*Unedited. Beware of typos!
Part 15
Keesokan paginya, sebelum pukul tujuh bel rumah Baekhyun berdering dengan tidak sabar. Dengan langkah lesu Baekhyun membuka pintu dan menemukan Siwon sang kakak berdiri di depannya, dengan sebuah tas ransel yang cukup besar di punggungnya.
"Aku ingin bertemu denganmu sebelum kau berangkat kerja," kata Siwon tergesa-gesa, melangkah masuk melewati Baekhyun yang nampak sedikit kacau pagi ini.
"Aku takkan berangkat kerja hari ini," kata Baekhyun menutup pintu kembali dan berjalan ke dapur. Siwon mengikuti di belakangnya.
Secara otomatis Baekhyun mengambil satu cangkir lagi dari lemari dan mengisinya dengan kopi, lalu menyodorkannya pada Siwon. Apa lagi sekarang?, pikirnya. Ia merasa tidak sanggup menghadapi kemarahan kakaknya.
Siwon meletakkan cangkir itu di atas meja dan melingkarkan lengannya ke Baekhyun, memeluknya erat. "Aku baru mendengar tentang Do Kyungsoo ketika melihat berita pagi, dan aku langsung ke sini. Bagaimana dirimu?" katanya.
Air mata Baekhyun kembali merebak, ketika dikiranya ia mungkin tidak menangis lagi. Seharusnya air matanya sudah kering. "Aku tidak apa-apa," sahutnya.
Sebenarnya Baekhyun belum cukup tidur, belum cukup makan dan merasa seakan tenaganya hanya tinggal setengah, tetapi ia dapat mengatasinya. Walaupun kematian Kyungsoo begitu menyakitkan sekarang, ia tahu sebaiknya ia tegarnya menghadapinya. Pepatah lama tentang waktu akan tetap berjalan sangat tepat untuk situasi ini.
Siwon memandangi wajah Baekhyun yang pucat serta matanya yang merah dan sembab. "Aku bawa timun," katanya. "Duduklah."
"Timun? Kenapa?" tanya Baekhyun hati-hati. "Apa yang akan kau lakukan dengannya?"
"Menaruh potongan-potongannya di atas matamu, tolol," sahut Siwon kesal. Ia sering terdengar kesal bila menghadapi Baekhyun. "Itu akan mengurangi sembab di matamu, katanya."
"Aku punya kapas mata untuk itu."
"Timun lebih bagus. Duduklah."
Karena merasa lelah sekali dan tidak ingin membantah kakaknya, maka Baekhyun pun duduk di salah satu kursi makan. Diamatinya Siwon yang sedang mengeluarkan sebuah timun yang besar sekali dari tas ranselnya dan mencucinya, lalu mengedarkan pandangannya.
"Dimana pisaumu?" tanyanya.
"Entahlah. Di salah satu laci seharusnya," jawab Baekhyun.
"Kau tak tahu dimana pisaumu?"
"Ayolah. Belum sebulan aku tinggal di sini. Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk membongkar barang-barang ketika kau dan istrimu pindah rumah?"
"Yah, coba kuingat-ingat...kami pindah delapan tahun lalu, jadi...delapan tahun," mata Siwon berkilat jenaka sementara ia mulai membuka-tutup laci-laci dapur.
Terdengar ketukan keras di pintu dapur, lalu pintu membuka sebelum Baekhyun sempat berdiri. Chanyeol muncul dan memasuki dapur. "Aku melihat mobil asing dan datang untuk memastikan tak ada wartawan yang mengganggumu," katanya pada Baekhyun.
Banyak sekali wartawan yang telah menelepon tadi malam, termasuk para perwakilan dari keempat jaringan televisi utama. Siwon membalikkan badan dengan timun besar di tangannya. "Siapa kau?" tanyanya.
"Polisi tetangganya," sahut Chanyeol. Ia mengawasi timun di tangan Siwon. "Apa aku sudah mengganggu?"
Rasanya Baekhyun ingin memukul laki-laki itu, tetapi ia tidak punya tenaga. Namun sesuatu dalam dirinya menjadi terasa ringan karena kehadiran Chanyeol. "Dia akan meletakkan timun itu di atas mataku," katanya.
