Kau seperti ombak laut menerjang sisi pantai dengan gelombang yang tidak beraturan.

Kadang besar kadang kecil itulah emosimu.

Dan aku sebuah kapal yang berusaha menaklukan ombak. Tetapi kapalku karam karena badai datang dan menguasi dirimu.

Kau dan dia.

Aku...

Hanyalah serpihan kapal kecil yang selalu berada di dasar lautmu.

.

.

.

Inuyasha by Takahashi Rumiko

Wynter Daphne

.

.

.

"Hentikan Sesshomaru! Tolong jangan mendekati pagar pembatas! Stop! Apa kau tidak sayang Ibumu lagi? Pikirkan dia!" Mata sehitam arang menatap galak pria berambut silver.

Suara tawa membelah keheningan, sepasang iris elang emas memandang remeh ke arah orang-orang berpakaian serba putih. Dia tersenyum lalu berkata, "Pfftt... aku tak peduli. Lagipula untuk apa aku hidup di dunia! Jika pasangan yang telah kutandai memilih pergi bersama si brengsek sialan! Kalian memangnya bisa membantu apa? Aku tak bersalah! Salahkan wanita tua itu juga Ayahku! Mereka telah membuat kekasihku pergi!" dia menunjuk wanita berkimono ungu.

Gumpalan kapas hitam menggantung dilangit, para petugas medis masih berusaha membujuk putra tunggal keluarga Shiroi. Tak peduli bahwa si pria semakin meracau. Sesekali jantung mereka melompat-lompat tak kala melihat aksi sosok jangkung yang berusaha mengeluarkan kakinya diantara pagar pembatas gedung.

Iris emas menatap ke bawah. Pemandangan lalu lintas jalanan terlihat begitu menarik, mereka sangat kecil seperti semut pohon di musim panas. Musim panas, dia merindukannya. Aroma madu, dengung lebah dan perahu di danau.

Memejamkan mata. Berapa musim yang telah dilalui? Dan bagaimana kabar si manis racun pencuri hatinya. Baik? Atau justru sama seperti dia.

"Cantik, Inuyasha. Seandainya kau mau menjadi pasanganku. Akan kubelikan permen kapas, bunga, dan sekotak perhiasan... Inuyasha.. Natsuki Inuyasha."

Tetesan air mengenai wajah Sesshomaru, dia menengadah melihat ke langit.

"Kenapa kau menangis? Apa kau tidak mengizinkanku pergi menemui Ayah?"

"Hei! Budak cinta! Apa kau tidak kasihan dengan Bibi? Usahamu akan sia-sia! Jika kau mati, para malaikat nyawa tidak akan membelamu di persidangan akhirat! Kau akan gentayangan! Akhirat maupun Bumi tidak akan menerimamu! Kita basah kuyup kehujanan gara-gara tingkahmu!" teriak pria mungil bermata biru samudra.

"Bodoh! Kau akan membuatnya bersemangat untuk bunuh diri, Hoshimaru!"

"Ma-maaf Kagura. Tolong jangan jitak kepalaku lagi. Sakit."

Tiba-tiba Sesshomaru berbalik menghadap kerumanan, "Kau benar tak ada tempat yang bisa kudatangi. Di Bumi pria bodoh ini ditolak dan bukan Akhirat yang kusinggahi melainkan kehampaan." ucapnya penuh kesedihan.

Rintik hujan semakin deras. Aroma tanah menyusup melalui celah udara, pikiran serta hati Sesshomaru menyalakan alarm tanda bahaya. Sekilas kisah manis bersama pujaan hati berputar-putar dalam kepala, layaknya film hitam putih. Senandung lagu tak sengaja dinyanyikan. Dengan percaya diri dia berjalan mundur ke belakang.

"Nak kemarilah, aku berjanji akan membawa Inuyasha." bujuk wanita berambut perak, ia berjalan ke arah malaikat kecilnya.

Sesshomaru tersenyum sangat manis bahkan iris elang emasnya tertutup kelopak mata. Pupil emas kecokelatan si wanita membulat tak percaya. Ya, 27 tahun lalu Inu Kimi melihat senyuman itu ketika Sesshomaru berusia lima tahun.

Dengan mata terpejam si pria berkata, "Mungkin lebih baik aku berada di kehampaan karena semua yang kumiliki telah pergi. Hehehe, sampai jumpa Inuyasha."

"Sesshomaru!"

Beberapa orang berlari ke arahnya.Seolah ada medan magnet kuat, sosok jangkung tersebut tertarik ke bawah.

"Tidak! Malaikat ku!" Inu Kimi berteriak, dia hampir menggapai lengan Sesshomaru. Tetapi takdir seolah mempermainkan mereka.

Terduduk lemas bahkan tak sanggup untuk melihat ke bawah gedung. Cairan bening mengalir dari sudut mata Inu Kimi. Terisak menyesali perbuatan di masa lalu.

"Anata, kenapa semuanya menjadi begitu rumit. Bahkan Sesshomaru harus menanggung kesalahan kita."

.

.

.

