*Fast update. Unedited, beware of typos!
.
.
.
Part 13
Malam itu Chanyeol benar-benar menepati janjinya, meski ia terlambat setengah jam. Baekhyun mengerjap sesaat ketika melihat Chanyeol berdiri di depan pintu rumahnya. Dengan setelan jas dan simpul dasi bergaris putih biru di lehernya, pria itu nampak sempurna. Sementara Baekhyun sendiri mengenakan tuksedo putih yang membuatnya nampak sangat manis.
"Wah, aku sedikit kecewa. Aku berharap melihatmu memakai tuksedo," kata Baekhyun setengah mencibir.
"Aku tidak punya tuksedo," Chanyeol berkata, berbohong.
Satu-satunya tuksedo yang ia miliki adalah tuksedo yang pernah dibelikan mantan suaminya dulu. Namun sejak bercerai Chanyeol tidak pernah memakai tuksedo itu lagi, bahkan ia sudah lupa dimana ia menyimpan tuksedo itu. Ia tidak punya waktu untuk mencari setelah seharian memburu petunjuk-petunjuk kasus yang sedang ditanganinya, yang ternyata bukan apa-apa.
Baekhyun tersenyum, seolah mengatakan 'Yah, okelah'. Ia mengunci pintu rumahnya lalu segera beranjak pergi bersama Chanyeol. Chanyeol membantu Baekhyun menaiki pikapnya, lalu berjalan memutar dan duduk di belakang kemudi, lalu segera menjalankan pikapnya pergi. Mereka telah terlambat setengah jam.
Itu benar-benar pesta yang besar dan meriah. Navilla Hall yang besar nampak begitu ramai dibanjiri oleh para tamu undangan, para pemimpin maupun para karyawannya. Diterangi oleh cahaya lampu-lampu yang berpijar terang dan sampanye. Suara denting gelas bercampur dengan percakapan dan gelak tawa. Alunan musik jazz ringan menciptakan latar belakang yang lembut bagi suara-suara yang lain. Para laki-laki berpakaian formal, beberapa mengenakan tuksedo, mengawal istri, kekasih, atau pasangan kencan mereka. Para wanita dari berbagai usia berhias dalam balutan sutra dan kain satin serta manik-manik. Dan semua anak-anak yang ikut hadir terlihat seperti mereka baru saja keluar dari majalah fashion anak.
Saat Baekhyun dan Chanyeol memasuki keramaian tersebut, ia melihat sekilas Heechul yang sedang berdansa dengan seorang wanita di lantai dansa, sepertinya dia tidak datang bersama Hangeng dan membawa teman kencan yang lain. Juga Tao dan Kris sedang bercakap-cakap dengan mesra. Tao menoleh ketika menyadari kehadiran Baekhyun lalu melambaikan tangan padanya, sebuah senyum penuh tanya terlukis di bibirnya ketika melihat dengan siapa Baekhyun datang. Baekhyun hanya tersenyum dan menggerakkan jarinya, seolah mengatakan 'Akan kuceritakan nanti'. Dan sahabatnya itu nampak terkekeh pelan.
"Aku merasa benar-benar salah kostum," kata Chanyeol melihat ke sekeliling ruangan pesta, pada semua tamu yang berpakaian anggun. Ia nampak sedikit tidak nyaman, dan memilin simpul dasi bergaris putih birunya.
"Kau kelihatan tampan," kata Baekhyun menyakinkan. Menurutnya, Chanyeol adalah laki-laki tertampan di sini. Dan itu terbukti dengan tatapan para wanita yang mulai memperhatikannya.
Sehun, yang terlihat seperti model dari katalog pusat kebugaran dengan tubuh seksi dan berototnya, mendekati Baekhyun dan Chanyeol. Pria itu datang bersama teman kencannya malam ini, si seksi Min Hyorin.
Ken dan Barbie, pikir Chanyeol ketika melihat pasangan itu.
"Malam, detektif," sapa Sehun dengan ramah pada Chanyeol. "Senang melihatmu di sini."
"Apa kabar?" balas sapa Chanyeol, tersenyum ramah.
