Part 10 update! Unedited

Have a good day ^^

.

.

.

Part 10

Hari itu Baekhyun benar-benar sibuk. Setumpuk pekerjaan menyita perhatiannya, hingga pukul sembilan Tao meneleponnya. Baekhyun mengangkat telepon di meja kerjanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer di depannya. Namun ia segera mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara Tao terdengar cemas.

"Kau sudah dengar kabar dari Kyungsoo?" tanya Tao. "Dia belum datang kerja, tapi saat aku telepon ke rumahnya tidak ada jawaban. Dia biasanya tidak pernah terlambat. Dan dia tidak menelepon untuk memberitahu terlambat atau sakit, atau apa saja."

Itu benar-benar di luar kebiasaan Kyungsoo. Kyungsoo adalah karyawan yang rajin dan selalu dapat diandalkan. Baekhyun mengerutkan kening. Sekarang dialah yang cemas. "Kau sudah mencoba menghubungi ponselnya?" tanyanya.

"Tidak aktif," jawab tao.

Pikiran pertama yang muncul di otak Baekhyun adalah mungkin terjadi kecelakaan. Lalu lintas Seoul luar biasa kacau di pagi hari. "Aku akan menelepon ke nomor-nomor lain, siapa tahu aku bisa menghubunginya," katanya dengan menyembunyikan kecemasannya yang muncul mendadak.

"Oke. Beritahu aku nanti."

Baekhyun menutup teleponnya seraya berusaha berpikir siapa yang akan diteleponnya untuk mencari informasi tentang kecelakaan lalu lintas dimana pun di jalan tol menuju Navilla Corp. Tentu saja, Chanyeol akan tahu siapa yang harus di telepon. Cepat-cepat Baekhyun mencari nomor telepon Kepolisian Seoul, menghubunginya, dan minta dipanggilkan detektif Park Chanyeol. Lalu ia disuruh menunggu. Ia menanti dengan tak sabar, mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja selama beberapa menit.

Akhirnya suara halus wanita itu kembali dan mengatakan, "Detektif Park Chanyeol tidak ada di tempat, apakah kau mau meninggalkan pesan?"

Baekhyun ragu-ragu. Ia tidak suka mengganggu Chanyeol dengan sesuatu yang mungkin saja ternyata bukan apa-apa, namun menurutnya tidak ada orang lain lagi di kepolisian itu yang akan sungguh-sungguh menanggapi kekhawatirannya. Kalau ada teman kerja yang terlambat datang, setengah jam, pada umumnya itu bukan cukup alasan untuk menelepon polisi. Chanyeol mungkin tidak akan menanggapinya secara serius juga, tetapi setidaknya ia akan berusaha menemukan sesuatu.

"Apakah kau tahu nomor ponselnya?" tanyanya akhirnya. "Ini penting,"

Penting baginya, meskipun mungkin tidak bagi mereka.

"Ada keperluan apa?"

Pertanyaan wanita itu membuat Baekhyun merasa kesal dan penasaran, apakah biasanya para pacar-pacar Chanyeol selalu menelepon Chanyeol di tempat kerja sehingga para petugas itu harus selalu menanyakan pertanyaan itu.

"Aku salah satu simpanannya," jawab Baekhyun asal, sambil berdoa untuk kebohongannya itu.

"Kalau begitu seharusnya kau punya nomor ponselnya?"

"Oh, demi Tuhan! Ada orang yang mungkin terluka parah atau tewas—" Baekhyun menghentikan ucapannya. "Oke, aku hamil dan kupikir sebaiknya dia tahu."

Suara itu tertawa di ujung telepon. "Apakah ini Byun Baekhyun?" tanya si petugas wanita.

Oh, ya Tuhan, Chanyeol sudah membicarakan dirinya! Tiba-tiba wajah Baekhyun terasa memanas. "Em—ya," gumamnya. "Maaf."

"Tidak apa-apa. Dia berpesan supaya aku menghubungkanmu dengannya kalau kau menelepon."

Ya, tapi bagaimana Chanyeol menggambarkan dirinya?, Baekhyun menahan diri untuk bertanya dan mencatat nomor ponsel Chanyeol. "Terima kasih," katanya.

"Terima kasih kembali. Eh—tentang hamil itu..."

"Aku bohong. Aku laki-laki," kata Baekhyun, dan berusaha menampilkan sedikit rasa malu dalam suaranya. Namun rasanya ia tidak berhasil, karena wanita itu tertawa di ujung telepon.

"Kau cocok, nak," kata wanita itu dan menutup teleponnya, meninggalkan Baekhyun yang bertanya-tanya apa maksudnya.

Baekhyun memutuskan untuk tidak peduli, lalu menekan nomor ponsel Chanyeol. Namun ponsel Chanyeol sedang sibuk dan telepon Baekhyun berakhir di mailbox. Maka Baekhyun meninggalkan sebuah pesan singkat dan nomornya. Karena nomornya bukan nomor yang dikenal Chanyeol, Baekhyun bertanya-tanya berapa lama Chanyeol akan meneleponnya kembali. Sambil menunggu telepon dari Chanyeol, ia menelepon bagian akunting.

"Apakah Do Kyungsoo sudah datang?" tanyanya.

"Belum," jawaban cemas yang didengarnya. "Kami belum mendengar kabar dari dia."

"Ini Byun Baekhyun, ext 3621. Kalau dia datang, tolong minta dia meneleponku segera."

"Oke."

Baekhyun menutup teleponnya dan mencoba untuk melanjutkan pekerjaannya, meski kecemasan terus mengusik pikirannya. Pukul setengah sepuluh lebih telepon di meja kerja Baekhyun berdering lagi. Baekhyun menyambar gagang telepon, berharap Kyungsoo akhirnya muncul.

"Byun Baekhyun," ucapnya.

"Aku dengar kita akan jadi orang tua," suara Chanyeol yang dalam terdengar dari seberang.

Dasar mulut ember!, batin Baekhyun.

"Aku harus bilang sesuatu. Dia tak percaya aku simpananmu," ujarnya.

