Just Friend?
KamiJirou by Horikoshi Kohei
Original Story by Viziela Veronica
Rated T/Romance/Sweet/Friendship/Fluff
Kaminari Denki membaringkan tubuhnya di atas kasur, kepalanya beralaskan kedua lengannya, pandangannya menatap langit-langit kamarnya yang terdapat poster dari grup musik favoritnya. Pemuda itu menghela napas kencang, ia merasa lapar sudah waktunya makan malam, teman-temannya pasti sudah berkumpul di ruang makan tapi saat ini meski pun lapar Kaminari tidak bernafsu untuk ikut makan malam. Ia tadi sudah meminta izin kepada Iida, beralasan kalau perutnya sedang merasa sakit.
Pikiran pemuda itu untuk saat ini dipenuhi dengan kedekatan antara Jirou Kyouka dan Katsuki Bakugou. Ia tak habis pikir kenapa setelah dirinya menolong Jirou, gadis itu malah seperti menjaga jarak darinya. Lalu ... kenapa Bakugou bisa menjadi akrab sekali dengan gadis emo itu?
Ok ... Kaminari sadar keakraban mereka dimulai semenjak festival sekolah. Di mana kelas mereka mengadakan konser untuk ikut festival. Ia ikut masuk dalam band sebagai gitaris, sedangkan gadis emo itu sebagai vokalisnya dan Katsuki Bakugou sebagai drummer. Sisanya ada Yaoyorozu dan Tokoyami, murid yang lain sebagai klub dancer dan penata panggung. Katsuki yang sebagai drummer tentu sering berkumpul bersama dirinya, Jirou, Yaoyorozu dan Tokoyami. Gadis rocker itu lah sebagai penanggung jawab band mereka, sering memberi instruksi tak terkecuali terhadap Bakugou. Awalnya pemuda itu keras kepala sekali, seperti biasa tidak suka bila ada yang mengatur-aturnya. Tapi berkat kegigihan Jirou akhirnya Bakugou sedikit menurut demi kesuksesan band mereka untuk festival budaya.
Kemudian kedekatan mereka bertambah saat Katsuki berada satu kelompok dengan Jirou untuk melawan kelas B. Bahkan di tengah duel antar kelompok kelas lain, Katsuki sempat melindungi Jirou yang hampir dilumpuhkan oleh pihak musuh dari kelas B.
Semenjak itu Kaminari sering melihat mereka sering bersama. Membicarakan hal yang kelihatannya seru sekali. Kaminari tahu Katsuki dan Jirou memiliki beberapa ketertarikan dan selera yang sama. Mungkin saja mereka hanya membicarakan film, musik atau apa pun itu. Lagipula bukankah Katsuki secara sembunyi-sembunyi menunjukkan rasa tertarik terhadap Uraraka Ochako? Gadis yang menjadi lawannya saat festival olahraga. Gadis yang sempat membuat Katsuki terdesak ditengah duel mereka.
Kaminari berkali-kali menanamkan pikiran itu dalam hatinya bahwa Jirou dan Katsuki hanya berteman. Katsuki mana mungkin menyukai Jirou karena bocah peledak itu lebih tertarik dengan Ochako si gadis menggemaskan yang ternyata memiliki tekad sekuat baja. Akan tetapi tiap Kaminari menanamkan pikiran itu dalam hatinya, pertanyaan lain terlintas begitu saja 'tapi bagaimana dengan Jirou?'
Dalam hatinya Kaminari mengakui Bakugou memang memiliki penampilan yang menarik. Meski pun selalu berwajah seram, temannya itu memiliki paras tampan dengan proporsi tubuh yang seksi untuk ukuran laki-laki. TIDAK! Kaminari bukanlah seorang gay. Ia bersumpah kalau ia normal dan tidak akan pernah sudi menyukai sesama jenis. Ia hanya menilai Bakugou dari sudut pandang normal. Lalu dengan penampilan seperti itu bukankah tidak menutup kemungkinan kalau bocah peledak itu disukai banyak kaum hawa?
