*It's almost end. Edited. Beware of typos!
.
.
.
Part 22
Segera setelah Chanyeol dan Kai mengetahui bahwa Shim Kanghyuk mengubah namanya secara resmi menjadi Oh Sehun dengan menggunakan marga sang paman sepuluh tahun lalu, mereka tahu akhirnya mereka memiliki identitas si pembunuh. Tetapi mengetahui identitas penculik itu tidak berarti mereka dapat menemukan Baekhyun. Mereka dapat menahannya, menaruhnya dibalik jeruji dan membuang kuncinya. Namun jika tersangka tidak mengakui bahwa dia menculik Baekhyun dan mengatakan pada mereka di mana dia menyembunyikannya, pemuda manis itu mungkin sudah tiada sebelum mereka dapat menemukannya. Seberapa pun sulitnya bagi mereka untuk mempertaruhkan waktu, untuk menunggu bahkan beberapa jam agar tersangka melakukan aksi selanjutnya, mereka tahu bahwa untuk keselamatan Baekhyun, mereka tidak memiliki pilihan lain.
Tetapi bukan berarti mereka hanya akan menunggu saja. Mereka mencari semua informasi—umum ataupun pribadi—tentang Oh Sehun. Keesokan paginya Kai segera mengurus surat penahanan untuk Sehun, sementara dengan surat tugas di tangan Chanyeol bergerak untuk menggeledah apartemen tersangka bersama tiga orang petugas polisi. Apartemen Sehun nampak sepi saat Chanyeol tiba. Wanita tua pemilik gedung itu berkata bahwa sudah dua hari Sehun tidak pulang, entah pergi kemana pria tampan itu. Chanyeol memberi isyarat pada tiga petugas polisi yang membantu untuk mengambil posisi. Lalu dengan kunci cadangan yang dipinjamkan wanita tua tersebut, ia membuka kunci pintu depan. Dengan pistol terangkat, hanya berjaga-jaga, ia memasuki apartemen itu.
Setelah yakin bahwa apartemen itu kosong, tidak ada tanda-tanda penghuni ataupun orang lain berada di sana, mereka memulai pencarian. Tidak perlu waktu lama bagi Chanyeol untuk menemukan benda-benda terkutuk di dalam laci di ruang tamu laki-laki itu. Setelah memasukkan pistolnya kembali ke sarungnya, Chanyeol memakai sepasang sarung tangan dan memilah-milah di antara barang-barang tersebut, mengangkatnya dari laci dan menyebarkannya di atas meja.
Chanyeol bersiul panjang saat melihat serangkaian foto dari semua wanita muda dan pemuda uke berambut cokelat. Byun Hejin, Park Haneul, Kang Higo, Lee Jina, Victoria Song, Do Kyungsoo. Tangan Chanyeol gemetar ketika mengangkat sebuah foto Baekhyun.
"Detektif Park!" Salah satu petugas polisi memanggil. Chanyeol meletakkan foto Baekhyun kembali ke atas meja dan menoleh. Petugas itu menunjukkan wadah-wadah kecil yang ditemukannya, "Di sana ada kotak-kotak berisi kalung dan cincin, dan yang satu itu ada botol kecil parfum di dalamnya. Semuanya dalam jumlah besar."
Chanyeol memperhatikan benda-benda di dalam wadah-wadah kecil itu. Semua benda itu merupakan hadiah untuk para korbannya, sepertinya sesuatu yang masih berhubungan dengan Kim Luhan. Mungkinkah itu semua adalah benda-benda kesukaan Kim Luhan?
"Aku tidak ingin ada yang disentuh," Chanyeol berkata. "Serahkan semuanya pada tim olah TKP. Pasang pita pengaman dan taruh semua penjaga di pintu depan."
"Siap laksanakan!"
Ketiga petugas polisi itu mulai bekerja sesuai perintah dari Chanyeol. Chanyeol hanya diam memperhatikan hingga ia merasakan ponselnya bergetar di dalam sakunya. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan melihat nama Kai muncul di layar. Sebelum bergerak, mereka telah membagi tugas. Chanyeol bertugas menggeledah apartemen Sehun, sementara Kai mencari pria itu Navilla Corp. Chanyeol harap Kai membawa sedikit berita bagus untuknya. Segera Chanyeol menjawab telepon itu seraya menjauh ke tempat yang lebih tenang.
