Part 7 update! Have a good day ^^
.
.
.
Part 7
Kyungsoo mengunci pintu rumah dan berjalan menuju mobilnya. Saat ia mendekat, ia melihat sesuatu menggantung pada pegangan pintu pengemudi. Ia pikir mungkin itu sebuah iklan, tetapi benda itu terlihat agak lebih besar untuk sebuah brosur. Saat tiba di mobil, ia baru menyadari bahwa seseorang telah mengikatkan sebuah kantong plastik putih pada pegangan pintu mobilnya. Seketika detak jantungnya bertambah cepat. Dengan ragu-ragu namun berharap, ia meraih kantong plastik itu, membuka ikatannya, dan memegang plastik itu dalam genggamannya. Kyungsoo mengintip ke dalam plastik. Namun, yang bisa dilihatnya hanyalah sebuah kotak putih dan sebuah amplop kertas.
Kyungsoo membuka pintu mobil. Ia masuk ke dalam dengan cepat, dan menyalakan mesin mobil setelah menutup pintu agar AC menyala. Lalu ia meraih ke dalam kantong plastik dan mengambil sebuah catatan. Dengan jari-jari gemetar, ia mengeluarkan pesan dari amplop dan membuka catatan.
Tolong terima tanda kasih sayang kecilku ini. Kalung yang indah untuk seorang yang indah.
Kyungsoo menarik napas pelan. Ia kembali meraih ke dalam kantong plastik dan mengambil sebuah kotak putih kecil. Ia merasa seperti seorang anak kecil di pagi hari Natal. Setelah membuka tutup kotak, ia melihat seuntai kalung dengan bandul batu yang sederhana namun indah tergeletak di atas alas kapas putih. Itu kalung yang menarik dan sebuah kado yang manis. Sebuah hadiah dari pria yang sangat romantis.
Sebuah kado dari Suho?, pikir Kyungsoo senang.
Kyungsoo meletakkan catatan dan kotak itu di kursi penumpang, lalu mengambil amplop kertas dan melemparkan kantong plastik ke samping kotak. "Apa ini?" katanya.
Setelah membuka amplop yang disegel itu, Kyungsoo mengeluarkan isinya. Ternyata isinya sebuah sketsa yang dibuat oleh seorang seniman. Kyungsoo merasa jantungnya seakan berdetak dengan irama yang abstrak. Pikirannya langsung tertuju pada Suho. Selain sebagai seorang direktur muda, Suho juga adalah seorang seniman. Suho sangat pandai menggambar dan memiliki galeri sendiri. Kyungsoo membalik kertas itu dan terhenyak. Itu adalah sketsa pensil wajahnya. Sebuah hasil karya seorang seniman sejati.
Kyungsoo berpikir bahwa Suho adalah artis sejati itu. Suho adalah pengagum rahasianya. Tetapi mengapa Suho merayunya dengan gaya lama yang begitu misterius? Mengapa Suho tidak datang saja dan mengajaknya kencan?
Karena Suho tidak seperti pria lain, Kyungsoo berkata dengan yakin pada dirinya sendiri.
Kyungsoo meraih ke dalam, mengeluarkan kalung dari kotaknya dan menyentuhnya dengan rasa cinta. Ia akan mengenakan kalung itu hari ini. Ia akan langsung memakainya dan menunjukkan pada Suho bahwa ia menyukai hadiah itu. Melambung karena rasa senang dan mabuk dengan pengharapan, Kyungsoo memakai sabuk pengaman, menggerakkan gigi mundur dan mulai bersenandung sendiri saat ia menjalankan mobilnya dan mengarahkannya menuju kantornya.
*ChanBaek*
Baekhyun meloncat turun dari tempat tidur pagi-pagi sekali. Setelah bersiap, sarapan dan memberi makan BooBoo ia berjalan menuju pintu keluar pada waktu yang luar biasa baginya, pukul tujuh pagi. Mengemudikan mobilnya keluar dari halamannya tanpa melihat Chanyeol, yang berarti pagi harinya terhindar dari adu urat syaraf. Ini pagi yang tenang. Baekhyun tersenyum.
