*haii, thanks again sudah membaca dan menyukai ff ini, juga untuk komennya. ff ini memang memiliki alur yang lambat, so be patient, please
*untuk komen dari Kitsune: ini dari novel berjudul "Mr. Perfect" karya Linda Howard dan "Close Enough To Kill" karya Beverly Barton, aku menggabungkan dua novel itu menjadi satu cerita. dua novel itu seru banget dan recomended buat dibaca ^^
*sedikit lebih panjang untuk chapter ini, still mind to read and give your comment or like?
.
.
.
Part 3
Pria itu memarkir mobilnya di pinggir jalan. Jalan yang dikenalnya dengan baik. Pada waktu seperti ini, kemungkinan ada kendaraan yang datang dan mengganggunya sangatlah kecil. Tetapi untuk berjaga-jaga, pria itu mengeluarkan dongkrak dan pelek ban lalu menempatkannya di samping roda belakang. Kemudian ia mengamati jalan dan kedua sisinya. Ladang terhampar sejauh mata memandang. Pria itu mengeluarkan terpal plastik dari bagian belakang kendaraan, mengangkatnya dengan lembut menggunakan tangan, dan berjalan ke arah jalanan tua menuju ladang. Saat pria itu tiba di pertengahan jalan, cukup jauh dari jalan utama agar tidak terlihat tetapi cukup dekat bagi barang hantarannya untuk ditemukan dengan mudah keesokan harinya atau minggu depan. Ia menggelindingkan isi terpal ke tengah-tengah jalur bekas roda.
Wanita itu tergeletak di jalan dengan posisi yang tidak sopan. Tubuh wanita itu tak bernyawa dan pucat. Matanya yang gelap terbuka lebar dan menatap ke arah pria itu. Setelah melemparkan terpal ke samping, pria itu berlutut, dan mengatur tubuh wanita itu sehingga satu tangan menutupi kemaluan dan tangan yang lain menyilang di dada. Kini wanita itu terbaring dengan sopan, namun keindahan tubuh moleknya tidak tersembunyi. Pria itu mengangkat rambut cokelat panjangnya dan membentangkannya di sepanjang kedua bahunya. Rambut cokelat panjang itu sangat lembut, rasanya seperti sutra di tangan pria itu.
"Kau ingin bebas 'kan, cantik? Kau sendiri yang mengatakannya padaku," kata pria itu.
Ia berdiri di atas kakinya, lalu memberi tatapan terakhir ke arah kekasih lamanya. Satu-satunya hal yang mengotori kecantikan yang gelap dan menimbulkan nafsu dari wanita itu adalah irisan di sepanjang leher, ditambah dengan darah yang mengering pada tubuhnya.
"Kau bebas sekarang, cantik. Begitu juga aku. Bebas untuk mencintai kembali," kata pria itu, masih menatap ke arah kekasih lamanya yang kini tak bernyawa. Ia menyeringai.
Pria itu berharap hubungannya dengan Victoria bisa berhasil, untuk kebaikannya dan juga wanita ini. Ia pernah merasa yakin bahwa wanita inilah satu-satunya yang bisa ia cintai, sebesar Victoria mencintainya. Tetapi pada akhirnya, ia menyadari bahwa tidak ada pilihan lain kecuali mengakhiri semuanya dan meneruskan pencariannya. Di luar sana, di suatu tempat, ada seseorang yang hanya tercipta untuknya. Seseorang yang dapat menghapus ingatan yang menyakitkan. Seseorang yang tidak akan mengecewakannya. Seseorang yang pantas menerima cintanya.
Setelah mengambil terpal dan melipatnya menjadi kotak 50x50 cm, pria itu berjalan kembali ke arah mobilnya yang diparkir. Di kejauhan ia mendengar suara gemuruh guntur. Ia memandang ke arah langit barat dan menyadari bahwa langit tengah gelap. Pasti akan segera turun hujan, pikir pria itu.
Saat ia kembali ke jalan aspal, pria itu mengamati ke empat penjuru dengan cepat. Setelah yakin tidak melihat dan mendengar adanya tanda-tandaa orang mendekat, ia membuka bagian belakang mobilnya, melempar terpal ke dalam lalu memasukkan kembali dongkrak dan pelek bannya. Setelah menempatkan semua ke tempatnya, ia membuka pintu penumpang dan bergeser ke balik kemudi. Ia menyalakan mesin mobil dan meraih catatan yang tergeletak di kursi penumpang. Sebuah surat cinta untuk kekasih barunya. Sembari menarik napas dalam-dalam, ia menutup matanya membayangkan pemuda itu. Muda, manis dan polos. Rambut yang di cat cokelat. Mata hitam yang besar. Mungkin pemuda itulah yang dicarinya. Mungkin kali ini ia tidak akan kecewa. Mungkin pemuda itu tidak akan menyakitinya seperti kekasih-kekasihnya sebelumnya. Mungkin pemuda itu tidak akan berbohong, seperti para wanita yang sering sekali berbohong.
"Ah, Do Kyungsoo-ku yang manis," kata pria itu membuka matanya sembari tersenyum.
