Beware of typos!
.
.
.
Part 23.5 (Alternate Ending)
Baekhyun segera dilarikan ke ruang ICU. Chanyeol sendiri mendapat sedikit perawatan untuk luka-lukanya karena perkelahian dengan Sehun tadi. Karena luka-luka Chanyeol tidak mengharuskannya untuk menginap di rumah sakit, maka begitu perawatannya selesai ia lebih memilih untuk kembali menunggu di depan ruang ICU.
Setelah memastikan pihak rumah sakit segera memberitahu Siwon selaku kakak Baekhyun, Chanyeol bersandar pada dinding. Perutnya terasa mual. Ia telah bersumpah untuk melayani dan melindungi, namun ia belum dapat melindungi orang yang dicintainya lebih daripada siapa pun di dunia ini. Rasanya ia tidak akan pernah melupakan perasaan ngeri tak berdaya ketika ia memacu mobilnya di sepanjang jalan, tahu ia sudah terlambat untuk menyelamatkan Baekhyun lebih cepat.
Ia telah berhasil mengumpulkan informasi dan memasang potongan-potongan puzzle itu, tetapi terlambat untuk menyelamat Baekhyun dari bahaya. Chanyeol duduk merosot di salah satu kursi plastik yang tidak nyaman di ruang tunggu ketika Kai datangsatu jam kemudian .
"Bagaimana keadaan Baekhyun-ssi?" tanya Kai, menjatuhkan diri di kursi di sebelah Chanyeol.
Chanyeol hanya menggelengkan kepala dan mengusap wajahnya. "Aku hampir saja gagal, Kai. Aku tak bisa memecahkan teka-teki itu sampai nyaris terlambat," ucapnya.
"Hei, kau memecahkan teka-teki itu dan bertindak lebih cepat. Baekhyun-ssi mungkin sudah mati jika kau tidak bertindak lebih dulu—" Kai berhenti bicara dan mengangkat bahu. "Secara pribadi, menurutku kau sudah melakukan pekerjaan luar biasa, tapi aku cuma kepala detektif, jadi apa sih yang kutahu?"
Chanyeol hanya bergumam, kemudian bertanya dengan penasaran dan sedikit amarah, "Jadi, bagaimana dengan bajingan itu?"
Kai menghela napas sesaat, mengingat kembali saat dirinya dan tim khusus berusaha keras mencari dan menangkap Sehun yang melarikan diri. "Bajingan itu sudah berhasil kami tangkap. Dia pintar melawan dan membuat kami sedikit kesulitan, tapi yah…dia sudah ada di penjara sekarang," jawabnya. "Dengan semua yang telah dilakukannya, mustahil dia akan lolos dari hukum."
Dan Chanyeol kembali bergumam, menganggukkan kepalanya setuju.
Seorang dokter ICU akhirnya keluar dari ruang tempat Baekhyun berada. Chanyeol dan Kai bergegas bangkit menghampiri dokter itu. "Baekhyun-ssi telah melewati masa kritisnya," katanya. "Pelurunya telah berhasil kami keluarkan dan beruntungnya, peluru itu tidak mengenai organ vital. Anusnya sedikit terluka karena seks yang kasar. Terdapat luka gesekan karena besi rantai di salah satu pergelangan kaki dan bekas pukulan di beberapa bagian tubuhnya. Dia akan baik-baik saja. Tetapi—"
Sang dokter terdiam sejenak dan melanjutkan, "—yang perlu diperhatikan adalah psikologisnya. Sebagai korban pemerkosaan, saya khawatir itu akan menimbulkan trauma. Namun melihat semangat juangnya di dalam ICU tadi, saya pikir itu tidak akan terjadi. Saran saya, teruslah temani dia dan beri dukungan. Saya bisa memberikan surat rujukan pada psikiater jika anda membutuhkannya nanti."
"Bolehkah aku melihatnya sekarang?" tanya Chanyeol, berdiri.
"Tentu. Nah, kalau begitu saya permisi," dokter itu tersenyum sebelum beranjak pergi.
Meninggalkan Kai di luar, Chanyeol pun segera melangkah masuk ke ruang ICU dan melihat Baekhyun yang sedang berbaring lemah di atas ranjang pasien.Perban-perban dan alat-alat medis menghiasi tubuh pemuda manis itu. Matanya berbinar-binar ketika melihat Chanyeol. Meskipun Baekhyun tidak mengucapkan sepatah kata pun, ekspresinya sudah cukup menjelaskan sementara ia berusaha mengulurkan tangannya pada Chanyeol. Dengan lembut Chanyeol memegang tangan Baekhyun, mendekat dan memeluknya. Sesekali ia mencium Baekhyun seraya bersyukur pada Tuhan karena sang kekasih masih hidup dan kembali ke dalam pelukannya.
