'Bisakah seseorang mendapatkan cinta dari orang mati?'
The Ripper.
Bentang sayap kelamnya kembali merajai lembar per lembar surat kabar utama di seluruh kota, mengalahkan berita menghilangnya Kaminaga.
Kau termangu di kursi. Buntu mewacana apa lagi dalam remahan diksi. Hati mu masih berkabung untuk dirinya sebagai bagian solidaritas rekan seprofesi.
Menurut Amari, ia bersama Kaminaga beberapa malam sebelumnya di bar sudut kota - yang tidak ia sangka akan menjadi yang terakhir kali. Meski dilahap mabuk dan tenggelam dalam penat nya stress, Amari yakin tidak ada hal yang aneh dari diri Kaminaga hingga membuatnya curiga tentang alasan yang mungkin melekati hati. Elena menginformasi bahwa sebelumnya Kaminaga gigih mengulas kasus-kasus yang berhubungan dengan The Ripper. Hal itu tentu saja langsung membuatmu diremas rasa khawatir bahwa mungkin telah terjadi sesuatu pada Kaminaga. Namun kau menepis segala prasangka negatif saat melihat foto-foto yang memaparkan kondisi mayat kembali ditemukan pagi ini.
Semua hasil kedipan kodak yang tidak akan terpampang bebas diatas kertas demi alasan kesehatan mental masyarakat. Hanya foto yang telah mengalami proses sensor yang boleh dipakai. Hasil kreasi The Ripper seperti biasa. Mutilasi kedua tangan dan kaki. Lidah dan kemaluan dipotong habis. Kepala dipenggal. Kedua mata dicongkel. Ginjal raib. Tidak ada gambar berkapur menjiplak tubuh mayat yang berantakan dengan geliat-geliat menjijikkan pada daging membusuk yang terkuak terekam beku.
"Siapa dia?"
"Hasil forensik baru terbit," Amari menyerahkan selembar padamu, "Seorang importir anggur dari kota seberang. Alasannya disini sepertinya bisa ditebak."
"Dia mengunjungi rumah bordil?"
Pria dewasa berambut belah tengah itu mengendikkan bahu, "Semua korban The Ripper adalah pelanggan di kawasan itu."
.
Pria dan prostitusi. Dua kata kunci mengkudis ciri khas distrik merah di kawasan kumuh sudut kelam kota Katria. Gelap melahap suramnya senja setelah menidurkan sang mentari di peraduaannya kala kedua langkahmu meyakini diri untuk mengikuti seseorang yang diketahui berstatus gubernur sebuah bank lokal yang tengah ditemani kupu-kupu malam.
Aksimu ini sesungguhnya tidak lebih dari investigasi bertajuk dirt cheap adultery yang biasa kau lakoni karena tuntutan kerja - lihat saja wujud tambun sang gubernur yang telah beristri dan memiliki anak perawan dirumah itu. Seperti biasa, kau diam-diam mengambil gambar dibalik jendela kamar serupa ninja yang ahli memanjat dinding. Namun kau tidak lantas segera pergi meski pekikan hasrat meleleh dari liang senggama, yang artinya bukti ditanganmu sudah cukup dan pekerjaanmu selesai. Kau malah menunggu targetmu usai dengan urusan selangkangan nya hingga pergi meninggalkan rumah bordil.
Kini ia cuma berjalan sendirian di tepi jalan lenggang yang sepi lalu lalang. Alasan yang mendorongmu semata-mata penasaran. Mungkin kau bisa menemukan sedikit petunjuk tentang Kaminaga atau, bertemu langsung dengan The Ripper...
Dirimu gesit mengikuti dibalik dinding, sekitar lima meter dibelakang target. Sang gubernur berbelok kearah sebuah gang, kau lantas keluar dari persembunyian dan mengejarnya.
Seketika kau berhenti.
Gang itu sepi.
Targetmu tidak terlihat disini.
