*Unedited, beware of typos!
Part 17
Keesokan harinya terasa datang lebih lambat. Baekhyun bekerja setengah jam lebih lama dari biasanya, mengejar tumpukan dokumen yang makin meninggi selama ia absen. Ketika menyebrangi lapangan parkir ia memperhatikan hanya tinggal sedikit mobil yang masih ada, dan untuk pertama kalinya ia menyadari betapa berbahaya baginya pulang kerja selambat ini. Sendirian. Sambil mengendarai mobilnya pergi meninggalkan gedung Navilla, kepala Baekhyun sibuk berpikir. Begitu banyak hal yang harus dipikirkan sekarang, begitu banyak bahaya yang ternyata ada dalam hal-hal yang belum pernah dipertimbangkannya.
Baekhyun berusaha membayangkan apa yang akan dilakukannya apabila seseorang yang dikenalinya mengetuk pintu di malam hari, mungkin mengatakan bahwa mobilnya mogok. Sampai hari ini, mungkin ia akan membuka pintu tanpa ragu, hanya ingin membantu. Sebelum ini ia mengira dirinya pintar dan waspada, tetapi seberapa sering ia telah membuka pintu tanpa menanyakan siapa yang ada di balik pintu? Ia bergidik memikirkannya sekarang.
Baekhyun teringat, pintu depannya bahkan tidak punya lubang pengintip. Ia baru dapat melihat siapa di depan pintu hanya jika ia menaiki sofanya dan menyingkapkan tirai, lalu memiringkan tubuh ke kanan. Dan setengah pintu dapurnya, bagian atas hanya terbuat dari sembilan panel kaca kecil, yang bisa dengan mudah dihancurkan; lalu yang perlu dilakukan si penjahat hanyalah mengulurkan tangan ke dalam dan membuka kuncinya. Ia tidak memasang alarm, tidak punya apa pun untuk melindungi dirinya—apa pun! Yang paling bisa dilakukannya apabila ada yang mendobrak masuk rumahnya sementara ia ada di sana adalah melarikan diri lewat jendela, dengan anggapan ia dapat membuka jendela itu.
"Banyak yang harus kukerjakan," gumam Baekhyun seraya berpikir. "Sebelum aku merasa aman di rumahku lagi."
Teringat dengan instruksi Chanyeol kemarin, ia berhenti di toko elektronik dan membeli peralatan Caller ID. Ketika ia meninggalkan toko elektronik itu, matahari sudah hampir terbenam, awan melayang dari barat daya dan ia lapar. Karena ia masih harus mampir di dua tempat sebelum sampai rumah, maka ia membeli burger dan softdrink di restoran fastfood lalu melahapnya sambil mengendarai mobil. Burgernya tidak begitu enak, tapi lumayan untuk mengganjal perut.
Angin dingin mulai bertiup, menjanjikan hujan. Tempat pemberhentian Baekhyun selanjutnya adalah perusahaan yang menyediakan jasa pemasangan sistem pengamanan. Di sana ia ditanyai beberapa hal, memilih sistem yang diinginkannya, dan membayar dengan jumlah nominal yang besar. Ketika pria bertubuh gendut itu mengatakan bahwa sistem pengaman itu baru akan dipasang seminggu sesudah rabu yang akan datang, Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Tapi itu, kan sepuluh hari!" katanya tidak terima.
Pria gendut itu memeriksa buku jadwal pemasangannya. "Maaf, tapi itu yang paling cepat dapat kami kerjakan," ujarnya.
Barkhyun mengulurkan tangan ke seberang meja dan menyambar kembali lembaran uang dalam nominal besar yang tergeletak di depan pria itu. "Aku akan tanya-tanya dulu untuk mencari barangkali ada yang bisa mengerjakannya lebih cepat daripada itu. Maaf sudah membuang-buang waktumu," katanya.
"Tunggu, tunggu," kata pria gendut itu cepat-cepat. "Apakah ini darurat? Kalau ada yang sedang punya masalah, kami akan menaruhnya pada daftar teratas. Seharusnya tadi kau mengatakannya."
