*thanks untuk komen, like dan follow fanfic ini. chap 4 update, and have a good day ^^

.

.

.

Part 4

Baekhyun bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya, tanpa bantuan alarm weker ataupun matahari. Alasan sederhana yang membuatnya terbangun adalah karena seluruh otot tubuhnya menjerit kesakitan. Tulang-tulang iganya sakit, lututnya perih, lengannya ngilu setiap kali digerakkan; bahkan pantatnya pun sakit. Belum pernah ia merasa sesakit ini sejak ia pertama kali belajar roller-skate. Sambil mengerang ia beranjak duduk dan sedikit demi sedikit menurunkan kakinya dari tempat tidur. Ia berjalan pelan ke kamar mandi dan memilih air hangat untuk mandi. Ia tidak cukup berani dengan air dingin. Daripada berdiri telanjang di bawah guyuran air yang membekukan, ia lebih memilih menghadapi pemabuk jalanan kapan pun.

Sambil bergidik Baekhyun cepat-cepat menyelesaikan mandinya, mengeringkan badan dengan handuk, memakai jubah mandinya yang panjang dan berwarna biru. Ia jarang mengenakannya selama musim panas, tapi hari ini terasa nyaman. Ia keluar dari kamar mandi dan melihat BooBoo yang masih tidur nyenyak. Baekyun berjalan mendekat dan memperhatikan kucing itu sesaat.

Ada satu kelebihan bangun pagi-pagi. Baekhyun yang harus membangunkan BooBoo bukan sebaliknya. BooBoo tidak senang ketika istirahat indahnya diganggu. Kucing galak itu mendesis pada Baekhyun, lalu beranjak pergi untuk menemukan tempat yang lebih aman untuk tidur. Baekhyun pun tersenyum.

Karena ia telah bangun terlalu pagi, Baekhyun tidak harus tergesa-gesa pagi itu. Ia berlama-lama menikmati kopinya, perbuatan yang jarang dilakukannya, dan bukannya membuat sereal dingin seperti biasanya. Sepiring wafel yang hangat dengan potongan stroberi di atasnya menjadi menu sarapan pagi ini. Sesudah menyantap wafelnya, Baekhyun meneguk secangkir kopi lagi dan menyingkap jubah mandinya untuk memeriksa lututnya yang terkelupas. Ia sudah mengompresnya dengan es sesuai dengan anjuran Chanyeol, tetapi masih ada luka yang cukup besar, dan seluruh lututnya kaku juga sakit. Ia tidak mungkin tiduran sepanjang hari di atas kantong-kantong es, maka ia menelan beberapa aspirin dan terpaksa menerima nasibnya untuk menderita selama beberapa hari.

Baekhyun mulai bersiap untuk berangkat kerja. Ia mencoba menahan rasa ngilu ketika sedang berpakaian, lalu merapikan rambutnya sejenak—tidak perlu lama dan mengakibatkan tulang iganya terasa sakit. Saat Baekhyun memandang cermin, ia menyadari ada memar di tulang pipinya. Tidak sakit, tapi terlihat jelas. Tidak ada pilihan lain selain menutupinya dengan makeup.

Memoles eyeliner di kedua kelopak matanya sebagai langkah terakhir—benda wajib favoritnya yang tidak boleh absen membuat mata sipitnya terlihat lebih besar dan indah, Baekhyun memandang cermin sekali lagi dan menilai dirinya tampak luar biasa. Ia tersenyum dan berjalan keluar dengan penuh percaya diri dan santai. Si brengsek –Chanyeol- sedang membuka pintu mobilnya ketika Baekhyun keluar dari rumahnya. Baekhyun membalikkan badannya dan berlama-lama mengunci pintu rumahnya, berharap laki-laki bertubuh tinggi itu akan segera masuk ke mobilnya dan pergi.

Tapi sepertinya Baekhyun sedang sial.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol, tiba-tiba suaranya sudah terdengar tepat di belakang Baekhyun.

Baekhyun hampir meloncat kaget. Sambil memekik ia membalikkan badan. Tapi gerakan yang salah. Tulang iganya protes. Baekhyun mengerang kesakitan dan menjatuhkan kuncinya. "Sialan!" teriaknya setelah ia dapat bernapas lagi. "Jangan mengendap-endap seperti itu lagi!"

"Hanya itu satu-satunya cara yang kutahu," kata Chanyeol dengan wajah tanpa ekspresi. "Kalau aku menunggu sampai kau berbalik, aku takkan mengendap-endap," ia berhenti sejenak. "Kau memaki-maki."

