Just Friend?

KamiJirou by Horikoshi Kohei

Original Story by Viziela Veronica

Rated T

"Jadi bagaimana? Akhir pekan ini kita jadi pergi ke Shibuya?"

Kaminari Denki membuka bungkus yakisoba miliknya memakannya lahap dan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ajakan Kirishima. Mereka memang sudah membahas hal ini tapi temannya yang satu ini kembali membahasnya hanya untuk memastikan. Seperti biasa kelompoknya berkumpul dalam satu bangku. Entah sejak kapan dirinya menjadi dekat dengan Bakugou Katsuki, Kirishima Eijirou dan Sero Hanta. Kaminari tak tahu, yang pasti di antara semua teman sekelasnya ia paling merasa nyaman berkumpul dengan mereka bertiga, terkadang Ashido Mina juga ikut serta. Dan julukan Bakusquad muncul begitu saja entah siapa yang memulai.

"Aku sih ikut saja," timpal Sero Hanta.

Kirishima menoleh ke arah Katsuki yang asyik menambahkan banyak saus ke makanannya. "Bakugou, kau bagaimana?"

"Terserah," balas Katsuki asal yang mengundang gelengan kepala Kirishima.

"Hanya kita berempat. Tidak ada satu cewek pun?"

"Ashido ikut kok." Kirishima menjawab kegalauan Kaminari, tapi Kaminari menghela napas terlihat kurang puas. "Kau ajak saja Jirou."

"Ya. Kau pasti senang bukan kalau Jirou ikut?" sambung Sero menunjukkan cengirannya untuk menggoda Kaminari.

"Hah ... b-biasa saja." Kaminari berusaha menjawab dengan tenang. "Lagipula memangnya ia mau di ajak olehku?"

Kirishima mengendikkan bahunya. "Entahlah ... kenapa tidak dicoba saja? Kau kan akrab dengannya."

Kaminari menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan Kirishima. Ia bisa saja mengajak Jirou tetapi mendengar Sero tadi yang menggodanya dengan Jirou ia merasa agak gugup. Pemuda pemilik quirk listrik itu menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak menyukai Jirou tapi tidak ada salahnya bukan kalau ia bisa merasa gugup terhadap Jirou.

"Tenang saja ... Aku sudah mengajaknya dan ia menerima ajakanku."

Suara berat Katsuki mengundang lirikan heran dari teman-temannya. Katsuki yang tadi tengah berkutat dengan ponselnya kini sibuk memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam dan kembali menikmati makan siangnya. Sama sekali tidak menyadari pandangan heran teman-temannya terlebih dengan sorot mata Kaminari yang terlihat tidak suka. Katsuki menggerakkan sumpit miliknya memakan ramen ekstra pedasnya dengan tenang.

"Bakugou, kau tadi bilang kau sudah mengajak Jirou?" tanya Sero.

Katsuki menganggukkan kepalanya mulutnya penuh dengan ramen. "Kok bisa?" tanya Kirishima menyuarakan keheranan Kaminari.

Pemuda berambut pirang itu mengerutkan keningnya. "Bukannya kalian ingin ia ikut bergabung? Dasar aneh," dengus Katsuki.

Kirishima menggarukkan kepalanya ingin bertanya lebih lanjut tapi ia sadar Katsuki tampak tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Atau lebih tepatnya ia tidak ingin diganggu saat sedang menikmati ramen pedasnya. "Ia ingin ikut karena ia bilang ingin mencari kaset. Lagipula si mata rakun tadi sudah mengajaknya," jelas Katsuki.

"Bakugou-kun."

Pandangan Katsuki teralih tatkala suara ceria imut memanggil namanya. Wajah tenang Katsuki segera berkerut saat manik merahnya bertemu pandang dengan manik cokelat bundar dari gadis yang melemparkan cengiran bodoh ke arahnya.

"Ada apa round face?" tanya Katsuki ketus.

"Tch ... jutek sekali. Aku juga sudah bilang namaku Uraraka Ochako jangan memanggilku dengan panggilan aneh."

