*maaf untuk typo dan nama Kangin juga Sungmin yang masih nyelip di part sebelumnya. terlalu ngantuk buat ngecheck ulang lagi sebelum di post, hehe :)
*versi asli ff ini adalah KyuMin yang aku edit ulang jadi ChanBaek. bagi yang udah pernah baca versi sebelumnya dan ngerasa kok versi yang ini lebih panjang? ada yang dipotong-potong ya? == jawabannya Ya. 1 part dari versi sebelumnya aku bagi jadi 2 part, dan ada beberapa bagian yang aku ubah susunannya supaya ceritanya jadi lebih baik.
*terima kasih udah baca dan komennya. maaf tidak bisa balas satu-satu, tapi aku sangat menghargainya :D
~Beware of typos!~
.
.
.
Part 16
Upacara pemakaman itu selesai pukul tiga sore. Pukul empat Baekhyun tiba di rumahnya dengan lelah dan sedih bersama Heechul, Tao, juga Chanyeol dan Kris. Mata ketiga pemuda uke itu masih sembab dan basah. Kris menatap Chanyeol dengan pandangan yang bertanya, maka Chanyeol pun mengenalkan dirinya kepada Kris, karena tidak terpikir oleh Baekhyun maupun Tao yang masih sibuk mengendalikan air mata mereka. Begitu juga dengan Heechul.
Kris melihat kekasihnya sekilas. Tao sedang duduk diam di meja makan, melamun. "Ada seseorang yang tega membunuh Do Kyungsoo. Rasanya sulit sekali percaya," katanya.
"Percayalah," kata Chanyeol singkat. Keberaniannya terpilin kemarahan ketika ia teringat apa yang telah dilakukan si pembunuh pada Kyungsoo.
Kris hanya menggumam lalu beranjak mendekati kekasihnya yang masih terus melamun, ia memeluknya dengan lembut. Sementara Chanyeol beranjak duduk di samping Baekhyun di sofa dan memeluknya, meletakkan kepala pemuda manis itu dibahunya. Sejenak ia membelai lembut, memberikan sedikit penghiburan.
Jika Chanyeol disuruh memilih dua kata yang mewakili aksi si psikopat ini, maka ia akan memilih kata-kata mengerikan dan sakit jiwa. Ketika ia membayangkan jika Baekhyun mengalami hal yang sama seperti Kyungsoo...ia nyaris tidak bisa membendung amarahnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan baru. Chanyeol merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, lalu membaca pesan dari sebuah nomor dan mengumpat sambil menggosok-gosok wajahnya.
"Aku harus pergi," katanya, lalu memandang Baekhyun.
"Siwon hyung akan datang nanti," kata Baekhyun memberitahu dengan suara parau, sebelum Chanyeol dapat berbicara lagi. "Heechul hyung dan Tao juga akan menginap malam ini. Aku akan baik-baik saja."
Chanyeol menggangguk. "Aku akan menelepon nanti," katanya, mencium Baekhyun sekilas kemudian beranjak pergi.
*ChanBaek*
Pukul delapan malam Siwon datang dengan tas ransel besarnya, beberapa menit setelah mobil Kris melaju pergi dari jalur masuk rumah Baekhyun. Ketika Siwon meletakkan ransel besarnya di atas meja dapur Baekhyun mencoba menebak-nebak, kali ini apalagi yang dibawa kakaknya. Seluruh isi kulkas keluarga kecilnya mungkin?, pikiran itu sejenak menghibur Baekhyun. Saat melihat kondisi mata Baekhyun, Heechul dan Tao yang sama-sama bengkak, Siwon mengiris lebih banyak timun lagi dan membuat lebih banyak pancake untuk dinikmati bersama.