Chanyeol melontarkan tatapan meremehkan, tidak percaya. "Tentu akan menggelinding," ujarnya.
Baekhyun memutuskan akan benar-benar memukul laki-laki itu. Nanti. "Potongan-potongannya maksudku," timpalnya.
Raut wajah Chanyeol berubah jadi meragukan, ingin melihat buktinya. Ia menghampiri lemari dapur, mengambil cangkir dan menuangkan kopi untuk dirinya sendiri. Sambil duduk bersandar di lemari dengan kaki tersilang, ia menunggu.
Siwon beralih ke Baekhyun, tampak semakin bingung. "Siapa orang ini?" tanyanya.
"Tetanggaku," jawab Baekhyun. Lalu ia memperkenalkan, "Siwon hyung, ini Park Chanyeol. Chanyeol, ini kakakku, Siwon hyung."
Chanyeol mengulurkan tangannya dan membungkukkan kepalanya dengan sopan pada Siwon. "Senang bertemu denganmu, Siwon-ssi," katanya.
Siwon menjabat tangan Chanyeol dan balas membungkukkan kepalanya dengan sopan, tetapi tampak seolah tidak ingin melakukannya. Kemudian ia melanjutkan mencari pisau sambil berkata pada sang adik, "Kau tinggal di sini baru tiga minggu, tapi kau sudah punya tetangga yang masuk begitu saja dan tahu dimana cangkir kopimu?"
"Aku detektif," sahut Chanyeol sambil tersenyum lebar. "Sudah tugasku mencari barang."
Siwon melontarkan tatapan kepada Chanyeol, yang mengatakan bahwa ia tidak senang. Baekhyun ingin bangkit berdiri dan memeluk Chanyeol, hanya karena lelaki itu membuatnya merasa lebih baik. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya kemarin tanpa Chanyeol. Lelaki itu kuat, berdiri seperti dinding di antara dirinya dan semua orang yang menelepon. Dan ketika Chanyeol meminta orang-orang itu untuk berhenti menelepon, ada nada dalam suaranya yang membuat orang memperhatikan dan patuh. Kemarin, sepanjang malam, Chanyeol terus menemaninya.
Namun hari ini Baekhyun menyadari, Chanyeol tidak akan ada di sini. Pria itu memaki pakaian kerjanya, celana panjang cokelat muda dan kemeja putih rapi. Pistolnya tersangkut pada pinggul kanannya. Sementara itu, Siwon tetap mengawasi Chanyeol seakan pria itu semacam spesies asing, hanya setengah perhatiannya yang tertuju pada pencarian pisau.
Akhirnya Siwon membuka laci yang tepat dan mengeluarkan pisau pengupas. "Oh," kata Baekhyun sepintas lalu. "Jadi rupanya ada disitu."
Siwon berbalik menghadap ke Chanyeol, pisau di satu tangan dan timun di tangan lainnya. "Apakah kalian tidur bersama?" tanyanya dengan nada menuduh, seraya memperhatikan Chanyeol lekat-lekat.
"Hyung!" seru Baekhyun malu.
"Belum," sahut Chanyeol dengan penuh percaya diri.
Sejenak suasana sunyi meliputi dapur. Kemudian Siwon mulai mengupas timun dengan cepat dan tegas. "Kalian tidak kelihatan seperti saudara," komentar Chanyeol, seolah tidak menghiraukan kebekuan pembicaraan yang baru saja terjadi.
Baekhyun dan Siwon sudah pernah mendengar komentar semacam itu, atau versi lainnya, sepanjang hidup mereka. "Yah, Siwon hyung lebih mirip Appa, sedangkan aku mirip Eomma," kata Baekhyun secara otomatis.
"Apakah kau tinggal dengannya hari ini, Siwon-ssi?" tanya Chanyeol kepada Si sulung Byun.
"Aku tak perlu ditemani siapa-siapa," tukas Baekhyun.
"Ya," sahut Siwon.
"Menghindarkannya dari gangguan para wartawan, oke?" tanya Chanyeol lagi, mengabaikan tatapan protes Baekhyun.
"Aku tak perlu ditemani siapa pun," ulang Baekhyun.
"Oke," jawab Siwon kepada Chanyeol.