"Terserahlah." Katsuki mengibaskan tangannya tak peduli.

Kaminari memperhatikan keakraban di antara Uraraka Ochako dan Bakugou Katsuki. Semenjak pertarungan mereka di festival olahraga mereka menjadi lebih akrab. Sebenarnya kalau dilihat dari karakter kedua orang ini, Ochako lah yang selalu berusaha mengakrabkan dirinya dengan Katsuki. Gadis berwajah bundar itu memang seperti perwujudan malaikat, bukannya membenci Katsuki karena sudah menghajarnya habis-habisan saat festival, Ochako malah ingin bisa berteman dekat dengan Katsuki. Dan Ochako menghormati Katsuki karena bocah ledakan itu tidak pernah menganggapnya lemah di saat hampir seluruh teman sekelasnya mencapnya sebagai gadis lemah. Lalu entah sejak kapan Katsuki tidak pernah merasa keberatan bila Ochako mendekatinya.

Setelah berbicara sebentar dengan Katsuki, gadis itu lalu membalikkan tubuhnya berlari-lari kecil membawa baki makanannya dan mendekati Midoriya, Iida, Todoroki dan Tsuyu.

"Hei bro sudahlah, berhenti menatap bokongnya Uraraka," goda Kirishima menyikut pelan pinggang Katsuki.

"HAH?! AKU TIDAK SEMESUM ITU," Katsuki berteriak marah tapi Kirishima tertawa kencang begitu pula dengan Sero Hanta, wajah Katsuki merah padam. "Tch ... dasar bocah-bocah gila."

"Eh ... Bakugou apa itu?" Kaminari bertanya memandangi kotak kue berukuran mini yang diberikan Ochako kepadanya.

"Biskuit. Tadi kita praktik di kelas memasak bukan? Ia berjanji memberikanku ini. Padahal aku tidak suka makanan manis." Katsuki meletakkan kotak kue itu dengan gerakan seperti melempar di atas meja.

"Kalau begitu aku boleh memakannya?" Sero Hanta dengan beraninya mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak kue itu.

"Kau ingin MATI?!" Katsuki mencengkram pergelangan tangan Sero mengeluarkan sedikit percikan api quirknya.

"AUW, tenang bro aku hanya bercanda." Sero dengan cepat menarik tangannya meringis melihat pergelangan tangannya sedikit terbakar karena ulah Katsuki.

Kirishima menggelengkan kepalanya melihat Katsuki dengan cepat berusaha menyembunyikan kotak kue itu. "Kenapa kau tidak mengajak Uraraka ikut juga? Pasti seru bukan?"

"Hah? Untuk apa aku mengajak muka bulat yang berisik itu?"

Kaminari berusaha mengabaikan adu mulut antara Kirishima dan Katsuki. Biasanya ia suka sekali ikut menjahili Katsuki apalagi menggoda temannya itu dengan Uraraka Ochako. Tapi untuk saat ini Kaminari berada dalam suasana hati yang buruk. Bisa dikatakan ia merasa jengkel terhadap Katsuki.

Kenapa bocah ledakan ini bisa dekat dengan Jirou di saat Katsuki menaruh perhatian lebih terhadap Uraraka? Kaminari menghela napas, baiklah ia memang tidak berhak untuk merasa marah itu terlalu kekanakkan. Katsuki bahkan dekat juga dengan Ashido Mina. Jadi tidak aneh bukan kalau temannya itu akrab dengan Jirou?

Kaminari kembali menghela napas lagipula kenapa ia harus merasa sekesal ini? Jirou Kyouka bukan siapa-siapanya. Mereka berteman tidak lebih. Dan Kaminari bersumpah ia tidak akan memiliki perasaan dengan Jirou.

"Hei kami boleh bergabung?"

Ashido Mina mendadak muncul di dekat meja mereka bersama dengan Jirou Kyouka. Gadis itu memasang wajah datar seperti biasanya. "Tentu saja boleh." Kirishima mengangguk.

