Part 8 update! Have a good day ^^

.

.

.

Part 8

Karena ini adalah hari Jumat, Baekhyun dan ketiga sahabatnya meneruskan tradisi mereka makan di TLJ's bar and grill sesudah kerja. Mereka memesan menu favorit masing-masing dan kembali berbicara tentang kekasih ideal, Mr. Perfect. Entah kenapa, berbicara tentang Mr. Perfect membuat Baekhyun teringat dengan Chanyeol dan itu membuatnya merasa sedikit marah. Si brengsek itu masih belum juga pulang. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar.

Ketika Heechul sedang berbicara tentang Hangeng—kekasihnya saat ini, dan hubungan mereka yang memburuk, tanpa sadar Baekhyun mengumpat. Heechul berhenti bicara. Dan ketiga sahabatnya langsung bicara serentak pada pemuda manis itu,

"Dua puluh lima dolar!"

Baekhyun mendengus. Ia tahu bahwa tanpa sadar ia telah mengumpat karena Chanyeol, karena lagi-lagi ia berpikir tentang Chanyeol. Tapi percuma membela diri. Ketiga sahabatnya tidak akan peduli dengan alasan Baekhyun, dan Baekhyun tidak mungkin mengingkari janjinya sendiri untuk membayar denda setiap kali ia mengumpat. Baekhyun merogoh saku pakaian dan tasnya untuk mengambil recehan, namun ia tidak berhasil menemukan satu pun. Maka ia meletakkan uang 100 dolar di meja sebagai gantinya.

"Salah satu dari kalian bisa memberikan kembalian, kan? Aku perlu punya persedian recehan lagi. Chanyeol membuatku bangkrut," kata Baekhyun.

Sejenak ketiga sahabatnya terdiam, memandangi Baekhyun. Akhirnya Tao bertanya dengan lembut, "Chanyeol? Siapa Chanyeol?"

"Itu...Chanyeol, tetanggaku," jawab Baekhyun.

Heechul mengerutkan bibirnya mendengar jawaban Baekhyun. Kemudian katanya, "Apakah ini tetanga yang sama dengan yang ternyata polisi tapi yang berkali-kali kau gambarkan sebagai bajingan, pemabuk, pengedar narkoba, anak jalang yang keji dan menjijikan, raksasa yang tidak pernah cukuran atau mandi di abad milenium ini—"

"Oke, oke," potong Baekhyun. "Ya, orang yang sama."

"Dan sekarang kau menyebut namanya?" tanya Kyungsoo, tercengang.

Wajah Baekhyun memanas. "Begitulah," ujarnya.

"Ya ampun," mata Tao membelalak. "Dia tersipu-sipu."

"Ini mengerikan," kata Heechul dan ketiga pasang mata itu mengerjap-ngerjap keheranan.

Baekhyun bergerak-gerak gelisah di kursinya, wajahnya justru jadi semakin panas. "Bukan salahku," dalihnya membela diri. "Dia punya pikap merah. Four-wheel drive."

"Aku bisa melihat dimana itu akan membuat perbedaan besar," kata Kyungsoo, memandangi langit-langit restoran.

"Jadi, dia bukan bajingan semacam itu," gumam Baekhyun. "Jadi apa? Sebenarnya, dia bajingan, tapi dia punya poin-poin bagus."

"Dan yang paling bagus di dalam celananya, kan?" ledek Heechul, seperti seorang penggoda yang selalu langsung menuju ke selangkangan.

Tao memamerkan ketidaksopannya yang mengagetkan dengan berteriak-teriak seperti di film perang yang pernah di tontonnya, membuat wajah Baekhyun kian memanas. "Hentikan!" desis Baekhyun. "Aku belum melakukan itu!"

"Oh-ho!" Kyungsoo mencondongkan badannya mendekat. "Apa saja yang sudah kau lakukan?"

"Cuma satu ciuman, cepat, dan itu saja," kata Baekhyun.

"Satu ciuman tidak membuat tersipu-sipu," kata Heechul sambil cengar-cengir. "Terutama di wajahmu."

Baekhyun mendengus. "Kau belum pernah di ciumn Chanyeol sih. Kalau sudah, pasti kau takkan memberikan pernyataan keliru semacam itu."

"Sebagus itukah?" tanya Tao.

Baekhyun tidak dapat menahan lagi desah yang mendesak keluar dari paru-paru, atau bibirnya yang melekuk tersenyum. "Ya. Sebagus itu," jawabnya.

"Berapa lama berlangsungnya?" Heechul bertanya dengan penasaran.

"Sudah kubilang, kami belum bercinta! Hanya berciuman," jawab Baekhyun. "Seperti Viper hanya mobil, dan Everest hanya bukit."

"Maksudku ciuman itu," kata Heechul tak sabar. "Berapa lama berlangsunya?"

Baekhyun tercenung mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menghitung berapa lama tepatnya, apalagi ada banyak hal lain terjadi waktu itu, seperti klimaks yang hampir tercapai tapi akhirnya dihentikan, yang menyita hampir seluruh perhatiannya.

"Aku tidak tahu. Kupikir sekitar lima menit," kata Baekhyun akhirnya.

Semua sahabatnya mengerjap-ngerjapkan mata menatap Baekhyun. "Lima menit?" tanya Kyungsoo lirih. "Satu ciuman berlangsung lima menit?"

Lalu rona merah sialan itu menyerbu lagi. Baekhyun bisa merasakan rona merah itu merambat naik ke wajahnya. Tao menggeleng-ngeleng tidak percaya, sementara Heechul dan Kyungsoo menyeringai lebar.

"Hei, ini harus dirayakan!" kata Kyungsoo.

"Kalian semua bertingkah seolah aku sudah putus asa," kata Baekhyun cemberut.

"Bilang saja kehidupan sosialmu menyedihkan," kata Heechul.

"Tidak."

"Kapan terakhir kali kau kencan?"

Baekhyun terdiam. Pertanyaan Heechul itu merupakan pukulan telak, karena Baekhyun tahu sudah lama sekali ia tidak kencan sehingga ia tidak dapat mengatakan kapan yang terakhir kalinya. Akhirnya Baekhyun berkata,

"Memang aku tidak sering kencan. Tapi itu pilihan, bukan kebutuhan. Ingat, catatan pengalamanku dalam memilih pasangan biasa-biasa saja."

"Jadi apa yang lain dengan Chanyeol si polisi ini?" tanya Tao.

"Banyak," sahut Baekhyun dengan pikiran melayang, teringat ketika lelaki itu telanjang. Setelah melamun sejenak ia menyentakkan diri kembali ke kenyataan. "Kadang-kadang aku ingin mencekiknya."

"Dan kadang-kadang apa lagi?" tanya Tao lagi sambil tersenyum.

Baekhyun nyengir. "Aku ingin melucuti pakaiannya," jawabannya.

