*thanks sudah membaca dan menyukai ff ini. still mind to read and give your comment or like?
.
.
.
Part 2
Karena mengganti waktu keterlambatannya pagi itu, Baekhyun hampir terlambat lima belas menit untuk sampai di TLJ's bar and grill, tempat biasa ia dan ketiga sahabatnya berkumpul setelah lelah bekerja selama seminggu. Seperti biasanya di malam akhir pekan TLJ's sudah padat pengunjung. Tapi Baekhyun bersyukur ketiga sahabatnya sudah mendapatkan meja untuk mereka. Ia tidak suka menunggu di bar untuk mendapatkan meja, bahkan kalau suasana hatinya sedang baik, apalagi kalau tidak seperti saat ini.
"Hari yang menyebalkan sekali," kata Baekhyun sambil menjatuhkan diri ke kursi yang kosong.
Kim Heechul menyulut sebatang rokok dan memandang Baekhyun. "Kelihatannya suasana hatimu sedang tidak baik hari ini," katanya.
"Ini pasti tentang tetanggamu itu," kata Huang Zitao menebak.
"Yah, aku punya cerita lagi dengan tetanggaku pagi ini," kata Baekhyun, sambil menghembuskan napas kesal. Kedua sikunya bertumpu pada meja dan menopang dagunya.
"Apa yang dilakukannya kali ini?" tanya Do Kyungsoo penuh perhatian.
Ketiga sahabatnya itu tahu bahwa Baekhyun tertimpa sial. Tetangga brengsek memang membuat hidup serasa di neraka. Baekhyun kembali menghembuskan napasnya dengan kesal dan berkata,
"Aku terburu-buru dan menabrak tong sampahku. Kau tahu bagaimana kalau aku nyaris terlambat. Kita selalu melakukan hal-hal yang tidak pernah terjadi jika waktu kita tidak cukup, kan? Pagi ini semuanya jadi salah. Lalu, tongku menabrak tongnya hingga terguling, dan tutupnya terpental ke jalan. Bisa kau bayangkan betapa berisiknya. Dia langsung keluar rumah seperti beruang, katanya aku orang paling berisik yang pernah di jumpainya."
"Seharusnya kau tendang lagi tongnya," kata Heechul. Ia bukan orang yang menganut prinsip mengalah.
"Dia akan menahanku karena membuat keributan," kata Baekhyun sedih. "Dia polisi."
"Tidak mungkin!" kata ketiga sahabatnya itu bersamaan. Mereka semua terlihat tidak percaya.
Baekhyun pun melukiskan gambaran laki-laki itu. Tetapi menurut ketiga sahabatnya mata merah dan pakaian kotor sama sekali bukan ciri-ciri polisi. "Kupikir polisi mungkin juga mabuk-mabukkan seperti orang lain," kata Do Kyungsoo, agak ragu-ragu. "Atau mungkin lebih."
Baekhyun mengerutkan kening, membayangkan kembali pertengkaran tadi pagi. "Aku tidak mencium bau apa-apa padanya. Dia kelihatan seperti sudah mabuk tiga hari tapi baunya tidak seperti itu. Sialan, aku tidak suka mengingat dia bisa semarah itu ketika sedang mabuk," katanya.
"Bayar!" kata Heechul seraya menunjuk Baekhyun.
"Sialan! Maki Baekhyun jengkel pada dirinya sendiri.
Baekhyun memang sudah sepakat dengan ketiga sahabatnya bahwa ia akan membayar 25 dollar setiap kali mengumpat, dengan harapan akan membuatnya berhenti dari kebiasan jelek itu.
"Dua kali," Do Kyungsoo terkikik senang seraya mengulurkan tangannya.
Sambil menggerutu, tapi berusaha untuk tidak mengumpat, Baekhyun mengeluarkan 50 dollar untuk mereka masing-masing. Sepertinya hari-hari ini ia harus memastikan dirinya selalu punya banyak uang receh.
"Setidaknya dia cuma tetangga. Kau bisa menghindarinya," hibur Tao.