Kau bingung dengan kejanggalan ini hingga tidak menyadari ada seseorang dibelakangmu.
BUAAKKK
.
Srett.
Srett.
Bunyi pelan menyayat merangsang kesadaranmu untuk bangun, kemudian disambut nyeri menjentik belakang kepala hingga leher. Rasa sakit dan pusing yang hebat mendera seolah seluruh darah dipompa ke ujung ubun-ubun.
"Oh, kau masih hidup?"
Suara selembut lambaian satin memalu telinga.
Perlahan kau membuka mata dan menyaksikan visimu seluruhnya terbalik - oh, atau kau akhirnya menyadari bahwa kini dirimulah yang tengah digantung terbalik di ruang tanpa sejumput pun sumbu pelita.
Kini kau tak ubahnya seonggok daging kiloan yang digantung siap dijual dipasaran.
Dihadapanmu, sosok yang kau yakini sebagai sang artist biadab tengah duduk elegan sambil memangku sebongkah kepala - milik gubernur bank lokal yang kau mata-matai.
Kau meringis kelu melihat target mu sudah tidak lagi utuh.
Sang Ripper masih tenang dengan pekerjaannya, telaten menjahit mulut menggembung berisi bongkahan gigi yang rontok dari gusi, potongan lidah, serta alat kelamin yang telah diiri-iris. Sementara dua kelereng bulat melotot tanpa pancaran lentera seolah mengutuk sang pembunuh dari tengkorak berotak setengah busuk. Jemari lentik menekan jarum menembus kulit tebal menggelambir, ditarik perlahan hingga benang basah dalam simbah darah. Jahitan rapat dan rapi hingga ia menyimpul mati benang diujung mulut pucat.
Ia merendahkan kepalanya,
Tes.
Benang terputus oleh derit gigi miliknya.
"Nah, selesai." Sang Pencabik tersenyum cantik.
Ia melempar si kepala jatuh menumbuk tanah, bergelinding ke dekat jasad nya.
"Sekarang giliranmu." ia menatap kearahmu.
Kau refleks panik. Berusaha berontak dari ikatan tali temali yang membebat tubuh dan tanganmu, sia-sia. Degup jantungmu mengebor ganas kala sosok berjubah kematian melangkah pelan dilangit-langit visi. Wangi segar mawar merekah tercium dari tubuh ramping berwajah sejelita rembulan. Kau mungkin bisa langsung jatuh cinta pada sosok menawan ini kalau saja tidak tau bahwa ia akan menyembelih kepalamu, saat ini.
"A-AAAAGGGHHHHHH!"
"Hm, kau orgasme, sayang?" pria itu mengorek mata kirimu dengan pisau bedah, bilah pipih tajam mengaduk pelan hingga rongga matamu mengucur deraskan darah.
Kau berjengit kala tangan sebeku mayat nya meraba kulit wajahmu, mengelus pelan menggoda seolah menenangkan. Sepotong lidah semerah ceri menjilat darah yang menghilir. Sejurus kemudian mulut nya meraup rongga matamu. Seakan ditusuk sebongkah tombak, kau meringis saat ia mengecup, menjilatkan lidahnya pada permukaan kornea. Kau berteriak nyaris binasa saat ia menghisap dan melumat bola mata kirimu, menarik benang urat hingga putus menggantung. Ia menelan bola matamu bulat-bulat, kemudian menjilat sensual sudut bibirnya yang kemerahan.
Tidak ada ekspresi terganggu tercetak pada parasnya, sementara dirimu ngilu setengah mati hanya melihatnya dengan mata sebelah. Tiba-tiba ia kembali memajukan wajahnya dan menangkap mulutmu kedalam sebuah ciuman basah. Mata kananmu melebar syok pada perlakuan tiba-tiba sang pembunuh.
