*Beware of typos!

.

.

.

Part 18

Baekhyun terbangun beberapa jam kemudian. Sepanjang malam ia telah puas berbaring dalam pelukan Chanyeol, tetapi tiba-tiba sesuatu melintas dalam benaknya dan ia langsung bangkit terduduk.

"BooBoo!"

Antara menggerutu dan mengerang Chanyeol bersuara, "Apa?"

"BooBoo. Dia pasti kelaparan! Bisa-bisanya aku melupakannya," Baekhyun berusaha turun dari ranjang. "Dimana sih sakelar lampunya? Dan kenapa kau tak punya lampu di samping ranjang satu pun?"

"Di samping pintu, sebelah kanan. Memang kenapa aku perlu lampu duduk?"

"Untuk membaca, mungkin," Baekhyun meraba-raba sepanjang dinding, menemukan sakelar itu dan menekannya. Cahaya terang seketika memenuhi kamar itu.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian berguling menelungkup. "Aku membaca di ruang tamu."

Baekhyun mengabaikan ucapan Chanyeol, memilih untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya terang yang tiba-tiba memasuki matanya. Setelah itu, pupil matanya membesar melihat kekacauan yang telah mereka buat di ranjang. Bedcover-nya melintir dan tergantung, bantalnya—dimana bantal-bantalnya?—seprainya tertarik lepas di salah satu sudut dan menggumpal di tengah ranjang.

"Ya ampun," katanya ternganga, lalu menggeleng dan mengedarkan pandang mencari pakaiannya.

Chanyeol membuka matanya dan bertumpu pada satu sikunya. Mata hitamnya tampak mengantuk sekaligus serius mengawasi Baekhyun yang sedang mencari-cari di seputar kamar. Baekhyun menemukan kemejanya kusut di balik bedcover. Ia berlutut untuk mengintip ke bawah ranjang, mencari-cari celana dalamnya. Chanyeol segera mendekat sehingga ia bisa melihat dengan lebih baik belakang tubuh Baekhyun yang bergoyang-goyang, nampak menggoda.

"Bagaimana bisa ini sampai ke kolong ranjang?" gerutu Baekhyun, sambil menarik celana dalam itu keluar dari persembunyiannya.

"Merangkak," sahut Chanyeol.

Baekhyun tersenyum selintas dan kembali mengedarkan pandang. "Dan celana panjangku di...?"

"Di ruang tamu," ingat Chanyeol.

Baekhyun pergi ke ruang tamu, menyalakan lampu, dan sedang meluruskan celana panjangnya ketika Chanyeol berjalan masuk dengan telanjang bulat dan menenteng sepatu kets. Baekhyun tidak memedulikan celana dalamnya, langsung mengenakan celana panjang dan kemejanya. Chanyeol memakai celana jinsnya, kemudian duduk dan memakai sepatu ketsnya.

"Kau mau kemana?" tanya Baekhyun.

"Mengantarmu," jawab Chanyeol singkat.

Baekhyun membuka mulut untuk mengatakan itu tidak perlu, lalu ia ingat bahwa ia memang memerlukannya. Setidaknya sekarang. Ia pun memakai sepatunya, memasukan celana dalamnya ke tas kerjanya, lalu mengambil tas-tas belanjaannya. Chanyeol mencabut pistol dari sarungnya, memegangnya dengan tangan kanan.

"Berikan kuncimu padaku dan kau tetap di belakangku," katanya.

Baekhyun mengambil rangkaian kunci dari dalam tasnya, memilihkan kunci rumah untuk Chanyeol, dan menyerahkannya. Hujan sudah berhenti, membuat malam itu hangat dan lembab. Jangkrik-jangkrik mengerik, dan di ujung jalan lampu tikungan memancarkan cahaya melingkar berkabut. Mereka melintasi kedua jalur masuk lalu menaiki tangga pintu rumah Baekhyun. Chanyeol menyelipkan pistol ke ikat pinggangnya ketika ia membuka kunci pintu, kemudian mengembalikan kunci-kunci itu kepada Baekhyun dan mencabut kembali pistolnya sekali lagi. Ia membuka pintu, melangkah ke dalam dan menyalakan lampu. BooBoo yang sedang tidur di sofa ruang tamu terbangun saat menyadari kehadiran mereka. Baekhyun meninggalkan tas-tas belanjaannya di lantai dan segera meraih kucing gembul itu.