Pria itu menyukai pengejarannya ini, hari-hari memabukkan untuk mengenal satu sama lain, saat-saat romantis dimana semua dan segalanya mungkin terjadi. Ia akan meninggalkan catatan yang dibuatnya untuk pemuda itu besok. Lalu ia akan menunggu. Tetapi tidak lama. Ia sudah tidak sabar untuk memulai hubungan cinta mereka. Pria itu tersenyum menyeringai.
*ChanBaek*
Sejak awal Chanyeol sudah menduga bahwa kasus ini tidak akan terselesaikan dengan mudah, mungkin tidak dalam waktu mingguan ataupun bulanan. Mungkin juga selamanya tidak akan terselesaikan. Chanyeol sedang menatap layar monitor komputernya, mencoba mencari setitik terang untuk kasus yang saat ini membuatnya jarang tidur. Sementara sang patner, Kim Jongin yang lebih senang dipanggil dengan nama Kai, duduk di seberang mejanya, membaca berkas-berkas dan informasi yang mereka miliki. Mereka berdiskusi tentang seorang wanita bernama Victoria yang telah menghilang selama hampir dua minggu. Victoria diculik saat malam hari, dan yang ditemukan hanya mobilnya yang ditinggalkan di pinggir jalan yang sepi. Chanyeol dan Kai yakin bahwa wanita cantik itu diculik oleh seseorang yang cukup gila, dan mungkin saja Victoria mengenali si penculik karena tidak ditemukan adanya tanda-tanda perlawanan.
Diskusi mereka terhenti ketika tiba-tiba ponsel Kai berbunyi. Deringnya keras dan jelas, bukan alunan nada yang mudah diingat. Kai mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau pada layar ponsel pintarnya untuk menjawab telepon itu.
Chanyeol mengangkat kepalanya dan memandang Kai. Ia mempelajari raut wajah patner kerjanya itu dan menduga sesuatu yang buruk, sangat buruk, sebelum Kai berkata, "Terkutuk! Siapa yang menemukan wanita itu? Aku tahu. Ya, kami akan segera ke sana secepatnya. Jangan biarkan siapa pun menyentuh apapun dan jauhkan mereka dari tempat kejadian perkara sebisa mungkin."
Setelah Kai selesai bicara dan memutuskan teleponnya Chanyeol bertanya, "Ada apa?"
"Seorang petani menemukan jasad seorang wanita tergeletak di tengah-tengah jalan tanah yang mengarah ke salah satu ladang kedelainya," jawab Kai. "Itu tadi Lay hyung. Dia dalam perjalanan ke TKP sekarang."
"Ada ide siapa..." Chanyeol belum menyelesaikan kalimatnya saat Kai memotongnya dengan cepat.
"Petani itu mengatakan pada Lay hyung bahwa dia cukup yakin wanita itu adalah Victoria. Dia mengatakan jasad itu mirip dengan wanita yang ada di surat kabar dan televisi yang telah hilang selama beberapa minggu."
*ChanBaek*
Saat Chanyeol dan Kai tiba di TKP, kerumunan kecil orang sudah terbentuk di sepanjang sisi jalan dan jalur kendaraan menuju kedelai milik si petani. Beberapa polisi sudah tiba lebih dulu dari mereka dan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga penonton tetap di pinggir. Chanyeol memarkir Pontiac-nya di dekat garis kuning yang membatasi TKP, membuka pintu pengemudi, lalu meloncat keluar bersama Kai. Chanyeol memberi para penonton tatapan tajam dan memerintahkan mereka semua untuk menjauh. Kai bertemu Lay yang berjalan menghampirinya dan berbicara sejenak dengannya. Setelah bicara dengan Lay, Kai menoleh pada Chanyeol yang sedang meneliti TKP. Ia melambaikan tangannya pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk, lalu segera bergabung dengan yang lain di tepi garis kuning.
"Itu jasad Victoria," kata Kai. "Lay hyung sudah menelepon Chen hyung, petugas koroner kita yang seharusnya tiba di sini sebentar lagi. Chen hyung akan memberikan informasi dasar kepada kita, tetapi tampaknya sudah jelas bahwa leher Victoria disayat."
Chanyeol melangkahi garis pembatas dan bergerak mendekati jasad Victoria dan berhenti pada jarak 1,5 m. Victoria masih muda, cantik, berambut cokelat, berdada penuh dan bertubuh langsing. Karena tidak ada tanda-tanda perlawanan yang nyata dan darah di tanah dekat korban, Chanyeol menduga bahwa Victoria dibunuh di tempat lain dan di bawa ke sana. Dan jelas sekali, bahkan untuk mata yang tidak terlatih sekalipun, bahwa tubuh Victoria diatur dalam posisi yang menggoda. Satu tangan menutupi dada dan tangan yang lain menutupi kemaluan, seolah-olah meskipun ingin memamerkan tubuh yang molek, si pembunuh juga ingin menyajikan jasad Victoria dengan sedikit kesopanan. Cara si pembunuh mengatur lengan dan rambut panjang cokelat Victoria mengatakan bahwa dalam cara cabul dan gilanya sendiri, si pembunuh sangat perhatian pada korbannya. Tepat ketika Chanyeol memperhatikan beberapa tanda-tanda pada kulit Victoria yang "hampir" sempurna, Kai berjalan ke sampingnya.
"Lihat bekas-bekas di tubuh Victoria," kata Chanyeol menunjuk tanda-tanda itu satu-persatu. "Menurutmu itu bekas luka apa?"
