*Fast update! Beware of typos!

.

.

.

Part 21

Berbaring di tempat tidur dan melihat ke langit-langit ruangan, Baekhyun merasa ia mendengar sesuatu, tapi menganggap itu hanya imajinasinya. Imajinasi liarnya. Ketakutan gilanya.

Aku mulai gila. Aku kehilangan akal sehatku.

Ia tidak tahu berapa lama ia telah terkurung dalam ruang bata ini. Ia menduga baru beberapa hari, tetapi mungkin juga lebih lama. Ia belum makan, dan untuk sementara waktu ia merasa lapar, tetapi kini tidak lagi. Syukurlah, ada air di sana, ia dapat mempergunakan wastafel untuk minum air dan untuk membersihkan dirinya sedikit. Tidak ada handuk dan waslap. Dan satu-satunya sabun berada di luar jangkauan, di pancuran air di sisi lain wastafel dan kaca rias itu.

Di mana laki-laki itu berada? Mengapa dia tidak datang menemuiku?

Ia mendengar suara itu kembali. Di atas kepala. Ia bangkit perlahan ke dalam posisi duduk. Seseorang membuka pintu. Jantungnya berdetak cepat. Apakah laki-laki itu kembali? Ataukah mungkin orang lain telah menemukannya? Apakah ia harus berteriak atau tetap tenang?

"Halo?" ia memanggil. "Siapa di sana?"

"Ini aku, Sayang. Apakah kau begitu merindukanku?"

Oh Tuhan, tidak...tidak!

*ChanBaek*

Jalannya penyelidikan sedikit melambat, dan hampir tiga hari setelah kunjungannya ke St . Mourist Chanyeol mengurung dirinya di ruangan timnya di Departemen Kepolisian Seoul. Dengan serius dan tanpa kenal lelah ia mempelajari semua informasi dan petunjuk yang telah didapatnya, membaca arsip demi arsip, demi mencari sebuah jawaban. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Laki-laki bajingan itu sudah merubah polanya, tidak ada jaminan Baekhyun tetap baik-baik saja saat ini. Menemukan mayat sang kekasih keesokkan harinya adalah sesuatu yang sangat tidak diinginkannya, maka dari itu ia berusaha sangat keras. Jika tidak karena Kai yang menyeretnya untuk makan dan tidur untuk sekedar beberapa jam, mungkin ia akan terus bertingkah layaknya mesin yang tak kenal waktu.

Sebagai sahabat, Kai mengerti dengan perasaan Chanyeol yang ingin segera menemukan sang kekasih. Tetapi sebagai pemimpin tim, ia mengkhawatirkan tindakan Chanyeol yang terkadang diselimuti rasa frustasi, meskipun pria bertubuh tinggi itu telah mencoba untuk menutupinya sebaik mungkin. Namun Siwon dengan desakannya untuk segera menemukan adiknya yang diculik oleh seorang pembunuh gila, dan Heechul juga Tao yang panik karena kehilangan sahabatnya, ditambah rasa khawatirnya terhadap Baekhyun, membuat Chanyeol perlahan tak bisa mengendalikan dirinya. Ketika ia melihat Chanyeol mulai terlalu emosional untuk melakukan penyelidikannya dengan benar, terpaksa Kai mengeluarkan ancamannya.

"Dengar, Park Chanyeol, jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu, sebagai pimpinan tim...dengan terpaksa aku akan menarikmu dari kasus ini! Sekarang pulanglah, renungkan dan berikan jawabanmu padaku besok pagi!" Kai berteriak dengan sangat serius malam itu.

Maka Chanyeol merenung semalaman di rumah, hingga keesokkan paginya ia menemui Kai dengan jawaban yang pasti. Chanyeol pun kembali pada sikap profesionalnya sebagai seorang detektif polisi. Bekerja keras seraya berusaha mengendalikan sisi emosionalnya, sementara membiarkan Kai mengurus kepanikan kakak dan dua sahabat Baekhyun.

Kini sudah hampir pukul lima sore. Dengan ditemani secangkir kopi dan laptop yang terbuka, Chanyeol duduk di belakang mejanya. Ia sedang membaca sebuah email laporan dari kepala-kepala penyelidik kasus pembunuhan berantai terdahulu yang berhasil didapatkan oleh Kai. Saat sedang seriusnya membaca, sebuah email baru masuk. Email dari Zico.