Chanyeol berkata seolah Baekhyun perlu diingatkan. Sambil menggerutu Baekhyun merogoh tasnya mencari uang logam 25 dollar dan meletakkannya di tangan Chanyeol. Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Chanyeol memandangi uang itu.

"Untuk apa ini?" tanya Chanyeol.

"Karena aku sudah bersumpah, aku harus membayar setiap kali aku ketahuan memaki. Itulah caraku untuk memotivasi diri agar berhenti," jawab Baekhyun.

"Kalau begitu kau berhutang padaku jauh lebih banyak daripada cuma 25 dollar ini. Tadi malam kau mengucapkan beberapa makian."

Bibir Baekhyun mencibir. "Kau tidak bisa kembali ke masa yang sudah lewat dan menagihku. Bisa-bisa tabunganku terkuras habis. Kau harus memergokiku pada saat aku melakukannya."

"Ya, baiklah. Hari sabtu, ketika kau memotong rumput. Kau tidak membayarku waktu itu."

Tanpa berkata-kata Baekhyun menggertakkan gigi, sambil mencari 25 dollar lagi di tasnya. Chanyeol kelihatan puas sekali saat mengantongi 50 dollarnya. Di lain waktu mungkin Baekhyun akan tertawa, tetapi sekarang ia masih marah pada Chanyeol karena telah mengejutkannya. Tulang rusuknya sakit, dan semakin sakit ketika ia mencoba membungkuk untuk mengambil kuncinya. Bukan hanya itu, lututnya menolak ditekuk. Ia menegakkan tubuhnya, memandang Chanyeol dengan frustasi dan marah sehingga sudut mulut pria itu berkedut.

Kalau dia tertawa akan kutendang bawah dagunya, pikir Baekhyun.

Karena Baekhyun masih berdiri di teras, sementara Chanyeol berdiri di anak tangga ke tiga. Sudut itu sempurna untuk menendang dagu seseorang. Tapi ternyata Chanyeol tidak tertawa. Mungkin polisi diajari untuk berhati-hati. Chanyeol membungkuk memungut kunci Baekhyun.

"Lututmu tidak mau ditekuk, ya?" tanya Chanyeol.

"Juga rusukku," sahut Baekhyun galak. Ia mengambil kuncinya dari tangan Chanyeol dan menuruni tiga anak tangga.

Chanyeol mengerutkan keningnya. "Kenapa dengan rusukmu?"

"Kena pukulannya."

Chanyeol mendengus jengkel. "Kenapa tidak kau katakan tadi malam?"

"Kenapa? Rusukku tidak patah, hanya memar."

"Kau menduganya begitu, kan? Kau tidak mengira mungkin rusukmu retak?"

"Tidak terasa retak."

"Dan kau sudah sangat berpengalaman dengan rusuk retak sehingga kau tahu bagaimana rasanya," cibir Chanyeol.

Baekhyun menggertakkan rahanya dengan kesal. "Ini rusukku sendiri, aku bilang tidak retak. Diskusi selesai."

"Coba katakan," kejar Chanyeol, mengiringi Baekhyun yang berusaha sebisa mungkin berjalan ke mobilnya. "Pernahkan sehari saja kau tidak marah-marah?"

"Hari-hari ketika aku tidak bertemu denganmu," balas Baekhyun. "Dan kau yang memulainya! Aku sudah bersiap-siap menjadi tetangga yang baik, tapi kau mencari masalah setiap kali melihatku, meskipun aku sudah minta maaf ketika BooBoo masuk ke mobilmu. Lagipula, menurutku kau pemabuk."

Chanyeol berhenti, wajahnya tampak terkejut. "Aku pemabuk?" katanya.

"Mata merah, pakaian kotor, pulang dini hari, berisik, selalu marah-marah seperti mabuk...aku harus mengira apa lagi?" cibir Baekhyun.

Chanyeol mengusap wajahnya. "Maaf, seharusnya aku mandi, bercukur dan berganti pakaian dulu sebelum keluar rumah dan memberitahumu bahwa kau cukup berisik untuk membangunkan orang mati."

"Sebenarnya cukup dengan menyambar celana jins bersih," Baekhyun membuka pintu mobilnya dan mulai memikirkan masalah lain: bagaimana ia akan masuk ke mobilnya yang rendah ini?