"Beruntung semua orang sudah kuperingatkan mengenai kau," kata Chanyeol, lalu bertanya. "Ada apa?"

"Tak ada apa-apa, semoga. Temanku Kyungsoo, dia belum datang di kantor, belum menelepon, tak ada jawaban dari telepon rumah dan ponselnya. Aku takut mungkin dia mendapatkan kecelakaan di jalan, tapi aku tak tahu harus menghubungi siapa untuk menanyakannya. Bisakah kau memberitahuku?"

"Tidak ada masalah. Aku akan menghubungi divisi lalu lintas kami dan minta mereka mengecek laporan. Dimana dia tinggal?"

Cepat-cepat Baekhyun memberikan alamat Kyungsoo, lalu berhenti ketika ada pikiran mengerikan lain muncul di benaknya. "Chanyeol...beberapa minggu ini ada seseorang yang menguntit Kyungsoo. Orang itu mengirimkannya pesan, hadiah dan sketsa-sketsa yang mengerikan. Kemarin dia sudah melapor pada polisi, tapi karena Kyungsoo harus menjemput ibunya di rumah neneknya, seharusnya dia mengajukan laporan resmi hari ini."

Sunyi sejenak, sebelum kemudian Chanyeol bertanya dengan nada serius, "Jadi, Do Kyungsoo, pemuda yang melapor ke Kepolisian Seoul kemarin itu adalah temanmu?"

"Ya. Kemarin aku ikut menemaninya melapor."

Kembali sunyi sebentar, lalu nada suara Chanyeol berubah jadi tergesa-gesa dan formal. "Aku akan menghubungi sheriff sekaligus kepolisian tempat Do Kyungsoo tinggal, meminta mereka untuk memeriksa rumahnya. Bukan apa-apa, tapi tak ada salahnya untuk memastikan."

"Terima kasih," kata Baekhyun lirih.

*ChanBaek*

Chanyeol tidak suka dengan apa yang dipikirkannya, namun ia sudah terlalu lama menjadi polisi untuk mengganggap tindakan Baekhyun berlebihan. Baekhyun bukan jenis orang yang panik tanpa sebab. Mungkin mobil Do Kyungsoo rusak, tapi mungkin juga tidak. Maka Chanyeol menelepon ke dua tempat. Yang pertama ke Kepolisian wilayah tempat Kyungsoo tinggal, yang berikutnya ke temannya di bagian lalu lintas pagi. Sersan Park Shinhoo yang berbicara kepadanya mengatakan bahwa mereka akan segera mengirim mobil untuk memeriksa rumah Kyungsoo, Chanyeol pun tidak jadi menelepon sheriff. Ia meninggalkan nomor ponselnya sebelum menutup teleponnya.

Lima menit kemudian temannya di bagian lalu lintas yang lebih dulu memberikan laporan. "Tidak ada kecelakaan berat pagi ini," katanya. "Hanya ada beberapa kecelakaan kecil, dan ada orang yang meninggalkan mobilnya di pinggir jalan 157."

Chanyeol tidak suka perasaan yang tiba-tiba menyergapnya. Tapi ia tidak ingin cepat menyimpulkan. "Kalau boleh tahu, berapa nomor pelat mobil itu?" tanyanya.

Sunyi sejenak. Kemudian temannya di bagian lalu lintas itu menyebutkan nomor pelat mobil itu. Chanyeol mencatat nomor pelat mobil itu dan kembali bertanya, "Bagaimana keadaan mobil itu?"

"Tidak ada tanda-tanda pemaksaan. Mobilnya terkunci."

"Terima kasih sudah memeriksa."

"Kapan saja."

Chanyeol menutup teleponnya dan menunggu. Pada pukul 10.15 ponselnya berdering lagi. Kali ini sersan Park Shihoo yang mengatakan bahwa rumah Kyungsoo kosong dan tidak ada masalah. Sepertinya Kyungsoo tidak pulang semalam. Chanyeol berterima kasih, lalu menutup teleponnya. Ia terdiam sejenak, berpikir. Kemudian ia mencari pemilik nomor pelat mobil itu dengan menggunakan komputernya. Sebagai polisi mudah saja mendapatkan data seseorang. Tidak lama sebuah nama muncul.

Itu nomor pelat mobil milik Do Kyungsoo.

Chanyeol terdiam. Perasaan itu kembali menyergapnya. Ia kembali menelepon temannya di bagian lalu lintas, meminta beberapa polisi untuk mengamankan mobil dan tempat ditemukannya mobil itu. Juga melaporkan hal itu pada Kai. Kemudian ia menarik napas dalam dan menelepon Baekhyun lagi. Pada dering kedua Baekhyun menjawab teleponnya.

"Bagaimana? Dia tidak apa-apa, kan?" tanya Baekhyun cemas.

"Aku belum tahu apa pun. Rumahnya kosong dan tidak ada tanda-tanda temanmu pulang ke rumah semalam. Tapi mobilnya ditemukan di jalan 157, kosong dan terkunci," jawab Chanyeol.

Baekhyun terdengar menarik napas. "Aku tidak suka perasaan ini," katanya.

"Jangan menyimpulkan apa pun dulu. Kami akan mencarinya. Aku akan memberitahumu kalau sudah mendengar kabar. Oh—mau makan siang denganku?"

"Tentu. Dimana?"

Baekhyun masih terdengar cemas dan ketakutan, namun Chanyeol tahu Baekhyun sedang menahannya dengan cara yang telah diketahunya. "Aku akan menjemputmu, jika kau bisa membuatku melewati gerbang."

"Itu mudah. Jam dua belas?"

Chanyeol melihat jam tangannya. Pukul 10.35. Ia butuh waktu cukup lama berkendara dari Kepolisian Seoul ke Navilla Corp. "Bisa lebih awal, misalnya sekitar sebelas seperempat?"

"Aku akan menemuimu di lantai bawah."