Siwon belum pernah bertemu Kyungsoo, tetapi ia bersedia mendengarkan mereka bercerita tentang Kyungsoo sepanjang hari. Mereka menangis berkali-kali, kadang-kadang tertawa, dan melewatkan banyak waktu dengan teori-teori berbahaya mengenai apa yang telah terjadi, karena Richard Park sudah jelas bersih. Mereka tahu, mereka tidak akan tiba-tiba mengungkap kebenaran, namun membicarakannya terasa membantu. Kematian Kyungsoo sangat tidak bisa dipercaya sehingga hanya dengan membicarakannya berkali-kali perlahan-lahan mereka dapat menerima kenyataan bahwa mereka kehilangan Kyungsoo.
*ChanBaek*
Minggu sore. Setelah lelah menangis berkali-kali dan puas mengenang tentang sahabat mereka yang telah tiada, Tao dan Heechul pamit pulang. Ketika itu Baekhyun teringat bahwa ia belum mengambil pakaiannya di laundry. Memaksakan tubuhnya untuk bergerak dan setelah memastikan matanya sudah tidak nampak mengerikan lagi, ia mengganti baju dan beranjak keluar dari kamarnya. Di depan tv nampak Siwon sedang menonton dengan BooBoo yang meringkuk dipangkuannya. Kakaknya masih akan tetap tinggal hingga nanti malam.
"Kau mau pergi?" tanya Siwon menoleh pada Baekhyun yang sedang mengambil kunci mobilnya di meja telepon.
"Ya, aku mau mengambil pakaianku di laundry. Karena banyak yang terjadi sejak kemarin, aku lupa mengambilnya," jawab Baekhyun.
"Mau kutemani?" tawar Siwon.
"Tidak perlu. Aku tidak akan lama," tolaknya sambil berjalan ke pintu. Lalu menambahkan, "Pastikan saja kucing itu tidak merusak sofaku lagi."
Namun Siwon tidak terlalu mendengarkan. Perhatiannya kembali teralih pada layar tv. Ia menonton sambil sesekali membelai bulu-bulu halus BooBoo, membuat kucing gembul itu mendengkur keras tanda nyaman. Dan tidak lama terdengar suara mobil Baekhyun yang melaju pergi.
*ChanBaek*
"Terima kasih," kata Baekhyun ketika menerima pakaian-pakaiannya dari petugas laundry yang ramah itu.
Dengan menenteng kantong-kantong pakaiannya yang cukup banyak ia berjalan keluar gedung, menuju area parkir. Ketika ia sedang memasukkan kantong-kantong itu ke dalam bagasi dan menutupnya, ia seklias melihat Sehun melintas. Pria tampan itu melambaikan tangan pada Baekhyun. Baekhyun tersenyum dan balas melambai padanya.
Nah, itu dia sepotong daging yang berkualitas, pikirnya.
Sambil mengendarai mobilnya pergi ia berpikir bagaimana sempurnanya seorang Oh Sehun itu. Mungkin dia bisa menjadi kekasih terbaik. Namun sayang, sepertinya pria tampan itu senang bermain-main dan tidak suka dengan keterikatan. Saat mendekati coffeebookshop, Baekhyun memutuskan untuk menghentikan mobilnya dan masuk ke dalam untuk membeli kopi dan edisi terbaru majalah favoritnya. Saat ia memasuki gedung, ia merasakan udara sejuk AC menyelimutinya. Ia berhenti beberapa langkah dari kedai kopi saat ia melihat pendeta Park Yoochun duduk pada satu meja yang berbaris dekat jendela menghadap jalan. Tetapi sebelum ia dapat berbalik dan pergi ke bagian belakang toko buku, pendeta muda itu melihatnya lalu tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
"Selamat sore, Baekhyun," pendeta Yoochun berdiri dari kursinya dengan senyum lebar di bibirnya.
