Fanfic Change Chapter 16 – Let me keep in this position, Grymnytre and Lachrymose
Lace P.o.V
Yak gue bangun dari pingsan sehabis di hantem Lamia, sakit emang powernya tuh anak ngeri bisa bikin orang tepar sekali hatem, walau gitu tetep aja perempuan ada saat dimana dia lemah dan butuh bantuan seorang laki-laki
Gue liat jam ternyata masih sore, mungkin jalan-jalan ide bagus ngehilangin penat dan rasa sakit.
Saat gue berjalan kearah ruang depan menuju pintu, bibi Tsukiumi sedang duduk di depan piano klasik dan mungkin akan ia mainkan,yah bibi Tsukiumi emang kalem dan gak banyak omong ngalir layaknya air sungai dan dalem kaya lautan.
Saat gue berjalan untuk melewatinya bibi menghentikan ku dengan peratanyaan simple "Mau kemana Lace?" ucapnya masih kalem.
"keluar sebentar bi nyari angin." Jawab gue sepertibiasanya namun rasanya itu salah dia menekan salah satu kata yg baru gue ucapin "Bi?" errr kayaknya gue salah ngucapin deh "anu maksud ku, mau keluar sebentar ma." Yah Bibi Tsukiumi gak mau dia di panggil Bibi sejak dari gue kecil atau bisa di bilang sejak gue tinggal bareng di keluarga ini,dan dulu ketika gue reflek bilang bibi kepala gue kena jitak, masa-masa suram dan gak akan gue uangin lagi, yah bibi mau nya di panggil Mama or Ibu tapi gue dah terbiasa manggil mama walau terkadang keceplos manggil bibi.
"hoo,kayaknya kamu banyak pikiran kenapa gak ngobrolin sama mama?" sepertinya ia tau apa yang ada di pikiran gue, mantan Pasukan elit emang beda.
"yah banyak hal sih ma,haaah.. kayaknya gak bisa di sembunyiin deh dari mama." Walau matany masih terpejam dan memainkan piano dengan lembut tapi dengan tekanan force yang mengintimidasi serasa lu gak akan bisa berbohong di hadapannya, well cara ini yang gue pake saat introgasi musuh dia yang ngajairn.
"bicaralah siapa tau mama bisa memberi mu saran, lagi pula kita jarang ngobrol serius." Ucapnya masih seperti laut yang tenang.
"tapi bisa rahasiakan ini dari yang lain bahkan dari Lamia dan Paman Rogue." Ucap gue memohon pada bibi Tsukiumi.
Sedikit tersentak piano yang ia mainkan di toots terakhir agak dalam "baiklah akan ku rahasiakan sampai akhir hidupku." Bibi selalu serius jadi sedikit agak canggung berbicra dengannya walau sudah lama tinggal bersama.
"sebenarnya ini berkaitan dengan bangsa lain, dan juga sedikit menyinggung suatu clan di bellato." Yah lebih baik di ceritakan daripada pusing sendiri.
"kau mencintai wanita cora?" tanya bibi dengan nada agak menekan.
"tidak melainkan aku berteman dengan mereka dan seorang Accretia juga." Jelas gue dan menunggu apa yang akan bibi katakan.
"hee jadi begitu, ku kira kau akan seperti ayahmu mencintai wanita cora dan menikahinya, lalu dengan menyinggung suatu clan Bellato maksud mu Grymnytre?." Ia menyinggung soal ayah dan tebakannya tepat dia tau apa yang gue pikirin dan gue cuma mengangguk tanda setuju apa yang ia katakan.
"Grymnytre yah, aku hanya sedikit tau tentang mereka dan bukanya kau sudah tau lama tentang keluarga ini?" kini giliaran ia yang bertanya kepadaku.
"begitulah, namun ada yang sedikit menganggu pikiran ku, walau aku tau Grymnytre itu keluarga yang bisa dibilang hebat dalam pertempuran dan bisa membalikan keadaan, namun ada hal yang mengganjal dari semua itu, kenapa mereka selalu di anggap keluarga yang gila bertempur kupikir gak semua seperti itukan ma?" sedikit penjelasan dari gue dan bibi Tsukiumi masih memainkan melodinya.