"Ini darurat," sahut Baekhyun tegas.
"Oke, coba kulihat apa yang bisa kulakukan," sekali lagi pria gendut itu memeriksa catatan jadwal pemasangannya, menggaruk-garuk kepalanya, mengetuk-ngetukkan pensil ke bukunya, dan berkata, "Aku bisa mengerjakannya untukmu sabtu ini, karena ini darurat."
Sambil berhati-hati agar tidak menunjukkan ekspresi kemenangannya, Baekhyun mengulurkan kembali uangnya. "Terima kasih," katanya dengan tulus.
Pemberhentian berikutnya adalah toko bahan-bahan bangunan. Tempat yang besar, dengan segala benda yang diperlukan orang untuk membangun rumah. Ia membeli lubang pengintip untuk pintu depan rumahnya—dengan label bertuliskan "Mudah Dipasang"—dan pintu dapur baru yang tidak terbuat dari gelas separuhnya, serta dua gerendel. Setelah meminta agar pintu itu dikirimkan ke rumahnya secepatnya, dan membayar lebih untuk pelayanan itu, ia menghembuskan napas lega dan pulang. Hujan mulai membasahi kaca depan mobil saat ia menjalankan mobilnya. Hari sudah gelap, makin dipergelap oleh selubung awan. Sesekali kilat menyambar di sebelah barat, menyinari sumber badai dan guntur bergemuruh.
*ChanBaek*
Saat Baekhyun tiba, rumahnya nampak gelap. Biasanya ia sudah sampai di rumah sebelum gelap, sehingga tidak perlu membiarkan lampu-lampu menyala. Dan biasanya ia tidak takut berjalan memasuki rumah gelap, tetapi malam ini rasa dingin merambati punggungnya. Ia gelisah, semakin menyadari bahaya yang mengintainya. Sejenak ia masih duduk di dalam mobil, ragu-ragu untuk mematikan mesinnya dan masuk ke rumah. Ia melihat tidak ada kendaraan yang diparkir di jalur masuk rumah Chanyeol, tetapi ada cahaya di dapurnya. Mungkin lelaki tinggi itu ada di rumah. Baekhyun berhatap Chanyeol meninggalkan pikapnya di jalur masuk bukannya memarkir di dalam garasi, sehingga ia bisa tahu kapan lelaki itu ada di rumah dan kapan tidak.
Begitu Baekhyun mematikan lampu depan mobil dan mesin mobilnya, ia melihat gerakan di sebelah kirinya. Jantungnya seakan meloncat ke tenggorokan, lalu ia menyadari bahwa itu adalah Chanyeol, yang muncul dari pintu depan rumahnya. Rasa lega segera membanjiri Baekhyun. Ia meraih tas-tas belanjaannya lalu keluar mobil.
"Kemana saja kau tadi?" seru Chanyeol dari belakang, sementara Baekhyun mengunci pintu mobil.
Baekhyun tersentak kaget dan menjatuhkan salah satu tas belanjaannya. "Brengsek!" gerutunya sambil membungkuk mengambil tas itu. "Apa pekerjaan sampinganmu menakuti-nakutiku?"
"Perlu ada orang yang menakut-nakutimu," Chanyeol meraih lengan atas Baekhyun dan menarik pemuda manis itu hingga berhadapan dengannya. Lelaki bertubuh tinggi itu tidak memakai baju, sehingga hidung Baekhyun menempel pada otot-otot dadanya yang seksi. "Sekarang jam delapan malam, mungkin saja ada pembunuh yang mengintaimu, dan kau justru tak menelepon memberitahu kau ada dimana? Kau pantas merasa takut, bahkan lebih!"
Baekhyun merasa letih, gelisah, hujan semakin deras dan ia tidak ingin diteriaki. Ia mendongak memelototi Chanyeol, dan air hujan membasahi wajahnya. Tapi ia tidak peduli. "Kau suruh aku mencari Caller ID, jadi aku terlambat pulang. Itu idemu sendiri!"
