Part 6 update! Part ini akan lebih fokus pada kasus yang sedang tangani oleh Chanyeol cs. Bagian ini cukup penting untuk kelanjutan cerita. Btw, have a good day ^^
.
.
.
Part 6
Malam mulai larut perlahan saat Kyungsoo tiba di apartemennya. Ia baru saja kembali dari kencannya yang telah diatur oleh ibunya dengan seorang duda tampan yang juga seorang dokter. Ibunya sudah menyerah untuk menjodohkan Kyungsoo dengan wanita, berbagai jenis wanita. Kini wanita paruh baya itu sudah tidak peduli, entah itu pria atau wanita, ia hanya ingin Kyungsoo cepat menikah. Tetapi satu jam hingga kencan mereka berakhir, Kyungsoo dibuatnya bosan setengah mati karena yang dibicarakan oleh pria itu hanyalah anak-anak dan mendiang istrinya.
Kyungsoo berjalan ke dapur dan mengambil telepon tanpa kabel yang ia tinggalkan di atas meja dapur sore tadi. Ia menekan nomor Baekhyun, dan pada dering ke dua teleponnya dijawab. Suara renyah sang sahabat terdengar di ujung telepon.
"Baekhyun-ah," sapa Kyungsoo.
"Oh, Kyungie. Kau sudah kembali? Bagaimana dengan kencanmu?" tanya Baekhyun penasaran.
"Aku hampir mati bosan. Sepanjang kencan dia terus berbicara tentang anak-anak dan mendiang istrinya," keluhnya.
Baekhyun terkikik. Kyungsoo membuka kulkas dan mengambil sebotol jus jeruk. Seraya menelepon ia berjalan ke ruang tv dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang empuk. Lalu ia mulai bercerita pada Baekhyun tentang kencannya yang membosankan tadi, dan Baekhyun pun kembali terkikik di ujung telepon.
Kyungsoo dan Richard Park telah berpisah enam bulan yang lalu, dan kini Kyungsoo memutuskan untuk kembali ke peredaran. Secara total, ia sudah lima kali berkencan dalam beberapa bulan terakhir dan tidak satu pun dari pria-pria itu diajaknya untuk kencan kedua. Ya, Kyungsoo memang pemilih. Oh, pemuda berwajah innocent itu juga pernah mencoba untuk kembali berkencan dengan wanita, tapi itu tidak pernah berhasil dengan baik.
"Bagaimana dengan dua orang yang pernah aku jodohkan padamu waktu itu? Kau tidak tertarik dengan salah satu dari mereka?" tanya Baekhyun.
"Yah, sebenarnya, satu-satunya yang menarik dari dua orang temanmu itu adalah Shim Changmin," jawab Kyungsoo.
"Ah, Changmin hyung pria yang baik. Dia baru bercerai."
"Aku tahu, dia pernah menceritakannya padaku saat kencan. Tetapi dia tidak pernah menghubungiku lagi setelah itu. Mungkin aku bukan tipenya."
"Apa kau mau kukenalkan dengan yang lain? Aku masih punya banyak stock."
Kyungsoo tertawa. Setelah mengobrol selama tiga puluh menit Kyungsoo memutuskan teleponnya. Ia meletakkan telepon tanpa kabel itu di atas meja. Ia mengambil majalah dan remote tv, bergulung di sofa, menyalakan tv dan meletakan remote di sampingnya, lalu membalik-balik majalah. Sepuluh menit kemudian telepon berbunyi. Kyungsoo menekan tombol "MUTE" pada remote dan beranjak duduk, lalu meraih telepon tanpa kabel yang berdering di atas meja. Sejenak ia memandang nomor yang muncul pada layar kecil di telepon tanpa kabel miliknya. Itu nomor telepon umum.
"Nomor telepon umum? Anehnya," kata Kyungsoo mengernyit.
Setelah memikirkan apakah harus menjawab atau membiarkan mesin penjawab mengangkatnya, Kyungsoo membiarkan telepon berdering empat kali lalu cepat-cepat menekan tombol ON dan berkata,
"Halo?"
"Do Kyungsoo?" sebuah suara yang tidak dikenal menjawab di ujung telepon. Pada saat itulah Kyungsoo menyadari bahwa suara laki-laki itu terdengar aneh. Suara baritone yang dalam dan parau.
"Siapa ini?" tanya Kyungsoo.
"Aku pengagum rahasiamu."