"jika ayahmu masih hidup mungkin dia bisa menjelaskan ini dengan detail, namun keadaan berbeda dan yah benar apa yang kau katakan barusan, gak semua Grymnytre itu gila perang hanya saja kebanyakan leluhur mereka begitu, Ren pernah mengatakannya padaku hanya beberapa Grymnytre yang Gila bertarung karena adrenalinnya yang hebat namun gak semua, tergantung bagaimana seorang grymnytre itu mengatur emosi dan niat bertarung dan kebanyakaan Grymnytre yang ku liat di generasi ku kalem dan gak banyak omong." Bibi mengusap-usap kepalaku dan tersenyum sambil mengatakan "dan jika kau berfkir apa hubungannya Lachrymose dan Grymnytre jawabanya mereka sama-sama bangsa bellato." Mendengar penjelasan dari Bibi Tsukiumi serasa berbeda dari yang tertulis di catatan sejarah dan buku-buku di perpustakaan.
"jika ingin kau tanyakan lebih lanjut tentang Grymnytre mungkin bertanya dengan Amethyst dan Rose jauh lebih lengkap karena Amethyst dan rose adalah dewan bareng si Ren yang notabene Dewan."ia lanjut memainkan lagunya yang tadi sempat tersendat karena mengusap kepalaku.
"Dan soal teman bangsa lain mu, selama ia tidak jahat kurasa takmasalah." Saran bibi memang selalu memebrkan kemungkinan yang terbaikd an efisien gak salah dulu masuk team strategi.
"masih mau keluar cari angin?" tanyanya berhenti memainkan piano.
"kurasa enggak angin yang kubutuhkan sudah kurasakan dari tadi" lalu ia tersenyum simpul dan bertanya kembali, "Lace kau mau nyanyi? Biar mama yang melantunkan musiknya." Yah jarang-jarang-jarang aku bernyanyi lepas mungkin itu ide yang bagus.
Find a reason to sing
Kimi ni aitai
Utau koto oshiete kureta kimi ni
Bibi memang jago aku hanya menekan nada sedikit ia mengerti lagu apa yang ku nyanyikan.
Dareka ga kobosu MERODI wo
Dareka ga hirotte
Mata dareka ga hakondeku
Namae mo kao mo wakaranai
Tsunagaru kiseki ga
Dareka wo shiawase ni suru
Gamengoshi tada nagame urayande bakari ita
Ima made wa
Sudah lama aku tak bernyanyi lepas, mungkin karena banyak pkiran tadi dan memang bernyanyi dapat menghilangkan stress dan tak terasa lagu yang kunyanykan sudah pada lyric yang terakhir.
"tak kusangka kau akan menyanyikan lagu itu." Ucap bibi kepadaku.
"memang kenapa bi lagipula lagu itu kan lagu yang bagus." Memang lagu itu lagu yang enak di dengar dan instrumentnya juga asik di lagu orginalnya.
"yah memang lagu itu lagu yang bagus,dan kenapa lu begitu lepas bernyanyi bersama mama di banding dengan gue Lace." gue mendengar suara lamia di belakang tubuh ku dengan nada yang gak enak pula ngomongnya.
"hahaha, mungkin perbedaan kemampuan yang membedakan kau dan mama." gue Cuma tertawa aneh karena tiba-tiba dia ada di belakang gue, untung ada bibi Tsukiumi kalo gak ada mungkin gue habis di bogem sama Lamia.
"haha kalian ini akur banget ya." Bibi tertawa geli melihat pertengkaran gaje gue sama lamia.
"duh bibi kalo yang gini di bilang akur gimana gak akurnya? Bibi ngidam apaan sih sampe lamia galaknya mintampun sumpah deh." Ketika gue ngomong gitu yg ada malah kepala gue di jepit make tangan dan badannya sakit cug.
"bego. Bego bego… dungu!" dan gue makin teriak karena jepitannya makin sakit walau ada sensasi empuk tetep bagian depan kesiksa otot lengan lamia yang kuat.
"adaw adaw adaw oi lam ampun adohhhhhh…"gue makin teriak histeris karena makin sakit.