Chanyeol membuka email itu dan mulai meneliti daftar siswa SMA St . Mourist, semuanya ada lima puluh tiga. Nama mereka disusun berurutan. Ia membaca nama-nama itu dengan cepat, mencari salah satu yang mungkin terdengar akrab. Lee Jina, Byun Hejin, Park Haneul, Kang Higo. Tidak ada kejutan di sana. Ia sudah tahu bahawa semua nama-nama itu lulus bersama Luhan dan tergabung dalam klub elit miliknya.

Klub Exylion.

Secepatnya Chanyeol akan mendapatkan salinan buku tahunannya dari Zico dan akan melihat foto-foto mereka. Ia menduga, mereka adalah orang-orang berambut cokelat yang cantik, keren dan populer. Dan ia bertaruh untuk keping recehnya yang terakhir bahwa siapa pun yang membunuh mereka, sepertinya memiliki hubungan dengan SMA St . Mourist.

Tetapi mengapa hanya Victoria Song yang tiba-tiba keluar di tahun ketiga?

Ia mengeryit dan berpikir, mencoba mencari berbagai kemungkinan dan alasan. Namun sepertinya hanya satu orang yang dapat memberikannya jawaban. Tiba-tiba suara dering telepon yang berbunyi di dekatnya mengalihkan pikiran Chanyeol. Chanyeol menoleh dan meraih gagang telepon. Chanyeol menjawab di saluran satu dan berharap itu adalah telepon yang ditunggunya sepanjang pagi.

"Detektif Park Chanyeol di sini," Chanyeol menempelkan gagang telepon di telinganya.

"Detektif Park, ini Song Eunhee, ibu dari Victoria Song. Suamiku menelepon ke kantor dan menjelaskan bahwa kau ingin berbicara denganku tentang putriku," suara wanita paruh baya yang dikenal Chanyeol terdengar ramah di ujung telepon.

"Ya, nyonya. Apakah suami anda mengatakan pada anda tentang semua orang yang kami percayai telah dibunuh oleh laki-laki yang sama yang telah membunuh Victoria-ssi?"

"Ya, dia mengatakan pada saya. Tapi saya tidak dapat membayangkan bagaimana saya dapat membantu anda."

"Anda dapat membantu saya hanya dengan menjawab beberapa pertanyaan. Apakah anda bersedia melakukannya?"

"Ya, tentu saja. Saya akan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan untuk membantu menangkap monster itu dan menaruhnya dibalik jeruji selamanya."

"Terima kasih, nyonya. Saya bertanya-tanya apakah anda menyadari fakta bahwa putrimu tergabung dalam kelompok bernama Exylion saat ia masih bersekolah di SMA St . Mourist, di Ulsan."

Nyonya Song Eunhee menahan napas perlahan. "Bagaimana anda...? Anda telah menyelidiki anak saya ya?"

"Ya, nyonya."

"Saya tahu tentang klub bodoh itu, tetapi setelah semua berlalu."

"Victoria-ssi meninggalkan St . Mourist setelah tahun ketiganya berakhir. Mengapa dia keluar?"

"Oh Tuhan. Apa yang dilakukan mereka pada bocah itu sungguh tidak terpuji. Setelah itu Victoria merasa sangat malu. Ia bercerita pada saya dengan berlinang air mata dan meminta saya untuk membiarkan dia pulang tapi tidak menjelaskan mengapa dia sangat ingin meninggalkan St . Mourist. Saya memaksanya untuk tinggal beberapa bulan lagi dan menyelesaikan tahun ketiganya, lalu saat dia pulang ke Seoul pada liburan musim panas, dia menceritakan pada saya apa yang telah terjadi."

"Apa yang terjadi?" Chanyeol bertanya. "Hal buruk apa yang dilakukan Exylion pada seorang bocah malang? Itu perbuatan Exylion bukan?"

"Ya, itu perbuatan Exylion. Itu semua salah Kim Luhan. Dia tidak lebih dari seorang anak manja yang kaya. Dan sepertinya ada yang salah dalam pikirannya sehingga dapat merancang permainan yang sungguh jahat pada bocah itu."

"Oh, benarkah? Dan apa yang mereka lakukan padanya?"

Sebelum nyonya Song Eunhee menjelaskan lebih jauh, firasat Chanyeol mengatakan bahwa siapa pun bocah malang itu, dia telah berubah menjadi seorang pembunuh berantai. Pembunuh berantai pengagum rahasia.

