*Unedited, beware of typos!
.
.
.
Part 12
Lay telah menunggu saat Kai dan Chanyeol tiba di kantor departemen kepolisian Seoul tepat pada pukul tujuh pagi. Ia sedang membuat sepoci kopi, dari wajahnya terlihat kalau ia tidak mendapat lebih banyak istirahat dari dua rekannya. Mata yang merah, lingkaran mata dan kemeja yang kusut menunjukkan semua itu. Laki-laki itu mungkin hampir sepanjang malam terjaga.
"Selamat pagi," sapa Lay menyambut Kai dan Chanyeol dengan mengangkat cangkirnya.
Kai menatap Lay sejenak sebelum kemudian balas menyapa. Setelah pertemuan mereka dengan Kim Suho di kantornya yang rapi di Navilla siang itu, Kai telah menghubungi Lay dan bertanya tentang pengakuan sang direktur muda tersebut. Dan Lay bersumpah bahwa dia memang bersama sang kekasih sepanjang sore hingga malam. Meski kai sedikit merasa kecewa, tapi pengakuan Lay itu telah menghapus Suho dari daftar tersangka mereka.
"Lay hyung, sudah berapa lama kau di sini?" tanya Kai, sementara Chanyeol menuangkan kopi ke dalam cangkirnya dan menikmatinya perlahan.
"Kurang lebih lima belas menit," jawab Lay. "Aku langsung datang ke sini dari mencari apa yang Chanyeol minta, profil laki-laki macam apa yang sedang kita cari. Tapi masalah administrasi yang rumit dan brengsek itu membuatku sakit kepala."
"Yah, aku bisa membayangkan itu," Chanyeol terkekeh kecil. "Jadi, kau berhasil mendapatkannya hyung?"
Lay mengambil sebuah amplop besar berwarna cokelat yang ia bawa, lalu memberikannya pada Chanyeol. Chanyeol meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan menerima amplop tersebut, sementara Kai menuangkan kopi ke dalam cangkirnya.
"Ya, aku meminta bantuan temanku. Dia seorang profiler lepas, mantan KCIA (Korean Central Intelligence Agency). Dengan mengabaikan soal gender dan menganggap bahwa pembunuh kita adalah seorang biseksual, aku menemukan sesuatu yang menarik," kata Lay memandang Chanyeol sambil tersenyum puas.
"Benarkah?" kata Kai menoleh, merasa sedikit penasaran.
"Ya, kalian pasti akan tertarik," Lay menganggukkan kepalanya. Ia menghabiskan kopinya sejenak, lalu meletakkan cangkirnya yang telah kosong di atas meja. "Aku akan pulang untuk mandi dan istirahat sebentar. Hubungi aku nanti."
"Jangan lupa pasang alarm. Kau harus kembali jam empat sore nanti, hyung," seru Kai memperingatkan. Lay hanya mengangkat tangannya untuk menandakan bahwa ia mengerti seraya beranjak pergi.
Sepeninggal Lay, Chanyeol dan Kai berkonsentrasi mempelajari informasi baru dari Lay. Ada banyak wanita dan laki-laki muda yang telah diperkosa, disiksa dan dibunuh—sebagian besar dari mereka dibunuh dengan cara disayat tenggorokannya. Tetapi hanya ada empat kasus pembunuhan yang identik dengan apa yang mereka tahu tentang kasus penculikan dan pembunuhan Victoria juga Luna. Dan ada pembunuhan kelima yang memiliki beberapa kemiripan. Tiga laki-laki dan dua wanita, semuanya dibunuh dalam rentang waktu lima tahun. Dua di Sokcho, Gangwon-Do—Park Haenul dan Kang Higo; satu di Daegu, Gyeongsangbuk-Do—Byun Hejin; satu di Gyeongju, Gyeongsangbuk-Do—Lee Jina; dan satu lagi di Jeju, Jeju-Do—Kim Luhan.
Chanyeol tidak memiliki ide apakah laki-laki dan wanita-wanita ini memiliki kesamaan kecuali bahwa mereka adalah korban dari pemerkosaan brutal dan pembunuhan, modus operandi pembunuh mereka identik dengan pembunuh yang sekarang sedang menguntit wanita juga laki-laki di Seoul. Tetapi apakah ini berarti laki-laki dan wanita-wanita itu dibunuh oleh orang yang sama?