Apalagi semenjak penampilannya sebagai drummer di festival sekolah. Bocah peledak itu semakin bertambah populer. Ia, Kirishima dan Sero bahkan sering melihat ada surat atau pun cokelat yang tersimpan rapi dalam rak sepatu Bakugou. Katsuki Bakugou sudah seperti Todoroki saja yang diam-diam memiliki banyak penggemar rahasia. Bisa saja bukan, mungkin di antara surat atau pun cokelat yang berada dalam loker sepatu Bakugou itu dari Jirou Kyouka?
Mungkin Jirou secara diam-diam menjadi penggemar rahasia pemuda itu.
"Tidak ... tidak. Mana mungkin." Kaminari menegakkan punggungnya mengambil posisi duduk lalu ia mengacak-acak rambutnya sendiri seolah berusaha membuang pikiran itu. Pemuda itu menghembuskan napas kencang saat ia tersadar, kalau memang Jirou menyukai Katsuki lalu apa masalahnya?
'kau menyukainya.'
Sebuah bisikan terlintas dalam pikirannya membuat Kaminari kembali menggelengkan kepalanya. Tidak. Mana mungkin ia menyukai Jirou Kyouka. Sejak kapan tipe gadisnya berubah menjadi gadis tomboy, berwajah datar dan berdada rata seperti Jirou? Bukankah seleranya gadis manis, dewasa dengan tubuh seksi seperti Yaoyorozu? Tepat, mustahil tipe kesukaannya berubah dengan mudahnya.
'Tapi bukankah ia cukup manis?'
Bisikan itu kembali terlintas membuat Kaminari merasa bimbang kembali. Bayangan wajah Jirou yang tadi memerah melesat dalam benaknya. Pemuda itu meneguk ludahnya pelan.
"Ah ... sepertinya aku butuh udara segar." Berusaha untuk membuang pikiran aneh itu Kaminari melompat turun dari kasurnya, melangkah perlahan menuju balkon kamarnya. Pemuda itu menarik napas panjang saat udara malam yang dingin menerpa tubuhnya. Kaminari mengusap-usap bahunya sedikit menyesal karena kemarin malam ia meninggalkan jaket miliknya di kamar Kirishima sedangkan jaketnya yang lain baru saja ia cuci tadi sore.
'Kenapa malam ini dingin sekali?'dengusnya. Ia sedikit menengadahkan wajahnya untuk melihat langit malam ini yang tampak mendung.
"Kaminari ..."
Kaminari mengerutkan keningnya apa karena ia tadi terlalu memikirkan Jirou sampai-sampai ia seolah mendengar suara gadis itu yang memanggil namanya. Kaminari tersenyum kecut menertawai dirinya sendiri, mungkin akibat merasa lapar ia jadi mendengar suara-suara aneh di alam bawah sadarnya. Pemuda itu lalu membalikkan tubuhnya hendak membuka bungkusan roti melon yangi ia taruh di atas bufet kamarnya.
"JIROU?!" Kaminari melonjak kaget mendapati Jirou yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu seperti berusaha menahan tawa melihat wajah terkejut Kaminari yang menurutnya tampak konyol. "K-kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Kaminari panik saat ia benar-benar yakin kalau sosok Jirou memang benar-benar berdiri di hadapannya sekarang ini.
Jirou tidak segera menjawab pertanyaan Kaminari, ia meletakkan nampan berisi makan malam untuk Kaminari di atas meja mungil yang berada di dekat pintu kaca geser yang membatasi balkon kamar Kaminari. "Aku dari tadi mengetuk pintumu tapi kau tidak menyahut. Akhirnya aku berinisiatif masuk, kebetulan pintu kamarmu tidak dikunci."
'benar juga.' Kaminari menepuk keningnya menyadari kecerobohannya. Untung saja Jirou masuk ke dalam kamarnya saat ia tidak sedang melakukan hal memalukan. Membaca doujin hentai yang ia pinjam dari Mineta misalnya.
"Lalu ada keperluan apa kau kemari?" tanya Kaminari.
"Mengantar jatah makan malammu. Walau pun perutmu sedang sakit kau tetap harus makan malam, itu lah yang dikatakan Iida tadi," jelas Jirou sembari menunjukkan nampan yang berisi semanguk nasi yang mengepul hangat beserta sup dan lauk lainnya untuk Kaminari. "Oleh karena itu aku mengantarkan makanan untukmu."