Dengan BooBoo yang meringkuk dalam pelukannya Baekhyun terus dibelakang Chanyeol, mengikuti pria itu yang dengan penuh waspada memeriksa setiap ruangan. Setelah merasa yakin tidak ada yang mencurigakan dan keadaan aman Chanyeol menyelipkan kembali pistol ke ikat pinggangnya, berbalik menghadap Baekhyun

"Nah, semuanya aman. Jika terjadi sesuatu atau kau menemukan hal yang mencurigakan segera hubungi aku, mengerti?" katanya menatap Baekhyun dengan serius.

Baekhyun menganggukkan kepalanya, balik menatap Chanyeol dengan sedikit ragu. "Kau bertugas hari ini?" tanyanya.

"Ya, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan melindungimu, jadi kau tidak perlu takut. Ah ya, ini untukmu," Chanyeol meletakkan kunci cadangan rumahnya di tangan Baekhyun dan mengedipkan satu matanya.

Baekhyun memandang kunci cadangan rumah Chanyeol digenggaman tangannya, satu langkah yang menunjukkan keseriusan pria tampan itu padanya. Lalu ia memandang Chanyeol dan berkata, "Terima kasih. Kurasa aku akan butuh ini."

"Maka simpan dengan baik," ujar Chanyeol, dan Baekhyun terkekeh kecil.

Baekhyun tersenyum saat Chanyeol mencium bibirnya, dalam dan menenangkan. Satu ciuman yang lembut di keningnya dan senyum lebar dari Chanyeol—juga usapan pada bulu-bulu lembut BooBoo yang masih betah meringkuk di pelukan Baekhyun—sebelum kemudian pria bertubuh tinggi itu beranjak pulang. Baekhyun menutup pintu, menguncinya, lalu beranjak ke dapur. Meletakan BooBoo di lantai, memberinya makan yang banyak, dan menjerang air untuk membuat kopi. Lalu ia teringat pada tas belanjaannya yang ditinggalkannya di lantai ruang tamu. Maka dengan secangkir kopi yang mengepul ia beranjak pergi ke ruang tamu. Meletakkan cangkir kopinya di atas meja, ia mengambil tas belanjaannya dan mengeluarkan peralatan Caller ID yang baru dibelinya kemarin.

Ia duduk menghadap meja dan membaca petunjuk dengan hati-hati. Keningnya mengerut, lalu meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah. "Tidak mungkin serumit itu," omelnya. "Pokoknya pasang saja barang ini di antara kabel dan telepon. Memang mau bagaimana lagi kerjanya?"'

Dilihat secara logis, cukup sederhana caranya. Ia mencabut telepon dari stopkontak di dinding, mengambil kabel telepon yang disediakan dan Caller ID, menancapkan Caller ID itu ke stopkontak, lalu menghubungkan telepon ke Caller ID. Presto bingo.

Kemudian ia pergi ke rumah Chanyeol. Dengan kunci cadangan yang diberikan Chanyeol padanya, ia memasuki rumah Chanyeol dan menelepon ke rumahnya untuk melihat hasilnya. Lalu ia kembali lagi ke rumahnya—setelah memastikan ia telah mengunci rumah Chanyeol dan menyimpan kunci cadangan itu dengan baik di kamarnya. Berhasil. Ketika ia menekan tombol display, nama Chanyeol muncul di layar kecil, dengan nomor telepon di bawahnya. Hebat, teknologi memang luar biasa.

Sambil menunggu waktunya untuk bersiap berangkat kerja, Baekhyun menikmati cangkir kopinya sambil memikirkan Chanyeol. Yah, Chanyeol dengan seks yang panas dan lamaran yang tak terduga itu benar-benar berguna dalam membuatnya melupakan sejenak teror yang diterimanya. Ia yakin Chanyeol pasti akan melindunginya. Pria itu bahkan memastikan semuanya dalam keadaan aman dulu sebelum ia pergi tadi.

Tetapi tanpa mereka sadari, Chanyeol melewati satu hal saat memeriksa rumah Baekhyun. Beberapa alat penyadap kecil yang baru saja terpasang, tersembunyi dengan baik di sudut-sudut rumah Baekhyun.

*ChanBaek*

Departemen Kepolisian Seoul.