Kemudian Sehun beralih pada Baekhyun. "Halo, Baekhyun hyung," ia tersenyum, memperlihatkan satu rangkaian gigi putih yang berkilauan dan rapi. "Kau benar-benar terlihat sempurna malam ini. Benar-benar manis."
Baekhyun tersenyum dan berterima kasih. Ini bukan pertama kalinya ia berpikir betapa tampannya laki-laki itu. Tinggi dan berotot, dengan mata hitam yang menyala. Dan untuk menambah ketampanannya, kepala akunting itu memiliki kepribadian hangat dan mudah bergaul. Semua orang yang mengenalnya menyukainya.
Senyum di bibir Baekhyun sedikit memudar ketika Hyorin terang-terangan menggoda Chanyeol. "Hai, detektif Park," wanita cantik itu tersenyum pada Chanyeol sembari menggandengkan tangannya pada Chanyeol.
Sehun sepertinya tidak keberatan sedikitpun melihat teman kencannya menggoda laki-laki lain, tetapi kenapa ia harus terganggu?. Ia dan Hyorin bukanlah pasangan. Keduanya berkencan dengan banyak orang, dan tampaknya tidak satu pun dari mereka tertarik pada hubungan serius dengan satu sama lain atau dengan siapa pun.
"Halo cantik," Chanyeol berkata, tersenyum. "Kau terlihat sangat seksi malam ini."
Hyorin terkikik. Ia merasa senang jika laki-laki memperhatikannya. Ia mendewakan perhatian dan pujian. Setiap kali melihat Hyorin, Bakehyun selalu menganggap sebagian besar wanita cantik seperti itu. Hyorin selalu seperti itu, mungkin sejak ia masih kecil. Sifat narsis wanita itu adalah bagian dari daya tariknya, bagian besar dari apa dan siapa Hyorin itu. Seorang wanita cantik yang tahu bahwa ia cantik. Apa yang salah dengan itu? Tidak ada. Benar-benar tidak ada.
Ketika Hyorin bersandar dan mencium pipi Chanyeol, Baekhyun mengernyit tidak suka. Ia merasa, sedikit, cemburu. Kemudian ia mengalihkan perhatian pada hal lain, berusaha menahan keinginannya untuk menimpuk dua orang itu dengan...apapun yang bisa ditimpuk.
"Katanya kalian para polisi pergi ke Cheongju kemarin," Sehun berkata, memulai topik pembicaraan. "Aku benar-benar lega bahwa tubuh yang ditemukan para pendaki itu bukanlah tubuh Kyungsoo-ssi. Dia benar-benar pemuda yang manis, baik dan ramah. Aku masih tidak dapat percaya ada orang yang ingin mencelakakannya. Bukan juga direktur Suho, bahkan jika laki-laki itu benar menghancurkan hatinya."
Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Sehun dan Chanyeol. Perkataan Sehun itu mengingatkannya pada berita di tv tadi pagi, tentang penemuan mayat seorang pemuda di hutan di Cheongju yang ditemukan oleh sekelompok pendaki. Setelah melihat berita itu ia langsung teringat pada Chanyeol yang menerima telepon ketika mereka bertemu siang kemarin, lalu segera menghubunginya. Ia harus menunggu cukup lama hingga Chanyeol meneleponnya balik dan memberitahunya bahwa mayat yang ditemukan di hutan itu bukanlah sahabatnya Kyungsoo. Berita itu membuatnya merasa lega sekaligus cemas.
"Kim Suho tidak mengirimkan hadiah-hadiah itu pada Do Kyungsoo," Chanyeol berkata. "Do Kyungsoo hanya berpikir laki-laki itu merayunya, saat, pada kenyataannya, yang merayunya itu adalah orang yang menguntit dan lalu menculiknya."
"Apakah kalian mengetahui siapa mayat pemuda yang ditemukan para pendaki itu?" Baekhyun itu ikut bertanya.
"Kami tidak tahu," jawab Chanyeol. "Mereka mengirim tubuhnya yang hampir membusuk ke National Seoul Hospital. Tim forensik mengatakan dia mungkin telah meninggal selama kurang lebih setahun."
"Mungkinkah dia salah satu dari korban pembunuh berantai itu?" Sehun bertanya setengah berbisik, ia tahu bahwa departemen kepolisian tidak ingin istilah 'pembunuh berantai' yang berhubungan dengan pembunuhan akhir-akhir ini digunakan di muka umum.
