Sebelumnya, aku hanya ingin bilang bahwa aku tidak menulis genderswitch, aku hanya menulis yaoi saja. Tapi terima kasih jika menurut kalian fanfic ini bagus. Terima kasih juga untuk komennya ^^
part 5 update!
.
.
.
Part 5
"Oh?" Baekhyun menggerutu sendiri sepanjang perjalanan ke kantor. "Oh? Jawaban ketus macam apa itu? Kenapa aku tadi tidak mengatakan seperti, 'kau mimpi sobat', atau 'ya ampun, neraka sudah membeku ketika tak kulihat, ya'. Ya ampun, kenapa aku tidak mengatakan apa saja selain oh?, Aku dapat melakukannya lebih baik daripada itu dalam tidurku."
Tadi Baekhyun tidak mengucapkannya dengan nada tidak peduli, seolah ia hanya menanyakan informasi dan jawabannya tidak menarik. Tidak, suku kata sialan itu diucapkannya dengan sangat lemah, bahkan bukan hanya sekedar lemah. Sekarang lelaki tinggi itu akan mengira yang perlu dilakukannya hanyalah berjalan melenggang ke rumah Baekhyun dan Baekhyun akan langsung bertekuk lutut padanya. Bagian yang terburuk dari semuanya adalah, mungkin Chanyeol benar.
Baekhyun segera menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Ia tidak pernah iseng dalam memulai suatu hubungan, dan ia tidak pernah berhasil dalam hal hubungan cinta yang serius sehingga ia sangat peduli dalam hal ini. Apalagi kalau sekarang ia akan mencobanya dengan tetangga sebelah rumah, yang kemarin—atau kemarin dulu?—masih dianggapnya sebagai "si brengsek".
Baekhyun bahkan tidak menyukai pria itu. Yah, tidak begitu suka. Ia memang mengagumi cara Chanyeol membekuk pemabuk itu. Kadang-kadang hanya tindakan kasarlah satu-satunya respon yang memuaskan. Ia sangat puas, melihat si pemabuk dipukul hingga terjerembab ke tanah dan ditundukkan semudah menundukkan anak kecil.
Adakah hal lain pada diri Chanyeol yang disukainya, selain tubuhnya—yang merupakan anugerah—dan kemampuannya menundukkan para pemabuk?, Baekhyun berpikir sejenak.
Ada sesuatu yang juga menarik pada laki-laki yang memelitur lemarinya, meskipun Baekhyun tidak bisa menyebutnya dengan tepat, sentuhan kerumahtanggaan, mungkin? Chanyeol pasti membutuhkan sesuatu untuk mengimbangi gayanya yang petentengan dan agresif itu. Tapi Chanyeol tidak petentengan, dia santai. Chanyeol tidak perlu petentengan dengan pistol sebesar hair dryer yang tergantung di ikat pinggangnya. Sejauh mengenai kejantanan, jelas Chanyeol unggul. Dia tidak membutuhkan simbol lagi dengan modal yang sudah dimilikinya...
Berpikir tentang kejantanan membuat Baekhyun tiba-tiba merasa panas. Baekhyun mencengkram kemudi, berusaha mengendalikan napasnya. Ia menghidupkan AC dan mengatur letak lubangnya agar udara dingin menghembus wajahnya. Junior-nya terasa menegang dibalik celana kainnya, dan ia tahu kalau diperiksa, pasti sedang berdiri tegak bagai prajurit kecil.
Oke.
Apa yang dihadapinya sekarang adalah masalah besar rasa suka. Faktanya ada, dan ia harus menghadapinya, yang berarti ia harus bersikap dewasa, waras dan pintar. Baekhyun selalu menghindari seks tanpa ikatan, dan tindakan bodoh seperti itu belum pernah terjadi. Namun masalahnya Baekhyun belum pernah begitu terpengaruh melihat bagian tubuh lelaki lain yang mencuat. Tapi bagian tubuh Chanyeol itu membuatnya begitu...terpengaruh. sialan.
Apa sih yang salah dengan dirinya?, tanya Baekhyun dalam hati.
Harus diakui, Chanyeol memang sangat menarik. Tetapi sebagai pemuda yang penuh ingin tahu saat di masa kuliah dulu Baekhyun sudah pernah melihat beberapa film porno, kadang-kadang membolak-balik majalah Playboy versi gay, jadi ia sudah pernah melihat yang lebih besar. Di samping itu, selama ia dan teman-temannya membahas tentang bagaimana yang seharusnya, dan seberapa besar alat vital yang harus dimiliki seorang seme, alat vital nyaris tidak sepenting laki-laki yang memilikinya. Pikiran itu membuat Baekhyun merasa semakin panas. Akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan pikirannya sampai disitu, melupakan Chanyeol dan Mr. Happy-nya.
*ChanBaek*
Di antara ketiga sahabat Baekhyun, Do Kyungsoo adalah yang paling pendiam. Berwajah polos, memiliki kharisma dan martabat kucing. Ia benar-benar berlawanan dengan Heechul. Heechul ramai dan terus terang, sementara Kyungsoo pendiam dan tenang. Tetapi jika Heechul sangat mencintai hidupnya, maka Kyungsoo tidak mencintai hidupnya, dan semakin tidak mencintai sejak ia dan Richard Park—pria yang telah menjadi kekasihnya hampir empat tahun—berpisah sekitar enam bulan lalu. Ia sedikit lebih terikat dengan hubungan mereka daripada Richard Park. Dan ketika ia membuat kesalahan dengan menjadi posesif, Richard Park pun mundur dengan cepat sehingga membuat Kyungsoo pusing.
Hatinya patah dan Kyungsoo mengalami sedikit depresi selama sekitar dua bulan. Lalu ia melihat ke sekeliling dan menyadari ada banyak pria seme di luar sana, yang lebih baik dari Richard Park. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah Kim Suho, direktur muda di kantornya. Kyungsoo tidak tahu banyak tentang Suho, hanya fakta dasarnya saja. Suho belum menikah, pandai menggambar, pindahan dari cabang di Kanada dan para karyawan wanita meneteskan air liur setiap kali melihat direktur muda yang murah senyum itu. Yah, siapa yang bisa menyalahkan para wanita itu karena wajah tampan dan kharisma milik seorang Suho. Dan Kyungsoo harus mengakui bahwa ia sama tergila-gilanya pada Suho seperti para wanita itu.