"Yay." Mina mengambil tempat di sebelah Sero Hanta yang segera menggeser tempat duduknya untuk gadis itu. Sedangkan Katsuki dengan ogah-ogahan menggeser tempat duduknya untuk Jirou ia benar-benar tidak suka diganggu saat sedang menikmati makanan pedas kesukaannya.

"Di mana Yaoyorozu?" tanya Sero karena biasanya Jirou selalu bersama-sama dengan gadis kaya itu.

Jirou menghela napas menggerak-gerakkan ear-plugnya dengan dengan telunjuknya. "Ia dipanggil ke ruang guru," jawab gadis itu.

Kirishima mengangguk mengerti ia dapat melihat Iida Tenya yang berlari cepat keluar dari kafetaria sekolah sepertinya ketua kelasnya itu juga dipanggil ke ruang guru. "Omong-omong kau benar-benar bisa ikut bersama kami hari minggu nanti?"

"Ya, ada barang yang ingin kubeli. Oh ya Bakugou aku ingin kau mendengarkan ini." Jirou Kyouka merogoh saku seragamnya mengeluarkan ponselnya dari dalam sana, menunjukkan layar ponselnya kepada si bocah peledak.

"Aku belum mendengar lagu itu," ucap Katsuki.

"Kalau begitu aku akan mengirimnya ke ponselmu. Kau pasti suka." Katsuki mengangguk membenarkan perkataan Jirou, mengabaikan pandangan heran dari teman-temannya yang lain mereka berdua malah tampak asyik sendiri terlibat dalam percakapan hanya untuk mereka berdua.

"Aku juga punya beberapa lagu yang sepertinya sesuai dengan seleramu."

"Wauw ... kalau begitu kirimkan juga ke ponselku."

'Apa-apaan ini?' batin Kaminari tidak terima. Kenapa mereka berdua terlihat akrab sekali? Pemuda itu tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Sejujurnya Kaminari sangat tidak menyukai situasi ini, dimana Jirou terlihat bisa lebih santai berbicara dengan laki-laki lain selain dengan dirinya. Mungkin ia tidak akan merasa sepanas ini kalau laki-laki itu tidak dekat dengannya tapi ini Bakugou Katsuki. Bocah peledak yang cukup akrab dengannya bahkan tanpa sadar ia sudah tergabung dalam kelompok Bakugou. Kaminari menggigit bagian dalam bibirnya. Tidak tahu kenapa ia merasa tidak bisa berlama-lama berada di tempat itu.

"Bro kau kenapa?" tanya Kirishima heran melihat Kaminari yang berdiri dari duduknya.

"Maaf ... aku mau keluar sebentar."

Mengabaikan pandangan heran teman-temannya Kaminari pergi dari tempat itu, memutuskan untuk keluar dari kafetaria. Kirishima menggaruk kepalanya yang tidak gatal sekaligus menebak-nebak kenapa Kaminari mendadak terlihat badmood seperti itu? Sedangkan Ashido dan Sero saling berpandangan dengan heran.

"Si dunce face ada masalah apa?" tanya Katsuki tidak biasanya ia perhatian terhadap temannya sendiri.

Kirishima mendecak menahan diri untuk tidak menjitak kening mulus tanpa jerawat milik Katsuki. Ia merasa gemas sendiri dengan kekurang pekaannya Katsuki. Tidak sadarkah si bocah peledak ini bahwa Kaminari menjadi jengkel akibat ulahnya yang berakrab ria dengan Jirou Kyouka?

Kirishima sangat yakin, Kaminari Denki memiliki perasaan terhadap Jirou.

"Aneh ... ia tadi terlihat jengkel karena ada aku," ucap Jirou. "Aku akan menyusulnya." Jirou bangkit dari duduknya dan bergegas menyusul pemuda berquirk listrik itu, gadis itu terlihat khawatir. Meski pun ia suka menjahili Kaminari dan mengatakan kalimat-kalimat kejam kepada pemuda itu ada kalanya Jirou tetap menaruh perhatian kepada teman kelasnya itu.