"Aku sedang menyelesaikan lemari dapurku," kata Chanyeol setelah diam sejenak. "Dengan jam-jam kerjaku belakangan ini, aku terpaksa hanya bisa mengerjakannya sedikit-sedikit, dan kadang-kadang aku tertidur dengan masih memakai pakaian kotor."

"Pernahkah kau berniat membiarkan lemari dapurmu sampai kau mendapat libur dan bisa tidur lebih banyak? Mungkin itu akan menolong pengaturan waktmu."

"Tidak ada yang salah dengan pengaturan waktuku."

"Memang tidak ada yang salah, kalau itu pengaturan waktu orang aneh."

Baekhyun memasukkan tas selempangnya ke dalam mobil dan mencoba menghipnotis dirinya sendiri agar bisa menyelinap ke balik kemudi. Chanyeol mengamati mobil Viper milik Baekhyun dan berkata, "Mobil yang asyik."

"Terima kasih," kata Baekhyun melirik sekilas ke Pontiac Chanyeol dan tidak berkomentar. Kadang-kadang diam lebih berguna daripada kata-kata.

Chanyeol melihat lirikan itu dan nyengir. Baekhyun tidak berharap Chanyeol nyengir, itu membuatnya terlihat hampir manusiawi. Baekhyun tidak berharap mereka berdiri di luar di bawah sinar matahari pagi, karena ia dapat melihat betapa lebat bulu mata Chanyeol dan betapa cokelat gelap matanya. Oke, jadi Chanyeol tidak jelek, ketika matanya tidak merah dan dia tidak marah-marah.

Tiba-tiba tatapan Chanyeol berubah menjadi dingin. Tangannya terulur dan dengan lembut ibu jari tangannya mengusap tulang pipi Baekhyun. "Pipimu memar," katanya.

"Si—" Baekhyun terkejut dan menghentikan dirinya sendiri sebelum kata itu terlontar. "Sudahlah, kupikir tadi sudah kututupi dengan makeup."

"Usahamu berhasil. Aku tidak melihatnya sampai kau berdiri di bawah sinar matahari," Chanyeol menyilangkan kedua lengannya dan mengerutkan dahi memandangi Baekhyun. "Ada cedera lain?"

"Hanya otot-otot yang sakit," jawab Baekhyun. Ia menatap mobilnya dengan sedih. "Dari tadi aku takut harus masuk mobil."

Chanyeol memandang mobil, lalu Baekhyun. Sementara Baekhyun mencengkram pintu mobil yang terbuka, pelan-pelan sambil kesakitan ia mengangkat kaki kanannya dan mendorongnya ke dalam mobil. Chanyeol menghembuskan napas, seakan-akan diam-diam menabahkan diri untuk melakukan tugas yang tidak menyenangkan. Ia memegangi lengan Baekhyun selagi pemuda cantik itu beringsut ke balik kemudi.

"Terima kasih," kata Baekhyun, merasa lega tugas itu sudah selesai dan ia berhasil duduk di balik kemudi.

"Tentu," Chanyeol membungkuk di pintu yang masih terbuka. "Kau ingin menuntut penyerangan ini?"

Baekhyun mengatupkan bibirnya. "Aku yang memukulnya lebih dulu."

Baekhyun merasa Chanyeol sedang berjuang menahan senyumnya lagi. Ya Tuhan, Baekhyun berharap Chanyeol berhasil. Ia tidak ingin melihat senyum laki-laki itu lagi sedemikian cepat. Bisa-bisa ia mulai menganggap Chanyeol baik hati.

"Baiklah kalau begitu," kata Chanyeol setuju. Ia menegakkan badan dan mulai menutup pintu mobil. "Rasa sakit itu bisa tertolong dengan pijatan. Dan mandi uap."

Baekhyun melontarkan tatapan jengkel. "Uap? Maksudmu sia-sia saja pagi ini aku mandi dengan air dingin?" katanya.

Chanyeol mulai tertawa, dan Baekhyun sungguh tidak berharap laki-laki itu melakukannya. Tawanya dalam dan manis. Giginya sangat putih. Kemudian Chanyeol menyarankan lagi.

"Dingin juga bagus. Cobalah berganti-ganti antara air panas dan dingin untuk mengurangi rasa sakit. Dan dipijat kalau bisa," saran Chanyeol.

Baekhyun mengangguk. "Gagasan bagus. Terima kasih."

Chanyeol mengangguk dan melangkah mundur. Sambil melambaikan satu tangannya ia berjalan ke mobilnya. Sebelum pria itu membuka pintu mobilnya, Baekhyun sudah melajukan Viper-nya di jalan. Sepanjang perjalanan Baekhyun berpikir sambil tersenyum kecil, mungkin ia bisa bertetangga baik dengan laki-laki itu. Chanyeol dan borgolnya tentu saja sangat berguna tadi malam.