Setelah jam makan siang selesai, Kyungsoo dan para sahabatnya kembali ke lantai masing-masing, kembali ke ruangan masing-masing dan melanjutkan bekerja. Kyungsoo duduk di balik mejanya, bersandar di kursinya dan memandang tumpukan pekerjaan yang menantinya. Saat tatapannya mengembara ke atas mejanya, ia melihat sebuah amplop putih kotak tergeletak di tengah buku yang ia letakkan di sana sebelum makan siang. Ia menatap amplop itu selama setengah menit, lalu mengangkatnya dan membaliknya ke arah depan. Namanya—Do Kyungsoo—tercetak dalam huruf-huruf bercetak tebal dengan tinta hitam. Tiba-tiba jantungnya berdetak gugup.
Amplop itu tidak dilem, tetapi penutupnya dilipat rapi ke bawah dengan bukaan belakang berbentuk huruf V. Kyungsoo menggeser tutupnya ke atas dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, lalu mengeluarkan selembar catatan dari dalam amplop. Ia menarik napas panjang, lalu membuka lembaran itu yang dilipat menjadi dua itu, dan membawa pesan singkatnya.
Aku memujamu dari jauh, Do Kyungsoo'ku yang manis
Dengan jantung yang berdebar dan denyut nadi yang berkejar-kejaran, Kyungsoo menarik napas panjang lagi. Sepertinya ini adalah sebuah surat cinta. Sebuah pesan singkat dan jelas dari seorang pengagum. Tetapi siapa?
Kyungsoo membaca catatan itu lagi. Kata-katanya di tulis dalam cetak tebak dengan tinta hitam. Kyungsoo bertanya-tanya dalam pikirannya, siapa yang telah menulis sesuatu yang menurutnya benar-benar romantis ini? Tidak seorang pun yang ia tahu. Yang ia tahu, itu adalah sesuatu yang ditulis oleh seorang pria dengan hati seorang pujangga. Atau seorang seniman?
Bagaimana jika Suho yang menulisnya? Bagaimana jika ini perbuatan Suho yang mencoba untuk merayunya?, pikir Kyungsoo. Kyungsoo mendekap catatan itu di dadanya dan tersenyum.
*ChanBaek*
Chanyeol dan Kai melangkah keluar dari ruangan atasan mereka. Sang atasan meminta laporan perkembangan kasus Victoria dan sedikit diskusi, dengan Yunho yang meminta pertimbangan untuk memberikan kasus itu pada timnya. Dan selama diskusi itu Chanyeol lebih banyak diam. Ia hanya mendengarkan, dan memberi komentar ketika di tanya langsung. Namun jika tidak, ia membiarkan Kai memimpin diskusi itu. Dan setelah diskusi yang cukup panjang itu selesai, kini Chanyeol butuh kopi. Chanyeol mengambil teko kaca dari mesin pembuat kopi, menuangkan isi teko kaca tersebut ke dua cangkir yang telah disediakan, lalu berjalan mendekati Kai yang sedang duduk. Chanyeol menyodorkan salah satu cangkir berisi kopi panas itu pada Kai, yang diterima oleh Kai dengan perasaan lega. Sepertinya lelaki berkulit tan itu juga membutuhkan kopi saat ini. Kai berterima kasih dan meniup kopinya sebelumnya menyesapnya perlahan. Chanyeol menarik kursi ke depan Kai dan duduk dengan tenang, mulai menyesap kopinya perlahan. Menikmati rasa hangat dan pahit kopi yang membuatnya merasa sedikit lebih baik.
"Kau tidak berkata banyak tentang kasus ini, hyung," kata Kai menatap rekannya dengan bingung, karena tidak biasanya Chanyeol lebih banyak diam saat diskusi tadi.
Chanyeol menghela napas dan memandang cangkir di tangannya dengan pandangan menerawang. "Tidak banyak yang bisa dikatakan untuk saat ini. Kita tidak memiliki hasil autopsi resmi atau..." katanya.
"Apa yang akan dikatakan hasil autopsi resmi dari DFS yang belum kita ketahui?" ujar Kai memotong. "Chen hyung telah memeriksa jasad Victoria di TKP dan mengatakan kepada kita, rupanya Victoria telah diperkosa dan disiksa. Penyebab kematian Victoria jelas, seseorang menyayat lehernya."
Chanyeol menyesap kopinya sejenak sebelum berkata, "Ada lebih banyak petunjuk daripada sekedar autopsi. Yunho hyung belum mendengar laporan dari unit TKP-nya."
"Yunho hyung akan mendapatkan laporan awal dari mereka besok pagi, tetapi kau seorang penyelidik profesional. Kau memeriksa TKP sebelum tim Yunho hyung datang. Kau pasti memiliki firasat tentang kasus ini, Chanyeol hyung."
"Firasatku tidak seratus persen akurat. Aku dikenal pernah melakukan kesalahan."
"Bukankah kita semua begitu?"
Chanyeol hanya mengangkat bahu dan menyesap kopinya lagi. Kai mendesah. "Ini adalah kasus kita, hyung. Kita tidak bisa membiarkan tim Yunho hyung mengambil alih. Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi kita harus segera menangkap si pembunuh gila ini, hyung," katanya.
"Ya, kau benar, Kai," kata Chanyeol. Ia menghabiskan kopinya dengan cepat, meletakkan cangkirnya yang telah kosong pada meja di dekatnya, lalu berdiri dan beranjak pergi seraya berkata, "Aku akan pulang. Hubungi aku jika ada perkembangan lagi."
*ChanBaek*
Kebodohannya yang terjebak dalam rayuan si Park muda itu tadi pagi membuat suasana hati Baekhyun memburuk sepanjang hari itu. Saat Baekhyun tiba di rumahnya yang hangat dan nyaman, ia berharap dapat segera beristirahat dan suasana hatinya kembali membaik. Badut-badut kantor yang pamer kepintaran, beberapa orang yang menyebalkan di kantor dan pekerjaan yang seakan tiada hentinya itu membuat Baekhyun tertekan dan suasana hatinya memburuk. Kini yang ia inginkan hanyalah menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan tidur hingga pagi.
Namun suara dering telepon menahan sementara keinginan itu. Dan saat ia mengangkat teleponnya, suara protes Taemin terdengar di ujung teleponnya. Adiknya itu masih saja memprotes tentang mobil ayah mereka yang dititipkan pada Baekhyun. Taemin memang sangat menyukai mobil itu, tapi ayah mereka justru menitipkan mobil kesayangannya di garasi Baekhyun. Akibatnya, Baekhyun tidak dapat memarkir mobilnya sendiri di garasi, karena garasinya hanya muat satu mobil. Itu benar-benar menyebalkan. Dan Taemin yang marah padanya karena sebuah mobil, itu juga sangat menyebalkan.
"Ya Tuhan! Apakah kau tidak akan pernah berhenti protes karena tidak dititipi mobil Appa, eoh?" kata Baekhyun menghela napas lelah.