"Memangnya perlu waktu sampai tiga jam, padahal orang normal bisa setengah jam mengerjakannya?"
Kening Baekhyun mengerut. Chanyeol bilang dia tidak normal? Dengan marah ia mendorong dada Chanyeol dengan kedua tangannya sekuat tenaga. "Sejak kapan aku mulai menjawabmu?"
Chanyeol terhuyung mundur beberapa inci. "Sejak sekitar seminggu yang lalu!" sahutnya marah dan mencium Baekhyun.
Mulutnya keras dan marah, jantungnya terasa berdentam seperti palu di bawah telapak tangan Baekhyun. Seperti yang selalu terjadi ketika Chanyeol menciumnya, waktu seakan berhenti berputar, yang ada hanyalah di sini dan saat ini. Rasa Chanyeol mengisi diri Baekhyun, kulitnya yang telanjang terasa panas, meskipun hujan mengguyur mereka. Chanyeol menahan Baekhyun, pelukannya sedemikian erat sehingga Baekhyun tidak dapat menghela napas dalam, dan perut Baekhyun terdesak oleh bukti hasrat lelaki tampan itu.
Tubuh Chanyeol bergetar, dan mendadak Baekhyun baru menyadari betapa takutnya lelaki itu memikirkan keselamatan dirinya. Baekhyun selalu berpikir bahwa Chanyeol tampak kasar, serta cukup kuat bertarung mempertahankan diri melawan lembu jantan. Setiap hari, barangkali tanpa terpengaruh sama sekali, ia menyaksikan hal-hal yang membuat orang umumnya ngeri ketakutan. Namun malam ini Chanyeol telah ketakutan, mengkhawatirkan dirinya.
Tiba-tiba dada Baekhyun terasa sakit, seolah jantungnya ditekan. Lututnya bergoyang dan ia terkulai pada tubuh Chanyeol, menyerah padanya. Ia sedikit berjinjit agar dapat mencium lelaki itu dengan daya dan hasrat yang sama besarnya. Chanyeol mengerah, jauh dalam tenggorokannya. Lalu ciuman itu berubah. Kemarahan mereda, digantikan oleh rasa lapar yang luar biasa. Baekhyun telah menyerah sepenuhnya. Tetapi tampaknya itu tidak cukup bagi Chanyeol, karena ia membenamkan tangannya ke dalam rambut cokelat Baekhyun dan mendongakkan kepala Baekhyun sehingga ia dapat mencium leher Baekhyun dengan mudah. Hujan mengguyur wajah Baekhyun, dan ia memejamkan mata, tak berdaya dalam cengkaraman besi Chanyeol dan tak ingin kemana-mana lagi.
*ChanBaek*
Setelah hari-hari yang membingungkan dan melelahkan secara emosional itu Baekhyun membutuhkan tempat pelepasan fisik, untuk menyingkirkan semua rasa sedih dan takut serta merasakan Chanyeol saja. Hanya memikirkan Chanyeol saja. Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan mulai berjalan sambil membawa Baekhyun, dan pemuda manis itu tidak protes kecuali ketika Chanyeol berhenti menciumnya. Baekhyun tidak berontak kecuali agar mereka lebih dekat.
"Sialan, kau tidak bisa diam ya?" geram Chanyeol dengan nada tegang, menggeser tubuh Baekhyun ke samping sambil menaiki tangga depan rumahnya.
"Kenapa?" suara Baekhyun terdengar seksi, menggoda. Ia sendiri sedikit terkejut mengetahui bahwa tenggorokannya bisa menghasilkan suara semacam itu.
"Sebab kau akan membasahi celana jinsku, dan karena aku sudah tak tahan lagi kalau kau bergerak terus," Chanyeol setengah berteriak dengan frustasi.
Hanya setengah detik Baekhyun memperdulikan masalah Chanyeol. Detik berikutnya ia mencoba untuk tidak memperdulikannya. Karena satu-satunya cara agar ia dapat meredakan gairah lelaki tampan itu adalah dengan melepaskan diri dari pelukan erat Chanyeol dan tidak menyentuhnya sama sekali, itu artinya sama saja dengan menyiksa dirinya sendiri. Seperti halnya lelaki itu menginginkannya, betapa ia juga menginginkan Chanyeol.
