Fanfic By Natsu Michaelis or Hafidz Haan
INFO Chapter ini dengan Orang ketiga dan terkadang menggunakan P.O.V
Special Chapter 10.5– Relvian Lachrymose Story Part 3
Rencana Anarine Kabur dari Aliansi cora karena situasi yang mengharuskan itu, rencana ini memang dia yang mau karena Relvian mengajak nya beberapa hari yang lalu,Anarine Menyiapkan barang yang ia siapkan semua perlengkapan untuk melarikan diri diperhitungkan dengan matang.
"apa keputusan ku benar?" Anarine sedikit ragu dengan keputusan yang ia buat, karena ini menyangkut kehidupan kedepan nya.
Setelah menyiapkan barang yang ia butuhkan anarine sedikit bisa merasa tenang, mengandung sekaligus memikirkan hal-hal yang berat sangat mebebani tubuh, walau begitu dia tersenyum bahagia karena kali ini dia mendapatkan kebebasan nya, Anarine berfikir selama ini dia selalu mentaati Sistem yang ada dan tak mengenal ada nya kebebasan, dan Anarine menghela nafas, "mungkin yang dirasa para pemberontak itu seperti ini." Gumam ariel sambil mengelus perut nya, sifat keibuannya semakin terlihat karena memang pada dasar nya Anarine adalah Gadis terbaik di federasi, tapi sekarang tak bisa di sebut gadis lagi karena dia sudah memiliki pasangan.
Setelah membereskan perlengkapan Anarine melakukan tugas nya sebagai Mentor, karena Rencana Kabur dari Aliansi masih butuh 4 hari lagi.
"Jadi Kak Anarine hari ini tugas untuk ku apa?" tanya Sebastian menanyakan tugas yang akan anarine berikan.
"hmm, ku lihat kau sudah berkembang cukup pesat dari apa yang aku duga, dan lagi kau juga team mu dengan Si duo mata satu itu, jadi kupikir tidak adalasan untuk ku memberikan misi lagi untuk mu, sekarang kau bebas memilih misi tetapi perkembangan mu masih ku awasi." Anarine Menulis Laporan tentang anak didiknya yang kini telah melewati tahap mandiri.
"jadi aku bebas melakukan misi apa yang ku mau?" Tanya sebastian antusias.
"ya begitulah selamat yah."Anarine Mengelus rambut anak didik nya.
"haha, kak ananrine aku bukan anak kecil, baiklah Aku mau bilang pada senior terlebih dahulu, mungkin aku bersama mereka terus untuk misi." Sahut sebastian pergi untuk bertemu senior nya.
"jangan memaksakan misi yang kau belum kuat melakukan misi nya, pelan pelan saja." Anarine melambaikan tangan nya dan melihat anak didik nya lari dengan semangat.
"yah kurasa pekerjaan hari ini selesai, dan si Sebastian itu dia anak yang benar benar berbakat." Melihat Grafik yang ia pegang tentang kekuatan, kecepatan dan status status lain nya dari anak didik nya.
"kurasa dia bisa jadi guru yang baik nanti,d an juga membuat federasi menang Chip War." Setelah itu Anarine beristirahat di Café langganan yang ia suka.
Anarine memesan banyak makanan dan minuman,ia merasa heran dengan apa yang ia pesan.
"hey Anarine…" panggil wanita berambut hijau cerah.
"Rena? Bukan nya kau Misi SS? (Misi 10 tahun.) Astaga Aku kangen banget loh.." Anarine memeluk teman nya yang sangat ia percaya dari masa mereka masih tingkat bawah.
"yah begitulah, misi ku berjalan lebih cepat dari yang ku duga hanya 8 setengah tahun sudah selelsai,lagian aku juga ingin cepat bertemu Anak ku, kasian aku tinggal lama kau tau terpisah dari anak itu sangat berat, apalagi dia masih kecil." Curhat Rena.
"yah aku mengerti perasaan mu, walau aku belum punya anak sih,ngomong-ngomong kau menitipkan Anak mu ke Hafidz kan?" tanya Anarine menanyakan kepastian apa yang ia bilang.
"iya, aku harap gak menyusahkan nya,tapi kurasa dia bisa mengurus Lily dengan baik." Jawab rena sambil meminum pesanan yang ia pesan.
"kurasa kau gak perlu terlalu khawatir tentang itu, lagipula Ara juga ada di sampingnya, Kau au sendiri Ara sangat lihai urusan yang seperti itu, apa kau ada rencana untuk menambah momongan lagi?" goda Anarine.