"Saya rasa nama marganya adalah Shim, tetapi saya tidak dapat mengingat nama belakangnya. Bocah itu kurus dan orang-orang menyebutnya kutu buku. Dia mengenakan kacamata dan sangat ceroboh. Dan sepertinya dia menyukai Kim Luhan. Pemuda manja itu menyadari perasaan bocah Shim itu padanya dan..." nyonya Song Eunhee menghela napas. "Kim Luhan memutuskan untuk menggunakan bocah ini sebagai semacam inisiasi bodoh untuk Exylion. Itu merupakan rencana yang sangat jahat."

"Dan apa rencana tersebut?"

"Saat Victoria menceritakan apa yang terjadi, saya tidak dapat mempercayai seseorang bisa begitu jahat. Kim Luhan benar-benar mempermalukan bocah itu."

Nyonya Song Eunhee terus berbicara, memberikan Chanyeol semua detail yang diceritakan putrinya pada musim panas dua belas tahun yang lalu. Chanyeol mendengarkan tanpa menginterupsi cerita tentang bagaimana licik dan kejamnya Kim Luhan.

"Penjaga gedung menemukan bocah itu esok paginya. Masih telanjang, meringkuk di atas selimut di lantai dan agak terganggu pikirannya. Keluarganya telah melapor pada polisi saat bocah itu tidak pulang dari sekolah, tetapi tidak seorang pun yang berpikiran bahwa dia mungkin ada di ruang bawah tanah. Victoria mendengar beberapa hari kemudian bocah itu mengalami ganguan mental dan keluarganya terpaksa memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Victoriaku yang manis merasa bersalah karena dia turut ambil bagian dalam rencana jahat Kim Luhan."

"Apakah anda tahu apa yang terjadi pada bocah Shim itu?"

"Tidak, maaf. Saya tidak tahu."

Chanyeol berterimakasih lalu menutup teleponnya. Ia pun menghela napas, menyenderkan tubuhnya ke belakang dan menutup matanya, seolah-olah beban yang ditanggungnya begitu berat. Ia menggelengkan kepalanya dan membuka matanya, kemudian menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang. Rasanya sulit dipercaya bahwa peristiwa penculikan Baekhyun sudah berlangsung selama lima hari. Penyelidikannya memang berjalan agak lambat, tapi ia yakin jika ia akan segera mendapatkan jawabannya. Ia tidak akan berhenti. Baekhyun akan ia temukan, dan mereka akan segera menikah. Pasti!

"Aku akan menemukanmu, Baekhyunie...hidup-hidup," gumamnya yakin.

*ChanBaek*

Sejak menculiknya, laki-laki itu baru muncul dua kali. Pertama kalinya, laki-laki itu hanya mengganti seprai dan mengurus Baekhyun dengan baik. Laki-laki itu memandikan, mengeramasi dan memotong kuku-kuku Baekhyun seraya menggoda dengan kata-kata gilanya, tidak lupa dengan tangannya yang tak bisa berhenti bergerilya di tubuh polos Baekhyun. Penculiknya itu juga memberinya makan dan meninggalkan makanan, dan air yang cukup sebelum pergi meninggalkannya selama beberapa hari. Tentu setelah mencium Baekhyun dengan paksa, serta perintah mutlak untuk membalas ciumannya. Baekhyun pun terpaksa menurutinya.

Mungkin Baekhyun sedang beruntung hari itu karena si penculik tidak memaksa memerkosanya. Belum, lebih tepatnya. Tetapi kali ini, di kemunculan kedua laki-laki itu, Baekhyun tidak yakin jika keberuntungannya masih tersisa. Laki-laki itu begitu gila dan waspada, tidak memberi Baekhyun celah untuk melarikan diri dan selalu memastikan tidak ada alat atau benda apapun yang bisa dijadikan kunci untuk membuka borgol yang membelenggu kaki Baekhyun, sementara kuncinya selalu tersimpan aman di saku pakaiannya.

Kini dengan lelah, lemah, dan sangat ketakutan, Baekhyun tidak melawan saat sang penculik membuka borgolnya dan menggiringnya ke seberang ruangan menuju pancuran air. Laki-laki itu membuka semua pakaian sebelum membebaskannya, dan saat ini mereka berdua berdiri bersama. Telanjang di bawah air yang mengalir.

Laki-laki itu menyabuni Baekhyun mulai dari leher, lalu ia membasuhnya. Setiap otot Baekhyun menegang, setiap saraf memberontak. Namun Baekhyun hanya bisa berdiri di sana, membiarkan laki-laki itu menyentuh bagian intimnya. Laki-laki itu menurunkan satu tangan ke bokong Baekhyun, lalu menyelipkan satu jari ke anus Baekhyun.

