Fanfic Change By Natsu Michaelis/Hafidz Haan

Cuplikan sebelumnya.

"kenapa dengan dirimu, wajah mu menyedihkan, bahkan Lunker yang mau mati aja gak begini wajahnya."

"ehh, kau…."

Chapter 15 –That Person And Ragnarok


"Lama tak jumpa Ariel." Ucap orang itu rambut hitam panjang sebahu dengan mata hazelnutnya menepuk kepala Ariel.

"Eh…" masih dengan ekspresi tidak percaya Ariel melihat orang itu.

"Ada apa? Kayak ngelihat hantu aja." Ucap orang itu dengan nada yang bisa di bilang agak dingin.

"Alan Siegfried, Kau Alan kan?" yang di panggil namanya hanya menaikan sebelah alisnya.

"ada apa dengan dirimu, 2 tahun gak ku lihat kau jadi semakin aneh." Ucapnya dan langsung diberi Pelukan selamat datang oleh ariel.

"selamat datang, Ayolah aku kaget tidak percaya kalau ini dirimu, kau berubah drastis dan kapan kau kembali dan kenapa tidak menghubungi ku? gezz" ucapnya cemberut.

"baru kemarin aku sampai,sangat lelah pulang dari misi itu, aku tak ada waktu menghubungimu, kalau ada juga pasti aku gak mau, kau pasti ngocehnya lama." Ledeknya dan di ledek malah langsung balik ngeledek.

"hee~ mentang-mentang pas misi di pasangin sama tunangan mu kau jadi melupakan shabatmu yang jadi penghubung kalian berdua,apa aku harus doa kepada DECEM agar kau jadi Jomblo tua kayak Chamtalion Rajes?" Kini yang tadi ngeledek dengan perasaan was-was takut di do'ain beneran.

Di lain tempat Rajes Bersin.

"hatchuff.." ia mengusap hidungnya dengan lap tangan yang diberikan Ophis.

"anda terkena Flu Chmatalion?" Tanya Ophis khawatir.

"err enggak, kayaknya ada yang ngomongin saya di belakang."ucapnya kalem dan masih berususan dengan laporannya.

"gak usah kepedean deh ketua, dasar jomblo tua." Ucap sang wakil.

"brisik!, sanah kerjain misi bareng anak guild." Rajes ngelempar beberapa laporan quest ke sang wakil.

"yee ngambekan." Sang wakil keluar ruangan puas abis ngeledek sang ketua guild.

Balik lagi ke Ariel dan Alan.

"ok ok, sebagai permintaan maafku kau mau apa, ku traktir hari ini sampe kau puas." Ucap nya pasrah kalo beurusan dengan sahabatnya yang satu ini.

Well Alan memang bersahabat dengan Ariel sangat lama, bisa dibilang dari mereka kanak-kanak,dan keluarga mereka juga saling mengenal, dan Alan sendiri meminta Ariel Menjodohkannya dengan perempuan yang ini berstatus tunangannya, hal itu membuat ikatan persahabatan mereka makin erat.

"yakin nih?" tanya Ariel.

"batas biaya 2 juta disena." Ucapnya sambil memberikan huruf v ke ariel yang bisa berarti 2.

"pelit,tapi yah namanya di teraktir gak masalah deh." Ariel memberikan senyum hangat yang ia biasa tunjukan.

"dasar kau ini." Pria berambut hitam itu mengacak rambut sahabatnya yang berwarna silver itu.

"kau berubah banyak yah,terlihat lebih dewasa dari yang terakhir kali." Ucap pria itu.

"hmm benarkah? Ku kira aku sama seperti dulu." Ariel mengajaknya ke tempat perbelanjaan

"Yah.. hanya perasaanku saja."ia melihat lihat tempat yang cukup menarik.

Kita tinggalkan mereka berdua kini kita ketempat rajes.

"Hmm ku kira pekerjaan ini tidak bisa ku selesaikan hari ini." Ia menyerah dengan kertas kertas laporan yang ada di mejanya.