"Ada apa dengan mereka?" tanya Katsuki heran memandangi kepergian Jirou tidak mengerti. Bukankah biasanya Kaminari Denki selalu berlagak konyol dan bodoh bila ada Jirou Kyouka di dekat mereka?

'pletak!'

"AUW! KENAPA KAU MEMUKULKU SIALAN?!" Katsuki meraung marah karena Ashido tanpa basa-basi menjitak kepalanya. Tapi Ashido segera berkelit dari serangan quirk Katsuki, gadis itu melompat lincah dan mengambil tempat di sebelah Kirishima untuk berlindung. Katsuki mendecak kasar karena gadis alien itu jus pesanannya menjadi tumpah.

"WAAA ... KAU MENGOTORI CELANAKU BAKUGOU." Sero berteriak panik tumpahan jus Katsuki mengenai seragamnya.

Katsuki kembali mendecih."Salahkan si mata rakun," ucapnya sembari menunjuk Ashido yang melemparkan cengiran dan menunjukkan tanda peace dari jari tangannya.

"Kau juga kenapa tega sekali menyakiti hatinya Kaminari?"

"Hah?" Kerutan di dahi Katsuki semakin dalam tatkala Kirishima mulai buka suara. Menyakiti hati Kaminari? Apa maksudnya? Seingatnya hari ini ia masih berlaku seperti anak baik yang tidak mengeluarkan umpatan kasar apalagi mengejek Kaminari. Oh Katsuki jelas tidak sadar sudah berpuluh kali ia mengeluarkan kalimat kebun binatang untuk hari ini.

"Aku tidak mengerti maksudmu shitty hair."

Kirishima menghela napas, Sero menggelengkan kepalanya prihatin dan Ashido hanya bersiul tak jelas melihat ketidak pekaan seorang Bakugou Katsuki. Katsuki mendengus mengabaikan pandangan prihatin teman-temannya ia menolehkan kepalanya tanpa sadar ke bangku seberang kantin. Bocah itu menghela napas kasar melihat ada beberapa siswa kelas lain yang mendekati Ochako seperti tengah berusaha menggoda gadis itu. Midoriya dan Todoroki entah berada di mana sehingga di bangku itu hanya ada Uraraka dan Tsuyu Asui.

"Bocah-bocah bajingan, mereka ingin kuledakkan?" desis Katsuki tanpa sadar. Tapi ia segera tersenyum puas melihat Uraraka yang mengabaikan pemuda itu dan mengajak Tsuyu segera pergi keluar dari kafetaria.

"Merasa panas huh?" Ashido Mina kembali bersiul karena manik merah Katsuki mendelik tajam ke arahnya. Gadis itu terkekeh pelan sambil tetap berusaha bersembunyi di balik tubuh kokoh Kirishima ia berkata. "Bagaimana perasaanmu melihat Ochako-chan dekat dengan laki-laki lain? Seperti itu lah yang dirasakan Kaminari terhadap Jirou-chan."

Katsuki mengedipkan kedua matanya dengan cepat mendengar perkataan Ashido. "Tunggu maksudmu si dunce face menyukai gadis earphone?" Katsuki memang orang yang tidak peduli dengan masalah romansa tapi ia bukanlah orang yang buta akan hal itu.

Sero Hanta terkekeh mendengarnya."Bro ... secara tidak langsung kau mengakui kalau kau menyukai Uraraka."

"Pfft aku tidak menyangka bocah peledak ini bisa juga terjebak dengan pertanyaannya Ashido." Kirishima ikut tertawa kencang melihat wajah Katsuki yang kini merah padam.

"DIAM ... KALIAN. Aku tidak menyukai muka bulat itu, paham?"

"Tapi Bakugou kau sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya."

"Memangnya salah kalau aku memperhatikannya?" balas Katsuki dengan nada bicara yang tidak bisa dibilang santai. "Lalu mengenai aku dan si gadis earphone itu kami hanya saling bertukar lagu. Ia memiliki selera yang sama denganku. Mana aku tahu kalau ternyata si dunce face itu menyukai gadis tomboy itu?"