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Kami pikir tidak. Pemuda itu tidak telanjang dan tubuhnya dikubur pada lubang dangkal di hutan, tidak diposisikan dalam area terbuka, dimana dia dapat dengan mudah ditemukan."
Hyorin yang sejak tadi hanya diam memperhatikan nampak sedikit bosan dengan topik pembicaraan itu. Ia, yang berdiri diantara Sehun dan Chanyeol, merangkulkan tangannya pada lengan kedua laki-laki tampan itu dan berkata,
"Bisakah kalian berhenti membicarakan tentang pembunuhan dan kejahatan, bahkan pada saat pesta seperti ini?"
"Maaf cantik," kata Sehun. "Aku selalu tidak bisa menahan diri jika berbicara tentang ini. Aku selalu merasa tertarik dengan topik pembicaraan ini."
Hyorin mencibirkan bibirnya dalam bentuk yang menggoda. "Seharusnya kau menjadi polisi saja, kalau begitu," katanya. Ia memindahkan tangannya dari lengan Sehun dan mengaitkan lengan Chanyeol dengan kedua tangannya. "Seperti detektif Park Chanyeol ini."
Otot-otot perut Baekhyun terasa mengejang melihatnya, namun ia tidak mengatakan apapun. Chanyeol melirik Baekhyun, mengernyitkan dahi, lalu menunduk dan berdeham. "Aku permisi dulu, aku ingin ke toilet," katanya.
Chanyeol melihat ke arah Baekhyun sembari menarik tangan Hyorin dari lengannya dan melepaskannya. "Jangan lupa menyisakan satu dansa untukku, Byun Baekhyun," tambahnya.
Hati Baekhyun bergejolak. Idiot!, batinnya. Namun ia memberi Chanyeol sebuah senyum tipis sebelum polisi tampan itu beranjak pergi.
"Dan sisakan satu dansa untukku juga, Baekhyun hyung," Sehun mengedip pada Bakehyun lalu mengajak Hyorin ke lantai dansa.
Baekhyun menghembuskan napas dan berjalan ke arah meja hidangan. Ia belum makan apa pun sejak sarapan tadi pagi, dan ia merasa lapar. Namun sebelum ia sampai ke meja hidangan, seseorang memanggilnya. Baekhyun menoleh dan tersenyum ketika melihat siapa yang memanggilnya, seseorang yang tidak ia sangka kehadirannya di pesta besar ini.
"Changmin hyung, kau datang juga?" katanya.
*ChanBaek*
Saat Chanyeol kembali dari toilet ia melihat Bakehyun sedang berbicara dengan seorang pria tampan bertubuh tinggi dan bersurai hitam. Mereka terlihat dekat dan Chanyeol bertanya-tanya siapa pria itu. Pria bersurai hitam itu membisikkan sesuatu di telinga Baekhyun yang membuat pemuda manis itu tersenyum lebar. Lalu Baekhyun menyelipkan tangannya pada tangan pria itu dan menuntunnya ke lantai dansa.
Pria itu menaruh tangannya di sekeliling pinggang Baekhyun dan Baekhyun meletakkan tangan kirinya di bahu pria itu, dan tangan kanannya di tangan pria itu. Pria tampan bertubuh tinggi itu memimpinnya berdansa, gerakannya lembut dan stabil, seolah-olah ia takut akan menginjak kaki Baekhyun. Chanyeol hanya diam di tempatnya, meminum segelas sampanye sambil terus memperhatikan hingga mereka selesai berdansa. Pria bersurai hitam itu melepaskan tangan Baekhyun. Mereka berbicara sejenak, sebelum kemudian pria bersurai hitam itu melangkah pergi.
Saat Baekhyun membalikkan badannya, ia menabrak Chanyeol yang ternyata telah berdiri di belakangnya. Chanyeol memegang bahu Baekhyun dan mendorongnya ke belakang untuk mencegahnya agar tidak jatuh.
"Kupikir tidak ada lagi yang tertarik dengan pemuda galak sepertimu," Chanyeol berkata setengah mencibir, nampak sedikit cemburu.