"Tenang, Sayangku. Kau tahu kau suka saat aku menyentuhmu. Di sini..." laki-laki itu menggerakkan jarinya. Baekhyun mengerang. "Oh, malangnya. Kau begitu menginginkanku, ya? Kau lelah jika aku bermain-main denganmu, hm?"

Laki-laki itu menghentikan aksinya, lalu menundukkan kepalanya dan menggigit leher Baekhyun. Baekhyun gemetaran. "Mintalah padaku dengan sopan."

Tidak, aku tidak akan melakukan itu, Baekhyun menolak dalam kepalanya.

"Baekhyun, aku menyuruhmu untuk meminta padaku."

Hening. Baekhyun masih tetap menutup mulutnya.

"Jalang jahat. Aku harus menghukummu. Kau harus belajar bahwa saat kau menentangku, akan ada konsekuensinya."

Sebelum Baekhyun menyadari apa yang terjadi, laki-laki itu menariknya, menekannya merapat ke dinding bata kamar mandi, lalu mengangkatnya cukup tinggi untuk memerkosanya. Baekhyun menjerit kesakitan. Air mata berbaur bersama guyuran air dari pancuran. Tetapi laki-laki itu tidak mau berhenti meski hanya sejenak.

*ChanBaek*

Pukul delapan pagi Kai muncul di ruangan timnya dan tidak merasa terkejut saat menemukan Chanyeol sudah lebih dulu datang. Pria bertubuh tinggi itu sedang duduk di belakang meja dengan secangkir kopi dan arsip-arsip yang tersebar di depannya.

"Apa kau tidak pulang lagi, hyung? Tanya Kai seraya menghampiri Chanyeol.

Chanyeol mengangkat kepalanya dan nyengir. "Aku pulang untuk mandi, makan dan tidur selama empat jam," jawabnya dengan santai.

Kai hanya menghela napas, terlalu paham dengan keseriusan sang rekan dalam bekerja. Ia meletakkan kantong dari TLJ's yang dibawanya di meja, di hadapan Chanyeol. "Kutebak kau pasti datang ke sini terlalu pagi dan melewatkan sarapanmu."

Chanyeol kembali nyengir dan berterima kasih, menerima makanan pemberian Kai. Ia pun mulai menikmati sarapan gratisnya. Sementara Kai menuangkan kopi dari poci ke cangkir yang telah disediakan di atas meja kopi, lalu duduk di depan Chanyeol dan membaca arsip-arsip yang tersebar di atas meja.

"Bagaimana keadaan Lay hyung? Kau menjenguknya kemarin, kan?" tanya Chanyeol setelah menelan makanannya.

Kai meletakan arsip yang dibacanya dan menggelengkan kepalanya dengan sendu. "Masih belum ada perkembangan. Lay hyung masih dalam keadaan kritis dan entah kapan akan sadarnya," jawabnya memberitahu. "Tapi kurasa kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya, ada kekasih dan keluarganya yang selalu menjaga Lay hyung."

"Kuharap dia akan segera sadar," harap Chanyeol dan Kai menganggukkan kepalanya setuju.

"Oh ya, aku sudah menahan pemberitaan mengenai hilangnya Baekhyun-ssi. Aku juga sudah bicara dengan kakak Baekhyun-ssi dan kedua sahabatnya agar mereka tidak mengatakan pada siapapun tentang masalah ini. Mereka setuju untuk mempercayai kepolisian. Jadi, untuk masalah ini kita bisa tenang."

Chanyeol menganggukkan kepalanya, berterimakasih pada bantuan sang rekan. Setidaknya, satu bebannya sudah berkurang. Kini ia hanya cukup fokus pada pencarian Baekhyun. Ia menyelesaikan makanannya lalu berkata, "Kurasa aku sudah mendapat sedikit petunjuk."

Chanyeol menceritakan pembicaraannya dengan nyonya Song Eunhee, ibu dari Victoria Song, kemarin. Juga hasil penyelidikan yang sudah di dapatnya. Kai mendengarkan dengan serius. Mereka mulai berdiskusi, menganalisa hasil penyelidikan yang telah terkumpul. Ditengah diskusi telepon berbunyi. Chanyeol mengangkat gagang telepon itu dan menjawabnya.

"Detektif Park Chanyeol di sini," katanya.

"Aku memiliki daftar siswa St . Mourist yang kau inginkan," Zico berkata di ujung telepon. "Aku bersumpah kau akan mengira informasi dari sekolah itu adalah informasi rahasia milik pemerintah."

"Kau memiliki daftar siswa pada tahun ketiga Kim Luhan bersekolah di sana?"