"Umm apa ada yang bisa saya bantu Chamtalion?" tanya ophis yang kini resmi jadi Asisten pribadi sang chamtalion dan dewan supporter yang Absurd.

"kau duduk disana saja sangat membantu, yep membantuku menghilangkan penat." Ucap nya dan langsung membuat sang asisten blushing.

"ehhh….!" Kaget gak karuan di godain pria 40tahun tapi wajah masih awet 25an.

"ya elah si ketua malah godain cewek,nih masih ada berkas yang blom di beresin, dan proyek Wing udah di approve sama Archon kemaren jadi tinggal dikembangin." Ucap sang wakil, well seperti yang terlihat sang wakil lebih kompeten dari pada sang ketua, sungguh ironi.

"Proyek wing?" Tanya Ophis bingung.

"Proyek khusus, aku menciptakan sepatu gravitasi yang menurutku lumayan berhasil dan saat sedang di kembangan ke booster." Rajes menunjukan gambaran proyeknya dan juga gambar detail tentang Proyek wing tersebut.

"jadi Booster ini akan dibuat anti gravitasi dan terbang begitu?" Ophis melihat detail data-dataproyek itu.

"bisa dibilang begitu, jika kau mau tau pengguna pertama Sepatu Gravitasi tersebut adalah Lily ia yang memakai tipe 1 sedangkan Keluarga kakak ku menggunakan tipe ke 2, aku belum melihat perkembangan selanjutnya dari sepatu itu." Kini ia menggambar bentuk booster Wing tersebut.

"disebut Proyek wing karena booster ini memiliki 6 bagian pendorong dan juga disini divisualisasikan seperti sayap,anda benar benar jenius Chamtalion." Puji Ophis dan membuat rajes besar kepala.

"haha itu hanya dasarnya saja, belum sempurna 100%." Rajes kini dengan senyumnya yang jarang-jarang muncul.

"ku harap aku bisa memakainya nanti." Yah sudah pasti ini menjadi baang mahal fikirnya.

"sebenarnya desain ini memang untuk mu, namun sayangnya ini untuk warrior,jika kau mau merubah base setting mu menjadi warrior kemungkinan 80% berhasil." Rajes memberikan detail tambahan.

"sudahlah ketua, dia itu Ranger jangan dipaksa menjadi Warrior, itu sama saja menyuruhnya kembali ke akademi sekali lagi kan." Timpal sang wakil ketua.

"jika kau mau tidak msalah, aku tidak memaksa sih."ia memakan Cemilan yang diberikan oleh Wakil ketua tadi.

"akan ku pikirkan kembali." Uca ophis sambil menimbang apa yang ada.

"hey kerumah Kakak yuk, kau bisa belajar banyak dengannya." Rajes berdiri dan menarik tangan ophis.

Kembali lagi dengan Ariel dan Alan, saat ini sedang berbincang di sebuah restorant yang cukup mewah.

Lalu alan membuka percakapan yang sedikit serius.

"hey ariel kau pernah lihat Accretia seperti ini?" Alan menunjukan Accretia yang berbeda dari Accretia yang lain, khusus nya di bagian pinggang dan Ariel sangat mengenali Accretia itu.

Kaget karena melihat Accretia yang ia kenal Ariel menyembur minumannya ke wajah alan.

"b. kau tau dia?" ucap Ariel tergagap.

"hey jorok tau, misi ku adalah mencari Accretia ini karena ia memiliki Pancaran khusus tidak seperti accretia lain, ini adalah Tugas khusus yang di berikan Archon padaku, namun selama 2 tahun pencarian aku tidak dapat menemukannya sama sekali, tapi terakhir salah satu teman satu misi dengan ku mengatakan ia melihat Accretia itu di Elan, dan juga ia Bersama mu dan juga Adventurer sahabat mu itu." Ucap nya sedikit mengintrogasi sang sahabat.

