Just Friend?

KamiJirou by Horikoshi Kohei

Original Story by Viziela Veronica

"Jirou-san bagaimana, apa kau suka?"

Yaoyorozu Momo masuk ke dalam kamar sahabatnya dengan ceria, tapi gadis itu mengerutkan keningnya melihat penampilan Jirou dan short dress yang ia pinjamkan kepada Jirou tergeletak begitu saja di atas kasur.

"Uh ... Yaomomo," kaget Jirou. Ia baru saja melingkarkan choker berwarnahitam ke lehernya.

"Kenapa? Apa short dressku kebesaran dikenakan olehmu?" tanya Yaoyorozu bingung. Tubuh Jirou memang lebih kecil dibandingkan dengan dirinya tapi Yaoyorozu yakin pakaian yang ia pinjamkan kepada Jirou sudah kekecilan untuknya dan pastinya pas dikenakan oleh gadis emo itu.

Gadis itu lebih memilih mengenakan kaus lengan panjang berwarna ungu dengan garis-garis hitam dengan gambar gitar di bagian bawahnya serta celana jeans yang agak kebesaran ketika membalut paha mungil nan kurus gadis itu.

"Uh ... tidak juga, baju itu pas sekali denganku. Tapi aku tidak nyaman memakainya. Maaf Yaomomo."

"Hmm begitu." Yaoyorozu mengangguk-angguk memaklumi melihat wajah bersalah Jirou. Ia tahu gadis itu selalu tidak merasa nyaman mengenakan rok selain rok sekolah, bahkan saat acara di I-island dulu ia dan Uraraka membujuk mati-matian gadis ini agar sudi mengenakan gaun. "Tidak apa-apa. Sejujurnya aku justru lebih merasa heran kenapa kau tadi meminjam short dress milikku?"

"Uh ... itu." Jirou menggaruk bagian belakang kepalanya merasa ragu untuk mengatakan kalau ia mau terlihat berbeda di depan Kaminari untuk saat ini.

Jirou tak tahu kenapa ia bisa seperti ini? Apa perbincangannya dengan Ochako tadi malam telah menggerakkan hatinya? Kalau begitu apa itu berarti ia menyukai Kaminari? Jirou meringis dalam hati, tidak ia tidak menyukai pemuda berquirk listrik itu ia hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih.

"Jirou ... aku disuruh Ashido untuk menyusulmu, kau sudah siap?"

Jirou terkesiap kaget melihat Kaminari berdiri di daun pintu kamarnya yang tidak ditutup oleh Yaoyorozu tadi. Pemuda itu mengenakan rompi berwarna biru gelap dan kaus lengan pendek berwarna biru muda bergaris putih. Wajahnya yang biasanya tampak konyol sekarang sedikit bersemu ia berbicara sembari mengusap bagian belakang lehernya sendiri.

Yaoyorozu sedikit terkejut melihat kehadiran Kaminari di kamar Jirou. Ia memandangi Kaminari sejenak kemudian bola matanya yang indah beralih ke Jirou dengan binar mata yang terlihat curiga sekaligus semangat sekali.

"Jirou-san kau mau pergi berduaan dengan Kaminari-san?"bisik Yaoyorozu penuh semangat. Ia jelas tidak mendengar perkataan Kaminari yang tadi menyebutkan nama Ashido.

"T-tidak berduaan kok. Kami pergi bersama Kirishima dan yang lainnya." Jirou menjawab sambil berbisik menggerakkan tangannya dengan panik. Yaoyorozu menahan senyumnya melihat wajah bersemu Jirou. Betapa menggemaskannya gadis ini kalau bertingkah malu-malu seperti sekarang ini.

"Kalau begitu cepatlah berangkat. Kaminari-san tidak bisa menunggu lama." Yaoyorozu menarik lembut pergelangan tangan sahabatnya. "Selamat bersenang-senang." Bagaikan seorang ibu yang melepaskan kepergian anaknya untuk akhir pekan Yaoyorozu menyerahkan Jirou kepada Kaminari yang masih berdiri canggung di daun pintu kamar gadis itu.

"Ah baiklah ... kalau begitu kami pergi dulu." Kaminari tersenyum canggung ke arah Yaoyorozu. Ia tampak ragu untuk meraih telapak tangan gadis itu, ingin sekali rasanya ia menggenggam jemari mungil Jirou.

