Unedited. Beware of typos!

.

.

.

Part 14

Dua hari kemudian, pukul enam pagi tubuh tak bernyawa Do Kyungsoo ditemukan oleh seorang warga yang sedang berlari pagi di bawah jembatan sungai Han. Tergeletak di pinggir sungai, sekitar tiga meter dari pinggiran air. Telanjang. Berpose. Leher disayat. Chen si petugas koroner mempertegas apa yang telah dibayangkan oleh Kai dan Chanyeol bahwa Do Kyungsoo telah diperkosa, disiksa dan akhirnya dibunuh. Modus operandi pembunuhnya sama dengan pembunuhan Victoria. Tidak ada kejutan di sana.

Kai memanggil enam petugas polisi untuk mengamankan TKP dan menahan penoton tetap di pinggir. Kabar beredar dengan cepat, dan pada saat tim olah TKP datang Kai memperkirakan bahwa penonton di pinggir sungai telah bertambah dari sekitar enam orang—saat ia dan Chanyeol datang—hingga hampir empat puluh orang saat ini. Kai yakin setelah ini pasti isu tentang pembunuh berantai yang lepas diSeoul akan berhembus semakin kencang.

"Ini buruk," Kai berkata, mendesah pelan. "Kita tidak mungkin menyangkal fakta bahwa kita berhadapan dengan psikopat."

"Setelah kematian Do Kyungsoo, laki-laki ini akan memulai hubungan baru sebentar lagi," Chanyeol berkata. "Dia mungkin telah memilih korban selanjutnya."

Kai mengencangkan rahangnya. "Oh Tuhan, aku tahu," gumamnya.

Seorang petugas polisi berjalan menghampiri Kai dan Chanyeol yang sedang berdiri melihat unit olah TKP sedang bekerja. "Detektif Kim," panggilnya.

"Ya, ada apa?" jawab Kai, menoleh pada petugas muda itu.

"Ada reporter dan fotografer dari Daily Reporter di sini dan crew dari dua stasiun tv, KBS dan SBS. Bagaimana kami harus menangani mereka? Apa yang harus kami lakukan?"

Kai mengerang pelan mendengarnya. "Hebat. Benar-benar hebat," gumamnya pelan. Lalu katanya, "Jangan biarkan siapa pun mendekat, dan jangan menjawab pertanyaan apa pun."

"Ya, pak," petugas muda itu berdiri dengan gugup, tampaknya tidak tahu apakah ia harus pergi atau tinggal.

Kai melanjutkan perkataannya, "Dan katakan pada mereka, Departemen Kepolisian akan membuat pernyataan pada—" ia melihat jam tangannya sesaat—"Aku akan menerangkan pada pers paling lambat pukul sebelas. Atau sebelum waktu tersebut, jika mungkin. Itu saja."

Petugas muda itu berbalik dan berjalan menuju barikade di atas sungai dekat jalan. Kai kembali megerang perlahan saat ia melihat ke arah penonton yang mulai bertambah. "Jika kita tidak melakukan sesuatu, mereka akan datang menaiki bis seolah ini adalah tempat wisata," katanya mendengus pelan.

"Mengapa kau tidak memerintahkan untuk menutup jalan setengah mil di tiap-tiap sisi?" Chanyeol menyarankan.

"Ide bagus," Kai melihat pada Chanyeol. "Aku akan menjelaskan tentang blokade kepada yang lain dan kau membuat perencanaan untuk mempersiapkannya, oke?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya. Segera setelah Kai beranjak pergi, Chanyeol melihat kembali ke arah unit olah TKP yang sedang bekerja. Jasad Do Kyungsoo dimasukkan ke dalam sebuah kantung hitam besar. Wajah manis yang pucat itu terlihat sejenak sebelum kemudian petugas unit olah TKP itu menarik zipper kantung hitam ke atas hingga zipper tertutup rapat. Ketika beberapa petugas mengangkat kantung hitam besar itu dan membawanya pergi melewatinya, Chanyeol teringat pada Baekhyun. Tentu ia harus memberitahu Baekhyun tentang hal ini, bahwa setelah lima belas hari akhirnya sang sahabat yang hilang berhasil ditemukan. Tapi bagaimana sebaiknya ia memberitahu Baekhyun bahwa ternyata sahabatnya ditemukan terbunuh dan dalam keadaan tragis? Itu bukan penjelasan yang mudah.