"ahaha apaan sih gak lah ntar dulu deh, aku baru sadar kau makan nya banyak banget gak takut gemuk? Ku lihat kau sedikit… Gemuk." Rena membuang pandangan mata nya ke arah lain sat berkata gemuk, Rena tau kata Gemuk sangat Terlarang untuk Anarine.
"begitukah? Kurasa tidak dan entah mengapa aku sangat ingin makan-makanan ini, perut ku terus merasa lapar." Anarine masih santai melahap makan yang di meja nya yang sedikit demi sedikit mulai habis.
"kau udah kayak ibu ibu ngidam, kerjaan nya makan aja, aku juga dulu gitu sih waktu 4bulan kandungannya Lily, tapi kau gak hamil kan?" tanya Rena.
"enggak lah ada-ada aja, aku masih singel." Jawab Anarine enteng.
"kau itu padahal keluarga bangsawan dan juga banyak yang mau dengan mu, tetapi kenapa kau tolak terus." Rena menanyakan hal-hal yang ia ketahui tentang Anarine.
"mereka hanya ingin berkuasa saja, dan juga hidup ini sekali aku ingin bebas menentukan apa yang ku pilih, kau juga sama kan." Setelah mengucapkan itu anarine langsung menghabiskan minum nya.
"kau benar,lagipula ayah ku juga tidak terlalu kaku, dan juga aku suka pada Els juga ada alasan tertentu kyaa… jadi inget masa lalu deh." Rena menepuk pipi nya sambil memerah.
"dasar kau itu pedofil, kau lebih tua dari els kan." Anarine meledek teman nya.
"ayolah hanya 4 tahun dia lebih muda dari ku, kurasa itu tak masalah." Jawab Rena sambil mengibas ngibas tangan nya.
"iya sekarang tak masalah tapi itu dulu membuat masalah, kau tau betapa susah nya aku saat itu mendukung mu."Anarine hanya bersweatdrop.
"walau memang sih Els juga suka padamu jadi gak ada alasan untuk menahan itu,yah kurasa pertemuan kita sampai disini Rena, aku mau kembali ke rumah mengerjakan laporan ku." Anarine bangun dari duduk nya.
"yah sudah lama aku ingin curhat bebas, makanan mu biar aku yang bayar, jarang jarangkan aku yang traktir mumpung baru pulang misi, uang ku masih banyak heheh." Rena menepuk nepuk pundak Anarine.
Setelah brbincang-bincang dengan Rena, Anarine merasa tak enak badan tiba-tiba.
"tubuh ku kenapa? Apa ada yang salah dengan tubuh ku, kepala ku terasa berat." Rasa sakit tak tertahan Anarine membuat tubuh nya lemas, dan ia bersandar di tiang tiang markas cora yang besar.
Dan seseorang di sana melihat anarine sedang bersandar lemas, dengan tatapan licik dan senyum jahat nya terpampang jelas akan kebencian nya.
"sudah waktu nya untuk mu lenyap Anarine, fufufu." Setelah berkata seperti itu dia pergi entah kemana.
.
.
.
Federasi Bellato , tepat nya kantor Archon Bellato, Relvian entah kenapa tiba-tiba rajin mengerjakan laporan yang diberikan, dan sahabat sahabat nya juga menjadi terheran heran akan tingkah nya.
"Oy Rel lu sehat kan?" tanya Ren Grymnystre sang Archon, rambut berwarna abu-abu nya menandakan dia seorang dari Clan Grymnystre yang terkenal Dewa perang.
"hah? Gue sehat aja kok ada apaan? Banyak banget nih laporan nya,mana si shin salah juga buat nya jadi ngerangkep yang kemaren dah." Grutu Relvian sambil mencorat coret laporan yang bertumpuk.
"Aneh aja sih, lu kan paling males ngerjain laporan tumben mau ngerjain, biasanya juga si Amethyst yang beresin kerjaan lu." Masih dengan tatapan aneh Ren memperhatikan gerak gerik Relvian.
"gue kasian aja sama Amethyst, masa iya gue nyusahin dia terus, kasian kali gitu gitu juga perempuan di kasih kerjaan berat pasti bikin setres." Kini ia menyelasaikan Laporan yang ke 47.
"dasar lu juga punya sisi baik kayak gitu yah, tapi sayang gak di liat aja sama mereka." Kini hestia yang lagi nyiapin minuman buat mereka berdua, wakil archon awal nya hestia pindah tangan ke relvian karena Hestia merasa kurang cocok dengan posisi itu.