Jirou melirik sekilas ke arah Kaminari lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun gadis itu berjalan cepat mendahului Kaminari, melihat sikap yang Jirou tunjukkan kepadanya membuat Kaminari menelan ludahnya perlahan. Jelas sekali gadis itu marah akibat kejadian tadi malam, pikir Kaminari.

'Aku harus bagaimana?'


"HAH? KENAPA KAU BISA DI SINI?"

Teriakan Bakugou bergema tapi orang-orang yang bersileweran di Shibuya hanya melirik sekilas dan kembali ke rutinitas mereka. Ochako Uraraka merengut, ia baru saja tiba di dekat halte bus tempat Kirishima mengajaknya bertemu dengan Bakusquad. Menurut Kirishima kalau Ochako berangkat bersama dari asrama Bakugou pasti akan berusaha mencegah gadis itu untuk ikut bersama mereka.

"Uh ... tidak perlu berteriak begitu Bakugou-kun," keluh Ochako.

"Aku yang mengajaknya untuk ikut." Kirishima berkata dengan penuh keberanian membuat Bakugou segera melemparkan tatapan ingin membunuh terhadapnya.

"Kenapa sih kau terlihat sekesal itu? Kau tidak suka kalau aku ikut jalan-jalan ke Shibuya?" tanya Ochako.

"Ugh ..." Katsuki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bukannya merasa tidak senang, hanya saja ia tidak mau kalau teman-temannya terus menggodanya bersama Ochako. Bahkan saat mereka pergi keluar berduaan saja Bakugou selalu melakukannya secara sembunyi-sembunyi. "Awas saja kalau kalian mengganggu kami."

Kirishima, Sero dan Ashido bersiul menggoda saat Katsuki meraih pergelangan tangan Ochako dan menarik kasar gadis itu untuk mengikutinya. Tangan kiri Katsuki yang bebas dimasukkan ke dalam saku celananya.

"B-bakugou-kun, tunggu kita mau kemana?" tanya Ochako tertatih-tatih mengikuti langkah pemuda yang suka emosi tidak jelas seperti saat ini.

"Pergi berdua tanpa ada gangguan mereka." Katsuki menjawab tanpa menoleh berusaha mengabaikan seruan-seruan tidak jelas dari teman-temannya.

"Ya sudah kalau begitu ayo kita pergi ke tempat karaoke."Ashido Mina berkata menepuk tangannya dengan penuh semangat, Kirishima dan Sero mengangguk setuju.

"Hei ... tunggu aku ikut."

"Tidak bisa bro kau harus menemani Jirou." Kirishima menepuk bahu Kaminari memandangi si pikachu dengan penuh arti, Jirou yang melihatnya pun sampai mengerutkan kening memaknai tatapan Kirishima bagaikan seseorang yang sudah belok. "Bukankah Jirou mau mencari kaset? Jadi kau harus menemaninya."

"Yosh ayo kita pergi. Kita akan bertemu di sini lagi nanti jam 4 sore."

Ashido Mina melambaikan tangannya ke arah Jirou kemudian ia merangkul lengan Kirishima dan Sero, mengajak kedua temannya itu untuk pergi meninggalkan sepasang sejoli itu. Kaminari membasahi bibirnya mendadak ia merasa gugup sekali. Berduaan saja bersama Jirou setelah kesalahan yang ia lakukan tadi malam? Ia menyesal seharusnya ia menolak saja usulan Kirishima. Mungkin kalau tidak karena kejadian semalam ia tidak perlu merasa secanggung ini bersama Jirou.

"Kalau seperti ini bukan jalan bersama-sama namanya." Jirou bicara pelan terdengar kesal membuat Kaminari kembali meneguk ludahnya. Belum saja mereka berkeliling di Shibuya kondisi gadis itu sudah badmood saja. "Kaminari, kau mau menemaniku?"

"Ap-apa?" Kaminari bertanya bodoh benar-benar terkejut karena Jirou berbicara dengannya bahkan mengajaknya pergi bersama-sama.

Jirou mendecak. "Aku mau membeli kaset, kau mau menemaniku ata tidak?" ulang Jirou gemas.

"M-menemanimu? Aku senang sekali ... m-maksudku aku mau menemanimu."

'tenanglah Kaminari ... Jangan sampai kau mengacaukan kesempatan yang sudah diberikan oleh Kirishima dan yang lainnya.'

"Kalau begitu ayo."