*ChanBaek*

Baekhyun sedang menunggu Chanyeol di pintu depan gedung ketika petugas mempersilahkan Chanyeol melewati gerbang. Chanyeol turun dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu. Dalam keadaan normal mungkin Baekhyun akan marah karena Chanyeol memperlakukannya seperti wanita, tapi saat ini ia sedang tidak berminat untuk bertengkar dengan si tampan itu. Mata Baekhyun gelisah ketika mengamati ekspresi Chanyeol. Pria tampan itu sedang memasang wajah polisi, tanpa emosi seperti topeng, dan itu membuat wajah baekhyun memucat. Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun dan mengangkatnya naik ke mobil pikapnya, lalu berjalan memutar kembali ke belakang kemudi.

"Katakan," kata Baekhyun. Suaranya tercekik karena perasaan cemas.

Chanyeol menghembuskan napas, kemudian meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan erat. "Apakah menurutmu penguntit itu telah menculik Kyungsoo? Apakah...apakah Kim Suho telah melakukan sesuatu pada Kyungsoo hingga tiba-tiba dia menghilang seperti itu?" Baekhyun bertanya dengan cemas.

"Kita belum tahu pasti, sayang. Terlalu dini untuk menyimpulkan sesuatu," jawab Chanyeol.

Baekhyun mendesah pelan. "Tidak biasanya Kyungsoo seperti ini," katanya. Ia menarik tangannya dari genggaman Chanyeol dan merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. "Aku harus memberitahu Tao dan Heechul hyung, mereka juga pasti sedang cemas saat ini."

"Belum, sayang. Kita masih belum tahu pasti," cegah Chanyeol. "Jika kau memberitahu mereka sekarang, mereka pasti akan panik dan berita ini akan langsung tersebar ke seluruh gedung. Kau tahu bagaimana cepatnya sebuah berita tersebar keluar, kan? Aku yakin keluarganya juga pasti sedang cemas saat ini. Jangan sampai mereka mendengarnya dengan cara seperti itu."

"Dia tidak punya banyak keluarga," Baekhyun berkata sambil menggenggam erat ponselnya. Akhirnya ia tidak jadi memberitahu Tao dan Heechul. "Dia anak tunggal. Hanya sepupunya yang cukup dekat dengannya. Cuma itu yang pernah disebutnya."

"Tahukah kau nama sepupunya itu?"

"Minho. Kudengar sepupunya itu tinggal bersama neneknya di Incheon. Dan kemarin, seharusnya Kyungsoo menjemput ibunya di rumah neneknya."

Chanyeol menghubungi sebuah nomor dengan ponselnya, dan berbicara pelan dengan entah siapa yang menjawab di ujung sana. Beberapa menit kemudian Chanyeol selesai menelepon dan memandang Baekhyun.

"Apakah ada orang lain yang tahu tentang masalah penguntit ini selain dirimu?" tanyanya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Kurasa tidak. Kyungsoo baru memberitahuku sore kemarin, dan aku tidak memberitahu siapa pun," jawabnya. "Kyungsoo memintaku merahasiakan ini dari ibunya. Ibunya mudah sekali khawatir dan panik."

Baekhyun menunduk, wajahnya nampak sangat cemas. Chanyeol menatapnya, dan ia tahu bahwa Baekhyun sedang berusaha berhenti memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi pada sahabatnya itu. Ia meraih Baekhyun dan memeluknya.

"Jangan," kata Chanyeol. "Jangan mencoba berpikir ataupun membayangkan hal-hal yang buruk. Temanmu itu pasti baik-baik saja. Kami akan menemukannya."

Baekhyun hanya mengangguk pelan. Chanyeol melepaskan pelukannya dan bertanya, "Apa kau mau makan sesuatu?"

Baekhyun hanya memandang Chanyeol, seolah mengatakan bagaimana ia bisa makan di saat sahabatnya sedang hilang saat ini? Tapi meski begitu, ia merasakan perutnya cukup lapar. Akhirnya ia hanya kembali mengangguk pelan tanpa mengatakan apa pun.

"Kau harus makan sesuatu. Oke, pasang sabuk pengamanmu," Chanyeol berkata sambil tersenyum.

Dengan patuh Baekhyun memakai sabuk pengaman dan duduk mematung ketika Chanyeol menghidupkan mesin mobilnya, lalu mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area gedung Navilla Corp. Mereka makan siang di sebuah restoran ramyeon. Makan siang itu berjalan dengan tenang, tidak ada pertengkaran kecil atau makian-makian Baekhyun yang biasanya selalu terdengar jika mereka sedang bersama. Chanyeol tahu bahwa Baekhyun sedang cemas saat ini, dan ia tidak berniat untuk mengganggunya.

Setelah selesai makan siang Chanyeol mengantarkan Baekhyun kembali ke kantornya. Saat Chanyeol hendak membantu Baekhyun naik ke mobilnya, ia memeluk pemuda manis itu selama beberapa lama. Dan Baekhyun hanya tersenyum samar. Ia merasa bersyukur karena Chanyeol ada di sisinya saat ini. Ia sangat butuh seseorang saat ini, untuk membantunya mengurangi kecemasannya.

"Apa yang sebenarnya kau katakan pada semua orang di tempat kerjamu tentang aku?" Baekhyun bertanya ketika Chanyeol mulai mengemudikan mobilnya di jalanan yang ramai menuju kantornya. Ia hanya mencari-cari bahan pembicaraan.

Chanyeol mencoba tampak polos. Namun tidak begitu berhasil muncul di wajah kasar itu. "Tak banyak. Hanya pesan agar memberitahumu bagaimana menghubungiku kalau kau menelepon. Seharusnya aku sudah memberimu nomorku."

"Boleh juga," komentar Baekhyun.

"Tak berhasil, ya?" Chanyeol melirik Baekhyun.

"Tidak."

"Oke, aku memberitahu teman-temanku bahwa kau suka memaki-maki seperti pelaut—"

"Aku tidak seperti itu!"