"ngomongin si amethyst, gue gak ngeliat dia dimana seharian ini, btw lu bedua tau gak?" tanya relvian ke hestia dan Ren.
"mungkin jalan-jalan, ini kan jatah dia libur, tumben lu nanyain tuh anak, kangen tah?" tanya Ren sambil meminum teh buatan Hestia.
"yah kayak nya, kangen aja gak ada yang rame di ruangan ini terasa sepi banget." Dengan elegan Relvian meminum teh hitam buatan hestia, karena ngeliat reaksi dari relvian hestia sama ren makin mandang aneh sahabat nya itu.
"Rel beneran kan lu sehat? Apa mesti gue panggilin si Shin buat meriksa lu?" Ren meyakin kan Relvian akrena sifat sang sahabat berubah drastis.
"lu kenapa sih nanyain gue sehat apa kagak? Ya jelas lah gua sehat gak lu liat badan gua seger gini? Mau test sparing?" ajak Relvian kesel dengan pertanyaan berulang ulang ren.
"gak sih lu aneh aja sifat nya beberapa hari ini, kayak rajin ngerjain laporan, ngurusin bawahan serius,dan pulang tepat waktu biasanya rajin bolos ya kan hestia." Tanya Ren ke hestia yang kini di sangkutpautin.
"iya sih lu agak berubah banget, emang adapaan yak? Apa lu kesurupan Setan elan? Atau lu di sihir Corite? Tapi bagus juga sih jadi rajin begini."hestia menyanggah dagu nya dengan jari nya seraya berfikir perubahan Relvian.
Relvian hanya menghela nafas melihat tingkah kedua sahabat nya ini.
"gue bolos kerja salah, gue kerja bener juga di anggep salah, Lu bedua mau nya apaaan sih? Kayak orang ngajak ribut aja."Relvian makin lama makin panas karena Ren dan hestia.
"hahah dasar sensian, kagak lah Cuma nanya doang alesan lu kenapa." Tawa Ren yang ngeliat temen nya baik baik aja.
"kan udah gue bilang, gue gak mau terlalu nyusahin amethyst kasian,shin juga gitu dah banyak ngebantu gue, apasalah nya sih ngebantu temen juga yang selama ini gue susahin terus."relvian bersandar nyelesain laporan nya yang numpuk dari pagi selsasi siang hari menjelang sore.
"btw jam berapa sih?" tanya relvian.
"jam 3an emang napa? Mau balik?" tanya hestia.
"yah gue mau cabut duluan mau santai capek ngerjain laporan bejibun." Relvian menju pintu ruangan untuk keluar cari angin.
"ya udah, makasih kerja keras nya hari ini." Ren ngijinin Relvian pulang duluan karena kerjaan nya bener bener beres.
Setelah keluar ruangan relvian bingung mau ngapain.
"terus sekarang gue mau ngapain yah?" relvian sedikit linglung setelah keluar ruangan, dia berjalan tanpa arah di markas bellato, walau begitu dia di sapa oleh bawahan bawahan nya dan tetap menyapa balik dan memberikan kesan hangat seorang Relvian Lachrymose yang hangat.
"mungkin tidur di bawah pohon enak deh sambil baca cerita." Gumam relvian.
Relvian berjalan menuju box penjual otomatis ntuk membeli minuman favorit nya, Susu Ultimate milk rasa Strowberry, setelah beli minuman tempat duduk dan tidur favoritnya itu. dibawah pohon rindang di depan markas bellato, tempat andalan Relvian.
Sebelum duduk di tempat favorit nya dia melihat banyak kadet kadet baru yang menempati tempat favorit nya itu, melihat sang wakil archin menuju tempat itu para kadet kadet itu berdiri memberi hormat.
"kalian santai saja jangan teralu kaku,aku lagi gak tugas hari ini." Sifat santai dan tidak memandang derajat sesorang dari pangkat adalah kebiasaan relvian.
"Maaf maximus, ada apa anda kemari? Apakah mengecek kami latihan? Atau ingin menegur kami karena terlihat santai di sini?" tanya kadet itu merinding dan teman teman nya pun sama hal nya merasa canggung dan takut.
"duduklah, aku hanya ingin duduk santai di situ,itu tempat favorit ku eh bukan tempat favorit kita semua." Jawab relvian menepuk kepala kadet itu dan duduk di bawah pohin itu sambil mengajak yang lain nya ikut duduk.