Ketika Kai mengangkat amplop berwarna cokelat tersebut, sesuatu terjatuh ke lantai. Chanyeol membungkuk dan memungutnya. Rupanya Lay tidak hanya mendapatkan informasi baru, melainkan juga foto-foto kelima korban tersebut ketika tubuh mereka ditemukan. Telanjang, berpose dengan leher tersayat. Di belakang foto-foto itu terdapat nama-nama korban. Kai sedikit bergidik melihat foto-foto itu. Membayangkan kembali ketika mereka menemukan tubuh Victoria yang juga dalam kondisi yang sama dengan foto-foto itu membuat perut Kai terasa mual.
Chanyeol memperhatikan foto-foto itu dengan teliti, satu-persatu. Sedikit merasa kasihan pada nasib tragis mereka. Namun kemudian ia berhenti pada salah satu foto. Ia mengerjap sesaat, membalik foto itu untuk melihat nama pemuda di foto tersebut, lalu kembali memperhatikan foto tersebut sambil mengernyit. Nama yang tertera di foto itu adalah Kim Luhan, seorang pemuda yang sangat manis—cenderung cantik—dengan rambut cokelat dan badan yang ramping. Tapi bukan itu yang membuat Chanyeol merasa terkejut, melainkan...
"Dia mirip sekali dengan Baekhyun..." ucap Chanyeol seraya memperhatikan foto Kim Luhan lekat-lekat.
Kai yang mendengarnya sejenak mengernyit. Namun kemudian ia teringat pada pengumuman Chanyeol yang memberitahukan seluruh departemen kepolisian Seoul tentang seseorang bernama Byun Baekhyun. Seorang tetangga dan teman kencan yang ingin sekali Chanyeol ajak tidur bersama. Kai mengambil foto itu dari tangan Chanyeol dan memperhatikannya.
"Ini Baekhyun?" tanya Kai, menoleh pada Chanyeol.
"Tidak, kubilang orang dalam foto itu mirip sekali dengan Baekhyun," jawab Chanyeol.
Kai hanya menggumam dan kembali memandang foto di tangannya. Sementara Kai kembali memperhatikan foto Luhan dengan teliti, Chanyeol berpikir tentang Baekhyun. Chanyeol menyeringai membayangkan Baekhyun dan dagunya yang terangkat, serta mata cokelatnya yang berbinar-binar. Pemuda manis itu seolah menantang kehidupan, bukannya membiarkan terjadi apa adanya. Chanyeol belum pernah bertemu dengan orang yang begitu menjengkelkan, lucu dan galak seperti Baekhyun. Ia telah mempunyai rencana-rencana besar untuk Baekhyun, dan yang paling mendesak di antaranya adalah membuat pemuda manis itu bertekuk lutut padanya. Chanyeol tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada Baekhyun, bahkan kalau ia terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan menjadi pengawal 24 jam Baekhyun.
"Jika orang bernama..." Kai membalik sesaat foto untuk mengecek namanya. "Kim Luhan ini mirip sekali dengan tetanggamu Baekhyun seperti yang kau bilang, apakah dia kembar?"
Chanyeol mengernyit sesaat. "Entahlah. Akan kutanyakan padanya nanti," katanya.
*ChanBaek*
Pagi ini hanya ada sedikit wartawan di pintu gerbang Navilla ketika Baekhyun memperlambat mobilnya menunggu penjaga gerbang mengangkat palang pembatas. Si penjaga menjulurkan badannya dan mengamati mobil Viper Baekhyun dengan tatapan mencela.
"Kapan kau akan membuang sampah ini dan membeli Chevrolet?" ujar si penjaga mencibir.
Baekhyun mendengar pertanyaan itu hampir setiap hari. Inilah yang terjadi kalau kau bekerja di kota yang dalam hal apa pun agak dihubungkan dengan industri otomotif. Kau harus menunjukkan kesetiaan pada merek yang manapun dari The Big Three yang secara langsung atau tak langsung memperkerjakanmu.
"Nanti kalau aku sudah sanggup membelinya," sahut Baekhyun seperti biasanya. Tak peduli bahwa mobil Viper-nya itu sangat mahal, meskipun bekas dan sudah berjalan lebih dari 80.000 kilometer. " "Aku baru saja membeli rumah. Kalau bukan ayahku yang memberi, aku takkan memakai ini."
