*It's gonna be a long part. Beware of typos!

.

.

.

Part 20

Seoul International Hospital, 20.15 PM.

Kai memberikan secangkir kopi yang didapatnya dari kantin rumah sakit pada Chanyeol. Pria bertubuh tinggi itu terduduk lesu di salah satu kursi tunggu rumah sakit. Wajah tampannya nampak frustasi dan lelah. Mereka bekerja tanpa henti, melakukan pencarian besar-besaran terhadap Byun Baekhyun dan orang yang hampir membunuh rekan mereka Lay. Beberapa anggota polisi berpakaian biasa lainnya yang ditugaskan untuk berjaga di dekat rumah Baekhyun ditemukan tewas. Setelah pencarian sepanjang hari, menggunakan tiga anjing pelacak dan unit helikopter, mereka tidak menemukan apa pun. Nihil. Tidak ada satu pun yang dapat membawa mereka pada Baekhyun atau laki-laki gila yang menculiknya. Siapa pun dia, pengagum rahasia itu adalah seorang bajingan yang cerdik. Mungkin terlalu pintar dan terlalu percaya diri.

Laki-laki gila itu meninggalkan Lay agar mati. Tetapi ternyata, Lay lebih keras kepala dari yang disangka oleh penyerangnya. Setelah berjam-jam operasi untuk memulihkan tekanan pada otaknya, detektif muda itu beristirahat di ruang ICU, dalam kondisi kritis, tetapi tetap bertahan hidup. Suho nampak kehilangan kendali saat mendapatkan berita tentang sang kekasih tadi pagi dan enggan untuk meninggalkan ruang ICU, setelah meminta secara tegas agar polisi segera menemukan laki-laki gila yang membuat kekasihnya kritis. Kemarahan Suho itu cukup dapat dimengerti dan Kai pun hanya dapat mengatakan pada sang direktur muda untuk percaya pada mereka.

Kini, kondisi Chanyeol pun mengkhawatirkan. Pria itu bersikeras untuk terus melakukan pencarian meski tubuhnya nyaris jatuh kelelahan. Kai harus menyeret Chanyeol pergi dan menyuruhnya istirahat setelah membujuknya, mengatakan bahwa tim pencarian dapat mengatasi masalah selama beberapa jam. Namun bukannya pulang untuk makan malam dan istirahat, Chanyeol bersikeras untuk datang ke rumah sakit dan menjenguk Lay. Kai pun memutuskan untuk ikut, ia tidak bisa meninggalkan rekannya yang sedang kacau.

Chanyeol menerima cangkir kopi dari Kai dan hanya menggenggamnya dengan kedua tangannya, lalu kembali menjatuhkan pandangannya ke lantai. "Aku khawatir dengan Baekhyun. Seharusnya aku datang lebih cepat dan mencegah penculikan itu," ia mengetukkan ujung jemarinya di cangkir dengan gugup, menyalahkan dirinya.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, hyung. Ini semua diluar perkiraan kita. Kita pikir jika kita masih memiliki beberapa minggu sebelum kado terakhir datang, tetapi laki-laki itu telah merubah polanya. Tidak ada yang menyangka bahwa laki-laki itu akan menculik Baekhyun-ssi pagi ini dan meninggalkan kado terakhirnya sebagai oleh-oleh untuk kita," Kai berkata seraya duduk di samping Chanyeol. "Penjahat kita memilih waktu di mana tidak ada satu pun anggota polisi berpengalaman selain Lay hyung yang menjaga Baekhyun-ssi. Namun polisi dengan pengalaman puluhan tahun pun bisa melakukan kesalahan. Lay hyung menurunkan kewaspadaannya, itu berarti satu hal. Dan penjahat kita memilih waktu pagi hari untuk menculik Baekhyun-ssi, saat hanya ada beberapa orang yang terbangun dan beraktivitas. Cuma ada beberapa, jika ada, saksi untuk dikhawatirkan. Tetapi cukup banyak aktivitas di jalan sehingga setiap orang tidak akan memperhatikan jenis kendaraan tertentu."

"Kau setuju dengan pemikiran bahwa Lay hyung mengenali laki-laki itu?"

"Tidak ada tanda-tanda pendobrakan pada rumah Baekhyun-ssi. Pintu belakangnya terbuka lebar dan sistem alarm masih berjalan dengan baik, jadi itu menjelaskan bahwa Lay hyung membukakan pintu untuk laki-laki itu."

Chanyeol menarik napas panjang. "Katakan saja, Kai. Katakan padaku apa yang kau pikirkan."

"Dengar, hyung," ujar Kai. "Sebaiknya kita keluar dari sini. Waktu berkunjung telah habis. Kau tidak mungkin menjenguk Lay hyung malam ini, dan para dokter tidak tahu kapan atau apakah dia akan sadar kembali."

"Aku harus melakukan pekerjaanku. Ayo kita kembali dan bergabung dengan salah satu tim pencari."

"Tidak, tidak...sampai kau memakan sesuatu dan beristirahat selama beberapa jam."

"Kai!" Chanyeol merengut tidak setuju. "Oh Tuhan, Kai. Laki-laki itu mungkin telah memperkosanya. Baekhyunku mungkin sedang kesakitan saat ini. Laki-laki itu mungkin telah melakukan segala macam..."

Kai melingkarkan lengannya ke bahu Chanyeol dan melihat rekannya itu dengan iba. "Aku turut menyesal. Kita akan menemukan kekasihmu hidup-hidup. Tapi, hyung, kita manusia biasa. Kita tidak dapat berjalan terus menerus tanpa makanan dan istirahat. Kau dan aku telah ada di lapangan selama lima belas jam," ia meremas bahu Chanyeol sejenak. "Aku lapar dan lelah. Kita perlu mendapat beberapa jam tidur."

"Tapi Baekhyunku..."

"Sebagai pimpinanmu, aku memerintahmu untuk makan dan tidur. Besok pagi kita akan kembali mencari kekasihmu, hyung," Kai melepaskan tangannya dari bahu Chanyeol dan berdiri. "Ayo, kita bisa makan di kedai jajangmyeon sebelum pulang."