Baekhyun menyalakan radio mobilnya dan memandang sesaat rumah Chanyeol yang nampak tenang. Entah pria bertubuh tinggi itu masih bersembunyi di bawah selimutnya atau telah berangkat kerja lebih dulu darinya, Baekhyun tidak mau peduli. Ia pun menjalankan mobilnya pergi.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Baekhyun kembali berpikir tentang Chanyeol. Ia tahu baginya bertengkar dengan Chanyeol lebih menyenangkan daripada menang lotere, misalnya. Ia belum pernah bertemu seseorang yang tidak mengedipkan mata sedikit pun mendengar apa yang dikatakannya tetapi dapat mengimbanginya—secara lisan—dan tidak memaksakan diri. Rasanya menyenangkan sekali, ia dapat mengatakan apapun dan lelaki itu tidak akan terkejut. Kadang-kadang Baekhyun merasa Chanyeol senang memancing kemarahannya. Chanyeol jahil—ada saja caranya—dan menjengkelkan, macho, pintar, dan seksi sekali. Dan Chanyeol sudah menunjukkan pernghargaannya yang layak pada mobil ayahnya.
Setelah makan malamnya dengan Chanyeol malam itu, kini mereka berdua tahu kemana tujuan mereka. Baekhyun belum pernah punya affair, namun ia tahu affair yang akan dilakukannya dengan Chanyeol akan panas membara. Bukan berarti ia berniat untuk bersikap terlalu mudah. Lelaki itu harus berjuang menundukkannya terlebih dahulu. Ini masalah prinsip. Selain itu rasanya menyenangkan membuat Chanyeol frustasi. Baekhyun kembali tersenyum sendiri.
*ChanBaek*
Baekhyun menggamit tangan Kyungsoo tepat ketika pemuda berwajah innocent itu keluar dari lift dan menuju meja kerjanya. Ia menarik sahabatnya itu ke sudut yang sepi. Sejenak memperhatikan wajah Kyungsoo yang terlihat bahagia, dan kalung yang melingkar di lehernya. Kyungsoo berusaha menyembunyikan kalungnya di balik kerah kemejanya yang tanpa dasi, dan tersenyum pada Baekhyun seolah tidak ada yang salah. Tetapi Baekhyun tahu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Kyungsoo. Sesuatu yang membuat sahabatnya itu terlihat bahagia.
"Hmm...apa yang kau sembunyikan dariku, Kyungie?" tanya Baekhyun penasaran.
"Tidak ada," jawab Kyungsoo mengelak.
"Ayolah, aku tahu kau. Kau punya pacar baru 'kan? Dan memang sudah waktunya. Kau seharusnya sudah berhenti mengharapkan Richard dua detik setelah pemalas itu mencampakkanmu seperti sampah."
"Dia tidak mencampakkanku seperti sampah. Kami hanya menginginkan hal yang berbeda dari sebuah hubungan."
Baekhyun mendengus kemudian mengecilkan suaranya. "Yah, yang diinginkan si bodoh itu hanyalah seks," ia melihat langsung ke mata Kyungsoo seolah-olah menantangnya untuk berbohong padanya. "Ayolah, siapa pacar barumu itu?"
"Kami belum berpacaran," Kyungsoo menggigit bibirnya sesaat. "Tapi, sumpah kau tidak akan mengatakan pada siapa pun?"
"Sumpah," lalu Baekhyun terkikik.
"Dia Kim Suho, direktur muda kita."
"Dan kapan ini di mulai? Kapan kencan pertama kalian? Aku ingin detailnya, Kyungie," Baekhyun mengerjap memandang Kyungsoo.
"Dengar, aku akan menceritakan semua nanti. Tapi aku bisa mengatakan, ini sangat romantis."
Kyungsoo tersenyum. Dan akhirnya Baekhyun membiarkan Kyungsoo pergi tanpa bertanya lebih lanjut karena ini sudah saatnya untuk mulai bekerja. Baekhyun kembali ke meja kerjanya dan mulai bergelut dengan tumpukan pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya itu.
*ChanBaek*
Kyungsoo meraba kalung di lehernya, memikirkan tentang apa yang mungkin dikatakan atau dilakukan Suho saat melihatnya memakai hadiah dari direktur muda itu. Akankah Suho tersenyum saja padanya, ataukah mengatakan padanya betapa bahagianya Suho melihat Kyungsoo memakai kalung itu?
Tentu saja Suho akan mengerti bahwa ia memakai kalung itu sebagai tanda kerelaannya untuk memulai hubungan yang serius.