Chanyeol muncul di ruangan timnya pukul delapan pagi, setelah Kai memberitahu bahwa Lay akan mengirimkan laporannya melalui faks dan mereka akan segera membahasnya. Mesin faks berhenti tepat ketika teko di mesin pembuat kopi hampir terisi penuh. Chanyeol mengambil dua cangkir bersih yang tersedia dan menuangkan kopi dari teko, lalu melihat ke arah Kai yang sedang mengumpulkan kertas faks. Kai mengangkat kepalanya, menyapa Chanyeol, lalu beranjak duduk dan meletakkan tumpukan tipis kertas di meja. Chanyeol menaruh dua cangkir kopi di meja, menarik kursi lain, kemudian duduk di samping Kai dan meneguk kopinya. Kai memfokuskan perhatiannya pada laporan profil yang telah dilengkapkan dari Lay. Setelah membaca halaman pertama, ia menyerahkannya pada Chanyeol.

"Lay hyung telah menetapkan pembunuh berantai kita sebagai penjahat yang kejam dan terencana," Kai berkata. "Itu tidak mengejutkan. Sangat pintar, terampil secara sosial dan seksual."

Chanyeol meletakan cangkirnya dan membaca halaman pertama, "Memiliki suasana hati yang terkontrol. Mempertahankan stereotip maskulin dan mempesona. Mungkin anak semata wayang, korban kekerasan dalam rumah tangga sebagai seorang anak kecil atau remaja."

"Tipe seperti ini biasanya memindahkan mayat dari TKP dan membuang mayat tersebut untuk mengiklankan kejahatannya," Kai membaca keras-keras, lalu menyerahkan halaman kedua pada Chanyeol. "Dia tahu benar tentang pembunuh kita, semuanya cocok."

Kai memberikan halaman ketiga dan terakhir pada Chanyeol. Chanyeol membaca daftar karateristik tersebut. Merencanakan kejahatannya. Mengincar korban. Mengontrol TKP. Membuat korban tunduk. Mempergunakan pencegahan. Bertindak secara agresif. Memindahkan mayat. Memindahkan senjata. Meninggalkan sedikit bukti.

"Penjahat kita benar-benar seseorang yang gila kekuatan dan kontrol," Chanyeol berkata. "Lay hyung percaya penjahat itu mengatakan pada korbannya apa yang harus dikatakan korbannya selama penyiksaan dengan tujuan membentuk kembali skenario khayalan dengan pasangan yang ideal."

"Lay hyung beranggapan bahwa pembunuh kita menyimpan catatan, tulisan-tulisan, gambar-gambar, dan foto-foto," Kai menutup matanya dan bergidik.

"Penjahat kita pintar. Dia menertawakan kita di luar sana. Dia mengira dia tak terkalahkan."

"Apa gunanya profil ini jika kita bahkan tidak memiliki satu tersangka?"

"Ini dapat membantu kita membuang beberapa orang. Lay hyung berpendapat pembunuh kita adalah laki-laki muda, di bawah umur tiga puluh tahun, sangat pintar, mungkin memiliki gelar kesarjanaan, dan dia adalah pembunuh yang berpindah-pindah."

"Jadi apa yang harus kita lakukan, menanyai setiap laki-laki di Seoul yang berumur di bawah tiga puluh tahun yang pintar, terpelajar, dan mempesona?"

"Kupikir kita perlu mencari tahu lebih banyak tetang para korban lain, dimulai dengan Kim Luhan."

"Kim Luhan korban di Jeju-Do? Kenapa dimulai dari dia?"

"Katakanlah, instingku yang berbisik."

Kai mengangkat cangkir kopinya ke mulut dan meminumnya sambil berpikir. Ia tahu Chanyeol adalah detektif yang handal, dan instingnya tidak pernah. Kecuali sekali, dalam pernikahannya dulu. Maka ia hanya menghela napas dan berkata,

"Kau bisa berbicara dengan kepala penyidik pada kasus tersebut. Mungkin dia tahu lebih banyak dari yang disadarinya. Hal-hal yang mungkin dapat memberi petunjuk kepada siapa pembunuh kita sebenarnya."

"Aku sudah melakukannya kemarin. Aku akan berangkat ke Jeju besok untuk menemuinya," ujar Chanyeol.

Kai menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku akan menunggu hasil laporanmu nanti, hyung," sahutnya.