Chanyeol menghela napas napas dengan keras. "Oke, kau menang," ujarnya, mengalah. Ia pun berdiri dan beranjak pergi bersama Kai meninggalkan rumah sakit dengan langkah lesu.

*ChanBaek*

Ia tidak dapat menemui pemuda manis itu. Terlalu berbahaya. Departemen Kepolisian Seoul, polisi lalu lintas, dan petugas-petugas kepolisian dari delapan kota khusus tingkat pertama di Korea Selatan masih menjelajahi setiap tempat untuk mencari Byun Baekhyun dan laki-laki yang menculiknya. Petugas-petugas cadangan dan penduduk lokal membantu para penegak hukum dengan suka rela, memberi mereka waktu untuk makan dan beristirahat. Ia memiliki masa yang sulit saat tim yang dipimpin oleh Kim Kai melaporkan sore ini dari tempat di mana Baekhyun menunggunya. Tentu saja, bahkan kepala detektif itu tidak cukup pintar untuk menemukan tempat persembunyiannya yang sempurna.

Waktu yang memungkinkan baginya untuk mengambil risiko menemui Baekhyun mungkin besok malam. Tetapi pada saat itu Baekhyun mungkin akan kelaparan dan juga kotor. Ia harus mengganti seprai, lalu memandikan Baekhyun sebelum mereka bercinta untuk pertama kalinya. Tentu saja, saat ia menyembunyikan Baekhyun di sarang cinta mereka—sementara Baekhyun masih tidak sadarkan diri karena kloroform—ia telah menyentuh pemuda manis itu dan menciumnya, dan...

Hanya memikirkan hal tersebut membuatnya terangsang. Memikirkan saat ia memuntahkan spermanya keluar ke seluruh perut telanjang Baekhyun. Ia harus berhenti memikirkan Baekhyun, berhenti memikirkan tentang hal-hal menyenangkan yang akan mereka lakukan bersama. Jika tidak, salah satu orang di sana akan bertanya mengapa ia berjalan dengan kejantanan terangkat.

*ChanBaek*

Baekhyun membuka matanya dan berteriak. Jerit histerisnya menggema dalam kegelapan. Ia tidak dapat melihat apa pun. Apakah laki-laki itu menguburnya hidup-hidup? Kepanikan seketika menguasainya. Lalu ia merasakan sesuatu di wajahnya, menutupi matanya. Ia meraih dan memegang benda tebal itu, lalu menarik dan membuangnya. Butuh beberapa menit baginya untuk menyesuaikan diri dalam cahaya temaram dan berkosentrasi pada cahaya samar di sudut ruangan. Ia mencoba untuk duduk, tetapi rasa pusing yang mendadak datang menghentikannya. Ia menjatuhkan diri ke tempat tidur dan membaringkan kepalanya di bantal.

Setelah menarik napas panjang dalam usahanya untuk menenangkan diri, Baekhyun memeriksa keadaan sekitar. Kau tidak dikubur hidup-hidup. Syukurlah.

Setelah otaknya meresapi informasi itu, ia mulai tenang, cukup untuk membuatnya berpikir lebih baik. Sebelum ia dapat meneliti keadaan sekitarnya, pikirannya harus mengulang kembali ingatannya yang terakhir.

Oh, Tuhan, tidak! Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Laki-laki itu yang telah menembak Lay-ssi. Begitu banyak darah. Di lantai, di tubuh Lay-ssi, dan pada baju laki-laki itu...kenapa ia baru menyadarinya sekarang?

Baekhyun melihat pada tubuhnya. Pakaiannya menghilang. Ia telanjang. Ia telah mencoba melawan laki-laki itu, tetapi laki-laki itu memperlakukannya seolah-olah ia anak kecil yang tidak berdaya. Laki-laki itu memutarnya, menutup wajahnya dengan kain berbau aneh. Setelah itu, semuanya kabur. Apa yang telah dilakukan laki-laki itu padanya sehingga ia tidak dapat mengingat apa yang terjadi selanjutnya? Apakah laki-laki itu telah memperkosanya selama ia tidak sadarkan diri?

Apa yang dilakukan laki-laki itu tidak penting. Kau masih hidup dan itu yang utama.

Secara samar Baekhyun mengingat saat ia menyadari bahwa laki-laki itu adalah pembunuh dan si pengagum rahasia. Ia menatap pada laki-laki itu dalam ketidakpercayaan dan berkata, "Kau? Tidak mungkin itu kau."

Laki-laki itu adalah orang terakhir di dunia yang dicurigainya. Apakah itu sebabnya tidak seorang pun yang dapat menguak identitasnya? Ia disukai, dipercaya, bahkan dikagumi. Ia adalah laki-laki yang menjadi contoh bagi orang lain.

Tidak ada gunanya mencoba menebak bagaimana laki-laki itu memperdaya semua orang dalam waktu yang lama. Laki-laki itu telah berhasil menculiknya, mengesampingkan semua 'perlindungan' yang ia dapatkan. Yang harus dipikirkannya sekarang adalah cara untuk keluar dari tempat ini—di mana pun tempat ini berada.

Saat Baekhyun mencoba lagi, ia berhasil duduk. Ia mencoba bergerak dan menurunkan kakinya dari tepian tempat tidur. Pada saat itulah ia merasakan sesuatu menempel pada pergelangan kakinya dan mendengar suara besi yang beradu pada lantai semen. Ia melihat ke kakinya dan menyadari salah satu pergelangan kakinya dibelenggu. Sebuah rantai besi panjang tersambung ke borgol dan ujung satunya lagi menghilang di bawah tempat tidur.

Baekhyun mendorong dirinya sendiri untuk berdiri, lalu mencoba melangkah. Satu langkah, dua, tiga, empat, lima, enam...sialan! Ia telah berjalan sepanjang rantai itu mengizinkannya, yang pada saat itu ia sadari, tersambung pada rangka besi tempat tidur. Tanpa menarik tempat tidur itu bersamanya, ia tidak dapat berjalan lebih jauh dari tempatnya berdiri sekarang, tepat di samping wastafel tua.