"udah lah kalian berdua sana mandi trus lamia bantu mama masak buat makan malem." Ucap bibi melepaskan gue dari lilitan Ular paling berbahaya.
"trus nih anak ngapain." Ia nunjuk gue, ayolah gue pengen santai walau keadaan gue memang selalu santai.
"biarin aja toh dia biasanya kan pulang makan tidur doang." Ya kali gue di bilang tukang pulang makan tidur.
Sehabis mandi badan dan pikirian serasa fresh banget seger buger, dan kampretnya hairdryer gue rusak shit man bisa rusak segala lagi yah mau gak mau dah make punya lamia.
Geu ke kamar lamia yang Cuma make celana training selutut dan bertelanjang dada sambil anduk masih ngelingker di leher.
"Lam gue minjem hairdryer lu yak punyak gue rusak." Gue masuk asal slonong boy, yah udah biasa sih kalo soal slonong boy dan pas lagi masuk gue baru sadar kalo lamia lagi make daleman doang.
Dengan sok cuek gue nyamperin tuh anak dan nepuk pundaknya, "kalo lu make gitu doang gak seksi lam make yang agak wah dikit kek." Gue liat arah lemari lamia yang kebuka dan gue liat ada yang keliatan seksi pake banget yang kayak di majalah kelinci.
"nah kalo lu make ini lu gue jamin seksi dah salah satu favorit gue." Sambil memberikan jempol dan idung mimisan gue memberikan saran yang terbaik dan uka tuh anak merah kayak kepiting rebus.
"Mesum! Dasar Lace bemper bemo kutil anabola,mesum sok kegantengan Baut Bemo Mesum!" gue di serang lamia dengan pukulan beruntun dan gue mencoba menghindari semua pukulan yang di arahin.
"gak tau malu!." Yep alhasil kepala gue di timpuk make hairdryer shit benjol man.
"Lace kepala mu kenapa?" tanya paman Rogue.
"gak ada apa-apa kok paman tadi Cuma kena hajar sama caliana queen dan di timpuk make balok es." Ucap gue ngeledek lamia, yang di ledek Cuma diem aja dan masih sebel.
"hati-hati caliana queen emg aggressive lewat doang kamu kena hajar." Jujur gue mau ketawa gak bisa kalo ketawa idup gue berakhir gak ketawa sakit anjay.
"aku dah selesai."masih keadaan ngambek dan bete ini nih yang paling males susah nenanginnya jadi gue pura-pura cuek aja dulu.
"Itu anak kenapa?."tanya paman rogue ke bibi.
"jangan tanyakan padaku, mungkin urusan anak muda."bibi ngelirik ke gue dan ia tau pasti ulah gue buat lamia jadi ngambek dan gue ngerti apa yang harus gue lakuin.
Stelah makan gue nonton tv bentar dan sambil tiduran di sofa ngakak-ngakak gak jelas karena yangg gue tonton acara komedi lalu gue ganti siaran ke film Biudan galaksi ngelawan virus make lagu, keren juga nih film.
Kelar nonton gue coba untuk tidur, gak lama gue tidur dan terbangun gara-gara haus sial jam 2 malem haus gini.
ketika pengen kedapur gue lewat di kamar Lamia secara kamar gue dan dia sebelahan dan ue denger suara, ya suara orang nyanyi dengan lembut, makin gue denger arah suara itu dari kamar Lamia.
Kau tak perlu berusaha meraihnya
Jadi kau selalu memerhatikan sesuatu dari sini
Terkadang sesuatu menghilang jika kau meraihnya
Kau selalu menyembunyikan air mata yang tak terhingga
Kau selalu memerhatikan dunia untuk waktu yang sangat lama
Gue inget lagu ini lagu kesukaan gue bawaannya bikin baper juga, dan suara lamia yang lebut bikin suasana makin baper.
Kau tak perlu meraih mimpimu sendirian
Angin tak terlihat akan membantu mu
Aku merasa aku bisa terbang, sangat tinggi sangat jauh.
Jadi tolong jangan lepaskan tangan ku
gue melihat lamia yang menatap langit malam dengan ratapan sedih, gue gak tau dia sedih kenapa.