"Sial!" maki Chanyeol pelan.

*ChanBaek*

Pagi-pagi sekali, Baekhyun terbangun dengan perasaan gelisah. Perasaan gelisah yang tidak biasa. Mengabaikan BooBoo yang mendesis marah karena ekornya tidak sengaja terinjak oleh Baekhyun ketika ia beranjak keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju dapur dan membuat secangkir kopi. Secangkir kopi panas yang mungkin dapat meredakan kegelisahannya. Ketika ia duduk di kursi makan dan menyesap cangkir kopinya perlahan kepalanya teringat pada Chanyeol. Entah kenapa, sesuatu di dalam kepalanya mendorongnya untuk menghubungi polisi tampan itu.

Tepat ketika ia berpikir hendak menelepon Chanyeol, telepon berdering. Ia berdiri dan dengan langkah cepat ia menyambar telepon yang berdering itu. Mengangkatnya, seolah takut dering telepon itu akan segera berakhir.

"Halo?" jawabnya.

"Hai, apa aku membangunkanmu?" suara Chanyeol terdengar di ujung telepon.

"Tidak, aku sudah bangun sejak tadi. Dan baru saja, aku berpikir untuk menghubungimu," Baekhyun terdiam sejenak ketika kegelisahan itu kembali datang. Ia menarik napas sesaat dan bertanya, "Apa kau sudah menemukan Kyungsoo?"

"...ya, kami baru saja menemukannya. Baekhyun, aku..." Chanyeol berhenti sejenak di ujung telepon, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

Baekhyun ikut terdiam. Ia mencengkram gagang telepon di tangannya yang gemetar. Sebulir air mata bergulir di pipinya. "Katakan," katanya, suaranya tercekik.

Chanyeol masih terdiam. Baekhyun menarik napas kembali. "Dia tewas kan," bisiknya dengan suara bergetar, dan bukan bertanya.

Ia tahu.

Chanyeol mendesah dengan berat sesaat sebelum berkata, "Maafkan aku..." lalu ia mendengar suara tangisan Baekhyun di ujung teleponnya.

*ChanBaek*

Baekhyun sudah menangis begitu banyak sehingga matanya bengkak dan nyaris terpejam. Chanyeol datang ke rumah Baekhyun satu jam kemudian dan hanya memeluknya di sofa, membiarkan pemuda manis itu mengeluarkan kesedihannya.

"Aku tak percaya ini terjadi," kata Baekhyun di tengah isak tangisnya.

"Aku tahu, sayang," kata Chanyeol.

Ya, dia pasti tahu, pikir Baekhyun. Dalam pekerjaannya, mungkin Chanyeol sudah melihat terlalu banyak pemandangan semacam ini.

Ketika Baekhyun sudah mulai sanggup mengendalikan diri sedikit, Chanyeol berkata, "Aku akan mengambilakn sesuatu untukmu," lalu dia melepaskan pelukannya dan beranjak ke dapur.

BooBoo mendekat sambil mengeong, ekornya berkedut-kedut, seolah bertanya mengapa Baekhyun tidak berangkat kerja hari ini. Baekhyun membungkuk untuk menggaruk belakang telinganya, menikmati kehangatan tubuh dan kelembutan bulu kucing itu. Lalu ia memangku BooBoo dan membelainya, sementara Chanyeol menelepon Kai dengan suara pelan di dapur.

Tidak lama Chanyeol datang dengan membawa dua gelas cangkir teh hangat. Ia menyodorkan secangkir teh pada Baekhyun. "Minumlah," katanya. "Kau sudah cukup banyak mengeluarkan cairan, jangan-jangan kau dehidrasi."

Anehnya, Baekhyun tersenyum juga walau hanya samar. Ia menurunkan BooBoo dari pangkuannya, mengambil cangkir teh dari tangan Chanyeol, menarik napas dan mengusap-usap matanya. Chanyeol mencium puncak kepalanya, lalu duduk di sebelahnya dengan membawa cangkir tehnya sendiri.