"Lucu sekali," Baekhyun mendengus.
"Siapa dia?"
"Oh, dia Shim Changmin. Seorang teman yang pernah aku kenalkan pada Kyungsoo dulu. Kami sudah cukup lama tidak bertemu karena kesibukan. Karena itu, aku tidak menyangka dia juga datang ke pesta ini."
Chanyeol mengernyit dan melepaskan tangannya dari bahu Baekhyun. "Kalian terlihat begitu akrab."
Baekhyun terkekeh sesaat. "Tentu saja. Dia seniorku di SMA dulu."
Chanyeol menatap lurus ke mata Baekhyun dan tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. "Ayo dansa," ajaknya kemudian, menggenggam tangan Baekhyun.
Kepala Baekhyun terasa berputar dan perutnya bergejolak. "Apa?" katanya.
"Kau berjanji akan menyisakan satu dansa untukku. Jadi, kau mau atau tidak mau berdansa denganku?"
Baekhyun menatap Chanyeol lekat-lekat. "Yah, sebenarnya, aku berpikir akan meja hidangan. Perutku sebentar lagi akan mengeluarkan suara yang tidak enak."
Chanyeol tertawa kecil. "Satu dansa, lalu kita makan."
Baekhyun mengangguk dan tidak merasa ragu saat Chanyeol menyelipkan tangan ke tubuhnya dan menariknya dalam dekapannya. Selama satu menit, ia tidak bisa bernapas. Chanyeol begitu dekat hingga ia hampir dapat mencium aromanya. Sedikit wangi aftershave citrus, obat kumur rasa mint, dan aroma dasar maskulin yang merupakan ciri khas Park Chanyeol seperti juga sidik jarinya. Ia yakin bahwa ia dapat membedakan Chanyeol dari puluhan laki-laki lain hanya dari aromanya. Kata-kata dari sebuah lagu lama mengalir dalam pikirannya. Sesuatu tentang saat ini menjadi "waktunya" dan Chanyeol menjadi "satu-satunya".
*ChanBaek*
Tolong Tuhan, biarkan dia membunuhku!
Tidak tahu apakah ini siang atau malam. Tidak tahu jam berapa sekarang, atau hari apa sekarang. Kyungsoo berbaring di tempat tidur, mendengarkan jantungnya berdetak sangat kencang. Matanya menatap langit-langit kamar yang kecil dan gelap itu. Ia mencoba membayangkan dirinya ada di tempat lain. Di rumah, bersama ibunya. Atau di kantor, dikelilingi orang-orang yang ia kenal dan percayai. Mungkin di TLJ's, dimana ia menikmati makan siang bersama ketiga sahabatnya. Mungkin juga di gereja, dimana ia mengikuti paduan suara. Dimana pun, kecuali di sini. Dengan siapa pun, kecuali laki-laki itu. Namun bagaimanapun kerasnya ia mencoba mengalihkan pikirannya dari kenyataan saat ini, dimana ia berada, dan apa yang apa yang telah terjadi padanya, ia tidak dapat sepenuhnya menguasai pikirannya.
Kyungsoo mencoba lebih keras lagi. Ia mencoba memikirkan tentang natal yang telah lama berlalu, natal yang masih tidak ia lupakan hingga saat ini. Tentang bagaimana Richard mengejutkannya saat melamarnya dulu, setengah berlutut, di hadapan orangtua dan sepupunya Minho. Tepat saat wajah kedua orangtuanya yang sedang tersenyum terbayang dalam pikirannya, Kyungsoo kembali ditindih oleh lelaki di atasnya, kali ini lebih keras. Lebih ganas. Dan jari-jari laki-laki itu menekan pinggulnya saat ia mengangkat tubuh Kyungsoo ke atas untuk memenuhi nafsu biadabnya. Seraya menambah ketajaman dan kecepatan serangannya, laki-laki itu memenuhi kebutuhannya, seperti yang setiap kali ia lakukan saat memerkosa Kyungsoo.
"Katakan padaku!" laki-laki itu menggeram. "Katakan! Kau tahu apa yang ingin kudengar!"
Tidak. Tidak akan. Tidak kali ini. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa.