"K-kau baik sekali." Kaminari merasa terharu sendiri karena kebaikan hati Jirou terhadapnya. Ternyata meskipun cuek dan suka mengerjainya gadis emo ini cukup perhatian terhadapnya.
"Sebenarnya Kirishima dan Sero yang tadi mau mengantarkan makanan ini untukmu. Tapi Bakugou malah mengajak mereka main game bareng dan bocah preman itu dengan seenaknya menyuruhku untuk ke kamarmu."
Rasa senang Kaminari yang tadi tumbuh lebat dalam hatinya menjadi terpangkas habis begitu saja mendengar penjelasan Jirou selanjutnya. "Tch ternyata karena si granat itu." Kaminari mendecih pelan.
"Kaminari kau tadi mengatakan sesuatu?"
"Tidak aku tadi hanya bilang 'terimakasih.'" Kaminari segera duduk di atas lantai balkon kamarnya, mengambil jatah makan malamnya dan mulai memakannya dengan lahap sekaligus berusaha meredamkan rasa jengkel di hatinya.
Jirou tertegun sejenak lalu ia tersenyum tipis melihat pipi Kaminari yang menggelembung akibat penuh dengan nasi. Gadis itu lalu merapatkan jaket yang dikenakannya dan mendudukkan dirinya di sebelah Kaminari. "Tidak apa-apa bukan kalau aku duduk sebentar di sini?"
"T-tidak masalah. Tapi ... apa kau tidak kedinginan?"
Jirou menggeleng. "Tidak aku kan memakai jaket." Seketika itu juga Kaminari menyalahkan kebodohannya.
Berusaha membuang rasa kacau dihatinya akibat salah bicara Kaminari kembali memakan makanannya. Akan tetapi sudut matanya sekali-kali melirik ke arah Jirou, gadis itu duduk dengan menekuk lututnya ke atas dan memeluk pahanya sendiri. Kepala mungil gadis itu sedikit menengadah ke atas memperhatikan langit malam. Kaminari meneguk ludahnya tanpa sadar kenapa jantungnya kembali berdetak cepat?
Angin malam berhembus pelan menerbangkan helai-helai rambut pendek Jirou, gadis itu menghirup napas pelan dan merapihkan rambutnya, menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Kaminari tanpa sadar menahan napasnya. Tanpa sadar ia semakin mendekatkan dirinya ke Jirou dan sepertinya gadis itu tidak menyadari tindakannya.
"Kamarmu ternyata lumayan juga untuk ukuran anak laki-laki seusiamu." Jirou berkata pelan setelah keheningan yang hanya berlangsung selama lima menit di antara mereka. "Aku pernah masuk ke kamar Bakugou dan kondisi kamarnya ternyata tidak jauh beda dengan kamarmu."
Denyutan sakit menekan dada Kaminari saat mendengar ucapan Jirou yang terdengar santai tanpa beban seolah apa yang ia katakan itu hal biasa. Gadis ini ... pernah masuk ke dalam kamar Bakugou?
"Lucunya saat aku masuk ke kamarnya aku menemukan ikat rambut Uraraka, Bakugou panik sekali saat itu ketika aku menemukan ikat rambut itu di ranjangnya. Aku tidak bisa menebak apa yang sudah mereka lakukan di dalam sana."
"Kau ... pernah masuk ke dalam kamar Bakugou?"
Jirou terhenyak menyadari suara Kaminari teramat dekat dengannya kontan saja ia menoleh. Mata kecilnya sedikit melebar mendapati jarak Kaminari yang sekarang cukup dekat dengannya.
Sejak kapan?
"Er ... ya." Jirou menjawab lirih, kenapa suaranya mengecil seperti ini? Yang bertanya kepadanya ini adalah Kaminari Denki. Si pikachu yang sering menjadi bahan bullyannya karena pria ini sering bertingkah konyol.
"Kenapa kau bisa masuk ke kamarnya?"
"Aku hanya mau mengambil buku-buku musik yang ia pinjam dariku. Lagipula aku hanya masuk sebentar dan langsung keluar." Jirou merasa heran sendiri terhadap dirinya, kenapa ia dengan patuhnya menjawab pertanyaan Kaminari?