Udara dingin sekejap menjalari tulang Kyungsoo. Dalam diam ia berkata pada dirinya sendiri, Jangan bereaksi berlebihan Do Kyungsoo. Jangan menganggap laki-laki ini orang sakit jiwa. Dia mungkin saja Suho yang mencoba bersikap romantis, memilih untuk merayumu sebagai pengagum rahasia terlebih dahulu, sebelum mengungkapkan identitas aslinya.
"Kenapa kau merahasiakan identitasmu?" tanya Kyungsoo lagi.
"Aku akan memberitahu identitasku di saat yang tepat," laki-laki itu berkata padanya. "Tetapi untuk saat ini...tidur yang nyenyak Kyungsoo'ku yang manis, dan bermimpilah tentang kekasih rahasiamu yang mendambakan untuk menyentuhmu, untuk membisikkan soneta cinta di telingamu, untuk mewujudkan setiap fantasimu."
Kyungsoo terengah perlahan. Meskipun ia adalah seorang laki-laki dan kata-kata itu lebih cocok ditujukan pada wanita, tapi tak dapat disangkal bahwa ia merasa senang mendengar kata-kata pria itu, dengan gambaran setiap kata-kata pria itu terlukiskan di dalam pikirannya. Gambaran ia dan Suho bersama.
"Tolong katakan padaku..."
Nada sambung telepon menyadarkan Kyungsoo pada fakta bahwa laki-laki itu telah mengakhiri percakapan mereka. Kyungsoo menutup matanya dan menghela napas panjang. Yah, malam ini ternyata tidak berakhir begitu membosankan.
Apakah laki-laki itu akan menelepon lagi malam ini? Tidak, mungkin tidak. Mungkin besok atau besok malam, pikirnya.
Di satu pihak Kyungsoo berharap Suho akan menunjukkan diri dan mengajaknya berkencan, tetapi di lain pihak ia berpikir sungguh romantis dan agak manis bahwa laki-laki itu telah memikirkan cara yang unik untuk memulai sebuah hubungan.
Bagaimana jika itu bukan Suho? Tentu saja, itu Suho. Siapa lagi kalau bukan dia?
Kyungsoo meletakkan telepon di samping remote. Selama beberapa menit, ia menatap layar tv yang tidak bersuara dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinannya. Jika pengagum rahasianya bukan Suho, lalu siapa? Ia tidak bisa memikirkan orang lain yang bisa melakukan sesuatu yang tidak lazim dan romantis.
Ya, itu pasti Suho.
Kyungsoo menekan lagi tombol "MUTE" untuk mengembalikan suara pada tv dan mencoba memperbarui ketertarikannya pada tayangan yang sedang ia tonton. Tetapi pikirannya tetap berkelana, berubah-ubah antara membayangkan Suho dan bertanya-tanya apakah ia harus tersanjung atau khawatir dengan permainan yang—dianggapnya—Suho mainkan?
*ChanBaek*
Lay memandang jam tangannya. Ini sudah pukul sebelas kurang dua puluh menit. Kemudian ia memandang Yunho, Kai dan Chanyeol yang sedang memegang cangkir kopi mereka yang ketiga dan membicarakan kembali situasinya. Lay kembali memandang jam tangannya dan mendesah pelan. Sepertinya ini akan jadi malam yang panjang.
"Kurasa kita bisa menyisihkan Nickhun," kata Kai. "Laki-laki itu tidak berdaya. Dia di bawah perawatan dokter selama lebih dari seminggu ini, dibius hampir sepanjang waktu, dan jika kau pernah melihat suami yang berduka..."
"Aku setuju," kata Yunho. "Tetapi tanpa sang suami sebagai tersangka, siapa lagi yang bisa kita curigai?"
"Tidak seorang pun," jawab Kai. "Setidaknya untuk malam ini. Tetapi seseorang tahu sesuatu, bahkan jika mereka pikir mereka tidak tahu. Pekerjaan kita adalah menggali lebih dalam sehingga kita bisa menghasilkan skenario yang dapat kita pergunakan. Seorang yang tidak waras menculik Victoria, memperkosa dan menyiksanya selama dua minggu, lalu membunuhnya. Apakah dia memiliki persoalan pribadi dengan Victoria? Atau mungkin saja Victoria kebetulan berada pada waktu dan tempat yang salah?"