Kyungsoo berharap ia dapat bertemu dengan Suho sebelum mulai bekerja, tetapi ternyata direktur muda itu tidak nampak. Sepertinya Suho belum datang. Kyungsoo merasa sedikit kecewa. Dan sepanjang hari itu, Kyungsoo tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ia menemukan dirinya berkhayal lebih dari satu kali, dan selama tiga puluh menit berselang, ia benar-benar menghitung menit-menit hingga istirahat siangnya.
Ketika jam istirahat tiba Kyungsoo segera bergegas bangkit dari balik meja kerjanya dan langsung berjalan menuju ruangan kantor Suho—setelah menolak ajakan Baekhyun untuk makan siang bersama. Kepalanya memikirkan alasan apa yang harus dikatakannya ketika bertemu dengan Suho nanti. Sama gugupnya dengan anak umur tiga belas tahun pada kencan pertamanya, Kyungsoo berjalan menyusuri koridor menuju ruangan kantor Suho. Kyungsoo mendekati pintunya dengan hati-hati, tidak ingin seseorang menyadari bahwa ia sedang memeriksa apakah direktur muda itu ada di dalam.
Kyungsoo mendekati pintu yang tertutup itu dan mendengarkan. Tidak ada apa-apa. Tidak ada suara. Tapi Suho mungkin ada di dalam sana, menyantap makan siangnya dengan tenang, membaca atau hanya beristirahat.
Mengapa kau tidak mengetuk pintu dan menyapanya? Katakan padanya kau mampir untuk menanyakan tentang pameran karya seni. Sketsa, lukisan dan karya seni selalu menjadi topik favorit Suho, bukan?, Kyungsoo berkata pada dirinya sendiri.
Tetapi jika ia melakukan itu, apakah ia akan terlihat terlalu berminat? Apakah dengan dirinya mengambil langkah selanjutnya merupakan hal yang pantas? Apakah Suho lebih memilih agar Kyungsoo menunggu Suho melanjutkan ke tahap selanjutnya?
Tetapi Kyungsoo tidak ingin menunggu, ia sudah lelah menunggu. Ia ingin sedkit mempercepat segalanya, atau paling tidak mencapai titik dimana mereka mengakui fakta bahwa mereka memiliki hubungan. Kyungsoo mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia mengepalkan tinjunya, mengulurkan tangan, dan mengetuk pintu itu. Denyut jantungnya terasa bergemuruh, menggila di telinganya. Tapi tidak ada reaksi. Kyungsoo mengetuk kembali. Sedikit lebih keras dan dua kali lebih lama.
"Dia tidak ada di sana," sebuah suara laki-laki yang tidak asing berkata di belakangnya.
Kyungsoo menarik napas dalam-dalam. Ia berbalik dan menghadap ke arah Sehun dengan senyuman. Oh Sehun adalah wajah yang begitu dikenal di kantor ini. Dia adalah kepala akunting dan semua orang menyukai pria tampan itu. Pria itu selalu supel dan ramah, dan ia memiliki tingkah laku sopan yang diinginkan setiap ibu ada pada anak laki-laki mereka.
"Maaf?" Kyungsoo berpura-pura lugu, seolah-olah ia tidak mengerti apa maksudnya.
"Direktur Kim. Dia tidak ada di ruangannya," kata Sehun. Ia memandang Kyungsoo, memandang diam-diam kalung yang melingkar di lehernya—sedikit tersembunyi dibalik kerah kemejanya.
"Yah, sebenarnya, aku mampir untuk menyapanya saja, dan aku pikir untuk mengajaknya makan siang bersama."
"Dia baru saja pergi. Kekasihnya, Lay, menjemputnya. Kurasa mereka pergi ke suatu tempat untuk makan siang."
"Kekasihnya? Oh."
Kyungsoo terdiam. Dalam hati ia berharap pada Tuhan Terkasih, agar tidak membiarkan perasaannya terpancar di wajahnya dan tidak membiarkan Sehun mengetahui bahwa ia terluka dan kecewa.
Sehun memperhatikan wajah Kyungsoo dan bertanya, "Hey, kau baik-baik saja, Do Kyungsoo? Kau kelihatan pucat."
"Tidak apa-apa. Aku tidak sarapan, dan kurasa aku tidak lapar," Kyungsoo berbohong sembari menahan kesedihan yang membuat matanya terasa mulai memanas. Sial!
"Aku membawa bekal makan siangku. Aku membawa cukup banyak. Mau bergabung denganku? Aku bisa membagi makan siangku," tawar Sehun.
