Sejak kecil, Arthit suka sekali membaca buku kuno dari seratus tahun lalu, ada banyak kisah menarik. Arthit kecil membacanya dengan serius tapi Ia tak pernah memikirkan arti ceritanya, ia hanya baca saja.
Anak manis itu suka dengan buku kompilasi cerita dengan judul 'kisah dua puluh enam orang saleh". Ia tak tahu itu kisah nyata atau cuma legenda. Entah kenapa ada satu kisah yang menarik perhatiannya, kisah itu adalah kisah seorang yang saleh menikahi wanita budak dari istrinya karena tak punya anak dan mereka sudah tua. Si budak sangat taat pada Tuhan, dan ia juga punya hati emas walau ia berkulit hitam. Dan pada akhirnya ia mengandung anak, melahirkan anak laki-laki, disaat yang sama istri pertama orang saleh itu mengandung bayi yang juga laki-laki.
Bahagia lah keluarga itu.
Namun Tuhan ingin menguji orang saleh dan istri-istrinya, IA perintahkan sang orang saleh untuk pergi ke padang pasir dan bersama istri serta bayi laki-lakinya, Tuhan menyuruhnya untuk meninggalkan istri dan darah dagingnya. Orang saleh itu tak tega sebenarnya tapi ini adalah perintah Tuhannya, tak bisa menolak. Dan pasti ada alasan kenapa Tuhan memberi perintah itu.
Saat ia akan pergi setelah membangun perlindungan untuk anaknya, sang istri mengejarnya. Bertanya pada suaminya, mau ke mana, dan kenapa ia ditinggal di padang pasir yang sangat panas bersama bayinya yang baru lahir.
Sang suami tak berbalik dan hanya berjalan ke depan, tak mau goyah. Sang istri bertanya apakah ini perintah Tuhan? Orang saleh itu menjawab "Ya" dan sang budak itu menjawab. "Kalau begitu aku ikhlas, pergilah. Ini adalah perintah Tuhan." Lembut.
Tuhan tak membiarkan mereka. IA memberi air dari kaki bayi yang menggali pasir, menangis karena haus, Setelah sang ibu bolak-balik berlari mengejar fatamorgana air yang tak pernah ada. Bertahun-tahun daerah itu menjadi kota karena air Mukjizat yang diberi Tuhan untuk bayi dan ibu itu.
Saat sang anak beranjak remaja, Tuhan memberi perintah untuk sang orang saleh untuk menemui anak remajanya dan istrinya yang telah lama ia tinggalkan.
Saat kebahagiaan muncul Tuhan memberi perintah yang sangat kejam untuk manusia zaman modern, yaitu menyembelih anak yang tak pernah ia temui bertahun-tahun. Orang saleh merasa kebingungan saat menjelaskan ini pada istri dan anaknya. Tapi istri dan anaknya tak mempermasalahkannya jika itu perintah Tuhan maka lakukanlah.
Dan Tuhan tak sekejam itu, IA menukar sang anak dengan kambing yang sehat.
Keluarga itu makan daging kambing dengan gembira dan membaginya dengan orang lain..
Arthit kecil berpikir bawah Tuhan dicerita itu benar-benar kejam, namun semakin dewasa ia mengerti maknanya, jaman dulu pengorbanan manusia adalah hal biasa dan cerita itu mengajarkan bahwa Tuhan tak butuh nyawa manusia. Yang ia mau hanyalah ketaatan hambanya.
Ratusan tahun dari kejadian itu dua agama besar mengadopsinya dari sisi berbeda. Bahkan satu agama menjadikannya ritual napak tilas yang wajib dilakukan.
Keluarga Arthit tinggal di negara yang tak peduli agama, orang-orangnya pun sebagian tak beragama. Juga keluarga Arthit.
Ia hanya suka membaca buku cerita, makin dewasa makin beragam buku yang Arthit baca dari filosof sosial sampai keagamaan, sastra mesum sampai puja-pujian ketuhanan. Ia baca semua buku.
Makin dewasa sifat kritisnya tumbuh. Ia berumur tiga belas tahun saat hatinya mempertanyakan hal yang aneh soal cerita yang dibacanya waktu kecil, cerita dari dua agama terbesar yang pernah ada.