Di ujung telepon Taemin terus berbicara, dan Baekhyun merasa muak sekali. Baekhyun lelah. Ia sudah tidak tahan lagi, dan ia bahkan tidak bisa memikirkan kata-kata pedas untuk membuat adiknya itu berhenti protes padanya.
"Dengar," kata Baekhyun, menyela pidato panjang Taemin. "Aku tidak melakukan apa-apa padamu. Bukan salahku Appa ingin meninggalkan mobil itu di sini. Aku lebih suka kau yang dapat, percayalah. Karena sekarang aku terpaksa memarkir mobilku di jalur masuk, bukannya di garasi. Sekarang berhenti protes padaku, aku sangat lelah dan muak! Peduli setan denganmu!"
Baekhyun langsung menutup telepon dan mengakhiri pembicaraannya dengan saudaranya. Menghela napas lelah, ia beranjak ke kamarnya untuk berganti pakaian. BooBoo berjalan mengikutinya. Setelah berganti pakaian, Baekhyun duduk di pinggir ranjangnya dan memandang BooBoo. Ia tahu hampir tidak mungkin mendapatkan hiburan dari BooBoo, tapi diangkatnya juga kucing gembul itu dan diusap-usapkannya dagunya ke puncak kepala BooBoo. Kucing gembul itu menggeliat melepaskan diri dan meloncat ke lantai.
Baekhyun mendesah. Suasana hatinya semakin memburuk. Ia terlalu tertekan untuk duduk dan bersantai, makan malam, atau bahkan tidur sejenak. Kemudian ia berpikir untuk mencuci mobil saja. Sebenarnya Viper-nya tidak terlalu kotor, sudah dua minggu ini tidak turun hujan. Tapi Baekhyun suka mobilnya berkilauan. Kegiatan mencuci dan mengelap itu, di samping membakar habis stress-nya, juga memuaskan batinnya. Baekhyun sungguh-sungguh membutuhkan pemuas batin sekarang juga.
Setelah mengumpulkan lap mobil, ember, sabun pembersih mobil spesial yang tidak akan menghilangkan kemilau cat mobil, wax, dan pembersih jendela, Baekhyun membiarkan BooBoo keluar ke teras dapur sehingga kucing itu dapat melihatnya mencuci mobil. BooBoo mengambil tempat di bagian yang masih disinari cahaya matahari sore dan langsung tertidur.
Di jalur mobil tetangganya tidak tampak Pontiac cokelat penyok itu, jadi Baekhyun tidak perlu khawatir secara tak sengaja menyiram benda itu dan membangkitkan amarah Chanyeol. Dengan tekun Baekhyun mulai mencuci dan menyabuni mobilnya, per-bagian, sehingga sabun tidak sampai mengering dan menyebabkan bercak-bercak. Sabun khusus ini seharusnya tidak menimbulkan bercak, namun ia tidak mempercayainya. Ayahnya sudah mengajarinya cara mencuci mobil seperti ini, dan ia berlum pernah menemukan metode yang lebih bagus.
"Hei," tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Baekhyun dari belakang.
"Sialan!" jerit Baekhyun, sambil meloncat dan menjatuhkan lap bersabun. Jantungnya nyaris meloncat keluar.
Baekhyun memutar badannya, dengan selang air di tangannya. Chanyeol meloncat mundur saat air menyiram kakinya. "Hei, hati-hati!" teriaknya.
Baekhyun langsung tersulut kemarahannya. "Oke," katanya mengiyakan, dan kembali menyemprot wajah pria itu.
Chanyeol gelagapan dan terhuyung-huyung menepi. Baekhyun berdiri dengan tetap memegang selang, mengamati Chanyeol yang mengelapkan tangan ke wajahnya yang basah. Semprotan pertamanya, secara tidak sengaja, telah membasahkan celana kain Chanyeol mulai dari lutut ke bawah. Semprotan kedua tepat mengenai kemejanya. Bagian depannya basah kuyup, melekat pada kulitnya seperti plester. Baekhyun berusaha tidak memperhatikan dada Chanyeol yang bidang dan kokoh itu.
Mereka berhadapan seperti sedang berduel tembak-menembak, terpisah jarak tak lebih dari tiga puluh sentimeter. "Kau bajingan sinting, ya?" tanya Chanyeol setengah berteriak.
Baekhyun kembali menyemprot Chanyeol. Dengan penuh dendam disiramnya lelaki itu, dikejarnya dengan semburan air ketika Chanyeol mencoba menghindar dan berjingkat menjauh. "Jangan bilang aku sinting!" jerit Baekhyun, sambil menutup sebagian mulut selang dengan jarinya sehingga air menyemprot lebih kencang dan menjangkau jarak yang lebih jauh.
"Aku sudah muak denganmu, Taemin, semua orang di tempat kerjaku, semua badut-badut kantor yang bodoh itu, dan BooBoo merobek-robek bantal-bantalku! Aku mau muntah, dengar kau?" jerit Baekhyun, menyemprot wajah Chanyeol lagi.
Mendadak Chanyeol mengubah taktiknya, dari mengelak menjadi menyerang. Ia merunduk, seperti pemain garis belakang, tidak mencoba mengelak dari air yang diarahkan padanya. Baekhyun berusaha menghindar ke samping, tapi terlambat sekitar setengah detik. Bahu Chanyeol menumbuk perut Baekhyun, sehingga Baekhyun terdorong mundur sampai ke Viper-nya. Secepat belitan ular, Chanyeol merampas selang air dari cengkraman Baekhyun. Baekhyun meronta berusaha merebut kembali selangnya, tapi Chanyeol mendorongnya kembali ke Viper, menahan pemuda cantik itu dengan berat tubuhnya.
Keduanya tersengal-sengal. Chanyeol basah kuyup dari kepala hingga ujung kaki. Air merembes keluar dari pakaiannya dan masuk ke pakaian Baekhyun, hingga Baekhyun hampir sama basahnya. Baekhyun melotot pada Chanyeol, dan Chanyeol balas melotot juga. Hidung mereka hanya berjarak beberapa senti. Begitu dekat, hingga Baekhyun bisa melihat air yang menempel pada bulu mata Chanyeol.
"Kau menyemprotku," tuduh Chanyeol, seolah ia tidak percaya Baekhyun telah melakukan hal semacam itu.
"Kau menakuti-nakutiku," Baekhyun balas menuduh. "Itu kecelakaan."
"Itu untuk semprotan yang pertama. Kau sengaja melakukan yang kedua," kata Chanyeol, sangat yakin. Baekhyun hanya mengangguk. "Dan, kau bilang 'sialan' dan 'bangsat'. Kau hutang 50 dollar padaku," katanya lagi, mengingatkan.