Kyungsoo menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air matanya yang hampir melesak keluar. Kemudian ia memandang Sehun dan berhasil menyunggingkan senyum tipis. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menerima tawaran Sehun.
*ChanBaek*
Baekhyun belum melihat Chanyeol sepanjang hari itu. Ia juga belum bertengkar dengan Chanyeol. Rasanya sangat tenang, tapi juga sedikit membosankan. Saat Baekhyun pulang, ia tidak melihat mobil Pontiac cokelat itu di jalur masuk tetangganya. Tidak ada kehidupan di rumah itu. Baekhyun merasa kecewa.
Baekhyun berjalan ke rumahnya dan membuka kunci pintu. Ada kapuk isi bantal menempel pada kumis-kumis BooBoo ketika kucing itu menyambutnya. Ia bahkan tidak mau repot-repot melirik ke ruang tamu. Satu-satunya hal yang dapat dilakukannya pada saat ini untuk melindungi apa yang tersisa dari sofanya adalah menutup pintu sehingga BooBoo tidak bisa masuk ke ruang tamu. Namun kucing itu akan mengalihkan rasa frustasinya pada perabotan lainnya. Baekhyun mendesah. Sofa itu sudah harus diperbaiki, jadi biarkan saja kucing itu merusaknya sekalian.
Baekhyun menuju kamarnya. Saat sedang mengganti pakaiannya ia kembali berpikir tentang Chanyeol, tentang affair yang baru mereka mulai. Ia ingin menjauhi laki-laki itu paling tidak selama beberapa minggu, hanya untuk membuatnya frustasi. Ia suka membayangkan Chanyeol frustasi.
Baekhyun pergi ke dapur, lalu mengintip keluar jendela. Mobil Pontiac cokelat itu masih belum ada, meskipun Baekhyun menduga barangkali Chanyeol memakai Pikapnya kali ini seperti kemarin. Gorden-gorden di jendela dapur Chayeol tertutup. Dan rumah itu tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan.
Baekhyun mendengus kecewa. "Sulit membuat frustasi lelaki yang sedang tidak ada di tempatnya. Sialan," gerutunya.
Keesokkan paginya saat Baekhyun hendak berangkat kerja, ia melihat jalur masuk tetangganya masih kosong. Tidak ada Pontiac cokelat di sana. Baekhyun juga tidak mendengar kendaraan lainnya menuju ke rumah itu tadi malam. Chanyeol belum pulang.
Mungkin dia punya pacar, pikir Baekhyun sambil menggertakkan giginya.
Seketika Baekhyun merasa seperti orang idiot. Tentu saja Chanyeol mempunyai pacar. Laki-laki seperti Chanyeol selalu memiliki seorang pacar atau dua, atau tiga, berderet. Baekhyun bersyukur Chanyeol belum berhasil menundukkannya.
"Brengsek," gerutu Baekhyun sambil masuk ke Viper-nya.
Seharusnya ia mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya yang penuh pertikaian dan tidak membiarkan dirinya antusias. Mungkin hormonnya telah mengesampingkan akal sehatnya dan begitu melihat tubuh telanjang Chanyeol, ia langsung terbakar.
"Lupakan itu," gumam Baekhyun pada dirinya sendiri sambil mengemudikan mobilnya menjauhi rumahnya. "Jangan pikirkan itu."
Ia berkata dengan yakin, seolah ia yakin akan dapat melupakan bayangan tubuh telanjang Chanyeol yang menyiratkan kebanggaan dan kebebasan lelaki itu. Rasanya Baekhyun ingin menangis karena harus menyerah bahkan sebelum ia sempat mencicipi tubuh yang menggoda itu, tetapi harga dirinya yang tinggi menuntut. Ia tidak sudi menjadi salah satu diantara orang-orang yang hanya menjadi sex buddies semata.
Satu-satunya alasan Chanyeol tidak mucul kemarin, pikir Baekhyun, adalah jika lelaki itu sedang tergeletak di rumah sakit di suatu tempat, terlalu parah untuk menelepon.
