Part 11

Dua hari kemudian....

Senin terasa datang dengan cepat. Baekhyun menghentikan mobilnya di gerbang Navilla dan melihat tiga mobil van berita televisi parkir di tepi jalan. Tiga laki-laki berwajah seram dengan Minicam masing-masing sedang merekam salah satu dari tiga orang—satu laki-laki dan dua wanita—yang sedang berdiri di depan pagar dengan gedung besar Navilla sebagai latar belakang. Tiga reporter berdiri cukup berjauhan agar mereka tidak saling mengganggu rekaman masing-masing, dan mereka sedang berbicara dengan tekun ke mikrofon. Baekhyun tahu apa yang sedang orang-orang itu bicarakan, tentang Kyungsoo yang menghilang. Berita itu menyebar dengan cepat dan membangkitkan berbagai spekulasi. Melihat tiga reporter itu membuat perut Baekhyun serasa diaduk-aduk oleh rasa marah dan sedih yang tiba-tiba muncul.

Menarik napas dalam-dalam, Baekhyun mencoba menghentikan dirinya dari pikiran-pikiran buruk yang kembali mendatanginya. Setelah memarkir mobilnya, ia beranjak turun dan menguncinya. Ketika ia memasuki gedung terdengar suara Tao memanggilnya. Ia pun berhenti sejenak untuk menunggu Tao, kemudian berjalan bersama melintasi lobi.

"Apa yang terjadi?" Tao bertanya dengan bingung. "Ada apa dengan para kru TV itu? Apa perusahan kita dibeli atau di tutup, atau kenapa?"

"Apa kau tidak menonton berita pagi ini?" Baekhyun balik bertanya.

"Tak sempat."

"Para kru TV itu mencari berita tentang Kyungsoo. Kelihatannya mereka tertarik dengan berita tentang salah satu karyawan Navilla yang tiba-tiba menghilang."

"Oh, Tuhan. Berita itu telah menyebar dengan cepat," Tao mendesah dengan sedih sesaat, dan sedikit menunduk. "Dimana Kyungsoo sekarang ya? Kenapa tiba-tiba dia menghilang? Apakah dia baik-baik saja saat ini? Aku benar-benar cemas memikirkannya."

"Entahlah. Aku juga sangat cemas," Baekhyun ikut mendesah dengan sedih.

"Apakah sudah ada kabar dari polisi?" Tao mengangkat kepalanya memandang Baekhyun.

Chanyeol pasti sudah memberitahu Baekhyun jika ada kabar tentang Kyungsoo. Tapi masih belum ada kabar dari Chanyeol, dan polisi tampan itu masih menyimpan informasi rahasia yang dimilikinya. Meski Baekhyun sudah mencoba mengorek sesuatu dari Chanyeol, dia tetap bungkam. Mungkin polisi sudah dilatih untuk tidak sembarangan menceritakan informasi yang dimilikinya. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Tao tadi, membuat pemuda bermata panda itu mendesah kecewa. Dalam diam Baekhyun dan Tao melangkah masuk ke dalam lift.

Tao dan Baekhyun berpisah menuju lantai masing-masing, menuju ruangan masing-masing. Heechul sedang menanti dengan wajah muram ketika Baekhyun memasuki ruangannya. "Kau pasti melihat berita tentang Kyungsoo itu," katanya pada Baekhyun.

Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak duduk di kursinya. Sementara Heechul duduk di pinggir meja dan menatap Baekhyun. "Aku tidak tahu bagaimana berita ini menyebar dengan cepat. Bukan hanya di TV dan koran, tapi juga di internet. Semua orang membicarakannya dan dengan seenaknya berspekulasi tentang hilangnya Kyungsoo. Ini menyebalkan!" Heechul berkata lagi, mendengus tidak suka.

"Aku tahu," kata Baekhyun, menghela napas. "Dan para kru TV telah berdatangan, menunggu di depan gedung."

"Ya, aku juga melihatanya saat datang tadi. Mereka mencegat karyawan-karyawan yang baru datang dan menggali berita," Heechul mendengus lagi. "Kau tahu, selain keluarga, sahabat si korban juga sasaran yang cocok untuk mendapatkan berita. Mau taruhan? Selanjutnya kita yang akan diburu oleh para pencari berita itu."

Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. "Mungkin saja. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan hal itu," sahutnya.