Lalu mereka berdua diam, menikmati cangkir kopi dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Kai memusatkan perhatiannya kembali pada kertas faks di depannya, sementara Chanyeol berpikir tentang Baekhyun dan keamanannya selama ia pergi ke Jeju besok. Meski ia hanya pergi sebentar, namun tetap saja rasa cemas menggelitiknya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Chanyeol memutuskan untuk meminta bantuan Kai. Itu pilihan terbaik saat ini.

"Kai," panggil Chanyeol, jemari panjangnya melingkar pada cangkir kopinya yang mulai menghangat. Kai menggumam dan mengangkat kepalanya, memandang Chanyeol. "Kau ingat dengan Byun Baekhyun yang pernah kuceritakan dulu?"

"Ya, aku ingat. Kenapa? Kau sudah berhasil tidur dengannya?" tanya Kai, tersenyum jahil.

Chanyeol terkekeh kecil, lalu tersenyum lebar. "Lebih dari itu. Aku melamarnya usai kami bercinta dan kami akan menikah tiga minggu lagi," jawabnya.

"Wow, kau bergerak cepat, hyung! Selamat!" Kai tersenyum, ikut merasa senang.

"Terima kasih. Tapi..." Chanyeol diam sejenak dan memandang Kai. Raut wajahnya berubah serius. "Dua hari lalu Baekhyun menerima sebuah catatan aneh di depan pintu rumahnya, dan menerima telepon dari seorang tak dikenal yang mengaku sebagai pegagum rahasia dan semacamnya. Aku belum yakin, tapi aku khawatir jika Baekhyun adalah target selanjutnya."

"Bagaimana keadaan Baekhyun sekarang? Kuyakin, dia pasti merasa ketakutan," Kai mulai ikut serius.

"Ya, dia ketakutan. Aku menyuruhnya untuk membeli Caller ID, memasang alarm di rumahnya dan sebisa mungkin selalu bersama keluarganya. Namun aku khawatir itu tidak cukup, jika memang benar Baekhyun menjadi target selanjutnya. Jadi, bisakah kau menjaganya diam-diam selama aku pergi ke Jeju besok?"

"Aku mengerti. Aku akan menyuruh beberapa polisi untuk berjaga di dekat rumahnya. Kau tidak perlu khawatir."

"Terima kasih, Kai."

*ChanBaek*

Laki-laki itu duduk di depan meja yang penuh dengan peralatan seninya dan mengagumi sketsa yang baru saja ia buat. Sebuah gambar Byun Baekhyun, seorang pemuda yang hampir secantik orang itu. Cinta pertamanya, Kim Luhan. Baekhyun memiliki rambut yang dicat cokelat mengkilat yang sama, mata cokelat gelap yang sama, tinggi yang sama, dan tubuh ramping yang sama. Penampilan mereka tentu saja tidak identik, meski wajah mereka mirip. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang serupa dengan Luhan. Luhan adalah sosok yang ideal, seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi miliknya. Tetapi nasib telah mempermainkan mereka berdua.

Tidak, tidak, itu tidak benar, suara hatinya berkata. Nasib tidak mempermainkan kalian berdua. Luhanlah yang mempermainkanmu.

"Aku tidak akan mendengarkan. Tidak. Keluar dari kepalaku dan biarkan aku sendiri!" ia memekik seraya menutup telinganya dengan telapak tangan. "Luhan mencintaiku. Dia mengatakannya padaku. Dia berjanji padaku..."

Dia menjanjikan tubuhnya untukmu, tetapi dia tidak memiliki keinginan untuk menepati janji itu. Dia memperdayaimu. Itu yang dia lakukan.

Suara hatinya yang tidak dapat dikontrol dan kenangan-kenangan buruk yang tidak dapat dihapus membuatnya merasa marah. Ia menyapukan tangannya pada meja dan membuat peralatan seninya berjatuhan ke lantai. Rasanya ia sulit bernapas, air mata mengalir dan mengancam akan membutakannya. Lalu ia merangkak mencari dua benda—sketsa Baekhyun dan seuntai kalung dengan bandul batu sederhana namun indah, yang akan menjadi hadiah pertama darinya untuk Baekhyun.