Yang terakhir itu bohong, tapi cenderung berhasil menghentikan orang-orang menanyainya terus sementara waktu. Baekhyun bersyukur di sini tak ada yang tahu siapa ayahnya, kalau tidak mereka akan tahu bahwa ayahnya adalah orang Ford tulen. Ayahnya merasa terhina ketika ia membeli Viper itu dan tidak pernah gagal mencelanya.
"Yah, seharusnya ayahmu sudah lebih tahu," ujar si penjaga.
"Dia tak tahu apa-apa tentang mobil," sahut Baekhyun tegang, berharap kilat menyambar kepalanya hingga mati karena kebohongan besar itu.
Baekhyun memarkirkan mobil Viper-nya di sudut belakang tempat parkir, dimana nyaris tidak tertutup atap. Orang-orang di Navilla kerap bergurau bahwa mobil-mobil yang diparkir di sana adalah untuk mobil-mobil yang dihindarkan dari perhatian orang. Dan Baekhyun terpaksa mengakui bahwa memang tidak nyaman memarkir di sana, terutama selama musim sedang tidak bersahabat. Namun lebih baik berbasah ria daripada membiarkan mobil Viper-nya lecet.
Ketika Baekhyun memasuki lobi berkarpet kelabu, pengumuman bertulis tangan menarik perhatiannya. Pengumuman itu ditempelkan tepat di atas tombol-tombol lift dengan huruf-huruf besar, tentang pesta ulang tahun perusahaan yang ke-60 yang akan diselenggarakan besok malam, ditulis dengan krayon hijau dan ungu, diberi garis tepi dengan Magic Marker hitam untuk penekanan: SEMUA KARYAWAN DIWAJIBKAN UNTUK HADIR, TANPA TERKECUALI!
Baekhyun menghela napas, ia hampir lupa dengan hal itu. Pesta ulang tahun perusahan selalu menjadi sesuatu yang penting bagi Navilla yang ketat dengan peraturan-peraturannya, namun sayangnya selalu menjadi sesuatu yang membosankan bagi Baekhyun. Tahun lalu, ia dan ketiga sahabatnya diam-diam kabur dari pesta ulang tahun perusahaan dan membuat pesta sendiri di TLJ's, tapi keesokan harinya mereka berempat harus bersabar di marahi oleh Kim Jaejoong, supervisor mereka yang galak. Tahun ini sepertinya ia tidak bisa kabur lagi. Terpaksa ia harus datang, dan itu artinya ia harus mencari teman kencan untuk menemaninya ke pesta besok malam. Tidak akan mengasyikkan jika kau datang seorang diri ke sebuah pesta besar.
Baekhyun masuk ke dalam lift seraya berpikir tentang siapa yang akan ia ajak ke pesta besok. Sejenak ia memikirkan Chanyeol, kelihatannya tidak buruk juga mengajak si brengsek itu pergi ke pesta. Mungkin nanti pesta tidak akan terasa terlalu membosankan. Tapi kemudian Baekhyun mengingatkan dirinya sendiri, Chanyeol adalah seorang polisi. Selama Chanyeol tetap menjadi polisi, hidupnya akan terdiri atas serangkaian gangguan dan panggilan darurat. Sepertinya Chanyeol akan terlalu sibuk untuk sebuah pesta. Baekhyun pun mendesah.
Pintu lift membuka, dan Baekhyun menoleh untuk melihat siapa yang datang kemudian. Ia nyaris tidak dapat menahan diri untuk mengerutkan hidungnya ketika melihat Taeyeon dengan senyum menyebalkannya.
"Oh, bagus," katanya seraya masuk ke dalam lift, matanya berbinar-binar ketika melihat Baekhyun berdiri di dalam lift yang kosong. Baekhyun hanya—mencoba—tersenyum ramah.
"Yoona meneleponku tadi malam," kata Taeyeon memulai topik itu lagi. "Sepupuku itu loh. Pokoknya dia sudah berusaha menghubungimu, dan coba tebak apa? Dia ingin memintamu untuk mengisi acaranya! Good Morning! Asyik sekali, kan yah, tentu saja kalian bertiga semuanya, tapi dia kuberitahu mungkin kau juru bicaranya."
Baekhyun mengernyit, agak tercengang dengan dugaan Taeyeon. Lift berhenti di lantai 10 dan pintu lift membuka. Baekhyun segera melangkah keluar dan berusaha menghindari Taeyeon.