Satu jam kemudian Siwon datang memasuki ruangan ICU bagai banteng menyeruduk, membuyarkan suasana mesra antara Baekhyun dan Chanyeol. Chanyeol segera menyingkir dari sisi ranjang pasien dan memberikan kesempatan untuk Siwon memeluk sang adik dengan penuh syukur. Dan tiga puluh menit kemudian, dua banteng lainnya menyeruduk masuk. Heechul dan Tao datang dengan penuh semangat saat mendengar akhirnya sahabat mereka berhasil ditemukan, lalu menangis bersama saat melihat kondisi Baekhyun. Heechul terus mengumpat kesal karena Baekhyun menyembunyikan masalah pembunuh berantai dari mereka. Tao masih terus menangis disisi ranjang. Siwon hanya menonton keributan itu sambil mengeluarkan buah-buahan yang dibawanya dari dalam ransel besarnya. Dan Baekhyun hanya bisa menatap memelas pada Chanyeol, berharap sang kekasih membantunya keluar dari suasana ribut itu.
Namun Chanyeol hanya bisa mengangkat bahu dan tersenyum. Bergaul dengan sahabat-sahabat ajaib Baekhyun membuatnya tahu bahwa tidak ada yang bisa menghentikan keributan yang dibuat oleh Heechul dan Tao. Nikmati saja!
*ChanBaek*
Dua minggu pun berlalu, danBaekhyun telah kembali pulih dengan cepat. Namun setiap malam Baekhyun selalu tersentak bangun dari tidur lelapnya. Bersimbah keringat dan jantung yang berdegup kencang ketakutan karena mimpi buruk yang tak dapat diingatnya. Tentu saja, Chanyeol dan seksnya yang lembut dan penuh kehati-hatian menjadi obat mujarab untuk gangguan tidurnya. Baekhyun mungkin saja terbangun karena ketakutan, namun ia kembali tertidur dengan seluruh otot lemas akibat kenikmatan yang luar biasa.
Chanyeol sendiri mengalami mimpi buruk beberapa kali, terutama pada awalnya. Anggapan dirinya adalah pahlawan membuatnya begitu terusik karena tidak dapat menyelamatkan Baekhyun lebih cepat. Bahkan ia tidak sengaja hampir membunuh Baekhyun, jadi bagaimana ia bisa disebut sebagai pahlawan?. Hal itu berlangsung cukup lama, sampai suatu malam Baekhyun masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan air shower, berdiri telanjang menghadap dinding dan mulai berteriak, "Tolong, tolong, sakit!".
Tidak lama Chanyeol menyibakkan tirai shower dan berdiri di sana memandangi Baekhyun, sementara air membasahi seluruh lantai. "Kau sedang mengejek kasus kompleks pahlawanku, ya?" ujarnya kesal.
"Ya," sahut Baekhyun menoleh sesaat pada Chanyeol, lalu kembali menghadap dinding dan berpura-pura kesakitan lagi.
Chanyeol mematikan air dengan satu sentakan, menampar pantat telanjang Baekhyun cukup keras hingga Baekhyun berkata, "Hei!" dengan jengkel, lalu ia memeluk pemuda manis itu dan mengangkat tubuhnya keluar dari kamar mandi.
"Kau harus membayar untuk itu," gerutu Chanyeol, melangkah lebar-lebar ke ranjang dan melemparkan Baekhyun ke atasnya, lalu melangkah mundur untuk melepas pakaiannya sendiri yang basah.
"Oh ya?" telanjang dan basah, Baekhyun meliuk-liukkan tubuhnya, melengkungkan punggungnya. "Apa yang kau pikirkan?"
Baekhyun mengulurkan satu tangannya untuk membelai wajah Chanyeol yang mulai merangkak diatasnya. Lalu ia berguling telungkup, memaksa pria tampan itu untuk berbaring. Tangannya mulai menjelajah, Chanyeol membisu.
Dengan lembut, seperti kucing, Baekhyun menjilat. Chanyeol bergetar.
Baekhyun mencicipi seluruhnya. Chanyeol mengerang.