"apa tidak apa-apa Maximus? Saya duduk di sini" tanya gadis salah satu teman gadis itu.
"ini tempat umum siapa saja boleh kok, kenapa kalian begitu kaku dengan ku? Anggap saja teman kalian sendiri." Relvian sebenar nya gak betah dengan situasi begini.
Karena sudah dibialng begitu mereka akhir nya benar benar mereasa lega dan tidak terlalu tegang lagi.
"maaf Maximus, ku kira maxmius ingin menegur kami." Kadet berambut hitam itu ternyata salah sangka tentang relvian yang berada disana.
"aku hanya ingin duduk dan tidur disini,dan aku melihat kalian berada disitu ku kira aku boleh ikut gabung berasama kalian dan berbincang bincang sedikit." Relvian menatap mata kadet itu, dan terlihat masih sangat polos dan terlihat sama seperti saat dia masih kadet dahulu.
"ternyata Maximus Relvian berbeda dari anggapan orang yah, kalo sekarang terlihat berbeda sekali." Gadis gadis di team itu berbincang bincang.
"memang nya mereka bilang aku seperti apa?" tanya Relvian.
"apa tidak apa-apa Maximus? Gak akan marah kan jika kami beritahu?" tanya gadis itu sedikit takut, tentu saja takut sangat beda pangat nya dan juga bisa saja dia di gagalkan jadi prajurit jika salah salah bicara.
"gak apa kok, aku juga ingin melihat pandangan orang terhadap ku." Jawab relvian santai.
"begini, kata mereka Maximus Relvian itu orang nya galak, dan juga suka marahin orang tanpa pandang bulu." Jawab gadis berambut hijau itu.
"dan juga ada yang bilang Maximus Relvian itu suka mempermainkan gadis gadis,jadi ...wajar kami sedikit takut." Lanjut gadis di sebelah nya.
"Astaga ... aku di cap buruk oleh orang orang sial siapa yang menyebar gosip ini." Batin relvian.
"Hahahaha...itu semua hanya isu, jangan terlalu percaya dengan isu, kau tau informasi itu adalah senjata paling kuat seluruh senjata yang ada." Relvian memberikan sedikit pencerahan pada kadet kadet nya.
"bukan kah Launcher Accretia itu paling kuat ya? Jika di lengkapi siege mode bahkan sangat mematikan." Kadet berambut hitam menanyakan tentang kepastian perkataan relvian.
"buahahaha kau lucu sekali, baru kali ini aku menemukan orang seperti mu, cepatlah menjadi maximus kau akan mengerti itu, dan memang senjata Launcer accertia kuat tapi informasi lebih kuat, jika tidak ada informasi kita pasti kalah perang maka dari itu di buat tim informasi untuk memberikan serangan pada musuh,jika kau tau kelemahan musuh mu senjata terkuat pun bisa kau kalahkan."Relvian menepuk kepala kadet itu dan memberikan minuman yang ia beli kepada 1 team tersebut.
"baiklah cerita kali ini selesai aku harus kembali ada yang kubutuhkan." Setelah itu relvian berjalan pergi meninggalkan kadet kadet itu.
"terima kasih Maximus" sahut mereka berterimakasih dan relvian hanya melambaikan tangan nya.
Relvian menuju kamar mandi umum bellato dan berkata di depan kaca.
"kurasa aku telah berbicara keren kali ini." Relvian senyum senyum gaje di kamar mandi umum bellato sambil mengibaskan rambut merah nya.
Seteolah bergaje ria di kamar mandi relvian menuju pertokoan bellato.
"humm kurasa jalan jalan di pertokoan bagus juga buat mood booster." Relvian jalan melihat sekeliling dan..
Bruk Relvian menubruk seseorang.
"uhh maaf kau baik-baik saja?" relvian mengulurkan tangan nya ke gadis yang mengguankan topi itu, di lihat dari pakain nya dia sangat ramping dan sexy relvian yakin wajah di balik topi itu cantik.
"ukhh... ya aku gak apa.a...pa"jawab gadis itu terbata setelah melihat Relvian.
"Amethyst?!" "Relvian?!" Relvian kaget dan juga Amethyst gak kalah kaget.
"ohh shit..gue baru sadar kalo si Amethyst cakep pake banget kalo lagi pake baju bebas,shit mata nya dan rambut nya itu loh.. njrit." Pikiran relvian mulai kacau.