Tiba-tiba Taeyeon yang juga bekerja di bagian marketing, bagian yang sama dengan Baekhyun, memasuki ruangan dengan senyum lebar di wajahnya. "Hei," katanya seraya menghampiri Baekhyun dan Heechul. "Seharusnya aku sudah tahu saat melihat berita itu, tapi aku baru sadar sekarang. Karyawan yang menghilang itu Do Kyungsoo dari bagian akunting, kan? Aku pernah melihat kalian makan siang bersama."

Baekhyun dan Heechul hanya saling pandang sesaat. Lalu Taeyeon kembali bicara dengan nada antusias yang berusaha disembunyikannya. "Kalian tahu, semua orang sedang membicarakan tentang berita hilangnya Do Kyungsoo dan sebagian menghubungkannya dengan rumor pembunuh berantai yang sedang marak dibicarakan saat ini. Menurutku mungkin saja itu benar. Bukannya aku berharap berita dan rumor itu benar. Kemarin aku memberitahu sepupuku tentang hal ini dan dia merasa tertarik sekali dengan berita dan rumor ini."

Baekhyun mengernyit, perutnya kembali terasa diaduk-aduk. Sementara Heechul mulai tampak waspada. "Sepupumu?" tanya Heechul "Sepupumu yang bekerja di salah satu stasiun TV itu?"

"KBS. Dia staff di acara Good Morning," jawab Taeyeon menganggukkan kepalanya dengan bangga. "Dia pikir ini menarik sekali. Pokoknya, aku takkan terkejut kalau dia menghubungi kalian. Dia bilang wawancara khusus dengan para sahabat tentang Do Kyungsoo dan pembicaraan tentang rumor pembunuh berantai itu akan jadi acara istimewa."

Baekhyun mengerjap, menatap dengan tatapan tidak percaya pada Taeyeon yang berjalan melenggang ke mejanya dengan langkah santai dan senyum lebar di wajahnya yang penuh riasan itu. Senyum manis yang menyebalkan. Baekhyun mendengus kesal dan merasa wanita itu sangat menyebalkan. Tidak ada rasa simpati, apalagi empati. Taeyeon berbicara dengan santai, seolah hilangnya Kyungsoo dan rumor tentang pembunuh berantai itu adalah sesuatu lelucon menarik yang akan mendongkrak rating acara TV. Menjijikan.

"Apa-apaan dia? Dasar wanita penggosip tidak sopan!" gerutu Heechul juga merasa kesal.

Baekhyun merogoh dompet di sakunya untuk mengeluarkan uang 100 dolar dan memberikannya pada Heechul, lalu mengucapkan empat kata makian yang sangat ekspresif. "Wow," Heechul tampak takjub menatap Baekhyun. "Belum pernah aku mendengarmu mengatakan itu sebelumnya."

"Kusimpan untuk keadaan darurat," kata Baekhyun sambil merengut, tidak peduli bahwa ia baru saja kembali memaki. Padahal baru kemarin ia sudah berhasil menahan diri untuk tidak mengumpat lagi. Heechul hanya terkekeh.

*ChanBaek*

Baekhyun mengangkat pandangannya dari layar komputernya ketika melihat Suho melintasi pintu yang terbentang. Kemudian ia mendapati dirinya mengawasi direktur muda itu hari ini, setidaknya sampai jam makan siang tiba. Ia menolak ketika Tao mengajaknya untuk makan siang bersama di luar dan lebih memilih untuk memasukkan uang ke mesin otomatis di ruang makan, kemudian kembali ke ruangannya dengan membawa sekaleng soft drink dan crackers. Ia nyaris bertabrakan dengan Sehun yang muncul dari koridor sambil membawa kotak-kotak kardus di tangannya.

"Astaga!" seru Baekhyun terkejut, hampir menjatuhkan soft drink dan crackers di tangannya.

"Maaf, aku tidak melihatmu. Kau tidak apa-apa, Baekhyun hyung?" tanya Sehun seraya memiringkan kepalanya dari kardus-kardus di tangannya untuk melihat Baekhyun.

"Ya, tidak apa-apa. Kardus-kardus itu hanya hampir menimpaku," jawab Baekhyun seraya memandang soft drink dan crackers di tangannya, memastikan makan siangnya masih utuh. Lalu ia mengangkat kepalanya, memandang kardus-kardus di tangan Sehun. "Apa itu?"