"Sejauh ini aku belum berhasil melakukannya," kata Baekhyun mengakui sambil memandangi meja.
Lalu Baekhyun menegakkan badannya, bertekad akan berhenti membiarkan laki-laki itu mendominasi hidup dan pikirannya dengan cara seperti yang telah terjadi selama dua minggu ini. "Sudah cukup mengenai dia. Hal menarik apa saja yang terjadi pada kalian?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Tao menggigit bibirnya, dan kemuraman meliputi wajahnya. "Tadi malam aku menghubungi Kris gege, dan yang menjawab perempuan," jawabnya.
"Kurang ajar," maki Heechul.
Do Kyungsoo mencondongkan badannya ke seberang meja untuk menepuk-nepuk tangan Tao. Dan sesaat Baekhyun merasa iri karena temannya bisa bebas bicara. Seorang pelayan datang untuk membagikan menu yang tidak mereka butuhkan, karena mereka tahu semua pilihan berdasarkan perasaan. Mereka menyerahkan catatan pesanan mereka, si pelayan mengumpulkan menu-menu yang tidak dibuka itu dan beranjak pergi.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Baekhyun. Ia pakar dalam memutuskan hubungan sekaligus diputuskan.
Yah, tidak ada kehidupan yang sempurna. Sampai saat ini Baekhyun belum pernah berhasil membina hubungan asmara, baik dengan wanita maupun pria. Sudah tiga kali ia bertunangan, tapi belum pernah sampai ke altar. Tunangan keduanya, bajingan itu, sudah menunggu sampai malam sebelum pernikahan untuk memberitahunya bahwa ia tidak dapat melangsungkan pernikahan itu. Perlu waktu sebentar untuk mengatasi hal itu. Baekhyun tidak lagi memperhatikan kata-kata yang ada di dalam benaknya, tetapi tidak meneriakkannya. Apakah "bajingan" merupakan makian? Adakah daftar kata resmi yang bisa dijadikan acuannya?
Setelah yang ketiga berakhir, ia memutuskan berhenti berkencan untuk sementara ini dan berkonsentrasi pada karirnya. Inilah dia sekarang, setelah tujuh tahun berlalu tetap berkonsentrasi pad karirnya. Ia punya catatan piutang yang bagus, rekening bank yang bagus, dan baru saja membeli rumah pertamanya sendiri—yang tidak dinikmatinya seperti yang telah dibayangkannya, dengan adanya makhluk yang pemarah dan tidak pedulian yang menjadi tetangganya itu. Laki-laki itu kelihatan seperti jenis yang akan membakar sisi jeleknya. Baekhyun telah mengalaminya mulai dari hari ketika ia pindah.
Baekhyun mencoba melupakan tetangga barunya yang menyebalkan itu, dan lebih memperhatikan Tao yang hampir menangis dan sedang berusaha bersikap tidak peduli. Hari ini pria sempurna yang tepat untuk menjadi kekasih menjadi topik pembicaraan mereka.
*ChanBaek*
Matahari sabtu pagi menyingsing dengan cerah dan cepat—sangat terlalu cerah, dan amat sangat terlalu cepat. Baekhyun dibangunkan BooBoo pada pukul enam pagi dengan mengeong tepat di telinganya.
"Pergi," gerutu Baekhyun, menarik bantal menutupi kepalanya.
BooBoo mengeong lagi, dan memukuli bantal. Baekhyun segera menangkap pesannya: kalau ia tidak bangun BooBoo akan menancapkan cakarnya. Baekhyun pun mendorong bantalnya ke samping dan bangun sambil memelototi kucing gembul itu.
"Kau memang jahat, tahu? Kemarin pagi kau tidak bisa melakukan ini, kan? Tidak, kau harus menunggu sampai aku libur, ketika aku tidak harus bangun pagi," gerutu Baekhyun.
BooBoo tampak tidak tertarik dengan kemarahan Baekhyun. Itulah masalahnya dengan kucing; bahkan makhluk yang paling jorok ini pun yakin dengan keunggulan yang dibawanya sejak lahir. Baekhyun menggaruk belakang telinga kucing itu, terdengar dengkur pelan dan sekujur tubuh kucing itu bergidik. Matanya yang kuning dan kecil memejam kesenangan.