Kaminari mengangguk setuju, ia lalu berjalan di sebelah Jirou. Gadis itu hanya diam tidak mengajak Kaminari mengobrol atau pun menjahili pemuda itu. Sikap dingin gadis itu tentu membuat Kaminari merasa tidak nyaman sendiri, ia bertanya-tanya dalam hati apa Jirou masih marah terhadapnya? Pemuda berquirk listrik itu menggigit bibirnya, jelas sekali Jirou Kyouka pasti marah terhadapnya. Masih untung gadis itu tidak membuatnya babak belur detik ini juga.

"Hei kenapa melamun? Ayo masuk."

Kaminari tersadar dari lamunannya tatkala Jirou memanggilnya, gadis itu berdiri di depan sebuah toko musik bersiap untuk mendorong pintu kaca toko itu. Dari balik jendela-jendela besar toko itu Kaminari dapat melihat toko musik tersebut tidak hanya menjual kaset, terdapat peralatan musik juga di sana. Pemuda itu ingat ia pernah datang ke toko itu sekali, saat band mereka akan tampil untuk festival budaya sekolah.

"Oh hallo Jirou."

Kaminari mengerutkan keningnya saat kasir toko ini menyapa Jirou. Seorang pria yang mungkin berumur 30-an dengan rambut panjang diikat dan terlihat ramah, meski pun penampilannya sedikit seram akibat rambutnya yang disemir dan terdapat banyak tindik di telinganya. Kaminari merasa heran sebenarnya seberapa seringnya Jirou datang ke toko ini sampai-sampai kasir toko musik ini menyapanya ramah? Seingatnya saat dulu mereka pertama kali datang kemari Jirou tidak begitu akrab dengan kasirnya.

"Hei." Jirou tersenyum tipis balas menyapa.

"Di mana temanmu yang pemarah itu? Siapa namanya ... eum Bakugou."

Kaminari menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit ketika mendengar nama 'Bakugou' disebut dengan santainya oleh kasir toko. Kenapa pria itu sampai mengenal Bakugou? Apa Jirou sering datang ke toko ini bersama bocah peledak.

"Dia sedang eum ... berkencan?!" Jirou menjawab sedikit ragu sendiri dengan status antara Ochako dan Katsuki.

"Kupikir kalian berpacaran."

"Haha bukan." Jirou tertawa canggung, ia mulai terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan ini. "Ayo Kaminari." Kaminari terkejut karena Jirou secara mendadak meraih telapak tangannya, mengajaknya menelusuri etalase-etalase di toko itu.

"Dengar, aku tidak berpacaran dengan Bakugou. Paham? Jadi jangan berpikir yang macam-macam dengan perkataan pria itu."

Kaminari sedikit membelalakkan kedua matanya. Tidak mengira kalau Jirou akan meributkan hal itu dengannya, gadis itu sempat melirik ke arahnya memandanginya dengan sorot khawatir, entah kenapa Kaminari sama sekali tidak mengerti.

"B-baiklah." Kaminari hanya dapat mengangguk menurut. "Tapi ... memangnya kau tidak menyukai Bakugou?" tanya Kaminari hati-hati. Ia sadar pertanyaannya ini bodoh, karena secara tidak langsung ia mengundang denyutan sakit di dalam hatinya. Kaminari hanya ingin memastikan, itu saja.

Perempatan imajiner muncul di kening Jirou, ia terlihat kesal."Kami hanya teman dekat." Jirou membasahi bibirnya yang terasa kering, ia kembali bicara dengan suara yang mengecil. "Lagipula sepertinya aku menyukai orang lain."

"Huh? Kau mengatakan sesuatu Jirou?" Telinga Kaminari mendadak tuli tidak menangkap suara Jirou.

"Berisik!"

"Ouch!" Kaminari mengaduh sakit saat Jirou dengan semena-menanya menampar pipinya menggunakan earplugnya. "Kenapa kau memukulku?" protes Kaminari memegang pipinya yang memerah. Sayangnya Jirou mengabaikan protesnya, gadis itu sudah memunggunginya dan sibuk mencari-cari kaset yang berjajar di sebuah etalase.

Kaminari menghela napas, menggelengkan kepalanya benar-benar tidak memahami Jirou untuk saat ini. Ia lalu mendekati gadis itu berdiri di sebelahnya sekedar melihat-lihat kaset yang dicari Jirou. Jemari mungil gadis itu menelusuri kaset-kaset yang berjajar di sana, terkadang dia mengambil sebuah album mengamatinya dan membaca tulisan yang tertera di bungkusan album kaset, kemudian mengembalikannya lagi di tempat semula.