" tidak tau apapun tentang accretia itu, hanya saja aku oernah berpapasan dengannya beberapa kali tapi aku mencoba menjauh daripada menyerangnya, karena aku juga tidak ada informasi mendetail." Elak Ariel mencoba berbohong, ya dia harus berbohong demi Teman berbeda rasnya itu.

"benarkah? Apakah aku harus menggunakan Teknik Membaca ingatan yang dimiliki Ras Cora untuk membaca otak mu?" Alan membuat tangan kanannya berwarna Hitam pekat.

"lakukan saja, aku tidak peduli, apakah omongan sahabat mu tidak bisa kau percayai sama sekali?" kini ariel agak sebal dengan alan.

"pfft…ahahaha kau ini gampang sekali terpancing emosi, hahaha aku hanya bercanda, well aku percaya dengan ucapan mu, tanpa menggunakan Mind Snare aku tau kau gak mungkin berbohong." Ucap aan menepuk kepala ariel.

Dalam Batin Ariel ia meminta maaf kepada alan karena berbohong, karena hanya itulah jalan yang ia hadapi saat ini jika terumbar selesai sudah.

"ngomong-ngomong soal Mind Snare, ku dengar Ada Ras Bellato yang bisa menggunakannya, kau tau alan?" tanya ariel kepada alan.

"yg ku tahu itu zaman nya sudah lama sekali, 20 tahun yang lalu kalo gak salah ada di catatan Aliansi, yg ku tau orang itu salah satu Clan Lachrymose, dan kata ayahku dia yang membuat Bibi ku terusir dari aliansi, hanya itu yang ku tau, terkadang cerita dari ayah ada benar ada juga tidak aku juga gak terlalu paham soal ini." Alan berfikir sambil memegang keningnya, mengingat ingat apa yang ada di otaknya.

'tunggu jika Bibi alan adalah orang yang terusir berarti, Dia Sepupu Lace, astaga aku sampai lupa Alan bermarga Siegfired, yang tidak lain satu marga dengan ibunya Lace.' Batin Ariel dan ia hanya facepalm dengan apa yang ia lihat.

"ada apa dengan mu? Kau semakin aneh saja." Alan memerhatikan tingkah ariel dan mencoba tidak memerhatikannya.

"ukhh gak apa-apa hanya sedikit pusing, terimkasih trakitrannya aku pulang dulu." Ariel keluar kdari restorant itu terburu-buru.

Sampai lah ia dirumah dan mencorat coret buku yang saat ini ada di hadapannya.

'jika di hubungkan memang ada benarnya, semua Terkait satu sama lain, kasus yang rumit, mendengar kasus Rhieta yang ia katakan dengan Accretia unik dan kini masalah didepannya terlihat yaitu Kasus keluarga Lace,ahhhh pusing!' Ariel mengebrak meja karena pusing akan masalah yang ada didepan nya.

"Akhh Kesalll, kenapa aku harus berurusan hal yang serumit ini,dan kenapa juga aku bisa terjerat."ia memutar mutar pena yang ada di tangannya.

Ia menggambar Accretia yang Rhieta ceritakan tanpa di sengaja dan gamba yang cukup detail, yang ngegambar juga gak kalah kaget kenapa ia bisa menggambar sanga detil seperti itu.

"ini aku yang gambar? Padahal aku hanya melamun sedari tadi." Ia memerhatikan Gambar kepala Accretia itu dan memerhatikan di pecahan helem accretia di arah kiri.

"mata ya.. apakah di dalam accretia ada tubuh atau accretia itu hanyasebuah mesin?" kini di kepalanya hanya ada pertanyaan itu dan sulit untuk di jawab.

Markas Accretia.

Archon Accretia menghadap ke monior dan langsung saja ia bertemu dengan penguasa tertinggi Accretia Empire.

"yang Mulia saya menghadap kepada anda." Ucap sang archon.

"hmm, bagaimana novus apakah sudah ada kemajuan?" ucap sang kaisar Accretia.

"maaf yang mulia saat ini Kami dilanda kesulitan." Ucap sang archon.

"kesulitan? Apakah aku harus mengirim orang untuk menggantikan mu memimpin Accretia disana?" ucap sang Kaisar.