Kenapa sih, wanita ini masih saja berbicara seolah hilangnya Kyungsoo dan rumor tentang pembunuh berantai itu adalah sesuatu lelucon menarik yang akan mendongkrak rating acara tv? Tidakkah dia memiliki sedikit rasa simpati?, pikir Baekhyun merasa kesal.
Taeyeon mengejar Baekhyun dan berjalan di sampingnya, berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah cepat Baekhyun dan nampak belum menyerah. Wanita itu tampak begitu bangga sehingga Baekhyun mencari-cari cara diplomatis untuk menolaknya.
"Aku tak tahu sepupumu penghubung orang-orang yang mengisi acara," kata Baekhyun.
"Oh, bukan. Tapi dia sudah bicara dengan orang itu dan orang itu sangat tertarik juga. Ini akan menjadi kebanggaan Yoona dan bisa benar-benar membantu karirnya," Taeyeon membuka rahasia.
Itu berarti kalau tidak mau bekerja sama, ia akan langsung disalahkan apabila karir sepupu Taeyeon mundur. Baekhyun menggeram pelan dan memaki-maki dalam hati. Kemudian ia mencoba untuk nampak wibawa dan memompakan nada tegas dalam suaranya.
"Entahlah. Aku tak suka semua ini. Teman kami sedang menghilang, dan kami semua sedang cemas. Kupikir ini bukan ide yang bagus."
Taeyeon menatapnya dengan ketakutan. "Kau bercanda! Apa kau tak ingin jadi kaya dan terkenal?" ujarnya.
"Kaya, aku tak keberatan. Terkenal, tidak. Dan aku tak tahu bagaimana muncul di acara Good Morning akan membuatku kaya," sahut Baekhyun seraya meletakkan tasnya di atas mejanya, lalu duduk di kursinya sambil berharap wanita itu segera menghilang dari pandangannya.
Namun Taeyeon masih tetap berdiri di depan mejanya, masih terus berbicara dan setengah memaksa. Baekhyun celingukan ke sekelilingnya, mencari-cari sesuatu yang bisa ditimpukkan ke kepala Taeyeon. Wanita ini benar-benar menyebalkan dan keras kepalanya.
"Ayolah, Baekhyun-ssi, katakan kau akan mengiyakan permintaan Yoona," Taeyeon memohon, mengatupkan kedua tangannya dalam gaya memohon klasik.
"Taeyeon-ssi!" teriak Baekhyun, kini kesabarannya sudah habis. "Tidak bisakah kau sedikit berempati? Temanku sedang menghilang saat ini, diculik dan mungkin dia sedang dalam bahaya sekarang. Tolonglah, setidaknya, sedikit mengerti."
Taeyeon terkejut dengan kemarahan baekhyun. Ia menatap Baekhyun dengan ketakutan, mengerti bahwa pemuda manis itu menolak tawaran sepupunya. Baekhyun merasa sedikit tidak enak ketika melihat wanita itu nampak kecewa, namun ia tidak terlalu peduli. Ia sedang marah saat ini.
Akhirnya Taeyeon beranjak pergi, melenggang ke mejanya dengan langkah cepat. Baekhyun menarik napasnya dan memejamkan matanya, berusaha menelan kembali kata-kata makian yang hampir sampai di tenggorokannya. Kata-kata makian yang akan membuat dompetnya bangkrut seketika jika keluar dari tenggorokannya. Tapi siapa yang akan dibayarnya ketika ia memaki-maki dan hanya ada dirinya sendiri?
Akhirnya satu makian lolos dari mulut Baekhyun, "Persetan!"
*ChanBaek*
"Baekhyun, kudengar tadi pagi kau bertengkar dengan Taeyeon-ssi," kata Tao ketika mereka baru saja menempati salah satu meja di TLJ's untuk makan siang.
Seorang pelayan datang memberikan daftar menu yang tidak dibutuhkan. Baekhyun, Tao dan Heechul memesan menu favorit mereka masing-masing. Setelah mencatat semua pesanan, pelayan itu mengambil daftar menu yang tidak dibuka itu lalu beranjak pergi.
Baekhyun mendengus sesaat. "Tidak, bukan bertengkar," katanya. "Aku hanya menolak permintaannya, sepupunya ingin kita tampil di acara Good Morning. Tapi dia membuatku kesal hingga tanpa sadar aku berteriak padanya."
