*It's gonna be a long part. Unedited. Beware of typos!

.

.

.

.

Part 19

Dengan mata masih mengantuk tersorot sinar matahari pagi di hari sabtu, Chanyeol menguap dan bangkit duduk di ranjang Baekhyun. Para uke menyusun rencana untuk peringatan Kyungsoo hingga larut malam, dengan berbekal bir dan cokelat. Hingga sekitar tengah malam akhirnya Heechul dan Tao memutuskan untuk pulang, tentu setelah Chanyeol memeriksa kadar alkohol yang sudah mereka minum dengan alat Breathalyzer. Tao oke. Heechul nyaris melewati batas, tapi masih boleh untuk mengendarai mobil. Sementara kedua sahabatnya telah pulang, Baekhyun yang terlalu mabuk ada di bawah meja, tidur meringkuk berbantalkan kedua tangannya yang terlipat, tampak seperti malaikat. Chanyeol mendengus, sungguh menipu, pikirnya. Namun Chanyeol tetap menggendong Baekhyun ke kamar, membaringkannya di ranjang, lalu tidur disampingnya.

Chanyeol kurang tidur selama hampir dua malam terakhir dan muak sudah seharian memburu petunjuk-petunjuk kasus yang membingungkan. Ia capek, butuh tidur lebih lama jika saja tidak ada si manis yang berbaring di bawahnya, menggoyang-goyangkan pantat indahnya terus hingga ia tidak bisa tidur. Kini ia terbangun pagi-pagi sekali, melangkah dengan setengah mengantuk ke dapur. Ia memutuskan untuk membuat sepoci kopi sebelum membangukan Baekhyun. Ketika kopi sudah siap, ia membuka-buka lemari-lemari dapur untuk mencari cangkir, dan mengambil dua cangkir. Ia hanya mengisi setengah ke satu cangkir, untuk berjaga-jaga jika saja tangan Baekhyun masih bergetar—efek dari mabuk. Namun ia mengisi penuh cangkirnya sendiri. Kemudian, dengan nampan ia membawa poci kopi dan dua cangkir itu ke kamar dan meletakkannya di atas meja nakas samping tempat tidur Baekhyun.

Sejenak Chanyeol menatap Baekhyun yang tidur seperti anak SD yang manis, meskipun ia harus tabah menjaga diri bergaul dengan teman-temannya yang ajaib itu. "Oke sunshine, waktunya bangun sekarang," katanya.

Namun tidak ada reaksi sama sekali dari Baekhyun. Chanyeol merasa seperti ia sedang berbicara kepada tembok. "Sayang!" katanya lagi, lebih keras.

Masih tidak ada reaksi.

"Byun Baekhyun!"

Dan masih tetap tidak ada reaksi.

Senyum lebar mengembang di wajah tampan Chanyeol saat sebuah ide jahil melintas di kepalanya. Sebenarnya bisa saja ia mengguncang-guncang tubuh Baekhyun, tetapi itu tidak begitu menyenangkan. Maka ia beranjak ke dapur, mencari-cari, dan menemukan panci dan sendok logam. Ia kembali lagi ke kamar, lalu memukul-mukul panci dengan sendok logam. Akibatnya Baekhyun terlonjak bangun, terjatuh dari ranjang dengan suara gedebuk yang cukup keras.

"Bajingan!" jerit pemuda manis itu, marah dan kesakitan.

Setelah misinya tercapai, Chanyeol setengah melempar panci dan sendok ke atas ranjang, lalu membungkuk untuk memberikan cangkir kopi kepada Baekhyun. Baekhyun masih duduk di lantai, menggosok—gosokkan punggungnya, dan memelototi Chanyeol.

Ya Tuhan, aku mencintai pemuda ini, pikir Chanyeol tersenyum.

"Ayo, cepat siap-siap," seru Chanyeol. "Upacara peringatan Kyungsoo kira-kira empat jam lagi."

"Empat jam?" erang Baekhyun. "Kau yakin?"

"Ya, kau dan kedua sahabatmu yang menyusun rencana ini, jika kau lupa. Itu artinya kita harus tiba di apartemen Tao tiga jam lagi untuk melakukan persiapannya. Minum kopimu, kau harus menghilangkan rasa mabuk—"

"Aku tidak mabuk," gerutu Baekhyun, tapi ia berusaha meneguk kopinya.

"—makan sesuatu, kalau bisa, mandi, keramas, apa saja yang harus kau lakukan. Kau tak punya waktu untuk duduk di lantai dan mengomel."

"Aku tidak mengomel."

Tidak, itu lebih terdengar seperti geraman. Mungkin suasana hati Baekhyun bisa diobati dengan seks—jika Chanyeol masih tetap hidup setelahnya. Rasanya Chanyeol tahu bagaimana perasaan belalang sembah jantan ketika mendekati betinanya, tahu seks akan nikmat tapi kepalanya akan digigit sampai putus. Yah, ada hal-hal yang layak dengan pengorbanan kehilangan kepala.

Baekhyun menjulurkan tangannya, memegang cangkir kosong. Chanyeol mengambil poci kopi dan mengisi cangkir itu lagi. Baekhyun masih duduk di lantai, meneguk habis kopinya. Sementara Chanyeol hanya berdiri dan memandangnya sambil berpikir. Jika Tuhan menghendaki, ia bisa membayangkan hidup empat atau lima puluh tahun lagi dengan Baekhyun. Menakutkan, tetapi yang lebih menakutkan adalah ia menyukai gagasan itu.