"Tunggu saja. Kau akan kubuat ketagihan pada garukan ini, lalu aku akan berhenti melakukannya. Kau akan kelabakan, sobat," kata Baekhyun pada si kucing.
BooBoo meloncat turun dari ranjang dan berjalan ke pintu kamar yang terbuka. Kucing itu berhenti sebentar untuk menoleh, seolah untuk memastikan Baekhyun sudah bangun. Baekhyun menguap dan menarik selimutnya. Setidaknya tadi malam ia tidak terganggu oleh suara berisik mobil tetangganya, ditambah ia sudah menarik turun kerai jendelanya untuk menahan sinar matahari pagi, sehingga ia bisa tidur nyenyak sampai BooBoo membangunkannya.
Baekhyun menyibak kerai ke atas dan mengintip melalui tirai tipis ke jalur masuk mobil di sampingnya. Pontiac cokelat rongsokan itu masih ada di sana. Itu berarti dia sudah begitu kelelahan dan tidur sampai mati. Atau kalau tidak, tetangganya itu sudah memasang saringan knalpot yang baru pada benda itu. Baekhyun pikir pilihan kelelahan-dan-mati itu yang lebih tepat daripada laki-laki itu memasang saringan knalpot baru.
Sepertinya BooBoo mengira Baekhyun membuang-buang waktu saja, karena kini kucing itu mengeong memberi peringatan. Sambil mendesah, Baekhyun menyibak rambutnya ke belakang dan tersandung-sandung ke dapur. Tersandung-sandung memang kata yang tepat, karena BooBoo membantunya dengan berputar-putar di sekeliling pergelangan kakinya. Baekhyun benar-benar memerlukan kopi, tetapi ia tahu dari pengalamannya bahwa BooBoo tidak akan meninggalkannya kalau belum diberi makan. Dibukanya sekaleng makanan kucing, dituangnya ke piring kecil, dan diletakkannya di lantai. Sementara BooBoo sibuk dengan sarapannya, Baekhyun menjerang sepoci kopi lalu menuju kamar mandi.
Sambil melepaskan t-shirt dan celana dalam yang menjadi pakaian tidur musim panasnya, Baekhyun melangkah ke bawah siraman air hangat yang nyaman agar pukulan air itu membuatnya benar-benar terjaga. Ia belum bisa berfungsi dengan baik sebelum mandi dan meneguk secangkir kopi, dan akhir-akhir ini ia suka tidur setidaknya sampai pukul sepuluh pagi. Tapi BooBoo mengacaukan segala hal yang sudah teratur secara alami, karena minta diberi makan sebelum Baekhyun sempat mengerjakan yang lain-lainnya. Kenapa ibunya tega melakukan ini padanya?
"Cuma empat minggu dan enam hari lagi," gumamnya pada diri sendiri.
Siapa yang mengira bahwa kucing yang biasanya sangat menyenangkan akan berubah menjadi semacam tiran ketika berada di lingkungan yang asing baginya.
Sesudah mandi lama dan meneguk dua cangkir kopi, saraf-sarafnya mulai berhubungan dan Baekhyun mulai mengingat semua hal yang perlu dikerjakannya. Membeli tong sampah baru untuk tetangga sialan itu, belanja makanan, mencuci pakaian, potong rumput di halaman. Baekhyun merasa agak senang dengan hal yang terakhir itu. Sejak meninggalkan rumah ia tinggal di apartemen, yang tak satu pun punya halaman berumput. Tapi kini rumah barunya lengkap dengan halaman berumput sendiri. Ia punya rumput untuk dipotong, benar-benar rumputnya sendiri! Untuk menyambut kesempatan ini, ia telah membeli mesin pemotong rumput model terbaru yang bisa bergerak sendiri. Dan hari ini untuk pertama kalinya ia akan memotong rumput. Ia nyaris tidak sabar merasakan tenaga monster merah itu berdenyut di bawah tangannya, sementara mesin itu menebas rerumputan itu. Ia tergila-gila pada mesin merah.