Gue deketin lah dia tanpa dia menyadari gue udah di belakangnya dan memeluknya dari belakang
"Lace?! Lu ngapain." Ucapnya kaget saat gue udah posisi memeluknya dengan tiba-tiba
"kok diem lanjutin nyanyinya gue suka lagu itu." Ucap gue masih posisi meluk dia.
"ukhh, gue gak bisa kalo lu gini." Dia masih ngelak.
"nyanyi aja jangan anggep gue ada."
Kata-kata sendiri tak akan bisamenyatakan
Kebenaran yang aku bawa dalam hatiku
Satu mungkin tahu, tapi tidak untuk menghapus mereka
Kau tetap menyembunyikan kesedihan mudengan senyuman
Dan aku tak memerhatikan itu
Dan itu semakin dekat ke lubuk terdalam hatiku
Terbawa suasana sedikit lebih erat gue meluk dia dan mencium leher belakang lamia, gue merasa badannya tergetar dan kaget,manamungkin gak kaget jika tiba-tiba ada orang meluk lu dari belakang dan sekarang nyium leher lu.
"lu ngapain, geli tau mana bisa nynayi gue kalo lu begini." Lamia mungkin sedikit risih dan kesel dia gak bisa nyanyi dengan serius kalo gue begini.
"Biarin gue di posisi ini untuk saat ini, gue lagi enak dan jangan berhenti nynayi lagunya bagus." Ucap gue masih menenggelamkan kepala gue di leher bagian belakang lamia dan mengendus aroma wangi tubuhnya.
"ngghhh…haahh… yaudah lah susah kalo lu dah manja begini." Akhirnya dia yang ngalah akan kegoisan gue, mungkin orang lain melihat gue bakal perfikir negatif dengan apa yang gue lakuin, peduli amat dengan orang lah.
Dan aku tak bisa mendengarkan nyanyianmu
Oh cintaku dimana kau sekarang?
Langit menjadi kelabu aku tersesat tanpa dirimu
Tak ada angin yang membawaku lebih jauh dan lebih tinggi
Langit yang tak terlihat merobek-robek sayapku
Mendengar lagu ini gue sedikit mengerti perasaan lamia tapi entah itu untuk siapa gue masih penasaran,yang penting saat ini gue menikmati malam indah di terangi satelit novus yang cerah dan penuh bintang, dan juga nyanyian lembut bak malaikat.
Well agak lama gue di posisi ini dan kini lamia udah tidur mau ak mau gue gendong lah tuh anak ke kasurnya, kalo tidur di luar kasian tuha nak ntar kedinginan.
Setelah gue taro dia di aksur gue mau pergi ke dapur, yah tenggorokan gue masih kering pengen minum, tiba tiba jari tangan gue ada yang megangin, dan gue liat tuh anak masih dengan raut muka sedih.
Kasian juga kalo gue tinggalin, yah mau gak mau tidur di sini dah dan gak minum tenggorokan gue seret.
Entah hoki atau gimana gue liat di meja deket kasur lamia ada sebotol air mineral lumayan ngilangin aus.
Gue usap-usap lah jidat nih anak kalo pas tidur begini dia keliatan cakep pake banget,kalo bukan gue mungkin udah di mangsa sama pria-pria hidung belang, dan jujur kalo gue khilaf mungkin bisa aja itu terjadi namun logika gue masih kuat dibanding nafsu jadi gue hanya cengar cengir kayak orang bego.
Yak sukses raut wajahnya berubah dan menjadi lebih tenang, gue cium lah kening nih anak sebelum gue tidur yah bisa di bilang kayak ngucapin selamat tidur mirip di film-film.
Yah dan itu menurut gue cukup untuk menutup hari yang melelahkan ini.
-End of Lace
- Accretia HQ
Accretia berjubah putih itu berjalan menuju ruanganya dan bersandar lalu mengaktifkan layar monitor 3D untuk berbicara pada seseorang.
"Wah wah tidak biasanya Archon Accretia menghubungi kami ada keperluan yang bisa di bantu?" tanya seseorang yang mengenakan penutup kepala itu.