"Baiklah," kata Baekhyun mendengus. "Ini rumahku. Tak ada yang memperhatikanku."
Siwon mendekati Baekhyun dan menyambar dua potong timun. "Dongakkan kepalamu dan pejamkan matamu," katanya.
Baekhyun mendongak dan matanya terpejam. "Kupikir sebaiknya aku berbaring untuk ini," ujarnya.
"Terlambat," kata Siwon menjatuhkan potongan hijau dingin itu pada kelopak mata Baekhyun yang sembab.
Potongan hijau dingin itu membuat matanya terasa nyaman, dingin, lembab dan sangat menyejukkan. Barangkali ia akan memerlukan timun sekantong belanjaan penuh sebelum pemakaman Kyungsoo selesai, pikir Baekhyun, dan tiba-tiba kesedihan itu kembali. Chanyeol dan Siwon telah berhasil menghalau kesedihan itu selama beberapa saat, dan ia berterima kasih kepada mereka karena telah membuatnya melupakan kesedihannya sejenak.
"Aku mendapat telepon dari detektif penyelidik," kata Chanyeol. "Mereka mendapatkan informasi tentang mantan tunangan Do Kyungsoo, Richard Park. Tetapi dia ada di penjara Daegu dari kamis malam sampai minggu sore. Dia bersih."
Itu artinya nama Richard Park telah dicoret dari daftar tersangka.
"Jadi orang tak dikenal yang menculik Kyungsoo dan membunuhnya?" tanya Baekhyun, menyingkirkan potongan timun di matanya dan menegakkan kepalanya untuk memandang Chanyeol.
"Siapa pun orang itu, tak ada tanda-tanda pemaksaan pada mobilnya."
"Kau tahu lebih banyak daripada yang kau katakan, ya kan?"
Chanyeol mengangkat bahu. "Polisi selalu tahu lebih banyak daripada yang mereka katakan," ujarnya.
Dan Chanyeol tidak akan mengungkapkan detail itu sedikit pun. Baekhyun sudah dapat mengetahuinya dari cara ekspresi Chanyeol yang beralih ke balik topeng polisinya. Baekhyun berusaha tidak membayangkan apa kemungkinan detail itu.
Chanyeol meneguk habis kopinya, mencuci cangkir, lalu meletakkannya di samping bak cuci. Kemudian ia membungkuk dan mencium Baekhyun, tekanan pada bibir Baekhyun terasa hangat dan singkat. "Kau punya nomor ponselku. Jadi kalau kau membutuhkanku, teleponlah," katanya.
"Aku baik-baik saja," kata Baekhyun sungguh-sungguh. "Oh—tahukah kau apakah sepupu Kyungsoo ada di sini?"
Chanyeol menggeleng. "Di sudah kembali ke desa. Ibu Kyungsoo ikut bersamanya," katanya.
Baekhyun terdiam sejenak. Lalu katanya, "Aku akan berangkat kerja besok, kalau begitu. Aku akan menolong keluarganya mengurus ini dan itu, jika mereka mau."
Chanyeol mencium Baekhyun lagi, lalu mengangkat kedua tangan Baekhyun—yang masih memegang potongan timun—, dan meletakkan kedua potongan timun itu ke atas kelopak mata Baekhyun. "Biarkan saja disitu. Kau tampak kacau," ujarnya.
"Oke, terima kasih," kata Baekhyun dan mendengar lelaki itu berdecak sambil berlalu.
Suasana sunyi kembali. Lalu terdengar Siwon berkata, "Dia lain."
Lain dari ketiga mantan tunangan Baekhyun, maksudnya. Tidak bergurau. Dan Baekhyun menyetujuinya. "Ini kelihatannya serius sekali. Kau belum lama mengenalnya," Siwon berkata lagi.
Kalau saja Siwon tahu! Mungkin si sulung Byun itu menghitung ke seluruh tiga minggu Baekhyun tingal di sini. Entah apa yang akan dikatakannya kalau ia tahu bahwa selama dua minggu pertama itu Baekhyun mengira Chanyeol pemabuk dan pengedar narkoba.
"Aku tak tahu seberapa serius," kata Baekhyun, menyadari dirinya berbohong. "Aku tidak sedang terburu-buru."