"Menderita, ya?" katanya menggoda.
"Menderita?" Chanyeol terdengar tersinggung.
Chanyeol membuka pintu rumahnya dan membawa Baekhyun masuk. Ruang tamunya gelap, satu-satunya cahaya menyelinap dari dapur. Dalam pelukan eratnya Baekhyun dapat mencium bau matahari dari lelaki itu, air hujan dan rambut basah. Baekhyun berusaha mengusap bahu lebar Chanyeol, lalu menyadari bahwa ia masih memegangi tas-tas belanjaannya. Dengan tak sabar ia menjatuhkan tas-tas itu ke lantai, lalu melekatkan diri pada Chanyeol seperti lintah.
Chanyeol menurunkan tubuh Baekhyun. Sambil menggerutu ia maju beberapa langkah dan menghimpit tubuh Baekhyun ke dinding. Ia membuka ikat pinggang Baekhyun dengan gerakan cepat, berkutat dengan resleting sejenak, hingga akhirnya menyentakkan celana panjang Baekhyun dengan kasar. Celana panjang itu meluncur turun dan teronggok di seputar kaki Baekhyun. Baekhyun menendang lepas sepatunya, dan Chanyeol mengangkatnya keluar dari lingkaran kain itu. Baekhyun berusaha melepas kedua kaos kakinya dan melemparnya begitu saja ke lantai, lalu ia langsung melingkarkan kakinya ke seputar pinggul Chanyeol. Ia berjuang semakin mendekat diri, memadukan tubuh mereka dan melepaskan kobaran hasrat yang membakar di dalam dirinya.
"Belum!" tahan Chanyeol.
Dengan napas memburu Chanyeol menahan tubuh Baekhyun agar tetap di tempatnya menempel pada dinding dengan bobot tubuhnya dan melepaskan kaki pemuda manis itu yang melingkari pinggangnya. Tulang rusuk Baekhyun tertekan oleh bobot tubuh Chanyeol, ia mengeluh protes ketika jemari Chanyeol mengait celana dalamnya dan menariknya turun.
Oh.
Baekhyun mencoba berpikir, mengapa ia akan membuat Chanyeol menunggu setidaknya beberapa minggu lagi? Tak ada alasan yang masuk akal muncul dalam benaknya. Ketika membuat Chanyeol menunggu itu artinya membuat dirinya sendiri juga menunggu—ketika ia sangat ketakutan karena orang yang sama yang telah membunuh Kyungsoo mungkin juga mengincar dirinya, dan ia akan menendang dirinya sendiri kalau ia sampai mati tanpa tahu bagaimana rasanya bercinta dengan Chanyeol. Di sini, saat ini juga, tak ada yang lebih penting daripada mencoba apakah lelaki ini tepat.
Baekhyun menendang celana dalamnya menjauh. Chanyeol mengangkatnya sekali lagi, dan Baekhyun melingkarkan kakinya ke Chanyeol. Ia mengerang pelan—frustasi—ketika buku-buku jari Chanyeol meraba bagian dalam pahanya, mengantarkan sengatan-sengatan gairah ke tubuhnya, sementara lelaki tampan itu melepaskan celana jinsnya dan menjatuhkannya. Ketika akhirnya rintangan terakhir di antara mereka terjatuh dan Chanyeol menekannya, Baekhyun menahan napas. Merasakan hangat dan tanpa pelindung, mencari-cari. Kenikmatan terpompa ke seluruh tubuh Baekhyun, membuat ujung-ujung sarafnya memanas. Baekhyun melengkungkan tubuhnya tak berdaya, mencari lebih banyak, membutuhkan lebih banyak.