"tidak perlu Yang mulia,hanya saja di novs telah kehilangan Accretia Prototype tipe 17,Accretia yang anda harapkan kehilangan kendali dan saat ini kami belum bisa membaca ia dimana."Ucap sang archon memberikan laporan kepada sang kaisar.

"aku sudah menduga akan datangnya hari ini, kau tau Nenek moyang kita manusia itu sangat unik dan juga memilki potensi yang mengerikan, jadi wajar saja Accretia Human Prototype itu mempunyai keinginan tersendiri,karena tubuh nya masih utuh dan ia memilki pemikiran yang berbeda, memberontak karena menurutnya itu salah, dan menghancurkan yang ada didepannya." Ucap sang kaisar tenang.

"jadi anda sudah menduga bahwa kami akan kehilangan dia?" tanya sang Archon.

"ya dari awal proyek, aku harap dia tidak menjadi beban kita di akan datang, karena Homo Sapiens itu makhluk penghancur yang tiada duanya, melebihi kekuatan kita." Ucap sang kaisar mengirim data tentang manusia yang sangat detail.

"kau tahu Planet dimana awal mereka bermukim Hancur ?" tanya sang Kaisar.

"tentu saja itu sangat jelas ada di data base kita, yaitu planet bumi, yang zaman dahulu terkenal dengan sumber Air,tanah dan mineral yang banyak, tapi hancur karena suatu hal yang masih di rahasiakan sampai sekarang." Ucap sang Archon.

"benar, rahasia yang di sembunyikan tersebut adalah proyek penguatan manusia, senjata pemusnah masal, dan yang terakhir ada perang sesama manusia, itulah yang membuat planet mereka hancur." Ucap sang kaisar.

"tapi bukannya kita melakukan hal yang sama saat ini?" kini sang Archon kembali bertanya pada sang kaisar.

"tentu saja, karena itu kalian harus cepat mendapatkan novus atau planet tersebut hancur." Sang kaisar memvisualisasikan Novus meledak.

"jadi apakah saatnya mengaktifkan Ragnarok?" Sang Archon meminta saran dari sang kaisar mengenai proyek tersebut.

"berapa persen Ragnarok berjalan saat ini?" tanya sang kaisar.

"45%" jelas sang archon.

"begitu ya, kurasa kalau memang harus digunakan harus bisa selseai dengan cepat, namun kalau bisa tertahan sampai sempurna itu lebih baik." Ucap sang Kasiar mematikan layar monitor itu.

"Ku kira perang ini tanpa harus menggunakan ini." Sang archon memegang Bola kristal Putih kebiruan dan mengarah ke arah Ragnarok dan membuat cahaya merah di daerah ragnarok menyala.

"dengan Ragnarok dan juga Relic Inferno dan Cerberus semua menjadi lengkap hahahaha…" ia tertawa karena proyek besarnya dilakukan dengan serius karena ini adalah kekuatan accretia yang terakhir.

Cahaya Keberanian

Bila kau rentangkan tangan

dan terus terjaga oleh malam

Kala malam penuh luka,

Kau menyelamatkan jiwaku

Kupanjatkan harapan dari perasaan kita yang menyatu

pada ujung pedang yang kau gunakan

Harapan yang akan melampaui ruang dan waktu

Kau adalah Cahaya Keberanian..

Lace menyanyi di atas Batu yang biasa ia duduki dan bersenandung dengan lagu yang ia dengar melalu headset yang ia kenakan.

Menghayati lagu yang ia dengarkan ia berfikir lagu itu sangat cocok dengan dirinya.

Kulihat mimpi abadi tiada akhir

sembari kusembunyikan

harapan tak terkabulkan

dalam genggaman tangan kiriku

ia mengangkat tangan kirinya dengan genggaman erat lalu membuka genggaman tersebut dan seperti melepaskan sesuatu.

"haah~ nih lagu asik tapi malah buat galau suek." Ia bergumam kesal dengan apa yang ia dengar dan yang ia hayati.