"Ah ... sepertinya itu bagus." Pandangan Jirou mendadak tertuju ke sebuah album kaset yang berada di rak paling atas. Gadis itu lalu menjijitkan kakinya untuk meraih kaset itu tapi Kaminari dengan sigap mengambilnya.

"Ada aku di sini. Kau cukup meminta bantuanku." Kaminari tersenyum mengetukkan album kaset dengan lembut ke kening mulus Jirou.

"Uh ya ... terimakasih." Jirou menggembungkan pipinya menerima kaset itu sembari mengusap keningnya. Gadis itu tak sadar ekspresi cemberutnya membuat Kaminari tertegun sejenak. Betapa menggemaskannya gadis ini kalau pipinya menggembung lucu seperti sekarang ini, terlebih gadis ini jarang sekali berekspresi seperti itu.

"Aku mau mencoba kaset ini dulu."

"Oh itu bagus." Kaminari tersadar dari rasa keterpenaannya, Jirou melewati Kaminari begitu saja. Mendekati alat pemutar kaset yang berada di sudut toko, terdapat tiga alat di situ dan Jirou memilih yang paling sudut. Jirou memasukkan kaset itu secara hati-hati, memutarnya dan mengenakan headset yang terpasang di alat pemutar kaset itu. Kaminari melipat kedua lengannya di depan dada, berdiri di belakang Jirou menunggui gadis itu. Senyuman tipis tersungging di bibirnya memperhatikan Jirou yang memejamkan kedua matanya untuk menghayati lagu yang diputar, kepala gadis itu terangguk-angguk pelan.

"Kaminari ... sudah kuputuskan aku akan membeli kaset ini." Jirou menoleh berkata dengan ceria tapi senyuman gadis itu pudar mendapati Kaminari yang berdiri di belakangnya dan memandanginya dengan seksama. "K-kenapa kau tersenyum dan menatapku seperti itu?" tanya Jirou merasa sedikit gugup sendiri.

"Tidak apa-apa. Aku hanya senang saja melihat ekspresimu tadi. Jirou kau sangat mencintai musik ya? Kau terlihat bahagia sekali saat mendengarkan musik tadi." Kaminari dengan senyumannya menunjukkan layar ponselnya kepada Jirou. "Kau tahu? Aku merasa terpesona sendiri melihat ekspresimu yang seperti tadi jadi aku memutuskan untuk memfotonya."

"K-kenapa kau melakukan itu?" Jirou berteriak gusar berusaha merebut ponsel Kaminari. Dan pemuda itu tadi mengatakan terpesona terhadapnya? Apa maksudnya? Kaminari terkekeh melihat Jirou yang berusaha merebut ponselnya, tapi tentu itu tidak mudah baginya karena dirinya jelas lebih tinggi dibandingkan gadis itu. "Tch ... kau seperti stalker."

"Hei ... kau menyerah merebut ponselku, apa itu berarti aku boleh menyimpan foto ini?" Kaminari heran melihat Jirou yang melepaskan diri darinya.

"Awas saja kau berbuat macam-macam terhadap fotoku." Jirou membalikkan tubuhnya melangkah pelan menuju kasir, hendak membayar kaset yang dipilihnya tadi. Jirou tidak bisa mengatakan kalau ia sebenarnya memiliki beberapa foto Kaminari dalam ponselnya. Saat pemuda itu berwajah konyol saat konslet atau pun tertidur di kelas dengan wajah bodohnya membuat Jirou tidak tahan untuk tidak mengambil gambar pemuda itu. Yang bisa bebas mengutak-atik ponselnya hanya sahabatnya, Yaoyorozu Momo gadis kaya itu bahkan sempat menggodanya karena ia memiliki beberapa potret wajah Kaminari.

"Jirou, apa kau marah karena aku mengambil fotomu?" tanya Kaminari saat mereka sudah keluar dari dalam toko musik.

"Tidak." Jirou menggeleng. "Tapi lebih baik kau menghapusnya."

"Kenapa?"

"Itu memalukan. Kau tahu? Aku tidak pantas foto candide seperti itu, jelek sekali."

"Kau salah, menurutku kau cantik."

Kaminari berkata tenang manik kuningnya menatap Jirou dengan sungguh-sungguh. Jirou tersentak, sekujur tubuhnya mendadak merinding begitu juga hatinya berdegup tak menentu. Jirou tak mengerti sebenarnya ia merasa gugup atau merasa geli mendengar ucapan Kaminari yang lain dari biasanya. Gadis itu ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kaminari hanya sekedar menjahilinya tetapi melihat raut wajah pemuda ini dan tatapannya membuat Jirou merasa ragu sendiri.