Buku-buku agama yang ia baca selalu berkata betapa taatnya sang orang Saleh dan betapa ikhlasnya anak orang Saleh, setiap buku yang bercerita tentang salehnya keduanya, buku-buku itu memuji dua ayah anak itu.
Arthit merasa itu tidak adil tapi tak tahu dari mana tidak adilnya. Arthit tumbuh menjadi remaja keras, ia adalah pribadi maskulin yang sangat kuat.
Umurnya empat belas tahun saat ia mendapat haid, yang biasanya hanya didapatkan wanita pada jaman dulu. Tapi kini gender terbagi enam, dan Arthit adalah feminin male. Ia bertubuh laki-laki, punya hormon laki-laki, namun ia memiliki alat reproduksi wanita, ia memiliki sel telur, rahim dan vagina.
Ya, zaman ini definisi wanita dan laki-laki jadi rancu, bukan karena orang-orang transgender yang memilih ganti kelamin tapi karena yang dulu disebut intersex telah makin banyak dan sempurna melahirkan empat gender lain. Karena definisi wanita dan laki-laki tak bisa masuk pada mereka yang memiliki kelainan kromosom.
Arthit, empat belas tahun tak masalah dengan kondisinya, ia juga tak masalah jika nanti jadi ibu.
Namun saat ia masuk SMP, Arthit tak suka seragamnya berwarna pink, ia tak suka saat gelang IDnya berwarna pink. Dan ibunya selalu membeli baju feminin untuknya yang selalu dibuang Arthit.
Arthit ingin baju yang terlihat garang, terlihat keren, tak ingin terlihat kemayu. Ia memiliki satu set organ reproduksi kewanitaan tapi tak ingin menjadi wanita. Baginya gaya bukan menunjukkan jenis kelaminmu atau bahkan orientasi sex mu. Gaya adalah sesuatu untuk dirimu sendiri.
Untuk kenyamanan mu.
Arthit SMP adalah anak tertekan, ia tak ingin ikut acara memasak yang khusus untuk tiga gender feminin, Arthir ingin ikut acara naik gunung khusus gender maskulin. Tapi guru dan orang tua memaksa Arthit ikut acara sesuai gendernya.
Makin dewasa Arthit makin sadar bawah menjadi feminin itu tak bisa semaunya. Dianggap tak bisa apa-apa atau tak perlu melakukan apa-apa, hanya melahirkan dan memuaskan sang maskulin.
Cerita di buku kuno yang Arthit kecil baca adalah kisah yang menceritakan seorang wanita kuat, wanita yang rela ditinggal di padang pasir yang panas dan gersang oleh suaminya karena itu perintah Tuhan. Seorang ibu yang rela anak semata wayangnya disembelih padahal ia sudah membesarkannya sendiri dan dengan nyawa, karena perintah Tuhan. Seorang hamba yang taat.
Dan jejaknya diikuti orang miliaran dari agama yang baru lahir, hingga hari ini.
Tapi Arthit sadar sesuatu. Sesuatu yang tak pernah berubah sampai saat ini, sesuatu yang tidak adil di kalangan agamawan atau kebudayaan-kebudayaan dari masa ke masa.
Tokoh-tokoh feminin ditenggelamkan begitu saja, dan tokoh-tokoh maskulin diangkat begitu tinggi. Padahal banyak cerita orang saleh yang melibatkan tokoh-tokoh wanita suci. Tapi para agamawan dan filosof agama seakan tak mau tahu bahwa Tuhan itu adil untuk semua.
Mungkin kalimat dari novel jaman dulu benar adanya. Bawah agama-agama modern menghapus wanita-wanita suci, hanya untuk menjadikan maskulin yang tertinggi.
Ketika SMA Arthit tak peduli. Ia memakai seragam super male yang maskulin dan memakai gelang yang mirip gelang ID super male yang keren.
Ia tak ingin jadi super male hanya saja gaya yang Arthit sukai adalah maskulin bukan feminin. Karena bagaimanapun juga ia tetap laki-laki. Ia juga tak ingin hanya melahirkan anak saja.