"Kedengarannya seperti landasan hubungan yang baik buatku," komentar Heechul. "Yang pasti itu lebih baik daripada landasan yang kupunyai dengan Hangeng, dan aku bisa bertahan dengannya selama setahun!"

Baekhyun lega topik pembicaraan sudah berpindah dari Chanyeol. Bagaimana ia bisa menjelaskan apa yang tidak dipahaminya sendiri? Chanyeol menjengkelkan. Baekhyun tahu, mereka berdua sama-sama saling tertarik. Tapi mungkin sebaiknya Baekhyun menjauhinya, bukannya berusaha memikirkan cara-cara untuk menguasai lelaki itu.

"Semalam kami bertengkar, dan Hangeng memutuskan untuk pergi sementara waktu," kata Heechul.

"Apa yang dikatakannya?" tanya Baekhyun.

"Tak banyak, heran juga. Kalau sedang marah, Hangeng mirip sekali dengan anak dua tahun yang mengamuk," jawab Heechul, menopang dagunya dengan kedua tangan. "Kuakui, dia membuatku kehilangan kendali. Aku langsung menjerit-jerit dan memaki-maki, tapi tidak sakit hati."

"Mungkin dia lebih peduli daripada yang kau duga," kata Tao, tapi nadanya justru terdengar ragu.

Heechul mendengus. "Dulu kami berdua cocok, tapi tanpa adanya affair abad ini. Bagaimana denganmu? Kau sudah ada kabar dari Kris?"

Heechul mengubah bahan pembicaraan, tampaknya ia sudah tidak ingin membahas Hangeng lagi, seperti Baekhyun tadi yang langsung beralih membicarakan orang lain bukannya Chanyeol. Semua memandang Tao yang tampak merenung.

"Sebenarnya sudah," kata Tao. "Dia...entahlah, aku tidak mengerti. Tiba-tiba dia mengajakku keluar makan malam, bukannya bilang dia akan mampir seperti yang selalu dilakukannya."

Keheningan sejenak menyelimuti meja itu. Mereka semua saling pandang, gelisah dengan perubahan perilaku Kris yang tiba-tiba. Ekspresi Tao masih merenung. "Aku bilang tidak. Sebelum ini aku tidak begitu tertarik padanya, maka sekarang aku tidak begitu tertarik padanya juga," katanya.

"Beres," kata Baekhyun, sangat lega. Mereka saling mempertemukan telapak tangan di udara berhigh-five. "Lalu sekarang bagaimana? Apakah Kris resmi menjadi masa lalu, ataukah kau tetap menjaga hubungan?"

"Tetap menjaga hubungan. Tapi aku tidak meneleponnya lagi. Kalau ingin bertemu aku, dia bisa meneleponku," kata Tao.

"Tapi kau menolaknya," tegas Heechul.

"Aku tidak menyuruhnya menghilang dari hidupku. Aku hanya bilang, "Tidak, aku punya rencana lain"," Tao mengangkat bahu. "Kalau kami harus membina hubungan apa pun lagi, landasannya akan harus berubah. Artinya aku juga ikut menentukan, bukan cuma mengikuti aturan mainnya."

"Kita kacau," kata Baekhyun mendesah, dan mencari dukungan dalam cangkir kopinya.

"Kita normal," kata Kyungsoo mengoreksi.

"Itulah yang kukatakan," timpal Baekhyun.

Mereka tertawa ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka dan meletakkan piring-piring di hadapan mereka. Kehidupan cinta mereka sama-sama berantakan, tetapi mau apa? Mereka menyantap menu favorit mereka masing-masing untuk menghibur diri.

*ChanBaek*

Pukul sepuluh malam, saat Kyungsoo tiba di rumah ia menemukan sebuah paket di kotak posnya bersama dengan surat hari ini. Ia beranjak masuk ke dalam rumah dengan membawa paket dan surat-surat itu. Ia membaca sejenak beberapa surat hari ini, tapi tidak ada yang menarik. Maka ia meletakkan surat-surat itu di atas meja begitu saja dan beralih pada paket untuknya.

Paket itu, dengan lebar sekitar tiga puluh sentimeter persegi dan tinggi sepuluh sentimeter, dibungkus dengan kertas cokelat biasa dan dieratkan dengan isolasi bening lebar. Kyungsoo bisa melihat namanya tercetak dalam huruf-huruf cetak tebal besar di atasnya. Tidak ada alamat pengirim dan tidak ada perangko. Itu artinya lelaki itu membawa sendiri hadiahnya dan meninggalkannya pada suatu waktu di hari ini. Tetapi kapan? Apakah Sehun salah melihat Suho pergi dengan Lay siang itu?

Tidak, itu tidak mungkin. Sehun tidak mungkin berbohong padaku, pikir Kyungsoo.

Kyungsoo memang tahu, dan hampir semua orang di kantornya tahu, bahwa Suho dan Lay memiliki hubungan putus sambung. Tapi ia pikir hubungan mereka sudah berakhir, dan sekarang Suho siap untuk cinta yang sesungguhnya? Apakah ia salah menduga? Apakah Suho hanya mempermainkannya?

Kyungsoo mengetuk bagian atas paket dengan gugup. Ia mengambil paket itu dan membawanya ke kamar seolah-olah paket itu barang rapuh atau mungkin bahan peledak. Ia duduk di ujung tempat tidur, meletakkan paket itu dipangkuannya, lalu menggeledah laci meja samping tempat tidurnya, mencari gunting. Ia duduk di sana selama beberapa menit. Kotak yang terbungkus ada dipangkuannya, dan gunting ada di tangan kanannya. Ia memikirkan tentang siang yang tidak menyenangkan itu. Ia berusaha keras agar tidak menangis pada sepanjang hari itu.

Jika bukan karena kebaikan Sehun pada waktu makan siang, ia tidak yakin dapat bertahan hingga hari itu berakhir. Sehun tidak menyebut-nyebut Suho lagi, pria tampan itu justru menghiburnya dengan lelucon dan cerita lucu tentang anak-anak. Tentu saja setelah makan siang itu berakhir, ia dan Sehun menuju ke jalan masing-masing, semua pikiran cemburu tentang Suho dan Lay kembali lagi, membanjiri otaknya dengan gambaran-gambaran mereka sedang bercinta.

Kau tidak dapat mengganggap Suho bersalah. Tidak tanpa bukti. Kau harus memberinya praduga tak bersalah.

Kyungsoo menggenggam gunting di tangan kanan, memotong pita yang mengikat kertas cokelat. Lalu ia membuka kertasnya dan mendapati sebuah kotak kecil. Di dalamnya ia menemukan sebuah kotak putih yang menutupi isinya, yang segera disingkirkannya. Ia mengambil benda pertama yaitu sebotol cologne. Ia memeriksa barang itu sesaat, cologne itu beraroma orange blossom. Aroma yang menyegarkan, tidak terlalu kuat dan tidak terlampau lembut. Ia meletakkan botol cologne itu di atas meja samping tempat tidurnya, lalu mencari lebih dalam lagi ke dalam kotak. Ia mengeluarkan dua amplop, dan merasa yakin bahwa yang kecil berisi pesan sedangkan yang besar mungkin berisi sketsa yang lain. Ia pun membuka pesan itu dan membacanya. Lalu membacanya lagi seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah membaca.