Kaminari ... sedang tidak bercanda.

Tapi kenapa?

"Ugh ... aku tidak cantik."

Akhirnya hanya itu yang bisa gadis itu katakan membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Kaminari dan kembali melangkahkan kakinya dengan cepat. Jirou tak tahu ia harus melangkahkan kakinya kemana, hanya saja ia berpikir degupan di jantungnya saat ini membuatnya ingin menyingkir sebentar dari pemuda itu.

"Jirou tunggu."

Jirou mengabaikan seruan itu, ia terus melangkah.

'kupikir Kaminari-kun menyukai Jirou-chan.' Gadis berambut pendek itu menggigit bibirnya sendiri. Kenapa ucapan Ochako tadi malam kembali terngiang di telinganya? Menambah ritme jantungnya agar berpacu lebih cepat.

"AWAS!"

'Kring!'

Semuanya terjadi begitu cepat, Jirou merasakan pelukan kencang di pinggangnya yang membuat tubuhnya tertarik ke samping tepat sebelum bibir roda sepeda yang seenaknya berada di trotoar menabrak tubuh mungilnya. Kemudian terdengar seruan-seruan marah para pejalan kaki lainnya di trotoar menyerukan polisi lalu lintas agar menangkap si pengendara sepeda yang dengan seenaknya menyalah gunakan jalan lain.

"Dasar bocah tak tahu diri. Hampir saja sepedanya menabrakmu." Kaminari mendengus jengkel.

Jirou mendongakkan wajahnya, mengamati Kaminari yang lebih tinggi darinya, wajah pemuda itu tertekuk kesal. Gadis itu menelan ludahnya perlahan, lengan kokoh Kaminari masih melingkar di pinggang mungilnya, membuat tubuh mereka merapat satu sama lain. Seperti sedang berpelukan.

"Kau tidak terluka kan, Jirou." Kaminari menatap ke bawah ke arah Jirou yang lebih pendek darinya. Manik kuningnya melebar tatkala menyadari posisi mereka yang seperti sedang berpelukan, kedua telapak tangan mungil gadis itu berada di atas dada bidangnya sedikit berkeringat dingin mungkin akibat terlalu terkejut dengan insiden barusan. Menyadari bagaimana posisi mereka sekarang ini entah kenapa membuat Kaminari bertambah merasa gugup.

Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya yang bebas yang sedang tidak merangkul pinggang Jirou, menyentuh helai rambut hitam keunguan gadis itu yang sedikit menutupi wajahnya. Tubuh Jirou menegang merasakan jemari Kaminari menyentuh rambutnya, jemari pemuda itu kini mengelus lembut pipinya. Jirou sadar seharusnya ia mendorong Kaminari agar menjauh darinya tapi ia tidak bisa melakukannya, lebih tepatnya ia menyukai posisi mereka saat ini.

Sentuhan itu kini beralih ke bibirnya, Jirou sedikit membelalakkan kedua matanya merasakan ibu jari Kaminari menekan bibirnya dengan lembut. Manik kuning cerah pemuda itu tetap menatapnya lekat.

'K-kaminari ..."

'Ah ayo kita ke sebuah kafe untuk makan siang."

Jirou mengerjapkan kedua matanya cepat, pemuda itu dengan tenangnya melepaskan pelukannya berhenti menatapnya dan berbicara dengan santai sembari menggaruk kepalanya. Karena gugupkah?

'ada apa dengannya?' Jirou menggigit bibirnya. Sentuhan hangat Kaminari masih membekas di pipi dan bibirnya. Gadis itu tidak habis pikir apa arti dari tatapan Kaminari tadi terhadapnya.

"Jirou ... ayo. Kau ingin makan apa?"

Jirou mengerapjapkan matanya lagi saat Kaminari kembali menolehkan kepalanya ke arahnya. "P-pizza. Aku ingin makan pizza."

"Baiklah." Kaminari dengan santainya mengulurkan tangan kanannya ke arahnya. Pemuda itu menunjukkan cengiran konyolnya yang entah kenapa menurut Jirou untuk saat ini terlihat menggemaskan sekali. "Kau tidak boleh jauh-jauh dariku. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi."

Sambil tersenyum canggung Jirou membalas uluran tangan Kaminari, menggenggam jemari pemuda itu. Tangan mungilnya dengan mudahnya digamit dengan erat oleh tangan besar Kaminari yang agak kasar mungkin karena pemuda ini sering berlatih. "Kau benar."