Tetapi ada hal penting yang harus di dahulukan. Baekhyun harus bergegas ke supermarket dan membeli tong sampah baru untuk orang menyebalkan itu. Janji adalah janji, dan Baekhyun selalu berusaha menepati janjinya. Setelah melahap semangkuk sereal dengan cepat, Baekhyun siap berangkat.
Tetapi siapa sangka, ternyata sulit mencari tong sampah?
Saat akhirnya Baekhyun berhasil menemukan tong sampah besar di toko alat berat, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan dan udara sudah mulai panas, tidak nyaman untuk memotong rumput. Jika ia tidak segera merumput, ia harus menunggu sampai matahari turun dan sengatannya mereda. Maka baekhyun memutuskan untuk menunda berbelanja makanan dan segera pulang. Ketika Baekhyun keluar dari mobil, tetangga sebelahnya yang lain mendekati pagar putih setinggi pinggang yang membatasi rumah-rumah itu dan melambai.
"Selamat pagi!" sapa nyonya Kim Hyerin.
"Selamat pagi," sahut Baekhyun dengan tersenyum ramah.
Baekhyun telah bertemu dengan pasangan tua Kim yang menyenangkan itu pada hari ia pindah, dan nyonya Kim Hyerin, wanita mungil berambut kelabu itu telah membawakannya sepanci sup keesokan harinya, dengan kue gulung buatan sendiri yang harum. Baekhyun berpikir, jika saja tetangganya yang satu lagi —yang menyebalkan itu—bisa seperti keluarga Kim ini, Baekhyun akan merasa hidup di surga ke tujuh. Walaupun Baekhyun tidak sanggup saat ia mulai membayangkan laki-laki itu memberinya kue gulung buatannya sendiri.
Baekhyun mendekati pagar itu untuk mengobrol dengan tetangganya. "Hari yang indah, ya," katanya. Ia bersyukur ada cuaca, karena dunia akan kekurangan cara untuk mengawali percakapan tanpanya.
Nyonya Kim Hyerin memandang Baekhyun dengan berseri-seri sambil mengacungkan tangannya yang memakai sarung tangan dan memegang sekop. Mereka mulai mengobrol tentang cuaca dan berkebun. Sepertinya itu adalah topik favorit nyonya Kim Hyerin. Baekhyun tersenyum menanggapi celotehan wanita tua itu. Saat ia mulai berpamitan, sesuatu melintas dalam benaknya. Ia kembali ke wanita tua itu dan bertanya,
"Hyerin-ssi, kenalkah kau dengan tetanggaku yang sebelah sana?"
Bagaimana jika bajingan itu telah membohonginya? Bagaimana jika dia ternyata bukan polisi?, pikir Baekhyun. Ia hanya dapat membayangkan laki-laki itu menertawakan kelakuannya mengendap-endap ketakutan dan berusaha ramah padanya.
"Park muda? Astaga, ya. Aku mengenalnya sepanjang hidupnya. Dulu kakek dan neneknya tinggal di sini. Mereka orang-orang yang menyenangkan sekali. Aku gembira ketika Park muda itu pindah ke sini sesudah neneknya meninggal tahun lalu. Aku merasa jauh lebih aman bertetangga dengan polisi, ya 'kan?" jawab nyonya Kim.
Yah, teorinya telah tumbang.
Baekhyun berusaha tersenyum. "Ya, tentu saja," komentarnya.
Baekhyun baru akan mengatakan sesuatu tentang jam-jam aneh pria itu, tetapi langsung batal saat melihat binar di mata cerah nyonya Kim. Ia tidak ingin tetangga tuanya itu mengira ia tidak tertarik pada si bajingan itu dan mungkin memberitahu pria itu, karena jelas nyonya Kim memiliki hubungan baik dengannya. Untuk berjaga-jaga ia menambahkan,
"Kukira dia pengedar obat bius atau semacam itu."