"Aku tidak yakin. Beberapa terlihat seperti luka bakar kecil, seakan-akan..." Kai menelan ludah. "Terlihat seperti sundutan rokok. Dan yang lain terlihat seperti bekas gigitan."
"Menurutku mayatnya diletakan di sini belum lama, mungkin beberapa jam yang lalu, jadi kecil kemungkinannya hewan liar yang menyebabkan bekas-bekas gigitan itu. Jika ya, maka seharusnya ada luka yang lebih dalam, beberapa koyakan, dan sedikit daging yang hilang."
"Itu bekas gigitan manusia, kan?"
"Itu tebakanku. Seseorang menyiksa Victoria."
"Karena wanita itu telanjang, kau pikir itu berarti pembunuh itu memperkosanya?"
"Mungkin, tetapi mungkin juga tidak. Hasil autopsi akan memberitahukan pada kita semua tentang apa yang dialami Victoria selama dua minggu setelah dia dinyatakan hilang."
Chanyeol dan Kai menoleh saat Lay berjalan ke arah mereka. "Chen sudah datang," kata Lay memberitahu.
Chanyeol dan Kai menoleh, melihat seorang laki-laki bertubuh pendek berjalan santai ke arah mereka. Kai berjalan menjauhi Chanyeol dan mendekati Chen. Mereka berbicara sejenak. Sementara itu Chanyeol hanya memperhatikannya.
"Wanita yang malang," komentar Lay yang sedang memperhatikan jasad Victoria.
Chanyeol menoleh dan hanya bergumam. "Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil autopsi dari DFS?" tanyanya.
Lay berpikir sesaat. "Waktu perkiraan? Satu minggu hingga sebulan. Dan untuk bukti DNA bisa memakan waktu hingga enam bulan atau bahkan lebih. Skenario terburuk...hingga setahun," jawabnya.
"Aku mengkhawatirkan itu," Chanyeol menghela napas.
Kai dan Chen berjalan mendekat. Chen tersenyum, menyapa ramah Chanyeol dan Lay. "Setelah kau melihat mayat Victoria, aku ingin tahu apa yang kau pikirkan, Chen," kata Chanyeol pada Chen.
Chen menaikkan satu alis, lalu mengangguk sebelum berjalan ke arah jasad wanita cantik yang tergeletak tanpa busana di tengah-tengah ladang kedelai. Chanyeol dan Kai berjalan menjauh, dan membiarkan Chen bekerja. Saat mereka berjalan menuju Pontiac milik Chanyeol, Kai bertanya,
"Hyung, apa menurutmu pria itu akan melakukan kejahatannya lagi?"
Chanyeol mengangguk. "Ya. Ini bukan kasus pertama dari jenis ini yang kau ketahui, kan?" jawabnya. "Sebelum Victoria, kasus seperti ini juga pernah terjadi. Ini pembunuhan berantai."
"Ya Tuhan," Kai menunduk cemas. "Jangan ulangi kata-kata itu diluar garis batas kita, hyung. Jika ungkapan pembunuhan berantai menjadi bahan pembicaraan, akan muncul kepanikan masal."
Chanyeol terdiam sesaat. "Ya, itu benar. Tapi aku yakin si pembunuh itu akan melakukan perbuatannya lagi. Tapi masalahnya, kita tidak tahu siapa target selanjutnya," ujarnya.
Kai hanya diam, mendesah bingung. Mereka naik ke mobil Pontiac milik Chanyeol, dan Chanyeol menjalankan mobilnya pergi. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor polisi, tidak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
*ChanBaek*
Baekhyun berusaha melewatkan akhir pekan itu tanpa bertengkar lagi dengan tetangganya yang menyebalkan. Dan pada hari senin ia datang ke kantor lima belas menit lebih awal untuk menebus keterlambatannya di hari jumat, meskipun ia sudah lembur pada hari jumat untuk itu. Baekhyun mencoba untuk sabar sepanjang hari itu. Sabar menghadapi badut-badut kantor yang mencoba pamer kepintarannya, dan sabar menghadapi orang-orang konyol manapun. Jam dua belas siang Baekhyun dan ketiga sahabatnya memilih untuk makan siang di Kafka Cafe. Kafka Cafe berada sekitar delapan ratus meter dari kantor mereka. Tempat itu terkenal penuh dengan karyawan, mempunyai booth dan meja sekitar setengah lusin. Heechul memilih booth belakang, di sana ia dan teman-temannya akan lebih leluasa, dan terutama karena di sana ia bisa bebas merokok.
Tao duduk di sebelah Baekhyun, Heechul dan Kyungsoo duduk di seberang mereka. Heechul mengeluarkan rokoknya yang ketiga hari ini dan Tao mulai bercerita lagi tentang hubungannya dengan Kris yang putus-sambung, tanpa komitmen. Kris a.k.a Wu Yifan adalah seorang pemain bola asal Cina yang bermain sebagai penyerang belakang di tim Nasional Korea Selatan. Tao jatuh cinta setengah mati pada Kris, namun laki-laki tampan bertubuh tinggi itu terkenal playboy, sering berkencan dengan perempuan atau laki-laki uke lain di setiap kota tempat tim-nya berada. Mata kelam Tao yang mirip dengan panda itu terlalu sering tampak tidak bahagia setiap bercerita tentang Kris. Meski begitu Tao tidak mau memutuskan hubungannya dengan Kris. Baekhyun, Kyungsoo dan Heechul mendengarkannya dengan penuh perhatian.