"Wanita itu memang menyebalkan dan tidak memiliki rasa simpati, apalagi empati," cibir Heechul tidak suka, yang mendapat anggukan setuju dari Tao.
"Lupakan wanita menyebalkan itu. Besok malam kalian akan datang ke pesta ulang tahun perusahaan?" tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraan.
"Yah, itu wajib 'kan? Kurasa kita tidak bisa kabur lagi seperti tahun lalu, atau kita harus berhadapan lagi dengan tuan supervisor kita yang galak itu. Duh! Aku tidak mau lagi, dia benar-benar menyeramkan," kata Tao menggelengkan kepalanya.
Baekhyun dan Heechul terkekeh. Pembicaraan terhenti sejenak ketika seorang pelayan datang dengan membawa makanan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, seraya menikmati makanan masing-masing mereka kembali berbicara tentang pesta ulang tahun perusahaan dan peraturan anehnya yang mewajibkan semua karyawan untuk datang.
Namun ketika pembicaraan tiba pada topik tentang pasangan yang akan kau bawa ke pesta, Baekhyun terdiam dan kembali berpikir tentang Chanyeol. Tidak ada orang lain yang ingin Baekhyun ajak pergi ke pesta selain Chanyeol. Tapi masalahnya, apakah polisi tampan itu mau datang? Kalaupun mau, Baekhyun tidak menjamin Chanyeol akan ada di sepanjang pesta. Ketika ponsel Chanyeol berbunyi, itu artinya Baekhyun harus merelakan polisi tampan itu untuk pergi. Ditinggal sendirian di tengah pesta yang membosankan adalah bagian yang paling menyedihkan.
"Jadi, besok kau akan datang ke pesta dengan siapa?" tanya Heechul membuyarkan pikiran Baekhyun.
Baekhyun mengangkat bahunya. "Eum...entahlah. Aku belum tahu," jawabnya.
*ChanBaek*
Setelah selesai makan siang Baekhyun, Tao dan Heechul kembali ke kantor. Namun kemudian Baekhyun teringat, ia harus membeli satu lusin kertas HVS dan beberapa perlengkapan kantor lainnya. Maka ia pergi ke toko buku, sementara Tao dan Heechul kembali ke kantor lebih dulu.
Dengan cepat Baekhyun menyusuri rak-rak mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Ketika ia mengambil dua buah Magic Marker warna hitam dan merah dari rak, tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang dan terdengar suara berat berkata,
"Merindukanku, sayang?"
Baekhyun memekik kaget, menjatuhkan dua buah Magic Marker di tangannya dan hampir menjatuhkan seluruh Magic Marker dari rak. Ia berbalik, mengambil jarak dari orang yang memeluknya, lalu meloloti lelaki itu.
"Sialan!" katanya. "Kau suka sekali mengejutkan orang ya?"
Chanyeol nyengir. Ia menunduk, mengambil dua buah Magic Marker yang terjatuh di lantai, lalu memberikannya pada Baekhyun. "Kau baru saja memaki," katanya, seolah memperingatkan.
Baekhyun mendengus kesal dan mengambil dua buah Magic Marker miliknya dari tangan Chanyeol. Lalu alih-alih merogoh sakunya dan memberikan 25 dolar atas makiannya, ia justru menendang kaki Chanyeol dengan penuh dendam.
"Aouch!" Chanyeol meloncat kesakitan, lalu melototi Baekhyun. "Hey! Untuk apa itu?"
"Itu untuk mengejutkanku dengan sengaja dan membuatku memaki. Aku tidak perlu membayar untuk itu," kata Baekhyun.
"Kau yang memaki. Aku hanya menyapamu," Chanyeol memandang Baekhyun dengan tatapan tidak terima. "Aku melihatmu di TLJ's tadi, dan mengikutimu ke sini. Aku hanya ingin menyapamu."
"Pergi sana. Aku sedang sibuk," Baekhyun mendengus tidak peduli.
"Begitu ya. Apakah kau selalu seperti ini jika sedang berada di supermarket atau toko buku? Berlari di setiap lorong seolah kau sedang mengikuti balapan," Chanyeol mencibir.
Baekhyun bertingkah seolah memikirkan hal itu. "Tidak, biasanya aku sangat pelan dan santai. Sebelum seorang maniak mengganggu hari-hariku."