Chanyeol menggerutu pelan, dan mengangkat tubuh Baekhyun lebih tinggi sedikit untuk menyesuaikan posisinya. Baekhyun merasakan Chanyeol menyentuhnya. Lembut, keras dan hangat, lalu mendesak kuat-kuat. Sementara Chanyeol melepaskan tubuh Baekhyun dan membiarkannya rebah. Mulanya tubuh Baekhyun menolak, kemudian mulai meregang dan menerimanya, sedikit demi sedikit. Baekhyun merasa segala dalam dirinya mulai mengetat ketika sensasi aneh bergemuruh. Rasa sakit dan gairah nikmat melebur.
Namun tiba-tiba Chanyeol berhenti. Napasnya berat, wajahnya yang panas tersuruk ke leher Baekhyun. Dengan suara kasar ia bertanya, "Bagaimana dengan prinsip konyolmu itu?"
Baekhyun mencakar bahu telanjang Chanyeol, hampir menangis karena menginginkannya. Si brengsek ini, bisa-bisanya dia berhenti sekarang? Ini belum cukup, tidak cukup, nyaris tidak cukup. Otot-otot dalam Baekhyun mencengkram, mencoba menariknya lebih dalam, dan Chanyeol nyaris berteriak.
"Sialan! Baekhyun, bagaimana dengan prinsip konyolmu itu?" gerutunya.
"Lupakan," akhirnya Baekhyun berusaha menjawab, dan suaranya sama kasarnya dengan suara Chanyeol.
Chanyeol mendesak Baekhyun ke dinding dan dengan satu hentakan kasar mendorong seluruh dirinya ke dalam Baekhyun. Baekhyun mendengar dirinya menjerit, tetapi kedengarannya jauh. Seluruh sel dalam tubuhnya terpusat pada serangan Chanyeol, berirama cepat dan keras. Dan Baekhyun mencapai puncak kenikmatan dengan cara yang sama. Sensasi meledak di dalam dirinya, dan ia mengimbangi Chanyeol. Memekik, pinggungnya menghentak dan seluruh tubuhnya bergetar. Dunia lainnya berputar menjauh.
Chanyeol mencapai puncaknya sedetik kemudian, memasuki tubuh Baekhyun dengan kekuatan yang nyaris tak terkendali. Baekhyun menabrak dinding setiap kali Chanyeol mendesaknya dalam-dalam, tubuhnya menggelincir turun dan membuat Chanyeol semakin dalam memasukinya. Begitu dalam sehingga Baekhyun mengejang dan mencapai puncaknya lagi.
Chanyeol menelungkupkan tubuhnya ke tubuh Baekhyun, kulitnya basah oleh keringat dan hujan. Napasnya tersengal-sengal, dadanya kembang-kempis sementara ia menghela napasa. Di rumah yang gelap dan sunyi itu, hanya terdengar siraman hujan di atap dan desah napas dari paru-paru mereka yang telah bekerja keras. Dinding terasa dingin di punggung Baekhyun, namun keras dan tidak nyaman.
Baekhyun mencoba memikirkan kata-kata yang cerdas, namun otaknya menolak bekerja. Ini terlalu serius. Ia memejamkan mata dan menempelkan pipinya ke bahu Chanyeol sementara debar jantungnya perlahan-lahan mulai mereda dan otot-otot dalam dirinya mulai melepaskan cengkramannya pada Chanyeol.
Chanyeol menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan mengencangkan pegangannya pada Baekhyun, satu lengannya melingkar di punggung Baekhyun dan lengan yang lain menopang pantat Baekhyun. Ia melangkah keluar dari celana jinsnya dan dengan terhuyung-huyung berjalan ke kamar tidurnya. Tidak peduli bahwa ia masih berada di dalam Baekhyun, tubuh mereka tetap bersatu.
Kamar itu gelap dan dingin, dengan ranjang yang luas. Chanyeol menurunkan tubuh mereka ke ranjang dan beranjak ke atas tubuh Baekhyun. Ia melepaskan kemeja Baekhyun, melemparkannya ke lantai, membuat mereka kini telanjang bulat. Chanyeol mulai bergerak lagi. Kali ini iramanya lebih lambat namun setiap dorongannya tetap dengan kekuatan yang sama. Baekhyun terkejut, menyadari suasana mulai memanas lagi.