Datanglah gadis berambut hitam panjang langsung duduk di sebelah Lace dan menepuk pundaknya.

"ei dengerin apa?" tanya gadis itu dengan ceria.

"oh Elu Rin,denger lagu aja napa emang." Lace ngecilin suara musiknya agar suara Rina terdengar.

"ohh lagu toh, emang lagu apaan sih kayak nya enak banget, gua liat lu sampe bener bener ngehayati lagu lu denger." Yup Rina merhatiin Lace dari tadi, cukup liat dari jarak tertentu dan karena penasaran di samperin lah si Lace.

"Lagu nya Laimer – Cahaya keberanian, nih kalo mau denger." Lace melepas salah satu Headset yang ada di telinganya dan di berikan ke Rina.

Kupandangi bayangan yang tak kunjung sirna

Bayangan yang ditinggalkan oleh bintang biru

yang telah lupa bagaimana cara bersinar

"enak juga lagunya, musik nya juga asik." Rina mencoba menikmati lagu yang di denger lace.

"lagu pilihan gua mah pasti bagus kali." Lace sok pede dengan genre pilhannya.

"hee gue kira lu doyannya lagu Bang Rome, lu suka joget gak jelas waktu itu denger lagunya." Ledek sang Rina.

"itu beda Cerita lagi, Lagu Bang Rome asik buat joget sih, tapi lagu ini gimana ya bener bener mencerminkan gue banget." Ucapnya sambil melanjut menghayati musing yang ia dengar.

Berpapasan di orbit berwarna merah senja

Kita masihlah anak-anak tanpa dosa

yang tidak tahu apa-apa

Kita hanya bisa berkelana

mengarungi malam tanpa fajar

"Terkadang gue berfikir apa yang gue lakuin sia-sia, dan juga apa yang gue lakuin itu selalu salah,antara bingung dan keinginan sulit untuk memilih." Ia sedikit mencurahkan isi hatinya pada seorang gadis di sebelahnya itu.

"itu sih tergantung lu Lace, kalo menurut lu bener ya lakuin aja, kalo salah ya berhenti jangan di terusin, kalo dengerin orang mah gak ada abisnya, yang ada lu salah mulu." Ucap sang gadis kini bersandar pada bahu kosong Lace.

Lace sedikit kaget apa yang dilakukan gadis itu, namun ia mengerti akan situasi saat ini, ia merangkul tubuh gadis di sebelahnya itu dengan salah satu lengannya dan memberi kehangatan.

"omongan lu sama kaya paman Rogue bilang, hahaha jadi keinget dulu dia ngelatih gue dan waktu ngambil job." Kini ia membelai surai hitam gadis yang ada di pundak nya itu dan sang gadis, yap dia menikmatinya.

Kelemahan telah menghilangkan

hal yang tak boleh kita lepaskan

Kerapuhan membuat kita

tak bisa mempercayai apapun

Meskipun kita sudah tak bisa bangkit berdiri lagi

Takdir teruslah bergulir

"lu harus percaya apa yang menurut lu bener,jangan terpengaruh orang lain jalani apa yang takdir berikan, walau harus melewati hujan meteor ataupun badai menerpa, itu sih yang ayah ku katakan." RIna yang ada di pelukan lace makin nyaman,dan rasanya gak ingin terpisah, tapi apa daya, Lace gak paham paham walau udah di kode.

"pantes lu kuat, jalan hidup lu begitu dan gak nyangka deh paman shin yang begitu lembut punya pemikiran keras kayak gitu." Ia memuji sahabat ayahnya itu yang gak lain ayah Rina.

"di luar terlihat lembut, kalo udah ngomongin urusan hidup beda lagi."Rina memberitahu ayahnya seperti apa dan lace hanya terkekeh geli mendengarnya.

Tak lama seorang Gadis Wizard berambut Blonde panjang bergelombang menghampiri Lace dengan tatapan horor dan jelous.

"Lace!." Yep gadis itu gak lain gak bukan sahabatnya dari kecil Lamia.