Lima belas menit kemudian Baekhyun nampak lebih sadar dan cangkirnya telah kosong lagi. Dengan sedikit kesulitan Chanyeol memaksa Baekhyun—yang masih cemberut—berdiri dan menyeretnya ke kamar mandi. Baekhyun hanya berdiri dan memandang Chanyeol dengan kesal ketika pria tampan itu menghidupkan shower dan mulai melepaskan pakaiannya sendiri, lalu pakaian Baekhyun.

"Kau berniat keramas?" tanya Chanyeol.

"Ya," jawab Baekhyun.

"Bagus. Kalau begitu, tidak apa-apa begini," Chanyeol menggendong Baekhyun dan membawanya ke bawah shower, langsung di bawah siraman air yang dingin.

Baekhyun tersedak dan terbatuk-batuk, namun tidak melawan. Ia justru menghembuskan napas lega, seolah air itu terasa sangat enak. Setelah Chanyeol memberi sampo dan mengeramasi rambut Baekhyun, pemuda manis itu berkata,

"Aku sedang uring-uringan."

"Aku tahu," ujar Chanyeol.

"Aku selalu uring-uringan kalau kurang tidur."

"Oh, jadi itu masalahnya?"

"Yang terpenting, aku biasanya sangat bahagia kalau sudah minum beberapa bir."

"Kau bahagia tadi malam. Pagi ini lain lagi ceritanya."

"Kau pikir aku mabuk. Tidak. Yah, agak pusing, tapi tak banyak. Anggap saja ini sebagai peringatan untukmu kalau kau membuatku tidak bisa tidur lagi malam ini."

"Aku membuatmu tidak bisa tidur? Aku membuatmu tidak bisa tidur?" ulang Chanyeol tidak percaya. "Kaulah yang membangunkanku dari tidur lelapku pada jam dua pagi kemarin, kan?"

"Aku tidak membangunkanmu. Aku hanya agak menyenggolmu, tapi aku tidak membangunkanmu," sanggah Baekhyun.

"Menyenggol," ulang Chanyeol, mendengus.

"Penismu berdiri. Aku tak mungkin menyia-nyiakannya, kan?"

"Kau bisa membangunkanku lebih dulu sebelum mulai tidak menyia-nyiakannya."

"Begini," Baekhyun mulai merasa jengkel. "Kalau kau tak mau penismu digunakan, jangan tidur telentang dengan penismu tegak seperti itu. Aku tak tahu itu apa, kalau bukan undangan."

"Aku sedang lelap. Penisku begitu dengan sendirinya."

Sebenarnya, penisnya sedang menegak dengan sendirinya saat ini juga. Menusuk perut Baekhyun. Baekhyun menunduk...dan tersenyum. Senyum yang mulai membuat tubuh Chanyeol mulai cemas. Dengan mendengus Baekhyun berbalik memunggungi Chanyeol dan tidak menghiraukannya, lebih memilih untuk menyelesaikan mandinya.

"Hei!" kata Chanyeol menarik perhatian Baekhyun. Terdengar nada cemas dalam suaranya. "Kau akan menyia-nyiakan yang ini?

*ChanBaek*

Upacara peringatan untuk Do Kyungsoo yang dibuat oleh para sahabatnya di apartemen Tao berjalan dengan lancar, meski nyaris mundur hampir satu jam karena acara mandi bersama Chanyeol dan Baekhyun justru berakhir dengan seks kilat yang menggairahkan. Sesuatu yang terus menyodok perutnya itu membuat Baekhyun berpikir bahwa tidak baik menyia-nyiakannya, benar kan?

Seusai acara Chanyeol harus kembali bertugas. Setelah memastikan keamanan Baekhyun dan kehadiran para polisi berpakaian biasa yang diperintahkan oleh Kai terus berjaga di sekitar sang kekasih, Chanyeol pun mengendarai mobilnya menuju departemen kepolisian Seoul. Tentu setelah meninggalkan ciuman lembut di bibir dan kening Baekhyun, juga pesan untuk segera menghubunginya jika sesuatu terjadi.

Pukul tiga sore Chanyeol muncul di ruangan timnya dengan membawa map vinil. Kai yang sedang membuat sepoci kopi menoleh dan menyapa sang rekan yang langsung mendudukkan dirinya di salah satu kursi. Dituangnya poci kopi ke dua cangkir, lalu ia menghampiri Chanyeol dengan membawa dua cangkir itu. Chanyeol meletakkan map vinil yang dibawanya ke atas meja dan menerima cangkir kopi yang disodorkan oleh Kai, menyesapnya perlahan. Sementara Kai duduk di seberang Chanyeol dengan cangkir kopi miliknya, memperhatikan sang rekan membuka map itu, mengeluarkan catatan dan beberapa map arsip, lalu menghamparkannya di atas meja. Bersama dua cangkir kopi mereka mulai memeriksa catatan dan map arsip itu sambil berdiskusi, membuat teori-teori berbahaya mengenai apa yang telah terjadi.

"Apa kau dapat menghubungi pemimpin penyidik dari kasus pembunuhan di Jeju, hyung?" tanya Kai.