"Kau berpikir mungkin ada sesuatu yang terjadi antara Uraraka dan Bakugou karena mereka pernah berduaan di kamar, tapi pernahkah kau berpikir kalau bisa saja terjadi sesuatu antara kau dan Bakugou karena kau bisa dengan tenangnya masuk ke dalam kamar bocah itu."
Jirou mengerjapkan kedua matanya dengan cepat mendengar pertanyaan Kaminari kali ini. Ia tidak pernah berpikir seperti itu karena ia dan Bakugou hanya lah teman. Lagipula ia sadar Bakugou Katsuki menyukai Uraraka Ochako. Menurutnya mana mungkin bocah dengan harga diri tinggi seperti Bakugou akan melakukan hal tidak senonoh terhadapnya yang mungkin bisa menjatuhkan harga diri laki-laki itu. Ditambah lagi Jirou sadar ia bukanlah gadis menarik seperti Ochako yang manis, Yaoyorozu yang seksi atau pun teman-teman sekelasnya yang lain. Ia berpikir mungkin image tomboy terlalu melekat di dalam dirinya sehingga orang-orang tidak akan berpikir yang macam-macam terhadapnya. Bahkan Mineta yang terkenal mesum saja tidak pernah membicarakan dirinya.
Rasa kesal jelas muncul dalam dirinya. Sebegitu tidak menariknyakah dirinya sampai-sampai bocah paling mesum di kelasnya tidak pernah membicarakan dirinya? Apa ia tidak memiliki daya tarik sedikit pun? Akan tetapi Jirou berusaha membuang perasaan jengkel seperti itu. Berpikir ada baiknya juga karena tidak ada yang akan berpikir untuk melecehkannya. Mungkin karena salah satu alasan itu lah ia bisa berteman dekat dengan Bakugou. Jirou pikir Bakugou Katsuki tidak pernah memandangnya sebagai perempuan.
"Bakugou tidak akan pernah berbuat macam-macam terhadapku." Jirou menjawab setelah menghela naps panjang. "Ia menyukai Uraraka kau tahu itu kan?"
"Tapi Jirou, tetap saja berbahaya kalau kau masuk ke kamar anak laki-laki sendirian," tukas Kaminari keras wajahnya terlihat kesal membuat kerutan di dahi mulus Jirou kembali muncul.
"Kenapa kau sebegitu kesalnya? Aku bisa menjaga diriku sendiri." Jirou membalas tak kalah kesalnya. Sungguh ia tak habis pikir kenapa sikap Kaminari kali ini menyebalkan sekali? "Lalu kalau kau sebegitu ngototnya mengatakan bahaya bagiku memasuki kamar Bakugou. Apa kau sendiri tidak berpikir kalau kondisi saat ini pun sama dengan apa yang kau khawatirkan?"
Kaminari menggigit bibirnya ia merutuk dalam hati. Tidakkah gadis ini sadar kalau dirinya sedari tadi berusaha menahan diri atasnya? Ia bahkan tanpa sadar semakin mendekatkan tubuhnya kepada Jirou. Ia ingin ... menyentuh gadis ini.
"Kau tidak tahu kalau aku berusaha menahan diri?"
"Hah?"
Jirou melonjak kaget tatkala Kaminari menggenggam erat teralis besi pembatas balkon kamar Kaminari yang berada di sebelah tubuhnya,seolah mengurungnya, seakan-akan Kaminari tidak ingin Jirou kabur begitu saja dari hadapannya.
"Kau tidak sadar? Kau itu wanita, Jirou. Dan membiarkan dirimu masuk ke dalam kamarku tanpa pertahanan kau seolah-olah masuk ke kandang singa."
"K-kaminari ... berhenti bercanda." Jirou menggigit bibirnya. Ia yang biasanya bicara dengan nada tegas terhadap Kaminari kenapa sekarang menjadi tergagap?
"Aku tidak sedang bercanda." Kaminari dengan tangkas menangkap earplug Jirou yang berusaha menyerangnya, menusuk telinganya.
"Ngh!" Tubuh Jirou bergetar saat jemari Kaminari mengelus quirknya. Itu salah satu titik kelemahannya, ia bisa kegelian kalau ada seseorang yang menyentuh earplugnya. Kaminari tersenyum simpul melihat pipi Jirou memerah. "L-lepaskan itu idiot."
"Aku sudah bilang bukan? Saat ini kau seolah masuk ke dalam kandang singa."