"Bagaimana hyung?" Kai bertanya di ujung telepon.
"Oh Sehun tidak ada di apartemennya. Pemilik gedung bilang bahwa dia sudah dua hari tidak pulang," jawab Chanyeol. "Kami menemukan semuanya. Foto dan sketsa dari semua korban, sebuah kotak penuh dengan kalung, cincin dan botol kecil parfum. Bajingan itu membeli semua barang itu dalam jumlah besar."
"Dia memberikan semua barang-barang itu sebagai hadiah pada para korbannya, karena itu dia membeli semua barang itu dalam jumlah besar."
"Ya, dan kupikir semua barang itu masih berhubungan dengan Kim Luhan.
"Mungkinkah semua barang itu adalah barang-barang favorit Kim Luhan? Karena itu dia memberikannya sebagai hadiah pada pada korbannya."
"Hu-um, sepertinya dia mencari Kim Luhan dalam para korbannya. Dendam membuatnya membunuh Exylion berulang kali. Do Kyungsoo dan Byun Baekhyun hanya sedang tidak beruntung karena mereka berambut cokelat dan manis, sesuai kriteria Kim Luhan dan Exylion."
"Bajingan itu!"
Chanyeol menoleh. Seraya memastikan kembali para petugas polisi itu melakukan perintahnya dengan baik, ia bertanya, "Bagaimana denganmu?"
Kai menarik napasnya dengan kesal sesaat. "Dia tidak ada di Navilla. Pihak HRD bilang bahwa Oh Sehun mengajukan cuti selama sebulan dan sudah tidak datang bekerja sejak seminggu yang lalu," jawabnya. "Kami sudah menggeledah meja kerjanya, tetapi tidak ada yang mencurigakan."
Mendengar hal itu, Chanyeol memaki pelan. "Aku sudah memerintahkan Daniel untuk memeriksa daftar penumpang di bandara, terminal ataupun stasiun," lanjut Kai. "Tetapi tidak ada nama Oh Sehun dalam daftar, tidak juga nama-nama yang diduga samaran. Itu artinya..."
"Bajingan itu masih berada di area Seoul!"
"Tepat. Dengar, Daniel telah berhasil memperkecil area pencarian menjadi dua tempat saja. Aku akan mengirimkan petanya padamu. Periksa kedua tempat itu. Aku akan kembali ke Kepolisian dan membuat surat ijin untuk membentuk tim kerja khusus. Di saat seperti ini Pimpinan tidak mungkin memperumit prosesnya, kan? Aku akan menghubungimu segera."
Pembicaraan pun berhenti. Chanyeol menutup teleponnya dan menunggu. Tidak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi, sebuah pesan baru dari Kai. Seperti yang dikatakan Kai sebelumnya, ia mengirimkan Chanyeol sebuah peta lokasi yang berhasil di dapatkan oleh Daniel. Ada dua tempat yang harus diperiksa, dan kemungkinan besar disanalah Oh Sehun dan Baekhyun berada. Chanyeol menyimpan ponselnya dan beranjak menuju mobilnya dengan langkah cepat.
Saatnya berburu si penculik!
*ChanBaek*
Selama hampir tiga puluh menit Chanyeol menyusuri wilayah pinggiran Seoul, memeriksa setiap tempat yang mencurigakan tetapi masih belum menemukan hasil. Hingga saat Chanyeol berbelok dengan perlahan, ia melihat sebuah mobil SUV berjarak sepuluh mobil di depannya. Ia menyipitkan matanya tepat pada lampu belakang SUV itu, pada nomor polisi yang dikenalinya.
Mengetahui jika itu adalah mobil SUV milik Oh Sehun, Chanyeol memutuskan untuk mengikutinya. Ia harus bersikap hati-hati, bahkan berisiko kehilangan laki-laki itu. Jika laki-laki itu curiga bahwa ia dibuntuti, itu dapat membahayakan nyawa Baekhyun. Sudah lima hari sejak Baekhyun menghilang. Lima hari sendirian dan ketakutan. Chanyeol tidak banyak berdoa dalam hidupnya, tetapi kini ia berdoa agar Tuhan menjaga sang kekasih.