Chanyeol mengangguk. "Yap, aku akhirnya menemukan mantan kapten Lee Kwangsoo. Dia pindah setelah pensiun beberapa tahun lalu, dan untuk membuat semakin sulit menemukannya, dia pergi memancing dengan putra dan cucunya," jawabnya.

"Jadi, apa yang dapat dia katakan?"

"Kurang lebih seperti apa yang aku duga sebelumnya," Chanyeol menyeringai. "Sang korban, Kim Luhan, memiliki ciri-ciri seperti korban yang lain. Muda, manis cenderung cantik, dan berambut cokelat. Dan saat aku menjelaskan tentang pembunuhan lainnya dan menjelaskan modus operandi pembunuhnya, dia setuju bahwa ada persamaan, tetapi ada beberapa yang tidak sesuai."

"Seperti?"

"Kim Luhan diperkosa, disiksa dan mayatnya ditinggalkan di pelabuhan yang sepi. Tetapi Kim Luhan menghilang kurang dari dua belas jam, dan dia tidak benar-benar telanjang," Chanyeol berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Tidak ada catatan bahwa dia menerima hadiah, kecuali dia memakai sebuah cincin."

"Apa menurutmu dia adalah korban pertama dan itulah sebabnya tidak ada hadiah-hadiah, tidak ada rayuan nyata sebelum penjahat itu menculiknya?" Kai menghembuskan napas. "Dan berapa banyak korban yang menerima hadiah cincin?"

"Itulah yang kupikirkan. Kita tahu dengan pasti bahwa Victoria dan Do Kyungsoo mendapatkannya, tetapi tidak ada pimpinan penyidik lain yang menyebutkan tentang cincin sebagai salah satu hadiahnya."

"Apakah Kim Luhan sesuai dengan ciri-ciri korban yang lain? Kau percaya bahwa Kim Luhan dibunuh oleh orang yang sama, kan?"

Chanyeol mengangguk. "Ya, aku percaya. Dan instingku mengatakan bahwa Kim Luhan-lah korban pertama."

"Lalu apakah kita akan menyimpulkan bahwa pembunuh itu memilih tipe wanita dan laki-laki tertentu secara acak?" Kai melihat lurus ke arah Chanyeol. "Bagaimana dengan korban yang lain? Apakah mereka terhubung satu sama lain?"

"Aku tidak tahu dengan lain, tetapi kapten Lee Kwangsoo mengatakan bahwa Kim Luhan dan Victoria pernah bersekolah di SMA swasta bersama, dan pernah menjadi teman baik."

"Apa fakta itu penting? Apakah itu berarti mereka mengenal pembunuhnya, dan pembunuh itu memilih korban pertamanya karena alasan khusus, selain yang sudah jelas?"

Chanyeol tidak menjawab. Ia sibuk mengaduk-aduk kertas di meja, mengambil selembar, menelitinya, kemudian mengulangi proses tersebut berulang-ulang. "Bajingan," katanya kemudian.

Kai yang sedang meneguk kopinya menoleh pada Chanyeol. "Apa yang kau temukan, hyung?" tanyanya.

"Mungkin bukan apa-apa," Chanyeol berkata. "Kim Luhan dibunuh tujuh tahun yang lalu, dan tiga pembunuhan berikutnya berlangsung di tahun berikutnya, semuanya dalam jangka waktu enam bulan," Chanyeol mengangkat lembar kertas di tangannya dan mengibaskannya. "Dua pembunuhan di Sokcho baru terjadi tiga tahun kemudian," ia melihat pada satu laporan ke laporan yang lain. "Pembunuhan di Sokcho yang pertama terjadi di bulan September dan yang kedua terjadi di bulan Desember. Itu dua setengah tahun yang lalu."

Kai meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan mengernyit sesaat, berpikir. "Memang tidak ada ukuran waktunya. Dia membunuh secara acak. Satu pembunuhan, lalu tiga, lalu dua, lalu satu, dan sekarang tiga—termasuk Do Kyungsoo," katanya.

Hening sejenak. Kai dan Chanyeol sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga kemudian Kai mendesah frustasi dan berkata, "Penjahat kita pintar. Dia menertawakan kita di luar sana. Dia mengira, dia tak terkalahkan. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Chanyeol menyesap kopinya sambil berpikir. "Kupikir kita perlu mencari tahu lebih banyak tentang para korban, dimulai dengan Kim Luhan. Kita harus bicara dengan keluarga Kim Luhan secepatnya," jawabnya kemudian.

Diskusi mereka terhenti saat ponsel Chanyeol berdering. Melihat nama Baekhyun berkedip-kedip di layar ponselnya ia pun segera menjawab, "hai, Say—"

Belum Chanyeol menyelesaikan sapaannya, suara Baekhyun yang terdengar cemas langsung membuatnya siaga. "Tenanglah, aku akan segera ke sana!" serunya seraya berdiri dan beranjak pergi dengan tergesa-gesa, mengabaikan cangkir kopinya di atas meja dan panggilan Kai yang nampak bingung.

*ChanBaek*

Baekhyun meletakkan kiriman yang baru diterimanya di tempat tidurnya, lalu berdiri di sana melihat selembar pesan, tiga lembar sketsa vulgar dan hadiah sebotol cologne. Ia mengabaikan pesan dan hadiahnya, tapi sketsa-sketsa itu begitu mengganggunya. Bukan berarti ia tidak pernah mencoba alat-alat seks yang aneh dengan mantan-mantan pasangannya, tetapi ia tidak tertarik dengan S&M, kecuali menikmati sedikit pukulan di pantatnya. Ia yakin sekali melihat dirinya sendiri digambarkan sebagai budak seks yang disiksa tidak akan menarik baginya.