Ya Tuhan, Baekhyun tidak ingin menghabiskan waktu dengan laki-laki membosankan itu. Di mimbar pendeta muda itu begitu berkilau, berapi-api dan pintar. Hanya dengan melihatnya—rambut hitam, mata yang seksi, dan tubuh yang mengagumkan—kau tidak akan pernah mengira ia benar-benar membosankan. Baekhyun membungkukkan kepalanya dengan sopan dan memberi pendeta Yoochun sebuah senyum tipis.
"Apa kau mau menemaniku?" pendeta Yoochun bertanya.
Alamak, Baekhyun menjerit frustasi di dalam hati. Bagaimana ia menolak ajakan ramah seorang pendeta di tempat umum?
Lalu, tiba-tiba Baekhyun melihat penyelamatnya. Orang yang duduk di meja bagian belakang, terhanyut membaca sebuah buku tebal dan menyeruput secangkir kopi, adalah jawaban dari doanya. Shim Changmin.
Terima kasih, Tuhan.
Baekhyun mendekati pendeta Yoochun dan memberikannya seulas senyum. "Terima kasih, Yoochun-ssi. Aku mau menemanimu, tetapi maaf aku tidak bisa. Aku ada janji dengan seseorang," katanya.
Lalu ia melambai ke arah meja belakang. Changmin tampaknya tidak menyadari kehadirannya, tetapi Baekhyun tidak membiarkan hal tersebut menghalanginya. Ia melintasi pendeta Yoochun yang nampak sedikit kecewa, berjalan dengan penuh niat ke arah tujuannya. Saat ia sampai di meja Changmin, ia berhenti. Namun pria tampan itu masih terus membaca.
"Changmin hyung, sayang. Aku minta maaf aku terlambat," Baekhyun berkata sambil melengkungkan jarinya di bahu Changmin dan menekannya. "Pesankan aku es kopi ya? Aku kepanasan dan hampir mati kehausan."
Changmin mengangkat kepalanya. Seakan-akan ia telah menanti Baekhyun, ia menutup bukunya, meletakannya di meja, lalu memberi isyarat pada pelayan. Ia memindahkan tangan baekhyun dari bahunya, membawanya ke mulutnya dan mencium buku jarinya.
"Aku tidak pernah keberatan menunggumu," kata Changmin.
Baekhyun duduk di kursi samping Changmin, menyentuhkan bahunya pada bahu pria tampan itu dan berbisik di telinganya, "Terima kasih banyak, aku berhutang padamu."
Changmin mengangkat bahunya. "Ada rasa khusus?" tanyanya.
"Hah?"
"Untuk kopimu," Changmin mengangguk ke arah pelayan muda yang berdiri di dekat meja mereka.
"White chocolate."
"Kau dengar si manis ini," katanya pada si pelayan muda. Setelah pelayan muda tersebut menjauh, Changmin memutar kursinya dan memandang Baekhyun. "Tinggal lebih lama, ya?"
"Aku tidak akan pergi hingga pendeta Yoochun pergi," katanya dengan nada bosan. Lalu ia menambahkan dengan nada bercanda, "Kecuali kau ingin mengantarku ke rumahku."
Changmin tertawa kecil. "Apa yang akan kau lakukan jika aku menuruti ajakanmu yang tidak tulus itu?"
Baekhyun hanya mengangkat bahu dan tersenyum kecil. Pelayan muda itu kembali dengan segelas besar es kopi, meletakannya di depan Baekhyun dan tersenyum genit padanya sebelum dia pergi. Baekhyun hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah, lalu memutar sedotan pada minumanya berkali-kali.
"Baekhyun, aku turut menyesal dengan kematian Kyungsoo. Itu sangat menyedihkan," Changmin berkata, ikut merasa prihatin.
Baekhyun tersenyum sedih. "Terima kasih hyung," katanya. Lalu ia mendesah pelan. "Rasanya masih sulit dipercaya."
Changmin menggenggam tangan Baekhyun dan meremasnya sesaat, sebagai tanda penghiburan. Baekhyun tersenyum kecil. Ia menyeruput minumannya sambil memandang Changmin, memperhatikannya lekat-lekat.
