan mengira mobilnya adalah Rolls baru, bukannya Pontiac berumur sepuluh tahun dengan kedua bemper penuh kotoran. Sialnya, waktu itu Baekhyun berangkat kerja pada saat yang sama dengan si tetangga; setidaknya pada saat yang menurutnya orang itu berangkat kerja. Ia menduga jangan-jangan laki-laki itu hanya pergi untuk membeli minuman keras. Kalaupun dia bekerja, jam kerjanya aneh sekali. Karena sejauh ini Baekhyun belum dapat menentukan pola kedatangan dan kepergiannya.

Baekhyun sudah mencoba untuk bersikap baik pada hari laki-laki itu memelototi jejak-jejak tapak kaki BooBoo. Bahkan Baekhyun tersenyum padanya, mengingat bagaimana laki-laki itu melabrak Baekhyun karena pesta pindah rumahnya telah membangunkan orang itu—pada jam dua siang! Itu menunjukkan Baekhyun sangat berbaik hati, bukan? Tapi pria itu sama sekali tidak memperhatikan senyum perdamaiannya, justru langsung melesat keluar dari mobilnya sambil berkata,

"Singkirkan kucing sialanmu dari mobilku, bodoh!"

Senyum di wajah Baekhyun seketika membeku. Ia tidak suka membuang-buang senyumnya, terutama untuk orang bodoh bermata merah dan pemarah itu. Beberapa komentar panas bermunculan dalam benaknya, tapi Baekhyun menahannya. Walau bagaimanapun, ia masih baru di lingkungan ini, dan ia telah salah langkah dengan laki-laki ini. Ia sama sekali tidak menginginkan perselisihan diantara mereka. Ia pun memutuskan untuk mencoba berdiplomasi sekali lagi, meskipun sudah tidak berhasil selama pesta pindahan rumahnya.

Dan seperti yang sudah di duga, laki-laki itu hanya menanggapinya dengan geraman tidak jelas dan kembali masuk ke dalam mobilnya dengan membanting pintu, lalu menderum-derumkan mobilnya, sehingga mesinnya menggelegar seperti guntur. Baekhyun menelengkan kepalanya, mendengarkan ketika mobil laki-laki itu melaju pergi dengan cepat. Wujud Pontiac itu tidak jelas karena debu dan kotoran yang menempel, tetapi kerja mesinnya halus. Di bawah kap mobil itu tersembunyi mesin bertenanga luar biasa. Dan Baekhyun pun menyadari, jelas tidak ada gunanya berdiplomasi pada orang ini.

Sekarang dia membangunkan semua tetangga pada pukul tiga dini hari dengan mobil yang berisik sekali itu. Ketidakadilan ini, setelah dia marah-marah pada Baekhyun karena membangunkannya di siang hari, membuat Baekhyun ingin mendatangi rumah laki-laki itu dan memencet belnya terus-menerus sampai laki-laki itu terbangun seperti semua orang lainnya. Tapi ada satu masalah kecil. Baekhyun punya sekelumit rasa takut pada pria itu. Pria itu bertubuh tinggi menjulang seperti tiang, bersurai silver, telinga besar yang nampak seperti alien baginya, dengan mata bulat yang tajam dan raut wajah yang tidak pernah menunjukkan kesan yang menyenangkan. Ayolah, dengan mata merah dan wajah yang kusut, bagaimana laki-laki itu bisa menyenangkan?

Baekhyun merasa kesal. Ia tidak terbiasa mengalah pada orang lain, tetapi lelaki ini membuatnya gelisah. Baekhyun bahkan belum tahu namanya, karena meskipun sudah dua kali bertemu mereka belum pernah saling menyapa dan memperkenalkan diri dengan "halo, namaku anu dan seterusnya". Yang diketahui Baekhyun hanyalah laki-laki itu berperangai kasar dan kelihatannya, dia tidak punya pekerjaan tetap. Paling bagus, dia pemabuk, dan itu berarti mungkin dia jahat dan suka merusak. Paling jelek, dia terlibat urusan illegal, yang menambah kategori berbahaya dalam daftar itu. saat Baekhyun pindah ke rumah ini, kelihatannya ini adalah lingkungan yang aman, tetapi ia tidak merasa aman dengan adanya laki-laki itu sebagai tetangganya.