Nyonya Kim tampak tersinggung dengan komentar Baekhyun. "Park muda pengedar obat bius? Oh, astaga. Tidak, dia tidak akan pernah berbuat semacam itu."
Baekhyun tersenyum lagi. "Syukurlah. Ah, rasanya lebih baik aku mulai memotong rumput sebelum hari semakin panas," katanya berpamitan.
Baekhyun beranjak pergi. Di belakangnya nyonya Kim berseru, mengatakan untuk tidak lupa minum air banyak-banyak. Yah, persetan, pikir Baekhyun saat ia berkutat mengeluarkan tong sampah dari kursi belakang mobilnya. Bajingan itu polisi, dia tidak bohong. Baekhyun membayangkan melihat laki-laki itu menangkap orang dan memborgolnya. Ditaruhnya tong itu di teras belakang tetangganya, lalu dikeluarkannya tong sampah plastik yang dibelinya untuk dirinya sendiri.
"Yah, setidaknya akhirnya aku tahu nama marganya. Park, huh?" pikir Baekhyun saat ia beranjak pergi, masuk ke dalam rumahnya.
*ChanBaek*
Dengan penuh semangat Baekhyun membuka gembok pintu garasi dan menyelinap ke dalam garasi, meraba-raba tombol lampu untuk menyalakan lampu. Kebanggaan dan kebahagiaan ayahnya ada di sana, tertutup rapat dengan terpal kanvas yang dibuat atas pesanannya, berlapiskan bulu agar cat mobil itu tidak tergores. Sebenarnya Baekhyun berharap Taemin, adiknya, yang dititipi mobil sialan itu. Tapi kemudian Baekhyun teringat satu hal, Taemin tidak memahami mobil itu, tidak seperti dirinya. Karena ia satu-satunya anak yang mempunyai antuasisme yang sama terhadap mobil seperti ayahnya. Mobil itu memang tidak menimbulkan banyak masalah seperti BooBoo, tetapi Baekhyun lebih mencemaskannya.
Baekhyun menyingkap selubung yang menutupi mesin pemotong rumput barunya, dan diusapnya logam dingin tersebut. Di dorongnya mesin pemotong rumputnya melewati mobil ayahnya, berhati-hati agar tidak menyenggolnya. Terpal kanvas menutupi mobil itu dari bawah ke atas, tetapi Baekhyun tidak mau ceroboh sepanjang menyangkut mobil itu. Dibukanya satu pintu garasi, cukup untuk mengeluarkan mesin pemotong rumput. Lalu, ia mendorong benda kesayangan barunya itu ke bawah sinar matahari. Cat merah itu nampak berkilau tertimpa sinar matahari; batang pegangannya dari krom yang berkilat-kilat. Oh, cantik sekali.
Di saat terakhir Baekhyun teringat untuk memindahkan mobilnya ke jalan, berhati-hati agar tidak ada orang yang sengaja ataupun tidak sengaja memecahkan jendela atau merusak cat tembok dengan batu. Ia menoleh melihat mobil tetangganya dan mengangkat bahunya. Mungkin laki-laki itu memperhatikan jejak kaki BooBoo, tapi dia tidak akan pernah memperhatikan apabila mobilnya bertambah penyok, pikir Baekhyun.
Dengan senyum gembira Baekhyun menghidupkan mesin kecil itu. Saat ia mulai menikmati kesibukannya, seseorang menepuk bahunya. Baekhyun menjerit dan melepaskan pegangan mesin pemotong rumputnya. Ia melompat ke samping dan berpaling melihat penyerangnya. Mesin pemotong rumput itu berhenti bergerak.
Laki-laki itu berdiri di sana, dengan mata merah, wajah keruh, pakaian kotor: penampilan biasanya. Ia mengulurkan tangan dan mendorong tuas mesin pemotong rumput ke posisi off, dan mesin kecil yang efesien itu menderum berhenti. Sunyi, selama kira-kira setengah detik.
"Sialan, kau mau apa sih?" geram Baekhyun. Wajah manisnya memerah karena marah. Saat ia melangkah mendekat, tanpa sadar ia mengepalkan tangan kanannya.