Dengan tubuh gemetar Baekhyun melihat tiga buah sketsa yang tiba sore ini. Kiriman itu tergeletak di depan pintu rumahnya ketika ia baru saja tiba. Salah satu sektsa menggambarkan ia benar-benar telanjang dan dimasuki dildo yang sangat besar di lubangnya. Ekspresi pada wajahnya menunjukkan ketakutan dan kesakitan. Perutnya terasa seolah teraduk. Hanya melihat sketsa-sketsa tinta ini membuatnya mual. Sketsa yang kedua tidak kalah mengerikan. Ia digambarkan terbaring pada tempat tidur yang terbakar, mulutnya terbuka berteriak dalam sunyi. Tetapi yang ketiga adalah yang paling mengerikan. Lehernya tersayat dan titik-titik darah menghujani dadanya, menetes dari masing-masing nipple-nya.

Rasa mual semakin menguasainya tepat ketika pintu rumahnya terbuka. Ia bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Laki-laki misterius yang menggambar sketsa-sketsa ini sungguh memiliki imajinasi yang sangat gila. Ketika sedang berkumur, ia mendengar suara Chanyeol memanggilnya.

"Baekhyun? Sayang! Kau di mana? Apakah kau baik-baik saja?"

Setelah mengelap mulutnya yang lembab dan menggantung handuk itu di rak, Baekhyun berbalik meninggalkan kamar mandi. Tepat ketika itu ia berpapasan dengan Chanyeol yang datang dengan wajah cemas.

"Sial, mengapa kau tidak menjawabku?" Chanyeol meraih bahu Baekhyun dengan kedua tangannya dan menatap pemuda manis itu.

"Aku terlalu sibuk muntah," Baekhyun berkata.

Chanyeol menyipitkan matanya, menatap Baekhyun dengan bertanya-tanya. "Apa kau hamil?" tebaknya.

"Tentu saja tidak!"

"Oh, sayang sekali. Mungkin aku harus lebih rajin mendonorkan spermaku ke dalam lubangmu agar kau—"

Chanyeol sedikit berjingkat saat Baekhyun menendang kakinya, kedua tangannya otomatis terlepas dari bahu sang kekasih dan beralih mengusap kakinya yang terasa nyeri. Baekhyun memelototi Chanyeol dan mendesis kesal,

"Aku laki-laki jika kau lupa! Lagipula, kalaupun aku bisa hamil, ini bukan waktu yang tepat. Hal darurat sedang terjadi."

Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol teringat kembali pada alasan kenapa ia terburu-buru pergi tepat setelah menerima telepon dari pemuda manis tersebut. Raut wajahnya mulai berubah serius dan siaga.

"Jadi, ada hal darurat apa? Saat kau menelepon, kau menyuruhku untuk datang secepat mungkin," tanyanya.

"Apakah kau melihat benda-benda yang tergeletak di tempat tidurku?" Baekhyun balik bertanya.

"Tidak juga. Aku tidak berhenti untuk melihat-lihat saat masuk tadi. Aku mencarimu. Aku mengkhawatirkanmu."

Baekhyun menarik napas dalam-dalam sejenak. "Aku rasa, aku ada dalam masalah besar."

Chanyeol memandanginya dengan bertanya-tanya. "Masalah seperti apa?"

Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol, lalu menariknya ke kamar, ke tempat tidurnya. "Lihat benda-benda itu. Aku menerimanya tadi sore, ada di depan pintu rumahku ketika aku pulang. Tidak ini saja," ia melangkah dengan cepat menuju lemarinya, membuka salah satu laci dan mengeluarkan sebuah amplop besar dan menunjukkannya pada Chanyeol.

Chanyeol membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya ke atas tempat tidur Baekhyun. Selembar pesan bernada puitis, selembar sketsa sensual dan seuntai kalung dengan bandul kalung batu yang indah. Kiriman yang sama persis dengan kiriman yang pernah diterima oleh Do Kyungsoo dan korban lainnya.

"Kapan kau menerima benda-benda ini, Baekhyun?" Chanyeol menatap sang kekasih dengan tajam.

"Beberapa hari setelah kau pergi ke Jeju sepertinya, aku tidak ingat. Banyak hal yang terjadi dalam minggu ini, Chanyeol, hingga aku sempat melupakannya. Tapi saat menerima kiriman itu lagi hari ini, aku jadi teringat dan...sketsa-sketsa itu sungguh membuatku merasa mual," Baekhyun menutup mulut dengan tangannya, wajah manisnya mulai memucat saat melihat Chanyeol mendesah dan membalik tubuhnya.

Detektif tampan itu mengusap kasar wajahnya dan mengumpat pelan. "Sial! Aku tidak percaya ini!" gumamnya.

"Apa? Ada apa?" Baekhyun memegang lengan Chanyeol dan menariknya.

Chanyeol berbalik perlahan, lalu mengulurkan tangannya dan menangkupkannya pada wajah manis Baekhyun. "Ini buruk, Sayang. Benar-benar buruk."