"Saat kau bercerai, mengapa kau pindah kembali ke Seoul? Kenapa kau tidak tetap di Macau? Dan mengapa pula kau tinggal dengan ibumu?" tanyanya kemudian.
"Seoul adalah rumahku," jawab Changmin. Bibirnya membentuk senyum teduh yang khas. "Seperti yang kau tahu, ayahku meninggal tahun lalu dan ibuku memiliki kesulitan menjalankan bisnis. Masuk akal bagiku untuk kembali ke sini dan mengambil alih toko itu. Dan tentang tinggal bersama ibuku, mengapa tidak? Dia menyiapkan makanan untukku, mencuci pakaianku, dan berusaha sekuat tenaga untuk mencarikanku istri. Wanita itu sangat menginginkan cucu."
Baekhyun tertawa. "Yah, begitulah para ibu," katanya. Lalu mereka mulai larut dalam obrolan.
*ChanBaek*
Terlalu asyik mengobrol dengan Changmin membuat Baekhyun lupa waktu. Ketika Baekhyun melihat jam tangannya waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Padahal ia berkata pada Siwon bahwa ia tidak akan pergi lama. Kakaknya itu pasti akan marah nanti, dan BooBoo pasti sudah merusak sofanya lagi karena kelaparan. Maka ia pun segera pamit pada Changmin.
"Haruskah aku mengantarmu pulang?" tanya Changmin ketika Baekhyun berdiri.
Baekhyun tertawa kecil. "Tidak perlu. Aku membawa mobil sendiri," jawabnya.
Baekhyun menyentuh lengan atas Changmin dan berterima kasih, lalu beranjak pergi. Changmin hanya memandang kepergian Baekhyun hingga sosok manis itu menghilang di balik pintu coffeebookshop.
Saat Baekhyun tiba di rumah dan berjalan menuju pintu depan, ia menginjak sesuatu yang membuat kakinya tergelincir. Sembari berusaha menstabilkan dirinya, Baekhyun segera berhenti, lalu melihat ke lantai dan menemukan sebuah amplop putih kecil.
Sungguh aneh, pikirnya.
Baekhyun menunduk, mengambil amplop putih kecil itu dan membawanya masuk. "Aku pulang," katanya memberi salam.
Ia meletakkan kantong-kantong pakaiannya yang ia ambil dari laundry tadi di atas sofa. BooBoo muncul sambil mengeong dengan keras, menunjukkan bahwa ia sedang kelaparan. Tidak lama Siwon muncul dari dapur.
"Akhirnya kau pulang juga. Kupikir aku harus jadi penjaga rumahmu malam ini. Dimana tempat laundry-mu? Amerika?" cibir sang kakak.
"Maaf hyung, tadi aku bertemu teman lama dan terlalu asyik mengobrol hingga lupa waktu," kata Baekhyun, mengabaikan cibiran Siwon. BooBoo mengeong semakin keras di kakinya. "Kau belum memberi makan BooBoo?"
"Aku tidak tahu dimana kau simpan makanannya."
"Ada di lemari bawah yang kedua, seharusnya."
"Seharusnya...? Kau bahkan terdengar tidak yakin."
"Ya, ya, aku yakin ada di sana."
Siwon mendengus tidak percaya. Lalu matanya tertuju pada amplop putih kecil di tangan Baekhyun. "Apa itu?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Aku menemukannya di depan pintu," jawab Baekhyun. Lalu ia bertanya sambil menunjukkan amplop putih kecil di tangannya, "Apa ini milikmu hyung?"
Siwon mengernyit. "Amplop itu? Bukan, itu bukan milikku," jawabnya.
"Seseorang pasti menyelipkannya di bawah pintu hari ini, tanpa sepengetahuanmu hyung," ujar Baekhyun.