*ChanBaek*

Meskipun sudah mengobrol dengan Chanyeol, Baekhyun masih tetap kepagian sampai di tempat kerja sehingga ia punya waktu untuk beringsut keluar dari mobil. Kantor masih nampak sepi belum terlalu banyak orang yang datang. Baekhyun memilih untuk menunggu di ruang makan di lantai kerjanya. Di masing-masing lantai ada ruang makan, dilengkapi dengan berbagai mesin otomatis biasa, meja-meja kafetaria murahan dan kursi-kursi logam, sebuah kulkas, sebuah mesin pembuat kopi, serta microwave. Ada beberapa wanita dan satu laki-laki mengelilingi satu meja ketika Baekhyun masuk. Mereka sedang membaca sebuah berita di koran newsletter hari ini dengan wajah serius.

Baekhyun menuang secangkir kopi yang sangat dibutuhkannya. "Ada apa?" tanyanya.

"Edisi khusus newsletter," jawab salah satu wanita itu menoleh pada Baekhyun. "Pembunuh berantai itu kembali beraksi."

"Aku rasa si pembunuh itu seorang psikopat," kata wanita yang lain dengan bergidik ngeri.

"Aku rasa juga begitu," timpal wanita yang lainnya setuju.

"Menurutku dia pasti seorang maniak seks gila," sahut pria itu.

Wanita yang pertama menoleh pada Baekhyun tadi mengulurkan newsletter itu pada Baekhyun. "Lihatlah," katanya.

Baekhyun meneguk kopinya sambil menerima newsletter itu. Beberapa wanita dan pria itu mulai ribut membicarakan tentang berita pagi ini. Sebenarnya bukan hanya mereka yang sedang membicarakan hal ini, tapi hampir seluruh Seoul juga sedang membicarakannya. Baekhyun meletakkan cangkir kopinya dan membacanya dengan ekspresi tertarik. Ini berita tentang penemuan jasad wanita bernama Victoria yang telah dinyatakan hilang sejak dua minggu lalu. Yang menarik perhatian Baekhyun dari berita ini adalah headline-nya yang ditulis dengan huruf tebal dan besar: PEMBUNUH BERANTAI KEMBALI BERAKSI. INCARANNYA ADALAH WANITA CANTIK BERAMBUT COKELAT.

Baekhyun meraih cangkir kopinya dan meneguknya lagi. Matanya tidak beralih dari newsletter di tangannya. Biasanya ia tidak terlalu memperhatikan berita ini. Baginya, berita ini hanya sesuatu yang kelak akan segera berlalu dan dilupakan, mungkin. Tapi mungkin kini ia harus mulai sedikit waspada, meski ia yakin dirinya tidak akan menjadi sasaran. Karena semanis dan secantik apapun wajahnya, ia tetap seorang laki-laki, dan lagi korban si pembunuh berantai biasanya adalah para wanita berambut cokelat dan cantik.

Jadi ia pasti aman, kan?

Tetapi mungkin saja keyakinan Baekhyun itu salah. Sebuah kalimat yang tertulis di bawah kolom berita itu tiba-tiba menarik perhatian Baekhyun. Tulisan itu ditulis oleh seorang bernama 'Mako' yang mencoba menggambarkan tentang si pembunuh menurut pendapatnya sendiri. Tulisan itu berbunyi:

Sang pengagum. Ia mengagumi mereka. Memanjakan mereka. Dan menghabisi mereka kala mereka tidak pantas menjadi cinta sejatinya...

Kalimat-kalimat itu membuat Baekhyun berpikir. Ia mencoba berpikir tentang si pembunuh berantai itu, tentang alasan di balik semua perbuatan keji itu. Baekhyun yakin itu bukan cinta. Cinta seharusnya lembut dan membuat bahagia. Tapi cinta si pembunuh berantai ini justru membawa mimpi buruk. Dan sepanjang hari itu, dan hari-hari ke depannya berita tentang si pembunuh berantai terus menjadi pembicaraan. Dan Baekhyun kembali mencoba untuk tidak terlalu peduli dengan hal itu.