Saat SUV itu berbelok kembali, Chanyeol memaki pelan. Ia tahu kemana Sehun mengarah. Sial! Mengapa ia tidak memikirkan itu sebelumnya? Tempat itu berada tepat di depan batang hidungnya selama ini.
Melalui police walkie talkie portabel miliknya, Chanyeol menghubungi Kai. "Dia menyekap Baekhyun di suatu tempat di gedung bekas Akademi Shinki," katanya memberitahu.
"Apa? Bagaimana kau mengetahuinya?" suara Kai terdengar jelas di earpiece yang terpasang di telinga kanannya.
"Dia baru saja berbelok di jalan 614."
"Itu tidak berarti..."
"Ya, memang di sana. Firasatku menjerit-jerit padaku."
"Hati-hati, hyung. Kami berada tiga mil di belakangmu."
Kami yang diucapkan Kai berarti tim kerja khusus departemen kepolisian, yang berarti terdiri atas satu sersan dan enam deputi. Semuanya terlatih dalam taktik SWAT, dan setiap petugas adalah seorang penembak jitu. Biasanya butuh hampir tiga minggu untuk mengurus surat ijin hingga mendapatkan persetujuan dari pimpinan. Tetapi Kai mendapatkan persetujuan dalam waktu kurang dari satu jam. Itu artinya pimpinan telah menganggap kasus pembunuh berantai ini dalam level berat hingga membutuhkan tim khusus untuk menangkap si pelaku.
"Jangan bergerak sebelum aku mengatakannya," Chanyeol berkata. "Kita tidak bisa menakuti laki-laki ini."
"Maka kita harus berhubungan setiap lima menit," ujar Kai.
"Sepuluh."
"Okay, sepuluh."
"Saat ini dia menepi di depan gedung akademi. Aku akan mencari jalan belakang dan memarkir mobil di bagian belakang akademi itu, lalu akan mengejarnya. Aku akan mengabari sepuluh menit lagi."
Chanyeol mengakhiri pembicaraan. Ia memarkir mobilnya, lalu bergegas mengitari gedung kosong tersebut dengan hati-hati. Setelah meneliti tempat itu, ia menyadari bahwa SUV Sehun kosong. Dan tidak ada tanda-tanda pengemudinya. Mungkin Sehun terburu-buru menemui korban barunya, sangat ingin untuk menyiksanya. Pikiran itu membuat kekhawatiran seketika menjalari Chanyeol.
Tuhan, jangan lakukan ini! Jangan biarkan ini terjadi. Aku harus menemukan Baekhyun dan aku tentu membutuhkan pertolongan saat ini, batin Chanyeol.
Mengetahui bahwa Sehun dapat pergi ke mana pun dan ke bangunan yang manapun, Chanyeol menerima kekalahan sementaranya. Jika ia mencari laki-laki itu saat ini, kemungkinannya kecil. Ia bergegas kembali ke mobilnya, masuk ke dalam dan menghubungi Kai kembali melalui walki talkie-nya.
"Apa yang terjadi?" Kai bertanya.
"Aku kehilangan dia," kata Chanyeol. "Dia berada di suatu tempat di akademi, di salah satu bangunan ini, tetapi perlu waktu lama untuk mencari ke seluruh tempat ini. Area bekas akademi Shinki ini terlalu luas untuk kuperiksa seorang diri, dan kurasa Baekhyun tidak memiliki banyak waktu. Dan karena ketatnya pencarian setelah penculikan itu terjadi, mungkin laki-laki itu tidak dapat menemui Baekhyun sejak dia menculiknya. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya pada Baekhyun segera setelah dia mendapatkanya kembali."
"Saat ini, kita harus meneliti setiap ruangan itu untuk mencari tahu di mana Oh Sehun menyembunyikan Byun Baekhyun. Tidak ada banyak tempat di akademi di mana dia dapat menyimpan Byun Baekhyun selama berhari-hari, bahkan selama berminggu-minggu tanpa terdeteksi. Meskipun gedung akademi itu sudah lama tidak terpakai, tetapi tidak bisa sembarangan orang memasukinya. Pihak yayasan masih sering memeriksa gedung itu, kabarnya mereka akan mempergunakan gedung itu kembali. Entah kapan."