Baekhyun menjilat lagi dan menjulurkan lidahnya makin jauh ke bawah. Chanyeol memaki pelan.
"Kupikir seharusnya aku memang harus membayarnya," gumam Baekhyun. Dan ia pun melakukan apa yang diinginkan oleh Chanyeol. Seks yang penuh gairah.
Sejak saat itu, setidaknya sehari sekali, Chanyeol akan berkata dengan muka memelas, "Aku merasa sangat bersalah." Heh! Baekhyun akan mendengus, namun tak menolak untuk memberikan pria tampan itu penghiburan yang diinginkannya.
Karena lebih dari apapun, Chanyeol telah membantu Baekhyun melewati trauma. Chanyeol tidak memanjakan Baekhyun secara berlebihan. Pria tampan itu hanya mencintai Baekhyun, menghiburnya, bercinta dengannya begitu sering sehingga Baekhyun pegal-pegal. Tetapi semua hal itu sudah lebih dari cukup. Baekhyun pun sanggup tertawa lagi.
Namun yang harus disayangkan oleh Baekhyun adalah penundaan pernikahan mereka selama seminggu. Setelah semua hal buruk yang terjadi, Chanyeol hanya ingin memastikan semuanya berjalan lebih baik. Tidak ada lagi trauma. Tidak ada lagi rasa bersalah.
*ChanBaek*
"Apa kau akan memberitahu kedua orangtuamu ketika kau jemput mereka di bandara hari ini?" tanya Heechul seraya memantik batang rokok di bibirnya, lalu memandang Baekhyun yang sedang menikmati segelas ice latte miliknya. Tao pun mengangkat pandangannya dari ponselnya dan mulai memandang Baekhyun dengan penasaran.
Setelah hari-hari yang melelahkan dengan semua liputan media yang membuat gila, dan trauma yang perlahan berhasil dilewati, Baekhyun akhirnya bisa bersantai bersama kedua sahabatnya di salah satu cafe favorit mereka. Mengobrol dan tertawa, sebelum kemudian Baekhyun membahas tentang pernikahannya yang tertunda kepulangan kedua orangtuanya hari ini.
"Tidak langsung," sahut Baekhyun. "Aku harus memperkenalkan mereka pada Chanyeol lebih dulu. Dan ada urusan pernikahan yang harus kami bicarakan."
""Lebih baik kaulakukan sebelum mereka pulang, karena tetangga-tetangga mereka cenderung akan langsung berdatangan begitu melihat mereka sudah kembali," saran Tao.
"Oke, oke. Mereka akan langsung kuberitahu," Baekhyun menyerah, lalu memeriksa jam tangannya. "Aku harus pergi. Aku akan bertemu dengan Chanyeol satu jam lagi. Oh ya, kalian akan ada kencan setelah ini, kan? Double date, huh?"
Baekhyun menaik-turunkan alisnya, menggoda kedua sahabatnya. Setelah melewati berbagai argumen dan mengikuti konseling pernikahan, pada akhirnya Heechul dan Hangeng memutuskan untuk mempertahankan pernikahan mereka. Sementara Tao, dengan sikap tegasnya yang menolak perselingkuhan dan mengutamakan kesetiaan pun berhasil menaklukan kembali si pemain bola playboy Kris.
Jika saja Kyungsoo masih ada bersama mereka, maka lengkaplah kebahagiaan ini.
"Akan menjadi triple date jika kau tidak harus membawa Chanyeol untuk menjemput kedua orangtuamu di bandara hari ini," tukas Heechul santai, sementara Tao menunduk dengan tersenyum malu. "Sudahlah, cepat pergi atau kau akan terlambat."
Baekhyun mendecih dan berdiri saat Heechul membuat gestur seolah mengusir dengan tangannya, sementara Tao hanya tertawa kecil. Baekhyun pun beranjak pergi. Saat itu Hangeng memasuki cafe sambil membawa rangkaian bunga lili yang besar sekali, menebarkan aromanya ke seluruh cafe. Di belakangnya muncul Kris dengan sebuah boneka panda yang cukup besar dipelukannya.
"Tepat waktunya," kata Baekhyun, sambil mengedipkan mata melewati kedua pria tampan tersebut.
*ChanBaek*
"Sialan," Chanyeol menggerutu saat memeriksa jam di ruangan timnya dan melihat ternyata ia terlambat. Dengan terburu-buru ia mematikan laptopnya, menyambar kunci mobil, dan berlari menuju lobi hingga area parkir.