"Oh, ini hanya barang-barang yang akan kuberikan ke panti asuhan hari ini. Aku ingin menaruh benda-benda ini di mobilku sebelum aku lupa. Dua kali seminggu aku selalu mengunjungi panti-panti asuhan, dan terkadang aku menjadi tutor untuk mereka," jawab Sehun.

Baekhyun sedikit mengernyit mendengarnya. "Kau selalu mengunjungi panti asuhan dan menjadi tutor?" katanya. Ia baru tahu hal itu.

Oh Sehun menyeringai, giginya yang putih membuat penampilannya kian sempurna. Baekhyun bertanya-tanya dalam pikirannya, butuh berapa banyak waktu untuk sang kepala akunting mendapatkan penampilan yang sempurna itu ataukah ia memang sudah terlahir sempurna. Sehun adalah menantu idaman setiap orangtua—tampan, bermata cokelat, berambut hitam, tinggi dan berotot. Kesempurnaan fisik itu ditambah dengan keramahan dan perilakunya yang tanpa cela. Semua itu membuat Sehun menjadi jenis laki-laki yang mampu membuat semua wanita, dan bahkan laki-laki sekalipun, mudah memiliki perasaan terhadapnya. Oh Sehun terlihat seperti model dari majalah Grazia edisi terakhir. Atau lebih baik lagi, dari sampul depan majalah kebugaran.

"Yah, hanya sukarela sih," kata Sehun. "Lagipula, aku juga suka dengan anak-anak. Kupikir tidak ada salahnya."

Baekhyun hanya mengerjap mendengarnya, lalu menatap kotak-kotak kardus yang dibawa oleh Sehun. Kelihatannya kotak-kotak itu cukup berat, dan Sehun nampak cukup kerepotan membawanya.

"Perlu bantuan?" tawarnya kemudian.

Sehun kembali menyeringai. "Yah, jika kau tidak keberatan," sahutnya.

"Tentu tidak," sahut Baekhyun seraya memasukkan kaleng soft drink dan crackers miliknya ke dalam saku celananya, mengambil beberapa kotak dari tangan Sehun, lalu berjalan beriringan dengan Sehun menuju parkiran.

Baekhyun mengikuti Sehun yang berjalan menuju mobilnya sambil bercerita tentang kegiatan tambahannya di panti asuhan. Ia terkekeh ketika Sehun menceritakan lelucon tentang anak kecil. Langkah mereka berhenti saat sampai di mobil Sehun. Sehun meletakkan sejenak kotak yang dibawanya di atas penutup bagasi, merogoh sakunya untuk mengambil kunci mobilnya. Ia mengangkat kotak dari atas penutup bagasi lalu membuka bagasi mobilnya.

"Aku ingat bagaimana rasanya menjadi seorang anak kecil," Sehun berkata seraya meletakkan kotak yang dibawanya ke dalam bagasi. Lalu ia berbalik ke arah Baekhyun. "Tidak mudah, terutama jika semua orang dewasa memperlakukanmu seperti kau tidak memiliki cukup akal untuk berteduh kala hujan."

Baekhyun tertawa dan menyerahkan kotak di tangannya pada Sehun. "Kau benar," sahutnya.

Sehun ikut tertawa kecil sembari meletakkan kotak ke dalam bagasi mobilnya. Iseng, Baekhyun melirik ke dalam bagasi mobil Sehun. Selain kotak-kotak kardus yang baru saja diletakkan, di dalam bagasi ia melihat ada sebuah terpal, dan...

Sebelum Baekhyun sempat melihat semuanya Sehun sudah menutup pintu bagasinya dengan cukup keras, membuatnya terkejut. "Terima kasih sudah membantuku, Baekhyun hyung," kata Sehun seraya menoleh pada Baekhyun dan tersenyum.

"Ah, bukan masalah," kata Baekhyun.

Sehun mencabut kunci mobilnya, menyimpannya di dalam saku celananya, lalu mengajak Baekhyun pergi meninggalkan area parkir. "Masih ada waktu sebelum jam makan siang berakhir. Bagaimana jika kita makan siang bersama?" katanya seraya memandang jam tangannya, lalu memandang Baekhyun. "Aku yang traktir, sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah membantuku tadi."

"Tidak perlu. Aku sudah membeli makan siang," tolak Baekhyun seraya mengeluarkan kaleng soft drink dan crackers miliknya dari dalam saku celanannya.

Sehun menatap kaleng soft drink dan crackers di tangan Baekhyun, lalu terkekeh kecil sesaat. "Kau sedang diet, ya?" katanya.