"Hoo ... begitu." Kirishima, Sero dan Ashido mengangguk-angguk mengerti. Memang kalau diperhatikan Katsuki memiliki ketertarikan yang sama dengan Jirou Kyouka. Selain dari selera musik yang sama gaya berpakaian mereka pun hampir sama. Katsuki terkadang suka memakai kaus bergambar rocker begitu juga dengan Jirou. Semenjak festival budaya sekolah mereka mulai cukup akrab apalagi Jirou terkadang bergabung bermain dan merasa nyaman dengan kelompok Bakugou Katsuki.

"Yah kalau dilihat sih kedekatan kalian memang seperti teman dekat saja. Tapi untuk Kaminari yang naksir dengan Jirou mana mungkin ia berpikir seperti itu." Kirishima mengeluarkan pendapatnya yang segera mendapat dukungan anggukan setuju dari Sero dan Ashido.

Katsuki mendecak kasar menggaruk bagian belakang kepalanya. "Terserahlah si manusia listrik itu menganggap apa yang jelas aku dan gadis earphone itu tidak memiliki hubungan apa pun."

Katsuki muak dengan pembicaraan ini, semua orang yang berada di meja itu seolah menyalahkannya. Ia mana tahu perasaan Kaminari terhadap Jirou, lagipula menurutnya itu tidak penting baginya. Pemuda itu lalu bangkit berdiri memutuskan pergi dari sana dan kembali ke kelas. Mungkin kembali ke kelas adalah pilihan yang bagus saat ini bagi Katsuki karena ia bisa melihat wajah bundar terkesan bodoh itu.


Kaminari menenggak habis cola dingin yang baru saja dibelinya dari vending machine. Ia menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke batang pohon apel yang berada di belakangnya. Pemuda itu mengusap sudut bibirnya yang basah karena cola dan pandangannya terarah ke atas menatap langit yang sedikit kembali menghela napas meremas kencang kaleng cola miliknya yang sudah kosong. Ia mengusap kasar wajahnya tatkala mengingat tingkah kekanakkan yang ia lakukan.

Hanya karena melihat kedekatan antara teman dekatnya dengan si gadis rocker ia menjadi merasa panas seperti ini. Kaminari menggelengkan kepalanya. Tidak. Ini salah. Ia mana mungkin memiliki ketertarikan terhadap Jirou.

"Kaminari ...!"

Kaminari berjengit kaget tatkala mendengar suara merdu Jirou Kyouka yang memanggil namanya. Tubuhnya bergerak refleks bersembunyi di semak-semak yang berada dekat dengan pohon apel tempat dirinya bersantai. Ia mengintip di balik semak-semak melihat Jirou yang berlari-lari kecil dan menoleh kesana kemari. Gadis itu mencarinya bahkan rambut pendek Jirou terlihat sedikit berantakan akibat dirinya yang berlari-lari kecil.

"Huh ... di mana bocah itu?" Jirou mengomel pelan mengusap peluh di keningnya. Gadis itu terlihat khawatir sekaligus kesal. Dan entah kenapa mendapati fakta bahwa Jirou mencarinya membuat Kaminari merasa senang sendiri.

Pemuda itu bertanya-tanya dalam hatinya bagaiman kalau ia mendadak muncul dan membuat kaget Jirou? Gadis itu sering menjahilinya tidak salah bukan kalau ia sekali-kali ingin menjahili Jirou juga? Memikirkan wajah kaget Jirou yang mungkin terlihat imut entah kenapa membuat Kaminari tersenyum-senyum sendiri. Tapi senyuman Kaminari mendadak lenyap saat ia ingat betapa galaknya gadis ini. Jirou bisa saja balik menghajarnya, membayangkan kemungkinan satu ini membuat Kaminari tanpa sadar mengusap lengannya sendiri.

Kaminari lalu memutuskan untuk tetap bersembunyi di balik semak-semak, mencari waktu yang tepat untuk menghampiri gadis itu. Lagipula melihat Jirou yang terus mencarinya dengan wajah khawatir seperti itu membuat Kaminari merasa senang sendiri, ia ingin melihatnya sedikit lebih lama lagi.