"Lalu, apa kalian akan terus seperti ini? Kau akan membiarkan Kris terus berulah seperti itu?" tanya Baekhyun ketika Tao telah selesai bercerita.
"Aku tidak tahu. Kami tidak berpacaran. Kami hanya berkencan. Kami hanya berteman. Aku tidak punya hak untuk mengeluh," jawab Tao. Jemarinya bermain dengan resah. Ia hampir menangis.
"Memang, tapi kau bisa melindungi dirimu sendiri dan berhenti berhubungan dengannya," kata Kyungsoo lembut.
Tao menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi saat kami bersama, dia...dia terlihat seolah benar-benar penuh perhatian. Dia baik, dan sangat sayang, dan sangat penuh perhatian—" katanya.
Heechul mendengus dan memotong perkataan Tao. "Kau tahu bagaimana tipe seperti Kris itu, kan? Playboy. Semua playboy memang seperti itu, sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan," ia menghisap batang rokoknya sejenak dan menghembuskan asap kelabunya ke udara. Kemudian melanjutkan dengan nada skeptis, "Itu obrolan pengalaman pribadi. Bersenang-senanglah dengannya, tapi jangan harap dia berubah."
Tao hanya diam, memandang Heechul dengan resah.
"Memang kenyataannya seperti itu," kata Kyungsoo dengan murung. "Mereka para playboy tidak pernah berubah. Mereka mungkin bersandiwara sebentar, tapi begitu mereka merasa dibatasi dan terikat, mereka berubah santai dan Mr. Hyde menunjukkan wajahnya yang berbulu lagi."
Baekhyun tertawa. "Seperti itulah yang akan kukatakan," katanya.
"Hanya saja tanpa umpatan," sahut Heechul, terkekeh.
Kyungsoo melambaikan tangannya memberi isyarat untuk menyela gurauan itu. Tao nampak lebih menderita daripada sebelumnya. "Jadi jika aku tidak tahan menjadi salah satu piaraannya, sebaiknya aku berhenti berhubungan dengannya?" tanya Tao.
"Yah...ya," jawab ketiga sahabatnya kompak.
"Tapi seharusnya tidak begitu caranya!" kata Tao. Suaranya terdengar semakin gusar dan marah. "Jika dia menyayangiku, bagaimana mungkin dia tertarik pada semua perempuan dan laki-laki uke lain itu?"
"Itu mudah," jawab Baekhyun. "Ular bermata satu tidak punya selera."
"Tao," kata Heechul, berusaha terdengar semanis mungkin dengan suara serak khas perokoknya. "Kalau kau mencari kekasih pria sempurna, kau akan menyia-nyiakan sepanjang hidupmu dengan kekecewaan, karena pria seperti itu tidak ada. Kau harus berkompromi sebaik mungkin, tapi akan selalu ada masalah."
Tao terdiam sesaat. "Aku tahu Kris gege tidak sempurna, tapi..." katanya.
"Tapi kau ingin dia sempurna, begitu 'kan?" Kyungsoo menyelesaikan ucapan Tao yang terhenti.
Tao mengangguk pelan. Tapi Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala tidak setuju. "Tidak akan pernah terjadi. Pria sempurna hanya ada dalam kisah fiksi ilmiah," katanya dengan serius. Kemudian menambahkan, "Maksudku, hanya saja sebagai seorang gay maupun biseksual yang mencari kekasih pria sempurna itu...menurutku tidak akan pernah pernah terjadi."
Baekhyun berhenti, lalu kembali berkata dengan jenaka, "Tapi aku tidak keberatan punya budak seks."
Ketiga sahabatnya meledak tertawa, termasuk Tao. Tapi Baekhyun sungguh serius dengan hal itu. Pria sempurna itu tidak pernah ada. Dan kalaupun pria sempurna benar-benar ada, tetangganya yang menyebalkan itu pasti tidak masuk dalam daftar. Baekhyun sedikit merengut. Mengingat si Park muda itu membuat suasana hatinya menjadi buruk.
*ChanBaek*
Suasana Baekhyun mulai membaik saat ia pulang dari kantor. Tapi suasana hatinya yang membaik itu berakhir begitu ia sampai di rumah dan mendapati BooBoo, yang berusaha menunjukkan betapa ia marah harus tinggal di rumah yang asing, telah mencabik-cabik salah satu bantal sofanya. Bulu-bulu isi bantal bertebaran di seluruh ruang tamu. Baekhyun menarik napasnya, memejamkan matanya dan menghitung sampai sepuluh, lalu sampai dua puluh. Ia berusaha meredam amarahnya. Tidak ada gunanya marah-marah pada kucing. Mungkin BooBoo tidak akan mengerti, dan tidak akan peduli kalaupun dia mengerti. Dia hanyalah korban keadaan.
Kucing itu mendesis ketika Baekhyun mengulurkan tangan padanya. Biasanya Baekhyun selalu meninggalkan kucing gembul itu sendirian jika ia berulah, tetapi rasa kasihan saat itu membuatnya mengangkat BooBoo dan membenamkan jemarinya ke bulunya yang lembut, memijat-mijat punggungnya.