"Yap, dan aku juga memiliki buku tahunannya. Buku itu baru saja tiba. Aku akan mengirimkannya dalam semalam..."

"Kirimkan saja dulu daftar nama-nama itu padaku melalui email dan simpan saja buku tahunan itu untuk saat ini. Aku ingin kau memindai beberapa gambar untukku."

"Aku sudah berada jauh di depanmu. Aku sudah mengirimkan email-nya sebelum aku menelepon. Coba buka email itu. Lalu telepon dan beritahu aku tentang buku tahunan itu."

Chanyeol berterimakasih dan menutup teleponnya, lalu menatap Kai. "Zico mengirimkan email daftar siswa dari tahun ketiga Kim Luhan di St . Mourist padaku," beritahunya.

"Temanmu yang mantan FBI dan mendirikan agensi detektif termahal itu?" tanya Kai. Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya dan mulai sibuk pada laptopnya. "Kau mencari bocah yang diceritakan nyonya Song Eunhee padamu, benar kan? Bocah Shim siapa itu. Kau pikir dia adalah pembunuh berantai kita?"

"Aku sembilan puluh sembilan persen yakin. Dan jika namanya terdaftar sebagai siswa, maka kita berharap saja dia tidak melewatkan hari pemotretan."

Chanyeol membuka email dari Zico dan mendowload emailnya. Kai berdiri, lalu pindah ke samping Chanyeol dan melihat dari bahu pria itu. Daftar yang dikirimkan Zico terdiri atas lima puluh enam nama, semuanya siswa tahun ketiga di SMA St . Mourist dua belas tahun lalu. Bersama-sama mereka melihat daftar nama tersebut.

"itu dia," Chanyeol berkata. "Shim Kanghyuk. Itu pasti dia. Dia satu-satunya Shim dalam daftar ini."

"Kau pikir jika kita melihat foto bocah itu saat berumur enam belas tahun, kita akan dapat mengenalinya? Kau pikir dia sesorang yang tinggal di Seoul?" Kai mengernyit.

"Aku berharap begitu. Demi Tuhan, aku berharap demikian," Chanyeol berdiri dan kembali meraih gagang telepon untuk melepon Zico. Zico menjawab pada dering kedua. "Cari foto seorang anak bernama Shim Kanghyuk pada buku tahunan itu."

"Tunggu sebentar," pinta Zico. Chanyeol menunggu dengan sedikit tidak sabar, sementara Kai hanya memperhatikan dengan penasaran.

"Chanyeol," Zico berkata beberapa menit kemudian. "Aku menemukannya. Dia tampak seperti kutu buku. Dia ikut dalam tim debat dan tergabung dalam klub Van Gogh. Menurutku itu semacam klub untuk seniman."

"Scan fotonya dan kirimkan padaku secepatnya."

"Baiklah."

Chanyeol menutup teleponnya dan menatap laptopnya. Menunggu. Tanpa memakan waktu lama, email kedua dari Zico muncul. Chanyeol membuka attachment itu dan melihat hasil scan foto Shim Kanghyuk. Ia mempelajari bentuk wajah bocah itu, memindahkan kacamatanya dalam pikiran dan menambahkan dua belas tahun umurnya dan 35 kilo bobotnya.

"Bagaimana menurutmu?" ia bertanya pada Kai yang berdiri di belakangnya.

"Aku tidak yakin. Aku melihat kemiripan pada seseorang. Tapi..." jawab Kai, mengernyit.

"Oh Sehun. Kurasa itu dia," Chanyeol merasa sangat yakin. Kai memperhatikan foto itu lagi dengan lebih teliti lalu mengangguk setuju.

Ya, tidak hanya sekedar mirip tetapi foto Shim Kanghyuk itu memanglah Oh Sehun yang sekarang. Tapi kenapa namanya berbeda?

Chanyeol meraih gagang telepon dan menekan nomor Zico kembali. Pada dering kedua Zico mengangkat teleponnya. "Bisakah kau melakukan pencarian untuk mengetahui apakah Shim Kanghyuk secara resmi menganti namanya?" pinta Chanyeol.

"Aku telah melakukan itu," ujar Zico.

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk mengetahuinya?"

"Jika kita beruntung, beberapa jam saja."

"Maka berdoalah agar kita beruntung."

Tbc

.

.

.

Udah ketahuan ya siapa pembunuhnya di part ini, yang berhasil nebak itu Sehun...selamat! \\(^0^)/ ff ini hampir mendekati akhir, sampai ketemu di part berikutnya :D