Baekhyun tahu Chanyeol tidak tertembak ataupun yang lainnya. Kalau hal semacam itu terjadi pada diri polisi, pasti sudah akan muncul beritanya. Nyonya Kim yang baik itu sudah pasti akan memberitahunya kalau Chanyeol mengalami kecelakaan lalu lintas. Tidak, dia masih hidup dan baik-baik saja, di suatu tempat. Hanya dimana itulah yang menjadi masalahnya. Sekedar demi kelayakan, Baekhyun mencoba mencemaskan tetangganya itu, tetapi yang muncul hanyalah keinginan kuat untuk mencincang Chanyeol. Ia tahu bahwa tidak ada gunanya bingung dan cemas karena lelaki itu.
"Persetan dengannya. Kenapa dia tidak menelepon, setidaknya?" gerutu Baekhyun merasa kesal. "Kalau aku punya segumpal rambutnya, aku akan mengutuknya."
Tetapi Baekhyun berani bertaruh bahwa lelaki itu takkan membiarkannya mendekatinya dengan membawa gunting. Baekhyun menghibur diri dengan membayangkan dirinya mengutuk kalau berhasil mendapatkan rambut Chanyeol. Ia paling suka dengan kutukan yang membuat lelaki itu kehilangan tenaga.
"Huh! Biar dia tahu berapa banyak orang yang tertarik padanya kalau penisnya menjadi lemas seperti mie," Baekhyun terkikik dengan pikirannya.
Tapi kemudian Baekhyun terdiam dan berpikir, mungkin ia keterlaluan. Satu ciuman bukan awal suatu hubungan. Ia tidak berhak atas lelaki itu, atas waktunya, atau atas ereksinya. Persetan, ia tidak berhak atas apapun.
Baekhyun mendesah pelan. Perasaannya pada Chanyeol sudah jauh melenceng dari norma, hampir seluruhnya terdiri atas kemarahan dan gairah yang sebanding. Chanyeol bisa membuatnya lebih marah, lebih cepat, daripada siapa pun lagi yang pernah dikenalnya. Chanyeol sudah hampir membuktikan ucapannya bahwa kalau ia mencium Baekhyun, mereka berdua akan sama-sama telanjang. Jika Chanyeol memilih lokasi yang lebih baik, jika mereka tidak sedang berdiri di jalur masuk rumah Baekhyun, akal sehat Baekhyun takkan muncul kembali tepat pada waktunya untuk menghentikan Chanyeol.
Ketika sedang jujur kepada diri sendiri, Baekhyun juga mengakui bahwa pertengkaran-pertengkarannya dengan Chanyeol membuatnya gembira. Dengan ketiga mantan tunangannya—sebenarnya dengan kebanyakan orang—ia telah menahan diri, menjaga lontaran kata-katanya. Ia tahu ia besar mulut; Siwon dan Taemin sudah kehabisan cara untuk memberitahunya. Ibunya sudah mencoba memperhalus ucapannya dan sudah lumayan berhasil. Selama masa sekolah dulu, ia berjuang menjaga mulutnya. Karena kerja otaknya yang secepat kilat itu membuat teman-temannya kewalahan, tidak sanggup mengikuti jalan pikirannya. Ia juga tidak ingin menyinggung siapa pun, yang segera diketahuinya hanya dengan mengutarakan apa yang ada dalam benaknya.
Ia menghargai persahabatannya dengan Heechul, Tao dan Kyungsoo karena mereka semua berbeda-beda, dan ketiganya menerima dan tidak terganggu dengan ucapan-ucapan tajamnya. Ia merasakan kelegaan yang sama ketika bergaul dengan Chanyeol, karena lelaki itu sama besar mulutnya dengan dirinya, dengan ketangkasan dan kecepatan omongan yang sama.
Baekhyun tidak ingin menyerah. Begitu mengakuinya, ia sadar bahwa ia mempunyai dua pilihan: ia bisa menjauh, atau ia bisa memberi pelajaran pada Chanyeol itu tentang...tentang mempermainkan cintanya, sialan! Kalau ada satu hal yang ia ingin tak dipermainkan siapa pun, itu adalah cintanya.
Yah, oke. Ada dua hal—ia juga ingin tak seorang pun mempermainkan Viper-nya. Tetapi Chanyeol...lelaki itu memang layak diperjuangkan. Jika ada orang lain dalam otak dan di tempat tidur Chanyeol, Baekhyun harus benar-benar menyingkirkannya. Sebagai balasan karena lelaki itu telah memberinya masalah. Nah, sekarang ia merasa lebih baik. Karena ia telah memutuskan apa tindakan berikutnya.
Tbc