Tidak ada jendela. Tidak ada pintu. Tidak ada jalan keluar. Ia terperangkap.

Tetapi ia tidak meninggalkanmu di sini agar meninggal. Laki-laki itu akan kembali untuk memperkosa, menyiksa, dan akhirnya membunuhmu.

Baekhyun jatuh tersungkur di samping wastafel tua, mual beberapa kali, lalu muntah berulang-ulang hingga hampir tidak ada yang tersisa dalam perutnya kecuali cairan empedu.

*ChanBaek*

"Jadi, kau akan berbicara dengan keluarga Kim Luhan hari ini?" Kai bertanya di ujung telepon, keesokkan harinya.

"Ya, ayahnya sudah meninggal dan ibunya menolak berbicara padaku. Tetapi Kim Luhan punya adik yang berbeda dua tahun dengannya. Aku meneleponnya pagi tadi dan dia setuju untuk bertemu denganku siang ini," jawab Chanyeol sambil mengemudikan mobilnya. Ia benar-benar tidak membuang waktu untuk melanjutkan pencariannya.

"Semoga berhasil, hyung. Kuharap kau akan menemukan sesuatu yang dapat membantu kita. Oh ya, Chen baru saja menghubungiku. Coba tebak apa yang dia dan unit olah TKP temukan di rumah Baekhyun-ssi?"

"Selain kado terakhir dan darah dimana-mana? Apa?"

"Alat penyadap! Ternyata penjahat kita telah memasang beberapa alat penyadap kecil di beberapa tempat di rumah Baekhyun-ssi. Sepertinya laki-laki itu pernah diam-diam masuk ke rumah Baekhyun-ssi dan memasang alat penyadap tersebut, dan kau tidak menyadarinya."

"Tapi aku sudah memeriksa setiap sudut rumah Baekhyun, berulang kali...bagaimana aku bisa tidak menyadarinya?"

"Seperti yang pernah kubilang, laki-laki itu cerdik. Dia menyembunyikan alat penyadap itu dengan begitu rapi dan tersembunyi. Bahkan Chen dan unit olah TKP lainnya hampir tidak menyadarinya, jika tidak karena sebuah vas bunga yang terlihat miring di dekat tv. Kau tahu apa artinya ini?"

"Bajingan itu telah mendengar semua perkataan Baekhyun denganku selama ini. Dia tahu Baekhyun telah menunjukkan hadiah-hadiah yang diterimanya pada kita. Karena itu dia bisa menipu polisi meski kita telah memberikan penjagaan ketat terhadap Baekhyun!"

"Tepat seperti yang aku pikirkan juga."

"Brengsek! Kuhubungi kau nanti, Kai," lalu Chanyeol menutup teleponnya ketika ia hampir tiba di tempat tujuannya.

Chanyeol tidak tahu apa yang akan ia temukan di rumah adik Luhan, jika memang ada yang dapat ia temukan. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia cari, tetapi firasatnya mengatakan bahwa ia akan menemukan jawaban semua pertanyaan mereka tentang pembunuh berantai "pengagum rahasia". Ia merasa yakin bahwa Luhan adalah kunci untuk menguak misteri itu.

Pagi-pagi sekali mantan kepala penyelidik pada kasus Luhan, mantan kapten Lee Kwangsoo, menemui Chanyeol di rumahnya dan mempergunakan pengaruhnya untuk memberikan salinan arsip tua pada Chanyeol. Pria tua itu pergi setelah memberi tahu beberapa hal kecil yang diingatnya dan menghabiskan satu cangkir teh. Chanyeol menghabiskan setengah hari untuk meneliti arsip tersebut, membaca informasi itu berulang-ulang, berharap akan menemukan petunjuk yang membawanya pada identitas pembunuh Luhan. Setelah hampir tujuh tahun berlalu, kasus itu tetap tidak terpecahkan.

Kim Minseok, adik Luhan, tinggal di kawasan elit Gangnam bersama istrinya. Ia berumur sembilan belas tahun saat kakaknya yang saat itu berumur dua puluh satu tahun, dibunuh. Chanyeol menghentikan mobilnya saat ia tiba di alamat yang dituju. Ia keluar dari mobil, menguncinya dan berjalan di jalan setapak menuju sebuah rumah dua tingkat yang cantik. Ia menekan bel pintu dan menunggu. Beberapa menit kemudian, seorang pria tampan berkacamata membuka pintu, bersama seorang gadis kecil dalam gendongannya.

"Kim Minseok-ssi?" tanya Chanyeol.

"Ya," pria itu memberikan senyum rapuh. "Dan anda detektif Park Chanyeol?"

Chanyeol mengangguk. "Silahkan masuk," dan pria itu membuka pintu lebih lebar.

Chanyeol mengikuti Minseok dari beranda ke dalam ruang tamu yang ditata menarik dan duduk di sofa yang ditunjukkan oleh pria itu, sebuah sofa yang licin dan mengkilat. Sementara Minseok menurunkan gadis kecil di gendongannya ke lantai seraya berkata dengan suara lembut,

"Hyeri-ah, pergilah bermain dengan Eomma di kamar. Appa akan menyusul nanti."

Gadis kecil yang cantik itu tersenyum saat sang ayah membelai kepalanya, sebelum kemudian menganggukkan kepalanya dan berlari pergi mencari ibunya. Sepeninggal sang putri, Minseok beranjak duduk di depan Chanyeol dan menatap detektif muda itu dengan penasaran.

"Saya menghargai anda bersedia berbicara dengan saya," Chanyeol mulai bicara.

"Jika apa yang anda katakan itu benar, bahwa laki-laki yang telah membunuh kakak saya telah membunuh delapan orang lainnya..." suara Minseok terdengar bergetar. Ia mengaitkan jari-jarinya.

"Saya telah berbicara dengan mantan kapten polisi Lee Kwangsoo. Dia telah meneliti kasus itu bersama saya dan saya telah meneliti arsip-arsip, mencari apa pun yang dapat membantu saya."

"Tetapi anda tidak menemukan apa pun."

"Ya."