"Aku sudah cukup takut. Kau tidak perlu menakutiku lagi," Dengan ketakutan yang sangat besar di matanya, Baekhyun menatap lurus pada Chanyeol. "Apa...laki-laki ini adalah orang yang sama yang juga mengirimkan hadiah-hadiah dan pesan-pesan pada Kyungsoo dan membunuhnya? Kau...kau pikir laki-laki ini, pembunuh ini, akan memburuku?"

Baekhyun menebaknya dengan tepat. Chanyeol menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya. "Ya Tuhan!" ucap Baekhyun dengan suara gemetar.

Chanyeol menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya. Ia membelai punggung sang kekasih yang sedang ketakutan, mencoba menenangkannya. Beberapa menit kemudian setelah Baekhyun mulai merasa tenang, Chanyeol memegang pundak pemuda manis itu, mendorongnya ke belakang dan berkata,

"Aku harus menelepon rekanku, Kai dan Lay hyung. Mereka harus melihat benda-benda itu," Chanyeol mengangguk ke arah tempat tidur. "Kita perlu memastikan bahwa kau mendapatkan perlindungan dua puluh empat jam."

Baekhyun melirik ke arah tempat tidur, memandang sketsa-sketsa vulgar dan menjijikan itu. "Kurasa aku akan muntah lagi," ia menjauh dari Chanyeol dan berlari ke kamar mandi.

Sementara Baekhyun sedang muntah untuk kedua kalinya di kamar mandi, Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kai. Pada dering kedua suara sang bos terdengar menjawab di ujung telepon.

"Kai, dengar, hubungi Lay hyung dan kalian berdua datanglah ke rumah Byun Baekhyun secepat mungkin. Rumahnya tepat disamping rumahku. Pembunuh berantai kita telah memilih korban selanjutnya, bos," Chanyeol menghela napas dengan kesal. "Dan sialnya, kali ini adalah kekasihku! Brengsek!"

*ChanBaek*

Dengan cepat Kai dan Lay datang ke rumah Baekhyun. Chanyeol mengenalkan Baekhyun pada dua rekannya, dan menunjukkan benda-benda kiriman sang pembunuh di tempat tidur itu pada mereka berdua. Jika dalam keadaan normal mungkin Kai akan menggoda Chanyeol, karena setelah hampir sebulan detektif tampan itu selalu berbicara tentang tetangga yang ingin sekali ditaklukannya dan kini ia baru diperkenalkan setelah status mereka telah resmi. Tapi karena keadaan darurat yang mengejutkan saat ini maka Kai menyimpan godaannya untuk nanti dan bersikap profesional.

Kai dan Lay memeriksa benda-benda itu dengan teliti, dan mereka pun memutuskan untuk mulai bertindak. Selama enam belas jam lainnya, empat petugas lain akan bertukar jaga selama empat jam sekali setiap hari, untuk menjaga calon korban potensial selanjutnya tetap aman. Chen bersama unit olah TKP telah datang dan mengamankan semua bukti yang diletakkan di tempat tidur Baekhyun. Dan sepanjang masa darurat ini Baekhyun memutuskan untuk mengungsikan BooBoo ke rumah Siwon. Siwon sangat panik saat mengetahui bahwa Baekhyun sedang dalam bahaya dan memaksa sang adik untuk ikut pindah ke rumahnya, namun Chanyeol menyakinkan bahwa keamanan Baekhyun dalam perlindungan polisi dua puluh empat jam. Chanyeol pun memutuskan untuk menghabiskan setiap malam di rumah Baekhyun, ia tidak ingin kecolongan. Satu kiriman lagi dan sang pembunuh pasti akan muncul.

Cepat atau lambat...

*ChanBaek*

Jadi Baekhyun telah menyimpan semua hadiahnya, meski masih kurang satu hadiah lagi. Itu membuatnya senang. Tetapi pemuda manis itu telah menunjukkan benda yang dipilihkan untuknya kepada polisi. Kepada kekasihnya, Park Chanyeol. Kepada kepala detektif Kim Kai dan detektif Lay. Mengapa Baekhyun harus menunjukkan dan membagi benda-benda berharga dan pribadi itu pada orang lain?

Karena pemuda manis itu tidak mengerti, belum. Dia tidak yakin siapa pengagum rahasianya. Saat dia tahu dan yakin bahwa aku adalah laki-laki yang memujanya, pengetahuan itu akan mengubah segalanya. Lagipula dia telah jatuh cinta padaku. Dia menginginkanku seperti aku menginginkannya.

Saat aku pergi dan membawanya, dia akan bahagia. Aku akan membuatnya bahagia. Aku akan mengizinkannya untuk membuktikan padaku betapa ia mencintaiku. Dia tidak akan seperti yang lain. Dia tidak akan mengecewakanku.

Baekhyun akan memberikan apa yang kuinginkan...apa yang kubutuhkan. Iya, kan, Sayangku?

Laki-laki itu mengawasi rumah Baekhyun dari jauh melalui teropong saat kepala detektif Kim Kai pergi dan detektif Lay masuk melalui pintu depan. Telinganya terpasang earphone yang tersambung pada ponsel pintarnya, mendengarkan semua percakapan yang terjadi di rumah itu dari penyadap yang telah dipasangnya. Para polisi itu menjaga Baekhyun setiap waktu, melindungi pemuda manis itu dari nasibnya, mencoba memisahkan mereka. Tetapi tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu mencegahnya untuk mengambil apa yang sudah menjadi haknya. Dan Byun Baekhyun adalah miliknya, atau akan menjadi miliknya. Ia hanya harus memikirkan cara untuk membodohi para detektif polisi itu.