Ia duduk di tengah-tengah kamar tidurnya, lalu menggenggam foto dan kalung ke dadanya. Ia lelah dan bosan dikecewakan berulang-ulang oleh wanita dan pemuda uke yang bersumpah mencintainya, yang merayunya dengan tubuh seksi dan wajah cantik, lalu pada akhirnya memohon padanya untuk membebaskan mereka.

Mereka mungkin telah melukainya, mengecewakan dan berbohong padanya. Tetapi bukan mereka yang membuat aturan permainannya, ia yang membuat aturan itu. Cukup menjentikkan jari dan mereka akan mematuhinya. Ia memiliki kekuatan, semua kekuatan untuk menentukan hidup dan mati. Ia telah menunjukkan pada Luhan betapa kuat dan berkuasanya ia. Ia telah membuktikan pada pemuda cantik itu bahwa ia bukanlah laki-laki penakut seperti yang dituduhkan kepadanya.

Ia adalah laki-laki yang mengetahui bagaimana mengontrol kekasih-kekasih miliknya. Dengan tangan besi!

*ChanBaek*

Tolong terima tanda kasih sayang kecilku ini. Seuntai kalung yang indah untuk seseorang yang cantik.

Baekhyun memegang seuntai kalung dengan bandul batu yang indah saat ia membaca kembali pesan terakhir yang telah dikirimkan pengagum rahasianya. Pesan kedua, hadiah pertama dan selembar sketsa yang diterimanya lima hari kemudian. Baekhyun pikir ia sudah cukup dengan kegilaan ini, tapi ia tidak bisa segera memberitahu Chanyeol karena pria tampan itu sedang berada di Jeju untuk sebuah penyelidikan. Dengan sistem alarm yang sedang dipasang di rumahnya, pintu dan jendela yang selalu ia pastikan terkunci dan Caller ID yang berhasil ia pasang, ia berusaha menjaga dirinya tetap aman hingga Chanyeol kembali, hanya dua hari lagi.

Suara telepon yang berdering mengalihkan perhatian Baekhyun. Ia beranjak ke meja telepon, meletakkan pesan, sektsa dan kalung di tangannya ke atas meja dan menatap Caller ID. Nama Siwon dan nomor teleponnya muncul di layar kecil. Ia mengangkat telepon dan berkata,

"Hai, Siwon hyung."

"Akhirnya kau memasang Caller ID," ujar Siwon diujung telepon. "Ponselmu sulit dihubungi. Kau baik-baik saja?"

"Yah, tentu. Tentu," Baekhyun diam sejenak, lalu berkata dengan cepat, "Eum...tidak juga. Sesuatu sedang terjadi padaku, hyung. Dengar..."

Baekhyun pun menceritakan tentang kegilaan yang sedang dihadapinya. Chanyeol memperbolehkannya, karena Baekhyun tetap membutuhkan orang lain untuk menjaganya selain dirinya, dan anggota keluarga menjadi pilihan terbaik menurut Chanyeol. Siwon setengah menjerit saat mengetahui bahwa adiknya menjadi incaran seorang pembunuh berantai.

"Oh, ya Tuhan. Kau pikir orang itu yang membunuh sahabatmu Do Kyungsoo, kan? Itu dugaanmu, kan? Baekhyunie, ya Tuhan, apa yang akan kita lakukan? Kau harus keluar dari rumah itu. Tinggallah denganku. Tinggal di hotel. Apa saja!" kata Siwon dengan panik.

"Terima kasih buat tawaranmu hyung, tapi aku merasa aman dengan Chanyeol. Dia punya pistol. Besar," Baekhyun berusaha menenangkan sang kakak.

"Aku tahu, aku pernah melihatnya," Siwon terdiam sejenak. "Tetap saja, aku takut sekali. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Baekhyunie."

"Begitu juga aku," Baekhyun mengakui. "Tapi Chanyeol sedang menyelidikinya, dan dia punya beberapa petunjuk. Oh ya, omong-omong, kami akan menikah."

Siwon mulai menjerit lagi. Baekhyun menjauhkan gagang telepon dari telinganya. Setelah tidak ada suara lagi, dikembalikannya gagang telepon ke telinganya dan berkata, "Tanggal pilihannya adalah hari ketika Eomma dan Appa pulang."

"Tapi itu cuma tiga minggu! Semuanya belum bisa dipersiapkan! Bagaimana dengan gerejanya? Bagaimana dengan resepsinya?"

"Tanpa gereja. Tanpa resepsi."