"Kucing malang," gumam Baekhyun.
Mula-mula BooBoo menggeram, lalu segera berganti dengan mendengkur yang menandakan bahwa ia menikmati pijatan Baekhyun pada punggungnya. "Bertahanlah selama empat minggu lima hari. Itu sama dengan 33 hari. Kau bisa berpura-pura baik denganku selama itu, kan?" kata Baekhyun.
BooBoo terlihat seolah tidak setuju, tetapi dia tidak peduli selama Baekhyun terus memijat-mijat punggungnya. Baekhyun membawanya ke dapur dan memberikannya makanan. Lalu ia meletakkannya di lantai dengan boneka bulu tikus-tikusan untuk mainannya. Kucing itu mulai melahap makanannya. Baekhyun memperhatikannya sambil berpikir, kucing itu mengotori rumahnya. Tapi ia sanggup menanggulanginya. Meskipun ia merasa sedikit tidak nyaman.
"Wah, aku kagum dengan kesabaranku sendiri," kata Baekhyun tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Baekhyun mengambil segelas air. Dan ketika ia berdiri di depan bak cuci piring, ia melihat tetangganya pulang. Saat melihat Pontiac cokelat itu Baekhyun dapat merasakan kesabarannya mulai menyurut. Tetapi mobil itu tidak berisik, jelas sekali kalau si Park muda itu telah mengganti saringan knalpotnya. Baekhyun berpikir, kalau tetangganya bisa berusaha, ia juga bisa. Maka ia menutup saluran kemarahan dalam benaknya.
Baekhyun memandang keluar jendela ketika Chanyeol keluar dari mobil dan membuka kunci pintu dapurnya, yang menghadap ke arah Baekhyun. Pria itu memakai pantalon dan kemeja putih, dengan dasi tergantung longgar di lehernya dan jas tersampir di pundaknya. Chanyeol tampak lelah, dan saat ia berbalik masuk rumah, Baekhyun melihat pistol hitam yang bersar itu tersarung di ikat pinggangnya. Inilah pertama kalinya Baekhyun melihat Chanyeol tidak mengenakan pakaian kotor dan lusuh seperti biasanya. Pria itu justru terlihat semakin tampan.
Baekhyun merasa agak bingung, seolah dunia telah bergeser dari sumbunya. Mengetahui bahwa Chanyeol adalah polisi dan melihatnya sebagai polisi adalah dua hal yang berbeda. Kenyataan bahwa pria itu mengenakan pakaian biasa dan bukan seragam, itu artinya ia bukan petugas patroli, tetapi paling tidak setingkat detektif.
Bagi Baekhyun laki-laki itu masih tetap brengsek, tapi orang brengsek dengan tanggung jawab yang berat. Baekhyun pikir, mungkin ia bisa lebih memahaminya dan berusaha untuk tidak mengganggu tidur laki-laki itu. Tapi itu bukan berarti Baekhyun tidak akan melabrak laki-laki berkulit badak itu kapan saja ia mengganggunya. Baekhyun pikir itu adil. Ia akan berusaha menjaga hubungan baik dengan tetangganya. Bagaimanapun, mungkin mereka akan bertetangga selama bertahun-tahun.
"Ya Tuhan, pikiran itu membuatku tertekan," kata Baekhyun menggelengkan kepalanya.
Baekhyun memandang arloji di tangannya dan kembali berpikir, kebaikan dan kemurahan hatinya kepada semua sudah berlangsung selama...oh, beberapa jam.
*ChanBaek*
Pukul setengah delapan malam Baekhyun duduk di sofanya yang nyaman untuk menonton televisi. Secangkir teh hijau yang mengepul di atas meja menemani ketenangan Baekhyun. Namun ketenangan itu buyar saat tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang keras. Baekhyun terlonjak dari sofanya. Ia mengenakan sandalnya sambil berlari ke pintu depan. Pintu-pintu rumah di sepanjang jalan itu terbuka dan kepala-kepala yang penasaran menyembul keluar seperti kura-kura yang mengintip dari tempurungnya. Lima rumah dari rumah Baekhyun, diterangi cahaya lampu di tikungan, nampak onggokan logam.
Baekhyun berlari ke jalan. Jantungnya berdegup kencang, perutnya terasa tegang sementara ia memberanikan diri melihat apapun yang mungkin akan dilihatnya dan mencoba mengingat-ingat langkah-langkah pertolongan pertama pada kecelakaan. Orang-orang berhamburan keluar dari rumah mereka sekarang. Terdengar suara gaduh di sana-sini, suara anak-anak yang ingin tahu, para ibu yang berusaha mencegah anak-anaknya keluar rumah, dan para ayah yang berkata,
"Mundur, mundur, mungkin meledak."
Baekhyun sudah pernah menyaksikan banyak tabrakan mobil. Ia tahu tidak mungkin ada ledakan, tetapi selalu mungkin terjadi kebakaran. Tepat sebelum ia sampai di tempat mobil itu berada, pintu pengemudi terdorong membuka dan seorang pemuda berandalan muncul dari balik kemudi.
"Bangsat!" teriak pemuda itu, memandangi ujung depan mobilnya yang penyok. Mobilnya telah menabrak salah satu mobil yang diparkir di sepanjang tepi jalan.