Baekhyun merengut kecil sesaat, merasa malu. Ia segera berusaha menyembunyikan dua benda itu dibalik punggungnya. "Tidak. Aku hanya masih kenyang. Itu saja," katanya, sedikit berbohong. Kenyataannya ia memang sedang dalam program diet saat ini.

"Yah, baiklah. Kalau begitu aku akan menyimpan traktir ini untuk lain kali," kata Sehun sambil mengedipkan matanya pada Baekhyun.

Baekhyun hanya tersenyum. Mereka berhenti di depan mesin otomatis. Baekhyun memperhatikan ketika Sehun memasukan uangnya ke dalam mesin otomatis itu dan memilih sekaleng cola dingin. Sehun menunduk untuk mengambil kaleng cola yang keluar dari lubang di bawah mesin. Baekhyun masih memperhatikan saat Sehun membuka penutup kaleng dingin itu dan mulai meneguknya.

"Sepertinya kau suka minum cola. Apakah kau suka rasa tertentu?" Baekhyun iseng bertanya.

"Ah, apa saja tidak masalah. Dan cola tidak masalah bagiku. Aku tidak minum alkohol, bahkan soju," Sehun menepuk perutnya yang berotot dengan bangga. "Alkohol tidak baik untuk tubuh."

Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya dan menatap perut rata Sehun yang tersembunyi dibalik kemeja birunya. Kepalanya mencoba membayangkan seberapa menakjubkannya perut berotot itu tanpa kemeja biru yang menutupinya. Namun tiba-tiba bayangan Chanyeol dan tubuh sempurnanya yang pernah tanpa sengaja ia lihat dari jendela dapurnya waktu itu, meruntuhkan dalam sekejap bayangan perut berotot Sehun dalam kepala Baekhyun. Membayangkan tubuh sempurna Chanyeol membuat Baekhyun tiba-tiba merasa panas.

"Kau tidak apa-apa, Baekhyun hyung?" tanya Sehun membuyarkan lamunan Baekhyun.

Baekhyun sedikit tersentak. Lalu ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum canggung. "Tidak. Tak apa-apa. Aku permisi," katanya.

Baekhyun segera beranjak pergi sambil menutup wajahnya dengan satu tangannya yang bebas dari soft drink dan crackers, berusaha menutup mulutnya untuk mencegah air liurnya menetes. Meninggalkan Sehun yang hanya diam menatapnya sambil mengangkat kaleng cola-nya ke dekat mulutnya, meneguk cola-nya sesaat sebelum kemudian beranjak pergi.

"Sialan, sialan, sialan," gerutu Baekhyun pada diri sendiri sambil kembali ke ruangannya dengan langkah cepat, dengan membawa makan siangnya yang belum sempat ia nikmati.

Siapa yang akan dibayarnya ketika ia memaki-maki hanya pada dirinya sendiri?, Baekhyun bertanya dalam hati. Apakah sebaiknya ia menyimpan uang itu sebagai dana untuk membayar pelanggaran-pelanggaran yang akan datang?. Sambil berusaha mengenyahkan bayangan betapa indahnya tubuh Chanyeol dari dalam kepalanya, Baekhyun melangkahkan kakinya semakin cepat.

*ChanBaek*

Karena kesibukan Suho, pertemuan antara Suho dengan Chanyeol dan Kai selalu diundur. Seharusnya siang ini kedua detektif polisi itu bertemu dengan Suho di galerinya, namun tiba-tiba direktur muda itu mengganti tempat pertemuannya. Jam makan siang telah lama berlalu dan waktu hampir menunjukkan pukul dua ketika Chanyeol dan Kai tiba di Navilla Corp. Suho telah berdiri menunggu di ruangannya, tersenyum menyambut kedatangan Chanyeol dan Kai dengan ramah. Ia bersikap mempesona dan bekerja sama, seolah-olah ia tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan.

Mungkin tidak. Chanyeol akan tahu setelah mereka berbicara, lagi, pada Suho. Chanyeol selalu memiliki indera keenam tentang hal-hal seperti ini, selalu mahir menebak saat seseorang berbohong padanya. Indra keenam itu yang membuat Chanyeol menyadari fakta bahwa mantan suaminya menduakannya, lima tahun lalu. Satu-satunya masalah adalah ketika itu ia memilih untuk mengacuhkan suara hati tersebut selama beberapa tahun. Dan demi Tuhan terkasih, betapa ia hidup dengan perasaan menyesal karena tidak mendengarkan kata hatinya. Ia tidak akan pernah membuat kesalahan seperti itu lagi.