Baekhyun takkan pernah membiarkan Chanyeol mendengar akhir dari omelannya jika mereka terlambat menemui keluarganya di bandara. Chanyeol mempunyai beberapa kabar penting untuk Baekhyun, kabar yang tak bisa menunggu, dan ia tidak ingin kekasihnya itu marah ketika diberitahu.
Chanyeol mengemudikan mobilnya seperti kesetanan agar tidak terlambat menemui Baekhyun di rumahnya. Rencananya mereka akan pergi ke rumah orangtua Baekhyun setelah dari bandara. Karena mereka semua berempat dan ada koper selama enam minggu yang tidak akan muat baik oleh Viper Baekhyun maupun pikap Chanyeol, maka mereka mengendarai Lincoln milik ibu Baekhyun ke bandara. Baekhyun sudah berada di kursi pengemudi, dengan mesin mobil yang sudah hidup, ketika mobil Chanyeol mendecit berhenti di jalur masuk dan pria tampan itu meloncat keluar.
"Kau terlambat," kata Baekhyun. Ban mobil itu berdecit-decit segera seseudah pantat Chanyeol mendarat di jok mobil.
Chanyeol meraih sabuk pengaman. "Kita takkan terlambat," ujarnya yakin.
Dengan Baekhyun yang memegang kemudi, Chanyeol tidak meragukannya. Mungkin sebaiknya ia memperingatkan pemuda manis itu untuk tidak ngebut. Namun kemudian ia menganggap lebih baik ngebut.
"Ingat tentang tawaran FBI beberapa minggu lalu itu?" tanya Chanyeol.
"Kau menerima pekerjaan itu," kata Baekhyun.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kenapa pula kau tiba-tiba membicarakannya?"
"Yah, aku berpikir untuk menerima pekerjaan itu. Masalahnya, aku harus pindah."
"Jadi?" Baekhyun memutar bola matanya, sedikit jengah dengan Chanyeol yang bicara berbelit-belit.
"Jangan lakukan itu! Perhatikan jalan!" Chanyeol memekik sedikit panik.
"Aku memerhatikan!"
"Kau tak keberatan kalau kita harus pindah ke Amerika setelah menikah nanti? Kau baru saja membeli rumah."
"Aku akan keberatan jika kau tinggal di satu negara dan aku tinggal di negara lainnya. Itu bodoh."
Oh, man. Dan Chanyeol hanya bisa tersenyum puas.
Mereka sampai di bandara dalam waktu yang perlu dicatat dalam rekor dunia. Setelah Baekhyun memarkir mobilnya, mereka bergegas ke pintu ke datangan. "Ingat, Appa menderita Parkinson," Baekhyun berkata. "Jadi kalau lengannya gemetar, itulah sebabnya."
"Aku ingat," kata Chanyeol. Kakinya yang panjang dengan santai menjajari langkah lebar Baekhyun.
Mereka baru saja sampai di pintu kedatangan ketika para penumpang mulai keluar. Orangtua Baekhyun muncul nyaris tak lama kemudian. Baekhyun memekik dan berlari ke ibunya, memeluk ibunya erat-erat, lalu berganti memeluk ayahnya.
"Eomma, Appa, ini Park Chanyeol!" kata Baekhyun, menarik Chanyeol ke depan.
Terima kasih pada Siwon yang telah memberitahukan kabar tentang pernikahan yang akan datang itu pada keluarganya, maka ibu Baekhyun melemparkan kedua lengannya dan memeluk Chanyeol. Ayah Baekhyun mengulurkan tangan kanannya yang gemetar hebat.
"Ini," katanya. "Kau pegang tanganku sementara aku mengurus jabatannya."
Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Sementara ibu Baekhyun berkata, "Sunhwa! Keterlaluan!"
"Apa?" tanya ayah Baekhyun, tampak terhina karena omelan istrinya. "Kalau aku tak bisa bersenang-senang sedikit dengannya, apa gunanya?"
Dalam mata kelam itu, Chanyeol melihat pancaran yang menyatakan bahwa Baekhyun sangat mirip dengan ayahnya. "Kami punya banyak kabar," kata Baekhyun, bergandengan dengan ibunya dan berjalan menuju kerumunan. "Kalian harus janji takkan marah."
Ayah Baekhyun berkata dengan tenang, "Hanya selama kau tidak merusakkan mobilku."
END