Kaminari tetap tersenyum akan tetapi sorot wajahnya kini terlihat serius. "Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kau terluka."

Sambil berkata seperti itu Kaminari melangkah di sebelah Jirou, memposisikan dirinya agar Jirou berada di bagian dalam trotoar merapat di dinding-dinding toko sebelahnya. Apa yang dilakukan Kaminari meski pun terkesan sederhana entah kenapa mampu membuat Jirou merasa senang sendiri. Pemuda ini secara tidak langsung melindunginya membuatnya agar tidak berada dekat dengan jalan raya.

'Hanya dengan perlakuannya terhadapku tanpa pengakuan darinya aku sudah tahu bahwa ia menyukaiku'

Lagi-lagi ucapan Ochako kembali terngiang di telinganya.


Seharian ini Jirou habiskan untuk bersenang-senang dengan Kaminari, setelah memakan pizza diselingi dengan kejahilan Kaminari yang ingin merebut jatah pizza miliknya. Pemuda itu mengajaknya berjalan-jalan di Shibuya, memasuki beberapa toko hanya sekedar untuk melihat-lihat, kemudian bermain dengan penuh semangat di game center. Satu dua kali mereka berlomba, mengatakan siapa yang bisa mendapatkan poin paling tinggi di salah satu permainan.

Jirou merasa senang sekali, ia lupa kapan terakhir kali ia bisa tertawa senang seperti ini bersama Kaminari. Melihat wajah cemberut pemuda itu karena kalah skor olehnya mengundang cengiran ceria di wajah Jirou yang biasanya bertampang serius. Saat ini gadis itu benar-benar lupa dengan kegugupan yang tadi ia rasakan akibat sikap Kaminari terhadapnya.

"Tiket yang kita dapatkan banyak sekali."

Jirou mengangguk dengan penuh semangat melihat tumpukan tiket yang dibawa Kaminari hasil dari permainan mereka selama beberapa jam di game center. "Kau saja yang menukarnya. Lagipula kita bisa bermain puas hari ini karena kau membayarnya." Ia mengacungkan jempolnya ke arah Kaminari. "Thanks Kaminari. Lain kali aku yang akan mentraktirmu."

Kaminari tersenyum, ia mengambil sapu tangannya yang berada dalam saku celana. "Tidak perlu Jirou. Bayarannya cukup dengan melihat wajah ceriamu hari ini."

Jirou tertegun merasakan usapan lembut dari sapu tangan Kaminari di keningnya. "Pakai itu karena terlalu bersemangat keningmu sampai berkeringat seperti itu," bisik Kaminari lembut. Tanpa sadar Jirou hanya menganggukan kepalanya menerima sapu tangan Kaminari. Kaminari tersenyum puas mengusap puncak kepala Jirou dan melangkahkan kakinya untuk menukarkan tiket-tiket miliknya.

'Ugh ... lagi-lagi ia membuatku berdebar.'

Jirou menggembungkan pipinya sibuk mengusap keningnya menggunakan sapu tangan itu. Pandangannya lalu terarah ke Kaminari yang sedang berbicara salah satu staff seorang gadis mungil yang seksi, dan satu gadis catntik lainnya di tempat itu mereka menunjukkan hadiah-hadiah yang bisa ditukarkan. Jirou menelan ludahnya yang mendadak pahit, Kaminari dapat berbicara santai dengan gadis-gadis staff itu yang seolah sedang menggodanya.

Tidak heran. Meski pun sering bertingkah konyol Jirou mengakui Kaminari cukup menarik. Bahkan ia pernah mencuri dengar pembicaraan gadis-gadis U.A yang berasal dari jurusan lain membicarakan Kaminari. Walau pun tidak sepopuler Todoroki atau pun Bakugou, tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa kaum hawa yang tertarik dengan si pikachu idiot itu.

Lalu kenapa ia harus merasa tidak terima seperti ini?

Jirou mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak tahu entah sejak kapan ia tidak suka melihat bocah itu menggoda gadis-gadis lain selain dirinya. Kaminari memang seperti Mineta suka berbicara mesum –walau pun tidak separah Mineta—dan tiap Kaminari menggoda Ochako, Yaoyorozu, Mina , Tsuyu atau pun Hagakure dirinya selalu tanpa sadar menyerang Kaminari, melancarkan quirknya dengan cara menusukkan telinga pemuda itu gadis itu mendesah keras menjejalkan sapu tangan Kaminari ke dalam sakunya dengan gerakan gusar, kemudian ia melangkahkan kakinya dengan cepat.