"l. .. ngapain di sini?" Tanya Amethyst sambil menutup wajah nya dengan topi yang i akenakan.
"gua juga mau nanya itu sama lu." Tanya relvian yang pikiran nya sama dengan Amethyst.
"gue? Kalo gue tadi abis ke bukit bunga yang di deket sungai itu,dan sekalian mau belanja, lu sendiri?" masih agak canggung karena jarang jarang amethyst make baju bebas ketemu relvian.
"humm kalo gue sih tadi abis ngobrol sama kadet kadet, baru jalan-jalan ke arah pertokoan buat beli sesuatu eh nubruk elu, sial banget dah." Relvian buang muka nya yang lagi merah ke arah laen.
"tahan relvian, tahan Lu dah mau punya anak jangan asal sikat." Batin relvian sedang bertarung dengan hawa nafsu.
Lain cerita dengan Aethyst pikiran nya saat ini penuh dengan peratanyaan yang mebanjiri otak nya seperti.
"aduhh apa gue kurang cantik?" "apa pakaian ini cocok?" atau seperti "Make up ku luntur gak ya?" seperti itulah yang dipikirkan.
"lu ternyata deket juga yah sama kadet-kadet." Amethyst mencoba menghilangkan kecanggungan.
"gak begitu sih, tapi ada positif nya juga, Btw hari ini lu keliatan beda banget." Jawab Relvian sambil garuk garuk pipi nya.
Amethyts yang denger itu sedikit kaget dan agak lighting shock di jantung nya begitu aja secara cepat.
"m.. lu gimana? Beda apa nya relv?" tanya Amethyst malu malu.
"lu keliatan Cantik kayak gini, feminim banget enak diliat gituh,coba lu kalo di kantor make nya gini pasti gue gak bolos ngerjain laporan gihihihi." Relvian goda Amethyst, walau itu juga sebuah pujian juga buat Amethyst sendiri karena relvian jarang bohong.
"M..makasih Relv,kalo di bolehin sama Ren gue juga mau make baju bebas pas lagi kerja,kadang make Armor terlihat kaku bgt." Wajah amethyst merah bgt tapi karena ada topi bisa nutupin itu, di lain sisi Relvian yang ngeliat sisi lain dari Amethyst jantung nya berdegp dengan kencang.
"Ayolah.. Perasaan jangan rusak si logika, gue dah punya Anarine jangan buat gue jadi gini please…" batin relvian sedang memaksa sang Perasaan dalam dirinya untuk gak mersuak logika.
Di lain sisi perasaan Relvian gak bisa di cegah kalo bisa ngomong kayak gini.
"Fuck with Logic, I want make Harem Life,and you see Amethyst look gourgeus you red hair shit." yah seperti itulah jika sang perasaan bisa bicara.
Kembali kecerita.
"ngomong ngomong, lu mau beli apa?" tanya Amethyst.
"umm rencana sih mau liat liat item di pelelangan, terus mau beli peralatan pengintai sama sensor, banyak deh, gue juga belum makan dari tadi ngurusin laporan." Jawab relvian santai tanpa beban, mungkin karena suasana udah cair.
"karena lu bilang belum makan.., lu mau makan bareng gue? Gue tau resto enak disini." Ajak Amethyst.
"umm boleh tuh, tuh si cacing perut udah berontak minta makan." Relvian nunjuk perut nya bunyi krucuk krucuk dan itu membuat Si Amethyst ketawa.
"hiihi dasar relvian." Amethyst narik tangan relvian ke restorant yang ia janjiin.
Relvian bener bener terpesona dengan kecantikan sang Ratu Es, sangat beda dari biasanya, apakah ini cobaan untuk relvian? Kurasa tidak hanya saja untuk membuat alur cerita saja.
"sejak kapan Amethyst secantik ini? Apa gue yang telat menyadari nya? Apa krena gue kurang peka? Sial kenapa baru sekarang sih gue ngerasain ini, mungkin ini nama nya jatuh cinta yang kedua di saat elu punya seseorang." Pikiran relvian melayang layang dan sangat bingung dengan nama nya wanita.
"Rel.. oi Rel." Amethyst amethyst lambai lambai di depan mata relvian tapi gaka da respon.
Karena gak ada respon dari relvian amethyst narik idung relvian.
"Aduh aduh aduh,ey ame ngapain lu narik idung gua." Tanya relvian kesakitan idung nya ditarik Amethyst.