Apakah kau mau memakai cologne ini untukku, Kyungsoo'ku sayang?

Air mata Kyungsoo tersangkut di tenggorokannya. Ia meletakkan pesan itu di sebelah botol cologne, lalu merobek amplop putih besar dan mengeluarkan sketsanya. Namun kemudian ia terkejut saat melihat sketsa dirinya.

"Ya Tuhan!" katanya. "Itu aku, dan meskipun demikian itu bukan aku. Itu wajahku dan tubuhnya serupa denganku, tapi..."

Kyungsoo memandang sketsa tinta dirinya yang bergaya dalam pose sensual. Pandangannya bergerak turun menuju tangannya yang seolah sedang berusaha menutupi penisnya. Tapi ekspresi wajahnya terlihat...bergairah. Lelaki itu menggambarnya bugil dan bergairah.

Suho, permainan macam apa yang kau mainkan? Jika aku orang yang kau inginkan, mengapa kau pergi dengan Lay hari itu? Mengapa kau tidak datang mencariku untuk melihat apakah aku memakai kalung darimu?

Air mata mengalir turun membasahi wajah Kyungsoo saat pemuda berwajah innocent itu bergulung meringkuk di tengah-tengah tempat tidurnya. Sketsa tinta itu menjadi kusut di kepalan tangan kanannya.

*ChanBaek*

BooBoo mengeong tepat di telinga Baekhyun, membangunkan pemuda manis itu untuk meminta jatah sarapannya. Baekhyun terbangun dengan menggerutu. BooBoo meloncat turun dari tempat tidur Baekhyun. Sejenak Kucing gembul itu berhenti dan menoleh pada Baekhyun, mengeong kembali dengan semakin keras seolah menyuruh Baekhyun untuk segera turun dari tempat tidurnya karena perutnya sudah harus diisi.

"Baik, baik. Aku mengerti," kata Baekhyun mendengus kesal seraya beranjak turun dari tempat tidurnya.

Baekhyun menyeret langkahnya dengan malas menuju dapur, dengan BooBoo yang terus mengeong semakin keras di kakinya. Ia mengambil sekaleng makanan kucing, menuangkannya pada piring makan BooBoo dan meletakkannya di lantai. Kucing gembul itu segera melahap makannya. Baekhyun berjongkok dan memperhatikannya.

"Kau kucing jahat, tahu. Selalu membangunkanku dan bersikap manis padaku hanya saat kau ingin sesuatu. Aku bertaruh, setelah selesai makan kau pasti akan kembali bersikap sinis padaku," gerutu Baekhyun.

BooBoo nampak tidak peduli dengan gerutuan Baekhyun, ia lebih peduli dengan makanannya. Baekhyun mendengus. Ia berdiri dan mengambil segelas air. Saat ia berbalik, berdiri di depan bak cuci piring dan memandang keluar jendela, ia menyadari dua hal. Pertama, ternyata hari telah pagi. Ini sabtu yang panas. Dan kedua, rumah tetangganya masih terlihat sepi. Masih tidak ada tanda-tanda kehidupan. Chanyeol masih belum pulang. Baekhyun mendesah, merasa kecewa.

Baekhyun menghabiskan hari itu dengan bosan. Tidak ada yang harus ia lakukan, dan tidak ada seseorang yang bisa diajaknya bertengkar. Rasanya membosankan. Pukul lima sore Baekhyun baru teringat bahwa ia harus belanja bahan makanan sekarang. Persediaan bahan makanannya telah habis. Matahari musim panas masih menyorot dari langit saat Baekhyun berjalan menuju mobilnya, panasnya menyengat. Baekhyun menghidupkan Viper-nya dan duduk sejenak mendengarkan derum mesin yang kuat dan terawat itu. Dinyalakannya AC pada kecepatan tinggi dan diaturnya letak ventilasi udaranya agar udara dingin menghembus wajahnya.

Baekhyun memacu mobilnya pergi, meluncur menuju supermarket di sebelah kiri dan menahan dorongan untuk berbelok ke kanan, yang akan membawanya ke Kepolisian Seoul. Ia tidak ingin melihat apakah pikap merah atau Pontiac cokelat penyok itu ada di pelataran parkir. Yang ingin dilakukannya hanyalah membeli persediaan makanan dan pulang ke BooBoo. Jika ia pergi terlalu lama, ia khawatir kucing gembul itu akan mulai mengerjai bantal lainnya.

Baekhyun bukanlah orang yang suka berlama-lama belanja. Ia tidak suak melakukannya, maka ia menyerbu toko bahan makanan seolah sedang ada perlombaan. Sambil mendorong kereta belanjaan dengan kecepatan tinggi, ia menyelinap ke bagian hasil bumi. Dilemparkannya kubis, selada, dan berbagai buah-buahan ke dalam kereta belanjannya, lalu bergegas menyusuri lorong—lorong lainnya. Ia jarang memasak, karena terlalu repot hanya untuk satu orang. Tetapi kadang-kadang ia menyiapkan daging panggang atau lainnya yang semacam itu untuk membuat sandwich yang dimakannya selama seminggu.

Baekhyun berhenti di rak makanan kucing dan berpikir sejenak, makanan kucing untuk BooBoo harus dibeli, meskipun—

Tiba-tiba pinggangnya dipeluk dari belakang dan terdengar suara yang tidak asing berkata, "Rindu denganku?"

Baekhyun berusaha menahan jeritannya sehingga yang keluar dari mulutnya hanyalah pekikan, namun ia meloncat paling tidak setinggi tiga puluh sentimeter dan hampir menabrak tumpukan makanan kucing bermerek Sheba. Ia berputar, cepat-cepat ditariknya kerera belanjanya ke posisi antara dirinya dan orang yang memeluknya, lalu dipelototinya lelaki itu.

"Maaf," katanya. "Tapi aku tidak kenal kau. Pasti kau salah mengira aku orang lain."

Chanyeol merengut. Para pembeli lainnya menonton mereka karena semakin tertarik. Paling tidak salah satu wanita sudah bersiap-siap akan menelepon polisi kalau Chanyeol melakukan gerakan mencurigakan.

"Lucu sekali," gerutu Chanyeol, dan sengaja melepaskan jaketnya, menunjukkan pistol hitam besar yang tersarung dan tersangkut pada ikat pinggangnya. Lencananya juga dijepitkan pada ikat pinggang.

Kerumunan orang-orang yang terbelalak di lorong tujuh itu bubar dan meninggalkan mereka sambil berbisik-bisik, "Dia polisi ternyata."

"Pergi sana," kata Baekhyun. "Aku sibuk."