"Kau—kau pikir Richard yang melakukannya, kan?" kata Baekhyun. Ia pernah menyebutkan tentang mantan tunangan Kyungsoo itu pada Chanyeol, yang membatalkan pertunangan karena sikap posesif Kyungsoo. Dan kini ia memikirkan kemungkinan itu kembali.

"Dia akan ditanyai," sahut Chanyeol netral.

Mantan pacar ataupun mantan tunangan selalu menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan. Saat ini, Richard menjadi salah satu nama dalam daftar pelaku pembunuh psikopat yang dicari oleh Chanyeol dan Kai. Namun itu harus di dukung bukti-bukti. Bahkan kalaupun sudah tidak diragukan lagi, harus diwaspadai kebenarannya mungkin hanya sekian persen. Siapa tahu?

Lalu Baekhyun mulai menangis kembali. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan membungkuk, bahunya berguncang. Chanyeol hanya memeluknya dengan lembut, tanpa mengatakan apa pun. Ketika akhirnya Baekhyun tertidur karena kelelahan, Chanyeol menggendongnya dan dengan hati-hati membawanya ke kamar. Dibaringkannya pemuda manis itu di ranjang dan menyelimutinya.

Saat Chanyeol hendak pergi Baekhyun terbangun dan memegang tangannya. "Tetaplah di sini, sebentar lagi," katanya dengan suara lelah.

Maka Chanyeol duduk di tempat tidur dan mencium kepala Baekhyun. "Tidurlah," katanya.

*ChanBaek*

Ketika Baekhyun terbangun ia menyadari bahwa hari hampir sore. Ia tercengang melihat jam, ternyata ia telah tidur cukup lama. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya di wastafel dan merasa ngeri saat menatap cermin. Matanya bengkak dan sembab.

"Aku terlihat mengerikan," katanya.

Setelah menyikat gigi, Baekhyun berjalan keluar dan menemukan Chanyeol sedang menonton tv bersama BooBoo yang tertidur di pangkuannya. Chanyeol menoleh ketika Baekhyun datang dan menatapnya sejenak.

"Keluarga Do Kyungsoo sudah diberitahu, dan pers sudah tahu identitas Do Kyungsoo sekarang. Mungkin berita ini akan muncul di berita malam," beritahunya.

Wajah Baekhyun seketika menegang sedih. "Tao? Heechul hyung?" tanyanya.

"Ponsel dan teleponmu kumatikan sesudah kau tertidur. Tapi ada beberapa pesan dari mereka di mesin penjawabmu," jawab Chanyeol.

Baekhyun kembali melihat jam di dinding. "Mereka pasti sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Akan kucoba menelepon mereka beberapa menit lagi. Aku tak suka kalau mereka mendengar berita ini dari tv," ujarnya.

Baekhyun nyaris belum menyelesaikan kata-katanya itu ketika dua mobil berbelok ke jalur masuknya; Camaro milik Tao dan Buick milik Heechul. Baekhyun memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan diri untuk saat-saat berikutnya, dan berjalan tanpa alas kaki keluar teras depan untuk menemui sahabat-sahabatnya. Chanyeol mengikuti di belakangnya.

"Ada apa?" Heechul setengah berteriak. Wajah cantiknya meruncing tegang. "Kau tidak masuk kerja dan tidak mengangkat teleponmu—sialan, Baekhyun..."

Baekhyun merasa wajahnya mulai berkerut. Satu tangannya menutupi mulutnya, berusaha menahan isak tangis yang mendesak dadanya. Tao menghentikan langkahnya, air matanya mengalir. "Baekhyun?" tanyanya dengan suara bergetar. "Apa yang terjadi?"

Baekhyun menarik napas dalam beberapa kali, berjuang mengendalikan diri. "Kyungie—" katanya dengan susah payah.

Heechul berhenti dengan satu kaki di anak tangga pertama. Kedua tangannya terkepal, ia sudah mulai menangis bahkan sebelum bertanya, "Ada apa? Dia sudah ditemukan? Dia terluka?"

Baekhyun menggeleng. "Dia—dia tewas. Ada yang membunuhnya."

Tao dan Heechul bergegas menghampiri Baekhyun dan mereka berpelukan, menangisi salah satu sahabat yang mereka sayangi dan telah pergi selamanya itu.

Tbc