"Mungkin itu pesan dari salah seorang pacar lamamu, atau dari salah satu mantan tunanganmu mungkin," goda Siwon.
Baekhyun memutar kedua bola matanya dengan jengah. Ini lagi. Kakaknya memang tidak pernah absen untuk menggodanya tentang masa lalunya. "Ini, kau yang buka hyung," katanya menyerahkan amplop putih kecil itu pada Siwon.
Siwon mengambil amplop itu dan memperhatikannya sejenak. "Ada namamu tercetak di depannya. Lihat," ia mengangkat amplop itu, terjepit di antara ibu jari dan telunjuknya.
"Buka saja hyung, oke?" Baekhyun berkata seraya berjalan ke dapur, dengan BooBoo yang terus mengeong meminta perhatian.
Siwon merobek amplop itu, lalu mengeluarkan secarik kertas dan melihat lembaran kertas tersebut. "Kurasa ini bukan dari salah satu pacar lamamu atau mantan tunanganmu," katanya.
"Oh, apa isinya?" Baekhyun bertanya seraya sibuk membuka-buka lemari dapur, mencari makanan BooBoo. Akhirnya ia membuka lemari yang tepat. Rupanya bukan lemari yang kedua tetapi yang kelima. Dan akhirnya BooBoo berhenti mengeong saat Baekhyun memberikan makanannya.
Dengan keras Siwon membacanya, "Aku memujamu dari jauh, Baekhyunku yang manis."
"Hanya itu?"
"Ya, itu saja."
Baekhyun mengernyit. Perasaan tidak enak menjalari sarafnya. "Itu pesan yang aneh, kan?" katanya.
"Menurutku ini lucu," timpal Siwon tidak serius. Ia tertawa mengejek.
Baekhyun hanya mendengus. Siwon memberikan amplop putih dan selembar kertas itu pada Baekhyun, lalu mengambil ransel besarnya di atas meja makan sambil berkata, "Aku sudah membuatkan bibimmbap untukmu. Kau harus makan. Akan kuhubungi kau besok. Jaga dirimu baik-baik, oke?"
Baekhyun tersenyum dan memeluk kakaknya sesaat. "Terima kasih hyung," katanya.
Setelah mengantar Siwon ke pintu depan dan mobil Siwon melaju pergi meninggalkan rumahnya, Baekhyun mengunci pintu dan mengambil kantong-kantong pakaiannya yang tadi ia tinggalkan di sofa. Saat ia hendak ke kamar, telepon rumahnya berdering.
"Siapa sih?" gerutu Baekhyun dengan malas. Ia lelah dan ingin segera beristirahat.
Dengan sedikit kesal ia berjalan ke meja telepon, lalu mengulurkan tangannya dan mengangkat gagang telepon. "Ini sebaiknya penting karena mengganggu waktu istirahatku," katanya.
"Apa kau mendapat catatan dariku?" terdengar suara laki-laki bertanya di ujung telepon.
Baekhyun menjatuhkan kantong-kantong pakaian di tangannya dan menggenggam gagang telepon dengan kencang. Perasaan tidak enak itu kembali menjalari sarafnya. "Siapa ini?" tanyanya.
"Aku pengagum rahasiamu."
"Apa yang kau katakan?"
"Aku pengagum rahasiamu, sayangku," suara yang dalam itu mengulangi kembali. "Dan jika waktunya tepat, aku akan menunjukkan identitasku padamu. Tetapi untuk saat ini, tidurlah yang nyenyak, Baekhyunku yang cantik. Dan mimpikanlah tentang kekasih misteriusmu yang mendambakan untuk menyentuhmu, mendambakan untuk membisikkan soneta cinta di telingamu, mendambakan untuk memenuhi semua khayalanmu."
Baekhyun menutup telepon dengan membanting. Rasa ngeri menjalarinya dengan cepat. "Ya Tuhan. Ya Tuhan!" gumamnya.