"—punya pantat paling bagus di Seoul ini, dan kalau kau menelepon, kuminta mereka menghubungiku dengan segera karena aku sudah berusaha mengajakmu tidur dan mungkin kau menelepon untuk menjawab ya."

Baekhyun berpikir jika Chanyeol hanya sedang berusaha menghiburnya. "Manis sekali," katanya.

Baekhyun memandang keluar jendela, kembali diam, lalu mendesah pelan. Chanyeol memandang jemari Baekhyun yang bermain dengan gelisah. Ia tahu pemuda manis itu benar-benar sangat cemas saat ini. Tiba-tiba Chanyeol menepikan mobilnya, berhenti lalu mematikan mesin mobilnya. Baekhyun menoleh pada Chanyeol.

"Kemarilah," kata Chanyeol meraih tangan Baekhyun.

Baekhyun hanya diam ketika Chanyeol menariknya ke atas pangkuannya, dan merebahkan kepalanya ke bahunya yang nyaman. "Aku memberitahu mereka bahwa kau istimewa," gumam Chanyeol, lalu mencium puncak kepala Baekhyun. "Dan kalau kau menelepon, aku ingin bicara denganmu tak peduli dimana pun aku berada atau apa pun yang sedang kulakukan."

Baekhyun kembali berpikir, mungkin itu juga bohong, tetapi itu sama manisnya dengan yang tadi. Anehnya, Baekhyun tersenyum juga. "Bahkan kalau kau sedang menjalankan tugas satuanmu?" tanyanya.

Chanyeol terdiam. "Mungkin tidak saat itu," jawabnya kemudian.

Baekhyun hanya diam. Rasanya kepalanya berdenyut-denyut karena semua pikiran-pikiran buruk itu. Saat ini ia merasa sangat cemas dan gelisah. Ia ingin sekali meminta Chanyeol untuk bercinta dengannya sekarang, ia masih punya cukup waktu sebelum jam makan siang usai, namun ditelannya kata-kata itu. Ia memang membutuhkan penghiburan dan kedekatan, peneguhan, namun ia juga merasa keinginannya itu tidak benar. Saat pertama mereka seharusnya tidak dalam suasana seperti itu. Sebagai gantinya ia menyurukkan wajahnya ke leher Chanyeol dan menghirup aroma maskulinnya, merasakan kenyamanan yang didapatnya dari kedekatan itu.

"Apa sebenarnya yang dikerjakan satuanmu?" Baekhyun memilih untuk bertanya kembali, mencoba mengalihkan pikiran-pikiran buruk dari kepalanya.

"Tergantung. Satuan-satuan dibentuk untuk alasan-alasan yang berlainan," jawab Chanyeol seraya memperat pelukannya.

"Apa yang dikerjakan satuanmu?"

"Ini satuan tugas kejahatan dengan kekerasan multidepartemen. Kami menangkap para pelaku kejahatan dengan kekerasan."

"Apakah pembunuhan juga termasuk? Kau juga menyelidiki tentang pelaku pembunuhan?"

"Ya, itu juga termasuk."

Baekhyun terdiam sejenak. Ia tidak suka mendengar kalimat kekerasan. Menangkap para penjahat pelaku kekerasan kedengarannya seakan Chanyeol mendobrak pintu dan semacamnya, dan berhadapan dengan orang jahat yang cenderung menembaknya.

"Aku ingin menanyaimu beberapa hal tentang itu," kata Baekhyun mengangkat kepalanya untuk menatap Chanyeol dengan kening berkerut. "Tapi tidak sekarang. Nanti."

Chanyeol menghembuskan napas lega. Teringat bahwa mereka masih di dalam mobil dan mungkin saja orang-orang di luar dapat melihat mereka, Baekhyun meninggalkan kenyaman berada di pangkuan Chanyeol dan kembali duduk di tempatnya. Chanyeol menyalakan mesin mobil dan kembali mengemudikan mobilnya menuju Navilla Corp.

"Aku akan memberitahumu jika ada kabar baru. Kau jangan khawatir," kata Chanyeol setelah ia menghentikan mobilnya di depan kantor Baekhyun.

"Janji pramuka?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol.

"Janji pramuka."

"Apa kau pernah menjadi pramuka?"

"Tidak. Aku terlalu sibuk dengan urusanku."

Chanyeol begitu baik sehingga Baekhyun ingin memeluknya erat-erat ini. Namun alih-alih, ia justru mencium Chanyeol dan berkata, "Terima kasih, Chanyeol. Aku tak tahu apa yang akan kuperbuat hari ini tanpa kau."

"Paling tidak kau sudah berusaha. Kau belum memaki sejak tadi," kata Chanyeol membuat Baekhyun tersenyum. Lalu ia balas mencium pemuda manis itu dengan penuh perasaan, tetapi menarik diri sebelum ciuman itu memanas dan menjadi semakin serius. "Aku akan menghubungimu nanti."

Baekhyun mengangguk dan beranjak turun dari mobil Chanyeol. Ia berdiri dan memandang mobil Chanyeol yang melaju pergi, mendesah pelan, lalu menapaki tangga menuju pintu masuk gedung. Sepanjang hari itu Baekhyun berusaha untuk tetap tenang. Namun ketika Tao dan Heechul mendatanginya dan bertanya tentang Kyungsoo, ia kembali merasa ketakutan.

*ChanBaek*

"Detektif Park Chanyeol."

Petugas Daniel memanggil tepat ketika Chanyeol baru tiba di kepolisian Seoul. Chanyeol menoleh dan petugas muda itu segera menghampirinya sambil membawa lembaran-lembaran kertas di tangannya.

"Ada kiriman faks dari detektif Lay," petugas Daniel berkata seraya memberikan lembaran-lembaran kertas itu pada Chanyeol.

Chanyeol menerimanya dan memperhatikan tumpukan kertas itu sesaat. "Terima kasih," katanya.

Petugas muda itu tersenyum lalu beranjak pergi, kembali pada pekerjaannya. Chanyeol berjalan menuju ruangannya bersama kai seraya membawa tumpukan kertas-kertas itu. Saat ia membuka pintu, ia melihat Kai sedang sibuk di telepon. Kai hanya menoleh melihat kedatangan Chanyeol dan memberi isyarat untuk menunggu.

