Nagasaki, 20 November
Untuk putraku Sesshomaru.
Nak, bagaimana keadaanmu? Apa semua baik-baik saja? Apa kau tetap mendengarkan perkataan Ibumu? Lalu seperti apa rupa Jaken sekarang, masih tetap sama? Hahaha.. kurasa dia masih selalu bersamamu kan? Apa Ibumu masih sering menangis? Katakan bahwa aku baik-baik saja di samping-Nya. Bercanda, aku tidak semudah itu untuk pergi ke akhirat.
Jarang sekali aku menulis surat, terakhir kali ketika mengirim surat cinta untuk Ibumu.
Ayah tidak tahu bahwa ketidaksengajaan di masa lalu akan membuatmu menderita. Ayah benar-benar menyesalinya. Kau boleh memaki ku tetapi kau tidak boleh menyalahkan Ibumu. Nak, seandainya saja kau memberitahu bahwa kekasihmu adalah anak dari pria bemarga Natsuki, mungkin aku akan memutar waktu dan kembali ke tahun tersebut.
Bisakah kau memaafkan pria hina ini? Ayah tidak akan pernah menyalahkan perbuatanmu di malam ke 12 musim dingin. Sebagai pria aku sangat memahaminya, maaf.. maafkan ayah nak.. aku sangat menyayangimu.
Untuk Istriku jika kau membaca surat dari pria penghancur masa depan putramu.
Bisakah kau selalu berada disamping putra kita? Mendukung dan membantunya untuk menerima kenyataan? Maaf telah memberikanmu sebuah tanggung jawab besar. Katakan kepada Hoshimaru dia boleh mengatur semuanya sampai Sesshomaru pulih.
Aku menyayangi kalian, kuharap surat ini mampu menyampaikan rasa bersalahku.
Tertanda,
Shiroi Inu Taisho.
.
.
.
"Nyonya, sebaiknya kita pulang. Tuan muda Sesshomaru bisa histeris jika mengetahui Anda tidak ada diruangannya." Ucap pria berjas hitam, dengan setia dia menunggu. "Hujan akan semakin deras."
Mata emas kecokelatan menatap sendu ke arah batu nisan, diremasnya surat yang sejak tadi dibaca. Bahu si wanita berguncang secara perlahan. Dibawah naungan payung merah dia menangis.
"Anata.. aku akan menepati wasiatmu. Kamu tidak perlu meminta maaf karena aku juga terlibat dalam tragedi tersebut. Aku akan selalu berkunjung kemari, mungkin bersama Sesshomaru juga." ia tersenyum kecut sambil mengusap batu nisan. "Beristirahatlah dengan tenang.. Suamiku."
Seorang gadis berambut hitam pendek membantu si wanita untuk berdiri.
Manik biru laut melirik sekilas ke arah batu nisan lalu melirik raut wajah si wanita, disana ia dapat melihat luka serta kepedihan yang ditanggung oleh Inu Kimi.
"Ayo Inu Kimi-sama kita pulang, rintik hujan tidak bagus untuk Anda."
Mereka berjalan menuju gerbang keluar pemakaman. Aroma tanah bercampur air hujan menyulut pikiran mereka untuk mengingat kobaran api, teriakan, genangan darah dan konflik. Penyesalan merupakan hasil yang dituai. Kini mereka harus membantu Sesshomaru pulih dan bersama-sama berjalan ke arah cahaya baru.
Sayangnya bayang-bayang masa sekarang dan masa lalu terus membuntuti mereka.
Tak peduli seberapa banyak usaha untuk melupakannya, karena dialah ancaman terbesar anak manusia.
.
.
Memenjarakan ke dalam kenangan pahit selamanya.