"Pada akhirnya, polisi menyimpulkan bahwa kakak saya telah diculik, diperkosa, dan dibunuh oleh pelancong gila yang kemudian langsung pindah setelah dia membunuh."

"Tidak satu orang pun dari keluarga, teman-teman, atau kenalannya yang membenci Luhan-ssi?"

"Benar. Kakak saya sangat disukai oleh semua orang. Dia pandai, menarik, dan..." Minseok mengusap air matanya.

"Apa anda mengatakan Luhan-ssi tidak memiliki musuh, seseorang yang cemburu padanya? Tidak ada mantan pacar yang mungkin tidak menerima saat dia memiliki kekasih baru dalam hidupnya?"

Minseok melihat lurus ke arah Chanyeol. "Tentu saja ada orang-orang yang cemburu padanya. Semua gadis dan pemuda uke iri padanya. Tidak ada seorang berambut cokelat pun di sekolah SMA St . Mourist yang tidak ingin menjadi anggota Exylion. Itu adalah salah satu sekolah swasta paling bergensi, anda tahu. Tetapi yang memperkosa dan membunuh kakak saya bukan seorang gadis ataupun pemuda uke. Dan mengenai masalah mantan pacar..." ia menggelengkan kepalanya. "Jika anda membaca arsip polisi, anda akan tahu bahwa kapten Lee Kwangsoo telah menanyai semua mantan kekasih kakak saya, dan tidak ada seorang pun yang menjadi tersangka."

"Apa itu Exylion?" Chanyeol bertanya, mengernyit. Ia baru mendengar hal itu.

Minseok tersenyum. "Oh, itu sebuah klub kecil sangat ekslusif yang dibentuk kakak saya," jawabnya. "Hanya untuknya, dan beberapa sahabatnya yang juga berambut cokelat. Klub orang-orang keren dan populer, begitu mereka menyebutnya. Anggotanya tidak hanya laki-laki, ada beberapa gadis juga. Dia membentuk kelompok itu di tahun ketiganya di SMA St . Mourist."

Mendengar hal itu membuat perut Chanyeol terasa menegang seketika. "Ada berapa anggota Exylion itu?"

"Ya ampun, saya tidak yakin. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Tidak banyak. Lima atau enam kurasa, jika kakak saya dihitung," Minseok tertawa kecil.

"Minseok-ssi, apakah anda keberatan mengingat tepatnya berapa orang anggota Exylion dan siapa saja nama mereka?" Chanyeol bertanya lagi. Namun ia menyadari pertanyaannya menganggu dan kurang sopan, maka ia menambahkan, "Tolong."

"Oh, tentu...yah, coba saya ingat. Ada kakak saya dan Hejin hyung tentu saja."

"Byun Hejin," ucap Chanyeol.

Kening Minseok mengerut. "Dia juga dibunuh di Daegu, dan selama beberapa waktu kami menduga...polisi tidak dapat membuktikan bahwa kedua pembunuhan itu berhubungan. Hejin hyung dibunuh hampir setahun kemudian, dan meskipun ada kemiripan..." ia menarik napas panjang sesaat. "Tetapi anda telah mengetahui semua ini, ya?"

Chanyeol mengangguk dan kembali bertanya, "Dapatkah anda mengingat nama-nama anggota lain dalam klub kecil ekslusif milik Luhan-ssi?"

"Saya tidak yakin..." ujar Minseok agak ragu.

"Beri saya nama belakang, deskripsi...atau apa saja."

"Ada seorang gadis, dia cukup dekat dengan Luhan hyung. Saya tidak dapat mengingat namanya. Dia tidak lulus dari sekolah St . Mourist. Karena beberapa hal, dia keluar di akhir tahun ketiganya."

"Apakah namanya Victoria Song?"

"Mungkin saja. Saya hanya bertemu dengannya satu kali...pada pesta ulang tahun kakak saya, dan ada ratusan orang di sana."

"Apakah anda mengenal Park Haneul, Kang Higo dan Lee Jina?"

"Hmm...Park Haneul sepertinya terdengar akrab di telinga saya. Saya cukup yakin salah satu anggota Exylion ada yang bernama Haneul, tetapi saya tidak yakin dengan nama marganya. Dia lulus bersama kakak saya, namun mereka masuk ke universitas yang berbeda. Sedangkan untuk nama Kang Higo dan Lee Jina...ya, saya mengenal mereka. Mereka sahabat kakak saya dan bagian dari Exylion juga." Minseok terdiam sejenak dan menatap Chanyeol dengan tajam. ""Mengapa anda bertanya pada saya tentang Exylion?"

"Hanya penasaran saja. Mencari jarum dalam jerami," ujar Chanyeol. "Saya rasa anda tidak memiliki buku tahunan dari sekolah , ya? Dari tahun ketiga kakak anda?"

"Tidak, maaf, saya tidak memilikinya. Tetapi Eomma mungkin menyimpan buku tahunan kakak saya."

"Apakah anda bisa mendapatkan salinan buku itu dan mengirimkan pada saya salinan buku tahunan tersebut?"

"Mengapa anda menginginkannya...?" tanya Minseok heran.

"Jika anda pikir hal itu dapat membantu menangkap pembunuh kakak anda, apakah anda akan mengirimkan pada saya salinan buku tahunan itu, Minseok-ssi?" Chanyeol balik bertanya.

"Ya. Ya, tentu saja."

"Saya akan meninggalkan alamat dan nomor telepon saya."

"Akan saya lihat apa yang dapat saya lakukan, detektif Park."

"Saya akan sangat menghargainya."

Chanyeol tersenyum dan bangkit berdiri, pamit untuk pergi. Minseok mengantarnya hingga pintu depan. Setelah membungkukkan tubuhnya dengan sopan pada Minseok, Chanyeol melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba Chanyeol berhenti. Detektif muda itu membalik tubuhnya dan menatap Minseok dengan penuh rasa ingin tahu.

"Minseok-ssi, maaf sebelumnya, tapi saya ingin menanyakan satu hal lagi. Apakah benar jika Luhan-ssi bukanlah kakak kandung anda?" Chanyeol bertanya.

