'Adakah korban pembunuhan yang jatuh cinta pada pembunuhnya?'

The Ripper.

Kalau ditanya seberapa sadis dirinya, mungkin kau akan mendapat alasan mengapa jantungmu berhenti berdetak sepersekon hanya karena mendengar namanya.

Itulah kalimat pertama yang menyambut pertanyaan darimu, Kaminaga.

Dirimu hanyalah seorang mahasiswa semester genap yang bekerja freelance sebagai seorang jurnalis, yang kini berada di tengah misi untuk meliput seorang jagal tersohor di seluruh pelosok Katria.

Pembunuh kejam berdarah dingin yang setia menebar teror penuh ketakutan dan aura kematian di setiap berita dalam lembar surat kabar di seluruh kota, sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang.

Sosok misterius yang identitasnya tidak pernah diketahui sampai membuat para penegak hukum nyaris gila akan kelakuannya. Begitu rapi dan misterius, membuat mereka makin bernafsu meringkusnya namun nihil.

Penasaran yang terasa semakin meluap bergemuruh bersama rentetan kisah kelam yang ditorehkan oleh sang selebriti hitam dari mulut sang narasumber terpercaya.

Cara The Ripper membunuh bagai seorang dokter ahli bedah yang gila akan keingin tahuan atau bocah sinting yang tak pernah puas dengan boneka mainannya.

Setidaknya itulah perumpamaan dalam persepsi mereka saat polisi menemukan potongan-potongan dari onggokan organ tubuh manusia yang telah menjadi sarang belatung di sela-sela sempit kota, digenangi cairan kental amis yang menghitam dengan kerubung lalat menghinggap.

Mereka sudah putus asa untuk mengidentifikasi siapakah identitas si korban tersebut yang malangnya bertemu sang Ripper malam itu.

Ia serupa hantu yang muncul dalam mimpi buruk di saat kelambu sehitam jelaga menyelimuti langit, bahkan kapanpun dan dimanapun tanpa kau sadari.

Tidak terlihat bagai kabut, sang kriminal yang dirindukan neraka.

Ia tidak bernama selayaknya hantu terlupakan yang ditelan masa, namun julukan tabu dari orang-orang yang mengingatnya sebagai ikon penuh teror membawa sosoknya dalam pikiranmu dari dasar jahannam.

Iblis. Pembunuh. Dewa kematian.

Serupa mantra terkutuk, memanggil namanya seolah mampu mengundang bala.

Namun otak positifmu malah menepis semua fakta yang tertera didepan mata, serta segala simpang-siur dari bibir mereka yang tak pernah lelah bercuap, seolah ingin menantang sang pembawa maut demi pemastian logis.

Apakah ia benar nyata atau tidak?

.

"Kau penasaran pada The Ripper eh, Kaminaga-san?"

Coklat gelap milikmu yang tengah terpaku pada lembaran di depan beralih bersama kepala mu yang menoleh kearah wanita berambut hitam yang tengah berdiri di samping.

Elena, nama dari sosok sang editor berwajah Eurasia cantik ini, tengah memasang tatap manik sapphire nya dengan kadar serius lebih kearahmu yang balik memandangnya penuh tanya.

"Percayakah kau bahwa The Ripper adalah seorang dokter? Menduga dari kondisi setiap korbannya yang tak pernah 'utuh', sepertinya dia adalah tipe psikopat yang menggilai tubuh manusia dan memutilasinya seperti daging cincang. Entah apapun motif nya sepertinya hampir semua korbannya adalah laki-laki." Kata Elena yang lebih seperti mencelotehkan isi pikirannya.

Serabut akar pohon mengernyit. Di bandingkan dengan dokter, The Ripper lebih seperti orang gila berjiwa pembunuh. Lalu sebelah alis mu terangkat di bagian pernyataan terakhir.

"Hampir semua korban The Ripper adalah… laki-laki?" oh Kaminaga, kau baru sadar rupanya.

"Ya. Secara keseluruhan semua korban mengenaskan, nyaris telanjang karena tubuh mereka tercerai-berai tak melekat pada pakaian yang robek seolah dicabik-cabik binatang buas. Serta yang paling menarik perhatian adalah kondisi kemaluan mereka yang terpotong. Dari yang kudengar The Ripper mengambil organ tubuh para korbannya seperti jantung, hati, dan ginjal yang membuat spekulasi bahwa ia seorang dokter menguat. Kadang mata, hidung, telinga dan lidah mereka juga raib dari tempat nya." Lanjut Elena tanpa filter dalam kalimat nya.

"Euw... Terima kasih atas detail jelasnya, Elena-san. Kini kau sukses membuat perutku ngilu."

Perempuan itu tersenyum, "Sama-sama, Kaminaga-san."

.

Ia sahabat sang Kematian'. Kau akan menyesal saat memergokinya tengah 'bermain' dengan mayat seorang pria malam ini.