Rasa sakit, perih, nyeri, ngilu, dan sesak bercampur aduk dikepala. Ditambah permainan lidah yang sangat ahli di dalam mulut, memaksamu untuk turut mencicipi rasa dari daging bola matamu yang tersisa di mulut sang Ripper. Tidak lama, ia menarik wajahnya kembali. Menyeka halus sudut bibirmu yang berdarah. Menghujammu dengan sorot tatap predator.
"Enak?" ia bertanya sarat godaan.
Kau hanya diam mengkaku bisu. Tidak tau harus kau respon bagaimana pertanyaan serupa kudapan ditengah sesi permainan nyawa mu ini. Sosok itu tersenyum anggun - indah untuk dipandang, namun juga mengerikan bila tau makna dibaliknya. Ia mengeluarkan sebilah pedang yang disarungkan dipinggang.
"Thank's for the meal, and...." desing sehalus kibas beku angin musim dingin mengisi lowong kosong sembari bilah menerpa redup lentera dibalik iris gelap matamu.
"... Gute nacht."
ZRAASHH
.
"HA-HH!"
Oh, selamat pagi, Tazaki.
Kau tersentak bangun, berkeringat dingin. Apa yang semalam itu cuma mimpi? Kau mengingat kembali apa yang kau lakukan kemarin.
Sayangnya, tidak ada ingatan lain yang terproyeksi didalam kepala setelah kau semalaman mengikuti target berita gosip selain pertemuanmu dengan sang Pembantai.
Apa yang semalam cuma mimpi?
Yah, pasti cuma mimpi buruk.
Kau perlahan bangkit dari pembaringan bersiap untuk pergi ke kantor. Kau juga mengingat bahwa kemarin kau sudah membuat janji untuk bertemu dengan Hatano perihal kasus menghilangnya Kaminaga. Mendadak ekor matamu menangkap seonggok sosok misterius di sudut ruangan.
Manik matamu melebar.
Kau membatu.
Syok tidak percaya.
"... Tidak mungkin."
Namun kau cepat menguasai dirimu kembali. Kau melangkah cepat kearah pintu, memutar kenop-
.
.
Kantor surat kabar kota sepi pagi ini. Nyaris tidak ada seorangpun hingga kau cukup leluasa melangkah menuju meja kerjamu. Ada rentetan laporan yang harus kau atur sebelum-
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Secepat kilat kau menoleh.
Itu suara Elena.
"Ada apa Elena-san?" kau bertanya khawatir sembari menghampiri.
Perempuan itu diam saja, mungkin efek syok. Sesenggukan sambil tangan menutup mulut, warna menguap dari paras yang pasi memucat. Kedua manik birunya melebar syok.
"Ta... Tazaki.." bisik Elena tercekat.
Kau sontak berpaling kearah yang dilihat oleh Elena.
Nampak sebuah bingkisan berupa kotak bento berukuran cukup besar berisi beberapa potong sayur mayur berupa daun selada serta irisan tomat dan wortel, sepertinya tertata estetik sebelum tumpah ruah dilantai akibat terbanting jatuh oleh Elena yang menjerit kaget. Disana, kau melihat seonggok kepala berhias sekuntum camelia merah di rongga mata kirinya, tergeletak diantara tebaran hiasan rusak yang berceceran.
Itu adalah kepalamu.
.
.
.
Detektif Sakuma menghela nafas pelan berkontras kelumit stress yang mem-bully kepalanya saat ini. Pasalnya, nyaris tiap pagi telepon kantornya menyalak heboh mewarta perintah penyelidikan korban The Ripper yang jatuh hampir tiap malam. Lalu dipaksa terbiasa memandangi lekat-lekat tubuh laki-laki telanjang bulat yang seolah habis disodomi senjata tajam lalu dicabik-cabik oleh binatang buas. Sementara mereka masih belum menemukan keterangan yang akan menuju pada identitas sesungguhnya The Ripper.
Sakuma serius stress setengah mampus.