"Ah ... maaf aku tidak sengaja."

Kaminari menyipitkan kedua matanya melihat Jirou tanpa sengaja menyenggol bahu seorang siswa bertubuh besar yang melewatinya. Siswa yang ditabrak itu terlihat kesal, ia tidak sendiri ada dua temannya yang berdiri di belakangnya.

"Apa meminta maaf saja cukup? Kau menjatuhkan ponselku, gadis sial," umpat siswa itu.

Kaminari mendengus pelan ternyata di U.A masih ada sekelompok siswa yang suka menindas dan meributkan hal sepele semacam itu. Kaminari sedikit pun tidak sadar kalau di kelasnya sendiri terdapat siswa berandal yang suka meributkan hal sepele dan berteriak-teriak tidak jelas.

"Aku sudah minta maaf. Lagipula kau sendiri menghalangi jalanku." Jirou membalas tak kalah kesalnya, menatap tiga siswa itu dengan berani membuat Kaminari yang bersembunyi merasa kagum sendiri.

"Hei ... kalau diperhatikan kau anak kelas 1-A bukan? Wah ... mentang-mentang berada di kelas unggulan kau berlagak seperti ini."

"Kalian sendiri menekan seorang gadis bertiga seperti ini bukannya terkesan pengecut."

'Aduh ... kenapa dia tidak diam saja sih?' batin Kaminari gemas sendiri dengan keberanian Jirou. Ia bertanya-tanya dalam hati apa gadis itu tidak paham situsasi kalau ia berada di bagian taman yang cukup sepi? Ketiga siswa itu bisa saja mencelakainya.

Kaminari menghela napas apa ia harus keluar untuk menolong Jirou? Kalau ia mengeluarkan quirknya ia takut listriknya mengenai gadis itu

"Hei ... kalau diperhatikan kau cukup manis juga. Meksi pun tomboy sih. Yah sebagai gantinya ayo temani kami ke kantin."

"Hah? Aku tidak bilang kalau aku sudi mengganti rugi." Jirou masih membalas dengan keras. Gadis itu menggigit bibirnya saat ketiga siswa itu mendekatinya dan hendak menyeretnya dengan paksa. Ia lalu menggerakkan earplugnya untuk mengeluarkan serangan ke ketiga orang itu, mencolokkan ujung ear plugnya kecolokan di sepatu sekolahnya yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kostum pahlawannya untuk menimbulkan serangan berupa suara yang memekakan telinga. Tapi kening mulus gadis itu berkerut saat ia sadar quirknya tidak bekerja, ia menatap tajam ke ketiga siswa itu. Jelas sekali salah satu di antara mereka memiliki quirk yang mirip dengan Eraser Head, yaitu menghapus cara kerja quirk orang lain untuk sementara.

Jirou Kyouka lalu mengepalkan kedua tangannya. Baiklah sepertinya satu-satunya cara adalah menghajar ketiga orang ini menggunakan tangan kosong. Lagipula selain suka bermain musik, ia juga cukup suka berlatih bela diri seperti Uraraka Ochako.

"Auw!"

Jirou menyipitkan kedua matanya saat tangan seorang siswa yang hendak menarik lengannya tersengat listrik. Lalu disusul dengan kedua siswa yang lainnya mereka juga ikut terserang listrik. Gadis itu sangat mengenal pemilik quirk listrik ini. Tapi bukankah pemuda itu belum terlalu pandai mengontrol listriknya? Seharusnya ia juga ikut terkena listrik tapi kenapa?

"Hei kalian kalau kalian berani menganggunya lagi, sengatan listrik itu akan bertambah." Kaminari melompat keluar dari tempat persembunyiannya, mengacungkan telunjuknya ke arah ke ketiga siswa itu.

"Ugh ... sialan. Memangnya kau kenapa sampai berani ikut campur seperti ini?" kesal seorang siswa sembari berusaha menahan rasa kesemutan akibat serangan listriknya Kaminari Denki.