Tidak ingin menganggu, maka Chanyeol membiarkan Kai dengan teleponnya. Ia meletakkan tumpukan kertas-kertas yang dibawanya itu di atas meja, beranjak menuangkan kopi ke sebuah cangkir plastik, lalu duduk di kursi sambil membawa cangkir plastik berisi kopi panas. Ia memperhatikan Kai dan menebak bahwa yang sedang berbicara dengan Kai di telepon itu adalah keluarga Do Kyungsoo yang sedang cemas. Dan memang tebakan Chanyeol tidak meleset. Kai sedang berbicara dengan ibu Do Kyungsoo yang sedang cemas karena putranya menghilang. Namun karena wanita itu terlalu panik akhirnya teleponnya dialihkan pada sepupu Kyungsoo yang bernama Minho.

"Mobilnya ditemukan di jalan 157. Kami sudah mencarinya tapi Kyungsoo hyung tidak ada dimana-mana. Menurutmu sesuatu yang buruk telah terjadi padanya, kan?" Minho berkata di ujung telepon.

"Aku tidak tahu," Kai berkata setenang mungkin. "Tapi kemarin dia datang untuk melapor pada petugas kami."

"Melapor? Tentang apa? Apa telah terjadi sesuatu pada Kyungsoo hyung?" Minho terdengar terkejut.

"Minho-ssi, aku dan rekanku ingin bicara dengan keluarga Do Kyungsoo nanti. Kyungsoo-ssi diawasi seseorang."

"Benarkah? Astaga!" kemudian Mingo mengecilkan suaranya, hampir berbisik. "Detektif, bisakah kau merahasiakan hal itu dari bibi Minam? Bibi Minam, ibu Kyungsoo hyung, mudah sekali panik. Dia sudah cukup khawatir saat ini."

"Aku khawatir tidak dapat merahasiakan fakta ini dari bibimu. Beritahu bibimu apa yang terjadi dan tunggulah kami."

"Aku mengerti. Kami...kami akan menunggumu. Dan tolong, detektif...temukan Kyungsoo hyung."

"Kami akan berusaha sebaik mungkin."

Setelah menutup telepon, Kai berbalik memandang Chanyeol yang sejak tadi mendengarkan pembicaraannya sambil menikmati kopinya. "Itu tadi keluarga Do Kyungsoo, kan?" tanya Chanyeol memastikan.

"Ya," jawab Kai. "Ibunya sangat panik karena Do Kyungsoo menghilang. Dia sangat panik hingga aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Kemarin Do Kyungsoo datang melapor, tetapi sekarang dia menghilang. Kau tahu apa artinya ini?"

"Satu tambah satu biasanya sama dengan dua," sahut Chanyeol. "Sebaiknya Kim Suho memiliki alibi yang bagus."

Kai hanya mendengus. Chanyeol bertanya lagi, "Lalu, apakah kau sudah bicara dengan sepupu Do Kyungsoo yang bernama Minho?"

Kai beranjak menuangkan kopi ke sebuah cangkir plastik sambil menjawab, "Sudah. Karena ibunya terlalu panik, akhirnya telepon dialihkan pada orang bernama Minho itu. Sepertinya keluarga Do Kyungsoo tidak ada yang tahu tentang masalah penguntit itu."

Chanyeol menyesap kopinya perlahan dan berkata, "Ya, Baekhyun juga bilang seperti itu. Dia bilang ibu Do Kyungsoo mudah sekali panik."

Kai menoleh, mengernyit memandang Chanyeol. "Baekhyun?" tanyanya.

"Itu...tetanggaku. Byun Baekhyun, sahabat Do Kyungsoo."

Kai beranjak duduk di depan Chanyeol dan menatapnya lekat-lekat. "Aku dengar kau memberitahu semua orang di kepolisian ini tentang orang bernama Baekhyun," katanya dengan tersenyum jahil. "Jadi, kau berkencan dengan sahabat korban, huh?"

Chanyeol hanya tersenyum. Ia meletakkan cangkir plastiknya yang hampir kosong di atas meja, lalu meraih tumpukan kertas-kertas yang tadi diberikan oleh Daniel. "Apa itu?" tanya Kai, baru menyadari tumpukan kertas-kertas di depan sang rekan.

"Kiriman faks dari Lay hyung. Daniel memberikannya padaku saat aku datang tadi," jawab Chanyeol mulai membaca kertas-kertas itu.

Lembaran-lembaran kertas itu ternyata adalah laporan-laporan tentang kasus pembunhan yang mirip dengan kasus pembunuhan Victoria yang berhasil Lay temukan. Namun Lay hanya berhasil menemukan satu kasus pembunuhan yang serupa dalam jangka waktu enam bulan. Sepertinya Lay butuh waktu lagi untuk bisa mendapatkan informasi dalam wangka waktu satu tahun seperti yang diinginkan oleh Chanyeol.

Chanyeol membaca laporan-laporan itu dengan wajah serius. Matanya membaca setiap kalimat dalam lembaran-lembaran kertas itu dengan teliti. Memasukkan setiap informasi ke dalam kepala jeniusnya. Hingga akhirnya dia berkata,

"Kau tahu, Kai, ternyata Victoria memang bukan korban yang pertama."

Kai yang sedang menikmati kopinya mengangkat kepalanya memandang Chanyeol. Ia meletakkan cangkir plastiknya di atas meja dan menerima saat Chanyeol memberikan lembaran-lembaran kertas itu padanya. Sejenak ia membacanya dengan wajah mengernyit. Semenit kemudian wajahnya berubah menjadi terkejut.

"Astaga!" gumamnya.

Ternyata korban sebelum Victoria adalah seorang wanita cantik bernama Luna. Mereka diculik dan terbunuh dengan cara yang sama. Telanjang, berpose dengan leher yang tersayat.