Sambil menggerutu sendiri, Baekhyun turun dari tempat tidur dan menutup kerai jendela. Sudah bertahun-tahun ia terbiasa tidak menutup kerai jendelanya ketika tidur, karena jam weker belum tentu membangunkannya, sedangkan sinar matahari pasti selalu manjur. Lebih baik terbangun karena sinar matahari pagi daripada karena suara berisik. Beberapa kali ia menemukan jam wekernya terlempar ke lantai. Ia menduga jam weker hanya berhasil membangunkannya untuk mematikan deringnya, tapi belum cukup berhasil untuk benar-benar membuatnya terjaga. Cara Baekhyun sekarang adalah menggunakan tirai tipis dibalik kerai; tirai tipis itu mencegah orang bisa melihat ke dalam kecuali lampu dinyalakan, dan kerai hanya dibuka sesudah lampu dimatikannya malam hari. Jika hari ini ia terlambat kerja, tetangganya itulah yang bersalah, karena memaksanya tergantung pada weker, bukannya matahari.

Baekhyun tersandung BooBoo ketika ia kembali ke tempat tidur. Kucing itu meloncat sambil mengeong kaget dan Baekhyun nyaris terkena serangan jantung. "Ya Tuhan! BooBoo, kau membuatku kaget setengah mati," serunya.

Kucing itu mendesis pada Baekhyun dan kembali tidur. Baekhyun duduk di tempat tidurnya dan mendesah lelah. Sesungguhnya, ia tidak terbiasa memelihara binatang di rumah, dan ia selalu lupa untuk berhati-hati saat berjalan. Kalaupun ia punya peliharaan, pasti tidak akan seperti BooBoo. Kucing itu jadi uring-uringan sejak di kebiri, dan melampiaskan frustasinya pada perabotan. Hanya dalam seminggu, ia telah mencakari sofa sedemikian rupa sehingga Baekhyun harus melapisinya lagi.

Dan BooBoo tidak menyukai Baekhyun. Kucing itu cukup menyukainya ketika ia berada di rumahnya, selalu mendekat agar diusap-usap, tetapi ia sama sekali tidak suka ketika berada di rumah Baekhyun. Setiap kali Baekhyun mencoba mengusapnya, BooBoo selalu melengkungkan punggungnya dan mendesis pada Baekhyun. Kucing yang menyebalkan.

Baekhyun merebahkan tubuhnya dan berpikir, kenapa ia membeli rumah ini? Ah benar, karena ia telah jatuh cinta pada lingkungan rumah ini, dan pada harganya yang murah. Seharusnya ia sudah memeriksa semua tetangganya, tetapi sepintas lalu wilayah ini kelihatannya baik dan aman. Dan ia sudah menggebu-gebu begitu menemukan rumah yang bagus dan kokoh dengan harga yang cukup murah.

Memikirkan tetangganya pasti akan membuatnya tidak dapat tidur kembali, maka Baekhyun mempertemukan kedua tangannya di belakang kepala dan memandangi langit-langit yang gelap sambil membayangkan semua yang ingin dilakukannya dengan rumah ini. Perbaikan besar-besaran dan kondisi keuangannya yang belum siap menghadapnya. Tanpa sadar Baekhyun pun tertidur.

*ChanBaek*

Baekhyun terbangun karena bunyi alarm weker yang mengganggu. Setidaknya benda sialan itu telah membangunkannya kali ini, pikirnya sambil menggulingkan badannya untuk mematikan alarm wekernya. Angka-angkanya yang merah bersinar dalam ruangan yang remang-remang itu membuat Baekhyun berkedip dan melihatnya lagi.

"Ah, sialan," erangnya kesal sambil meloncat turun dari ranjang.

Jam weker itu menunjukkan pukul 06.58. Alarm itu sudah berbunyi selama hampir sejam, dan itu artinya Baekhyun terlambat. Terlambat sekali. Baekhyun masuk ke kamar mandi sambil menggerutu, mengucapkan kalimat sialan berulang kali. Semenit kemudian ia keluar lagi. Sambil menyikat gigi, ia bergegas ke dapur dan membuka sekaleng makanan untuk BooBoo, yang sudah duduk di samping mangkuknya sambil memelototi Baekhyun. Baekhyun meludah ke wastafel dan menyalakan air untuk membasuh pasta gigi di mulutnya. Kemudian ia melirik BooBoo sambil berkata dengan kesal pada kucing itu,

"Kenapa tadi kau tidak meloncat ke ranjang seperti biasanya saat kau lapar? Eh, hari ini kau pilih menunggu, dan sekarang aku tidak sempat makan."