Seorang wanita muda pemilik mobil yang ditabrak itu berlari dari rumahnya. Matanya terbelalak kaget melihat kondisi mobilnya yang ditabrak. "Astaga, mobilku!" ujarnya histeris.
Pemuda berandalan itu mengitari si wanita dan memarahinya, menyalahinya karena telah memarkir mobilnya di jalanan. Seolah semua adalah kesalahan si wanita. Pemuda berandalan itu sedang mabuk. Baekhyun dapat mencium bau napasnya, dan ia melangkah mundur. Ia dapat mendengar keprihatinan bersama para tetangganya di sekelilingnya berubah menjadi kegeraman.
"Panggilkan Park muda," terdengar gumam seorang laki-laki tua.
"Akan kupanggilkan," nyonya Kim Hyerin berjalan secepat mungkin menuju rumah Chanyeol.
Baekhyun memandang semua orang. Semua orang lainnya yang tinggal di jalan ini keluar dari rumah mereka dan berada di sini. Tapi diantara semua orang-orang itu tidak nampak sosok tinggi si Park muda. Ya, dimana dia?, pikir Baekhyun heran.
Wanita pemilik mobil yang ditabrak itu menangis. Sambil membekap mulutnya sendiri, ia memandangi mobilnya yang rusak. Di belakangnya, dua anak berumur sekitar lima dan tujuh tahun berdiri dengan gelisah di pinggir jalan.
"Dasar jalang," gerutu si pemabuk seraya berjalan mendekati si wanita.
"Hei, jaga bicaramu!" seru salah satu pria tua.
"Bangsat kau kakek tua," kata si pemabuk tidak peduli.
Pemuda mabuk itu mengulurkan tangannya dan mencengkram bahu si wanita, lalu memutar badannya. Baekhyun melangkah maju. Amarahnya sudah menyesakkan dadanya. "Hei, lepaskan dia," tegurnya keras.
Sebuah suara tua terdengar gemetar mengucapkan 'ya' di belakang Baekhyun. Si pemuda mabuk itu menoleh pada Baekhyun dan semakin marah. "Jalang bodoh ini telah membuat mobilku penyok," katanya.
"Kau sendiri penyebabnya. Kau mabuk dan menabrak mobilnya," kata Baekhyun dengan tegas dan tanpa takut.
Baekhyun tahu usahanya sia-sia. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang mabuk. Masalahnya, orang itu sudah cukup mabuk untuk bertindak agresif tapi belum cukup mabuk sehingga jalannya belum sempoyongan. Pemuda mabuk itu mendorong si wanita muda hingga terhuyung-huyung ke belakang. Si wanita muda terjatuh. Ia menjerit, dan anak-anaknya ikut menjerit dan mulai menangis.
Baekhyun menyerang pemuda itu, mendorong dengan badannya. Akibatnya pemuda mabuk itu terhuyung-huyung. Pemuda mabuk itu berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya, tapi akhirnya jatuh terduduk. Ia meloncat berdiri dan menyergap Baekhyun sambil memaki-maki. Baekhyun mengelak ke samping dan menendangnya. Si pemuda mabuk sempoyongan, tapi kali ini ia berhasil tetap berdiri. Sambil berbalik ia menunduk, dagunya menempel ke dadanya dan matanya berkilat-kilat marah.
"Oh, sialan. Aku justru membangunkan macan tidur," gumam Baekhyun tersadar.
Baekhyun otomatis dalam posisi bersiaga, mengingat-ingat jurus hapkido yang dulu pernah dipelajarinya. Ia juga sudah terbiasa berkelahi dengan kakaknya, Siwon, bertahun-tahun lalu. Setidaknya, dengan dua hal itu membuat Baekhyun percaya diri untuk melawan si pemabuk yang nampak sangat marah itu. Ia mendengar suara-suara marah dan khawatir di sekitarnya, namun anehnya terdengar jauh sementara ia berkonsentrasi tetap siaga.
"Cepat telepon 911."
"Hyerin-ssi sedang memanggil Park muda. Dia yang akan mengatasinya."
"Aku telah menghubungi 911," itu suara seorang gadis kecil.
Si pemabuk kembali menyerang, dan kali ini Baekhyun tidak mengelak. Baekhyun melangkah mundur di bawah serangan gencar si pemabuk, menendang dan meninju serta sekaligus berusaha menghalangi semua pukulan pemuda itu. Salah satu tinju pemuda itu bersarang di tulang rusuknya, cukup keras hingga ia tertegun. Para tetangga segera mengerubungi mereka. Beberapa laki-laki muda berusaha meringkus si pemabuk, sedangkan yang tua membantu menendangi si pemabuk dengan kaki beralaskan sandal tidur. Baekhyun dan si pemabuk berguling-guling, dan beberapa laki-laki tua ikut tersapu, jatuh saling tindih.
Kepala Baekhyun terantuk ke tanah, dan tulang pipinya terkena pukulan yang meleset. Satu lengannya tertindih tetangga yang jatuh, tapi dengan satu tangannya yang bebas ia berusaha meraih daging di pinggang pemuda mabuk itu dan memelintirnya, mencubitnya sekuat mungkin. Pemabuk itu menjerit seperti kerbau yang terluka. Lalu tiba-tiba ia lenyap, terangkat seakan bobot tubuhnya tidak lebih berat daripada bantal. Dengan tercengang Baekhyun melihat pemabuk itu terbanting ke tanah di sampingnya, wajahnya mencium tanah, sementara kedua lengannya tertelikung ke punggung dan pergelangan tangannya terborgol.