"Dan bagaimana pria itu bisa menculik Victoria dari tempatnya bekerja tanpa seorang pun menyadarinya? Dimana dia menyembunyikan Victoria selama tiga belas hari?" sahut Lay. Kemudian ia menoleh pada Chanyeol yang tidak banyak bicara sejak tadi. "Apakah menurutmu dia akan melakukannya lagi, Chanyeol?"
"Ya," Chanyeol bersuara.
Semua mata tertuju padanya. Chanyeol menyesap cangkir kopinya dengan pelan. "Maksudmu, saat ini kita menghadapi seorang pembunuh berantai?" tanya Yunho.
Chanyeol mengangguk. "Ini bukan kasus pertama dari jenis ini yang kalian ketahui, bukan? Dan Victoria bukan korban yang pertama," jawabnya.
"Tidakkah kau terlalu cepat menyimpulkan?" Yunho menatap Chanyeol tajam. "Tidakkah kita seharusnya menunggu laporan autopsi resmi dan temuan forensik lain sebelum menduga apapun tentang kasus ini?"
"Tidak ada yang terlalu cepat menyimpulkan, Yunho sunbaenim," kata Kai. "Dan kita tidak menduga apapun. Tetapi setiap pendapat berarti. Kita tidak mengecualikan apapun pada tahap ini."
Kemudian Kai berbalik menghadap Chanyeol. Chanyeol meletakkan cangkir kopinya yang hampir kosong dan mengangkat kepalanya. Katanya, "Sebenarnya aku tidak suka menganggu suami dan keluarga Victoria, tetapi kupikir kita harus berbicara kembali dengan mereka dan memeriksa rumahnya."
"Kau masih berpikir bahwa suami Victoria mungkin pelakunya?" Lay bertanya.
"Tidak juga," kata Chanyeol. "Tetapi ada kemungkinan bahwa ada sesuatu yang tidak mereka katakan pada kita."
"Mengapa mereka harus menyembunyikan sesuatu dari kita?" mata Lay mengecil hingga membentuk garis. "Mereka mati-matian mencari Victoria. Mereka telah melakukan apapun untuk—"
"Aku tidak mengatakan bahwa mereka dengan sengaja menyembunyikan sesuatu dari kita," potong Chanyeol. "Tetapi suami dan orang tua Victoria berada di bawah tekanan emosi yang tak tertahankan sehingga dapat dengan mudah melupakan atau mengesampingkan sesuatu yang mereka anggap tidak penting. Bukankah kalian semua mengatakan bahwa si suami berada di bawah pengaruh obat bius selama tujuh atau delapan hari ini?"
Kai terdiam sesaat. "Aku mengerti maksudmu, hyung. Kau benar," katanya kemudian. "Aku akan menghubungi Daniel pagi-pagi sekali dan mengatur agar kita bisa berbicara dengan suami Victoria serta orang tuanya dan meminta izin dari Nickhun untuk memeriksa rumahnya."
"Nickhun akan berpikir dia dicurigai," ujar Yunho. "Bahkan jika dia tidak bersalah, dia cenderung akan bungkam dan menyewa pengacara."
"Tidak jika kita menanganinya dengan benar," sahut Chanyeol, melirik ke arah Kai. "Kita tidak memiliki alasan apa pun untuk mencurigai Nickhun dan dia perlu tahu hal itu sebelumnya. Tetapi jika dia tidak memperbolehkan kita memeriksa rumahnya, yah..."
Yunho terdiam cukup lama. Nampaknya ia sedang menimbang-nimbang sesuatu. Di satu pihak Yunho masih berpikir bahwa kasus ini akan lebih baik bila ditangani oleh timnya, tapi di pihak lain ia pikir ide Chanyeol tidak terlalu buruk. Chanyeol memang masih muda, tapi pikirannya sangat tajam. Meski tidak suka, ia memang harus mengakui bahwa detektif muda itu tidak bisa dianggap remeh. Yunho sedikit merengut dengan pemikirannya.
"Baiklah. Itu terdengar bagus untukku," akhirnya Yunho berkata seraya berdiri dari kursinya dan memandang Kai serta Chanyeol. "Mungkin kasus ini memang lebih baik ditangani oleh kalian. Tapi jika kalian melakukan satu kesalahan kecil, aku akan meminta pimpinan untuk memberikan kasus ini pada timku. Dan pimpinan tidak akan bisa menolaknya. Semoga berhasil."