Siwon mengerang tidak setuju dan terdiam sejenak. "Dengar, kupikir sebaiknya kita menelepon Eomma dan Appa," katanya.

"Kalau kau ingin memberitahu mereka aku akan menikah, baik, meskipun aku lebih suka melakukannya sendiri. Tapi jangan mencoba berpikir untuk memberitahu mereka agar pulang karena orang gila ini."

"Orang gila ini pembunuh, dan dia mengejarmu! Apa kau pikir mereka tidak ingin berada di sini?"

"Apa yang bisa mereka perbuat? Dan aku tak berniat membiarkannya mengejarku. Sistem alarmku sedang dipasang, dan Chanyeol akan lebih sering tinggal di rumahku—akan kupastikan itu. Eomma dan Appa hanya akan cemas, dan kau tahu betapa Eomma sudah lama menunggu-nunggu liburan ini."

"Mereka sebaiknya di sini," Siwon bersikeras.

"Tidak, sebaiknya mereka tidak di sini. Biarkan mereka menikmati liburan ini. Kaupikir aku akan membiarkan ada orang gila di antara aku dan pernikahanku? Yang ini akan tetap terjadi meskipun aku harus mengikat tangan dan kakinya serta menyeretnya ke altar. Atau apa saja," tambah Baekhyun, teringat bahwa pernikahannya tidak akan di gereja.

"Kau mencoba mengalihkan perhatianku, dan tidak berhasil. Aku ingin menelepon Eomma dan Appa."

"Aku tidak mengalihkan perhatianmu, dan ini keadaanku, jadi apa yang kukatakan memang terjadi. Kau boleh memberitahu istrimu, tapi tak seorang pun, benar-benar tak seorang pun, akan memberitahu Eomma dan Appa. Berjanjilah padaku, hyung. Tak seorang pun dalam keluargamu, tak seorang pun dalam keluarga istrimu, baik teman maupun musuh, akan memberitahu Eomma dan Appa tentang ini. Tidak mengirimi mereka surat kilat, telegram, email, atau bentuk komunikasi lainnya, termasuk tulisan asap. Sudah kusebutkan semua, kan?"

"Rasanya begitu."

"Bagus. Biarkan mereka menikmati liburan mereka. Aku berjanji akan hati-hati."

*ChanBaek*

Dua hari kemudian Chanyeol telah kembali ke Seoul dengan hasil penyelidikan yang cukup memuaskan. Karena hari telah sore dan Kai sedang tidak berada di kepolisian Seoul, maka Chanyeol memutuskan untuk langsung pulang—ke rumah Baekhyun, lebih tepatnya. Memastikan pemuda manis itu baik-baik saja. Hari itu luar biasa panas dan keringat bergulir menuruni tulang punggungnya ketika ia masuk ke rumah Baekhyun. Dua mobil yang dikenalnya terpakir di depan, mobil Heechul dan Tao. Sejenak ia menghirup udara sejuk. Dengan paru-paru terselamatkan dari kerusakan akibat panas, ia meletakkan ranselnya di lantai, melepaskan jaketnya dan berjalan menuju sumber suara yang terdengar di dapur.

Baekhyun sedang menuangkan empat gelas es teh, yang berarti ia telah melihat Chanyeol datang. "Kau datang tepat waktu," katanya.

Chanyeol mencium bibir Baekhyun sejenak, melepaskan pistol dan lencananya, lalu menaruhnya di meja dekat mesin pembuat kopi. "Untuk apa?" tanyanya, mengambil satu gelas es teh dan meneguknya dalam-dalam, tenggorokannya bekerja.

"Kami berencana mengadakan upacara peringatan untuk Kyungsoo. Sepupunya, Minho, akan datang," beritahu Baekhyun.

"Di mana dan kapan?" tanya Chanyeol singkat.

"Besok malam, di apartemenku," Tao yang menjawab.

"Oke, aku bisa di sana. Aku takkan mengganggu, tapi aku akan di sana. Hanya untuk berjaga-jaga," putus Chanyeol, lalu menatap Baekhyun penuh arti.