Baekhyun tidak bisa lebih serius daripada ini. Ia jatuh cinta pada si brengsek itu. Tapi bagaimana dan apa tepatnya yang dirasakan Chanyeol, ia masih tidak tahu.
"Itu bagus," kata Siwon. "Hal terakhir yang kau inginkan adalah bubarnya pertunangan lagi."
Tak pernah Siwon melewatkan hari tanpa menyebutkan catatan lama Baekhyun yang menyedihkan, ia tidak pernah mengingat sikap bijaksana adiknya. Sebaliknya, Baekhyun tidak pernah meragukan bahwa kakaknya menyayanginya, meskipun banyak sikap Siwon yang kurang bijaksana.
Baekhyun melepaskan potongan-potongan timun dari matanya dan menegakkan kepalanya, melihat Siwon yang sedang mengitari dapur, membuka laci-laci dan pintu-pintu lemari. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya.
"Mencari tahu dimana letak semuanya sehingga aku tak harus mencari-carinya ketika mulai memasak." Jawab Siwon tanpa menghentikan kegiatannya membuka laci-laci dan pintu-pintu lemari.
"Kau memasak? Apa?"
Sesaat Baekhyun bertanya-tanya apakah Siwon sudah membawa serta bahan-bahan apa yang direncanakan akan dimasaknya untuk makan keluarganya malam itu. Bagaimana pun, ia tadi sudah mengeluarkan timun yang luar biasa besar dari tas ranselnya. Hanya Tuhan yang tahu apa lagi yang ada di dalam tas ransel itu. Daging panggang, mungkin?
"Sarapan," sahut Siwon. "Buat kita. Dan kau akan memakannya juga."
Setelah melewatkan makan malam sebelumnya, pagi ini Baekhyun merasa lapar. Apakah Siwon mengira ia gila? Tidak mungkin ia akan menolak makanan.
"Akan kucoba," katanya patuh, dan menempelkan kembali potongan timun pada kelopak matanya sementara kakaknya sibuk menyiapkan sarapan.
*ChanBaek*
Mimpi itu datang lagi. Semakin sering. Indah dan menjanjikan, mengingatkannya pada kenikmatan terhebat yang pernah dirasakannya. Tetapi mimpi itu segera berubah dingin dan kejam, mencabik hatinya, meninggalkannya dalam rasa malu dan berharap untuk mati. Alam bawah sadarnya memainkan mimpi itu berulang kali, tak pernah membiarkannya lupa, selalu mengingatkannya.
Orang itu adalah makhluk paling indah dan paling diinginkan di dunia ini, dan ia sangat mencintai orang itu. Meskipun ia memuja orang itu dari jauh setelah sekian lama, ia tidak pernah berani memimpikan bahwa suatu saat orang itu akan biacara dengannya. Ia tidak menyadari bahwa orang itu bahkan tahu siapa dia.
"Hai, yang di sana," orang itu berbicara dengan nada suara yang manis.
"Dia berbicara padamu," temannya menyikut iganya.
"Hah?" dan ia hanya bisa terpaku, seperti orang bodoh.
Orang itu melengkungkan jari telunjuknya dan memanggilnya, membuatnya hampir membasahi celananya. "Ke sini, bodoh," orang itu berkata padanya.
Ia mendekat seperti robot dan terlalu gugup untuk bicara. "Apakah kau tidak dapat mengatakan hai?" orang itu bertanya padanya.
Saat orang itu tersenyum padanya, hatinya menggila. "H—hai," ia mengeluarkan satu suara yang terdengar sedikit aneh.
Orang itu terkikik. "Karena kita berdua diajar oleh guru Han untuk pelajaran sejarah nanti, apa kau mau membawakan buku milikku?"
"K—kau ingin aku membawakan bukumu?"
"Tentu saja. Jika tidak, aku tidak akan bertanya," orang itu mengedipkan satu matanya ke arahnya.
Dalam usahanya untuk membawakan buku orang itu dan menumpuknya di atas buku-bukunya, ia dengan ceroboh menjatuhkan semua buku itu ke lantai. Wajahnya memerah dan ia gemetar. Ia berlutut dan memunguti semua buku itu, sambil berdoa agar orang itu tidak menertawakannya. Tetapi saat ia berdiri kembali, orang itu menyelipkan lengannya yang kurus ke lengan gemuknya, lalu tersenyum padanya. Sejak saat itu, ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Ia menjadi pesuruh orang itu, yang melakukan semua yang diperintahkan kepadanya.