Bagi para pembaca, saya akan mengajak anda untuk berjalan sampai ke kota Kyoto, lalu jika kalian menemukan sebuah kuil di salah satu distrik, pejamkan mata maka anda akan kembali ke 10 tahun yang lalu. Yaitu ketika musim gugur berkunjung ke kota tua ini dan gema lonceng takdir baru saja terdengar.

.

.

.

.

Hawa dingin menembus pegunungan, masuk melalui cekungan lembah dan tiba di dataran yang landai. Satu-satu lembar daun Momiji tersapu oleh angin dan terhempas ke seluruh penjuru wilayah. Sementara itu, para penduduk kota sibuk mencari cara agar tidak menjadi korban keganasan angin selatan yang menjelma serigala buas.

Tetapi, hal tersebut tidak membuat semangat mereka padam. Denyut nadi perkotaan tetap hidup walaupun berada ditengah-tengah suhu rendah.

Jauh melewati gedung-gedung pencakar langit, sebuah rumah bergaya zaman Victoria berdiri kukuh dengan pagar kawat hitam menjulang melindunginya. Popy merah melilitkan diri disekitar pintu gerbang juga pagar, seolah menutupi penghuni rumah dari dunia luar. Para tetangga bahkan enggan berkunjung ketika sang Popy mekar, mereka takut terjebak di alam lain dan tak bisa kembali. Bahkan mereka tak paham mengapa pasangan Shiroi menanam beberapa bunga yang melambangkan kematian? Dan kenapa harus warna kegelapan yang melapisi rumah tersebut? Para pelayan seperti boneka hidup, bergerak kemanapun sesuai perintah tanpa membantah. Kecuali kepala pelayan layaknya radio rusak, berisik.

"Ahk! Umi-chan! Jangan mendekati rumah Tuan Shiroi, kau lihat bunga Popy akan mekar. Jika kau menyentuhnya maka tidak bisa kembali." ucap gadis bersyal biru.

"Bohong! Kemarin Ai memetik bunganya dan dia baik-baik saja." tegas anak kecil berseragam kuning.

Gadis bersyal biru nampak gelisah, dia menarik lengan si anak kecil dan menunjuk ke arah jendela lantai dua.

"Perhatikan, katanya disana ada hantu. Jika kita tidak pergi, hantu itu akan memakan kita!"

Orbs hitam menatap lekat jendela bertirai biru. Raut wajah mereka mendadak kaku, keringat dingin mengalir deras bahkan jantung mereka berdetak cepat. Tirai biru tersingkap, siluet seseorang berambut panjang berhasil membuat bulu roma berdiri. Satu teriakan membuat mereka berlari seperti dikejar pembunuh.

"Mama! Hantu! Hwuaaa!"

Iris elang emas menatap kesal ke arah dua gadis yang berlari pergi dari gerbang kediamannya. Bagus sekali membangunkan seisi rumah dengan teriakan, pikirnya. Membuka jendela, dibawah hamparan bunga higanbana, mawar juga popy menyambutnya.

"Merah lagi, apa tidak ada warna lain? Apakah Ayah dan Ibu ingin membuat orang-orang ketakutan, dan kau! Kenapa mereka mengecatmu dengan warna hitam?" Matanya melirik kesal ke arah dinding dekat jendela kamar.

Hitam, abu, cokelat dan merah. Pemandangan yang sering dijumpai dari kecil sampai sekarang. Dia mengira bahwa kedua orang tuanya akan mengubah kebiasaan ternyata tidak. Bahkan ketika usianya menginjak 22 tahun, tingkah laku mereka terhadap hal unik semakin bertambah.

"Apa yang dilakukan para pelayan ditaman? Oh tidak, mereka benar-benar ingin membuat rumah horor. Kenapa harus memasang patung rubah segala? Dan bukannya itu patung dari kuil? Membuat mata saya semakin iritasi." berdecak kesal dia menutup jendela kembali.

Disinilah ia dikamar bercat abu-abu, berjalan menuju karpet beludu merah dan duduk diatasnya. Sepasang mata menatap layar ponsel, beberapa pesan masuk sempat tak terbaca. Ucapan selamat datang, bagaimana kabarmu, dan permintaan oleh-oleh menghiasi aplikasi ponsel. Dua hari yang lalu Sesshomaru baru saja pulang dari Inggris, dia disambut oleh kostum penyihir juga siluman rubah yang dikenakan oleh orang tuanya dengan alasan menyambut perayaan Halloween.

"Sesshomaru tidak akan membalasnya, lagipula ada pekerjaan yang harus dilakukan." dia menatap kotak bewarna hitam dekat TV.

Detik berikutnya sebuah notif pesan merangsang naluri Alpha yang terkubur jauh.

"Mating season? Di Kyoto? Minggu kedua musim dingin. Menarik untuk melihat para domba lugu berkumpul. " Sesshomaru tersenyum sinis.

.

.

.

.

Mengikuti jalan menurun diperbukitan, kita sampai dipusat kota. Beberapa orang terlihat sibuk membawa pernak-pernik, makanan dan baju. Mereka sedang mempersiapkan mating season yang serentak diadakan di Balai Kota.