Jirou menatap Kaminari dengan rasa takut yang kentara dalam manik matanya saat jemari pemuda itu menyentuh dagunya. "K-kaminari ..." Ingin rasanya ia memalingkan wajahnya dari Kaminari tapi entah kenapa ia tidak bisa menolak bertatapan dengan manik kuning cerah seperti mata kucing milik pemuda ini.
Kaminari menelan ludahnya perlahan melihat wajah ketakutan bercampur gugup milik Jirou. Pipi gadis itu makin memerah. Kenapa ia bertambah berdebar seperti ini?
Ia menyukainya.
Tidak ada penyangkalan lagi Kaminari mengakui dalam hatinya bahwa ia telah jatuh cinta dengan Jirou Kyouka.
Kaminari bergerak perlahan semakin memotong jarak antara dirinya dan Jirou. Ia bergerak untuk menuruti naluri laki-lakinya begitu saja mengabaikan wajah Jirou yang terlihat ketakutan dan luar biasa bingung, toh gadis itu secara perlahan menutup kedua matanya ketika jarak mereka semakin dekat. Apa itu pertanda Jirou tidak menolaknya?
"Oi Kaminari. Kami mengantarkan obat untukmu."
"Ugh!"
Tangan mungil Jirou secara refleks mendorong dada bidang Kaminari menciptakan jarak antara mereka berdua yang hampir membuat kedua bibir saling bertemu. Kaminari mengerjapkan matanya cepat mendengar napas Jirou yang terengah-engah wajah gadis itu masih terlihat luar biasa merah dan bibirnya bergetar. Tanpa mengucapkan apa pun gadis itu bangkit dari duduknya.
'gawat sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat.'
Kirishima dan Sero berdiri canggung di ambang pintu kamar si Pikachu, memperhatikan gerak-gerik sepasang sejoli itu yang gagal berciuman karena kedatangan mereka.
"Aku mau kembali ke kamar. Maaf sudah mengganggumu Kaminari."
Kaminari kembali mengerjapkan kedua matanya merasa takjub sendiri dengan sikap tenang yang masih bisa Jirou tunjukkan di hadapan mereka bertiga. Rona merah di pipinya masih terlihat jelas tapi gadis itu sudah bisa menunjukkan wajah datarnya seolah-olah kegugupan yang tadi ia tampakkan tidak pernah terjadi.
Gadis itu melangkah keluar dari kamarnya melewati Kirishima dan Sero begitu saja meninggalkan Kaminari yang hanya duduk di balkon kamarnya memandangi kepergian Jirou tanpa mengatakan sepatah katapun bagaikan seorang pengecut.
"Idiot." Kaminari mengusap wajahnya kasar, menghembuskan napas panjang dan menyandarkan wajahnya ke atas lututnya yang terlipat ke atas.
"Ew ... sorry bro kita datang di waktu yang tidak tepat." Kirishima menggaruk kepalanya sendiri merasa bersalah.
Kaminari tidak menyahut lagipula ia tidak mengumpat untuk Kirishima atau pun Sero. Lebih tepatnya ia merutuki dirinya sendiri yang dengan beraninya bertindak jauh atas Jirou. "Aku seperti bajingan ya."
"Huh?" Sero dan Kirishima saling berpandangan dengan heran, tidak mengerti.
"Aku hampir saja mencium Jirou, padahal aku tidak mengatakan kepadanya kalau aku menyukainya."
"Uh ... kalau aku aku Jirou aku pasti akan menamparmu," celetuk Sero sembari menggelengkan kepalanya. "Kupikir kau sudah menyatakan perasaanmu terhadapnya karena itulah kalian tadi hampir berciuman."
Kaminari mengangkat wajahnya dari atas lututnya, melirik ke arah Sero dan Kirishima yang mendekatinya. Kirishima berbaik hati membereskan bekas makan Kaminari yang berada di atas lantai balkon kembali meletakkannya di atas meja.
"Kalian tahu kalau aku menyukainya?"
"Yah kami hanya sekedar menebak-nebak saja. Tapi saat tadi siang melihat tingkahmu yang jelas-jelas tidak suka melihat kedekatan Bakugou dan Jirou kami menjadi yakin dengan tebakan kami sendiri."