Ia berjuang dengan alam bawah sadarnya, berjuang untuk mengakhiri mimpi itu sebelum berakhir. Bangun! Sial, bangun!
Tetapi mimpi itu tidak mau berhenti. Kenangan itu menyapunya seperti ombak raksasa, menenggelamkannya dalam rasa malu dan penyiksaan. Suara tawa orang itu bergema di telinganya. Ia berteriak, melawan kemarahan yang menyiksa jiwa. Matanya terbuka. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Terbaring dalam keremangan, ia mendengarkan suara jantungnya yang menggebu dan kencang.
Jangan memikirkan tentang masa lalu. Pikirkanlah tentang masa depan. Berkonsentrasilah pada seseorang yang akan membuat semua mimpimu menjadi kenyataan.
Segera. Segera ia akan mengirimkannya pesan cinta dan hadiah-hadiah yang lain. Dan ia akan menggambar sketsa dirinya yang mempesona. Ia ingin sekali menggambar sketsa dirinya telanjang, tapi ia tidak memiliki kehormatan untuk melihat Baekhyun tanpa pakaian. Belum. Ia menarik napas saat satu pikiran memenuhi otaknya—pikiran tentangnya bercinta dengan Baekhyun.
Segera, Baekhyun sayangku. Hari itu pasti akan segera datang.
Dan ia tersenyum.
*ChanBaek*
Hari ini, untuk pertama kalinya Baekhyun tidak datang pagi-pagi. Wajah tampan sang supervisor Kim Jaejoong yang menyambut kedatangannya, dan mendadak Baekhyun diminta datang menghadap ke ruangannya. Baekhyun mendesah dan berpikir, ia memang kepala bagian penggajian, tetapi sayangnya jabatan itu tidak membawa kewenangan apapun, hanya tanggung jawab. Dengan meninggalkan pekerjaan lebih awal pada hari senin dan tidak bekerja sama sekali pada hari selasa, jelas ia telah membuat mereka kelabakan. Baekhyun menebak, Kim Jaejoong pasti sudah gelisah, bertanya-tanya apakah mereka akan dapat menyelesaikan segala sesuatunya tepat waktu.
Maka Baekhyun bersiap-siap menerima teguran Kim Jaejoong. Namun ia tercengang ketika mendengar sang supervisor tampan itu berkata, "Aku ingin mengatakan sangat menyesal tentang temanmu. Kejadian ini sangat menyedihkan."
Itu mengingatkan Baekhyun bahwa berita tentang kematian Do Kyungsoo telah muncul di berita televisi dan menjadi headline koran dengan tulisan-tulisan besar yang membuat Baekhyun tidak bisa berhenti menangis. Cepatnya para wartawan mendapatkan identitas jasad Do Kyungsoo dan berita kematian tragis itu terasa mengerikan bagi Baekhyun.
Baekhyun menarik napasnya sesaat. Ia telah bersumpah tidak akan menangis di tempat kerja hari ini, tetapi rasa simpati Kim Jaejoong hampir meruntuhkan air matanya. "Terima kasih," katanya, mengerjap-ngerjap untuk menahan air matanya. "Memang menyedihkan. Dan aku ingin minta maaf tiba-tiba meninggalkan kantor hari senin—"
Kim Jaejoong menggeleng. "Aku paham. Kami lembur, tapi tak ada yang protes. Kapan kebaktian pemakamannya diadakan?"
"Belum dijadwalkan. Autopsinya—"
"Oh, tentu saja. Pokoknya beritahu aku kapan akan diadakan. Banyak orang di Navilla ingin hadir."
Baekhyun menganggukkan kepalanya, lalu beranjak keluar dari ruangan Kim Jaejoong, kembali ke mejanya sendiri dan setumpuk pekerjaan. Ketika semua teman dari bagiannya tidak henti-hentinya menyatakan simpati, yang tentu saja hampir membuatnya terisak-isak lagi, Baekhyun sudah tahu bahwa hari itu akan berat baginya. Sepanjang hari itu ia terpaksa berjuang menahan air matanya.