"knapa lam? Dateng dateng teriak kayak di hutan aja." Well Lace melihat tatapan Lamia yang Horor pasti ada masalah yang ia buat tanpa ia sadari.

"Gua cariin dari tadi, tau nya malah asik Berduaan sama itu Berseker!" Dengan wajah yang bisa di bilang kesel dan matanya memerah entah nahan nangis atau baru bangun tidur, entah juga kalu dia kelilipan gak ada yang tau.

"lah kan gue bilang mau denger lagu di tempat biasa gue nongkrong, dan si Rina, dia Dateng baru aja gak nyampe 10 menit terus lu dateng." Mata merah nya menatap mata hijau Lamia yang kini memerah,sebenr nya lace agak bingung dengan tingkahnya walau udah bertahun tahun masih aja belum paham kenapa kalo setiap bareng gadis lain dia marah, padahal dia gak di perkosa atau di bully, sungguh Protective pikirnya.

"ukh! Lu ini Gak peka, dasar Sempak Accretia, Pecinta Paha, Kutil Anabola, BEGO!." Ia mengumpat ke Lace lalu pergi ninggalin lace begitu aja dan lace yep ia merasa di tusuk tusuk akan ucapan Lamia.

"sakit… ini lebih sakit daripada ngelawan 10 Dagnu sekalipun, dan Kutil Anabola… Gua KUTIL?! Gak banget!." Ia memegang dadanya yang sesek habis di umpat sama Lamia.

"hadeh lu ini dasar batu, dah sana kejer tuh anak, atau lu bakal nyesel." Rina mendorong Lace dari batu tempat ia bersantai dan jatuh dengan tidak elit, yep muka duluan.

"kampret! Rin napa lu dorong gue! Suek!." Dia kesel akan apa yang Rina lakuin ke dia, dan si Rina malah ketawa geli.

"dah sana kejer~ hush hush."ucap nya seraya mengusir kucing.

Setelah itu Lace lari dengan cepat mengejar Lamia.

Terimalah semuanya apa adanya

Bila kau ingin

melindungi yang terkasih

Pergilah mencari masa depan kita

"haah~ terkadang Mencintai orang gak peka lebih sulit daripada harus ngelawan seluruh pasukan Cora , dan mencoba merelakan itu lebih sulit sulit lagi karena cinta yang kita punya sama besarnya dengan orang lain yang mencintainya." Ia menghela nafas dan mendengarkan lagu yang masih di putar dari musik player Lace yang tertinggal.

Lace mencari Lamia kemana-mana gak ketemu, kalo udah begini pasti di tempat itu, ya Lace yakin ia berada disana.

Dengan kecepatan yang ia punya sampai lah ia di pohon besar itu dan ia melihat seorang gadis duduk dan menangis.

Ia merasa seperti orang bodoh membuat orang terdekatnya menangis karena ulahnya, walau ia sendiri gak begitu mengerti kenapa.

Lalu ia menghampiri gadis tersebut dan memeluknya dari belakang.

"err, gua mita maaf gue gak tau kalo lu nyariin gue sebegitunya,lagian kenapa juga sih lu marah-marah, kan gue sama Rina cuam dengerin musik aja,namanya temen kan gak masalah deket." Ia mengucapkan kata-kata itu dengan polosnya, jika ia tau ucapannya membuat banyak orang ingin membunuh mu.

"bego,bego,bego." Lamia dengan posisi ngambek sangat sulit untuk ditenangin, gadis yang biasanya kalem sedikit berekspresi, jika ngeliat lace dengan gadis lain berduaan atau ada yang mendekatinya langsung naik darah hilang ekspresi dingin tadi dengan eksperesi panas.

"haah… ya ya gue salah buat u nyariin gue, tapi gak gini juga kali." Ia menepuk nepuk kepala sang gadis agar tenang.

"habis lu nya begitu…gua kan.." ucapannya terhenti.

"gua kan?" Lace mngulang kata akhir Lamia dan yang ngucapin tadi jadi kalang kabut.