Kyungsoo hanya diam, terbaring di bawah laki-laki itu. Diam dan tak bergerak, mendambakan kematian ketika mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Laki-laki itu melambat, lalu berhenti dan mengangkat badan, cukup untuk menatap wajah Kyungsoo. Kyungsoo memejamkan matanya, tidak ingin menatap laki-laki itu. Ia tidak ingin melihat wajah dari sang teror.
Laki-laki itu menarik Kyungsoo, mencengkram dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, menekan keras ke dalam pipinya. "Buka matamu, brengsek! Buka matamu dan lihat aku!"
Kelopak mata Kyungsoo berkedip, namun tidak membuka matanya. Jangan mematuhinya. Tidak kali ini. Bertahanlah!
"Kenapa kau begitu keras kepala?" laki-laki itu bertanya dengan nada keheranan yang sungguh-sungguh dalam suaranya. "Kau tahu bahwa aku dapat memaksamu untuk melakukan apa pun yang aku mau. Mengapa mempersulit dirimu sendiri? Kau tahu bahwa akhirnya kau akan mematuhiku."
"Tolong..." Kyungsoo membuka mata dan menatap laki-laki itu melalui kabut air matanya.
"Tolong apa?"
Air mata menggenangi kedua matanya meskipun Kyungsoo telah bertekad untuk tidak menangis. Ia tahu laki-laki itu tidak suka bila ia menangis. "Sudah, selesaikan saja."
"Jika kau ingin aku menyudahinya, ayo katakan apa yang ingin kudengar. Jika tidak, aku akan menghukummu. Aku akan membuatnya berlangsung lama sekali," seraya menundukkan kepala ke arah dada Kyungsoo, laki-laki itu membuka mulut dan giginya.
Sebelum Kyungsoo sempat bereaksi, laki-laki itu menarik dan menggigit nipple-nya. Kyungsoo berteriak kesakitan. Laki-laki itu memperkosanya kembali beberapa kali, setiap kali lebih ganas. Saat laki-laki itu memindahkan mulutnya ke nipple yang lain, ia menarik napas lalu berteriak cepat-cepat,
"Aku mencintaimu! Aku menginginkanmu lebih daripada yang lain! Tolong, sayang, bercintalah denganku!"
Laki-laki itu tersenyum. Ya Tuhan, betapa Kyungsoo membenci senyum itu. "Anak baik. Karena kau meminta dengan baik, aku akan memberikan apa yang kau mau," ujar laki-laki itu.
Kyungsoo terbaring di bawah laki-laki itu dan mengalami perkosaan. Ia membenci setiap saatnya, membenci laki-laki itu dan merasa muak pada diri sendiri karena telah menyerah padanya, lagi. Dan ia tahu, hal gila ini tidak dapat berlangsung selamanya.
Cepat atau lambat dia akan membunuhku.
*ChanBaek*
Kyungsoo berbaring di samping laki-laki itu, sehening dan setenang kematian. Setelah memperkosanya dengan berbagai alat sex toys hingga ia menangis kesakitan, laki-laki itu membalik tubuhnya dan memperkosanya dengan brutal. Tidak peduli betapa keras ia berusaha menyenangkan laki-laki itu, laki-laki itu tidak pernah puas. Laki-laki itu menghukumnya bahkan saat ia mematuhi semua perintahnya. Laki-laki itu memperoleh kenikmatan sadis dari menyiksanya.
Dalam kesunyian, dengan sang penculik tertidur di sampingnya, suara Kyungsoo yang memohon menggema dalam pikirannya. Ia telah mengatakan berulang kali pada laki-laki itu apa yang ingin didengarnya. Tapi itu juga tidak membuat laki-laki itu puas.
Kyungsoo mengarahkan pandangannya pada laki-laki itu, ia memperhatikan bahwa mata laki-laki itu tertutup dan mulutnya terbuka. Ia mengangkat kepalanya beberapa inci dan menatap lebih dekat pada wajah tampan lelaki itu. Jantungnya berdetak kencang saat menyadari bahwa laki-laki itu tertidur, sementara dirinya tidak tidur. Ia mengangkat tangan kirinya dan menatap pada lengannya yang tidak terikat, lalu ia memerika kakinya, mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak dibelenggu.