Sial bagimu kala itu setelah menghabiskan lebih dari tiga setengah jam mendengar dongeng termasyur di Inggris Raya tentang 'Jack The Ripper', dibawakan live oleh Jitsui.

Lalu bertemu dengan rekan sejawatmu Amari yang mengajakmu minum-minum di sebuah bar sudut kota - alih-alih menjadi korban curhat nyasar dari Amari yang setengah mabuk tentang perceraiannya seminggu lalu, dan keputusan sang istri membawa Emma - aahh cerita basi, tepukan penyemangat dipunggung untuk sang pria yang terisak menyedihkan di konter bar.

Tidak terasa membuatmu terlambat pulang sampai larut malam.

Yah, ini sungguh kesialan bagimu.

Sosok sang kekasih kematian yang beberapa jam lalu kau uber terus sepak terjangnya saat ini tengah berada di hadapanmu.

Sebilah pedang berkilau saat cahaya bulan menerpa sendu, diangkat perlahan dari benam tubuh berdaging lebih, membawa cipratan darah yang mengalir deras, menghilir ke sekitar jasad seolah ingin menyatukan tangan dan kaki yang telah terpisah dari tubuh.

Kau hanya berdiri disana, ternganga.

Sosok itu menoleh kearahmu – ia sudah tau bahwa kau disana, melihatnya – ia mengamatimu lekat seolah ingin menerkam, namun yang ia lakukan hanya beranjak dari posisi. Melangkah pelan mendekat.

Dengan sebuah pedang di sisi tubuh yang basah dihiasi gemerlap darah, terayun statis sebareng langkah ringan sepasang kaki bersepatu boots hitam. Sebuah pistol hitam disarungkan dalam holster di pinggang. Surai sewarna tanah yang ditumpahi darah menghiasi kepala berkulit seputih porselen antik, dengan mimic sedatar lantai keramik. Dingin dan kosong.

Serupa boneka tanpa anugerah hati, namun di dalamnya bersemayam jiwa terkeji.

Kau seolah lupa punya sepasang paru-paru untuk menyokong hidupmu dengan bernafas. Kedua kakimu mendadak kaku bagai semen kering yang menumpu sebuah patung. Detak jantung berirama tak beratur mengisi lowong waktu selama kedua manic bulat mu terpana pada sosok bertubuh ramping itu. Oh, kau juga tak menyangkanya bukan?

Dan bisakah kau menolak pesona dari sepasang iris lycoris merekah yang berkilat penuh godaan, tersembunyi apik di balik tajamnya sorot pandang. Dua belah bibir merah pucat yang kau curigai terlapisi darah itu mendadak terbuka, disusul sebaris kalimat tak bernada namun dengan dampak kejiwaan yang kentara bagi manusia normal.

"Tembak atau tusuk."

Pertanyaan yang tidak wajar.

Kau pastinya tau kan, bahwa pilihan manapun tak akan berakhir baik untukmu.

"A...atau..?" dirimu membalas ragu.

Pria itu terdiam saat mendengar jawaban yang kau pilih, setidaknya dalam pertanyaan tersebut itu termasuk pilihan 'aman'.

"Kau memilih 'atau'?" ia terkekeh kecil, kemudian meninggi menjadi sebuah tawa yang menakutkan.

"Itu bukan jawaban."

BRUAAKK

Tubuhmu tiba-tiba didorong keras hingga jatuh tersungkur diatas aspal hitam. Kau mengaduh saat merasakan sakit di punggungmu dan langsung melayangkan tatapan marah kearah sang pembunuh.

"Mengapa? Apa yang mau kau lakukan?!"

Kau berteriak kearahnya, mencoba untuk melawan. Namun nyatanya kau sudah kalah sejak awal. Tubuhnya mungkin lebih kecil darimu, tapi kekuatannya jauh lebih besar.

Pria itu menjatuhkan dirinya diatas tubuhmu, menumpukan kedua tangannya disamping sisi kepalamu.

"Aku akan menjadikanmu salah satu koleksiku." Ucapnya datar.

Wajah dingin diatasnya menampilkan sebuah seringai berbentuk sabit. Di belakangnya nampak latar dari bentang kanvas hitam dengan sebongkah bulan bersinar menimbulkan efek bayangan yang membuat sosok berbahaya ini makin terlihat kelam.

Pedang yang bersimbah darah dilempar kesamping lalu mengambil sebuah pisau. Tanpa buang waktu langsung ia arahkan ke tubuh mu dan mulai merobek baju depanmu.

"Be...berhenti!" teriak mu lagi.

"Sshh~ Jangan khawatir. Aku akan membuatmu merasa lebih baik." Goda sang Pencabik.

Namun kau tidak bisa tenang. Kau berusaha memberontak namun ia menduduki pahamu dan kedua tanganmu dikunci diatas kepalamu, membuat perlawananmu sia-sia.

Astaga, apa-apaan! Apa dia ini Monster?!