"Begitu ya? Kau sedang ikut balapan belanja atau apa? Sudah lima menit aku mengejarmu dari lorong ke lorong," kata Chanyeol.

"Tidak," balas Baekhyun, memeriksa jam tangannya. "Aku belum sampai lima menit di sini."

"Oke, tiga menit. Tadi kulihat lintasan merah menuju ke sini, maka aku berputar membuntutinya. Kuduga itu pasti kau."

"Apakah mobilmu dilengkapi radar?"

"Aku sedang pakai pikapku, bukan mobil dinas."

"Kalau begitu kau tidak bisa membuktikan aku ngebut."

"Persetan, aku bukannya mau menilangmu," Chanyeol merasa jengkel. "Walaupun jika kau tidak mengurangi kecepatanmu, aku akan menelepon polisi lalu lintas untuk melakukan kewajibannya."

"Jadi kau ke sini hanya untuk melecehkanku?" Baekhyun mengernyit, merasa kesal. Ia kesal pada Chanyeol yang tiba-tiba hilang dan tiba-tiba muncul dengan memeluknya dari belakang seperti tadi.

"Tidak," sahut Chanyeol hilang kesabarannya. "Aku ke sini karena aku pergi tanpa memberitahumu."

"Pergi?" ulang Baekhyun, membelalakkan mata selebar mungkin. "Aku tidak mengerti."

Chanyeol menggertakkan giginya. Baekhyun tahu karena ia bisa melihat rahang Chanyeol bergerak-gerak. "Oke, seharusnya aku meneleponmu," kata Chanyeol. Sepertinya lelaki tampan itu telah berjuang mengerahkan keberaniannya untuk mengeluarkan kata-kata itu.

"Sungguh? Kenapa begitu?"

"Karena kita..."

"Bertetangga?" Baekhyun meneruskan, ketika Chanyeol tampaknya tidak menemukan kata yang diinginkannya. Ia mulai merasa senang, setidaknya sesenang mungkin dengan mata mengantuk akibat kurang tidur.

"Karena kita punya sesuatu yang belum selesai," kata Chanyeol akhirnya. Ia cemberut menatap Baekhyun, kelihatan kesal sekali dengan "sesuatu" di antara mereka.

"Sesuatu? Aku tidak mengerjakan sesuatu," sergah Baekhyun, pura-pura mengernyit.

"Kau akan mengerjakan punyaku," bisik Chanyeol, mendengus kesal. Tetapi Baekhyun bisa mendengarnya.

Ketika Baekhyun baru saja akan membuka mulut untuk membalas ucapan Chanyeol, seorang anak kecil berumur sekitar delapan tahun berlari menabraknya dan menyodok iganya dengan senapan laser plastik. Terdengar desing elektronis ketika anak itu menarik picu senapannya berulang kali.

"Kau mati," kata anak itu penuh kemenangan.

Sang ibu bergegas menghampiri, tampak malu dan tak berdaya. "Jiwonie, hentikan!" ia berusaha tersenyum pada anaknya, tapi hanya kelihatan seperti meringis. "Jangan ganggu orang baik."

"Diam," teriak si anak. "Eomma tidak tahu ya, mereka alien dari planet EXO!"

"Maaf," kata ibu itu, berusaha menarik anaknya menjauh. "Jiwonie, ayo pergi atau kau harus berhenti main begitu kita sampai rumah."

Baekhyun nyaris tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya. Anak itu kembali menyodok rusuknya. "Aduh!" katanya, meringis kesakitan.

Anak itu membunyikan desing senapannya lagi, nampak senang sekali melihat Baekhyun kesakitan. Baekhyun memasang senyum lebar di wajahnya dan membungkuk ke dekat si anak, lalu berbisik semirip mungkin dengan suara alien,

"Oh, lihat. Makhluk bumi kecil," Baekhyun menegakkan tubuhnya dan menatap Chanyeol dengan padangan memerintah. "Bunuh dia."

Anak itu ternganga. Matanya membelalak sebulat uang logam dua puluh lima dolar ketika melihat pistol besar di ikat pinggang Chanyeol. Lalu dari mulutnya yang terbuka mulai keluar suara-suara melengking yang terdengar seperti alarm kebakaran. Chanyeol memaki pelan. Ia menyambar lengan Baekhyun dan mulai menariknya sambil setengah berlari menuju ke depan toko.

"Hei, belanjaanku!" protes Baekhyun.

"Besok kau bisa belanja ke sini lagi selama tiga menit," kata Chanyeol dengan kegarangan yang tertahan. "Sekarang aku sedang berusaha menolongmu agar tidak ditangkap."

"Karena apa?" tanya Baekhyun acuh, sementara Chanyeol membawanya keluar pintu otomatis. Orang-orang menoleh melihat mereka, namun sebagian besar mengikuti lengkingan si anak di lorong ke tujuh.

"Bagaimana kalau karena mengancam membunuh anak nakal itu dan menimbulkan keributan?"

"Aku tidak mengancam membunuhnya! Aku cuma memerintahmu."

Baekhyun berusaha mengikuti kecepatan langkah Chanyeol. Chanyeol menyeret Baekhyun berputar ke sisi gedung, di tempat yang tersembunyi, dan merapatkannya ke dinding. "Rasanya aku tak percaya aku merindukan ini," katanya dengan nada mendesak.

Baekhyun menatapnya dan tidak mengatakan apa-apa. "Selama tiga hari ini aku berada di Amerika," kata Chanyeol. Ia membungkuk begitu dekat sehingga hidungnya hampir menyentuh hidung Baekhyun. "Wawancara untuk pekerjaan di FBI."

"Kau tidak berhutang penjelasan padaku," ketus Baekhyun.

Chanyeol menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah langit, seolah mencari bantuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk memberinya sedikit kesempatan. "Baiklah, jadi permintaan menelepon rasanya takkan terlalu memaksa," katanya.

Chanyeol menggerutu mengatakan sesuatu. Baekhyun tahu apa yang diucapkannya, tapi sayangnya Chanyeol tidak harus membayar denda untuk setiap umpatannya. Kalau ya, Baekhyun sudah akan menang besar. Baekhyun meraih kedua telinga besar Chanyeol, menarik kepala lelaki itu hingga menunduk dan menciumnya.

Chanyeol kembali merapatkan Baekhyun ke dinding seperti sebelumnya. Lengannya memeluk Baekhyun begitu kencang sehingga pemuda manis itu nyaris tidak dapat bernapas. Tetapi bernapas tidak menduduki nomor satu dalam daftar prioritas Baekhyun sekarang. Merasakan pelukan Chanyeol, merasakan ciuman Chanyeol—itu yang terpenting. Pistol Chanyeol ada di ikat pinggangnya, jadi Baekhyun tahu bukan itu yang mendesak perutnya. Baekhyun menggeliat untuk memastikannya. Bukan, jelas bukan pistol.

Napas Chanyeol menderu ketika ia mengangkat kepalanya. "Kau memilih tempat-tempat yang brengsek," katanya, melihat ke seliling mereka.