Kyungsoo bangkit dalam posisi duduk. Ia berhenti sejenak, mengambil napas panjang yang menenangkan, lalu menatap pada tubuh bugil laki-laki itu. Tubuh laki-laki yang sempurna. Setelah menurunkan kakinya dari sisi tempat tidur, meletakkan kakinya di lantai dan duduk, Kyungsoo melingkarkan tangannya pada dadanya yang penuh dengan memar. Ia telah lupa menghitung berapa hari ia diculik oleh laki-laki itu di neraka bawah tanah ini. Tidak ada cara untuk membedakan siang dan malam. Waktu tidak berarti baginya. Ia menghitung hidupnya bukan berdasarkan menit atau jam, tetapi berapa kali laki-laki itu mengunjunginya. Dan seiring dengan kunjungan rutin itu, ia kehilangan kesadarannya, tertelan oleh ketakutan menunggu dan bertanya-tanya kapan lelaki itu akan datang. Andai saja ia dapat kabur dari laki-laki gila itu.
Kyungsoo berdiri dan mencoba melangkah menjauh dari tempat tidur. Jantungnya nyaris berhenti ketika laki-laki itu mengeluarkan suara dengkuran yang aneh. Teror terasa menyerang seluruh sarafnya. Dengan ketakutan ia melihat dari balik bahunya. Laki-laki itu masih mendengkur, dan itu membuat perasaan lega menjalar di tubuh Kyungsoo, menenangkan otot-ototnya yang paling tegang. Kyungsoo berjingkat, menuju tepi tempat tidur, lalu memutarinya. Pandangannya tertuju pada tangga yang mengarah pada satu-satunya pintu keluar. Tetapi laki-laki itu menguncinya, jadi apa untungnya ia mencoba menaiki tangga itu?
Tiba-tiba Kyungsoo menginjak sesuatu yang tergeletak di lantai. Saat ia melihat ke bawah dalam keremangan, ia melihat kemeja dan celana jeans laki-laki itu tertumpuk di lantai saat laki-laki itu melepaskannya. Ia mengangkat kakinya, membungkukkan badannya, dan melihat sebuah benda besi berkilau di lantai semen.
Itu sebuah kunci.
Ya Tuhan, kunci pintu itu pasti terjatuh dari saku celana laki-laki itu saat dia membuka baju, pikir Kyungsoo.
Kyungsoo mendengarkan dengkuran lembut laki-laki itu, dan menyakinkan dirinya sendiri bahwa laki-laki itu masih tertidur. Ia menekuk lututnya, membungkukkan badannya lebih rendah, lalu menjangkau dan menjepit kunci itu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Jantungnya berdetak kencang dan telapak tangannya berkeringat. Ia kembali melihat dari balik bahunya, pada laki-laki itu, dan berpikir sejenak. Penculiknya terlihat sedang tidur dan ia memiliki kunci pintu. Jika ia dapat menaiki tangga dan membuka kunci pintu tanpa membangunkan laki-laki itu, ia dapat melarikan diri.
Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dalam penjara gelap dan lembab ini—berhari-hari yang lalu? Berminggu-minggu yang lalu?—Kyungsoo merasa ia benar-benar memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan selamat. Dengan kunci di tangan dan harapan di hatinya, ia berjalan melintasi ruangan ke arah tangga. Sebelum mengambil langkah pertama ke atas, ia berhenti dan melihat ke arah laki-laki yang mendengkur itu. Ia mengangkat kakinya, sejenak ia ragu. Lalu saat tangga itu tidak berderit, ia melangkah dengan hati-hati, dan menambah kecepatan hingga ia hampir berlari pada anak-anak tangga terakhir menuju pintu.
Gemetar dan berkeringat terus-menerus, Kyungsoo memusatkan pandangannya pada kunci pintu, lalu mencoba memasukkan kunci pada lubangnya. Jari-jarinya bergetar hebat hingga ia hampir menjatuhkan kunci tersebut. Ia menggenggam erat kunci tersebut, hingga akhirnya ia berhasil memasukkannya ke lubang kunci. Dadanya terasa sakit, dan napasnya tersendat. Ia mencium keringatnya sendiri yang bercampur dengan bau seks yang menyengat. Yang ia dengar hanyalah suara napasnya sendiri, dan yang ia lihat hanyalah kunci di tangannya.