Para Omega muda sangat antusias, mereka berharap dapat menemukan pendamping yang sepadan.

"Inuyasha. Bagaimana bajuku? Cocok tidak? Aku selalu ingin memikat mereka."

"Maksudmu kaum Alpha? Kau yakin mereka mau menerima Omega cerewet sepertimu? Kagome."

Kagome menendang kaki Inuyasha, mendengus kesal dan pergi begitu saja.

"Hei! Bagaimana bajumu? Kita harus membayarnya terlebih dahulu!" teriak Inuyasha.

Gadis bermarga Higurashi pura-pura tidak mendengar, dia terus berjalan dengan muka memerah menahan kesal. Inuyasha menggelengkan kepala, hati-hati ia menyimpan gaun selutut berwarna jingga ditempat semula. Kemudian berlari menyusul sahabatnya.

Mating season sangatlah penting bagi kaum Omega dan Alpha. Kesempatan untuk menemukan pasangan dengan berbagai pilihan, kurus, cantik, berisi atau tampan. Tetapi tidak sedikit orang yang gagal menemukan pendamping hidup. Mereka bisa saja menemukan diluar mating season dengan pilihan terbatas atau harus menunggu selama dua tahun untuk mengikuti acara tersebut.

Manik emas menatap pepohonan berdaun orange, disalah satu bangku taman ia melihat seorang gadis duduk dengan wajah ditekuk. Merasa bersalah dia berjalan mendekati bangku.

"Kagome," Inuyasha duduk disamping kanan, "tadi itu aku hanya bercanda. Ayolah jangan bersedih, bayangkan tiga minggu lagi kaum Alpha akan berdatangan dari berbagai kota juga kalangan. Lalu mereka tertarik denganmu, jadi tersenyumlah."

Kagome mengubah posisi duduk ke arah kiri, memalingkan muka dari Inuyasha. Sahabat bodohnya tidak tahu apapun mengenai mating season, Inuyasha hanya tahu bahwa acara itu menyuguhkan berbagai hidangan lezat pengisi perut.

"Bodoh. Inuyasha bodoh. Kau harusnya tahu jangan menyinggung mating season dihadapan Omega. Pergilah, sampai besok jangan berbicara denganku."

Inuyasha mengacak-acak rambutnya, menggeram kesal. Jika ini yang diinginkan Kagome, Inuyasha akan pergi dan menunggu si gadis sampai mau berbicara dengannya.

"Okay, sampai bertemu di Balai Kota nanti."

Angin musim gugur membawa masalah baru bagi mereka. Sampai kapanpun Inuyasha dan Kagome seperti minyak dan air, bersama tapi tidak sepaham. Langkah kaki Inuyasha berhenti di depan salah satu toko penjual bunga. Natsuki Flower Shop.

Suara lonceng berbunyi ketika dia membuka pintu. Sosok wanita berkulit pualam terlihat sibuk merangkai beberapa karangan bunga.

"Aku pulang Mama."

Mata hitam melirik sekilas, "Mama kira kamu tidak akan pulang secepat ini. Biasanya selalu pulang pukul sembilan malam. Pasti Kagome-chan memarahimu, kan?"

Si pemuda berjalan terburu-buru menuju ruang keluarga, menghindari topik pembicaran. Menggelengkan kepala melihat tingkah laku putra tunggalnya, dia menatap ke arah bingkai foto yang terletak di meja.

"Sayang, seandainya kamu masih hidup. Mungkin kamu akan menertawai Inuyasha."

"Aku masih bisa mendengar Mama!" teriak Inuyasha.

Kenapa sih orang tua selalu ikut campur urusan anaknya. Inuyasha tak terlalu suka jika mamanya sampai turun tangan. "Dasar Ibu-ibu menyebalkan."

.

.

.

.

.

"Mating season kali ini kau harus ikut Sesshomaru karena kedatanganmu sangat diharapkan, terutama bagi kalangan Omega. Apa kau mendengarkanku?"

Sesshomaru menatap sekilas, "Tentu saya mendengarkannya. Namun melihat para domba dengan berbagai aroma membuat saya gelisah. Feromon mereka terlalu kuat, Naraku. Saya mencemaskan bahwa Alpha dalam diri saya akan bertindak gegabah."

Naraku merebut benda yang selama ini dipegang Sesshomaru, "Berhenti mengatai mereka dengan istilah domba. Kawan, kau bisa berjumpa dengan gadis cantik disana atau pria manis. Alphamu menjadi liar karena dia belum menemukan pasangan! Dia marah karena kau terus bermain PSP tanpa memedulikan kebutuhan biologisnya."

Menendang kaki rival semasa SMA, Sesshomaru berjalan keluar kamar. Dia tidak peduli bahwa Naraku akan mengoceh terus. Jujur dia lelah dengan permasalahan jodoh maupun cinta.

"Okay, tetapi bagaimanapun kau pasti datang. Ayah dan Ibumu akan selalu memaksa, kan? Aku menunggu kehadiranmu di musim dingin."

Ia tertawa ketika melihat ekspresi suram temannya. Pasti sangat menyenangkan melihat Sesshomaru hadir nanti.

.