Kai dan Chanyeol menyeringai senang. Yunho menjabat tangan Kai dan Chanyeol, membungkukkan kepalanya dengan sopan pada Lay, kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan. Sepeninggalnya sang senior, Kai dan Chanyeol saling memandang dengan tatapan puas. Mereka kembali menyeringai. Pada akhirnya ini tetap menjadi kasus mereka sekarang.
Lay berdiri dan merenggangkan ototnya. "Apakah aku sudah bisa pergi sekarang? Aku masih ada janji kencan tengah malam dengan kekasihku," katanya.
Kai mengernyit, memandang Lay dengan tatapan tidak percaya. Seolah lay adalah hantu yang hanya bisa pergi kencan di tengah malam. Sementara Chanyeol hanya terkekeh. "Ya, pergilah. Besok pukul tujuh pagi kau sudah harus datang. Jangan terlambat, hyung," ujar Kai.
"Tidak masalah," sahut Lay seraya berjalan pergi.
*ChanBaek*
Ini sudah pukul 11.30 malam saat Lay memarkirkan mobilnya di jalan dan berjalan melalui gang menuju rumah sang kekasih, Suho. Ia berputar ke pintu belakang dan mengetuk kaca rumah Suho. Ia tahu Suho kecewa saat ia meneleponnya untuk membatalkan rencana akhir pekan mereka. Tidak hanya rencana akhir pekan mereka, bahkan Lay telah membatalkan kencan mereka tiga hari lalu. Suho memang bisa mengerti bahwa Lay adalah seorang detektif polisi dan kasus pembunuhan Victoria mengharuskan Lay untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Tetapi meski begitu Lay tahu bahwa kekasihnya itu merasa kecewa, karena itu ia datang malam ini untuk menebus kencan dan rencana akhir pekan mereka yang telah batal.
Lay menunggu hingga Suho datang ke pintu. Ketika Suho tidak juga datang, ia mengetuk lagi dan memanggil sang kekasih dengan lembut, "Sayang..."
Lay mendengar langkah kaki dari dalam dapur yang gelap. Lalu bunyi klik yang jelas dari gerendel kunci yang dibuka. Tepat saat pintu terbuka, tubuh Lay tertarik masuk. Suho menendang pintu untuk menutup di belakangnya dan memeluk kekasihnya.
"Pelan-pelan," kata Lay. Ia terkikik saat Suho menyentakkan badannya.
"Aku tidak bisa pelan-pelan, sayang. Aku merindukanmu. Aku menginginkanmu," kata Suho nyaris berbisik.
"Paling tidak kau bisa menunggu hingga kita tiba di kamar. Aku menjalani hari yang panjang dan melelahkan, dan aku tidak ingin berakhir dengan pantatku dihempaskan di lantai atau dinding."
"Ah, sayang, kau menyukai cara apapun yang kulakukan."
Lay hanya tersenyum. Saat Suho mengangkatnya dari lantai, Lay melingkarkan kakinya di pinggul Suho dan menggerakkan kepalanya ke belakang. Lay berpegangan pada Suho. Ia menyemangati sang kekasih untuk mempercepat langkah saat membawanya keluar dari dapur, ke lorong, lalu ke kamar.
"Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi, sayang," kata Suho saat ia membaringkan Lay di atas ranjang.
Lay hanya tersenyum dan menyambut percintaan panas yang selalu ia sukai. Setelah kehabisan tenaga, Suho berguling dan berbaring di samping Lay. Ia tersenyum saat Lay bergelung di dadanya. "Istirahatlah. Lain kali aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah," katanya.
"Pasang alarmnya, sayang. Aku harus berangkat sebelum fajar besok. Kai menyuruhku untuk datang pukul tujuh pagi," beritahu Lay.
Suho pun memasang alarm wekernya, kemudian memeluk sang kekasih. "Aku memasang alarmnya jam empat. Itu akan memberi kita waktu untuk bercinta di pagi hari," katanya di telinga Lay. Sambil tertawa kecil, Lay menutup matanya dan bergelung di dada Suho.
*ChanBaek*
Pukul sembilan pagi Chanyeol, Kai dan Lay tiba di rumah keluarga Victoria. Petugas Daniel telah tiba di sana lebih dulu. Nickhun dan orang tua Vitoria menyambut mereka dengan wajah yang masih tersisa dengan kesedihan. Setelah sedikit berbasa-basi Kai meminta orang tua Victoria dan Nickhun untuk keluar bersama dan duduk di beranda untuk berbicara dengannya. Sementara Chanyeol dan Lay memeriksa rumah.