"Aku yang memilih? Tadi aku ada di dalam sana punya urusan sendiri, belanja, ketika aku diserang bukan hanya satu tapi dua maniak—"

"Apa kau tak suka anak-anak?"

Baekhyun mengerjap. "Apa?"

"Apa kau tak suka anak-anak? Kau ingin aku membunuh yang satu tadi."

"Aku suka sebagian besar anak-anak," sahut Baekhyun tak sabar. "Tapi aku tidak suka yang satu itu. Dia menyodok rusukku."

"Aku menyodok perutmu."

Baekhyun tersenyum manis, membuat Chanyeol bergetar senang, "Ya, tapi yang kau pakai bukan senapan plastik."

"Ayo pergi dari sini," kata Chanyeol, tampak putus asa. Lalu dengan tergesa-gesa ia mengajak Baekhyun pergi.

*ChanBaek*

"Kau mau kopi?" tanya Baekhyun sambil membuka pintu dapurnya dan mempersilahkan Chanyeol masuk. "Atau es teh?" tambahnya, menganggap gelas yang tinggi dan dingin yang dibutuhkan saat ini, ketika udara di luar panas menyengat.

"Teh," sahut Chanyeol, membuyarkan bayangan Baekhyun mengenai polisi yang hidup dengan kopi dan donat.

Chanyeol melihat ke sekeliling dapur Baekhyun. "Baru beberapa minggu kau tinggal di sini, bagaimana bisa tempat ini sudah kelihatan berpenghuni daripada punyaku?" katanya.

Baekhyun berpura-pura memikirkan hal itu sejenak. "Aku yakin itu namanya pembongkaran kardusnya," katanya.

Chanyeol mendongak ke langit-langit. "Kok aku tak tahu?" gumamnya pada tembok, masih mencari pencerahan.

Baekhyun mencuri pandang beberapa kali pada Chanyeol sambil mengambil dua gelas dari lemari dan mengisinya dengan es. Darah dalam pembuluh nadinya terpompa, seperti yang selalu terjadi ketika lelaki itu berada di sekitarnya. Entah akibat marah, gembira, atau bergairah, atau gabungan dari ketiganya.

"Untuk pekerjaan apa kau di wawancara?" tanya Baekhyun penasaran.

"Detektif FBI. Aku mendapat telepon dari FBI dan memintaku untuk datang ke Amerika. Pimpinan memperbolehkanku. Dia bilang ini kesempatan yang sayang untuk dilewatkan," jawab Chanyeol tanpa menoleh.

"Lalu? Kau akan pindah ke Amerika, kalau begitu?" ada nada tidak rela terselip dalam suara Baekhyun.

Chanyeol melirik Baekhyun dan tersenyum kecil. Lalu kembali memandang tembok di depannya seraya berkata, "Tidak sekarang. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di sini. Lagipula, aku masih belum berhasil menaklukanmu."

"Percaya diri sekali," cibir Baekhyun pelan, namun tak pelak rona merah samar mewarnai wajahnya. Ia mengeluarkan wadah es teh dari kulas, lalu menuangkannya ke dua gelas. "Pakai jeruk nipis?"

"Tidak, begitu saja."

Saat Chanyeol mengambil gelas itu dari Baekhyun, jari mereka bersentuhan. Itu cukup membuat nipple Baekhyun mengeras dan menegak. Baekhyun mendesah pelan, mengutuk nipple-nya yang lebih sensitif dan mudah terangsang dibandingkan dengan penisnya sendiri.

Tatapan Chanyeol mengarah ke mulut Baekhyun. "Selamat," katanya.

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak mengerti. "Apa yang sudah kulakukan?"

"Kau belum mengumpat sejak tadi, padahal kita sudah bersama selama setengah jam. Kau bahkan tidak memaki-maki ketika kutarik keluar dari supermarket."

"Sungguh?" Baekhyun tersenyum senang dengan dirinya sendiri.

Mungkin keharusan membayar denda itu berhasil berpengaruh pada alam bawah sadarnya. Baekhyun masih memikirkan banyak sumpah serapah, tapi tidak kena denda kalau ia tidak mengucapkannya. Sudah ada kemajuan. Chanyeol memiringkan gelas dan meneguk isinya. Baekhyun memperhatikan dengan terpana, sementara otot-otot leher Chanyeol yang kuat bekerja. Baekhyun berjuang meredakan dorongan hati yang kuat untuk melucuti pakaian lelaki itu.

Apa yang salah dengan dirinya? Ia sering melihat orang lain minum sepanjang hidupnya, dan belum pernah berakibat seperti ini pada dirinya, bahkan belum pernah dengan satupun dari tiga mantan tunangannya.

"Lagi?" tanya Baekhyun begitu Chanyeol sudah meneguk habis isi gelasnya dan meletakkan gelas itu di atas meja makan.

"Tidak, terima kasih," jawab Chanyeol menolak, seraya memandang Baekhyun. Tatapan penuh nafsu itu menelusuri tubuh Baekhyun, kepala hingga kaki.

Baekhyun duduk di atas meja, sementara Chanyeol memilih kursi di sebelah Baekhyun. Chanyeol membuka percakapan dan Baekhyun menanggapinya dengan baik. Baekhyun memekik tertawa ketika Chanyeol mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat lucu. Ia melemparkan dirinya kembali ke kursi sedemikian keras sehingga ia justru terjatuh. Ia duduk di lantai memeganggi rusuknya, yang sudah jauh berkurang sakitnya tapi sekarang terpaksa mulai membutuhkan perawatan ekstra lagi. Namun ia tidak dapat berhenti tertawa. BooBoo mendekat dengan waswas, tetapi kucing gembul itu memutuskan tidak ingin berada dalam jangkuan Baekhyun dan sebagai gantinya mencari tempat perlindungan di bawah kursi Chanyeol.

Chanyeol membungkuk dan mengangkat BooBoo. Ia memangku kucing itu dan membelai-belainya. BooBoo memejamkan mata dan mendengkur. Si kucing mendengkur, dan Chanyeol memandangi Baekhyun, menunggu hingga tawa yang terbahak-bahak itu mereda ke tawa terkikik dan desahan. Baekhyun duduk di lantai sambil memeluk rusuknya, matanya basah oleh air mata.

"Perlu bantuan untuk berdiri?" tanya Chanyeol. "Sebaiknya kau kuperingatkan. Kalau tanganku menyentuhmu, mungkin sulit dilepaskan lagi."

"Aku bisa sendiri, terima kasih," jawab Baekhyun seraya bangkit berdiri dengan hati-hati dan menyeka matanya dengan serbet.

"Bagus. Aku tak suka mengusik...siapa namanya? BooBoo? Kenapa kucing dinamakan seperti itu?"

"Jangan salahkan aku. Salahkan saja ibuku."