*ChanBaek*
Baekhyun mengira dirinya sudah terlalu lelah untuk terangsang lagi, tapi kenyataannya lain sama sekali. Ia mengaitkan kakinya ke seputar tubuh Chanyeol dan mengankat pinggulnya menyambut setiap kali lelaki itu mendesaknya, melekat erat, bahkan menarik Chanyeol lebih dalam lagi memasukinya. Dan ketika ia mencapai puncak, ledakan hebatnya bahkan lebih kuat daripada yang lain-lainnya. Suara Chanyeol terdengar seperti tercekik, ia mencapai puncak saat Baekhyun masih gemetar di bawahnya.
Beberapa lama kemudian, ketika denyut nadi melambat, keringat telah mengering, dan otot-otot telah setengah responsif lagi, Chanyeol mengangkat dirinya dari tubuh Baekhyun dan berguling telentang, satu lengannya menutupi matanya.
"Sialan," katanya pelan.
Karena kamar itu sangat sunyi, Baekhyun dapat mendengarnya. Sepercik kemarahan membuat matanya menyipit. Ia ingin sekali menendang lelaki itu, namun tubuhnya masih terasa lemas seperti mie yang terlalu matang. Maka hanya percik api kemarahan itu yang bisa diusahakannya.
"Eh, romantis sekali," katanya dengan nada menyindir.
Lelaki bertubuh tinggi itu belum bisa menjauhkan tangannya dari diri Baekhyun selama seminggu, dan kini ketika akhirnya mereka bercinta sialan adalah komentar terbaik yang bisa diucapkannya, seolah-olah seluruh pengalaman itu salah? Itu membuat Baekhyun merasa sangat marah.
Chanyeol mengangkat lengannya yang menutupi matanya dan menoleh untuk menatap Baekhyun. "Aku tahu kau adalah masalah sejak pertama aku melihatmu," katanya.
"Apa maksudmu? Masalah?" Baekhyun beranjak duduk, menatap Chanyeol. "Aku bukan masalah! Aku orang yang sangat baik kecuali aku terpaksa berurusan dengan orang brengsek!"
"Kau masalah yang paling buruk," tukas Chanyeol. "Kau membawa masalah."
Mengingat mantan-mantan tunangannya telah menemukan hal-hal yang lebih baik daripada menikah dengan Baekhyun, itu adalah komentar yang paling taktis yang bisa diucapkan Chanyeol. Bagi Baekhyun rasanya benar-benar sangat menyakitkan, karena berasal dari lelaki yang baru saja membuatnya mencapai orgasme luar biasa tiga kali. Baekhyun menyambar bantal dan memukulkannya ke kepala Chanyeol, lalu bangkit berdiri dari ranjang, mengabaikan rasa nyeri pada bagian bawah tubuhnya.
"Aku bisa mengurus masalah itu buatmu," Baekhyun menggerutu sambil mencari-cari pakaiannya di kamar yang gelap itu. "Brengsek, dimana sakelar lampunya?"
Chanyeol meloncat turun dari ranjang dan meraih Baekhyun. "Pakaianku kau apakan, hah!" teriak baekhyun, menghindari tangan Chanyeol yang terulur dan berlari di seputar kamar yang gelap itu. "Dan dimana sih sakelar lampunya?"
"Kau bisa tenang, tidak!" kata Chanyeol, terdengar seperti ia sedang mendengus geli.
Lelaki tinggi itu sedang menertawakannya, Baekhyun menyadari itu. Air mata Baekhyun mulai merebak. "Tidak, aku tak sudi tenang!" jeritnya, dan berputar menuju pintu. "Kau boleh menyembunyikan pakaianku, aku akan berjalan telanjang ke rumah sebelum aku ke sini beberapa menit lagi, kau memang brengsek tak punya perasaan—"
Perkataan Baekhyun terhenti ketika lengan Chanyeol menahan pinggangnya dan melontarkannya ke udara. Ia menjerit keras, lengannya menggapai-gapai; lalu ia terpelanting di ranjang dan udara keluar dari paru-parunya dengan bunyi "wuf".