Perkataan Kai tersebut membuat Chanyeol berpikir. Gedung bekas akademi Shinki hampir empat tahun kosong, namun pihak yayasan masih sering datang untuk memeriksa gedung itu. Lokasi tempat akademi itu pun terletak di dekat keramaian. Jadi bagaimana Sehun dapat keluar-masuk ke gedung bekas tersebut tanpa ketahuan pihak yayasan ataupun orang-orang? Apakah ada tempat dalam kampus ini di mana seseorang dapat disekap tanpa ada orang yang curiga bahwa orang itu berada di sana?
"Kita perlu berbicara pada seseorang yang tahu setiap sudut dan celah dalam kampus ini," Chanyeol berkata. "Seseorang yang mungkin mengetahui jika ada tempat rahasia."
"Suho Kim mungkin mengetahuinya," ujar Kai. "Dia lulusan akademi Shinki sepuluh tahun lalu. Dan jika dia tidak tahu, dia akan tahu siapa yang harus dihubungi."
"Bisakah kau menghubunginya? Minta dia untuk menghubungiku secara langsung setelah itu."
"Ya, tentu."
Pembicaraan berhenti, Kai menutup saluran walki talkie nya. Chanyeol bersandar pada kemudi, lalu mengangkat tangannya dan mengusap wajahnya. Yang dapat ia lakukan sekarang adalah duduk dan menunggu.
Dan sedikit berdoa kembali.
*ChanBaek*
Lima belas menit kemudian ponsel Chanyeol bergetar. Chanyeol merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan menatap nomor asing yang tertera di layar ponsel pintarnya. Ia tebak itu adalah nomor Suho Kim.
"Detektif Park Chanyeol," ucap Chanyeol, menjawab telepon itu.
"Detektif Park, ini Suho Kim," Benar, bukan? Di ujung telepon suara Suho terdengar sedikit lebih ramah daripada sebelumnya yang Chanyeol dengar saat di rumah sakit. "Detektif Kai telah menghubungiku."
"Detektif Kai sudah menjelaskan situasinya padamu?"
"Ya, semuanya. Aku kenal dengan pemimpin yayasan akademi itu. Aku sudah berbicara dengannya dan dia memberi kalian izin untuk mencari ke seluruh kampus. Tetapi aku pikir tidak perlu sampai melakukan itu. Aku masih mengingat bagian akademi itu termasuk sebuah bangunan tua yang bertahun-tahun yang lalu dipakai sebagai auditorium atau ruang makan siang. Terakhir kali, gedung itu digunakan oleh klub drama untuk tempat berlatih drama dan klub paduan suara untuk pertunjukan musik tahunan mereka. Dan untuk pengajaran program D.A.R.E."
"Sial!"
"Masalahnya terdapat dalam sejarah akademi Shinki itu. Kudengar, di awal tahun tujuh puluhan, sebagian dari ruang bawah tanah dirubah menjadi tempat perlindungan dari bom dan terdiri atas beberapa kamar, semuanya kedap udara dan satu pintu tidak dapat dimasuki kecuali melalui pintu yang serupa dengan lubang. Bagian ruang bawah tanah itu sudah tidak dipergunakan, selama dua puluh tahun, bahkan tidak untuk ruang penyimpanan."
Dan disanalah Chanyeol yakin Sehun menyekap Baekhyun. Setelah berterimakasih, Chanyeol menutup telepon, lalu menyimpannya kembali ke sakunya. Ia keluar dari mobil dan melangkah menuju ke gedung tua, mengikuti saran dari Suho Kim, selangkah demi selangkah.
*ChanBaek*
Akhirnya Chanyeol mencapai ruang bawah tanah di gedung tua. Mengikuti petunjuk yang telah diberikan oleh Suho padanya, ia masuk ke dalam auditorium melalui pintu belakang. Saat ia mendorong pintu dan melangkah masuk, ia terdiam sejenak di sudut yang gelap. Lalu menyalakan senternya, dan secara perlahan, dengan berhati-hati berjalan ke sepanjang lorong yang gelap gulita.
Berdiri di atas lubang yang terbuka, sambil bersyukur bahwa Sehun tidak menutup dan mengunci satu-satunya jalan ke ruang bawah tanah, Chanyeol mendengar suara jeritan Baekhyun. Bedebah, laki-laki itu menyakiti Baekhyun, menyiksanya. Amarah dan khawatir seketika menerpa Chanyeol.