"Kucing seharusnya mendapat nama yang sesuai. Menamainya BooBoo sama saja dengan menamai anak laki-lakimu Alice. BooBoo seharusnya dinamai Tiger, atau Romeo—"

Baekhyun menggeleng. "Romeo tidak masuk hitungan," sahutnya.

"Maksudmu dia—?"

Baekhyun mengangguk. "Kalau begitu, kukira BooBoo nama yang sangat bagus untuknya. Meskipun BooHoo akan lebih cocok," kata Chanyeol.

Baekhyun harus memegangi rusuknya dengan amat sangat kencang agar tidak meledak tertawa terbahak-bahak lagi. "Kau memang khas laki-laki," katanya.

"Memangnya kau ingin aku jadi apa, ballerina?" kata Chanyeol.

Baekhyun hanya terkekeh kecil. Tidak, ia tidak ingin Chanyeol menjadi apa pun selain dia apa adanya. Tidak ada orang lain lagi yang pernah menimbulkan gelembung gairah di sepanjang pembuluh darahnya seperti sampanye, dan itu kemajuan besar, mengingat beberapa minggu yang lalu mereka hanya saling menghina. Baru tiga hari berlalu sejak ciuman pertama mereka, tiga hari yang terasa seperti seabad karena belum ada ciuman-ciuman lagi sampai Baekhyun meraih telinga besar Chanyeol untuk menundukkan kepalanya hingga sejajar dengannya di supermarket tadi.

"Bagaimana kabar prinsip yang menyebalkan itu?" tanya Chanyeol, matanya setengah terkatup.

Baekhyun tahu pikiran lelaki itu tak jauh berbeda dari apa yang ada dalam benaknya sendiri. "Aku masih mencoba untuk tetap mempertahankannya," sahutnya.

"Tapi kau juga mempertimbangkannya lagi, bukan?" timpal Chanyeol.

Baekhyun hanya mengangkat bahu dengan ragu, karena ia tahu Chanyeol benar. Setiap kali berhadapan dengan Chanyeol, ia mulai mempertimbangkan lagi prinsipnya itu. Chanyeol memandang Baekhyun dan tersenyum.

"Kalau begitu, ayo tidur," katanya santai seolah sedang mengajak anak kecil untuk bermain bersama.

"Pikirmu kau cuma perlu bilang "Ayo, tidur", dan aku akan langsung pasrah?" tanya Baekhyun kesal.

"Tidak, aku ingin punya kesempatan untuk melakukan sedikit lebih dari itu sebelum kau pasrah," jawab Chanyeol, masih dengan nada santai yang sama.

"Aku takkan pasrah."

"Kenapa?"

"Karena aku sedang...datang bulan."

Baekhyun hanya menjawab dengan asal dan tanpa pikir panjang. Tapi kemudian ia segera memaki dirinya, itu adalah alasan terbodoh dan tidak masuk akal. Kini ia berharap dua hal. Pertama, ia berharap saat ini ia adalah perempuan yang sedang mengalami menstruasi. Tapi Baekhyun adalah laki-laki sejak lahir, dan laki-laki tidak mungkin mengalami menstruasi. Jadi jelas itu hal yang mustahil. Dan kedua, ia berharap Chanyeol benar-benar bodoh. Tapi Baekhyun tahu, meski tidak tahu malu lelaki itu tidak bodoh.

Kedua alis Chanyeol bertemu. "Kau apa?" tanyanya mulai marah.

"Eum...itu, menstruasi. Mungkin kau pernah dengar itu—" Baekhyun masih melanjutkan alasan tidak masuk akalnya, dan masih berharap Chanyeol memang benar-benar bodoh.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tajam. "Aku punya kakak perempuan. Kupikir aku tahu sedikit tentang menstruasi. Dan aku tahu menstruasi hanya dialami oleh perempuan, sedangkan kau laki-laki. Kau berbohong," katanya tidak percaya.

"Bagaimana jika aku adalah seorang intersex?"

"Omong kosong!"

Baekhyun mengatupkan mulutnya dan mengumpat dalam hati. "Oke, aku memang berbohong. Lalu kenapa? Aku hanya tidak siap, oke?"

Chanyeol menatap Baekhyun semakin tajam. Jelas, ia tidak setuju dengan alasan Baekhyun. "Dulu kau menghentikanku," geramnya, memejamkan mata seolah tiba-tiba ia kesakitan. "Aku sudah sungguh ingin sekali, dan kau hentikan."

"Kau buat ini terdengar seperti penghianatan," cibir Baekhyun.

Chanyeol membuka matanya, menatap Baekhyun lekat-lekat. "Bagaimana kalau sekarang?"

Tawaran tidak tahu malu itu membuat Baekhyun mengerjap. Bekhyun pikir Chanyeol sama romantisnya dengan batu karang, tapi entah kenapa mampu membuatnya menjadi terangsang.

"Mungkin untuk pemanasan kau hanya akan bertanya, "kau terangsang?"," gerutunya.

Chanyeol memberi isyarat tidak sabar. "Bagaimana kalau sekarang?" tawarnya lagi.

"Tidak," tolak Baekhyun.

"Ya ampun!" Chanyeol bersandar kembali ke kursi dan memejamkan mata lagi. "Memangnya kenapa kalau sekarang?"

"Sudah kubilang, tidak mau. Aku sedang malas."

"Jadi?"

"Jadi...tidak."

"Kenapa tidak?"

"Sebab aku tidak ingin!" bentak Baekhyun. "Jangan ganggu aku!"

Chanyeol mendesah. "Aku mengerti. PMS," katanya.

"Apa?" Baekhyun mengernyit memandang Chanyeol.

"Tadi kau bilang kau sedang menstruasi, kan?" Chanyeol tersenyum mengejek pada Baekhyun.

"PMS itu sebelumnya, tolol."

"Nah, sepertinya kau sangat paham dengan masalah ini. Jangan-jangan sebenarnya kau ini memang perempuan? Kau perempuan, huh?"

Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan terhina. Meski tadi ia memang berharap menjadi perempuan yang sedang mengalami menstruasi, tapi bukan berarti ia benar-benar berharap seperti itu. Ia hanya ingin mencari alasan untuk tidak tidur dengan Chanyeol sekarang, meski sebenarnya ia juga menginginkannya. Dan Baekhyun akui, itu adalah alasan paling bodoh yang pernah ia buat. Ia paling tidak suka dianggap seperti perempuan. Semanis apa pun wajahnya, ia bukan perempuan. Ia adalah laki-laki tulen!

Chanyeol membelai pipi Baekhyun dan tersenyum, nampak senang menggoda pemuda manis tersebut. Kemudian katanya, "Kau tahu sayang, satu-satunya ahli PMS adalah laki-laki. Itulah sebabnya laki-laki sangat bagus dalam berperang. Mereka sudah mempelajari cara Lari dan Menghindar di rumah. Tapi karena kau adalah perempuan," ia berhenti sejenak dan memperhatikan Baekhyun seolah ingin menyakinkan diri. "Ya, kau pasti perempuan. Karena itu, kau—"

Baekhyun sudah akan melemparkan penggorengan pada Chanyeol, tapi BooBoo berada di antara mereka. Dan bagaimana pun, ia harus mencari penggorengnya dulu. Chanyeol cengar-cengir melihat ekspresi Baekhyun.