*ChanBaek*

Pagi itu Baekhyun kembali terbangun lebih awal. Ia tidak bisa tidur nyenyak meski sudah minum aspirin lebih banyak untuk otot-ototnya yang sakit, dan berendam air hangat. Saat menjelang berangkat tidur ia memang merasa jauh lebih nyaman, namun tetap tidak bisa tidur nyenyak. Entah kenapa. Maka pagi itu Baekhyun menikmati secangkir kopi dan menatap langit yang semakin terang, setelah sebelumnya ia membangunkan BooBoo lagi. Sepertinya BooBoo sudah memaafkan sang pemuda cantik yang membangunkannya lagi, karena kucing gembul itu duduk di samping Baekhyun sambil menjilati kakinya dan mendengkur ketika Baekhyun menggaruk-garuk belakang telinganya.

Apa yang terjadi berikutnya bukan salah Baekhyun. Ia sedang berdiri di depan bak cuci untuk mencuci cangkirnya ketika lampu dapur di rumah seberang menyala dan Chanyeol berjalan masuk. Baekhyun mengangkat pandangannya dan napasnya terhenti. Paru-parunya mengembang, dan ia berhenti bernapas.

"Tuhan Yang Maha Baik," desahnya, sambil berusaha menarik napasnya.

Ia sedang melihat Chanyeol lebih daripada yang pernah dibayangkannya. Ia melihat semuanya, sungguh. Lelaki itu berdiri di depan kulkas, telanjang bulat. Baekhyun nyaris belum sempat mengagumi pantat Chanyeol sebelum lelaki itu mengambil sebotol jus jeruk dari dalam kulkas, memutar tutup botol, dan membawa botol ke mulutnya sambil membalikkan badan. Baekhyun langsung melupakan pantat Chanyeol. Lelaki itu tampak lebih memukai dari depan daripada dari belakang. Dan itu ada artinya, karena pantatnya saja sangat indah. Lelaki itu menggairahkan.

"Ya Tuhan, BooBoo," desahnya. "Lihat itu!"

Chanyeol ternyata luar biasa indah secara keseluruhan. Ia tinggi, pinggangnya ramping, berotot, dan perut six pack yang sungguh menggoda. Baekhyun membelokkan pandangannya ke atas sedikit dan melihat dada lelaki itu, bidang dan indah. Baekhyun sudah tahu wajah Chanyeol tampan, walau sedikit kasar. Mata cokelat gelap yang seksi, gigi putih, dan tawa yang bagus. Dan ia menggairahkan.

Baekhyun menekan dadanya. Jantungnya bukan hanya berdebar-debar, tetapi menggedor-gedor tulang dadanya. Bagian-bagian lain tubuhnya ikut bergairah. Sekejap muncul pikiran sinting, ia membayangkan dirinya bergegas menawarkan dirinya menjadi teman tidur Chanyeol. Tidak peduli akan kegemparan dalam diri Baekhyun, juga akan pemandangan yang menakjubkan di seberang, BooBoo terus menjilati kakinya.

Baekhyun mencengkram bak cuci agar tidak merosot lemas ke lantai. Jika ia tidak menahan dirinya, mungkin saja ia sudah berlari melintasi dua jalur masuk dan langsung menuju pintu dapur Chanyeol. Ia berpikir, tetangganya adalah karya seni, bisa dikategorikan di antara patung Yunani klasik dan bintang porno.

Meskipun tidak suka Baekhyun harus memberitahu Chanyeol agar menutup tirai-tirainya. Itu kewajibannya sebagai tetangga, bukan? Ia menggapai-gapai meraih telepon yang tidak jauh darinya, karena tidak ingin ketinggalan pertunjukan itu sekejap pun, lalu berhenti. Bukan saja Baekhyun tidak tahu nomor telepon Chanyeol, ia bahkan tidak tahu nama lelaki itu—hanya tahu nama marganya saja. Tetangga macam apa ini? Sudah dua setengah minggu ia tinggal di sini tapi masih belum pernah memperkenalkan diri pada Chanyeol. Kalau bukan karena nyonya Kim Hyerin, Baekhyun tidak akan pernah tahu nama marga si Park muda itu.

Tetapi Baekhyun tidak kehilangan akal. Ia sudah mencatat nomor telepon keluar Kim di buku catatan di samping telepon. Maka ia berusaha mengalihkan pandanganya dari tetangganya sejenak untuk membawa catatan itu. Ditekannya nomor itu, dan baru sadar jangan-jangan suami-istri tua itu belum bangun tidur. Nyonya Kim menjawab pada dering pertama. Wanita tua itu menyapa dengan sangat antusias sehingga Baekhyun tahu ia tidak membangunkan mereka.