"Silahkan duduk," Suho menunjuk pada sofa di depan mejanya, sementara ia beranjak duduk. "Aku tidak tahu apa yang bisa kukatakan pada kalian tentang Do Kyungsoo, tapi jika ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membantu kalian semua menemukan orang yang menculiknya, aku akan dengan senang hati melakukannya."

"Kami menghargai kerja samamu," Kai berkata pada Suho.

Suho menyilangkan kakinya dan bersandar ke belakang, terlihat benar-benar tenang saat ia memandang dari Kai ke Chanyeol yang duduk dihadapannya. "Kami diberi tahu bahwa kau dan Do Kyungsoo pernah berhubungan pada suatu waktu," Chanyeol berkata. "Apakah itu benar?"

Suho tersenyum dan Chanyeol berpikir betapa laki-laki muda itu sangat menarik, sangat tenang dan sopan. "Yah, hanya hubungan yang singkat. Sangat singkat," Suho menekankan perkataannya dengan gerakan tangan. "Kami pernah dua kali berkencan, itu sudah lama sekali,"

"Jadi kau berselingkuh di belakang Lay hyung? Kau kekasih Lay hyung, bukan?" Chanyeol menyipitkan matanya.

Suho tertawa. "Ya, tapi hubungan kami selalu putus-sambung. Saat itu hubunganku dengan Lay sedang buruk, kami bertengkar dan putus. Tapi sekarang kami sudah kembali bersama lagi," katanya.

"Apa kau pernah membuat sketsa Do Kyungsoo?" Kai bertanya.

Suho mengernyit. Itu adalah jenis pertanyaan yang sama yang pernah dilontarkan padanya ketika kasus Victoria. "Tidak, aku tidak pernah membuat sketsa Do Kyungsoo," jawabnya. "Mengapa kalian mempertanyakan pertanyaan seperti ini lagi?"

"Hanya penasaran saja," Kai berkata. "Selain seorang direktur muda, kau juga seorang seniman. Bahkan kau memiliki galeri sendiri. Aku hanya berpikir mungkin kau suka mensketsa atau melukis kekasih-kekasihmu."

"Apakah kau pernah mensketsa atau melukis kekasih-kekasihmu?" Chanyeol bertanya.

"Ya," Suho menjawab. "Tapi bukan Do Kyungsoo. Dia bahkan bukan kekasihku, hanya teman kencan biasa."

"Apakah kau mengajar di galerimu pada malam saat Do Kyungsoo menghilang?" tanya Chanyeol lagi seraya mempelajari Suho, menggunakan keterampilannya untuk merasakan apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.

"Aku tidak mengajar lagi. Galeriku sudah tidak membuka kelas lagi sejak sebulan lalu," Suho menjawab dengan nada kemenangan.

"Dan dimana kau berada pada hari Do Kyungsoo menghilang?" Kai bertanya seraya menetapkan pandangannya pada wajah Suho, mencari tanda-tanda yang dapat mengatakan padanya apabila laki-laki berbohong.

"Kau tida sungguh-sungguh percaya bahwa aku ada hubungannya dengan hilangnya Do Kyungsoo, kan? Kemarin Victoria, lalu sekarang Do Kyungsoo? Oh please..." sebuah ekspresi kemarahan merusah wajah klasik Suho yang tampan.

Kai memberi tahu Suho tanggal dan perkiraan waktu Do Kyungsoo hilang, dan memperhatikan saat Suho memikirkan tentang informasi itu. Dia tidak terlihat gugup sedikit pun. Antara dia tidak bersalah atau dia telah menyempurnakan seni untuk menjadi "tenang".

"Aku di rumah pada malam Do Kyungsoo menghilang," Suho mengangkat tangan, mencegah Kai memotong ucapannya. "Dan sebelum kau bertanya, ya, aku memiliki seseorang yang dapat menguatkan fakta tersebut. Aku bersama kekasihku, Lay."

Chanyeol tersenyum mendengus, sementara Kai mendesah. Nampaknya mereka tidak terlalu terkejut dengan informasi itu. Yah, sudah mereka duga sebelumnya sih. Kai memandang Suho dan bertanya dengan tenang,

"Pukul berapa Lay hyung tiba dan pukul berapa dia pergi?"