"Siapa aku?" Kaminari berdiri di sebelah Jirou yang menatapnya heran kenapa Kaminari mendadak muncul seperti ini. Kaminari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia tanpa meminta izin terlebih dahulu ia menggamit tangan kanan Jirou. "Aku pacarnya. Jadi jangan mengganggunya sialan."

"HAH?" Jirou terlonjak kaget mendengar pengakuan seenaknya dari Kaminari.

'Gawat. Kenapa aku bisa bicara seperti ini sih?' Kaminari menelan ludahnya gugup sadar kalau sepasang mata kecil Jirou kini menatapnya tajam seperti ingin mencekiknya.

"Tch ... ternyata gadis ini sudah punya pacar. Kita pergi dari sini."

'semudah itukah? Mereka pergi karena alasan palsuku.' Kaminari merasa lega sendiri karena ketiga orang itu pergi dari mereka tapi pemuda itu segera sadar karena ternyata tidak jauh dari tempat mereka terlihat Present Mic yang sedang berdebat dengan Eraser Head sembari berjalan menuju ruang guru. 'Setidaknya mereka tidak mengganggu Jirou lagi.'

"A ... ah ... maafkan aku." Kaminari tersentak segera menyadari perbuatannya saat Jirou menarik tangannya dengan kasar. Gadis itu mendengus memasukkan tangan kanannya yang tadi di genggam Kaminari ke dalam saku roknya. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, kini merasa bingung sendiri karena Jirou membuang muka darinya, menolak bertatapan dengannya.

"A-ayo kita kembali ke kelas," ajak Kaminari dengan nada tergagap.

Jirou tetap bergeming tangan kanannya yang berada dalam saku roknya terkepal, gadis itu masih menolak bertatapan dengan Kaminari. Jirou sendiri tidak mengerti kenapa ia menjadi tidak nyaman seperti ini? Ini semua karena kebohongan yang Kaminari katakan kepada ketiga siswa tadi.

Pacar?

Pemuda itu mengatakan mereka berpacaran? Itu memang hanya kebohongan untuk mengecoh ketiga siswa itu tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman.

"Kenapa kau mengatakan kalau kita berpacaran?" Akhirnya Jirou merasa tidak tahan sendiri untuk tidak mengatakannya.

"Itu ..." Kaminari menelan ludahnya perlahan. "Aku benar-benar minta maaf aku tidak tahu lagi harus mengatakan agar mereka pergi dan tidak mengganggumu lagi." Kaminari mengatupkan kedua telapak tangannya ke depan wajahnya, meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada Jirou.

Jirou menarik napas panjang melihat Kaminari yang mengambil pose meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepadanya, pemuda itu tampak merasa bersalah sekali, kedua matanya terpejam rapat. Jirou menghela napas kesal, ia kembali memalingkan wajahnya dari Kaminari.

"Lain kali jangan mengatakan kalimat bodoh itu."

Wajah Kaminari kini tampak berseri mendengar ucapan Jirou, pemuda itu melonjak senang. Jirou tersenyum tipis melihat sikap kekanakkan Kaminari. Lalu tanpa berkata-kata ia membalikkan tubuhnya hendak kembali ke kelas mereka karena bel sebentar lagi berbunyi.

"Jirou ... tunggu. Kita kembali ke kelas bersama-sama saja."

Jirou terlonjak saat Kaminari meraih tangannya menggenggamnya dengan lembut. Gadis itu menoleh dan ia segera mendapati wajah berseri Kaminari yang masih menunjukkan senyum lebar, Jirou menelan ludahnya kenapa kini dalam pandangannya ekspresi Kaminari yang seperti ini terlihat sangat imut baginya?

Gawat! Apa yang ia pikirkan? Kontan saja gadis itu menarik tangannya agar terlepas dari genggaman pemuda itu.

"Eh?" Pemuda berquirk listrik itu heran melihat wajah Jirou yang kembali terlihat kesal bahkan pipi gadis itu tampak memerah.

"Jirou ... kau sakit?"

Gadis itu kembali terlonjak saat Kaminari dengan polosnya menyentuh keningnya, secara refleks tangannya menyentakkan tangan pemuda itu agar tidak lagi menyentuhnya. "Aku baik-baik saja," dustanya.