Ia tertawa. Membodohi orang-orang itu tidak akan sulit.

Tidak lama lagi, Baekhyun. Tidak lama lagi, Sayangku.

*ChanBaek*

Beberapa hari kemudian...

Menculik Byun Baekhyun akan menjadi tantangan, sesuatu yang ia nantikan. Ia tidak ingin menunggu terlalu lama, tidak sekarang. Ia dapat memberikan lebih banyak waktu dan merayu pemuda manis itu secara perlahan, tetapi pemuda manis itu telah menghapus pilihan tersebut. Detektif Park Chanyeol dan para polisi itu berpikir bahwa mereka memiliki beberapa minggu sebelum ia membawa Baekhyun ke sarang cinta rahasianya. Mereka berpikir bahwa sketsa-sketsa dan hadiah-hadiah akan datang dalam kurun waktu tertentu, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Tetapi tidak kali ini. Ia akan mengalahkan mereka. Dan ia tahu bagaimana caranya.

Jual mahallah Baekhyunku yang cantik. Berpura-puralah kau tidak menginginkanku. Bohongi dirimu semaumu, tetapi pada akhirnya, kau akan mengakui yang sebenarnya padaku. Kau akan mengatakan padaku betapa kau mencintaiku, betapa kau sangat menginginkanku, betapa kau bersedia membuatku senang.

Ia membuka pintu depan rumahnya dan berjalan meninggalkan matahari terik menuju ruang tamunya yang berpendingin ruangan. Saat ia berjalan ke arah dapur, ia membuka jaket lalu dasinya, dan meletakkannya di meja bar, lalu membuka kancing teratas kemeja putihnya. Misa hari ini begitu menyenangkan, topiknya benar-benar pilihan: godaan duniawi. Setiap jemaat laki-laki pasti merasakan seolah-olah mereka sendiri yang dituduh.

Kita semua tahu tentang godaan, ya kan, Baekhyun?

Kita tahu bagaimana rasanya dirayu di luar akal sehat kita.

Kau menginginkanku seperti cara banyak orang menginginkanmu. Kau bangun di malam hari dan memikirkanku, dan memimpikan semua hal nakal yang akan kulakukan padamu saat kita berdua nanti.

Ia mengeluarkan seteko es teh dari kulkas, menuangkan segelas untuk dirinya sendiri dan membawa gelas itu mejanya. Setelah meletakan gelas itu di atas meja, ia membuka papan sketsanya, lalu mengeluarkan pena dan sebotol tinta hitam.

Ia dapat melihat Baekhyun dalam pikirannya. Telanjang. Bergairah. Mendesah.

Dengan semangat ia mulai mensketsa, menciptakan gambaran Baekhyun membara dalam pikirannya. Setelah menyelesaikan sketsa itu, ia meletakkannya di samping, lalu membuka laci meja bawah dan mengeluarkan sebuah kotak merah kecil yang berisi sebuah cincin.

"Besok," ia berbisik. "Besok."

*ChanBaek*

Rencana yang telah ia susun sebelumnya meleset. Penjagaan yang ketat membuatnya harus memundurkan rencana hingga enam hari kemudian. Ia telah menunggu-nunggu saat yang tepat. Ini adalah pertama kalinya ia harus menunggu lebih lama dari yang direncanakan, tetapi Baekhyun menjadikan segalanya lebih sulit bagi mereka dengan mengizinkan orang lain terlibat dalam sesuatu yang seharusnya tetap menjadi urusan pribadi bagi mereka berdua. Meskipun ia memaafkan Baekhyun karena berbuat kesalahan karena akibat Baekhyun belum menyadari tentang identitasnya, ia tetap harus menghukum Baekhyun. Pemuda manis itu akan belajar bahwa mengecewakannya akan berbuah hukuman, terkadang parah, tetapi tak pernah tidak adil. Mungkin Baekhyun tidak akan mengecewakannya lagi. Mungkin Baekhyun akan memuaskannya dari awal mereka bersama.

Lebih dari apa pun di dunia ini, ia menginginkan sekarang menjadi waktu yang tepat, dan Baekhyun akan menjadi kekasih yang tepat. Ia ingin agar Baekhyun dapat menyerupai Luhan. Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi persis seperti Luhan, tetapi ia terus mencari, terus mencari duplikat pemuda cantik itu, seseorang yang hampir sama sempurnanya. Poin utama yang dimiliki oleh Baekhyun adalah kemiripan wajahnya, namun miripkah kesempurnaan mereka?

Jangan memikirkan Luhan. Dia telah pergi selamanya. Beristirahat dalam damai. Jiwanya terbebas dari siksa dunia. Kau berpikir bahwa saat dia meninggal, kau juga dapat menemukan kedamaian, bahwa kau akan terlepas dari mengingat hari-hari memalukan itu lagi.

Tetapi kematian pemuda cantik itu tidak membebaskannya. Hal itu bahkan menjebaknya.

Sebuah mobil menepi di depan rumah Baekhyun, di samping Toyota Avalon berwarna hitam. Park Chanyeol keluar dan berjalan ke depan pintu. Pintu terbuka dan Kai keluar. Mereka bicara sebentar, lalu saat Chanyeol masuk ke dalam, Kai berjalan menuju mobilnya.