"Kupikir kau sedang berusaha berhenti mengumpat," ejek sang Park muda, Park Chanyeol.
"Santo pun akan mengumpat gara-gara kau!" kata Baekhyun kesal.
"Jadi itu yang memperbolehkanmu, ya?"
"Tepat sekali, sialan!"
Chanyeol memandang tangan kanan Baekhyun. "Kau mau pakai itu, atau kau mau pakai akal sehat?"
"Apa—?"
Baekhyun melirik ke bawah dan melihat bahwa lengannya setengah tertekuk, tangannya sudah terkepal lagi. Dengan usaha keras ia membuka kepalannya. Tiba-tiba tangannya dalam posisi bertarung lagi. Saat ini ia amat sangat ingin meninju laki-laki itu. Dan ia semakin marah karena tidak dapat melakukannya.
"Akal sehat?" teriak Baekhyun, melangkah mendekat. "Kau ingin aku pakai akal sehat? Kaulah yang mengagetkanku setengah mati dan mematikan mesinku."
"Aku sedang mencoba tidur," kata Chanyeol. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan jeda yang jelas di setiap kata. "Apakah terlalu berlebihan memintamu agak bertenggang rasa?"
Baekhyun terngaga mendengarnya. "Kau bertingkah seolah aku memotong rumput di pagi buta. Sekarang hampir jam sepuluh! Dan bukan aku satu-satunya yang sedang melakukan tindakan pidana berat memotong rumput. Dengarkan," katanya.
Sementara itu terdengar raungan mesin-mesin pemotong rumput di lingkungan itu menderum-derum di sepanjang jalan. Chanyeol mengernyit marah pada Baekhyun. "Tapi mereka tidak berada tepat di luar jendela kamarku!" katanya.
"Makanya, tidurlah pada jam-jam yang normal. Bukan salahku kau begadang sepanjang malam!" kata Baekhyun sengit.
Wajah tampan Chanyeol menjadi semerah wajah Baekhyun. "Aku sedang dalam satuan tugas! Jam-jam yang tidak teratur adalah bagian pekerjaanku. Aku tidur ketika bisa, yang sejak kau pindah ke sini jadi jarang!"
Baekhyun melemparkan kedua tangannya dengan kesal. "Baiklah! Baik! Akan kuselesaikan pekerjaan ini nanti malam, kalau sudah dingin," katanya akhirnya mengalah. "Kembalilah tidur. Aku akan masuk rumah dan duduk selama sebelas jam. Ataukah itu juga mengganggu istirahat indahmu?" tanyanya dengan manis.
"Tidak, kecuali ada petasan di pantatmu," sahut Chanyeol ketus, dan ia masuk kembali ke rumahnya.
Baekhyun menggeram kesal dan berpikir, mungkin ada peraturan yang melarang melempari rumah seseorang dengan batu. Sambil menggerutu, Baekhyun mendorong mesin pemotong rumputnya kembali ke dalam garasi. Dengan hati-hati ia menggembok pintu-pintu garasi, lalu mengambil kembali mobilnya dari pinggir jalan. Ia ingin menunjukkan pada laki-laki pemarah itu apa yang dapat dilakukannya dengan beberapa petasan, dan Baekhyun yakin ia takkan mendudukinya.
Baekhyun melangkah masuk ke dalam rumah dan memelototi BooBoo yang tidak mempedulikannya sementara asyik menjilati kaki-kakinya. "Satuan tugas," gerutunya. "Aku bukannya tidak pakai akal sehat. Yang harus dilakukannya hanyalah menjelaskan dengan suara tenang, dan aku akan dengan senang hati berhenti memotong rumput sampai nanti. Tapi tidak, dia lebih suka bertingkah seperti bajingan."
BooBoo berhenti menjilati kaki-kakinya dan memandang Baekhyun. "Bajingan bukan makian," kata Baekhyun membela diri. "Selain itu, ini bukan salahku. Kuberitahu rahasia tentang kita, BooBoo: Dia bukan Mr. Perfect!"
Tbc