.
"Kita akhiri pelajaran hari ini." Ujar pria pertengahan tiga puluhan yang berdiri di depan kelas. Wajahnya ramah, senyumnya masih menawan para mahasiswi dan mahasiswa yang menyukai feminin male. Kalau ditanya kenapa bisa tahu jenis gender seseorang, itu mudah saja. karena gelang ID mereka berbeda warna, dan pada saat mereka masih sekolah dan kuliah mereka memiliki seragam berbeda.
Super female, feminin male berwarna pink, normal female male abu-abu atau hitam, super male, maskulin female biru metalik.
Jadi kau akan segera tahu apa gender seseorang hanya dengan melihat gelang ID mereka, ini dilakukan pemerintah agar masyarakat mudah dikenali jika terjadi hal yang tak terduga, karena perbedaan genetika dari tiga sub gender akan sulit jika tidak tahu apa gender korban. Sedangkan untuk pemeriksaan lab butuh dua minggu lebih baru bisa tahu apa gender seseorang.
Darah, terutama darah feminin male sangat berbeda, kromosom mereka sangat berbeda dari gender lain. Banyak dari feminin male memiliki kromosom y bukan Y seperti normal dan super male. Kasus X yang berubah menjadi Y tidak membuat genetika feminin male banyak berbeda dengan yang lain, namun yang memiliki y (Y kecil) sangat berbeda. Mereka tidak bisa menerima darah dari super male dan normal male.
Intinya mereka tidak bisa menerima organ atau darah yang berkromosom Y.
"Jangan lupa untuk datang ke acara senior kalian, karena itu sangat berguna nanti" lanjut pria itu di ambang pintu kelas sebelum keluar dari ruangan tempatnya mengajar.
M menghela napas. "Apanya yang berguna? Cuma dengar teriak-teriak bisa berguna?" Gerutu M sambil membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja. "Kong, kita kabur saja yok."
Pemuda di bangku sebelah menghembuskan napas lelah, Kong tahu M itu sedikit menyebalkan sih. tapi, yah. Kalau mau bolos, bolos saja sendiri, Tidak usah ajak-ajak. "Acara ini akan berlangsung enam bulan, M. Dan selama itu mereka bisa menghukum di mana saja, di daerah kampus jika melanggar aturan mereka dan datang ke pertemuan adalah aturan nomor satu, kau mau tak kuliah selama enam bulan?" ujar Kong panjang, membuat M pusing.
M menghela napas lagi. "Bikin repot saja sih." Pemuda manis itu memanyunkan bibirnya. "Kenapa pula harus ganti baju segala?"
"Kau tahu, itu aturan ketua ospek tahun ini?" Suara halus namun sedikit berat terdengar dari belakang mereka berdua, Kong serta M menoleh ke belakang mendapat seorang wanita cantik berambut panjang tersenyum ke arah mereka. Seragamnya sama seperti Kong, rompi biru, rok hitam. "Hai, aku Praepailin." Wanita itu memperkenalkan diri.
"M."
"Kongpope."
"Jadi kenapa harus pakai kaos putih dan celana hitam atau rok?" tanya M, setelah sesi perkenalan singkat.
Praeilin akan bahu. "Tak tahu, mungkin tak suka warna-warni?" Kata Maskulin female asal.
"Mungkin dia tak suka gender manja seperti super female dan feminin male yang akan selalu dikecualikan untuk hal-hal fisik." Seorang pemuda normal male ikut berbicara. Pemuda itu memakai kacamata bulat, berambut seperti mangkuk.
"Hai!" M tak terima. Bukan mau mereka memiliki tubuh lemah. Siapa yang bisa memilih gender apa yang kita inginkan, Lagipula hanya feminin male yang memiliki kromosom y saja yang lemah secara fisik, sedangkan yang X permutasi sebagai Y mereka tetap normal. Pengecualian bagi super female hanya waktu haidnya saja yang sangat menyakitkan. Mereka cantik dan lebih 'memuaskan' itu alasan mereka dimanja.