"Hyung, apa kau pikir siapa pun yang membunuh Victoria dan Luna telah menculik Do Kyungsoo juga, begitu?" tanya Kai mengalihkan pandangannya pada Chanyeol.

Chanyeol mengangguk. "Mobil Do Kyungsoo ditemukan dalam keadaan terkunci dan tidak ada tanda-tanda paksaan. Tampaknya jelas bahwa seseorang muncul dan memberi tumpangan pada Do Kyungsoo," jawabnya. "Jika kita membentuk tim pencari, kita tidak mempunyai petunjuk harus mencari kemana. Dia bisa berada dimana saja saat ini. Di luar Seoul atau berada tepat di dekat kita—"

"Tunggu sebentar, hyung," potong Kai. "Kau pikir Do Kyungsoo ini adalah korban selanjutnya? Tapi dia adalah laki-laki, sementara korban sebelumnya adalah wanita-wanita cantik dan berambut cokelat."

"Do Kyungsoo juga berambut cokelat."

"Tapi dia laki-laki. Itu tidak masuk akal!"

Chanyeol menggelengkan kepalanya. Ia meraih gelas plastik berisi kopi miliknya seraya berkata, "Tapi, pesan-pesan, hadiah-hadiah dan gambar-gambar mengerikan yang dikirimkan pada Do Kyungsoo itu sama seperti yang dikirimkan pada Victoria dan Luna," ia terdiam sejenak, menyesap kopinya sambil berpikir.

Lalu tiba-tiba ia berujar—masih dengan wajah berpikir, "Akan masuk akal jika...pembunuh kita bukan seorang pria straight biasa."

"Maksudmu?" tanya Kai, mengernyit tidak mengerti,

"Biseksual," Chanyeol menatap Kai dengan begitu yakin.

"Biseksual?" Kai mengerjap tidak percaya. Selama ini ia tidak pernah berpikir ke arah itu. Karena korban-korbannya adalah wanita-wanita cantik dan berambut cokelat, ia selalu berpikir bahwa sang pembunuh adalah seorang pria straight yang gila. Tapi mungkin saja ia salah. "Kenapa kau berpikir seperti itu, hyung?"

Chanyeol mengangkat bahunya. "Entahlah. Tiba-tiba terpikir begitu saja. Tapi selalu ada kemungkinannya, bukan?" ujarnya.

Kai terdiam, memikirkan perkataan Chanyeol tadi. Ada berbagai kemungkinan dalam kasus ini. Dan jika apa yang dikatakan oleh Chanyeol tadi benar, bahwa pembunuh berantai mereka adalah seorang pria biseksual, maka mungkin saja hilangnya Do Kyungsoo masih berhubungan. Chanyeol menenggak kopinya hingga habis, meletakkan cangkir plastiknya yang telah kosong ke atas meja, menatap Kai dan berkata,

"Jika ini adalah pelaku yang sama, jika pria ini tetap pada modus operandinya dan mengulangi urutan-urutan kejadian yang dilakukan terhadap Victoria serta Luna, maka kita memiliki dua minggu untuk mencari Do Kyungsoo sebelum pria itu membunuhnya."

Kai menutup matanya dan memanjatkan doa yang singkat dalam hatinya, meminta pada Tuhan untuk membantu mereka. Juga untuk membantu Do Kyungsoo, dimana pun dia berada saat ini.

"Kapan kita akan bertemu dengan Kim Suho lagi dan menanyainya?" Chanyeol bertanya, membuat Kai membuka matanya.

"Kita akan berkunjung ke galerinya besok," jawab Kai. "Oh ya, apa kau tahu dimana Lay hyung? Aku belum melihatnya sejak kemarin."

"Entahlah. Mungkin dia sedang bersama kekasihnya," Chanyeol berkata seraya mengamati laporan-laporan itu kembali. "Kim Suho disebut dua kali dalam kasus hilangnya Victoria dan Do Kyungsoo. Mungkin Lay hyung sedang mencari kepastian dari Kim Suho sendiri."

*ChanBaek*

Baekhyun pulang kerja dengan lelah dan kepala yang berdenyut-denyut. Kepanikan Heechul dan Tao saat akhirnya mengetahui bahwa salah satu sahabat mereka hilang diculik membuat ketakutannya kembali. Dan sepanjang hari itu ia mencoba bertahan untuk tidak memikirkan hal-hal yang buruk. Ia yakin, Chanyeol dan para polisi lainnya akan menemukan Kyungsoo. Semoga saja.

Saat tiba di rumah Baekhyun langsung menuju kamarnya, tidak peduli pada BooBoo yang asyik mencakar sofanya, dan tidak peduli pada sofanya yang kini telah rusak. Biarkan saja, ia bisa membeli yang baru nanti. Setelah mengganti pakaian dan minum aspirin, ia berbaring di ranjang yang nyaman dan memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan tenaga untuk hari-hari berikutnya yang melelahkan. Akhirnya aspirin itu bekerja di kepalanya, dan ketika membuka matanya, ia menyadari bahwa hari telah malam. Ia tercengang melihat jam yang menunjukkan pukul sembilan. Itu artinya sudah tiga jam berlalu. Ia sudah tidur selama itu.

Baekhyun bangkit dari tidurnya, beranjak ke kamar mandi untuk menyikat gigi dengan cepat. Ketika berjalan keluar ia melihat Chanyeol sedang menonton tv dengan BooBoo yang tertidur di pangkuannya. Chanyeol menoleh ketika Baekhyun duduk di sampingnya.

"Ada kabar?" tanya Baekhyun.

Chanyeol menatap pemuda manis itu sejenak. Sebenarnya ia sudah mendapatkan lebih banyak informasi sekarang daripada sebelumnya, tetapi ia tidak ingin Baekhyun tahu. Maka ia hanya menjawab, "Belum."

Baekhyun mendesah dengan sedih. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan memeluk lututnya. "Kau kelihatan lelah. Kenapa kau tidak tidur saja? Paling tidak berbaringlah," kata Chanyeol seraya menatap Baekhyun dengan penuh perhatian.