Pergantian penjaga.

Baekhyun mendapat perlindungan polisi dua puluh empat jam sehari. Ia tersenyum. Baekhyun adalah tipe yang ingin membuatnya berusaha lebih keras untuk merayu dan memenangkannya. Baekhyun ingin melihat apakah ia akan menyerah dan pergi begitu saja. Baekhyun mengujinya untuk membuktikan betapa ia menginginkannya.

Jangan khawatir, Sayang. Aku menginginkanmu. Aku cukup menginginkanmu untuk berbuat apa pun yang aku bisa untuk membuatmu menjadi milikku.

*ChanBaek*

Baekhyun bangun pukul 5.30 pagi, kepalanya berdenyut dan jantungnya berdetak kencang. Ia duduk tegak di tempat tidur, mencari udara. Ia menoleh ke sisi lain tempat tidur. Kosong. "Chanyeol?" panggilnya.

Chanyeol mengeluarkan kepalanya dari kamar mandi. "Aku di sini, Sayang. Buang air kecil sebelum aku kembali ke kantor polisi," jawabnya.

Baekhyun menganggukkan kepala mengerti. "Lay-ssi menggantikanmu pagi ini, ya?"

"Yap, dia akan tiba sebentar lagi," Chanyeol menghilang ke dalam kamar mandi selama beberapa detik, lalu keluar dan kembali ke tempat tidur. "Mengapa kau tidak mencoba tidur sebentar lagi? Ini hari Sabtu, dan kantormu libur," ia menarik Baekhyun dalam pelukannya.

"Saat aku tidur, aku bermimpi," Baekhyun berkata. "Aku memimpikan laki-laki itu."

Chanyeol menangkup dagu Baekhyun dengan satu tangan, dan memberikan satu ciuman lembut di bibir sang kekasih. "Kau aman, Sayang. Kita tidak akan membiarkan laki-laki itu mendekatimu. Percayalah padaku."

Baekhyun mencoba untuk tersenyum, tetapi tidak dapat melakukan lebih dari sekadar mengangkat ujung-ujung bibirnya. "Oh, Tuhan, Chanyeol...aku takut sekali."

Chanyeol membelai wajah Baekhyun dengan lembut. "Ya, aku tahu."

"Kau harus menangkap laki-laki itu," Baekhyun menelan ludahnya. "Secepatnya."

Bel pintu tiba-tiba berbunyi. Baekhyun terlonjak seakan-akan ia terkena tembakan. Chanyeol menekan bahu Baekhyun dan menurunkan tangannya ke tangan sang kekasih. "Tenang, itu cuma Lay hyung."

Chanyeol memaksa Baekhyun untuk berbaring kembali, lalu mengecup keningnya. "Cobalah untuk tidur kembali. Aku akan menemuimu malam ini."

Baekhyun mengangguk. Setelah Chanyeol meninggalkan kamarnya, Baekhyun bangun dan segera merapikan tempat tidur, lalu bergegas ke kamar mandi dan mengunci pintu. Ia melepas pakaiannya, menyalakan shower, dan melangkah ke bawah air saat masih setengah dingin. Ia berdiri di sana, gemetar, mengangkat wajahnya, dan membiarkan air menghapus air matanya.

Ia tidak yakin berapa lama ia berada di kamar mandi—lebih dari lima menit, mungkin sepuluh menit. Setelah mengeringkan badan, ia membuka lemari pakaian dan mencari pakaian yang nyaman karena ia akan tinggal di rumah sepanjang waktu, atau paling tidak sepanjang pagi. Mungkin ia dapat meminta Lay untuk mengantarkannya ke supermarket, sedikit berbelanja kelihatannya tidak terlalu buruk.

Perut lapar mengingatkan Baekhyun bahwa ia belum makan lebih dari beberapa suap makan malam. Tetapi gambaran tentang makanan tidak membangkitkan seleranya. Ia membuka pintu kamar tidur dan berjalan ke arah dapur. Hal terakhir yang dapat ia lakukan adalah menyiapkan sarapan untuk Lay. Ia akan menyiapkan segelas kopi dan membuat roti panggang serta scrambled egg. Sebelum masuk ke ruang tamu, ia mendengar suara TV dan mengenali suara tersebut. Sepertinya Lay sedang menyaksikan siaran pagi dari KBS.

"Hei, aku sudah bangun," Baekhyun memanggil saat ia berjalan ke ruang tamu. "Apa kau ingin telur dan roti panggang? Kupikir aku..."

Ia berhenti membatu. Lay tidak ada di ruang tamu. Dia pasti ada di dapur atau kamar mandi, pikir Baekhyun.

"Lay-ssi?"

Tidak ada jawaban.

"Lay-ssi, kau di mana?"

Sunyi.

Baekhyun beranjak ke kamar mandi luar dan mengetuk pintu tertutup itu. "Lay-ssi?"

Tak ada suara.

Ia menggoyangkan gagang pintu, lalu membuka pintu itu. Kamar mandi itu kosong. Ia yakin detektif Lay pasti ada di suatu tempat, di rumahnya. Chanyeol tidak mungkin meninggalkannya sendirian.

Mungkin Lay-ssi berada di luar, di serambi depan, pikirnya. Ia bergegas ke pintu depan, menemukan pintu itu terkunci dan gerendelnya masih ada di sana. Sistem alarmnya juga masih aktif. Hal ini membuat jantungnya berdetak cepat.