"Aku membuat aturan baru. Kau tidak bisa memancing masalah, lalu mendendaku karenanya."
"Kau mengingkari janjimu sendiri?"
"Memang. Semua salahmu."
"Bagaimana bisa itu salahku?"
"Kau sengaja menakut-nakutiku, jangan bohong. Itu bukti pertama kesalahanmu."
Baekhyun mencoba menggeliat, berusaha meloloskan diri dari bawah himpitan tubuh Chanyeol. Sialan, lelaki itu berat, dan sama tak tergoyahkannya seperti lembaran logam dibelakangnya. Chanyeol menghentikan usaha Baekhyun meloloskan diri dengan semakin menghimpitnya. Air dari pakaiannya menetes ke kaki Baekhyun.
"Lalu apa yang kedua?" tanya Chanyeol.
""Kau bilang baj—" Baekhyun mengerem lidahnya sendiri. "Kedua kata yang kuucapkan tadi kalau digabung tidaklah sejelek satu kata yang kau ucapkan itu."
"Apa sekarang ada sistem nilai untuk kata-kata itu?" kata Chanyeol mengernyit.
Baekhyun melontarkan tatapan menghina. "Pokoknya, aku takkan mengucapkan salah satu kata itu tadi kalau (a) kau tidak menakut-nakutiku dan (b) kau tidak mengumpat duluan," ujarnya.
"Kalau kita bertanding menyalahkan di sini, aku tadi takkan mengumpat jika kau tidak menyemprotku."
"Dan aku takkan menyemprotmu jika kau tidak menakut-nakutiku. Dengar, sudah kubilang semua salahmu."
Baekhyun memiringkan dagunya ke Chanyeol, berusaha menunjukkan ketegasannya. Chanyeol menarik napas dalam. Gerakan dadanya semakin menekan dada Baekhyun, membuat Baekhyun tiba-tiba menyadari reaksi tubuhnya. Nipple-nya yang sensitif menyadari kehadiran lelaki bersurai silver itu.
Eh oh...
Baekhyun terbelalak waspada ketika Chanyeol menunduk menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca. "L-lepaskan aku," katanya, lebih gugup daripada yang di duganya.
"Tidak," tolak Chanyeol, masih tidak mengalihkan matanya dari pemuda mungil di depannya.
"Tidak!" ulang Baekhyun, mulai kesal. "Kau tidak bisa bilang tidak. Menahanku di luar kemauanku adalah melanggar hukum."
"Aku tidak menahanmu di luar kemauanmu. Aku menahanmu di luar mobilmu."
"Dengan paksa!"
Chanyeol mengangkat bahunya mengiyakan. Tampaknya ia tidak begitu peduli akan kemungkinan melanggar hukum karena menahan tetangganya. "Lepaskan aku," kata Baekhyun lagi.
"Tidak bisa," kata Chanyeol masih menolak.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan curiga. "Kenapa tidak?" tanyanya.
Sebenarnya Baekhyun takut mengetahui alasan itu. Alasan itu sudah beberapa menit yang lalu menonjol di balik celana kain basah Chanyeol. Baekhyun berusaha sekuat tenaga mengabaikannya, dan ia hampir berhasil dari pinggang ke atas. Dari pinggang ke bawah, ia telah melakukan kesalahan yang memalukan. Ia yakin, Chanyeol pun pasti menyadari hal ini. Seringaian menyebalkan yang bersembunyi di sudut bibir Chanyeol membuktikan hal itu. Rasa takut dan gairah seketika terasa menggelitik Baekhyun.
"Lepaskan aku, atau aku akan melakukan sesuatu yang akan kusesali," kata Baekhyun kemudian.
Chanyeol menggelengkan kepalanya, seolah ia tidak memahami dirinya sendiri. "Aku masih belum punya cambuk dan kursi. Tapi peduli setan, akan kutanggung resikonya," katanya.
"Tunggu—" kata Baekhyun, tapi terlambat. Kepala Chanyeol sudah menunduk, mempertemukan bibirnya dengan bibir Baekhyun.
Lalu senja itu terasa berputar menjauh. Dari jalan di kejauhan Baekhyun mendengar suara anak-anak memekik dan tertawa. Ada mobil lewat. Bunyi gunting pemotong tanaman terdengar samar-samar ditelinganya. Segalanya itu seperti jauh sekali dan terputus dari dunia nyata. Yang nyata adalah bibir Chanyeol yang berada pada bibirnya. Lidah Chanyeol beradu dengan lidahnya. Aroma tubuh Chanyeol yang maskulin masuk ke hidungnya dan mengisi paru-parunya. Dan rasa Chanyeol—oh. Chanyeol terasa seperti cokelat, seolah ia baru saja makan cokelat batang Delfi. Rasanya Baekhyun ingin melahapnya.
Baekhyun menyadari ia sedang mencengkram kain katun basah. Dalam sekejap, tanpa menghentikan ciumannya, Chanyeol melepaskan tangan Baekhyun dari kemejanya dan menyelipkannya ke sekeliling lehernya, membiarkan tubuhnya lebih melekat seluruhnya pada tubuh Baekhyun, mulai dari lutut sampai ke bahu.
Baekhyun tidak mengerti, bagaimana ciuman bisa sampai benar-benar merangsangnya? Namun bukan hanya ciuman, Chanyeol memakai seluruh tubuhnya, menggesek-gesekkan dadanya ke dada Baekhyun, menggerakkan bagian bawah tubuhnya yang terangsang ke perut Baekhyun dengan irama pelan dan halus namun sekuat gelombang samudra.
Baekhyun mendengar suara liar dan tercekik yang terlontar dari tenggorokannya, dan ia berusaha menaikkan kakinya ke tubuh Chanyeol, agar posisinya cukup tinggi sehingga Chanyeol dapat mencumbunya dengan lebih baik. Baekhyun benar-benar terangsang, tak berdaya, setengah gila dengan kebutuhan seks, dan rasa frustasi tiba-tiba menyerangnya dengan gencar.
Satu tangan Chanyeol masih memegang selang air. Ia melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Baekhyun dan mengangkatnya beberapa inci ke posisi yang diperlukan. Air memancar keras, menyemprot BooBoo hingga kucing itu melincat dan mendesis marah, lalu menyiram mobil dan membuat mereka berdua lebih basah lagi. Baekhyun tidak peduli. Yang dipedulikannya hanyalah lidah Chanyeol di dalam mulutnya, kedua kakinya yang melingkar di pinggul lelaki itu, dan tonjolan itu tepat di tempat yang diinginkannya.