"Aku sudah tidur selama tiga jam, berkat aspirin," kata Baekhyun dengan nada lelah. Ia masih lelah, tapi ia tidak ingin tidur lagi.

Chanyeol mengulurkan tangannya dan memijat tengkuk Baekhyun dengan lembut. Baekhyun memejamkan mata dan menikmatinya. Ketika ia membuka matanya beberapa menit kemudian dan menoleh menatap Chanyeol, ia merasa sedikit lebih baik.

"Kau sudah makan?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Aku terus tidur sejak aku tiba di rumah tadi sore," jawabnya.

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di luar, tapi mungkin sebaiknya kita pesan saja. Kau mau makan apa?"

"Chinesse food."

"Sudah kuduga."

Chanyeol tersenyum mendengus seraya menarik tangannya dari leher Baekhyun. Kemudian ia berdiri, berjalan menuju meja telepon. Baekhyun hanya tersenyum kecil. Ia menurunkan kedua kakinya dari atas sofa dan memperhatikan Chanyeol yang sedang menelepon restoran chinesse food dan memesan makanan untuk diantar ke rumah. Tidak lama Chanyeol selesai menelepon dan kembali duduk di samping Baekhyun. Ia menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, memeluknya dengan lembut dan berkata,

"Makanannya akan segera datang."

Baekhyun hanya menggumam dan memejamkan matanya, menikmati perasaan hangat dari kedekatan mereka. Seketika pikiran-pikiran buruk dan perasaan takut yang tadi melandanya kini menghilang. Kini ia merasa lebih baik.

"Apakah dua sahabatmu lainnya sudah tahu tentang masalah penguntit itu?" tiba-tiba Chanyeol bertanya, dengan hati-hati.

Baekhyun membuka matanya. "Belum. Kyungsoo melarangku mengatakan pada siapa pun, karena itu kupikir aku tidak berhak memberitahu mereka tentang hal itu," jawabnya.

"Itu bagus. Jangan katakan apa pun tentang masalah penguntit ini pada siapa pun. Rumor tentang pembunuh berantai sudah cukup menghebohkan masyarakat. Kami tidak mau masalah tentang penguntit ini diketahui banyak orang. Kami tidak mau orang-orang menjadi semakin ketakutan."

Sejenak Baekhyun mendesah pelan dengan sedih. "Ya, aku mengerti," gumamnya.

Chanyeol melepaskan pelukannya ketika terdengar suara bel pintu. Makanan pesanannya telah datang. Bergegas ia beranjak membuka pintu dan menerima makanan yang dipesannya. Setelah membayar ia menutup pintu dan berjalan masuk dengan membawa kotak-kotak makanan. Baekhyun bangkit dari duduknya dan mengikuti Chanyeol ke meja makan. Ia duduk di salah satu kursi dan memperhatikan kotak-kotak makanan yang dibuka oleh Chanyeol satu-persatu.

"Ini terlalu banyak," Baekhyun berkata saat melihat makanan-makanan yang dipesan oleh Chanyeol. Pria tampan itu memesan banyak sekali makanan.

"Kau tidur terus sejak tadi sore dan pasti butuh makan, kan?" sahut Chanyeol santai seraya duduk di depan Baekhyun.

"Aku hanya tidur selama tiga jam, bukannya berhibernasi selama sebulan!" protes Baekhyun.

"Makan!" perintah Chanyeol acuh, sementara ia sendiri sudah mulai melahap makanan itu dengan lapar.

Baekhyun menatap Chanyeol dan hampir saja memakinya. Tapi kata-kata itu segera tertelan kembali di tenggorokannya ketika teringat bahwa Chanyeol sudah begit baik padanya hari ini. Malam ini moodnya sedang baik, dan ia tidak ingin merusaknya dengan pertengkaran-pertengkaran tidak perlu mereka. Akhirnya Baekhyun menurut dan mulai melahap makanannya. Sepanjang malam itu Chanyeol tetap tinggal di rumah Baekhyun untuk menemani pemuda manis itu. Dan itu membuat Baekhyun merasa aman dan jauh lebih baik.

*ChanBaek*

Laki-laki itu telah melucuti semua pakaiannya dan memandikannya. Kyungsoo tidak melawan laki-laki itu, ia terlalu takut saat itu. Terlalu linglung. Terlalu bingung. Ia tidak tahu dimana ia berada dan tidak melihat ada jalan keluar. Laki-laki itu mengatakan padanya bahwa dia mencintainya dan ingin membahagiakannya. Kyungsoo tidak tahu apa yang ingin di dengar laki-laki itu, karena itu ia tidak menunjukkan tanda setuju atau tidak setuju.

"Aku akan mengurus kebersihan dirimu kali ini," laki-laki itu berkata sembari menyikat rambut cokelat Kyungsoo. "Tetapi mulai saat ini, aku mengharapkan kau melakukannya sendiri. Kau mengerti?"

Kyungsoo menganggukkan kepalanya dengan lemah. Setiap otot di tubuhnya menegang, saraf-sarafnya menarik-narik, saat ia duduk diam—dengan patuh—pada kursi kayu. Laki-laki itu menjulurkan tangannya, menekan rahang Kyungsoo. Ibu jari dan telunjuknya menekan pipi Kyungsoo, dan ia melihat lurus ke mata Kyungsoo yang ketakutan.

"Saat aku bertanya, aku mengharapkan jawaban lisan. Kau mengerti?"

"Ya, aku...mengerti," Kyungsoo menjawab dengan suara bergetar.

Laki-laki itu tersenyum dan meneruskan menyikat rambut Kyungsoo. Selesai menyikat rambut Kyungsoo, ia memotong kuku-kuku tangan Kyungsoo. "Kau memiliki tangan yang indah, Kyungsoo. Tanganmu adalah hal yang pertama kali kuperhatikan pada dirimu. Dan saat aku mempelajarimu, aku menyadari betapa manisnya dirimu."