Ia masih sempat menghirup udara sedikit sebelum Chanyeol mendarat di atas tubuhnya. Tubuh Chanyeol yang berat menghimpitnya dan memaksanya menghembuskan napas lagi. Chanyeol tertawa, menaklukkan baekhyun dengan begitu mudahnya. Dalam waktu lima detik Baekhyun tidak dapat berkutik sama sekali.
Heran dan senang, Baekhyun menyadari bahwa Chanyeol sudah terangsang lagi; terasa berdenyut mengenai pahanya yang rapat. Kalau Chanyeol pikir Baekhyun mau membuka pahanya lagi setelah dia—
Namun Chanyeol beringsut, dengan ahli menekan dengan lututnya, dan paha Baekhyun mau tak mau membuka. Chanyeol beringsut lagi dan dengan mulus memasuki Baekhyun. Baekhyun menjerit karena Chanyeol terasa begitu nikmat dan ia mencintai lelaki brengsek itu. Kesialannya dalam hubungan cinta masih tetap saja mengikutinya.
Baekhyun menangis terisak.
"Eh, sayang, jangan menangis," Chanyeol menenangkan sambil bergerak dengan lembut di dalam Baekhyun.
"Aku akan menangis kalau aku ingin," isak Baekhyun sambil memeluk erat Chanyeol.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun. Maukah kau menikah denganku?"
"Tak usah, ya!"
"Harus. Kau berhutang padaku untuk semua sumpah serapahmu malam ini, kau harus membayarnya saat gajian nanti. Kau tak perlu membayarnya kalau kita menikah."
"Tak ada aturan seperti itu."
"Aku baru saja membuatnya."
Chanyeol menangkupkan kedua tangannya ke kepala Baekhyun dan ibu jarinya mengusap pipi sang pemuda manis, menyeka air matanya. "Kau tadi bilang sialan," sungut Baekhyun masih merasa kesal.
"Apa lagi yang seharusnya diucapkan laki-laki ketika dia melihat hari-hari membujangnya akan segera berakhir dengan memalukan?" tukas Chanyeol, tersenyum.
"Kau sudah pernah menikah."
"Ya, tapi itu tak masuk hitungan. Aku masih terlalu muda untuk tahu apa yang sedang kulakukan. Kupikir, bersetubuh sama dengan bercinta."
Baekhyun menatap Chanyeol, berharap lelaki itu diam. Ia tidak tahu, bagaimana lelaki itu terus berbicara sementara ia terus bergerak di dalam tubuh Baekhyun, lembut dan dalam? Tidak—Baekhyun berharap Chanyeol menutup mulutnya, dan terus mengerjakan apa yang sedang dilakukannya pada Baekhyun, kecuali mungkin agak lebih cepat. Dan agak lebih keras.
Chanyeol mencium pelipis Baekhyun. "Yang selalu kudengar adalah seks lain kalau dengan orang yang kau cintai, tapi aku tak percaya selama ini. Seks adalah seks. Lalu aku ada di dalammu dan rasanya seperti menancapkannya ke dalam stopkontak."
"Oh. Jadi itu sebabnya kau bergetar dan menjerit?" Baekhyun mendengus, tetapi ia memperhatikan.
"pintar. Ya, itu sebabnya, dan bukannya aku saja yang bergetar dan menjerit. Lain. Lebih panas. Lebih kuat. Dan ketika sudah selesai, aku ingin melakukannya lagi."
"Kau melakukanya lagi."
"Itu buktinya, kalau begitu. Demi Tuhan, aku sudah orgasme dua kali dan sekarang aku terangsang lagi. Kalau bukan keajaiban persetubuhan, pastilah cinta. Sungguh," Chanyeol mencium bibir Baekhyun, lembut dan dalam, dengan menggunakan lidahnya. "Melihatmu marah-marah selalu membuatku terangsang."
"Aku tidak marah-marah," Baekhyun berhenti mendengar apa yang dikatakan Chanyeol. "Selalu?"