*ChanBaek*
Saat jam makan siang Heechul dan Tao muncul di ruangan Baekhyun. Heechul mengusulkan Jajangmyeon House sebagai menu makan siang mereka. Restoran jajangmyeon favorit mereka tidak terlalu jauh dari kantor dan menu jajangmyeon mereka sangat enak. Baekhyun dan Tao setuju, dan mereka bertiga pun beranjak pergi dengan menggunakan mobil Heechul.
Ketika jajangmyeon mereka baru saja dihidangkan, Heechul mengusap keningnya dan berkata, "Rasanya kepalaku berdenyut-denyut. Kurasa aku akhirnya sudah tak tahan lagi tadi malam ketika pulang. Aku menangis sampai capek. Hangeng—"
Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Heechul. "Ya, bagaimana dengan Hanggeng? Apa dia masih mengungsi di hotel?"
Heechul menyeruput mie hitamnya dengan gemas. "Tidak. Dia sedang kerja ketika mendengar kabar itu, tapi dia sudah menelepon beberapa kali dan meninggalkan pesan buatku, dan dia pulang malam itu. Kuduga keadaannya masih tetap sama. Aku belum ingin membicarakan tentang Kyungsoo padanya. Dia tak banyak bicara, tapi...juga penuh perhatian. Mungkin dia sedang berharap aku lupa."
"Pasti tak banyak kesempatan untuk itu," tukas Baekhyun melucu dan Tao tersenyum.
"Tidak dalam hidup ini," kata Heechul, lalu mengalihkan pembicaraan. "Tapi ayo kita bicarakan yang lebih menarik, Park Chanyeol misalnya," matanya seketika berbinar jahil. "Aku tak percaya pria seksi itu kau kira pemabuk dan pengedar narkoba."
Baekhyun tersenyum, sedikit merasa terkejut ketika mendapati bahwa ternyata ia juga dapat tersenyum hari ini. "Apa yang bisa kubilang? Waktu itu dia memang sedang tampil bersih. Seharusnya kalian melihatnya ketika memakai pakaian lusuh dan kumal, belum bercukur, dan sedang marah."
"Matanya yang gelap...wow," timpal Tao, mengipasi diri sendiri dengan tangannya. "Ditambah lagi dia punya bahu yang sungguh-sungguh bagus, kalau kau belum tahu."
Baekhyun hanya tersenyum kecil, menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa ia telah mengetahui tubuh Chanyeol seluruhnya. Sahabat-sahabatnya tidak perlu tahu tentang episode jendela dapur itu. Ia menyeruput jajangmyeon-nya dan berpikir, lucu. Hampir setiap hari ia menceritakan kepada sahabat-sahabatnya tentang pertengkarannya dengan Chanyeol ketika ia masih mengira pria itu pemabuk dan brengsek, tetapi begitu hubungan mereka menjadi lebih akrab, ia berhenti menceritakannya lagi.
"Dia juga tertarik padamu," tambah Heechul. "Lelaki itu ingin tidur denganmu. Ingat kataku ini."
"Mungkin," kata Baekhyun samar. Ia tidak ingin membicarakan betapa ia juga ingin tidur dengan lelaki itu, atau bagaimana mereka sudah hampir melakukannya.
"Kau tak perlu jadi cenayang untuk tahu itu," kata Tao pada Heechul, dengan nada menggoda. "Lelaki itu langsung datang dan mengatakannya."
Heechul tertawa. "Jadi begitu. Dia tidak malu-malu ya?" ujarnya.
Tidak, malu-malu sama sekali bukan sifat Park Chanyeol. Sangat percaya diri, menyebalkan, arogan, pintar, seksi, tampan—kata-kata itu lebih pas untuk menggambarkannya. Baekhyun ragu lelaki itu mempunyai satu saja gen malu dalam tubuhnya, syukurlah.
Tiba-tiba ponsel Baekhyun berdering. Baekhyun mengambil ponselnya di atas meja dan sejenak memandang nomor tak dikenal di layar ponselnya, sebelum kemudian menjawab telepon itu, "Halo?"
Lalu suara seorang pemuda terdengar di ujung telepon, sepertinya terdengar tidak asing di telinga Baekhyun, "Apa ini Baekhyun-ssi? Byun Baekhyun-ssi?"