Kai bersandar ke belakang dan mengajukan pertanyaan pada orang tua Victoria dan Nickhun tentang sesuatu yang mungkin mereka semua anggap tidak penting, yang dapat membantu penyelidikan mereka. Kai bertanya tentang kemungkinan seseorang yang ingin menyakiti Victoria, seseorang yang kecewa pada Victoria atau menyimpan dendam pada salah satu dari mereka? Tapi ternyata tidak banyak yang Kai dapatkan, sampai Nickhun berkata,
"Aku tidak kenal seorang pun, kecuali mungkin semua mantan kekasih Victoria. Mereka pasti cemburu karena aku mendapatkan Victoria," kemudian dengan gugup Nickhun menambahkan, "Aku...aku tidak serius tentang mantan kekasih. Satu-satunya kekasih Victoria sebelum aku adalah Taecyeon."
"Taecyeon anak yang baik," kata ayah Victoria. "Lagipula, Taecyeon yang meninggalkan Victoria."
"Mungkin Taecyeon-lah yang mengakhiri semuanya, tetapi aku berpikir bahwa dia berharap dia tidak mengakhirinya," kata Nickhun.
"Apa yang membuatmu berpikir demikian?" tanya Kai.
Nickhun menatap orang tua istrinya sejenak, lalu berkata, "Victoria mendapat beberapa pesan dan hadiah kecil dari Taecyeon bulan lalu. Dia menunjukkannya padaku dan aku mengatakan padanya, jika Taecyeon menelepon atau mengganggunya, dia harus mengatakan padaku dan aku akan bicara dengan Taecyeon. Kau tahu, aku bisa memukuli Taecyeon hingga babak belur jika dia macam-macam dengan Victoria."
"Apa kau mengatakan bahwa Taecyeon melecehkan Victoria?" tanya Kai menatap lurus ke arah Nickhun.
"Ah, tidak seperti itu. Setelah beberapa pesan dan hadiah, tidak ada lagi yang terjadi. Kupikir saat Victoria tidak menanggapi, Taecyeon mengerti bahwa Victoria telah menikah dan bahagia," jawab Nickhun.
"Kenapa kau tidak mengatakan ini pada kami sebelumnya?" tanya Kai lagi.
"Aku tidak memikirkan hal itu," Nickhun mengakui. "Itu bukan sesuatu yang penting. Seperti yang sudah kukatakan, tidak ada lagi yang terjadi setelahnya."
Kai bertanya pada orang tua Victoria tentang alamat rumah dan nomor telepon Taecyeon. Ibu Victoria memberitahu dan Kai mencatatnya pada buku kecilnya. Kai pikir tidak ada ruginya menanyai pria bernama Taecyeon ini. Seraya meneruskan percakapan dengan orang tua Victoria, Kai sesekali melihat jam tangannya dan bertanya-tanya dalam pikirannya, berapa lama waktu yang dibutuhkan Chanyeol dan Lay untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap rumah ini.
Kai semakin bertambah yakin bahwa orang tua dan suami Victoria tidak mengetahui apapun yang dapat membawa secercah cahaya baru dalam kasus ini, selain informasi tentang Taecyeon, yang menurut firasat Kai mungkin tidak akan menghasilkan apapun. Kecuali jika Nickhun belum mengatakan semua yang diketahuinya. Tetapi sepertinya pria itu sudah bersikap terbuka.
Setelah kehabisan pertanyaan, Kai membiarkan petugas Daniel mengambil alih sementara ia duduk dan mendengarkan. Daniel berbicara pada keluarga itu, mengenang tentang Victoria dan memberikan mereka kesempatan untuk mengenang masa-masa bahagia. Pintu depan terbuka dan Chanyeol muncul di beranda. Pandangan Chanyeol bertemu dengan Kai. Chanyeol mengangguk sebagai tanda agar Kai datang ke arahnya. Kai pun berdiri dan melangkah menuju pintu.
Kai berjalan mengikuti Chanyeol masuk ke ruang tamu. Chanyeol menutup pintu di belakangnya dan berkata, "Kami menemukan sesuatu yang menarik."
Jantung Kai berdebar. Ia segera berdoa pada Tuhan, berharap Tuhan tidak membiarkan ada bukti yang mengarah pada Nickhun. Nickhun sepertinya pria yang baik, pria yang mencintai istrinya.