Chanyeol bergerak—serangan-serangan halus dan berputar lagi—dan Baekhyun hampir mencapai puncaknya pada saat itu juga. Kukunya menancap pada punggung Chanyeol, ia mengerang dan melengkungkan tubuhnya dalam pelukan lelaki itu. Chanyeol menghentikan ciumannya. Napasnya tersengal-sengal, tatapannya membara dan liar.
"Ayo masuk," kata Chanyeol, begitu pelan dan parau hingga nyaris tidak bisa dipahami, tak lebih dari sekadar geraman.
"Tidak," erang Baekhyun. "Jangan hentikan!" ia melengkungkan tubuhnya lagi ke Chanyeol.
"Ya Tuhan!" mata Chanyeol terpejam, ekspresinya liar karena gairah yang nyaris tak terbendung. "Aku tidak bisa meneruskannya di sini. Kita harus masuk."
Seketika Baekhyun mengerjap tersadar. Oh, ya Tuhan, ia hampir melakukannya dengan lelaki ini dan ia belum siap untuk itu. Ia belum siap untuk sebuah seks tanpa ikatan, yang selalu dihindarinya.
"Tunggu!" jeritnya panik. Baekhyun mendorong bahu Chanyeol, menurunkan kakinya dari pinggul lelaki itu, dan meronta-ronta. "Stop! Lepaskan aku!"
"Stop?" kata Chanyeol dengan tidak percaya. "Kau baru saja bilang 'jangan hentikan' beberapa detik lalu."
"Aku berubah pikiran," Baekhyun masih mendorong bahu Chanyeol. Ia masih belum mempersiapkan dirinya.
"Kau tidak bisa berubah pikiran!" seru Chanyeol. Sekarang ia terdengar putus asa.
"Ya, aku bisa."
"Apa kau sakit herpes?"
"Tidak."
"Syphilis?"
"Tidak."
"Gonorrhea?"
"Tidak."
"AIDS?"
"Tidak!"
"Kalau begitu kau tidak bisa berubah pikiran."
Baekhyun terdiam dengan panik. Ia berusaha mencari alasan, namun tidak ada satupun yang melintas di kepalanya. Jika ia adalah seorang wanita, mudah saja ia berbohong dengan mengatakan sedang mengalami menstruasi sehingga ia tidak perlu melakukannya dengan Chanyeol sekarang. Tapi nyatanya ia adalah seorang lelaki yang tidak mungkin mengalami menstruasi, dan ia hanya tidak siap untuk melakukan seks dengan Chanyeol. Setidaknya, tidak sekarang.
Chanyeol memandang Baekhyun. Ia berpikir sesaat. Lalu ia menawarkan, dengan santainya seolah Baekhyun adalah perawan yang khawatir akan hamil jika melakukan seks pertama kali, "Aku bisa pakai kondom."
Baekhyun melemparkan tatapan menghina. Setidaknya, ia berharap tatapannya bisa membuat lelaki itu malu. Tapi sampai saat ini, Chanyeol memang luar biasa tak tahu malu. "Kau pikir aku wanita, eoh?" katanya dengan kesal. "Kalaupun aku seorang wanita, aku akan tetap berpikir dua kali untuk melakukannya denganmu meskipun kau memakai kondom. Tingkat keberhasilan kondom hanya sekitar 90 sampai 94 persen. Itu artinya, tingkat kegagalannya enam persen, paling tidak."
"Itu kemungkinan bagus," kata Chanyeol santai.
Baekhyun melemparkan tatapan menghina lagi. Akhirnya Chanyeol melepaskan Baekhyun dan melangkah mundur. Ia memandang Baekhyun dan akhirnya menyadari, "Kita belum sempat saling memperkenalkan diri, kan?" tanyanya.
"Kita tak pernah memperkenalkan diri," sahut Baekhyun merasa terpicu untuk mengatakannya langsung.
"Sialan," Chanyeol mengusap wajahnya. "Aku Park Chanyeol."
"Aku tahu kau siapa. Hyerin-ssi memberitahu. Aku Byun Baekhyun."
"Aku tahu. Dia juga memberitahuku."
Sejenak tidak ada yang bersuara. Chanyeol masih memandang Baekhyun, hingga akhirnya suaranya yang pertama terdengar. "Jadi, kau sedang punya masalah apa...dengan siapa? Oh ya. Taemin, semua orang di tempat kerjamu, badut-badut kantor yang bodoh itu, dan BooBoo. Benar, kan?"
Baekhyun terkesan dengan ingatan lelaki itu. Ia sendiri tidak mungkin dapat menyebutkan kembali daftar nama yang telah diteriakkan padanya ketika ia sedang disiram dengan air dingin. Ia mendesah sebelum kemudian menjawab,
"Taemin, adikku. Dia marah padaku karena Appa memintaku, bukan dia, untuk menjaga mobilnya. Dan kau tahu siapa BooBoo."
Chanyeol menoleh ke balik bahu Baekhyun. "Kucing yang ada di atas mobilmu itu?" tanyanya.
"Di atas—" Baekhyun langsung memutar badannya dengan ketakutan.
BooBoo sedang berjalan-jalan melintasi kap Viper milik Baekhyun. Baekhyun langsung menyambar kucing gembul itu sebelum sempat melarikan diri, dan dengan marah ia mengembalikannya ke rumah. Lalu ia bergegas ke Viper-nya dan membungkuk memeriksa kap mobilnya, mencari goresan sekecil apapun.
"Kukira kau juga suka kucing di atas mobilmu," ejek Chanyeol.
Baekhyun mencoba melemparkan tatapan menghina lagi pada Chanyeol, tapi itu tidak berhasil. "Mobilku tidak bisa dibandingkan dengan mobilmu," gerutunya, lalu ia terkejut ketika melihat jalur masuk Chanyeol kosong. Tidak ada Pontiac cokelat itu. Tetapi Chanyeol ada di sini.
"Dimana mobilmu?" tanya Baekhyun.
"Pontiac itu bukan punyaku. Punya pemerintah," jawab Chanyeol.
Baekhyun merasa lega tapi lemas. Ia bersyukur. Harga dirinya akan terpukul keras kalau ia sampai pernah tidur dengan pemilik rongsokan itu. Tapi kemudian Baekhyun berpikir sebaliknya, mungkin ia memerlukan Pontiac itu sebagai rem mental untuk dorongan seksualnya. Kalau mobil itu ada di sana, episode selanjutnya mungkin takkan melenceng jauh di luar kendali.
"Lalu kau tadi pulang naik apa?" tanya Baekhyun, mengedarkan pandangannya.