SREEETT

Bajumu sudah dirobek hingga terbuka, menampilkan pemandangan tubuh depanmu. Kau menggeram sedangkan ia tertawa.

"Nice skin."

Dibawanya pisau tersebut ke mulut nya. Lidah semerah ceri terjulur menjilati sisi mata pisau.

"Aku akan memperlakukanmu dengan baik karena aku 'menyukai'mu."

Pernyataan serupa peringatan garis keras akan nyawa mu yang terancam.

Kemudian ia menempelkan ujung tajam pisau diatas kulit mu, di bagian bidang dada, tempat jantungmu berdetak. Sensasi dari dingin metalik yang bertemu panas tubuh membuatmu merinding. Kau mendesis parau saat pisau ditekan semakin kuat, ditarik hingga membentuk garis lintang merah yang rapi. Menimbulkan cercahan darah merebak keluar bersama rasa sakit menyiksa.

Sebelum kau sempat berteriak ia sudah membungkam mulutmu dengan miliknya. Kedua manik gelapmu melotot syok saat sesuatu yang dingin itu menyergap mulutmu. Tangannya masih bekerja diatas kulitmu, kini ia menyentuh luka sayatan yang dibuatnya, meraba bidang dada hingga abnomen perut, membawa jejak darah melumuri kulit mu.

Sayatan kembali dilanjutkan hingga luka yang terkuak menampilkan apa yang disembunyikan. Otot jantung mu masih berdetak keras, pertanda bahwa dirimu sudah diambang ajal. Pria misterius itu mengangkat wajah, tersenyum. Manik coklat lycoris melirik organ tubuh paling berisik tersebut lalu menjilat bibir nya sendiri dengan sensual, seolah tengah menakar makanan yang akan ia cecap.

GRAB

"AAAAHGHHH!"

Kedua manikmu kembali terbelalak nanar saat melihat otot berdetak itu ditarik dari sarangnya, meninggalkan ragamu. Kau menatap hampa padanya diujung kesadaran yang menipis.

"Kau berteriak seperti telah mencapai orgasme, Sayang. Kau puas dengan keahlianku?" seringai menggoda kembali terpampang pada wajah menawan.

Kau membisu, diam tak bergerak seiring melemahnya tubuhmu yang makin kekurangan darah.

Disaat kegelapan akan menjatuhkanmu ia berbisik diantara alunan suara sehalus satin.

"Gute nacht."

.

"HAA-H!"

Oh, selamat pagi, Kaminaga.

Kau tersentak bangun, berkeringat dingin. Apa yang semalam itu cuma mimpi? Kau mengingat kembali apa yang kau lakukan kemarin.

Setelah pulang dari rumah Jitsui kau diajak ke sebuah bar oleh Amari, kalian berdua mengobrol sambil minum-minum hingga larut malam, lalu kau jatuh tertidur karena mabuk. Ya, pasti begitu karena bila kejadian selanjutnya benar-benar terjadi maka tidak mungkin dirimu berada diatas tempat tidur kamarmu sendiri kan?

Ya, pertemuanmu dengan sosok menyeramkan itu hanya bunga tidur tak berarti. Sepertinya obsesimu untuk bertemu dengannya sampai terbawa ke alam mimpi.

.

Matahari masih berkelambu kabut, mewarnai atmosfer Kota Katria dalam rona yang suram.

Dirimu melangkah menyelusuri jalanan yang dilalui hilir mudik orang-orang.

"Hei! Mereka menemukannya disana!"

"Ada disana! Mayat seseorang yang dibunuh semalam!"

Sepasang pria berlari melewati tubuhmu kearah kerumunan disebuah gang. Nampak beberapa polisi berjaga – oh, ada Sakuma-san juga disana- serta garis kuning melintang membatasi TKP agar massa tidak mendekat. Sementara manusia disekelilingnya saling berdesakkan untuk melihat hasil yang ditinggalkan sang seniman kematian.

Dari jarak dekat kau bisa mendengar orang-orang saling melempar bicara.

"Semalam ada korban The Ripper lagi?!"

"Ya. Kali ini pun juga seorang pria."

"Katanya tubuhnya dipotong-potong dan ginjalnya diambil."

"Lidah dan matanya juga dicongkel."

"Apa alat kelaminnya juga dipotong?"

"Tentu saja. Hingga tidak bersisa!"

"Sadis sekali."

"Mengerikan."

Sesudah mendengar tersebut, dirimu memutuskan untuk kembali melangkah, meninggalkan kerumunan yang masih penasaran dengan jenasah si malang.

Ya, korban The Ripper semalam hanya satu orang, bukan dua orang.

Kau menatap telapak tanganmu yang membiru karena udara beku yang telah memasuki musim dingin.

Meski berusaha untuk melupakan namun ingatan akan sosok sang kematian seolah nyata didepan mata.

Memberimu perasaan aneh yang seolah terlupakan dan ingin diyakinkan.

Apakah dirimu masih bermimpi,

Atau sudah mati.

.