Chanyeol mendengus jengkel. "Kau bodoh ya?"
"Si—" Baekhyun menghentikan mulutnya dengan cepat dan menarik napas dalam-dalam, menelan kembali kata makian yang tersangkut di tenggorokannya. Lalu dengan penuh kejengkelan ia kembali menendang kaki Chanyeol.
"Aouch!" Chanyeol kembali meloncat kesakitan, lalu melototi Baekhyun dengan tatapan tidak terima. "Kau bajingan sinting ya!"
Baekhyun hanya tersenyum puas, lalu beranjak pergi. "Hey!" kejar Chanyeol, mengiringi Baekhyun menuju meja kasir. "Katakan, kenapa kita harus bertengkar lagi setelah hubungan kita mulai dekat?"
Baekhyun meletakkan barang-barang yang akan dibelinya di meja kasir, dan membiarkan petugas kasir yang cantik itu mulai bekerja dengan mesin penghitungnya. Lalu ia menatap Chanyeol yang berdiri di sampingnya, sedang menatapnya dengan mata besarnya yang dalam.
"Hubungan apa? Hubungan tetangga?" kata Baekhyun mengernyit. "Aku tidak mengerti."
Chanyeol diam sejenak, dan Baekhyun melihat rahang pria itu bergerak-gerak. Chanyeol menggertakkan giginya, berusaha menahan kesabarannya. "Oke, hubungan yang, mungkin, akan kita miliki nanti," katanya, akhirnya.
Sepertinya Chanyeol telah berjuang mengerahkan keberaniannya untuk mengeluarkan kata-kata itu. Baekhyun mebelalakan mata selebar mungkin. Chanyeol cemberut karena Baekhyun tidak kunjung mengatakan apa pun, hanya terus menatapnya.
"Semuanya 500 dolar," kata petugas kasir yang cantik itu mengalihkan perhatian Baekhyun. Kemudian, meski samar, Chanyeol melihat pemuda manis itu tersenyum kecil.
Setelah membayar Baekhyun mengambil barang belanjaannya dan beranjak pergi. Chanyeol mengikutinya hingga keluar toko. Baekhyun menghentikan kakinya di depan toko dan terdiam selama beberapa lama, seolah sedang menimbang sesuatu. Kemudian ia menoleh menatap Chanyeol yang masih menunggunya untuk mengatakan sesuatu.
"Hey, besok malam ada pesta di kantorku. Pesta ulang tahun Navilla ke-60. Dan semua karyawan diwajibkan untuk datang. Apakah menurutmu kau bisa datang besok malam?" kata Baekhyun.
Chanyeol menaikkan satu alisnya. "Aku diundang juga?" tanyanya.
"Yah, ya...aku yang mengundangmu, sebagai pasangan kencanku," Baekhyun berusaha terdengar santai.
"kenapa? Tidak ada yang mau pergi bersamamu ke pesta itu?" Chanyeol mencibir.
Baekhyun menarik napasnya dengan jengkel, berusaha keras menahan keinginannya untuk menendang kaki polisi tampan itu untuk ketiga kalinya. "Kau bisa datang atau tidak?" tanyanya.
"Jam berapa pestanya dimulai?" Chanyeol balik bertanya.
"Jam delapan malam."
Chanyeol terdiam sesaat sebelum akhirnya ia menunduk untuk mencium bibir Baekhyun. Baekhyun mengerjap sesaat lalu akhirnya ia memejamkan matanya, menikmatinya. Lagi-lagi ia merasa seolah waktu berhenti setiap kali polisi tampan ini menciumnya. Suara-suara di sekitarnya seolah menjauh, orang-orang di sekitar mereka seolah berjalan dengan cepat. Hanya ada dirinya dan Chanyeol dalam waktu yang terhenti itu, serta sebuah perasaan hangat yang aneh yang menjalari dadanya.
Ini aneh.
Teringat bahwa mereka masih berdiri di depan toko buku, Chanyeol melepaskan ciumannya sebelum menjadi semakin serius. Baekhyun membuka matanya dan sejenak merasa sedikit kecewa. Chanyeol menyeringai dan berkata oke.
"Benarkah? Kau bisa datang? Tapi, bagaimana jika ponselmu berbunyi ketika pesta masih berlangsung?" tanya Baekhyun.