Baekhyun mendengus. Kalau Chanyeol ada di mana-mana, ia mengganggu. Pria tampan itu termasuk orang yang tidak bisa diabaikan. Tapi ia memang membutuhkan Chanyeol ada di sekitarnya saat ini. Menyadari Chanyeol masih menatapnya, Baekhyun balik menatap pria tampan itu. Tatapan penuh arti Chanyeol seolah mengingatkan Baekhyun bahwa ada kabar yang harus ia bagikan pada sahabat-sahabatnya.

"Eum, sebelum kita mulai menyusun rencana untuk upacara peringatan Kyungsoo, aku punya kabar," kata Baekhyun.

Semua mata kini beralih menatap Baekhyun. Chanyeol meneguk teh dinginnya seraya memperhatikan Baekhyun yang sedang menarik napas dalam-dalam. Setelah tiga pertunangannya yang gagal, Baekhyun harus memberanikan diri mengumumkan bahwa ia berniat...menikah...

"Chanyeoldanakuakanmenikah," kata Baekhyun cepat-cepat, mengucapkan kata-kata itu bersamaan seolah dengan cara itu akan tidak begitu menarik perhatian.

Chanyeol telah meletakkan gelasnya di atas meja dan menyumbat kedua telinganya dengan jari-jarinya agar tidak mendengar ledakan jeritan-jeritan para uke. Heechul memeluk Baekhyun. Tao memeluk Chanyeol. Kemudian entah bagaimana mereka semua berpelukan.

Rasanya kurang tanpa Kyungsoo, pikir Baekhyun, tetapi ia menahan air matanya menetes merusak perayaan kecil ini. Hidup terus berjalan.

"Bagaimana? Maksudku, kapan?" tanya Heechul.

"Tiga minggu lagi, ketika orangtuanya sudah pulang," sahut Chanyeol. "Aku sedang berpikir-pikir mungkin di hadapan hakim, tapi keluargaku tak pernah cocok dengan cara itu, dan mereka semua akan ingin hadir."

"Mungkin pesta kebun," kata Baekhyun.

"Kenapa pesta kebun? Pasti ada yang punya rumah cukup luas. Orangtuaku punya tempat besar. Memang mereka harus punya rumah besar karena anaknya tujuh," ujar Chanyeol.

Baekhyun berdehem. "Yah, ada keluargaku, keluargamu, Heechul hyung dan Tao, teman-teman polisimu, dan aku sepertinya akan... ehm... mengundang semua penghuni jalan ini."

"Yah, ya," kata Chanyeol. "Nyonya Kim Hyerin-ssi dan suaminya harus datang, dan Yoona, dan... dan, sialan, pernikahan kecil kita sudah berkembang jadi sekitar seratus orang, kan?" ia mengakhiri ucapannya dengan nada frustasi.

"Takutnya begitu."

"itu berarti kita harus menyiapkan makanan, dan hal semacam itu."

"Nah, kau mengerti."

"Lalu siapa yang akan mengurusinya?" ekspresi Chanyeol jelas menyatakan bukan ia lah orangnya.

"Siwon hyung. Dia suka sekali hal-hal seperti ini. Tapi jangan yang macam-macam. Aku sedang bangkrut. Harus membayar cicilan rumah, memasang sistem pengamanan baru, membeli Caller ID..."

Baekhyun menghitung dengan jarinya pengeluaran apa saja yang harus ia lakukan. Sementara itu Heechul mengeluarkan uang lima dolar dari sakunya dan menaruhnya di tangan Tao. "Apa kubilang," kata Tao bangga.

Baekhyun menghentikan hitungannya dan menyipitkan matanya kepada mereka berdua. "Kalian sudah bertaruh mengenai kehidupan asmaraku," tuduhnya.

"Ya, dan terpaksa aku bilang, aku kecewa denganmu," kata Heechul, berusaha terdengar galak. Ia masih tertawa, sehingga usahanya gagal. "Kupikir kau akan membuat dia menunggu setidaknya beberapa minggu."

"Dia tak bisa menolakku," kata Chanyeol dengan puas diri, sambil menuang es teh lagi untuk gelasnya.

"Aku kasihan padanya," Baekhyun mengoreksi. "Merengek-rengek dan mengemis-ngemis. Membuatku iba."

Chanyeol menyeringai menjanjikan pembalasan. Baekhyun merasakan getaran menunggu-nunggu. Ia mungkin terpaksa bercinta dengan Chanyeol. Oh, tiga atau empat kali untuk mengobati perasaan terluka pria itu. Benar-benar pengorbanan!

Tbc