"Lay hyung menemukan benda-benda ini di sebuah kotak dalam peti kayu cedar di kamar kedua," kata Chanyeol. "Kotaknya diikat dengan tali dan diletakkan di bawah beberapa selimut."
"Apa yang ada di dalam kotak itu?" tanya Kai.
"Coba kau lihat sendiri. Lay hyung sangat berhati-hati menanganinya," jawab Chanyeol seraya memberikan sepasang sarung tangan pada Kai.
Kai mengambilnya, menyarungkan kedua tangannya, lalu mengikuti Chanyeol menyusuri lorong dan masuk ke dalam sebuah kamar tidur. Lay menoleh dan mendekati Chanyeol. "Apa kau mengatakannya pada Kai?" tanyanya.
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Kupikir dia ingin lihat sendiri," jawabnya.
*ChanBaek*
Mereka membawa hasil temuan tersebut ke kantor polisi dan memeriksanya bersama di ruangan kerja tim. Kai memegang benda-benda itu dengan sangat hati-hati. Ia mempergunakan waktu dengan baik untuk mempelajari detailnya, saat Lay memberikan benda-benda itu padanya satu per satu. Yang pertama adalah sebuah catatan yang ditulis dengan tinta hitam pada sebuah kartu putih yang bisa dibeli di hampir semua tempat yang menjual alat tulis. Pesannya singkat dan jelas, menyanjung penerimanya, dan romantis dengan cara yang menyeramkan.
"Nickhun mengatakan padaku bahwa salah satu kekasih lama Victoria mengirimkan beberapa pesan dan hadiah. Ini pasti pesan-pesan itu," kata Kai.
Tetapi ada sesuatu yang salah dengan benda-benda ini. Catatannya tidak bernama, dan kata-katanya tidak seperti sesuatu yang biasa ditulis oleh seorang mantan kekasih. Tidak, Kai menebak pesan-pesan ini dikirim oleh seorang calon kekasih.
"Kenapa Nickhun tidak menyebut tentang pesan-pesan ini sebelumnya?" tanya Chanyeol.
"Dia melupakannya karena dia kira tidak penting," jawab Kai.
"Aku tidak percaya seorang suami bisa lupa dengan benda-benda ini," ujar Lay. "Terutama sketsanya."
"Sketsa apa?" tanya Kai. "Nickhun tidak mengatakan apapun tentang sketsa."
"Jadi, antara Nickhun berbohong atau Victoria tidak membagi semua hadiah kecilnya dengan suaminya," kata Chanyeol menunjuk pada setumpuk kecil kertas yang dipegang Lay di tangannya yang bersarung tangan.
"Coba kulihat," Kai mengulurkan tangan dan menerima benda-benda yang diserahkan Lay padanya.
Benda pertama adalah sketsa Victoria, digambar dengan pensil. Hanya wajahnya saja, dengan sedikit bahunya yang telanjang. Sebuah sketsa yang sangat akurat. Senimannya jelas-jelas berbakat. Kai membalik-balik beberapa foto Victoria, tentu saja diambil dari jarak jauh, dan jelas bahwa Victoria tidak sadar sedang dibidik kamera. Satu foto Victoria di teras depan rumahnya. Foto lain menggambarkan saat Victoria keluar dari supermarket dengan membawa beberapa kantong belanja. Semuanya ada enam foto yang diambil di lokasi yang berbeda dan sepertinya di hari yang berbeda.
"Laki-laki itu menguntit Victoria," ujar Kai.
"Ya," sahut Chanyeol. "Teruskan. Akan bertambah buruk."
Kai menyerahkan kembali sketsa pertama dan foto-foto ke Lay kemudian melihat sisa sketsa yang lain, mungkin sekitar selusin. Kali ini adalah sketsa tinta Victoria setengah telanjang dengan satu payudara terlihat dan putingnya berkerut rapat. Satu tangan Victoria diselipkan dengan seronok di bagian atas antara kedua pahanya dan jari tengah kanannya dimasukan ke dalam mulutnya, menekan bibirnya terpisah.
"Ya Tuhan, apakah Victoria berpose untuk ini atau senimannya menggambar berdasarkan ingatannya?" kata Kai terkejut. "Kita benar-benar harus menanyai mantan kekasih Victoria."