"Pukul tujuh. Dia datang tidak lama setelah aku tiba di rumah sepulang kerja. Dan dia terus bersamaku sepanjang malam, bahkan hingga keesokan harinya. Kau bisa bertanya padanya," jawab Suho, terdengar sangat yakin. Ia mengaitkan jari-jarinya dan dengan santai meletakkan satu siku pada pegangan sofa saat ia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di sana.

"Jika semua yang kau katakan terbukti, maka kau bebas," kata Kai.

"Apakah itu sudah semua?" Suho bertanya.

Kai melirik pada Chanyeol sesaat, dan Chanyeol menganggukkan kepalanya. Lalu Kai berdiri dan berkata, "Ya, terima kasih atas kerja samanya."

Suho hanya tersenyum. Ia mengantar dua tamunya hingga ke depan pintu ruangannya, kemudian segera menutup pintunya. "Menurutmu dia bicara jujur?" Kai bertanya saat mereka berjalan menjauhi ruangan Suho.

"Kurasa iya," jawab Chanyeol.

"Jika semua yang dikatakannya terbukti, makan dia bebas. Tapi jika setelah ini Do Kyungsoo ditemukan terbunuh..." Kai mendengus.

"Kita pastikan saja pada Lay hyung, apakah benar dia bersama dengan Kim Suho malam itu," sahut Chanyeol.

"Tapi Lay hyung memiliki ikatan emosi dengan Kim Suho. Bisa saja Lay hyung berbohong untuk direktur muda itu," Kai menimpali dengan ragu.

Chanyeol menoleh pada Kai dan mengernyit. "Aku tidak yakin dengan itu. Meski Kim Suho adalah kekasihnya, aku pikir tidak mungkin Lay hyung melakukan hal bodoh dengan berbohong demi melindunginya," katanya. "Bukankah kau sendiri yang bilang, dalam penyelidikan perasaan pribadi harus dikesampingkan?"

"Kau benar," Kai mendesah, merasa bodoh karena telah berpikiran buruk pada temannya sendiri. Chanyeol tersenyum dan menepuk pelan bahunya.

Lalu Chanyeol menekan tombol lift. Tepat saat ia menoleh ia melihat sosok manis Baekhyun yang nampak sibuk dengan tumpukan kertas di tangannya. Pemuda manis itu nampak sedikit kerepotan membawa tumpukan kertas-kertas itu. Chanyeol tersenyum.

Seorang wanita dengan setelan kerja berwarna biru tidak sengaja menabrak Baekhyun dan membuat tumpukan kertas-kertas di tangan Baekhyun berserakan di lantai. Baekhyun berusaha tersenyum ketika wanita itu meminta maaf. Namun saat wanita telah pergi Chanyeol melihat Baekhyun mendesah sebelum kemudian berjongkok dan mulai memunguti kertas-kertas itu satu-persatu. Sebelum Chanyeol sempat melangkahkan kakinya hendak membantu Baekhyun, Sehun datang. Pria tampan itu berjongkok di samping Baekhyun dan membantunya memunguti kertas-kertas itu. Chanyeol mengenali Oh Sehun, meski tidak kenal dekat. Reputasinya baik dan tingkah lakunya yang sopan membuat semua orang mudah menyukai pria tampan itu.

Chanyeol masih tidak melepaskan pandangannya dari Baekhyun dan Sehun yang sedang berbicara, sampai Kai menyenggol lengannya ketika akhirnya pintu lift terbuka. Tepat saat Chanyeol mengalihkan pandangannya dan masuk ke dalam lift bersama Kai, Baekhyun menoleh. Menyadari bahwa itu adalah Chanyeol, Baekhyun merasa senang sekaligus sedikit kecewa karena polisi tampan itu telah pergi sebelum mereka sempat bertemu. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya, untuk apa Chanyeol datang ke Navilla Corp? Jelas bukan untuk mengajaknya kencan.

"Kudengar para detektif itu datang untuk bertemu dengan direktur Suho," Sehun berkata, ikut menoleh ke arah lift.

Baekhyun menoleh pada Sehun. Perutnya terasa diaduk-aduk oleh rasa tegang. "Bertemu dengan direktur Suho? Untuk apa?" tanyanya.

Sehun mengangkat bahu, lalu mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. "Entahlah. Sepertinya ini tentang Do Kyungsoo yang hilang," jawabnya.