Baekhyun berusaha bangun ke posisi duduk dan hampir beradu muka dengan tetangganya yang menjengkelkan itu. "Sialan, seharusnya aku sudah tahu kaulah orangnya," geram Chanyeol. "Sebaiknya kalian berdua kutahan dengan tuduhan mabuk dan melanggar peraturan."
"Aku tidak mabuk!" bantah Baekhyun marah.
"Bukan. Dia yang mabuk, dan kau melanggar peraturan!" kata Chanyeol seraya menunjuk si pemabuk dan Baekhyun bergantian dengan matanya.
Tuduhan yang tidak adil itu memicu kemarahan Baekhyun. Untunglah, kata-kata yang mungkin bisa membuatnya di tahan menyangkut di tenggorokannya. Para istri yang cemas di sekitarnya sedang membantu suami mereka yang gemetaran bangkit berdiri, dengan ribut memeriksa adakah luka-luka lecet atau tulang-tulang patah. Tapi kelihatannya tidak ada yang terluka parah. Baekhyun berharap setidaknya perkelahian itu membuat jantung mereka berdegup lebih lama lagi beberapa tahun.
Beberapa wanita berkerumun mengerubungi wanita muda yang telah terdorong jatuh tadi, berdecak-decak dan ribut menanyainya. Belakang kepala wanita itu berdarah, dan anak-anaknya masih menangis. Beberapa anak lainnya mulai menangis juga, entah merasa bersimpati, atau barangkali merasa ditinggalkan para ibunya. Terdengar bunyi sirene dari kejauhan, lalu semakin mendekat.
Chanyeol melihat ke sekililingnya dengan tidak percaya, sambil menunduk dan tetap mencekal si pemabuk tahanannya dengan satu tangannya. "Ya ampun," gerutunya, sambil menggeleng-geleng.
Perempuan tua dari seberang jalan, dengan gulungan-gulungan rambut di kepalanya yang kelabu membungkuk ke arah Baekhyun. "Kau tidak apa-apa, sayang? Itu tindakan paling berani yang pernah kulihat! Seharusnya kau tadi di sini, Park muda. Saat...saat bajingan itu mendorong Yoona sampai jatuh, pemuda cantik ini meninjunya hingga dia terjengkang. Siapa namamu, sayang?" tanyanya, berpaling ke Baekhyun lagi. "Aku Lee Suyoung, rumahku di seberang rumahmu."
"Byun Baekhyun," meski kurang suka disebut dengan kata cantik, namun Baekhyun tetap menyahut dengan ramah. Kemudian ia memelototi tetangganya. "Ya, Park muda, seharusnya kau di sini tadi."
"Aku sedang mandi," kata Chanyeol, menghentikan langkahnya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Baekhyun.
"Aku baik-baik saja," kata Baekhyun berusaha bangkit berdiri.
Sebenarnya Baekhyun sendiri tidak tahu apakah ia baik-baik saja atau tidak, tetapi tampaknya tidak ada tulang yang patah dan ia tidak pusing. Jadi mungkin tidak ada cedera berat. Chanyeol mengamati kaki Baekhyun yang tanpa alas.
"Lututmu berdarah," kata Chanyeol memberitahu.
Baekhyun menunduk dan melihat saku celana pendeknya robek. Darah menetes ke tulang keringnya dari luka pada lutut kanannya. Ditariknya saku yang robek itu hingga terlepas dan ditekannya kain itu pada lututnya.
"Hanya luka gores," katanya.
Dua mobil patroli polisi, satu mobil unit medis dan satu pemadam kebakaran datang dengan lampu-lampu terangnya. Para polisi berseragam mulai menerobos kerumunan, dan orang-orang itu menunjukkan dimana si korban berada. Setengah jam kemudian semuanya selesai. Mobil derek seudah menyingkirkan kedua mobil rusak itu, dan para polisi sudah menyingkirkan si pemabuk. Wanita muda yang cedera itu, bersama kedua anaknya, sudah dibawa ke bagian gawat darurat untuk dijahit luka di kepalanya. Luka-luka ringan sudah dibersihkan dan diperban, dan para kesatria lanjut usia itu bergandengan pulang.
Baekhyun menunggu sampai para petugas medis itu pergi, lalu mengambil segumpal kapas dan menempelkannya ke lututnya. Sekarang setelah semuanya selesai, ia merasa lelah. Satu-satunya yang diinginkannya adalah mandi air panas, kue chocolate chip, dan tidur. Ia menguap sambil mulai melangkah dengan susah payah kembali ke rumahnya. Chanyeol si brengsek berjalan mengikuti di sampingnya. Baekhyun melirik laki-laki bertubuh tinggi itu sekilas, lalu tatapannya kembali lurus ke depan. Ia tidak suka melihat ekspresi Chanyeol atau tubuh tingginya yang seakan menjulang di atasnya seperti awan mendung.
"Apa kau selalu nekat ikut campur dalam situasi berbahaya?" tanya Chanyeol dengan nada percakapan.