"Kuparkir Pikapku di dalam garasi. Supaya tidak kena debu, serbuk sari tanaman, dan kotoran burung," jawab Chanyeol.
"Pikap? Pikap jenis apa?"
"Chevy."
"Four-wheel-drive? Empat gardan?"
Melihat penampilan dan sikap Chanyeol yang sangat manly, Baekhyun pikir sepertinya Chanyeol jenis lelaki four-wheel-drive. Dan pertanyaan Baekhyun yang terlihat antusias itu membuat Chanyeol menyeringai bangga.
"Memangnya ada jenis lainnya lagi?"
"Oh, ya ampun," desah Baekhyun. "Boleh kulihat?"
"Tidak sampai kita menyelesaikan negoisasi kita."
"Negoisasi?" Baekhyun mengernyit mendengarnya.
"Ya. Tentang kapan kita akan menyelesaikan apa yang baru saja kita mulai."
Mulut Baekhyun ternganga seketika. "Maksudmu kau takkan memperbolehkanku melihat mobilmu sampai aku setuju tidur denganmu?"
"Benar," Chanyeol menganggukkan kepalanya.
"Sinting jika kau pikir aku sedemikian ingin melihat mobilmu!" seru Baekhyun tidak terima.
"Warnanya merah," kata Chanyeol lagi, menggoda.
"Oh, ya ampun," rengek Baekhyun. Ia sangat suka warna merah.
Chanyeol menyilangkan kedua lengannya sambil berkata, "Ajukan tawaranmu atau berhentilah merengek."
"Bukankah maksudmu tadi aku harus 'menyerah'?" kata Baekhyun memandang Chanyeol tidak mengerti.
"Aku bilang kita akan merundingkan kencan kita. Aku tidak bilang kita akan melakukannya sekarang. Tidak ada gunanya buatku mendesakmu sekarang."
Baekhyun berpikir dan mencoba-coba. "Akan kutunjukkan padamu pembangkit tenaga listrikku kalau kau tunjukkan padaku Pikapmu."
Chanyeol menggeleng. "Tidak mau."
Baekhyun terdiam. Hanya tertinggal satu penawaran lagi yang dimilikinya, yaitu mobil ayahnya. Ia belum pernah memberitahu siapapun tentang mobil ayahnya. Di mata teman-teman, ayahnya terkenal sangat paranoid dengan Sedan keluarga itu. Tetapi ini tawaran yang paling tinggi, kartu AS yang selalu disayang-sayang, yang tidak perlu diragukan lagi nilainya. Selain itu, Chanyeol seorang polisi. Mungkin tidak akan apa-apa membiarkannya melihat mobil itu, jadi ia akan tahu bahwa garasi Baekhyun membutuhkan perlindungan sepanjang waktu. Mobil itu memang diasuransikan, tetapi juga takkan ada gantinya.
"Akan kubolehkan kau melihat mobilku Appa-ku jika kau bolehkan aku melihatmu Pikapmu," kata Baekhyun penuh perhitungan.
Chanyeol tampaknya tertarik. Mungkin dari ekspresi Baekhyun, ia bisa membaca bahwa mobil ayah Baekhyun luar biasa. "Apa jenisnya?" tanyanya.
Baekhyun mengangkat bahu. "Takkan ku ucapkan di muka umum."
Chanyeol membungkuk dan menyodorkan telinganya. "Bisikkan kalau begitu."
Baekhyun mendekatkan mulutnya ke telinga lelaki itu dan merasa pusing mencium aroma lelaki itu yang kembali masuk ke hidungnya. Lalu ia membisikkan dua kata. Chanyeol tiba-tiba menegakkan tubuhnya hingga menabrak hidung Baekhyun.
"Aduh!" Baekhyun mengusap ujung hidungnya yang sakit.
"Biar kulihat," kata Chanyeol dengan suara paraunya.
Baekhyun menyilangkan kedua lengannya, menirukan gaya Chanyeol tadi. "Kita sudah sepakat? Kau lihat mobil ayahku, dan kulihat Pikapmu?"
"Oke, kau bisa pakai pikapku juga!" Chanyeol berbalik dan memandang garasi Baekhyun seakan-seakan itu sebuah Piala Suci. "Ada di dalam sana?"
"Aman dan terjamin."
"Asli? Bukan rakitan?"
"Asli."
"Ya ampun," desah Chanyeol, sambil mengayunkan langkahnya menuju garasi.
"Akan kuambil kuncinya," kata Baekhyun seraya berlari ke dalam rumahnya untuk mengambil kunci gembok, dan kembali menemui Chanyeol yang menunggu dengan tidak sabar.
"Hati-hati dan buka pintunya sedikit saja, asal cukup untuk masuk," kata Baekhyun memperingatkan. "Aku tak ingin ini kelihatan dari jalan."
"Ya, ya," kata Chanyeol mengambil kunci dari Baekhyun dan membuka gemboknya.
Mereka memasuki garasi yang gelap, dan Baekhyun meraba-raba mencari sakelar. Lampu di atas menyala, menyinari gundukan yang terselubung terpal hingga ke bawah. "Bagaimana caranya mendapatkan ini?" tanya Chanyeol setengah berbisik seolah-olah sedang ada di gereja. Tangannya terulur meraih ujung terpal.
"Ayahku tergabung dalam tim pengembangan," jawab Baekhyun.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tajam. "Ayahmu Byun Sunhwa?"
Baekhyun mengangguk mengiyakan. Erangan pelan terdengar keluar dari tenggorokan Chanyeol ketika ia mengangkat terpal itu. Dan Baekhyun tahu bagaimana perasaan Chanyeol saat ini. Ia sendiri selalu merasa terpana menatap mobil itu, dan ia tumbuh bersama mobil itu. Mobil itu tidak begitu berkilauan. Cat mobil di masa lalu tidaklah semengkilat cat sekarang. Warnanya abu-abu keperakan, tanpa kemewahan yang jadi pertimbangan konsumen sekarang.
"Astaga," kata Chanyeol seraya membungkuk untuk memandangi dengan takjub, berhati-hati untuk tidak menyentuh mobil itu.
Kebanyakan orang, 99%, tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Beberapa malahan cukup kurang ajar untuk melangkahi rangkanya yang rendah dan menyelinap ke balik kemudi. Tapi Chanyeol memperlakukan mobil itu dengan hormat, dan Baekhyun diserbu perasaan aneh. Kepalanya terasa agak melayang, dan semua benda dalam garasi mulai tampak kabur dalam pandangannya kecuali wajah Chanyeol. Baekhyun berkonsentrasi untuk menarik napas, mengerjap-ngerjapkan matanya, dan dalam sekejap dunianya kembali seperti semula.