Chanyeol terkekeh dan membelai lembut rambut cokelat Baekhyun. "Aku seorang polisi, sayang. Tentu aku harus pergi jika mendapatkan panggilan tugas," katanya mengingatkan, dan Baekhyun mendesah pelan.
Tiba-tiba ponsel Chanyeol berbunyi. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. "Detektif Park Chanyeol," katanya menjawab telepon itu. Suaranya kembali menjadi mode polisi.
Baekhyun hanya diam memperhatikan dan mendengarkan saat Chanyeol menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu berkata, "Ya, Ya. Kami akan segera ke sana."
Ketika Chanyeol telah selesai menelepon Baekhyun ingin bertanya ada apa, tapi ia tahu polisi tampan itu pasti tidak akan mau menjawabnya. Ia mengerti, polisi telah diajarkan untuk tidak sembarangan memberi informasi. Maka ia hanya bertanya,
"Kau harus pergi sekarang?"
"Ya. Tapi aku janji akan datang besok malam," Chanyeol tersenyum dan mencium lembut dahi Baekhyun.
Baekhyun hanya diam, memandang Chanyeol yang beranjak pergi. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba Chanyeol berhenti dan menoleh. "Hey, Baekhyun. Apakah kau kembar?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa?" Baekhyun mengernyit bingung.
"Aku bertanya, apakah kau memiliki saudara kembar atau tidak?" Chanyeol mengulang pertanyaannya.
Baekhyun terdiam sejenak, berusaha mengingat. "Eum...ya. Aku memiliki kakak kembar, tapi dia menghilang saat kami baru lahir. Seseorang mengambilnya dari rumah sakit sebelum orangtuaku memberinya nama, dan kami tidak pernah menemukannya hingga sekarang," jawabnya.
Chanyeol menganggukkan kepalanya dan menggumamkan sesuatu dengan pelan. Lalu ia menyeringai dan berkata, "Sampai jumpa besok malam."
Kemudian ia kembali melangkah pergi untuk menemui Kai yang sedang menunggunya di Leaf cafe. Sementara Baekhyun segera kembali ke kantornya ketika menyadarinya bahwa jam istirahat makan siangnya hanya tinggal lima menit lagi.
*ChanBaek*
Di Leaf cafe, Kai sedang menikmati satu cup Hot Machiato ukuran medium dan nampak sibuk dengan laptopnya ketika Chanyeol datang. Wajahnya nampak serius menatap layar monitor laptopnya.
"Oh, kau sudah datang. Sudah menyapa tetanggamu itu?" katanya, mengangkat kepalanya saat Chanyeol duduk di depannya.
Chanyeol tersenyum sesaat, membayangkan Baekhyun kembali. "Ya, dia masih tetap galak dan menendang kakiku dua kali," katanya.
Kai mengangkat satu alisnya, menatap Chanyeol. "Sepertinya dia tipe yang sulit di dapatkan," komentarnya jahil.
Chanyeol terkekeh kecil. "Aku senang mengambil resiko. Hidup menantang bahaya," ujarnya.
Kai hanya menggelengkan kepalanya. Chanyeol teringat dengan telepon yang diterimanya tadi. Lalu ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Nada suaranya berubah serius saat berkata, "Kai, tadi Lay hyung menghubungiku. Sekelompok pendaki menemukan mayat seorang pemuda di hutan di Cheongju. Dia sedang dalam perjalanan ke sana. Dia pikir kita perlu mengetahuinya."
Kai tersentak mendengarnya. Perasaan tegang seketika menyelimuti wajahnya. "Apakah itu Do Kyungsoo?" tanyanya.
"Lay hyung tidak mengetahuinya dengan pasti, tetapi dia mengatakan mungkin saja," jawab Chanyeol.
Kai berdecih kesal. Ia mematikan laptopnya dan membereskan barang-barangnya. Sambil membawa tas laptop dan cup Hot Machiato miliknya Kai beranjak pergi. Chanyeol berdiri dan mengikutinya. Mereka berjalan menuju mobil Chanyeol di area parkir cafe.
"Sial! Ini baru sepuluh hari," kata Kai kesal ketika mereka naik ke mobil.
"Itu belum tentu dia," ujar Chanyeol sambil menjalankan mobilnya pergi, mencoba berpikir positif.
"Bagaimana jika iya?"
"Maka pembunuh kita mempercepat waktunya, mengubah modus operandinya sedikit, dan mungkin telah memilih korban baru."
Tbc