"Loh ... Jirou, kau mau kemana?" Kaminari bertanya heran melihat Jirou yang berjalan dengan terburu-buru.

Jirou menoleh tanpa sadar ia melemparkan tatapan tidak suka ke arah dua gadis staff yang tadi berbicara dengan pemuda itu. "Aku tunggu kau di luar saja."

"Oh aku mengerti." Kaminari mengangguk paham, lalu tanpa mengatakan apa pun lagi gadis itu bergegas keluar dari tempat itu.

Kaminari tersenyum simpul, menyadari dengan kegusaran Jirou. Gadis itu menunjukkannya dengan kentara. "Apa ia pacarmu?" tanya salah seorang staff yang melayaninya.

"Ah bukan." Kaminari tertawa menggaruk kepalanya dengan gugup. "Tapi ... ia orang yang berharga bagiku," lanjutnya dengan sorot mata yang terkesan lembut. "Omong-omong ... bisa aku menukarkan tiketku dengan itu?"

"Bisa. Kebetulan jumlah tiket milikmu cukup."


Kaminari keluar dari game center, tangannya membawa kantung plastik berukuran sedang berwarna biru gelap membuat barang yang berada di dalamnya tidak terlihat. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mencari sosok Jirou, seketika itu juga ia tersenyum melihat gadis itu berdiri menunggunya di dekat sebuah vending machine yang berada di depan game center kedua tangan kirinya terlihat sedang menggenggam sebuah jus kalengan yang masih mengeluarkan embun dingin, sedangka tangan kanannya sibuk mengutak-atik ponsel menyambungkannya dengan earplug quirknya sepertinya gadis itu sedang mendengarkan sebuah lagu.

"Jirou," panggil Kaminari.

Jirou mengangkat kepalanya. "Oh kau sudah selesai." Gadis itu menarik earplugnya dari ponsel, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Benda apa yang kau dapatkan dari penukaran tiket itu?"

Kontan saja Kaminari menyembunyikan bungkusan yang dibawanya ke balik punggungnya. Tentu saja Jirou menatapnya heran jelas sekali pemuda ini tidak ingin menunjukkan benda itu terhadapnya.

"Tidak masalah kalau kau tidak mau memberitahu," ujar Jirou tenang meski pun merasa sedikit kecewa. "Bagaimana kalau kita kembali ke halte? Sebentar lagi jam empat sore."

"Jirou tunggu."

Kaminari menahan pergelangan tangan Jirou sebelum gadis itu melangkahkan kakinya. Kaminari berdiri dengan gelisah tatkala mata kecil Jirou kembali menatapnya, tatapan gadis itu terkesan bingung dan tidak sabar menunggu apa yang ingin Kaminari katakan kepadanya. Mereka tetap seperti itu berdiri berhadapan dengan tangan Kaminari yang masih menahan pergelangan tangan Jirou. Pemuda itu menarik napas panjang, sedikit menolehkan wajahnya ke samping agar tidak bertatapan dengan gadis berambut hitam keunguan di hadapannya.

Kaminari merutuk dalam hati kenapa mendadak ia merasa gugup seperti ini? Seharusnya ia bisa dengan lancar mengatakannya. Tadi malam ia bahkan sudah berlatih di hadapan Sero serta Ashido, menjadikan Kirishima seolah-olah sebagai Jirou. Bahkan ia menahan diri dari ejekan ketiga temannya itu, menertawainya habis-habisan karena betapa mereka tidak membayangkan Kaminari bisa mengatakan kalimat suka dengan wajah serius. Terlebih ia melakukan prakteknya terhadap Kirishima, membuat temannya berambut merah itu berkali-kali memasang wajah jijik dan malu sendiri dengan posisi kabedon yang ia lakukan kepada Kirishima. Saat itu Ashido menolak untuk dijadikan teman prakteknya, gadis itu lebih suka untuk menjadi pengamat saja.

'Menurutku tidak harus melakukan kabedon. Aku takut Jirou nanti akan menendang selangkanganmu.' Nasihat Ashido terngiang di telinganya.

"Sebenarnya ... ini untukmu."