Membuang puntung rokok ke tong sampah pinggir jalan, Sakuma melangkah hampir tergesa karena ingin segera sampai dirumah dan beristirahat sejenak dari beringasnya kenyataan. Tidak sengaja ia menyenggol bahu seorang pejalan kaki yang melintas disampingnya.
"Oh, maaf- hei!" Sakuma terkesiap karena seseorang yang ia senggol itu tiba-tiba oleng dan siap ambruk menghantam tanah kalau Sakuma tidak sigap menahan tubuhnya.
"Hei! Sir! Anda kenapa? Tolong bangunlah!" Sakuma berlutut sambil menopang kepala sang pria sambil mengguncang pelan bahu berlapis jas biru. Sayangnya tidak ada respon.
.
Iris coklat kemerahan perlahan terbit dari balik kelopak sayu yang terbuka, berkedip sekali. Kemudian melirik untuk mengamati interior bernafas kasual minus familiar dalam memori, namun ia tau siapa sang pemilik.
"Anda sudah sadar?" Nampak sosok Sakuma datang sambil membawa gelas berisi air putih.
Pria berambut coklat mengamati dari sudut manik. "Kau membawaku ke rumahmu?"
"Ya, karena kebetulan rumahku berjarak lebih dekat dari tempat kau mendadak jatuh tertidur tadi. Silahkan diminum."
Sang pria misterius meraih gelas yang disodorkan oleh Sakuma, tersenyum kecil sambil mengangguk terima kasih.
"Mengapa kau bisa tiba-tiba pingsan - jatuh tertidur ditengah jalan begitu?"
"Aku menderita narcolepsy."
Alis Sakuma mengkerut, "Narcolepsy?"
"Gangguan tidur kronis yang membuatku bisa mendadak tertidur dimanapun, kapanpun, dan sedang melakukan apapun. Penyakit yang merepotkan, ya."
"Itu berbahaya sekali. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padamu?"
"Sampai saat ini aku baik-baik saja." pria itu melempar senyum kecil sesaat sebelum kemudian bangkit dari tempat tidur. "Terima kasih dan maaf sudah merepotkan. Aku harus segera pulang."
"Oh, biar aku antar." Sakuma mengikuti langkah sang pria menuju pintu depan.
Lelaki itu balas dengan seulas senyum tipis, "Tidak usah repot-repot."
Sebelah tangan baru saja sampai pada gagang engsel-
"Miyoshi-san! Rupanya benar kau disini! Apa kau baik-baik saja? Kau terluka?" seorang pemuda berambut hitam tiba-tiba muncul dibalik pintu membawa segurat wajah khawatir kuadrat.
"Jitsui, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Dan bisakah kau tidak 'mengecekku' didepan orang lain?" seringi jahil terselip pada bibir tipis pria berambut coklat.
Sang pemuda seketika membatu. Kedua tangannya yang siap menggerayangi - meraba tubuh pria didepannya sontak berhenti. Manik beriris obsidian menilik sepintas kearah Sakuma.
"Ahh! Maaf, Miyoshi-san." pemuda itu tersipu malu.
Pria berjas biru berbalik, "Terima kasih untuk tawarannya tadi, Sakuma-san. Kalau begitu saya permisi."
"Ah, iya. Sama-sama."
"Ayo kita pergi, Miyoshi-san." ajak pemuda itu sambil merangkul lengan si pria.
Sakuma tidak yakin bahwa sepertinya ia kenal dengan pemuda bernama Jitsui ini dan bagaimana bisa pemuda itu tau Miyoshi ada disini. Atau kenyataan bahwa pria narcolepsy itu mengetahui namanya. Serta ekspresi Jitsui saat memeragakan rangkulan yang cukup intim pada Miyoshi disertai lirikan tajam kearah Sakuma seolah menegaskan ultimatum posesif.
Tapi, masih ada segenggam rasa lain yang mengganjal di dada hingga berbunga penyesalan karena membiarkan dia menghilang dibalik pintu yang tertutup.
.