Baekhyun hanya diam dan mendesah pelan. Sehun menatapnya dan melihat wajah manis Baekhyun berubah sedih. Ia menepuk pundah Baekhyun dan mengusapnya dengan lembut, seolah ingin menghibur. Baekhyun menoleh pada Sehun dan tersenyum.

"Terima kasih," katanya.

Saat berjalan menuju ruangannya, bersama Sehun yang membantu membawakan tumpukan kertas-kertas itu, Baekhyun berusaha mengusir pergi pikiran-pikiran buruk yang menyusup di kepalanya, dan berusaha untuk merasa lebih baik. Namun ketika melihat Suho melintas di depannya, Baekhyun mendapatkan dirinya kembali mengawasi direktur muda itu. Bukan hanya beberapa menit, tapi sepanjang hari itu.

*ChanBaek*

Sembilan hari kemudian...

Laki-laki itu meninggalkan Kyungsoo yang sedang menangis. Pemuda bodoh. Pemuda itu berpikir bahwa dengan menjadi penurut dan cengeng, ia dapat membodohinya. Tetapi ia tidak dapat dibodohi, tidak sedikit pun. Pemuda itu tidak mencintainya sebagaimana ia ingin dicintai. Pemuda itu sama seperti yang lain, tidak lebih dari pelacur manis yang dengan mudahnya berbohong seperti dia bernapas. Kyungsoo mengatakan padanya bahwa dia mencintainya dan memohon padanya untuk bercinta dengannya, tetapi pemuda itu sama mengecewakannya dengan para wanita pembohong itu. Sama mengecewakannya dengan Victoria. Dan Luna.

Dan dia...

Mengapa ia ditakdirkan untuk menderita, dan percaya bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya, lalu mengetahui bahwa harapannya sia-sia? Tetapi ia tidak akan menyerah. Tidak boleh. Saat ini tekadnya untuk menemukan kekasih yang sempurna, pasangan yang sempurna, lebih kuat dari sebelumnya.

Ia telah menemukannya, bertahun-tahun yang lalu. Orang itu sempurna untuknya. Bahkan hingga saat ini, nama orang itu seperti musik di telinganya. Lembut dan manis. Ia mencintai orang itu, begitu tergila-gila, bersedia mati untuknya. Orang itu telah menjanjikan hati dan tubuhnya untuknya.

Tidak! Berhenti memikirkan dia. Jangan mengingat apa yang terjadi. Mengingat sangat menyakitkan. Kenangan itu akan mencabikmu sekali lagi.

Ia harus melupakan masa lalu dan berkonsentrasi pada masa kini. Demi kebaikan Kyungsoo dan dirinya, ia harus membebaskan pemuda itu. Dan ia harus melakukan itu segera. Pada awalnya, ia memiliki harapan yang besar, mimpi-mimpi yang hebat tentang hubungan mereka berdua. Ia menginginkan Kyungsoo sebagai "satu-satunya". Segala hal tentang Kyungsoo sepertinya adalah hal yang baik. Kyungsoo masih muda dan manis, dengan rambut cokelat dan senyum yang menyihir. Pemuda itu telah menanti dirinya, mendambakan untuk bersama dengannya, menerima semua hadiah-hadiah kecil darinya, hadiah-hadiah yang masing-masing merupakan lambang kasih sayangnya.

Kyungsoo menginginkannya. Kyungsoo mencintainya.

Tetapi pemuda itu tidak mencintainya hingga bersedia memberikan segala yang dibutuhkannya. Kyungsoo telah mencoba, tetapi ia telah gagal berulang kali. Mungkin bukan salah Kyungsoo, sehungga pemuda itu tidak dapat memuaskannya, meskipun ia telah benar-benar memuaskan Kyungsoo. Pemuda itu menyukai apa yang ingin ia lakukan padanya dan selalu meminta lebih.

Bohong. Semua bohong!

Semua wanita dan pemuda uke itu telah berbohong padanya. Semuanya. Mereka telah menjanjikan segalanya untuknya, tetapi tidak memberinya cukup. Mereka selalu menahan sesuatu. Tetapi lain kali akan berbeda, bukan?

Ia memarkir mobilnya, keluar dan mengunci kendaraannya. Pemuda manis itu tinggal hanya beberapa blok jauhnya. Pada waktu dini hari seperti ini, saat kegelapan masih menyelimuti, tidak akan ada yang melihatnya. Pemuda manis itu tidak memiliki alarm. Masuk ke dalam rumah pemuda manis itu adalah pekerjaan mudah. Perlahan, ia akan masuk ke dalam, mencari kamar pemuda manis itu dan melihat saat pemuda manis itu sedang tidur.