Minseok nampak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Ia ingin bertanya dari mana Chanyeol tahu tentang hal yang hanya diketahui oleh keluarganya itu. Namun kemudian ia justru balik bertanya, "Apakah pertanyaan ini termasuk dalam penyelidikan anda dalam mencari pembunuh kakak saya?"

Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Minseok dengan raut serius. Minseok terdiam sejenak, lalu dengan sendu ia menatap Chanyeol dan menjawab, "Ya, Luhan hyung diadopsi oleh kedua orangtua saya sebelum saya lahir. Menurut pengakuan orangtua saya, mereka menemukan Luhan hyung yang saat itu masih seorang bayi merah, yang baru berusia beberapa minggu, di salah satu rumah sakit di Cina. Luhan hyung adalah korban dari penjualan bayi ilegal yang berhasil diselamatkan oleh polisi. Kedua orangtua saya jatuh cinta pada Luhan hyung dan akhirnya mengadopsinya. Mereka memberinya nama Kim Luhan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang."

"Apa Luhan-ssi tahu tentang kebenaran ini?"

Minseok menggelengkan kepalanya. "Luhan hyung begitu bahagia menjadi bagian dari keluarga Kim. Orangtua saya tidak tega menghancurkan kebahagiaan itu, maka mereka diam saja. Saya pun baru mengetahui kebenaran ini setelah pemakaman Luhan hyung."

"Satu hal lagi. Anda tadi bilang, bahwa Luhan-ssi adalah korban dari penjualan bayi ilegal di Cina. Darimana asal Luhan-ssi sebelumnya?"

Minseok terdiam sejenak, berusaha mengingat. "Korea selatan. Bayi-bayi yang dijual secara ilegal di Cina saat itu adalah bayi-bayi kiriman dari Korea selatan. Karena tidak adanya akta kelahiran ataupun surat-surat penting, dan minimnya informasi, orangtua saya tidak bisa melacak keluarga Luhan hyung sebelumnya. Jadi, begitulah..."

Chanyeol mengganggukkan kepalanya dan berterima kasih. Lalu ia beranjak pergi sambil tersenyum puas. Meski tidak banyak, tapi informasi tentang Exylion itu cukup membantunya. Ia hanya harus mencari informasi lagi tentang siswa yang keluar dari SMA di tahun ketiga, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya tentang hal itu. Dan masa lalu Kim Luhan yang mengejutkan. Jika pemikiran Chanyeol benar, maka Kim Luhan adalah saudara kembar Baekhyun yang hilang. Sulit memang memeriksa DNA dari orang yang telah meninggal untuk membuktikan kebenaran itu, tetapi pemikiran Chanyeol tersebut bukannya tidak mungkin, kan?

Chanyeol masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesinnya dan kemudian memacunya pergi dengan cepat. Tujuan berikutnya adalah SMA St . Mourist yang terletak di Ulsan. Akan memakan waktu cukup lama dan melelahkan jika Chanyeol mengendarai mobilnya dari Seoul ke Ulsan. Pilihan satu-satunya adalah dengan menggunakan pesawat. Maka, dibelokkannya mobil ke arah bandara. Meski sedikit merepotkan tapi Chanyeol harus melakukan hal ini. Karena untuk menemukan Baekhyun, ia harus menemukan dulu jawaban dari masa lalu si pembunuh. Ia yakin semua ini akan membawanya pada laki-laki bajingan itu.

Pasti!

*ChanBaek*

Menjelang senja Chanyeol meninggalkan SMA St . Mourist , menaiki taksi yang langsung menuju ke bandara untuk mengejar penerbangannya. Kembali pulang ke Seoul. Ia menghabiskan sebagian sore harinya untuk bertemu dengan kepala sekolah. Laki-laki kecil bertingkah bernama Lee Sooman itu akhirnya setuju untuk mengadakan pertemuan singkat dengan Chanyeol, setelah campur tangan mantan kapten Lee Kwangsoo yang diseganinya.

Sayangnya, tidak banyak yang Chanyeol dapatkan dari pertemuan singkat itu. Lee Sooman tidak bersedia menyebutkan nama murid SMA di tahun-tahun lalu. Dengan keras kepala, laki-laki kecil itu menyatakan bahwa hal tersebut melanggar kebijakan sekolah. Dan tidak, dia tidak akan meminjamkan Chanyeol buku tahunan dari tahun ketiga dan keempat Kim Luhan. Jika keluarga Kim Luhan memilih untuk tidak memberikan buku itu pada Chanyeol, maka pihak sekolah tentu saja tidak dapat melakukan hal tersebut.

Chanyeol telah kehilangan semua sumber. Kecuali satu. Ia mengetahui satu informasi kecil yang bahkan tidak disebutkan dalam arsip polisi. Kim Luhan dan Victoria Song pernah tergabung dalam kelompok remaja berambut cokelat sombong yang menamakan diri mereka Exylion. Dan Chanyeol berani bertaruh bahwa Park Haenul, Byun Hejin, Kang Higo dan Lee Jina juga merupakan anggota dari klub kecil ekslusif itu. Tetapi Chanyeol tidak dapat berpergian dari satu kota ke kota lain, mewawancari orang-orang, menyelediki kehidupan para korban pembunuhan itu. Ia berada di luar wilayah kekuasaannya, tanpa otoritas sama sekali. Yang ia butuhkan adalah penyelidik pribadi. Dan untungnya, ia mengenal salah satunya.

Duduk di bandara yang sibuk dan ramai sambil menunggu penerbangannya, Chanyeol menelepon sang mantan FBI yang kini telah mendirikan agensi detektif sendiri, Zico. Ia berharap sahabat lamanya itu akan setuju lagi untuk bekerja tanpa upah. Baik Chanyeol maupun Departemen Kepolisian Seoul tidak mampu membayar biaya yang ditagihkan oleh 4.50 Agency.

"Yo, Chanyeol. Ada apa?" suara mantan teman sekamarnya di universitas dulu masih terdengar renyah di ujung telepon.