Putar kunci itu, lalu buka pintu ke dunia luar itu. Kemudian berlarilah sekuat tenaga.
Kyungsoo memutar kunci itu, tetapi pintu itu tidak dapat terbuka. Kemudian ia memutar kunci ke arah sebaliknya, dan terdengar bunyi klik. Kyungsoo mengeluarkan napas lega saat ia memegang kenop pintu dan memutarnya. Namun pintu itu berderit saat ia membukanya.
Sial!
Secara reflesk, Kyungsoo berbalik untuk mengecek dan memastikan suara tersebut tidak membangunkan laki-laki itu. Namun ia menarik napas saat berhadapan dengan sang penculik yang ternyata telah berdiri di sisi tempat tidur.
"Mau kemana, sayang?" laki-laki itu bertanya.
Kyungsoo memutar tubuhnya dan menyentak pintu itu agar terbuka, mencoba sekuat tenaga untuk melarikan diri sebelum laki-laki itu menangkapnya. Kyungsoo melangkah maju saat ia mendorong pintu dan berhasil membukanya setengah sebelum laki-laki itu menangkapnya, melingkarkan satu tangan di pinggangnya dan menempelkan punggungnya pada dada telanjang laki-laki itu.
Kyungsoo berteriak dan menangis. Dengan naluri bertahan hidupnya yang sungguh kuat, ia melawan seperti kucing liar saat laki-laki itu menariknya ke belakang dan membanting pintu. Di atas tangga, laki-laki itu memegangnya dengan erat hingga Kyungsoo sulit bernapas. Kyungsoo memberontak, menggeliat, dan mencakar laki-laki itu. Namun laki-laki itu bergeming.
Kyungsoo menatap pintu yang nampak menjauh darinya. Air mata mengalir di pipinya saat menyadari bahwa ia sudah dekat dan hampir melarikan diri. Ia hampir berhasil. Laki-laki itu membanting Kyungsoo ke atas tempat tidur. Akhirnya, saat Kyungsoo berhenti melawan, laki-laki itu menundukkan kepalanya dan mencium bahu Kyungsoo. Lalu laki-laki itu menggigit lehernya, dan membuat pemuda manis itu berteriak kesakitan.
"Kau tidak lolos ujian," laki-laki itu berbisik di telinga Kyungsoo. "Kau telah mengatakan padaku berulang kali betapa kau mencintaiku, tetapi dari semula aku telah ragu. Jadi aku merancang sebuah rencana untuk mengujimu, untuk membuktikan cintamu padaku."
Terisak, gemetar dan kaku oleh rasa takut, Kyungsoo menyadari bahwa laki-laki itu tidak tidur sama sekali dan hanya berpura-pura. "K-kuncinya?" tanyanya.
"Saat aku melepaskan pakaianku, aku meletakkannya tepat dimana kau dapat menemukannya," laki-laki itu sedikit menjauhkan kepalanya untuk menatap wajah basah Kyungsoo. "Jika kau membiarkan kunci itu tergeletak di lantai, jika kau tidak mencoba kabur, aku tahu kau benar-benar mencintaiku."
Sebuah tes? Semua ini hanya tes! Dan ia telah gagal. Kyungsoo tertegun, menyadari bahwa kini tidak ada jalan keluar. Ia terperangkap.
"Tidak akan pernah ada kata bahagia untuk selamanya bagi kita," laki-laki itu berkata lagi. "Kau telah merusak semua kesempatan yang mungkin kita miliki."
Kyungsoo menggigil ketakutan. Kepastian akan kematiannya menghadang. "Kumohon..." katanya dengan lirih.
"Kau mohon apa?" dengan jari yang menelusup ke rambut Kyungsoo, laki-laki itu menarik rambut si pemuda manis ke belakang dan mencium pipinya. "Apa kau ingin aku membebaskanmu, sayang?"
"Iya," Kyungsoo menjawab. Ia tahu bahwa hanya ada satu jalan keluar baginya untuk melarikan diri dari laki-laki itu. "Tolong bebaskan aku..."
Tbc