"Aku bukan perempuan!" teriak Baekhyun marah.

Tapi sepertinya Chanyeol tidak peduli dengan teriakan marah Baekhyun. Ia masih saja terus menggodanya. "Tidak, kau pasti perempuan yang sedang mengalami PMS, kan?" katanya sambil menyeringai. "Kau tahu mengapa PMS disebut PMS? Sebab "penyakit sapi gila" sudah dipakai."

Oke, lupakan penggorengan. Baekhyun celingukan mencari pisau. "Keluar dari rumahku!" teriaknya marah.

Chanyeol meletakkan BooBoo di lantai dan berdiri, jelas siap Lari dan Menghindar. "Tenang," katanya sambil meletakkan kursi di antara mereka.

"Tenang? Brengsek! Sialan, dimana pisau dagingku?" Baekhyun celingukan dengan frustasi. Kalau saja ia sudah lebih lama tinggal di sini, ia pasti tahu dimana ia meletakkan segalanya.

Chanyeol beranjak meninggalkan belakang kursi, memutari meja, dan mencekal pergelangan tangan Baekhyun sebelum pemuda manis itu ingat laci mana yang berisi pisau-pisau. "Kau berhutang lima puluh dolar padaku," katanya, menyeringai sambil menarik Baekhyun ke dirinya.

"Jangan senang dulu! Sudah kubilang aku takkan membayar kalau kau yang salah," Baekhyun melontarkan kemarahannya melalui matanya sehingga ia dapat mempelototi Chanyeol dengan lebih efektif.

Chanyeol menunduk dan mencium Baekhyun. Waktu terasa berhenti lagi bagi Baekhyun. Chanyeol harus melepaskan pergelangan tangan Baekhyun, karena lengannya bergeser memeluk leher Baekhyun. Mulutnya panas dan lapar, cara menciumnya tidak seperti yang sepantasnya dilakukan tapi toh masih dibiarkan oleh Baekhyun. Aroma tubuh Chanyeol yang enak dan menggairahkan mengisi paru-paru Baekhyun, meresap ke dalam kulitnya. Tangan Chanyeol menangkup pantat Baekhyun dan mengangkatnya, sehingga tubuh mereka benar-benar sejajar, pinggul ketemu pinggul.

"Kita tidak bisa," bisik Baekhyun ketika Chanyeol mengangkat bibirnya seinci dari bibir Baehyun.

"Kita bisa melakukan yang lainnya," gumam Chanyeol sebagai jawabannya.

Lalu Chanyeol duduk sambil memangku Baekhyun, agak memiringkan tubuh Baekhyun ke belakang dan menahannya dengan lengannya. Dengan cekatan tangannya menyelinap ke balik garis leher kaos Baekhyun. Baekhyun memejamkan mata dengan senang saat telapak tangan Chanyeol yang kasar mengusapnya. Chanyeol mendesah panjang. Lalu mereka berdua menahan napas ketika tangan Chanyeol membelai-belai nipple Baekhyun, menikmati kelembutannya.

Dalam diam Chanyeol menarik tangannya, menarik lepas kaos Baekhyun ke atas kepalanya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Baekhyun berbaring setengah telanjang di pangkuan Chanyeol, napasnya menderu-deru dan dalam sementara ia menatap Chanyeol yang memandanginya. Ujung jari Chanyeol yang kasar melingkari nipple-nya dengan ringan, membuat nipple-nya menegak perlahan. Baekhyun berusaha menahan kenikmatan yang meliputi dirinya. Dan Chanyeol berusaha menahan jemari-jemarinya untuk tidak bergerak ke bawah, berusaha menahan dirinya untuk tidak menyentuh penis Baekhyun yang mulai bangun perlahan di balik celana pendek itu.

Chanyeol mengangkat hingga tubuh Baekhyun melengkung tertopang lengannya, lalu menunduk ke dada Baekhyun. Chanyeol lembut, sama sekali tidak tergesa-gesa. Baekhyun tertegun dengan kehatian-hatian Chanyeol sekarang, setelah diciumi dengan rakus sebelumnya. Chanyeol menyurukkan wajahnya ke nipple Baekhyun, mencium dan menjilatinya dengan lembut. Ketika akhirnya Chanyeol mulai menghisapnya dengan perlahan dan mantap, Baekhyun sudah begitu siap seolah Chanyeol telah menyentuhnya dengan kabel bermuatan listrik. Baekhyun tidak dapat mengendalikan tubuhnya, tidak sanggup menghentikan punggungnya yang melengkung tak terkendali dalam pelukan Chanyeol. Jantungnya berdegup kencang, nadinya berdenyut sangat cepat sehingga ia merasa pusing.

Baekhyun tidak berdaya. Sebenarnya ia sudah akan melakukan apa pun yang diinginkan Chanyeol. Ketika Chanyeol berhenti, itu karena kemauan Chanyeol sendiri, bukan kemauan Baekhyun. Baekhyun bisa merasakan Chanyeol bergetar. Tubuhnya yang berguncang seakan Chanyeol sedang kedinginan, meskipun kulitnya terasa panas. Chanyeol duduk tegak dan menekankan dahinya ke dahi Baekhyun, matanya terpejam erat, sementara tangannya mengusap-usap pinggul dan punggung Baekhyun dengan kasar.

"Kalau saja aku bisa berada di dalammu," kata Chanyeol dengan nada tegang. "Aku akan cuma bertahan sekitar dua detik. Mungkin."

Baekhyun berpikir dirinya sinting. Pasti, karena dua detik Chanyeol kedengarannya lebih baik daripada apapun lagi yang bisa dipikirkannya saat ini juga. Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca dan bibir membengkak. Ia menginginkan dua detik itu. Ia sangat menginginkannya, karena baik nipple maupun penisnya seolah mengatakan hal yang sama. Keras dan tegang.

Chanyeol menunduk memandang nipple Baekhyun, lalu bersuara setengah merengek dan mengerang. Sambil menggumakan makian ia membungkuk dan menyambar kaos Baekhyun dari lantai, kemudian menyodorkannya ke dada Baekhyun.

"Mungkin lebih baik ini kau pakai lagi," katanya.

"Mungkin sebaiknya begitu," kata Baekhyun. Ia sendiri bahkan bisa mendengar suaranya seperti orang terbius. Tapi sepertinya lengannya tidak bisa berfungsi. Keduanya tetap melingkari leher Chanyeol.

"Kalau kaos ini tidak kau pakai, kita ke kamar," kata Chanyeol lagi.