"Tch!" Kaminari mendecih pelan saat nama Bakugou disebutkan untuk saat ini ia merasa kesal sendiri terhadap Bakugou. Ia sadar temannya itu tidak salah apa pun tapi tetap saja ia merasa kesal.
"Sebenarnya Jirou tadi datang ke kamarmu karena perintah Bakugou." Kaminari tidak menyahut ucapan Sero. Ia tahu, gadis emo itu tadi sudah mengatakannya. Sempat terpikir dalam benak Kaminari seandainya bukan karena bocah peledak itu apa gadis itu tetap akan berbaik hati mengantarkan makan malam untuknya?
"Bocah itu tahu mengenai perasaanmu terhadap Jirou jadi ... yah ia seperti berusaha membuat kalian semakin dekat." Kirishima menjelaskan sembari menggaruk pipinya tidak mengatakan kalau sebenarnya Bakugou tahu hal itu dari dirinya dan Sero.
Kaminari tetap tidak mengatakan apa pun ia semakin membenamkan wajahnya ke lipatan lututnya. Saat ini ia benar-benar merasa bingung, bagaimana kalau Jirou membencinya? Sero dan Kirishima saling berpandangan dengan bingung. Jarang sekali pemuda ini tampak murung seperti sekarang ini. Biasanya ia selalu bertingkah konyol dalam kelompok mereka.
"Bagaimana kalau besok kau menyatakan perasaanmu kepada Jirou? Kami akan membiarkan kalian pergi berduaan."
"Hah?" Kaminari mengangkat wajahnya dari atas lutut menatap Kirishima dengan ragu atas usul temannya itu. Ia kembali menghela napas, tampak tidak bersemangat sedikit pun mendengar rencana Kirishima. "Bagaimana kalau ia malah asyik sendiri bersama Bakugou seperti saat di kantin tadi?"
"Tenang saja. Aku akan mengajak Uraraka." Kirishima tersenyum penuh percaya diri. "Kalau ada si Uravity perhatian Ground Zero pasti akan sepenuhnya ke gadis itu."
Jirou membenamkan wajahnya ke bantal berwarna ungu gelap miliknya, menarik napas panjang di bantal itu menciumi wangi lavender yang menjadi parfum khas dari kamarnya berusaha mengusir bayang aroma segar buah jeruk yang menjadi wewangian khas kamarnya Kaminari Denki. Ia memejamkan mata rapat tapi ia kembali merutuk tatkala wajah Kaminari berseliweran dengan seenaknya dalam benaknya. Jirou mendengus kencang membalikkan tubuhnya hingga ia berbaring terlentang dan dapat melihat langit-langit kamarnya. Gadis itu tidak tahu kenapa ia menjadi seperti ini?
Sejak kapan ia menjadi berdebar tiap berdekatan dengan manusia listrik itu? Bahkan saat berada di kamar pemuda itu tadi ia malah memejamkan kedua matanya seakan-akan ia menerima begitu saja ciuman yang akan diberikan Kaminari terhadapnya. Jirou merasa wajahnya kembali memanas ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau seandainya saja Kirishima dan Sero tidak masuk ke dalam kamar Kaminari?
"Jirou-chan."
Lamunan Jirou menjadi pecah saat ia mendengar ketuka lembut dari pintu kamarnya. Gadis itu mengerutkan keningnya suara manis Uraraka terdengar dari sana. Ia melompat turun dari kasur dan membuka pintu. Benar saja di balik pintu kamarnya berdiri Uraraka Ochako.
"Maafaku datang malam-malam seperti ini. Aku hanya mau mengambil cardigan yang pernah kutitipkan."
"Oh ... tunggu sebentar. Silahkan masuk Uraraka."
Ochako mengangguk setuju ia masuk ke dalam kamar Jirou dan duduk di tepi kasur gadis itu, mengamati kamar si gadis emo sambil mendecak takjub. Menurutnya kamar Jirou terlihat keren sama seperti image gadis itu."Maaf ya saat itu aku menitipkan cardigan itu untuk kau cuci. Dan sekarang aku malah mengambilnya larut malam seperti ini."
"Tidak apa-apa lagipula aku belum mengantuk dan saat kau menitip cardigan ini baju kotorku tidak begitu banyak jadi aku tidak keberatan."