"Hai, Hyerin-ssi, ini Byun Baekhyun, tetangga anda. Apa kabar?" kata Baekhyun.

Bagaimanapun basa-basi harus dilakukan dulu, dan dengan generasi yang lebih tua itu bisa memakan waktu beberapa saat. Baekhyun berharap basa-basi itu hanya selama sepuluh atau lima belas menit. Dipandanginya Chanyeol yang sedang meneguk habis jus jeruknya dan melemparkan botolnya yang sudah kosong ke tempat sampah.

"Oh, Baekhyun-ssi! Senang sekali kau menelepon!" kata nyonya Kim, seolah ia sedang pergi ke negara lain atau semacamnya. "kami baik-baik saja, sungguh! Dan kau?"

"Baik," jawab Baekhyun otomatis, tanpa meninggalkan semenit pun aksi itu.

Sekarang Chanyeol mengeluarkan sekotak susu. Ia membuka susu itu dan mengendusnya. Bisepnya menonjol saat lengannya terangkat. Tapi kemudian lelaki itu menarik kepalanya ke belakang dan menyingkirkan karton susu itu. Mungkin susunya sudah kadaluarsa.

"Oh, ya ampun," bisik Baekhyun, mengerjap memperhatikan Chanyeol.

"Apa itu?" tanya nyonya Kim.

Baekhyun tersadar dan segera membelokkan perhatiannya dari sasaran yang berpindah-pindah itu. "Uh—aku bilang baik, baik-baik saja. Hyerin-ssi, siapa nama Park muda? Aku perlu meneleponnya tentang sesuatu."

"Chanyeol, sayang. Park Chanyeol. Tapi aku punya nomornya di sini. Sama dengan nomor kakeknya. Aku senang sekali, karena dengan begitu aku mudah mengingatnya. Lebih mudah menjadi semakin tua daripada semakin bijaksana, kau tahu," nyonya Kim menertawakan leluconnya sendiri.

Baekhyun tertawa juga, meskipun tidak tahu apa yang ditertawakannya. Ia menyambar pensil. Pelan-pelan nyonya Kim menyebutkan nomor itu, dan Baekhyun mencatatnya, yang tak mudah dilakukannya tanpa melihat apa yang sedang ditulisnya. Otot lehernya terkunci pada posisi ke depan, sehingga mau tak mau ia memandang ke jendela dapur tetangganya.

Baekhyun mengucapkan terima kasih pada nyonya Kim dan mengakhiri percakapan, lalu menghela napas dalam-dalam. Ia harus melakukannya. Tidak peduli betapa berat, betapa ia akan kehilangan pemandangan indah di depannya itu, ia harus menelepon lelaki itu. Ia menarik napas dalam lagi dan menekan nomor Chanyeol. Baekhyun melihat lelaki itu melintasi dapur dan mengangkat teleponnya. Chanyel menghadap ke arah Baekhyun.

Oh, wow. Wow, wow. Air liur Baekhyun mengumpul di mulutnya. Laki-laki sialan itu sudah membuatnya meneteskan air liur tanpa sadar.

"Park Chanyeol," suara Chanyeol yang dalam terdengar parau, seakan ia belum benar-benar bangun, dan kata itu diucapkannya dengan jengkel.

"Um...Chanyeol?"

"Ya?"

Bukan jawaban yang ramah. Baekhyun berusaha menelan air liurnya dan ternyata sulit melakukannya ketika lidahnya terjulur keluar. Ia menarik lidahnya masuk dan mendesah kecewa. "Ini Byun Baekhyun, tetanggamu. Aku tidak suka mengatakan ini padamu, tapi mungkin kau ingin...menutup tiraimu," katanya kemudian.

Chanyeol berputar menghadap ke jendela, dan mereka berpandangan dari jauh. Chanyeol tidak cepat-cepat menyingkir, atau meloncat menghilang, atau mengambil tindakan apa saja yang mungkin menunjukkan rasa malunya. Sebaliknya, lelaki itu justru nyengir. Sialan, Baekhyun tidak berharap Chanyeol melakukan itu.

"Kau tertangkap basah, kan?" kata Chanyeol sambil menghampiri jendela dan meraih tirai.

"Ya, memang," kata Baekhyun. Setidaknya ia belum berkedip selama lima menit.

"Terima kasih," Chanyeol menarik tirai-tirainya, dan seluruh tubuhnya lenyap dari pandangan Baekhyun. "Terima kasih kembali," Chanyeol berdecak. "Mungkin kapan-kapan kau bisa gantian."