Tarik napas panjang. Kau harus berpikiran lurus dan saraf-sarafmu harus tenang saat kau berjalan ke bawah. Nyawa kekasihmu tergantung padamu, Park Chanyeol. Jika kau mengacaukan ini, kau tidak akan pernah memaafkan dirimu sendiri, Chanyeol berusaha menenangkan dirinya.
Chanyeol mematikan senternya, mengambil pistol miliknya, lalu bergerak menuruni tangga kayu yang berderit. Ia benar-benar menyadari bahwa perlindungan satu-satunya hanyalah rompi antipeluru dibalik kemejanya.
Jeritan Baekhyun yang tersiksa menggema dalam kepala Chanyeol saat ia berjalan menuruni tangga ke lantai semen. Ia meneliti ruangan itu dengan cepat, lalu membeku saat ia melihatnya. Di sana, di seberang ruangan pada kamar mandi yang terbuka, Sehun berdiri memunggunginya. Berbagai macam jenis seks toy tersebar di lantai. Dan jerit kesakitan Baekhyun masih terus terdengar.
Laki-laki itu memperkosa Baekhyun yang dihadapkannya ke dinding.
Chanyeol mengetatkan rahangnya dan menarik napas sesaat, berusaha keras menahan gejolak amarah di dadanya. Lalu ia mengangkat pistolnya dan mengarahkannya pada bagian belakang kepala Sehun. Tetapi sebelum ia mendapatkan bidikan yang bagus, Sehun berputar dan memposisikan Baekhyun tepat di depannya. tangan laki-laki itu berada di sisi leher pemuda manis itu.
"Halo, detektif Park," sapa Sehun dengan santai.
Chanyeol menelan ludah dengan geram, tetapi tangannya tetap stabil. Ia tetap mengarahkan senjatanya pada Sehun seraya berkata, "Lepaskan dia!"
"Kau lebih pintar daripada yang kuduga," Sehun tersenyum sinis. "Bagaimana kau menyadari bahwa itu adalah aku?"
"Kubilang lepaskan dia!"
"Aku tidak dapat melakukan itu."
Sehun mengecup sisi wajah Baekhyun, menjilat telinga kanan pemuda manis itu, lalu menyeringai pada Chanyeol. Sementara Baekhyun hanya bisa diam dengan mata yang terbelalak ketakutan. Chanyeol semakin merasa geram, namun ia tahu bahwa ia tidak bisa bertindak sembarangan. Saat ini nyawa Baekhyun adalah prioritasnya.
"Ini sudah berakhir, Oh Sehun," Chanyeol berkata. "Atau, haruskah aku memanggilmu Shim Kanghyuk? Kami tahu segalanya. Semua tentang bagaimana Exylion mempermalukanmu. Kami tahu tentang metamorfosismu setelah meninggalkan St . Mourist, berubah dari Shim Kanghyuk yang kurus dan kutu buku menjadi laki-laki jantan Oh Sehun. Dan kami tahu kau membunuh Kim Luhan dan Exylion lainnya. Lalu saat itu tidak memuaskan kehausanmu pada pembalasan dendam, kau mulai membunuh orang-orang yang mirip dengan mereka."
"Wow, kau mengerjakan PR-mu ya, detektif?"Sehun bersikap seolah-olah takjub dengan penjelasan Chanyeol. Namun Chanyeol mengabaikannya.
"Lepaskan Byun Baekhyun. Jika kau tidak melakukannya, aku akan membunuhmu."
Sehun tertawa, suaranya seperti orang gila. Dan mengganggu. "Aku dapat mematahkan lehernya sebelum kau dapat menembakku," ia mengeratkan jari-jarinya di sekitar leher Baekhyun.
"Apa kau mau mempertaruhkan nyawamu untuk itu?" tanya Chanyeol.
"Apa kau bersedia mempertaruhkan nyawamu kekasihmu?" Sehun balik bertanya.
Tanpa kata-kata, tanpa berpikir dua kali, Chanyeol menarik pelatuknya. Baekhyun menjerit, terkejut. Peluru itu masuk ke dalam kepala Sehun, tepat di antara kedua alisnya. Saat laki-laki itu ambruk, Baekhyun ikut jatuh bersamanya.