Ochako menggaruk kepalanya dengan canggung mendengar penjelasan Jirou sedangkan gadis itu sibuk mencari cardigan miliknya di dalam lemari. Gadis itu meraih sebuah majalah musik yang tergeletak begitu saja di atas kasur Jirou membolak-baliknya sejenak.
"Nah ini dia." Jirou menyerahkan cardigan pink pucat milik Ochako. "Omong-omong kau mencarinya malam ini apa karena kau mau memakainya besok?"
Gadis berambut ungu gelap itu mengambil tempat di sebelah Ochako membuka sebuah bungkusan snack miliknya dan menawarkannya kepada Ochako yang tidak dapat ditolak gadis itu. Jirou sadar ia jarang sekali berbincang berdua dengan Ochako seperti sekarang ini.
"Eum ya. Aku diajak Kirishima-kun untuk jalan-jalan besok ke Shibuya untuk menemani Bakugou-kun."
Kening Jirou berkerut halus. Ah ... benar ia juga diajak pergi oleh Ashido Mina bergabung dengan Bakusquad untuk menghabiskan hari libur ke Shibuya. Tapi saat Jirou teringat dengan apa yang terjadi antara ia dan Kaminari, ia kini merasa ragu untuk menerima ajakan itu. Gadis itu mengamati wajah berseri Ochako, pipinya sedikit menggembung akibat snack yang berada di mulutnya.
"Sebenarnya aku penasaran sekali apa kau ... menyukai Bakugou?"
Manik cokelat Ochako melebar mendapati pertanyaan Jirou sedikit tidak menyangka kalau gadis tomboy ini ternyata tertarik akan hal semacam ini. Ochako tersenyum lembut, mengangguk. "Aku menyukainya."
Jirou menelan ludahnya. "Jadi kau pernah menyatakan perasaanmu atau Bakugou yang pernah menyatakannya?"
Rasa heran Jirou bertambah melihat gelengan lembut dari kepala bulat Uraraka, gadis itu dengan tenangnya mengambil lagi cemilan milik Jirou dan mengunyahnya perlahan. "Kami tidak pernah saling mengutarakan perasaan kami. Dan kupikir melihat karakternya Bakugou-kun itu tidak perlu hanya dengan perlakuannya terhadapku tanpa pengakuan darinya aku sudah tahu bahwa ia menyukaiku. Jirou-chan ... kalau kau menyukai seseorang dan percaya dengannya menurutku sebuah pengakuan tidaklah diperlukan lagi. Lihat saja banyak pasangan yang mengeluarkan kalimat romantis tiap harinya tapi hubungan mereka tidak seromantis yang dilihat orang-orang."
Jirou merasa takjub sendiri mendengar perkataan Uraraka. Gadis itu bisa bicara seserius ini dengan bibir yang menyunggingkan senyum lembut membuatnya terlihat semakin cantik dalam pandangan Jirou. Ternyata orang yang sedang jatuh cinta bisa sedewasa ini. Jirou juga tidak menyangka gadis semanis Ochako bisa saling jatuh cinta terhadap pemuda kasar seperti Bakugou.
"Tapi ... aku pernah mendengarnya mengigau menyatakan perasaannya terhadapku sih saat aku tidur di kamarnya." Uraraka melanjutkan sembari menutup bibirnya sendiri menahan tawa.
"Hah? Kau pernah tidur dengannya?"
"H-hanya tidur bersama kok bukan tidur yang semacam itu."
Tapi tetap saja menurut Jirou itu berbahaya. Jirou menghela napas menggelengkan kepalanya tidak bisa berpikir apa saja yang sudah terjadi di antara kedua orang ini. Itu terlalu bersifat pribadi menurutnya ia tidak punya hak untuk ikut campur dalam hal ini.
"Oh iya bagaimana hubungan dengan Jirou-chan bersama Kaminari-kun?"
"Ap-apa?" Jirou melonjak kaget terkejut mendapati pertanyaan yang berada di luar predeksinya seperti ini. "K-kami tidak pernah ada hubungan aneh atau apapun itu."
"Benarkah? Tapi kupikir Kaminari-kun menyukai Jirou-chan."
"Kami hanya teman, tak lebih."
_TBC_