Rasa takut menyerang Kyungsoo seperti racun yang berbahaya, semakin kuat setiap waktu, meningkat seiring jalannya waktu penyiksaan. Dan walaupun laki-laki itu telah melepaskan ikatan pada kaki dan tangan Kyungsoo untuk melucuti pakaiannya dan membawanya ke bawah pancuran air untuk memandikannya, Kyungsoo tetap saja seorang tawanan. Tidak hanya tertawan dalam ruangan yang seperti makam itu, tetapi juga tertawan oleh rasa takutnya sendiri.

Saat laki-laki itu memandikan Kyungsoo, ia menyentuh penis Kyungsoo dan memainkannya sejenaknya. Ketika Kyungsoo memohon pada laki-laki itu untuk tidak melakukan hal itu, laki-laki itu tersenyum dan berkata,

"Oh, Do Kyungsoo. Aku berjanji, aku tidak akan menggodamu sebelum aku memberikan apa yang kau mau," kemudian laki-laki itu menggosokkan lap mandi pada bagian-bagian yang sensitif hingga Kyunggo ingin menjerit.

"Tidak...jangan..." mohon Kyungsoo.

"Kenapa sayang? Apakah kau tidak dapat menikmati tanpa aku berada di dalammu?" laki-laki itu tertawa dan melanjutkan memandikan Kyungsoo.

Kyungsoo tidak tahu pukul berapa saat itu, tapi ia cukup yakin bahwa hari itu Jumat, sehari setelah ia diculik. Laki-laki itu telah meninggalkannya semalaman—entah pergi kemana. Meninggalkan Kyungsoo sendirian dalam ruangan temaram yang diyakininya adalah sebuah ruangan bawah tanah. Ada sebuah tempat tidur, meja, kursi, dan apa yang terlihat seperti kamar mandi yang belum selesai dibangun, dengan sebuah pancuran air, wastafel, dan meja rias. Tempat itu dikelilingi dinding beton setinggi kira-kira satu meter. Dinding tersebut memisahkan kamar mandi dan kamar tidur, tapi sama sekali tidak memberikan privasi.

"Nah, sudah selesai," laki-laki itu berkata saat ia selesai memotong kuku-kuku Kyungsoo. "Kau siap sekarang," ia menjulurkan tangannya pada Kyungsoo.

Kyungsoo menatap tangan laki-laki itu yang terlihat besar, kuat dan mengerikan. Laki-laki itu mengerutkan keningnya. "Jangan ragu, Kyungsoo. Jika kau ragu, aku akan melihatnya sebagai penolakan dan terpaksa akan menghukummu," katanya.

Tangan Kyungsoo menyambut tangan laki-laki itu dengan sendirinya, tergerak oleh instingnya, untuk menyelamatkan diri. Ia harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk bertahan. Laki-laki itu tersenyum.

"Mari ikut aku," ajak laki-laki itu.

Kyungsoo berdiri dan mengikutinya saat laki-laki itu menggiringnya ke tempat tidur kecil di sudut ruangan. Dalam hati Kyungsoo terus menjerit,

Tolong Tuhan, tolong aku. Tolong aku!

"Berbaringlah," laki-laki itu berkata pada Kyungsoo.

Kyungsoo tidak segera mengikuti perintah laki-laki itu. Ia berpikir dan dalam hati berkata dengan ragu pada dirinya sendiri,

Kau dapat melawannya, Do Kyungsoo. Kau dapat memukulnya, menendangnya, berteriak, dan menggigitnya. Atau mencakarnya. Kau dapat melukainya. Tetapi kau tidak dapat menghentikannya. Ia lebih besar dan lebih kuat. Dan kau tidak memiliki senjata. Kau tidak dapat melarikan diri. Tidak ada jalan keluar. Lakukan. Lakukan apa yang dia minta. Turuti dia. Tentramkan dia. Dan mungkin...

"Apa yang kukatakan padamu tentang rasa ragu?" laki-laki itu menggeramkan kata-kata itu melalui giginya yang terkatup.

Kyungsoo tersentak, tersadar dari pikirannya. Lalu ia segera berbaring di tempat tidur. "Kau sudah paham," laki-laki itu berkata padanya. "Tetapi ini sudah yang kedua kalinya kau ragu."

Kyungsoo berbaring di sana, pikirannya menjerit dalam sunyi, hatinya memohon pengampunan. Ia menutup matanya dan menunggu hukumannya. Lalu ia mendengar laki-laki itu menggerutu, bergerak ke sana kemari, dan ia bertanya-tanya di dalam kepalanya, apa yang dilakukan laki-laki itu? Mengapa laki-laki itu tidak bertindak secepatnya? Ia mengharapkan tamparan atau mungkin pukulan keras. Kemudian ia merasakan sisi tempat tidur bergoyang dan laki-laki itu bergerak di atasnya. Kyungsoo tahu, laki-laki itu akan memperkosanya dan tidak ada yang dapat ia lakukan untuk menghentikan hal itu.

"Buka matamu, sayang," perintah laki-laki itu.

Kyungsoo membuka mata dan melihat wajah tampan seorang laki-laki gila. Dengan cepat, Kyungsoo mempelajari tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu telanjang, tetapi tidak bergairah. "Aku belum siap," laki-laki itu berkata. "Tetapi kau tidak perlu khawatir."

Kyungsoo menelan rasa takut di tenggorokannya saat tangan laki-laki itu menjelajahi tubuhnya. Jantung Kyungsoo berdetak kencang. Butiran keringat muncul di dahinya. Kemudian tiba-tiba saja, tanpa peringatan, laki-laki itu menggigit nipple kirinya. Kyungsoo menjerit kesakitan. Laki-laki itu menggigitnya, lagi dan lagi.

Kyungsoo menangis terisak, mencoba mendorong kepala laki-laki itu. Tetapi laki-laki itu menangkap tangannya dan memegangnya di atas kepala. Karena terdesak oleh tubuh kekar laki-laki itu, Kyungsoo sulit bernapas. Kyungsoo berteriak kesakitan saat laki-laki memperkosanya dengan kejam.

Tbc