BooBoo nampak tidak peduli apakah Baekhyun makan atau tidak, sepanjang ia mendapat makanan. Baekhyun berlari kembali ke kamar mandi. Ia mandi dengan cepat, menyambar pakaiannya, memakai arloji pada pergelangan tangannya, memakai sepatunya, menyambar tas dan kunci mobilnya—dan melupakan eyeliner-nya kali ini—, lalu berlari keluar rumah. Yang pertama dilihatnya saat ia akan membuka pintu mobilnya adalah wanita kecil berambut kelabu yang tinggal di seberang jalan, nyonya Hong sedang membuang sampah. Baekhyun pun teringat, ini adalah hari pengangkutan sampah.

"Sialan, sialan, sialan, sialan..." Baekhyun kembali menggerutu sambil membalikkan badan dan kembali masuk ke rumah.

BooBoo memandangnya dan itu membuat Baekhyun merasa semakin kesal. "Aku sedang berusaha mengurangi umpatanku. Tapi kau dan nyonya Hong itu membuatnya sulit," bentaknya pada BooBoo sambil menarik keluar kantong sampang dari tempat sampah dan mengikatnya dengan tali.

BooBoo membalikkan badan memunggungi Baekhyun, seolah tidak peduli pada kesialan pemuda cantik itu. Baekhyun berlari keluar rumah lagi, teringat ia belum mengunci pintu. Dan ia kembali lagi, lalu mengangkat tutup tong sampah yang besar dan menaruhnya di pinggir jalan, kemudian memasukkan "persembahan" pagi itu di atas dua kantong yang sudah ada. Untuk kali ini, Baekhyun sengaja melakukan semuanya itu dengan gaduh. Ia berharap suara gaduhnya itu dapat membangunkan si bodoh yang tidak tahu diri di rumah sebelah.

Baekhyung berlari kembali ke mobilnya, Dodge Viper merah ceri kesayangannya. Dan sebagai tambahan, ketika menstarter mobilnya, ia menekan-nekan gasnya berulang kali sebelum memundurkannya. Mobil itu mundur dengan cepat dan menabrak tong sampang dengan bunyi berkelontang keras sekali. Lalu disusul dengan bunyi berkelontang lainnya saat tong itu menggelinding menabrak tong sampah tetangganya dan menggulingkannya, sehingga sampah isinya berterbaran di jalan.

Baekhyun memejamkan mata dan membenturkan kepalanya pada kemudi-dengan pelan-pelan; ia tidak ingin gegar otak. Meskipun mungkin sebaiknya ia membuat dirinya sendiri gegar otak; setidaknya dengan begitu ia tidak akan khawatir harus sampai di tempat kerja tepat waktu, yang sekarang jelas mustahil. Ia tidak mengumpat; kata-kata yang muncul dalam benaknya hanyalah kata-kata yang benar-benar tidak ingin digunakannya.

Ia memarkir mobilnya dan keluar. Yang diperlukan sekarang adalah kendali, bukan amarah. Ditegakkannya kembali tong sampahnya yang penyok dan dikembalikannya kantong-kantong yang tumpah ke dalam tong itu, lalu ditutupnya tong dengan penutupnya yang sudah melengkung. Kemudian ia mengembalikan tong sampah tetangganya ke posisi tegak, mengumpulkan sampah lalu mengambil tutup tong yang tadi menggelinding ke jalan.

Tutup itu tersandar pada trotoar di depan rumah sebelah. Ketika Baekhyun membungkuk memungutnya, ia mendengar pintu kasa dibanting di belakangnya. Yah, harapannya terkabul. Si brengsek yang seenaknya sendiri itu sudah bangun.

"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" bentak laki-laki itu. Ia tampak mengerikan, mengenakan celana training serta kaos robek dan kotor. Wajahnya—yang sebenarnya tampan—itu cemberut.