"Heh? Tapi ..."

Ucapan Kaminari terputus begitu saja saat mereka mendengar keributan kecil yang memghampiri mereka. Mereka berdua menoleh dan pandangan mereka menangkap sosok Ochako dan Katsuki yang sedang berjalan bersama-sama tampak Katsuki yang mengomeli Ochako dan gadis itu pun tak mau kalah membalas omelan Katsuki.

"Ah ... kau menemukan dompetku. Bakugou-kun memang hebat."Ochako berseru senang saat Katsuki menemukan sebuah dompet di balik semak-semak.

"Dompet kosong seperti ini, tidak akan ada orang jahat yang sudi mengambilnya," balas Katsuki.

"Uh ... tapi ini barang bermerek tahu. Dan ini hadiah dari ibuku." Ochako merengut saat Katsuki memberikan jitakan ringan di kening mulusnya.

'mereka seperti orang berpacaran saja,' batin Kaminari melihat senyum tipis yang tersungging di bibir Katsuki saat pemuda itu menjitak ringan si gadis gravitasi. Jarang sekali Katsuki tersenyum seperti itu.

"Terimakasih. Kalau begitu aku mau ke toilet dulu Bakugou-kun."

"Kau berhutang terhadapku."

"Baiklah ... baiklah. Lain kali aku akan membelikanmu ramen pedas sebagai tanda terimakasihku."

Setelah berbicara dengan Katsuki, gadis berambut cokelat itu melenggang pergi dari hadapan pemuda itu. Bakugou Katsuki menggelengkan kepalanya, ia lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan membalikkan tubuhnya. Saat itulah manik crimsonnya membelalak mendapati sosok Kaminari dan Jirou yang berada tak jauh darinya.

"Kenapa kalian bisa berada di sini, brengsek?" Katsuki mendadak mengamuk tidak jelas, wajahnya memerah. "Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak punya hubungan apa pun dengan si muka bulat itu."

"Kami tidak mengatakan apapun," balas Jirou tenang.

Katsuki bungkam tak membalas perkataan Jirou. Ia kembali mengumpat tak jelas seperti menyalahi dirinya sendiri yang salah bicara. Ia lalu kembali melangkahkan kakinya melewati kedua orang itu.

"Oh iya Bakugou. Aku tadi belum meminta lagu-lagu baru di ponselmu."

"Ah ... benar juga."

'Hah?'

Kaminari tercengang sendiri melihat Jirou dengan santainya mendekati Bakugou dan mengajak bicara bocah peledak itu. Sikap Jirou seolah berusaha mengabaikan Kaminari yang tadi bersamanya, Bakugou sendiri membalas perkataan Jirou dengan ringannya. Bocah peledak itu benar-benar lupa dengan pembicaraan mengenai perasaan Kaminari terhadap Jirou.

Jirou melirik sekilas ke belakang ke arah Kaminari yang mengambil jalur berbeda darinya dan Bakugou. Gadis itu membasahi bibirnya perlahan, mengepalkan tangan kanannya di depan dadanya sendiri.

Ini tidak baik. Kenapa untuk saat ini ia merasa tidak nyaman sendiri bila berdekatan dengan Kaminari Denki? Sebisa mungkin ia berusaha membuang pikiran aneh itu. Ia hanya menganggap Kaminari sebagai temannya yang konyol, tidak lebih.


_TBC_

Kali ini aku menulis fanfic otpku yang lainnya KamiJirou. Aku suka banget sama mereka, mereka adalah otp keduaku setelah Kacchako. Dan lagi Jirou my waifu. Aku langsung jatuh cinta sama penampilan perdananya di anime, dia tuh cool banget. Aku suka karakter-karakter cewek cool seperti itu. Sedangkan kalau karakter cowok aku paling sukanya Bakugou. Aku suka sama mereka tapi aku lebih suka kalau mereka itu sekedar BROTP, kayak pas di ... (ah takut spoiler XD)

Btw semoga suka sama fanfic ini