Baekhyun berpikir sesaat. "Ya," sahutnya kemudian.
"Pantas," cibir Chanyeol.
Baekhyun berhenti di tengah jalan dan berbalik menghadap Chanyeol sambil berkacak pinggang. "Lalu, apa yang harus kulakukan? Berdiri menonton saja, sementara wanita itu dipukuli sampai babak belur? Tidak ada yang membekuknya, jadi aku tidak bisa menunggu," katanya dengan kesal.
Sebuah mobil berbelok di tikungan, menuju ke arah mereka. Chanyeol memegang lengan Baekhyun, menariknya ke tepi jalan. Lalu mengamati Baekhyun dari kepala hingga kaki. "Berapa tinggimu? Seratus tujuh puluh?"
Baekhyun mengerutkan kening seraya menjawab, "Seratus tujuh puluh tiga."
Bola mata Chanyeol berputar, dan ekspresinya seolah mengatakan, ya okelah. Baekhyun menggertakkan giginya. Tingginya 173 senti—hampir. Apa bedanya selisih tiga senti?
"Yoona, wanita yang dipukul itu, hampir sama tingginya denganmu dan mungkin hampir sepuluh kilo lebih berat darimu. Apa yang membuatmu berpikir kau bisa mengatasi bajingan itu?"
Baekhyun ingin menjawab, karena ia adalah laki-laki dan Yoona adalah wanita. Sudah jelas, kan? Tapi seraya berjalan kembali ia justru menjawab, "Tidak."
"Tidak apa? Berpikir? Itu sudah jelas," ejek Chanyeol, berjalan mengikuti Baekhyun.
Baekhyun menarik napasnya, mencoba mengendalikan amarahnya yang hampir meledak. Sungguh, laki-laki ini sangat menyebalkan. Tidak mungkin aku memukul polisi, batin Baekhyun. Ia mengulangi ucapannya itu dalam hati beberapa kali.
Akhirnya ia berhasil bersuara, dengan nada datar yang menakjubkan, "Kupikir aku tidak bisa menghadapinya."
"Tapi bagaimanapun kau melawannya," ujar Chanyeol.
Baekhyun mengangkat bahu. "Kesintingan sesaat."
"Kalau begitu tidak ada alasannya," Chanyeol kembali berujar, mencibir.
Baekhyun kembali menghentikan langkahnya. Emosinya hampir tumpah. "Dengar, aku sudah muak dengan omonganmu yang menghina. Aku menghentikannya memukuli wanita itu hingga babak belur di depan anak-anaknya. Memang itu tindakan bodoh, dan aku benar-benar sadar aku bisa cedera. Tapi aku seorang laki-laki, dan aku akan melakukannya lagi jika itu terjadi lagi. Sekarang, sebaiknya kau jalan sendiri saja. Karena aku tidak ingin jalan bersamamu."
Chanyeol kembali mencekal lengan Baekhyun dan berdecih, "Dasar sok."
Baekhyun terpaksa berjalan, kalau tidak mau diseret. Karena Chanyeol tidak mau membiarkan Baekhyun berjalan pulang sendiri. Baekhyun pun mempercepat langkahnya. Dengan demikian mereka akan cepat sampai rumahnya dan berpisah. Itu lebih baik.
"Kau terburu-buru?" tanya Chanyeol. Pegangannya pada lengan Baekhyun membuat langkah pemuda cantik itu melambat. Dan Baekhyun terpaksa menyamakan langkahnya dengan langkah santai polisi itu.
"Ya, aku ketinggalan—" Baekhyun berusaha mengingat apa acara televisi saat itu, tapi tidak ada yang terlintas di benaknya. "Kucingku, BooBoo, akan melahirkan dan aku ingin menungguinya."
Akhirnya ia berbohong.
"Kau suka anak-anak kucing, huh?"
"Lebih menarik daripada temanku sekarang."
"Wah..." Chanyeol meringis mendengar sindiran Baekhyun yang manis.
Akhirnya mereka sampai di rumah Baekhyun, dan Chanyeol terpaksa melepaskan lengan pemuda cantik itu. "Taruh es di lututmu supaya tidak memar," saran Chanyeol.
Baekhyun mengangguk, berjalan beberapa langkah. Lalu ia menengok dan melihat Chanyeol masih berdiri di tempat semula, memandanginya. "Terima kasih kau sudah mengganti saringan knalpotmu," katanya.
Chanyeol sudah akan berkomentar yang tidak enak, Baekhyun dapat melihat pada ekspresinya. Tetapi kemudian laki-laki bersurai silver itu mengangkat bahu dan hanya berkata, "Terima kasih kembali," lalu diam sejenak. "Terima kasih untuk kaleng sampahku yang baru."
"Terima kasih kembali," sahut Baekhyun.
Mereka berpandangan sesaat, seolah menunggu siapa yang akan memulai mencari masalah lagi. Namun Baekhyun memutuskan menghindarinya dengan berbalik dan masuk rumah. Ia mengunci pintu dan berdiri sejenak, mengamati ruang tamu yang hangat. BooBoo sudah asyik dengan bantal lagi, membuat isi bantal yang bertaburan di karpet semakin banyak. Baekhyun menghela napas.
"Lupakan kue chocolate chip," katanya keras-keras. "Saatnya untuk es krim."
Tbc