"Aku memerlukan pertolongan lain. Gratisan lainnya," ucap Chanyeol.

"Sesuatu yang berhubungan dengan pembunuh berantai 'pengagum rahasia' itu?"

"kau mengetahui hal itu?"

"Anggap saja aku tidak suka ketinggalan berita. Jadi, apa yang kau perlukan?"

"Aku ingin kau menganggap ini sebagai pertolongan pribadi," Chanyeol berkata. "Departemen kepolisian Seoul tidak menyewamu. Aku yang menyewamu. Dan kau tahu keadaan keuanganku."

Zico tertawa kecil. "Seperti yang kau katakan, ini akan menjadi gratisan lainnya."

"Oke, terima kasih kawan. Pertama-tama, aku memerlukan daftar nama-nama murid yang bersekolah di SMA di Ulsan, pada saat yang bersamaan ketika seorang pemuda bernama Kim Luhan bersekolah di sana. Dia lulus sebelas tahun yang lalu."

"Kirimkan padaku informasi apa saja yang kau miliki dan aku akan segera menyelidikinya."

"Aku juga memerlukan buku tahunan pada waktu tersebut, dari tahun ketiga dan keempat Kim Luhan."

"Oke."

"Dan satu hal lagi."

"Hanya satu lagi."

Chanyeol menggerutu sesaat. "Yah, aku perlu mengetahui mengapa seorang gadis bernama Victoria Song meninggalkan SMA setelah tahun ketiganya."

*ChanBaek*

Suara petir membangunkannya. Ia terlonjak bangun dan melihat ke arah jam digital di meja samping tempat tidurnya. Dua-empat satu. Tengah malam dan hujan sedang turun dengan deras. Ia sebaiknya bangun. Suara petir membuatnya tidak bisa tidur. Tidak ada gunanya mencoba beristirahat.

Ia dapat mendengar suara hujan menimpa atap dan menerpa jendela. Ya Tuhan, betapa ia benci suara itu. Sambil terduduk di tengah-tengah tempat tidur, ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menutup telinganya.

Aku tidak akan mengingatnya. Aku tidak akan mengingatnya. Lawan ingatan itu. Jangan biarkan ia menang. Paksa masuk kembali dalam pikiranmu.

Sayangnya lebih mudah bicara daripada berbuat. Ingatan itu mengalahkannya, menariknya kembali ke masa lalu. Melawan keinginannya.

Ramalan cuaca mengatakan akan hujan, jadi ia membawa payungnya ke sekolah hari itu. Ia tidak menyukai SMA St . Mourist seperti juga sekolah negerinya yang lama, tetapi paman dan bibinya telah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk menyekolahkannya ke sana, jadi ia berpura-pura senang dengan pilihan mereka. Paman dan bibinya memiliki kehidupan mereka sendiri, dan hal terakhir yang mereka harapkan adalah memiliki keponakan yang datang mengganggu karena orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil.

Bulan-bulan pertama di sekolah, semua orang sepertinya tidak menyukainya. Lalu ia mengenal beberapa anak dalam tim debat yang, seperti juga dirinya, juga mengambil klub seni. Ia tidak dapat menyebut mereka teman-temannya, tetapi paling tidak dengan kehadiran mereka, ia tidak merasa sendiri, menjadi bagian dari tim. Tetapi anak-anak populer tidak menyukainya, beberapa atlet sekolah bahkan memanggilnya mata empat aneh dan kepala telur, para gadis dan pemuda uke menertawakannya karena ia begitu kurus dan ceroboh.

Lalu suatu hari, semuanya berubah baginya. Semua terjadi karena Kim Luhan tersenyum padanya dan menyapanya. Ia hampir mati di tempat rasanya. Luhan adalah pemuda uke tercantik di seluruh dunia, dan yang paling populer di . ia mendengar bahwa Luhan putus dengan ketua kelas senior, Jackson Wang, dan setiap orang di sekolah sangat ingin berkencan dengannya.

Luhan tergabung dalam grup elit para junior—semua siswa populer berambut cokelat yang cantik dan menarik—yang memanggil diri mereka dengan sebutan Exylion. Luhan, Victoria Song, Park Haneul, Lee Jina, Byun Hejin, Kang Higo. Ia mendengar bahwa mereka baru saja membentuk grup itu, dan kabarnya tiap orang yang ingin bergabung harus mengikuti inisiasi yang dirancang Luhan. Semua gadis dan pemuda uke iri pada Exylion, dan semua laki-laki menginginkan mereka.

Hingga Luhan mulai berbicara padanya, menjadi begitu baik dan manis. Ia menyangka Luhan adalah orang yang sombong. Tentu saja itu tidak menghentikannya untuk mengagumi Luhan seperti orang-orang lainnya. Pemuda cantik itu tersenyum dan menyapanya setiap hari. Lalu pada hari senin itu, Luhan berhenti dan berbicara dengannya di lorong.

"Jadi, apakah kau memiliki pacar?" Luhan bertanya padanya.

"Tidak, ee...aku tidak memiliki pacar," ia menjawab dengan gugup.

"Itu kabar baik," Luhan tertawa kecil lalu berjalan menjauh, melihat dari balik bahu dan memberinya kecupan dari jauh. Ia berereksi pada saat itu dan di tempat itu juga.

Pada hari selasa, Luhan bertanya apakah ia ingin membawakan buku-buku pemuda cantik itu ke kelas yang mereka hadiri bersama, Sejarah Korea Selatan. Ia tercengang, hingga ia tidak memegang erat buku-buku Luhan dan menjatuhkannya. Luhan berjalan di sisinya saat mereka berjalan menyusuri lorong, sembcari berbicara dan melambaikan tangan pada murid-murid yang lain. Ya Tuhan, ia merasa di puncak gunung pada hari itu.

Pada hari rabu, Luhan duduk bersamanya di kantin dan membuatnya begitu gugup sehingga ia tidak dapat makan. Ia hanya duduk di sana dan memandangi pemuda cantik itu. Ia jatuh cinta, sangat tergila-gila pada Luhan dan jungkir balik karenanya. Ia akan melakukan apa pun—bahkan mati—demi Luhan.