Telepon sudah ditutup oleh Chanyeol sebelum Baekhyun sempat menyahut. Untunglah, karena ia kehilangan kata-kata sementara menutup kerainya. Tanpa sadar ia menepuk dahinya. Ya ampun! Yang perlu dilakukannya lain kali hanyalah menutup kerainya sendiri.

"Ya, sepertinya aku bodoh atau bagaimana," kata Baekhyun pada BooBoo.

Bayangan melepaskan pakaiannya untuk lelaki itu membuat Baekhyun gemetar—dan senang. Memang ia apa, ekshibisionis? Ia belum pernah melakukannya, tetapi sekarang...bagian-bagian tertentu tubuhnya terangsang. Ia belum pernah menginginkan seks tanpa ikatan, namun nafsu tiba-tiba tertuju pada Chanyeol si brengsek ini, dari antara semua orang. Ini membingungkan Baekhyun. Bagaimana lelaki itu bisa berubah dari menjengkelkan menjadi begitu menggoda hanya dengan melepaskan pakaiannya?

"Sebegitu rendahnyakah aku?" tanyanya pada BooBoo. Setelah menimbang-nimbang gagasan itu sejenak, ia mengangguk. "Kau benar."

Akhirnya BooBoo mengeong setuju. Baekhyun melirik kembali ke arah kerai jendelanya dan berpikir, bagaimana ia bisa menatap Chanyeol lagi tanpa mengingat bagaimana ketika lelaki itu telanjang? Bagaimana ia bisa bertemu dengan Chanyeol tanpa tersipu-sipu atau membiarkan lelaki itu melihat bahwa ia menghadapi masalah besar terpikat pada tubuh Chanyeol?

Baekhyun merasa jauh lebih nyaman menganggap Chanyeol sebagai musuh daripada sebagai objek gairah. Ia lebih suka objek gairahnya berada pada jarak yang aman...misalnya, di layar film. Tapi Chanyeol sendiri tidak merasa malu, jadi mengapa ia harus merasa malu? Mereka berdua sudah dewasa, kan? Ia sudah sering melihat laki-laki telanjang. Sebagai laki-laki, ia pun juga sering melihat tubuh telanjangnya sendiri. Ia hanya belum pernah melihat Chanyeol telanjang. Mengapa perut lelaki itu bukannya buncit dan sedang layu, tapi justru perutnya kencang berotot dan sedang menantang? Membayangkan hal itu membuat air liur Baekhyun mulai keluar lagi.

"Ini menjijikan," katanya keras-keras. "Aku sudah hampir tiga puluh tahun, sudah bukan remaja yang tergila-gila...siapapun yang sedang mereka gila-gilai sekarang. Paling tidak aku harus bisa mengendalikan kelenjar ludahku."

Namun kelenjar ludahnya berpikiran lain. Setiap kali bayangan Chanyeol muncul di kepalanya, yang terjadi kira-kira setiap sepuluh menit—ia terpaksa menikmati bayangan itu selama sekitar sembilan detik sebelum mengusirnya—ia terpaksa menelan ludah. Berulang kali.

*ChanBaek*

Baekhyun terus berdoa, berharap mungkin besok ia akan bisa menghadapi Chanyeol dengan lebih tenang. Tetapi hari ini tidak, karena tubuhnya terasa berputar-putar dan kelenjar air liurnya bekerja berlebihan setiap kali bayangan Chanyeol muncul di kepalanya. Akhirnya ia memutuskan untuk melupakannya. Sambil membersihkan benaknya dari bayangan betapa bagusnya tubuh telanjang Chanyeol, Baekhyun menyalakan televisi dan bersiap untuk berangkat kerja. Seperti hari-hari sebelumnya, saat ini hampir semua berita pagi sedang membicarakan tentang kasus Victoria dan pembunuhan berantai. Baekhyun hanya menonton berita itu dengan tidak terlalu berminat. Baginya, pembunuhan berantai hanya sekedar isu.

Setelah siap dan memastikan penampilannya sekali lagi Baekhyun beranjak mematikan televisi, menyambar tas dan kunci mobilnya, dan berjalan keluar rumah. Baekhyun berjalan menuju mobilnya, dan ketika ia membuka kunci pintu mobil, ia mendengar pintu terbuka di belakangnya dan otomatis ia menoleh. Sesaat Baekhyun memandangi Chanyeol yang sedang mengunci pintu rumahnya dengan pikiran kosong. Lalu ingatannya pulih kembali, dan dengan panik ia meraba-raba pegangan pintu mobilnya.