Jangan panik. Kau tidak sendiri. Lay-ssi ada di suatu tempat di sini. Tapi di mana? Dan mengapa dia tidak menjawab ketika aku memanggilnya? Dia mungkin berada di serambi belakang. Bukankah Lay-ssi merokok? Tidak, aku pikir tidak. Mungkin dia sudah membuat kopi dan berjalan kembali ke belakang... Pergi dan lihat saja. Yakinkan pada dirimu sendiri bahwa dia ada di sini, bahwa semuanya baik-baik saja.

Saat Baekhyun sampai pada pintu dapur yang tertutup, ia terhenti. Entah mengapa, ia merasa tidak dapat membuka pintu itu dan masuk ke dapurnya sendiri. Mengapa? Apa yang terjadi padanya?

Karena kau membiarkan imajinasimu menciptakan hantu yang seharusnya tidak ada. Detektif Lay-ssi adalah satu-satunya orang yang berada dibalik pintu itu. Tetapi bagaimana jika...

Baekhyun berbalik dan berjalan melintasi ruang tamu di mana salah satu telepon portabelnya tergeletak di meja kopi. Ia mengangkatnya, lalu menekan nomor Chanyeol. Chanyeol menjawab pada dering ketiga.

"Chanyeol?" Baekhyun memanggil dengan suara bergetar.

"Baekhyun, Sayang, apa yang terjadi?" tanya Chanyeol mulai khawatir.

"Kau tidak meninggalkanku sendirian, kan?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Aku tidak dapat menemukan Lay-ssi. TV-nya menyala, tetapi dia tidak ada di ruang tamu dan dia tidak ada di serambi depan."

"Apa kau sudah memeriksa dapur?"

"Tidak, aku...aku tidak bisa. Aku terlalu takut untuk membuka pintunya."

"Dengar, Sayang, tenanglah. Aku akan menuju ke rumahmu kembali. Apa kau mendengarku? Aku sedang berjalan menuju lobi. Lay hyung ada di sana, mungkin di dapur, membuat kopi. Semua akan baik-baik saja, aku janji."

"Mmm..."

"Baekhyun?"

"Apa?"

"Aku akan menelepon Lay hyung dan menyuruhnya pergi ke ruang tamu untuk memberitahumu bahwa semua baik-baik saja."

"Ya, tolong lakukan itu."

"Aku akan berada di sana dalam sepuluh menit."

"Oke, sepuluh menit."

Tangan Baekhyun gemetar. Ia melemparkan telepon tanpa kabel itu ke sofa, lalu berbalik dan melihat ke pintu dapur yang tertutup. Setelah mengambil napas panjang, ia berjalan lurus ke arah pintu. Saat ia mendengar bunyi dering ponsel milik Lay, ia menghembuskan napas lega. Chanyeol benar. Lay ada di ruang tamu. Semuanya baik-baik saja.

Ia memegang gagang pintu, memutarnya, dan membuka pintu dapur. Sebelum melintasi ambang pintu, ia meneliti ruangan, mencari Lay. Ruangan itu tampaknya kosong, tetapi pintu belakang terbuka lebar. Ia menarik napas panjang. Lay pasti ada di serambi belakang, pantas saja Lay tidak mendengarnya.

Ia melintasi ruangan dan mengarah ke pintu belakang. Tetapi saat ia memutari meja dapur, sesuatu menghalanginya. Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk memproses informasi itu, untuk menyadari bahwa ia melihat sesosok tubuh laki-laki tergeletak di lantai, darah membentuk genangan kecil di sekitar kepalanya.

Detektif Lay tertelungkup di lantai, darah mengalir keluar dari luka yang ada di belakang kepalanya.

Baekhyun membuka mulutnya akan berteriak, tetapi sebelum ia dapat mengeluarkan suaranya, seseorang muncul di pintu yang terbuka dan masuk menuju dapur dari serambil belakang. Baekhyun gemetar, air mata menggenang di matanya. Ia merintih, tetapi tidak dapat bergerak.

"Tidak apa-apa," Laki-laki itu berkata. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku di sini sekarang."

Baekhyun mengenali suara itu. Setelah menyeka air mata, ia memusatkan perhatian pada laki-laki yang berjalan ke arahnya. Laki-laki itu melangkahi mayat Lay dengan tenang. Begitu tenang. Karena rasa ketakutan dan panik yang sedang menderanya, Baekhyun tidak menyadari satu hal yang seharusnya ia pertanyakan: Kenapa laki-laki ini ada di rumahnya?

Ia justru berteriak lega, "Oh, syukurlah itu kau! Sesuatu terjadi pada Lay-ssi. Seseorang memukul kepalanya. Kita harus mencari bantuan."

"Kita tidak memiliki waktu untuk menolong detektif ini," Laki-laki itu berkata. "Kita harus pergi sekarang."

"Apa?"

"Tidak ada apa pun atau seorang pun yang penting, Byun Baekhyun, kecuali kita berdua."

Rasa takut meledak dalam tubuh Baekhyun saat kenyataan menyerangnya. Ya Tuhan, ini tidak mungkin terjadi. Benar-benar tidak mungkin, pikirnya.

"Aku datang untuk membawamu pergi," Laki-laki itu berkata pada Baekhyun dengan tersenyum, menyeringai. "Jadi kita dapat berdua saja, hanya kita berdua."

Tbc