Chanyeol ke seberang ruangan, dengan senjata di tangan. Ia berlutut dan memeriksa tubuh Sehun. Laki-laki itu sudah mati. Akhirnya Chanyeol mengembalikan pistol ke sarungnya lalu mengulurkan tangannya, membalikkan tubuh Sehun dan menjauhkannya dari Baekhyun. Kemudian ia mengangkat tubuh gemetar Baekhyun dalam lengannya.
Saat ia membawa Baekhyun melewati tempat tidur besi, Chanyeol mengulurkan tangannya, menarik seprai dan membungkus tubuh telanjang Baekhyun. Baekhyun meringkuk dalam dekapan Chanyeol dan menangis pelan, berpegangan pada sang kekasih penyelamat jiwanya. Chanyeol tidak mengatakan apapun, hanya memeluk pemuda manis itu dengan erat dan memberikan ciuman-ciuman menenangkan di pucuk kepalanya, dalam hati bersyukur pada Tuhan bahwa ia berhasil menyelamatkan sang kekasih.
Sambil menggendong Baekhyun ala pengantin, Chanyeol melangkah keluar dari tempat perlindungan itu. Saat mereka keluar dari gedung tua Kai dan tim khususnya baru saja tiba. Dengan tergesa Kai berlari menghampiri Chanyeol.
"Bagaimana dengan Oh Sehun?" Kai bertanya.
"Bajingan itu sudah mati. Kau akan menemukan mayatnya di tempat perlindungan," jawab Chanyeol.
Kai menoleh pada tim khusus yang berdiri tidak jauh darinya dan memberi tanda untuk memasuki gedung tua, menjemput mayat si pembunuh berantai. Lalu ia kembali menoleh pada Chanyeol, tersenyum bangga dan menepuk pelan bahu sang rekan.
"Kerja bagus, hyung. Ada ambulans yang menunggu," ujarnya, lalu beranjak pergi memasuki gedung tua.
Chanyeol melanjutkan langkahnya, membawa Baekhyun ke ambulans dan petugas medis yang telah menunggu. "Aku...aku hidup," Baekhyun bersuara lirih dalam dekapan Chanyeol, masih menangis pelan. "Aku hidup."
"Kau akan baik-baik saja, sayang. Semuanya sudah berakhir," sahut Chanyeol tersenyum menenangkan, lalu mencium kening Baekhyun dengan lembut.
Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. Namun saat Chanyeol meletakannya di atas brankar pasien yang telah disediakan petugas medis di depan pintu ambulans, ia berpegangan pada sang kekasih, seolah tak ingin lepas.
"Jangan tinggalkan aku," pintanya, menatap Chanyeol dengan ketakutan.
"Tidak akan," kata Chanyeol, tersenyum. Ia mengusap air mata yang membasahi wajah manis Baekhyun, lalu memberikan ciuman yang menenangkan di bibir sang kekasih. "Aku akan segera kembali."
Chanyeol berbalik dan memandang Kai yang sedang berjalan menghampirinya. Para petugas membawa kantung hitam besar berisi mayat Oh Sehun, sementara tim olah tkp mulai memeriksa tempat perlindungan. Kai dan Chanyeol berbicara sebentar dengan suara pelan, lalu Chanyeol memberikan kunci mobilnya pada Kai. Detektif tampan itu meminta sang rekan untuk membawa mobilnya, sementara ia akan menemani Baekhyun di ambulans.
"Seberapa buruk laki-laki itu melukainya?" Kai bertanya, melirik pada Baekhyun yang berbaring dengan tubuh gemetar di atas brankar yang mulai dinaikkan ke atas ambulans oleh para petugas medis.
Chanyeol merasa ragu. "Dia hidup. Itu yang paling penting," jawabnya.
Kai menganggukkan kepalanya. "Aku akan menemuimu di rumah sakit nanti," katanya dan membiarkan Chanyeol menaiki ambulans.
Hal terakhir yang Kai lihat sebelum pintu ambulans mulai tertutup adalah sesuatu yang membuatnya tersenyum. Ia melihat Chanyeol yang duduk disamping brankar sambil menggenggam tangan Baekhyun. Baekhyun mengucapkan terima kasih pada Chanyeol. Chanyeol hanya tersenyum dan mencium punggung tangan Baekhyun beberapa kali, kemudian menatap si pemuda manis dengan penuh cinta dan rasa syukur. Lalu mobil ambulans itu mulai melaju pergi dengan cepat.
Tbc