Jirou melebarkan kedua matanya saat Kaminari mengeluarkan sebuah boneka dari dalam kantung plastik yang dibawanya. Jirou tidak dapat melihat wajah boneka itu, karena Kaminari seperti sengaja hanya menunjukkan punggung boneka yang dibawanya. Boneka itu berwarna kuning cerah, dengan ekor yang seperti petir , terdapat dua garis hitam di punggungnya serta kedua telinga yang berbentuk runcing. Jirou tersenyum, sadar kalau itu boneka berbentuk pikachu, julukan yang selalu ia dan teman-teman sekelasnya berikan kepada Kaminari Denki.

"Terimakasih. Aku menyukainya." Jirou menerima boneka itu. Rasanya lembut sekali. Gadis itu berpikir mungkin akan terasa nyaman sekali kalau ia tidur sembari memeluk boneka ini. "Kau memberikan boneka pikachu, benar-benar menggambarkan dirimu." Jirou membalikkan boneka itu agar ia dapat melihat wajah imut dari boneka pikachu itu akan tetapi detik itu juga senyuman di bibir kecilnya meredup saat ia melihat bagian depan dari boneka tersebut.

Wajahnya mendadak terasa panas. Jirou menelan ludahnya. Tidak itu hanya sekedar tulisan yang tergurat di boneka ini, mana mungkin Kaminari memaknai hal yang sama terhadapnya. Hati-hati sudut matanya melirik ke arah Kaminari, ketegangan pada diri Jirou bertambah melihat sorot mata Kaminari yang menatapnya sungguh-sungguh.

"Jirou ... kau sudah membaca tulisan yang berada dalam genggaman boneka itu."

Jirou mengalihkan pandangannya kembali menatap bantal kecil berbentuk hati yang berada di tangan boneka pikachu miliknya. Tertera tulisan I LOVE U di sana.

"Ahahaha ya aku sudah membacanya." Jirou tertawa canggung mengusap lehernya. "Kaminari seharusnya kau memberikan boneka ini untuk orang yang kau sukai."

"Kau benar." Kaminari menghela napas gusar untuk siswa yang menduduki peringkat tujuh di UTS gadis ini jelas-jelas berpura-pura bersikap bodoh. Atau ... ia tidak peka sama sekali. "Sebenarnya aku sedang menyukai seorang gadis."

Jirou menelan ludahnya, tanpa sadar ia mencengkram boneka pikachu itu dengan erat. Kaminari jelas sedang mengerjainya, boneka itu bukan untuknhya. "Kalau begitu aku akan mengembalikannya kepadamu."

Ketika Jirou hendak mengembalikan boneka itu kepada Kaminari, salah satu tangan pemuda itu menahan pergelangan tangannya, tubuh Kaminari bergerak maju memotong jarak antara mereka sedangkan telapak tangan kanan pemuda itu menutup kedua matanya dengan lembut. Belum sempat Jirou dapat bereaksi atas tindakan Kaminari terhadapnya, gadis itu merasakan kecupan ringan di bibirnya hanya sekilas disertai dengan sebuah bisikan lembut di telinganya.

"Gadis yang kusukai itu kau ... Jirou Kyouka."

_FIN_


Omake

"Di mana Jirou dan Kaminari?" tanya Bakugou Katsuki tepat saat ia sudah tiba di halte bus bersama Uraraka. Ia melihat ketiga temannya yang lain duduk menunggu, semua ada di sana kecuali dua orang itu.

"Entahlah." Ashido Mina menghela napas panjang. "Ponselku baterainya habis. Sedangkan Sero dan Kirishima tidak bisa menghubungi pikachu itu dan mereka tidak punya nomor Jirou."

"Huh aku bertaruh, mereka berdua pasti masih bersenang-senang." Sero berkata yakin.

"Kau yakin kalau rencana Kaminari berhasil?" tanya Kirishima ragu.

Ochako Uraraka mengabaikan perdebatan Bakusquad perhatiannya kini sepenuhnya teralihkan ke ponselnya. Ia mengerutkan keningnya melihat grup Line yang hanya berisikan para cewek-cewek kelas 1-A kini sedang meributkan sesuatu. Adalah Yaoyorozu yang terlihat paling heboh saat itu, ia membawakan sebuah berita yang membuat manik bulat Ochako membulat sempurna.

Di sana tampak screen shot percakapan Jirou bersama Momo dalam via chat, gadis tomboy itu memberitahu kepada Momo—sahabatnya—kalau ia sudah berpacaran dengan Kaminari. Ochako tersenyum, turut merasa senang mendapati kabar itu.

"Teman-teman bagaimana kalau kita pulang duluan?"


Fuwah akhirnya selesai juga. Terimakasih yang sudah baca saya akan senang sekali kalau ada yang memberi krisar 3