"Selalu. Seperti ketika kau menabrak tong sampahku, lalu meneriakiku dan menuding-nuding dadaku."
"Kau terangsang waktu itu?" Baekhyun memandang Chanyeol heran.
"Keras seperti batu karang."
"Yah, dasar baj—aj," Baekhyun berkata dengan nada tidak percaya dan terdiam.
"Kalau begitu jawab pertanyaanku."
Baekhyun membuka mulut untuk menjawab "ya", namun kewaspadaan membuatnya memperingatkan Chanyeol, "Aku tidak cocok dengan pertunangan."
"Aku akan meloncati bagian pertunangan. Kita takkan bertunangan, kita akan menikah saja."
"Dalam hal itu, ya, aku akan menikah denganmu."
Baekhyun memalingkan wajahnya ke lekuk leher Chanyeol, menghirup panas dan aroma tubuhnya, berpikir bahwa jika para ahli parfum di dunia bisa mengemas dalam botol apapun aroma tubuh yang dimiliki Chanyeol, mungkin populasi wanita dan laki-laki submissive seperti dirinya akan terus-menerus meningkat, dan panas.
Chanyeol menggeram frustasi. "Karena kau mencintaiku?" tanyanya langsung.
Baekhyun tersenyum. Bibirnya bergerak-gerak di kulit Chanyeol. "Mencintaimu setengah mati," tegasnya.
"Kita akan menikah minggu depan!" putus Chanyeol tiba-tiba.
"Aku tidak bisa!" kata Baekhyun ketakutan, menarik kepalanya untuk menatap Chanyeol. Sementara laki-laki itu berada di atasnya, bergerak maju-mundur, maju-mundur, bagaikan ganggang yang mengapung di pasang laut.
"Kenapa tidak bisa, hah?"
"Karena orangtuaku belum kembali dari liburan yang lamanya...aku sudah lupa tanggal nih. Kira-kira tiga minggu, kukira."
"Tak bisakah mereka pulang lebih cepat? Mereka kemana sih?"
"Tur ke Eropa. Dan ini liburan impian Eomma, karena Appa menderita Parkinson. Meskipun obat-obatan sangat membantu, kondisi Appa semakin jelas belakangan ini dan Eomma khawatir inilah kesempatan terakhir mereka. Sebelum pensiun Appa selalu sibuk untuk pergi jauh dalam waktu lama, jadi ini spesial buat mereka berdua. Kau mengerti, kan?"
"Oke, oke. Kita akan melakukannya pada hari mereka sampai di rumah."
"Eomma belum membongkar barang-barang bawaannya!"
"Karena kita takkan bertunangan, kita tidak bisa mengadakan upacara pernikahan besar-besaran di gereja—"
"Syukurlah," kata Baekhyun penuh perasaan. Ia sudah pernah mengalaminya dengan si nomor dua. Si bajingan itu, dengan seluruh biaya, rencana dan masalah, memilih mundur pada detik terakhir pernikahan.
Chanyeol menghembuskan napas lega, seolah-olah ia takut Baekhyun akan berkata menginginkan pernikahan besar-besaran. "Kita kan sudah siap dengan segalanya. Orangtuamu hanya perlu datang," katanya.
Sementara Chanyeol terus melakukan apa yang sedang dikerjakannya—terus bergerak lembut dan panas di dalam tubuh Baekhyun—Baekhyun berusaha sebaik mungkin memusatkan perhatian pada percakapan itu. Ia menatap Chanyeol dan sangat terkesan, karena lelaki tampan itu sanggup tetap bicara dalam situasi seperti ini. Namun tubuh Baekhyun tiba-tiba mencapai titik kritis. Ia terengah-engah, pinggulnya tersentak-sentak naik ke arah Chanyeol.
"Kita bicara lagi nanti!" katanya dengan parau. Dipeluknya Chanyeol dan ditariknya lelaki itu kuat-kuat, memasuki dirinya semakin dalam. Mereka pun tidak bicara lagi sama sekali.
Tbc