"Ya."
"Ini Minho, sepupu Do Kyungsoo."
Rasa nyeri menusuk hati Baekhyun. Itulah sebabnya suara itu terdengar tidak asing lagi bagi Baekhyun, karena mengingatkannya pada suara Kyungsoo. Suara Minho mirip dengan suara Kyungsoo, namun terlalu berat karena air mata. Baekhyun mencengkram ponselnya lebih kencang.
"Kyungsoo sering sekali membicarakanmu," katanya sambil mengerjap-ngerjap menahan air matanya menetes. Heechul dan Tao menghentikan kegiatan mereka dan menoleh memperhatikannya.
"Ada yang ingin kuberitahukan padamu, Baekhyun-ssi," kata Minho, berusaha tertawa kecil sendu. "Kalau meneleponku, Kyungsoo hyung selalu menceritakan ucapan-ucapanmu yang membuatnya terbahak-bahak. Dia juga seringkali bercerita tentang Tao-ssi dan Heechul-ssi. Ya Tuhan, ini rasanya mustahil, kan?"
"Tidak," bisik Baekhyun.
Setelah diam sesaat, Minho berusaha mengendalikan diri dan berkata, "Omong-omong, pemeriksa medis sudah menyerahkan jasadnya kepadaku, dan aku akan mengatur pemakamannya. Kupikir dia ingin dekat dengan makam ayahnya, kan?"
"Ya, tentu saja."
"Aku sudah menyiapkan kebaktian pemakaman hari sabtu jam sebelas."
Minho memberikan nama rumah duka dan petunjuk bagaimana menuju ke makam. Baekhyun mencatat di selembar kertas dengan sedikit mengernyit. Baekhyun tidak begitu mengenal tempat yang disebutkan Minho itu, tetapi ia sangat baik dalam hal mengikuti petunjuk dan berhenti untuk menanyakan arah. Baekhyun berusaha memikirkan pembicaraan yang akan mengurangi kesedihan Minho, namun bagaimana mungkin ia bisa kalau ia bahkan tidak dapat mengurangi kesedihannya sendiri?
"Terima kasih sudah memberitahu, Minho-ssi," akhirnyan hanya itu yang dapat diucapkan oleh Baekhyun.
Ketika ia menutup teleponnya ia memandang kedua sahabatnya yang tadi terus memperhatikannya. Lalu ia memberitahu mereka tentang jadwal dan tempat pemakaman Kyungsoo yang disebutkan oleh Minho tadi. Dan awan mendung itu sejenak kembali di wajah mereka.
*ChanBaek*
Saturday, 13.15 PM.
Pemakaman Do Kyungsoo ditunda cukup lama karena menunggu kedatangan nenek dan ibunya. Wanita tua itu nampak kuat. Sementara sepupu Kyungsoo, Minho menopang ibu Kyungsoo selama pemakaman, termasuk upacara singkat di pusara Kyungsoo. Keluarga, kerabat, sahabat, teman dan setengah dari karyawan Navilla datang pada pemakaman tersebut. Dengan begitu banyak pelayat, orang-orang akan menyadari jika ia tidak muncul dalam pemakaman itu. Maka disinilah ia sekarang, berdiri di antara orang-orang yang berduka itu.
Tidak peduli seberapa sering ia telah menghukum dan seberapa parah ia telah menyakiti pemuda imut itu, Do Kyungsoo tidak pernah berkata jujur bahwa pemuda imut itu mencintainya. Memilih Do Kyungsoo adalah suatu kesalahan. Kecuali karena rambut cokelatnya yang indah, Do Kyungsoo sama sekali berbeda dengan orang itu. Do Kyungsoo adalah pelacur murahan, orang yang keras kepala dan bodoh. Ia tersiksa memikirkan bagaimana ia telah melakukan kesalahan karena memilih Do Kyungsoo. Ia tahu, ia tidak dapat bertindak terburu-buru dalam memilih yang berikutnya. Meski begitu, ia telah menjatuhkan pilihannya dan merasa yakin bahwa pilihannya kali ini adalah pasangan sejatinya, seseorang yang layak mendapatkannya. Seperti orang itu.
Tbc