Itu bukan ancaman yang berlebihan menurut Baekhyun, manakala setiap sel dalam tubuhnya mengataka "Ya! Ya! Ya!". Sepanjang ia dapat menjaga mulutnya untuk tidak mengatakannya, ia tetap dalam posisi kuat. Tetapi ia mulai sangat ragu apakah ia akan sanggup menghentikan Chanyeol menundukkannya selama beberapa hari, apalagi beberapa minggu dengan cara seperti yang telah direncanakannya. Menyiksa lelaki bertubuh tinggi itu kedengarannya sudah tidak menyenangkan seperti sebelumnya, karena sekarang ia tahu betapa dirinya juga akan ikut tersiksa.

Chanyeol memasukkan kedua lengan Baekhyun ke kaosnya dan memakaikan kembali kaos itu melewati kepala Baekhyun. Ternyata kaos itu terbalik, tapi siapa yang peduli? Baekhyun tidak peduli.

"Kau berusaha membunuhku," tuduh Chanyeol. "Akan kubuat kau membayarnya juga."

"Bagaimana caranya?" tanya Baekhyun ingin tahu seraya menyandarkan tubuhnya ke Chanyeol. Sama seperti lengannya, rupanya ada yang salah juga dengan tulang punggungnya. Ia tidak dapat tetap tegak.

"Bukannya mengabulkan permintaanmu untuk memasukimu selama setengah jam, aku akan berhenti pada dua puluh sembilan menit."

Baekhyun tergelak. "Kukira kau cuma bertahan selama dua detik," ujarnya.

"Itu untuk yang pertama kali, yang kedua kali kita akan membuat tempat tidur kebakaran," timpal Chanyeol.

Baekhyun tahu sebaiknya ia turun dari pangkuan Chanyeol. Pinngulnya terdesak oleh Chanyeol yang sudah begitu terangsang seperti batang besi, dan membicarakan tentang seks takkan menolong. Jika ia sungguh-sungguh tidak ingin tidur dengan Chanyeol sekarang, seharusnya ia berdiri. Namun ia sungguh-sungguh ingin tidur dengan Chanyeol, dan hanya sebagian kecil otaknya yang masih waspada.

Bagaimanapun, sebagian kecil otaknya itu terus-menerus memperingatkan. Ia sudah belajar dari pengalamannya yang tidak enak untuk tidak menganggap berbahagia-selamanya akan terjadi pada dirinya, dan hanya karena ia dan Chanyeol sama-sama sangat tertarik satu sama lain bukan berarti ada sesuatu yang lebih dari seks diantara mereka.

Baekhyun berdehem. "Sebaiknya aku berdiri, kan?" tanyanya.

"Kalaupun kau harus berdiri, lakukan pelan-pelan," jawab Chanyeol.

"Sebegitu gawatnya, huh?"

"Sebut saja aku gunung Etna."

"Etna siapa?"

Chanyeol tertawa, sesuai yang diharapkan Baekhyun, tetapi terdengar tegang. Dengan hati-hati sekali Baekhyun meninggalkan pangkuan lelaki itu. Chanyeol mengernyit dan dengan canggung bangkit berdiri. Bagian depan celananya tampak tidak jelas bentuknya, ada yang mencuat. Baekhyun mencoba tidak memandanginya, seraya berusaha menutupi bagian depan celananya sendiri dengan tangannya.

"Ceritakan padaku mengenai keluargamu," kata Baekhyun tanpa pikir panjang.

"Apa?" Chanyeol tampak seakan menemui kesulitan mengikuti perubahan pokok pembicaraan itu.

"Keluargamu. Ceritakan padaku tentang mereka."

"Kenapa?"

"Untuk mengalihkan pikiran dari...kau tahu," Baekhyun mengucapkan kalimat "kau tahu" dalam nada bertanya. "Kau bilang tadi kau punya kakak perempuan."

"Ya. Aku hanya dua bersaudara."

"Apakah keluargamu dekat."

"Yah, cukup dekat."

Pengalihan itu telah berhasil. Chanyeol tampak sedikit lebih santai daripada sesaat sebelumnya, meskipun tatapannya masih cenderung mengarah ke dada dan pantat Baekhyun. Agar Chanyeol tidak melamun saja, Baekhyun menuangkan segelas es teh lagi dan memberikannya pada lelaki itu.

"Kau sudah pernah menikah?" tanya Baekhyun.

"Satu kali, sekitar lima tahun lalu," jawab Chanyeol seraya memainkan gelas di tangannya.

"Apa yang terjadi?"

"Dia tak suka menjadi suami polisi, aku tak suka menjadi suami uke nakal. Selesai. Dia langsung kabur ke Jepang begitu surat cerai ditandatangi. Bagaimana denganmu?"

Baekhyun diam sejenak. Lalu dengan ragu-ragu ia bertanya, "Apa menurutmu aku nakal?"

Tuhan tahu Baekhyun tidak selalu bertingkah sopan dengan Chanyeol. Baekhyun mencoba memikirkannya dan menyadari, bahwa ternyata ia belum pernah bertingkah laku sopan dengan Chanyeol.

"Tidak. Kau memang sangat menakutkan, tapi kau tidak nakal," jawab Chanyeol.

"Terima kasih," gumam Baekhyun. Lalu supaya adil ia berkata, "Tidak, aku belum pernah menikah. Tapi aku sudah pernah bertunangan tiga kali."

Gelas yang hendak diteguk Chanyeol berhenti di tengah jalan, dan Chanyeol memandang Baekhyun dengan terkejut. "Tiga kali?"

Baekhyun mengangguk. "Kukira aku tak begitu bagus dalam urusan hubungan romantis."

Tatapan Chanyeol kembali ke pantat Baekhyun. "Oh, entahlah. Kau bagus sekali untuk membuatku tertarik terus-menerus," ujarnya kemudian.

"Jadi mungkin kau mutan," Baekhyun mengangkat bahu, mati kutu. "Tunangan keduaku memutuskan bahwa dia masih mencintai mantan pacarnya, yang rasanya bukan mantan sama sekali. Tapi aku tak tahu apa yang terjadi dengan dua yang lainnya."

Chanyeol mendengus. "Barangkali mereka ketakutan," katanya.

Ketakutan! Karena beberapa alasan, bagi Baekhyun itu menyakitkan, tapi hanya sedikit. Baekhyun merasa bibir bawahnya bergetar saat bertanya, "Aku tidak sejelek itu, kan?"

"Lebih jelek," sahut Chanyeol nyengir. "Kau memang sulit dan susah ditebak. Untungnya aku juga suka marah-marah. Sekarang, jika kau mau membalik pakaianmu, akan kuajak kau keluar makan malam. Kalau burger bagaimana?"

"Aku lebih suka Chinese food," jawab Baekhyun sambil berjalan di lorong pendek menuju kamarnya.

"Sudah kuduga," Chanyeol menggumamkan jawab itu, tetapi Baekhyun mendengarnya. Baekhyun tersenyum sambil menutup pintu kamar dan melepaskan kaosnya.

Tbc