"abis lu dari tadi gue tanyain gak jawab, ya udah gue tarik aja idung lu kali aja sadar." Amethsyt sedikit sebel dengan relvian daritadi bengong.
"oh ya maaf maaf, heheh, yaudah pesenin aja favorit lu gue sama aja kayak lu." Relvian ngelempar senyum termanis yang pernah diliat Amethyst, otomatis Amethys hanya blusng dan ditutupin oleh buku menu yang ia pegang.
Relvian memeprhatiin amethyst dari kepala, surai ungu nya dibiarin tergerai indah kebawah tanpa adanya kusut atau gelombang di rambut nya, mata berwarna yang sama dengan nama nya yaitu Amethyst begitu indah dan mengkilat diterpa sinar Sore hari, wajah nya yang anggung membuat julukan Ratu es memang tak salah, dan jika di liat dari postur tubuh, udah pasti langsing dan juga berisi, kaki yang sering nendang dirinya juga udah sangat cakep, kaki yang langsing dan juga indah, yeah THIS IS LEGS!.
"sial kenapa harus sekarang gue suka sama nih anak, Kenapa gak dari dulu, dan kenapa baru sekarang gue sadar nya." Relvian mengutuk dirinya sendiri.
Lalu Relvian berfikir tentang Anarine, apakah dia harus memberitahukan ke Amethyst tentang itu? Atau kah harus dipendam begitu aja?
"Oy Ame ada yang mau gue omongin."
To Be Continued
Nah gue balik lagi dengan gaya penulisan lama gue, mungkin kemaren gak cocok make gaya light novel yang terbilang monton gaka da penjelasan dan juga banyak typo, jujur gue gak paham gue baca nya berulang ulang tetep aja gak tau kurang nya chapter sebelum nya tapi kata adek gue si Rajes bilang hanya monton aja, dan cerita nya gak ada petunjuk tau tau udah flashback dan segala macem nya.
Yah gue mohon maaf soal itu kalo emang gak berkenan, jujur gue depresi berat soal itu, dan juga gue jadi patah semangat buat lanjut nih fanfic karena banyak persoalan tersendiri.
Pertama gue bingung gimana mau namatin nih chapter susah banget dapet Alur yang pas dan bener bener tamat, gue gak bisa kayak zofi nulis 6k or 7k sekaligus gue hanya bisa sampe 3k gak kuat nulis sampe begitu, dan kenapa gue update cepet yah sebagai permintaan maaf gue, ini udah gue cek loh, kalo masih salah entah lah emang salah gue atau emang gue nya yang bener bener kikuk soal buat cerita.
Gue jadi pengen menyerah .. shit man I hate this reality.
Cerita Relvian ini sebenr nya niat nya mau 3 chapter kelar tapi malah berlarut larut begini, tapi tak apalah.
Jujur gue gak ada cirikhas dalam nulis, pakde mie cirikhas nya dengan story yang begitu mulus dan juga terorganisir dan membuat cerita terasa berada di hadapan kita, sedangkan zofi cirikhas nya tentang life story, bisa diliat di cerita nya yang penuh dengan kehidupan sehari hari dan itu jadi cirikhas dia, mbak Rhieta cirikhas nya di plot cerita yang bener bener buat suasana nya terasa berbeda dan juga penggunaaan bahasa yang bener bener mantep membuat pembaca jadi merasa woaah ini loh cerita nya, ini loh feel nya, dan cirikhas dari bang ahlinujum sendiri dia bisa membuat cerita yang bisa memplotwist dengan sekejap, dan juga cerita nya bener bener berefek ketika baca di pertengahan cerita kita jadi gak bisa nentuin climax dari cerita itu rasanya greget banget.
Well itu lah yang gue khawatirin gue gak punya cirikhas, lontang lantung kayak pengembara gak ada tujuan.
Dan kedua penulsian yang payah, oh shit man lu liat sendiri aja dah, tapi hebat ada yang mau baca tulisan gue, jujur gue pikir cerita gue hanya yang baca 1 or 2 orang aja tapi di liat pikiran itu mulai pergi dan gue berterimakasih pada pembaca yang rela ngeluangin waktu buat baca tulisan gua.
Mungkin ini curhat gue paling panjang dan masih banyak lagi curhatan gue gue tutup sekian terima kasih.
Good Reader Write Review for Author.
Qotes
"jika kau tau kelemahan musuh mu senjata terkuat pun bisa kau kalahkan." – Relvian Lacrhymose