Teringat pada saat Kyungsoo menunjukkan barang-barang misterius dan pesan-pesan dari pengagum rahasianya, intuisi Baekhyun mengatakan jika laki-laki yang meneleponnya tadi adalah laki-laki yang sama yang telah menculik dan membunuh sahabatnya. Itu artinya laki-laki itu telah memilihnya sebagai korban selanjutnya. Pemikiran itu membuatnya merasa mual.
Chanyeol! Ia butuh Chanyeol!
Baekhyun mengangkat kembali gagang teleponnya. Tangannya gemetar ketika ia mencoba menghubungi nomor ponsel Chanyeol. Telepon tersambung dan terdengar nada dering di telinganya. Dua kali. Tiga kali—
"Halo," akhirnya suara Chanyeol terdengar di ujung telepon.
Baekhyun mencengkram gagang telepon dengan kedua tangannya. "Ini Baekhyun. Chanyeol, aku ketakutan. Aku menerima sebuah catatan aneh di bawah pintu rumahku ketika aku pulang, dan baru saja seseorang menelepon ke rumahku. Dia mengatakan bahwa dia adalah pengagum rahasiaku, bahwa dia mengirimkan pesan yang aku temukan di lantai, dan jika waktunya tepat dia akan menunjukkan identitas yang sebenarnya padaku. Kyungsoo juga pernah mengalami hal yang sama seperti ini. Aku tahu aku terdengar histeris, tapi aku ketakutan dan kuharap kau akan bilang aku membiarkan diriku berkhayal terlalu jauh—"
"Apa kakakmu sedang ada di rumahmu sekarang?" tanya Chanyeol tenang.
"Tidak. Dia sudah pulang. Tolong katakan aku sedang membiarkan diriku berkhayal terlalu jauh."
"Menurutku kau perlu menggunakan fasilitas Caller ID untuk telepon rumahmu," nada suara Chanyeol masih terlalu biasa. "Besok hubungi perusahaan telepon dari tempat kerja untuk memulainya, dan sepulang kerja mampirlah untuk membeli peralatannya."
Baekhyun menarik napas dalam. "Oke, Caller ID."
"Selalu bawa ponselmu, jadi kau akan punya cara untuk menelepon minta pertolongan jika kau tak dapat memakai telepon biasa. Dan kutegaskan untukmu, taruhlah ponselmu di saku, bukan di tas atau di mobil."
"Oke."
"Apakah suaranya terdengar familier ?"
"Tidak. Dia berbisik, tapi bisikan yang cukup keras dan terdengar dalam."
"Ada suara latar yang bisa kau kenali?"
"Tidak. Tak terdengar apa-apa. Sebaiknya kau bilang aku gila."
"Do Kyungsoo tewas," Chanyeol berucap tegas. "Begitu juga dengan tujuh orang lainnya. Mereka juga pernah menerima telepon masuk tak dikenal yang sama. Apa kau ingin mempercayakan hidupmu pada kebetulan?"
Dengan kalimat itu Baekhyun tahu bahwa ia tidak gila sama sekali. Baekhyun menghela napas dalam sebelum bertanya, "Apa yang sebaiknya aku lakukan?"
"Tetaplah tenang. Sampai kami bisa menemukan siapa yang menelepon itu, jangan biarkan siapapun memasuki rumahmu kecuali keluarga. Jangan masuk mobil dengan siapapun kecuali keluarga, bahkan jangan menerima tumpangan siapapun kalau mobilmu mogok. Kunci pintu-pintu dan jendela-jendela, dan pastikan tak ada orang masuk ketika pintu garasi otomatis terangkat."
"Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menemukan orang aneh ini?"
"Tergantung. Kalau dia cuma bajingan bodoh yang menelepon, Caller ID mungkin bisa mencatat nomornya dan kami bisa mencoba melacaknya. Kalau tidak, kami akan memasang penyadap di sambungan teleponmu."
Tbc