"Kau merasa lebih baik hari ini?" tanya Chanyeol sambil berjalan mendekat.

"Baik," jawab Baekhyun seraya setengah melemparkan tasnya ke kursi mobil dan masuk ke belakang kemudi.

"Jangan letakan tas di sana," nasihat Chanyeol. "Kalau kau berhenti di lampu merah, orang bisa mendatangimu, menggedor jendela, merampas tas, dan menghilang sebelum kau tahu apa yang terjadi."

Baekhyun menyambar kacamata gelapnya dan memakainya. Untunglah kacamata ini bisa melindungi matanya sehingga ia berani menatap laki-laki bertubuh tinggi itu. "Lalu sebaiknya aku letakan dimana?" tanyanya.

"yang paling aman di bagasi," jawab Chanyeol.

"Repot sekali," sahut Baekhyun.

Chanyeol mengangkat bahu. Gerakan itu membuat Baekhyun memperhatikan betapa bidang bahu lelaki itu, dan itu mengingatkannya akan bagian-bagian lain tubuh Chanyeol. Pipinya mulai terasa panas. Kenapa sih dia tidak bisa tetap menjadi pemabuk? Kenapa sih dia tidak masih memakai celana training dan kaus yang penuh bercak dan robek?, pikir Baekhyun.

Dasi berwarna biru-merah bata tersimpul longgar di leher Chanyeol yang kokoh, dan satu tangannya membawa jas. Pistol hitam besar tersarung di pinggul kanannya. Chanyeol tampak tangguh dan kompeten, dan sangat terlalu bagus untuk kedamaian batin Baekhyun.

"Maaf kalau aku membuatmu malu pagi ini," kata Chanyeol. "Aku masih setengah tidur dan tidak memperhatikan jendela."

Baekhyun berusaha mengangkat bahu tidak peduli. "Aku tidak malu. Itu 'kan tidak sengaja," katanya.

Baekhyun ingin pergi, tetapi Chanyeol berdiri terlalu dekat sehingga ia tidak dapat menutup pintu mobil. Lelaki itu berdiri membungkuk diantara mobil dan pintu yang terbuka.

"Yakin kau tidak apa-apa? Dari tadi kau belum memakiku, dan kita sudah ngobrol selama—" Chanyeol melihat arlojinya sekilas. "Kira-kira tiga puluh detik."

"Suasana hatiku sedang tenang," sahut Baekhyun. "Aku menghemat tenaga kalau-kalau ada yang penting."

Chanyeol nyengir. "Nah, begitu dong. Sekarang aku merasa lebih baik," ia mengulurkan tangan dan menyentuh tulang pipi Baekhyun. "Memarnya hilang."

"Tidak. Hanya berkat makeup," sergah Baekhyun.

"Jadi begitu rupanya," kata Chanyeol.

Chanyeol menelusurkan jari-jarinya turun ke celah dagu Baekhyun dan mengetuknya pelan sebelum akhirnya menarik tangannya. Baekhyun duduk terpaku. Tiba-tiba ia menyadari bahwa Chanyeol sedang merayunya. Demi Tuhan, jantung Baekhyun berdentam-dentam lagi.

"Jangan cium aku," kata Baekhyun memperingatkan, karena laki-laki itu tampaknya semakin dekat.

Chanyeol tidak bergerak, dan tatapannya terpusat pada wajah cantik Baekhyun dengan kesungguhan seorang pria yang ingin bertindak sedikit lebih jauh. "Aku tidak bermaksud begitu," sahutnya, tersenyum kecil. "Aku tidak membawa cambuk dan kursi saat ini."

Chanyeol menegakkan tubuhnya dan melangkah mundur, tangannya memegang pintu mobil untuk menutupnya. Ia berhenti, menunduk memandang Baekhyun. Lalu berkata lagi, "Selain itu, aku tidak sempat sekarang. Kita harus berangkat kerja, dan aku tidak suka terburu-buru. Aku butuh beberapa jam, setidaknya."

Baekhyun tahu sebaiknya ia tetap tutup mulut. Ia tahu sebaiknya ia menutup pintu mobil dan menjalankan mobilnya saja. Tetapi ia justru berkata tanpa pikir panjang, "Beberapa jam?"

"Ya," kembali Chanyeol tersenyum pelan-pelan dan berbahaya. "Tiga jam bahkan lebih baik, karena aku tahu begitu aku menciummu, kita berdua langsung akan telanjang."

Tbc