Wow. Apa artinya semua itu tadi?
Chanyeol menyelubungi kembali mobil itu dengan lembut bagaikan seorang ibu yang menyelimuti bayinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia merogoh kunci-kuncinya dari dalam saku celana kainnya dan mengulurkannya pada Baekhyun. Baekhyun menerima kunci-kunci itu, lalu menunduk melihat pakaiannya.
"Aku basah," katanya.
"Aku tahu," sahut Chanyeol. "Sudah dari tadi aku melihat nipple-mu."
Baekhyun ternganga, baru menyadari bahwa kaos putih yang dipakainya kini telah basah dan melekat di tubuhnya, mencetak jelas nipple-nya. Dengan cepat-cepat ia menutupi dadanya dengan kedua tangannya. "Kenapa dari tadi kau tidak memberitahuku?" tanyanya jengkel.
Chanyeol mendengus mengejek. "Apa kau pikir aku gila? Pria gay mana yang akan melewatkan pemandangan gratis tersebut," ujarnya, membela diri.
Baekhyun berdecak pelan. "Kalau begitu tak apa-apa jika aku mengendarai Pikapmu tanpa ganti pakaian dulu," sahutnya.
Chanyeol mengangkat bahu dan berkata dengan santai, "Karena aku sudah kau bolehkan melihat mobil ini, ditambah nipple-mu, kukira aku hutang padamu."
Baekhyun sudah akan menyanggah bahwa ia tidak mengizinkan lelaki itu melihat nipple-nya—meski mereka sesama laki-laki—, bahwa Chanyeol telah melihatnya tanpa izin. Lalu ia teringat bahwa pagi itu ia telah melihat lebih banyak daripada nipple Chanyeol, dan ia memutuskan tidak melanjutkan pembicaraan itu.
Chanyeol bertingkah seolah-olah ia akan memberi Baekhyun pilihan. "Selain itu," katanya. "Kau sudah melihat penisku. Itu lebih tinggi daripada nipple."
Baekhyun mendengus. "Nilai tergantung pada siapa yang melihatnya. Dan aku sudah memberitahumu untuk menutupinya, kalau kau ingat."
"Setelah kau tonton berapa lama?"
"Hanya selama aku menelepon Hyerin-ssi dan mendapatkan nomor teleponmu," sahut Baekhyun dengan mantap, karena memang benar begitu. Memangnya kenapa kalau ia sudah ngobrol dengan nyonya tua yang ramah itu selama semenit? "Dan kau kelihatannya tidak menganggap itu penting untuk menutupinya. Tidak sama sekali, kau mondar-mandir melambaikannya seperti akan berlomba dengannya."
"Aku memang sengaja menggodamu."
"Tidak! Kau tak tahu aku sedang melihatmu."
Chanyeol mengangkat alisnya. Baekhyun melemparkan kembali kunci-kunci Chanyeol pada sang pemilik. "Aku takkan mengendarai Pikapmu sekarang walaupun kau meminta! Mungkin ada kutu di dalamnya! Kau suka pamer, menjijikan, besar nafsu..."
Chanyeol melempar-lemparkan kunci-kuncinya ke atas dengan satu tangan. "Kau bilang kau takkan tergoda?"
Baekhyun sudah akan mengatakan bahwa ia tidak tergoda sama sekali, tetapi lidahnya menolak mengucapkan sesuatu yang akan menjadi kebohongan terbesar dalam hidupnya. Chanyeol pun menyeringai.
Baekhyun berpikir, hanya ada satu cara untuk mendapatkan kembali kemenangannya. Ia berkacak pinggang, membiarkan nipple-nya tampak jelas dibalik lapisan kaos yang tipis dan basah. Bagaikan peluru kendali laser, tatapan Chanyeol langsung tertuju pada dada Baekhyun. Baekhyun melihat Chanyeol menelan ludah.
"Kau curang," kata Chanyeol dengan suara tertahan.
Baekhyun menyeringai, sebagai pembalasan atas seringaian Chanyeol tadi. Lalu ia membalikkan badan meninggalkan garasi. Chanyeol segera menyelinap mendahului Baekhyun. "Aku duluan," katanya. "Aku ingin melihatmu melangkah keluar ke tempat yang terang."
Kedua tangan Baekhyun kembali ke posisi menutupi dadanya dan memelototi pria jangkung itu. "Pemborosan," gerutu Chanyeol, dan menyelinap keluar dengan memiringkan badan melewati pintu yang terbuka hanya sedikit.
Tapi tiba-tiba Chanyeol kembali melangkah masuk sehingga nyaris menabrak Baekhyun. "Hey, kau mau mengundangku masuk ke rumahmu, mungkin memasakkan makan malam untukku? Kau bisa masak, kan?" tanyanya.
Baekhyun mendengus. "Jangan mimpi," katanya.
"Yah, itu sudah kuduga. Oke, kalau begitu kau mau pergi mencari makan?" tawar Chanyeol.
Baekhyun berpikir sejenak. Ada keuntungan dan kerugiannya kalau ia menerima ajakan itu. Yang jelas keuntungannya adalah ia tidak harus makan sendirian, apalagi ia tidak mau repot menyiapkan makanan sendiri. Kerugian besarnya adalah ia terpaksa melewatkan waktu lebih lama dengan Chanyeol. Berbahaya bila lebih lama bersama-sama lelaki ini. Satu-satunya hal yang telah menyelamatkannya tadi adalah mereka berada di tempat terbuka. Kalau Chanyeol membawa Baekhyun masuk ke Pikapnya, tidak perlu dikatakan lagi apa yang akan terjadi. Sebaliknya, Bakehyun ingin sekali mengendarai Pikap itu...
"Aku tidak memintamu mencari jawaban apa arti kehidupan," kata Chanyeol kesal karena Baekhyun tidak kunjung menjawab tawarannya. "Kau mau makan burger atau tidak?"
"Kalau aku ikut, kau tidak boleh menyentuhku," kata Bakehyun memperingatkan.
Chanyeol mengangkat kedua tangannya. "Sumpah," katanya. Lalu menambahkan, "Jadi kapan kita akan melakukannya?"
Baekhyun hanya mendelik memandangnya. Chanyeol nyengir. "Baiklah, kau mau makan sesuatu atau tidak?" tanyanya, mengalah.
"Aku lebih suka Chinesse food daripada burger," jawab Baekhyun.
Chanyeol menghela napas sesaat. "Baik. Kita akan makan Chinesse food."
"Aku suka restoran di dekat Namsan Tower itu."
"Baiklah. Sebaiknya kita ganti pakaian dulu. Lima menit."