Baekhyun berbalik dan bergegas kembali ke pasangan tong yang sudah tak layak pakai itu dan membanting penutupnya ke atas tong itu. "Memunguti sampahmu," sahutnya.

Tatapan laki-laki itu berapi-api. Sebenarnya setajam seperti biasanya, tetapi efeknya sama saja. "Jadi, apa alasanmu membuatku tidak bisa tidur? Kau orang paling berisik yang pernah kutahu—" seru laki-laki itu marah.

Ketidakadilan itu membuat Baekhyun melupakan sedikit rasa takutnya pada laki-laki itu. Baekhyun menghampiri tetangganya dan mendongak memandangnya dengan kesal. Pria itu lebih tinggi darinya, mungkin sekitar 185 senti. Tapi memangnya kenapa kalau dia lebih tinggi? Baekhyun sedang marah saat ini, dan ia tidak peduli soal tinggi badan.

"Aku berisik?" tanyanya sambil menggertakkan gigi. Sulit bicara dengan suara keras jika rahangnya terkunci, tapi Baekhyun berusaha. "Aku berisik?" ditudingnya laki-laki itu. Ia tidak ingin benar-benar menyentuh laki-laki itu, karena kaosnya robek dan berbercak-bercak dengan...sesuatu.

Baekhyun menatap pria itu dengan nanar dan kembali berkata dengan marah, "Dengar, bukan aku yang membangunkan semua tetangga jam tiga pagi ini dengan rongsokan yang kau sebut mobil itu. Demi Tuhan, beli saringan knalpot! Bukan aku yang membanting pintu mobil sekali, pintu kasa tiga kali—apa kau lupa dengan minumanmu dan harus kembali mengambilnya?—dan membiarkan lampu teras menyala terus hingga menyorot ke kamarku dan membuatku tidak bisa tidur."

Laki-laki itu membuka mulutnya untuk menyemprot Baekhyun, tetapi pemuda cantik itu belum selesai. "Tambahan lagi, jelas jauh lebih masuk akal mengira orang tidur jam tiga pagi daripada jam dua siang, atau—" Baekhyun memeriksa arlojinya sesaat. "jam 07.23 pagi. Ya ampun, aku sudah terlambat sekali. Sudah kembali sana, bodoh! Cepat kembali ke minumanmu. Kalau kau cukup minum, kau pasti akan tidur juga."

Laki-laki itu membuka mulutnya lagi. Baekhyun pun lupa diri dan benar-benar meninjunya dengan keras. "Aaouch.." Baekhyun sedikit meringis. Sepertinya sekarang ia harus merebus jarinya. Sial!

Kemudian ia memandang laki-laki itu dan berkata dengan nada memperingatkan, "Besok aku akan membelikanmu tong sampah baru, jadi diam saja. Dan kalau kau menyentuh kucing ibuku dan berbuat sesuatu padanya, kau akan ku cincang. Akan kurusak DNA-mu hingga tidak bisa lagi bereproduksi, yang mungkin akan lebih baik untuk dunia ini. Mengerti?"

Baekhyun menyapukan tatapan tajamnya ke laki-laki itu, termasuk ke pakaiannya yang kumal dan kotor serta rahangnya yang nampak tegas itu. Si tetangga mengangguk. Baekhyun pun menghela napas dalam-dalam, berusaha mengekang amarahnya.

"Ok. Baik, kalau begitu. Sialan, kau membuatku mengumpat. Padahal aku sedang mencoba menghindarinya," kata Baekhyun.

Laki-laki itu memandang Baekhyun dengan aneh. "Ya, kau memang harus menjaga mulutmu itu," katanya.

Baekhyun menyapukan jemari ke surai light brown-nya dan mendengus. "Aku terlambat. Aku belum tidur, belum sarapan, dan belum minum kopi. Lebih baik aku pergi sebelum menyakitimu," katanya.

Laki-laki itu mengangguk. "Itu ide bagus. Aku tidak suka terpaksa menangkapmu," katanya.

"Apa?" Baekhyun membelalak terkejut.

"Aku polisi," sahut laki-laki itu, lalu berputar dan kembali ke dalam rumahnya.

Baekhyun melotot, kaget setengah mati. Polisi?

"Yah, brengsek," katanya kembali mengumpat.

Tbc