Pada hari kamis, Luhan menemuinya usai sekolah dan bertanya, "Apa kau mau menjadi pacarku?"

"Apa kau bercanda? Apa aku masih bernapas?" katanya terkejut.

Luhan terkikik, lalu mendekat dan menciumnya di bibir. Saat ia meraihnya, pemuda cantik itu mundur dan mengangkat tangannya. "Tidak sekarang. Tidak di sini," ujarnya.

Ia melihat pada Luhan, merasakan detak jantungnya menggila dan dia terangsang. Luhan mengulurkan tangan di dadanya dan berkata dengan lembut, "Besok, usai sekolah, aku akan menunjukkan bagaimana perasaanku terhadapmu. Apa kau mau menemuiku di bawah, di ruang bawah tanah, di ruangan tempat mereka menyimpan semua arsip lama?"

"Kau tahu aku akan melakukannya," sahutnya cepat.

"Bagus. Kita akan memiliki privasi di sana. Ruangan itu cukup mudah ditemukan. Turuni saja tangga di gedung sebelah timur, lalu belok ke kanan dan masuklah ke ruangan kedua di sebelah kanan."

"A...aku tidak sabar lagi."

"Oh, bukankah kau laki-laki yang manis?"

"Kau yang manis," ia berkata pada Luhan.

"Tunggu hingga besok. Kau akan mengetahui betapa manisnya aku," Luhan menjilat bibirnya, lalu mengedipkan mata padanya sebelum berjalan menjauh dan bergabung bersama teman-temannya yang terkikik.

Pagi itu pada pelajaran sejarah Korea Selatan, Luhan menyelipkan catatan untuknya.

Temui aku pukul tiga-tiga puluh. Pergi ke ruang arsip tua di ruang bawah tanah dan tunggu aku. Aku sangat senang sekali. Hanya itu yang ada dalam pikiranku. Hanya kau yang ada dalam pikiranku.

Exylion-mu, Luhan.

Ia menyimpan buku-bukunya di loker, lalu menyemprotkan pewangi mint ke mulutnya dan mengecek ulang kantongnya, memeriksa kondom yang akan dipakainya. Saat menuruni tangga, ia berlari ke ruang penyimpanan. Tangannya gemetar saat ia membuka pintu. Tarik napas panjang dan tenanglah. Kau tidak ingin terlalu senang hingga mencapai klimaks sebelum kau berada di dalamnya.

Ada jendela-jendela kecil di atas satu dinding yang membiarkan cahaya masuk, tetapi hampir tidak cukup untuk menerangi ruangan itu. Jadi ia mencari tombol lampu, lalu menemukannya dan menyalakan lampu gantung. Di luar sedang hujan, ia dapat mendengar gemuruh petir di kejauhan dan melihat tetesan air hujan menimpa jendela yang tertutup itu. Kemudian ia menyadari ada sebuah selimut terhampar di lantai, dengan sebotol minuman yang tampak seperti anggur dan dua gelas berada di tengahnya.

Ia tidak pernah merasakan minuman keras sebelumnya, tetapi jika Luhan ingin mereka berbagi segelas anggur, ia akan melakukannya. Ia akan melakukan apa pun yang diinginkan Luhan. Ia juga belum pernah melakukan hubungan seks, kecuali jika melakukan mastrubasi pada waktu mandi masuk dalam hitungan. Ia benar-benar tidak percaya betapa beruntungnya ia, bahwa kali pertamanya adalah bersama Luhan.

Saat menit demi menit berlalu, perutnya melilit dan kepalanya berdenyut. Ya Tuhan, ia tidak pernah merasa begitu gugup sebelumnya. Ia terus melihat jam tangannya, setiap menit, hingga ia mendengar langkah kaki di lorong. Ia menahan napasnya. Lalu pintu terbuka. Luhan berdiri di sana, seorang dewa yang akan menyerahkan kesuciannya padanya.

"Kau belum siap," Luhan berkata. "Kupikir kau sudah siap saat aku tiba di sini."

"Aku tidak mengerti. Apa yang kau..."

"Kita tidak dapat bermain-main dengan pakaian masih melekat, bodoh. Kupikir, kau sudah melepaskan semua pakaian saat aku tiba di sini, jadi kita tidak perlu membuang waktu. Aku membuka celana dalamku di toilet atas," Luka berbalik dan sedikit menurunkan celana seragamnya yang nampak polos tanpa ikat pinggang, cukup untuk meperlihatkan pantatnya yang telanjang.

Ia menelan ludah dengan kasar.

"Bagaimana jika aku melihatmu melepaskan pakaianmu?" Luhan berkata. "Lalu kau dapat melakukan sebaliknya."

"Oke," ia setuju.

Ia tidak pernah merasa begitu takut—atau begitu bergairah—sepanjang hidupnya. Bagaimana jika Luhan melihatnya telanjang, lalu berpikir ia begitu kurus dan jelek, dan...

"Apa semuanya baik-baik saja?" Luhan bertanya. "Apa kau memerlukan bantuanku?"

"Ah...A-aku tidak yakin."

Luhan menghampirinya dan membuka kancing kemejanya. Putih. Berlengan panjang. Bagian seragam sekolahnya. "Bukalah."

Ia melakukannya. Lalu Luhan membuka ikat pinggangnya dan menurunkan zipper celananya. "Buka yang itu juga," perintah pemuda cantik itu.

Oh Tuhan, rasanya ia akan muntah. Tangannya gemetar. Detak jantungnya memburu. Jangan kena serangan jantung dan mati. Jangan sekarang. Tidak sebelum kau bercinta dengan Luhan.

Ia akhirnya dapat melepas celana dalamnya dan berdiri di sana dalam keadaan telanjang seperti bayi yang baru lahir, lalu melihat kakinya.

"Oh, kau malu. Kau tidak pernah becinta sebelumnya, ya?" tanya Luhan.

Ia menggelengkan kepalanya. Petir menggetarkan bingkai jendela dan air hujan menerpa kaca jendelanya.

"Aku punya kejutan untukmu," Luhan berkata padanya.