Kai membuka dan melihat sketsa yang lain. Dalam sketsa yang ini, Victoria benar-benar telanjang. Hanya seutas kalung dengan bandul batu yang indah melingkar di sekeliling leher Victoria dan ekspresi wajahnya benar-benar mengganggu. Ia terlihat seperti seorang wanita di puncak orgasme.
"Tuhan!" pekik Kai.
"Amin!" kata Lay.
Kai tidak sadar bahwa ia menyuarakan kata itu dengan keras hingga Lay berbicara. Sketsa-sketsa selanjutnya lebih mengganggu dari yang sebelumnya. Empat sketsa terakhir menggambarkan Victoria dalam pose S&M—sado masochism, seks dengan kekerasan. Victoria di ikat. Mulutnya disumbat. Dirantai. Tubuhnya dikotori oleh tanda-tenda bulatan kecil dan bekas gigitan. Rasanya Kai ingin muntah melihat semua sketsa-sketsa itu.
"Benar-benar kasar," kata Chanyeol.
"Pertanyaannya adalah apakah si seniman menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan ini, atau pada suatu waktu, entah di masa lampau, atau baru-baru saja, Victoria berpose untuknya?" tanya Lay melihat dari Kai ke Chanyeol.
"Jika kau tanya pendapatku, aku akan mengatakan laki-laki itu menggunakan imajinasinya yang sakit," jawab Chanyeol.
Kai mengangguk setuju. "Kecuali ada suatu bagian dari diri Victoria yang tidak diketahui siapa pun, aku setuju dengan Chanyeol hyung," katanya.
"Ada beberapa benda lain," Lay menunjuk pada kotak terbuka di atas peti kayu cedar. "Hadiah-hadiah kecil. Seuntai kalung batu. Sebotol parfum. Sebuah cincin."
"Hadiah-hadiah yang akan diberikan seorang pria pada kekasihnya? Tapi kenapa harus benda-benda seperti ini?" kata Kai berpikir.
"Pertanyaan bagus," kata Chanyeol. "Apakah itu benda-benda yang laki-laki itu tahu disukai oleh Victoria? Atau itu benda-benda yang diinginkannya dipakai oleh Victoria?"
Kai terdiam selama beberapa saat. Kemudian sang pemimpin tim tersebut memerintahkan Lay untuk membawa benda-benda itu ke tima forensik hari ini dan mencoba mendapatkan laporan awal untuk mereka. Semetara ia dan Chanyeol akan menindaklanjuti tentang kekasih lama Victoria, juga meminta dari keluarga Victoria daftar nama lelaki yang pernah ada dalam kehidupan Victoria, selain ayah dan suaminya.
"Itu pasti daftar yang panjang," kata Chanyeol. "Victoria bekerja di Mc Donald siang hari dan pergi kuliah di malam hari. Dia juga datang ke gereja secara teratur. Daftar nama pria dalam kehidupannya bisa berjumlah seratus atau lebih."
"Kita mulai dengan mantan kekasih, lalu berlanjut ke setiap pria yang menunjukkan ketertarikan tertentu pada Victoria," kata Kai memberi usul.
Saat Chanyeol dan Kai beranjak keluar dari ruangan kerja mereka untuk mencari makan siang, seorang petugas polisi datang menghampiri. Petugas polisi itu memberitahu Chanyeol bahwa ada telepon untuknya, di ruang pimpinan. Sejenak Chanyeol berharap bahwa yang meneleponnya itu adalah Baekhyun. Mungkin pemuda manis itu ingin mengajaknya berkencan atau mungkin dia sudah menyerah untuk mempertahankan prinsipnya yang menyebalkan. Tetapi kemudian Chanyeol menyadari bahwa itu tidak mungkin. Baekhyun bukan tipe yang mudah ditundukkan. Dan yang lebih penting lagi, tidak mungkin Baekhyun menelepon ke ruang pimpinannya.
"Telepon untukku? Dari siapa?" tanya Chanyeol mengernyit.
"Telepon dari Amerika. FBI."
Chanyeol terkejut. Jawaban petugas polisi itu sangat jauh dari pikirannya. Petugas polisi itu segera beranjak pergi, sementara Chanyeol dan Kai saling memandang dengan tatapan bertanya. Kemudian Chanyeol beranjak pergi menuju ruangan pimpinan, dimana sang pemimpin telah berdiri menunggu dibalik jendela ruangannya. Kai hanya memandang dari tempatnya berdiri. Melihat raut wajah sang pemimpin, sepertinya ini sesuatu yang penting.
Tbc