"ahh tau lah, dasar Kutil Anabola." Ia menyembunyikan wajah nya di antara lengannya.

"please lam, terserah dah lu mau ngatain gua apa, tapi jangan Kutil Anabola, Please gak ada yang lebih bagus dari itu kah." Kini yang di ledek yang kesel.

"bodo amat, gak peduli sama bisul Giant Baba." Ledekan nya makin nyesek dan makin parah dari kutil Anabola.

"haah~ tauk dah basing lu aja lam, gak ada abisnya kalo berdebat sama lu nyerah gua."kini ia duduk memblakangi lamia, punggung mereka bersentuhan dan menopang satu sama lain.

"lu tau gua disni." Tanya lamia sedikit tenang.

"tau lah, lu kira udah berapa lama kita kenal, bahkan tinggal bareng selama 15 tahun gak mungkin gua gak tau lu bakal kemana." Ia mengambil satu susu kotak rasa stroberi dan ia minum "lu mau?" tanya Lace.

Yang di tanyain malah menjawab dengan deheman saja, lalu Lace memberikan susu kotak rasa coklat ke Lamia.

"dari dulu kalo lu ngambek lu bakal lari kesini dan nangis, dan selalu Susu kotak coklat dingin jadi penenang."Lace mengingat masa-masa dulu saat ia anak-anak sampai sekarang.

"huuh,lu gak akan tau tempat yang lain gua datengin, kebetulan aja ue di sini."ia meminum susu kotak itu dan menikmati sensasi manis dari coklat dan susu.

"gue lebih tau lu di banding orang lain, bahakn daleman hari ini yang lu pake aja gue tau." Ucap Lace ngeledek Lamia.

"sok tau, dan lu mesum banget jadi orang, emang lu tau apa yang gue pake?" tantang Lamia ke Lace.

"Warna hitam dengan corak bunga penuh renda." Setelah menjawab itu langsung kena hantaman Maut dari Lamia.

"Dasar MESUM, Pecinta paha,Sempak accretia,Kutil Anabola, MESUM MESUM MESUM." Lamia gebukin Lace Tanpa ampun.

"oi gue liat kan gak sengaja pas lagi nyiram taneman, salah sendiri jendela di buka pas nyalin, rejeki mah sapa yang nolak." Karena ucapan itu makin di gebukin lah si Lace.

"MESUM!" pukuluan maut di hantem ke perut Lace dan membuat yang kena pukulan itu pingsan.

Setelah melihat Lace pingsan ia bergumam, "walau lu gak sadar akan perasaan gua, lu tau kemana gua berada dan apa yang gua suka." Setelah itu ia menaruh kepala Lace ke pangkuannya.

To be Continued.

Hai hai kembali lagi dengan Hafidz haan, apa kabar kalian kangen? Buaakakakak, oke sedikit kita bahas tentang chapter ini

Disini di sebutkan Ragnarok, Ragnarok sendiri itu artinya di mythologi nordik adalah penghancuran, dan sebenernya masih ada yang mau gue tambahin tapi nanti aja dah.

Dan lagi yang di cora udah gue siapin main Event, kemungkinan besar bakal fokus di Cora dulu biar kelar, dan soal Chapter Relvian, nanti gue Garap, di chapter setelah ini.

Dan soal Proyek Wing, di situ udah gue jelasin tapi belum 100% detail.

Gue teringat cheat Fly jadi gue mau mencoba inovasi tentang hal yang terbang terbang hahaha~ tenang kok gue usahain tetap nyambung.

Untuk APIT sendiri gue masih belum punya main event paling hanya sekedar lewat aja sih di bahas buat alur doang yah mungkin Cuma segitu aja.

Thanks for read review for best make Me Better

Quote

"terkadang Mencintai orang gak peka lebih sulit daripada harus ngelawan seluruh pasukan Cora , dan mencoba merelakan itu lebih sulit sulit lagi karena cinta yang kita punya sama besarnya dengan orang lain yang mencintainya" Rina Nitrate