Ia menduga Luhan sudah telanjang dan siap untuk bercinta, bahwa pemuda cantik itulah kejutan baginya. Lalu ia mendengar suara pintu terbuka dan suara tawa terkikik menyadarkannya pada fakta bahwa ada orang lain selain ia dan Luhan.

Kepalanya terangkat tepat pada saat Luhan—yang masih berpakaian lengkap—membuka pintu lebar-lebar. Teman-teman Exylion-nya berdiri di luar di lorong, melihat ke arahnya dan tertawa terkikik-kikik.

"Bawa dia masuk, teman-teman," Luhan berkata.

Ia tidak tahu apa yang terjadi, apa maksud dan tujuan Luhan, tetapi seketika itu juga ia mengetahui bahwa mereka tidak akan bercinta. Tidak hari itu. Tidak selamanya. Byun Hejin dan Kang Higo menyeret seekor anjing ras campuran yang besar dan berbulu ke dalam ruangan. Dengan tangan menutupi area pribadinya, ia melihat ke arah anjing dan orang-orang itu, lalu ke Luhan yang tersenyum jahat.

"Aku menjanjikan seks padamu, kan?" Luhan berkata. "Well, ini patner seks untukmu. Dia anjing asli, satu-satunya jenis yang akan mengizinkanmu memasukkan penismu ke tubuhnya."

Luhan tertawa. Mereka semua tertawa. Kecuali Victoria, yang menatap padanya dengan mata terbelalak dan pipi yang bersemu merah. Sementara ia berdiri gemetar, lalu melihat pada Luhan dan bertanya,

"Mengapa?"

"Mengapa? Apakah kau tidak dapat menebaknya?" Luhan balik bertanya dengan menyeringai.

Ia menggelengkan kepalanya.

"Ini inisiasiku untuk Exylion. Aku merancang semua rencana ini sendirian. Aku memang pintar," Luhan berbalik menghadap teman-temannya dan berkata, "Ayo, aku yakin mereka berdua ingin ditinggal sendirian."

Ia berdiri di sana dan memandang pada anjing itu, yang berjalan ke lorong. Merasa seperti orang terbodoh di dunia, ia berlutut di selimut, lalu meringkuk dan menangis. Suara tawa para Exylion bergema lama di dalam kepalanya, bahkan setelah mereka meninggalkannya sendirian di ruang penyimpanan.

Jangan mengingatnya! Jangan memikirkannya!

Ia berteriak dalam pikirannya, tetapi kenangan-kenangan itu tidak dapat membiarkannya sendirian. Mereka datang menghantuinya. Semakin keras ia mencoba untuk mengusirnya, semakin jelas kenangan itu berputar di kepalanya. Seolah-olah hal itu terjadi kembali.

Setelah sekian tahun berlalu, ia tidak memiliki rencana untuk menemui Luhan malam itu. Ia tidak mencari pemuda cantik itu, tidak juga pergi menemuinya. Dan ia tidak berniat untuk menghukum Luhan. Meskipun pemuda cantik itu telah melakukan sesuatu padanya, sebagian dari dirinya tetap menginginkan Luhan. Di umur dua puluh satu—ketika itu—,ia bukan lagi bocah lugu yang dapat dibodohi Luhan dengan kejam.

Luhan sudah menjadi senior di bangku kuliah, dan pergi berlibur ke Jeju. Ia sendiri telah lulus kuliah setelah mengikuti kelas akselerasi selama tiga tahun dengan nilai sempurna dan telah diterima bekerja di sebuah perusahaan ternama. Hari itu ia mendapatkan jatah libur dua minggu dari tempatnya bekerja dan mengajak bibinya, yang telah menjanda selama dua tahun, berlibur bersama. Ia tidak berpikir untuk bertemu dengan Luhan di Jeju, tetapi nasib berkata lain. Mereka berdua bertemu di mall saat ia sedang menemani bibinya berbelanja. Ia dapat mengenali Luhan dalam sekejap. Cantik seperti biasa. Mungkin lebih cantik.

Saat tatapan mereka bertemu dan Luhan tersenyum padanya, ia tahu pemuda cantik itu tidak mengenalinya. Siapa yang mungkin mengenalinya? Ia telah banyak berubah, secara fisik maupun mental. Ia sekarang adalah seorang laki-laki, bukan lagi bocah.

Ia berkenalan dengan Luhan menggunakan nama barunya. Setelah meninggalkan SMA St. Mourist, ia mengubah namanya secara legal. Nama baru, kehidupan baru, kota baru. Mereka bercakap-cakap, dan Luhan mulai menggodanya. Lalu ia menawarkan untuk membawa barang belajaan Luhan ke mobil pemuda cantik itu. Luhan begitu sibuk menikmati perhatian darinya hingga tidak mencurigai apa pun.

Setelah mereka melakukan hubungan seks yang panas di mobil Luhan, ia mengatakan pada Luhan tentang siapa ia sebenarnya. Pemuda cantik itu ketakutan, lalu mulai memukulinya. Itulah saat ia kehilangan kesabaran. Ia mencekik Luhan hingga pingsan, lalu berkendara beberapa blok jauhnya, dan memarkirkan mobil di gang yang gelap. Saat Luhan sadar, mereka sedang berhubungan seks kembali. Luhan berteriak diperkosa, tetapi ia tahu bahwa pemuda cantik itu menginginkannya.

Tetapi karena Luhan tidak juga berhenti berteriak, tidak mau berhenti mengatakan hal-hal buruk padanya, ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali membungkam pemuda cantik itu. Ia mengeluarkan pisau sakunya dan menyayat leher Luhan. Semuanya berjalan dengan mudah. Setelah itu, ia bahkan merasa lebih baik dengan apa yang ia lakukan. Puas dan berkuasa. Ia mengendarai mobil itu menuju pelabuhan, meninggalkan Luhan di sana dan berlari pergi. Saat ia kembali ke Seoul dan kembali pada rutinitas kantor, ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa kini, akhirnya, ia dapat meletakan masa lalu di belakang.

Tetapi ia salah. Benar-benar salah.

Tbc