Baekhyun segera berlari masuk ke rumah, ia sadar sekali bahwa Chanyeol juga bergegas pergi. Sambil berlari ke kamarnya, ia melepaskan pakaiannya. BooBoo mengikutinya, mengeong menuntut perhatian. Waktu makan malam kucing itu sudah lama lewat. Baekhyun menyambar pakaian yang kering dari lemari dan memakainya dengan cepat. Lalu ia berlari ke dapur dan membuka kaleng makanan BooBoo, menuangkan isinya ke piring kucing, memasukkan kakinya ke sandalnya, menyambar dompet dan ponselnya, dan keluar pintu tepat pada saat Chanyeol melejit keluar dari rumahnya dan menuju ke garasi.
"Kau terlambat," kata Chanyeol.
"Tidak. Lagipula, kau hanya ganti pakaian. Sedangkan aku ganti pakaian dan memberi makan kucing," kata Baekhyun seraya menghampiri Chanyeol.
Pintu garasi Chanyeol modern. Ia menekan tombol remote control di tangannya, dan pintu itu meluncur ke atas seperti sutra yang dilapisi minyak. Baekhyun mendesah, diserbu rasa iri akan pintu garasi itu. Pintu garasi miliknya masih manual dan itu sangan merepotkan. Lalu, dalam cahaya yang menyala secara otomatis ketika pintu membuka, Bakehyun melihat monster merah yang berkilauan itu. Pipa kembar krom. Batang besi krom. Ban-ban yang sangat besar sehingga Baekhyun terpaksa meloncat ke tempat duduk kalau Chanyeol tidak juga memasang batang-batang krom untuk menolong orang-orang yang tidak dikaruniai kaki sepanjang kakinya.
"Oh," Baekhyun menarik napas dan bertepuk tangan. "Ini tepat seperti yang kuinginkan sampai aku melihat Viper."
"Joknya panjang," kata Chanyeol, dan mengangkat alisnya dengan nakal pada Baekhyun. "Kalau kau benar-benar baik, kubolehkan kau mencumbuku di dalam mobilku."
Baekhyun berusaha tidak menanggapi. Syukurlah Chanyeol tidak menyadari betapa sangat lemah kendali dirinya, meskipun pikiran tentang mencumbu Chanyeol-lah yang lebih merangsangnya daripada tempatnya.
"Tidak mau komentar?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menggeleng.
"Oh, sialan," kata Chanyeol sambil memegang pinggang Baekhyun dengan kedua tangannya dan dengan mudah mengangkat pemuda manis itu ke dalam mobil. "Sekarang aku cemas."
*ChanBaek*
Tangan laki-laki itu memegang pena dengan sedikit gemetar. Ia mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan ingatan tentang orang itu masih menahannya. Laki-laki itu meletakkan pena dan memegang tangannya untuk menenangkannya. Orang itu adalah masa lalu. Tidak berarti, tidak penting. Orang itu tidak dapat menyakitinya lagi. Tidak dapat menertawakannya lagi.
Jangan kembali ke sana. Jangan mengingat apa yang terjadi.
Tapi ingatan yang tidak diinginkan itu membanjiri pikirannya. Laki-laki itu menekan jari-jarinya pada kedua sisi kepalanya dan menutup matanya. Jangan mengingat sore itu. Jangan memikirkan tentang itu. Jangan! Sial kau! Jangan!
Orang itu adalah segalanya. Dan ia memuja orang itu, saat orang itu bahkan tidak menganggapnya ada. Pertama kali orang itu tersenyum padanya, ia hampir mati di tempat. Dan saat orang itu berbicara padanya suatu hari, ia tidak dapat berkata-kata, lidahnya kelu. Orang itu sangat manis dan cantik, bersahabat dan baik, meskipun ia selalu mengumpat. Tapi itu manis.
Ia dapat melihat orang itu dengan jelas dalam pikirannya. Berambut cokelat, dengan mata cokelat yang selalu nampak berbinar cemerlang dan senyum hangat yang dapat melelehkan es di kutub utara. Bahkan hingga sekarang, ia masih dapat mencium aroma tubuh orang itu yang lembut. Ia mencintai orang itu dengan segala hasrat remaja umur belasan tahunnya yang lugu, muda dan tidak berpengalaman. Seorang kutu buku yang aneh.
Tiba-tiba emosi terasa mencekat tenggorokannya. Memori-memori tersebut terasa manis dan pahit. Kesenangan pada awalnya dan penyiksaan tiada tara pada akhirnya. Untuk kesekian kalinya, air mata mengaburkan pandangannya.
Tawa orang itu menggema dalam pikirannya. Tidak peduli berapa tahun telah terlewat, betapa keras ia mencoba melupakan, ia tidak dapat terlepas dari tawa mengejek itu. Merasa marah, laki-laki itu memukul sisi dan bagian atas kepalanya dengan telapak tangannya.
"Keluar kau dari kepalaku, keparat! Kau jalang kecil jahat!" teriaknya. Lalu kegelapan muncul dibalik kelopak matanya yang tertutup, diikuti pusaran merah tua dan kilatan cahaya putih yang menarik si jalang jahat dari dalam kepalanya.
Nah, itu lebih baik. Orang itu sudah hilang sekarang. Kau tidak harus memikirkannya. Berkonsentrasilah pada cinta barumu. Pikirkan tentang Do Kyungsoo. Majulah dengan rayuanmu. Kau harus menyelesaikan gambar itu. Jadi kau dapat meletakkannya di plastik bersama dengan kalung untuk hadiah selanjutnya.
Sebelum mengambil pena, laki-laki itu melihat pada sketsa yang belum selesai dan tersenyum. Ia tidak memiliki kehormatan untuk melihat Kyungsoo tanpa busana. Belum. Tapi ia tahu tubuh pemuda itu, setiap bagiannya yang indah. Ia berharap mereka telah menjadi kekasih, berharap Kyungsoo telah terbaring di bawah tubuhnya sambil mengatakan padanya bahwa pemuda itu mencintainya, memohon padanya untuk bercinta dengannya.
"Tidak lama lagi Do Kyungsoo'ku yang manis. Tidak lama lagi," gumamnya.
Laki-laki itu mengangkat pena dan menambahkan nuansa lembut yang membuat sketsanya menjadi hidup. Menambahkan arsiran yang tepat untuk membuat nipple Kyungsoo nampak berdiri tegang. Lalu ia melanjutkan, menyelesaikan jari-jari tangan kanan pemuda itu yang seakan-akan mencoba menutupi kemaluannya dengan sopan. Ia tersenyum, menyeringai tidak sabar.
Tbc.