Dasar laki-laki. runtut M dalam hati, tak sadar kalau ia juga laki-laki.
"Aw.. maaf, itu kata forum kampus." Pemuda berkacamata bulat itu menunjukkan virtual layar yang memuat kolom forum. Ada kolom yang mengatakan ketua ospek itu anti dengan kedua gender berwarna pink itu. "Oh, aku Oak" sadar dia belum mengenalkan diri.
"Kenapa begitu? Mentang-mentang dia super male? Jadi dia benci dengan gender terlemah?" cecar M marah.
"Jangan termakan isu tak jelas, M." Sahut Kong. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan sambil menenteng tas di pundaknya. "Ayo, ke gedung pertemuan. Jika terlambat kita bisa dihukum." Ujar pemuda jangkung itu seraya berjalan keluar kelas.
"Baiklah." M mengikuti dengan malas, Praeilin, Oak juga beberapa orang yang belum berkenalan ikut serta. Gedung pertemuan, adalah gedung serba guna yang sering digunakan saat acara pentas seni, wisuda dan ospek. Hanya beberapa meter jaraknya gedung dari fakultas teknik.
Sebelum masuk gedung, ada kakak-kakak tingkat dua yang menyuruh mereka melepas rompi yang menandakan gender mereka dan mengganti rok atau celana berwarna hitam, mereka bisa pilih yang diinginkan. Disiapkan juga bilik-bilik untuk mengganti celana.
Ini benar-benar merepotkan, ah. pikir M dalam bilik. M memilih celana tapi ada salah satu teman seangkatannya yang feminin male memilih rok. Katanya memang biasa kalau di rumah ia pakai rok, atau baju untuk super female dan normal female, ia tak suka gaya androgini yang sering digunakan untuk gaya baju feminin male.
Mereka masuk ke dalam aula besar. di sana, kakak-kakak tingkat tiga sebagian sudah berdiri tegap, bagai sipir penjara berjaga narapidana. Mereka berwajah masam yang menakutkan para anak baru.
Mereka tak disediakan kursi untuk duduk, hanya ada panggung besar. kakak tingkat dua menyuruh semua anak baru duduk di bawah, bersila menghadap panggung.
Butuh waktu lima belas menit sampai ketua ospek yang beraura permusuhan datang dengan keempat temannya yang mengekorinya. Menaiki tangga menuju panggung.
Arthit menatap sekeliling dengan mata tajam, ia memakai rompi biru, celana hitam. Gelang biru metalik terpasang di tangan kanannya, sedangkan sebuah gelang kain berwarna merah biru melekat di kiri.
Pemuda yang terlihat garang itu melangkah maju, kedua tangannya tersimpul ke belakang, tersembunyi. "SELAMAT SIANG, HARI INI AKU MAU KALIAN BELAJAR SEMBOYAN ANAK TEKNIK." Suaranya nyaring, tak perlu mic untuk terdengar ke seluruh aula besar. mereka yang ada di sana bisa dengan mudah paham apa yang Arthit katakan. "SATU! DISIPLIN, DUA! MENGHORMATI SENIOR, TIGA! JIWA ATAU HATI,... "
Arthit berteriak tentang apa itu semangat anak teknik, kebanggaan anak teknik. Yang M tak paham apa gunanya itu saat kuliah? Apa itu dinilai?
Arthit menatap sekeliling dengan tajam. "APA KALIAN PAHAM?" tanyanya pada orang-orang di bawahnya yang sedang bersila, manis. Para mahasiswa baru itu menjawab paham serempak yang pada kenyataannya banyak dari mereka tak paham.
"SEKARANG, AKU INGIN KALIAN MENGENAL PARA SENIOR, MENGENAL SEMUA SENIOR KALIAN. SELAMA SEMINGGU KALIAN HARUS MENGUMPULKAN NAMA ID SENIOR KALIAN, SEBANYAK SERIBU SENIOR JIKA KALIAN TIDAK BISA ..." Arthit tersenyum manis, dan membuat semua tercengang. "LARI SERATUS PUTARAN MENGELILINGI KAMPUS..." dan semuanya kembali ke neraka setelah melihat surga...