Mungkin pemuda manis itu tidur telanjang.

Membayangkan hal itu membuat penisnya bereaksi. Dengan langkah tergesa-gesa ia membayangkan apa yang akan ia jalani dengan pemuda manis itu. Pemuda manis itu tidak akan mengecewakannya. Ia merasa yakin bahwa pemuda manis itu tahu bagaimana cara memuaskannya dalam cara yang tidak pernah terpikirkan orang lain. Pemuda manis itu telah menggodanya, bermain mata denganya, memberinya janji tak terucapkan dengan pandangan menggoda yang dilemparkan padanya.

Kau dapat melihatnya, tetapi kau tidak dapat menyentuhnya. Belum.

Tidak, ia tidak akan menyentuh pemuda manis itu. Tidak akan memulai hubungan hingga ia menyelesaikan segalanya dengan Kyungsoo. Ia bukan tipe laki-laki yang mengkhianati satu kekasih demi kekasih lainnya. Dengan yang lain, ia telah mengetahui dalam beberapa minggu bahwa hubungan mereka tidak berjalan seperti yang ia inginkan. Ia dan Kyungsoo telah menjadi sepasang kekasih selama sembilan hari dan secepat itu ia mengetahui bahwa ia tidak akan dapat menyayangi Kyungsoo seperti ia menyayangi cinta pertamanya. Dan itu yang diinginkannya—untuk mencintai dan dicintai dengan pengabdian juga hasrat yang setara, untuk sekali lagi membagi apa yang pernah ia jalani dengan Dia.

Tetapi dia tidak benar-benar mencintai...

Ia bersenandung dalam hati, menghalangi semua pikiran negatif tentang masa lalu, menutup semua rasa sakit itu. Segera setelah ia sampai di rumah pemuda manis itu, ia berjalan dengan hati-hati melintasi halaman. Lalu ia mendengar suara. Siapa yang masih terjaga di jam setengah lima pagi?

Berdiri terdiam di belakang pepohonan di dekat jendela, ia melihat dan mendengarkan. Dari tirai jendela ruang tengah yang tipis ia melihat bayangan dua orang sedang berpelukan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui bahwa itu adalah si pemuda manis. Tetapi siapa laki-laki bertubuh tinggi itu? Tidak mungkin itu adik atau kakaknya, ia tahu bahwa pemuda manis itu tinggal sendirian.

Saat melihat si pemuda manis dan laki-laki bertubuh tinggi itu berciuman, seluruh otot di tubuhnya menegang. Pemuda manis itu miliknya. Betapa beraninya pemuda manis itu memberikan dirinya pada orang lain.

Dia hanya tidak tahu bahwa kau menginginkannya, bahwa kau dapat menawarkan cinta yang murni. Cinta yang dapat bertahan selamanya.

"Sekarang tidurlah. Aku harus pergi sebentar lagi," kata si laki-laki bertubuh tinggi.

"Kapan kau akan kembali?" si pemuda manis bertanya.

"Aku belum tahu."

Pemuda manis itu sedikit merengut sesaat. "Terima kasih sudah menemaniku lagi malam ini, Chanyeol. Aku merasa jauh lebih baik sekarang."

Chanyeol?

Pemuda manis itu memanggilnya Chanyeol. Ia bergerak mendekat, sedekat yang ia bisa, mendekati sisi jendela tanpa memberitahukan kehadirannya. Lalu ia mengernyit saat melihat wajah laki-laki bertubuh tinggi itu dengan lebih jelas.

Park Chanyeol? Detektif Park Chanyeol dari departemen kepolisian Seoul?

Saat pemuda manis itu akhirnya beranjak ke kamarnya, sementara Chanyeol mulai sibuk menelepon dengan ponselnya sebelum kemudian beranjak pergi, ia menunggu selama beberapa menit dan memperhatikan dalam kegelapan. Ia sangat ingin mendatangi pemuda manis itu, mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu menghabiskan waktunya dengan laki-laki seperti Park Chanyeol. Pemuda manis itu berhak mendapatkan yang lebih baik.

"Sebentar lagi, Baekhyun sayangku. Tidak lama lagi kita akan bersama dan kau dapat menunjukkan padaku seberapa besar kau mencintaiku," bisiknya pelan, menyeringai.

Tbc