"tak perlu basa-basi seperti itu, hanya kalian makhluk berdaging yang bisa ku percaya." Ucap sang archon tanpa basa-basi sama sekali.
"lalu apa yang harus ku lakukan? Menangkap seseorang dan mengekstraknya? Atau mengahcurkan sesuatu? Atau bahkan mencarikan sesuatu?" tanyanya seperti orang menawarkan sesuatu kepada pembeli.
"ekspriemen kami lepas, cari dia sampai dapat dan bawa dia hidup-hidup." Sang archon memberi perintah keorang tersebut.
"ciri-ciri?" tanya orang bertudung itu.
"seperti cora namnun lebih pendek dan bertelinga bundar, atau bisa dikatakan manusia, cari dia dan jangan sampai dia mati." Printah sang archon dan membuat orang itu terkekeh.
"servis kami selalu memuaskan pelanggan, apa lagi pelanggan seperti mu, lalu ada hal lain lagi?" tanya orang itu.
"saat ini dimana posisi mu?" tanya sang archon
"berada di planet Grenimium, apa kau ingin informasi planet ini? Mungkin bisa saja akan kau jajah."ucap orang itu masih dengan nada bicara yang tadi.
"tidak aku tidak berminat dengan planet itu, lagi pula di planet ini terbilang sangat kaya di banding dengan planet lain." Sang Archon tidak peduli dengan tawaran orang itu.
"Novus, planet unik dengan banyak makhluk di dalamnya, yah sayang sekali kau tidak ingin menjajah planet yang saat ini ku injak, lalu apa kau ingin membeli informasi dari ku kurasa ini bisa dibilang bonus dengan harga yag rendah karena kau langganan kami." Ucap orang itu.
"aku tak ingin membuat pasukan khusus ku melakukan hal yang tidak terlalu penting, lagipula apa gunanya kalian jika tidak di gunakan,dan informasi apa itu." Kini sang archon sedikit penasaran.
"kau tau Lachrymose?" kini orang itu kembali bertanya.
"makhluk berdaging dari bangsa bellato memangnya keapa dengan informasi mu?" masih penasran informasii apa yang akan di dapat oleh orang ini.
"aku mendapatkan suatu informasi mengatakan Clan ini keturunannya menggunakan serum Force Hitam yang terlarang untuk mereka." Orang itu memberikan informasi ke sang archon.
"lalu Cuma hal itu" merasa sedikit kecewa karena informasinya tidak terlalu dia butuhkan.
"tidak belum selesai, kau tau sendiri bagaimana jika force mereka kita paksa ambil dari tubuhnya dan di masukan ke senjata mu itu,yang ku tau kau selalu mengambil mayat dari bellato dan cora dan di amb force yang tersisa dar tubuhnya untuk senjata mu itu." Orang itu tau tentang rahasia Accretia tapi bagaimana bisa pikir sang archon.
"kau tak perlu berfikir bagaimana kami tau tentang senjata mu itu, aku takan membeberkannya karena kau pelanggan setia, jadi bayangkan force unik yang bisa kau dapatkan bila mengambil salah satu orang dari clan ini, bukan hanya Grymnytre yang terkenal seluruh novus dan akan kekuatannya mungkin kau tertarik untuk mendapatkan salah satu dari mereka khikhkhikhi, selamat berburu Warwick." Orang itu mematikan layarnya
"kalian kita mendapatkan misi di novus, kurasa ini akan menjadi misi pencarian yang seru." Zrap… pedang yang menancap di kepala suatu makhluk di planet yang ia singgahi dan banyaknya mayat membuktikan terjadi pembantaian habis-habisan.
Pria berambut hitam agak panjang masih berlatih dengan pedang besarnya, terihat ia sangat lihai menggunakan senjata tersebut
"kau masih berlatih Apit?" tanya pria itu.
"begitulah Ray aku masih ingin menguasai teknik yang kau ajarkan padaku." Apit kini sudah terbiasa dengan tubuhnya yang notabene manusia beradaptasi tanpa menggunakan armor berat layaknya accretia kini ia sudah seperti orang biasa yang tidak merasa aneh lagi dengan dirinya.
"ngomong-ngomong Rayen kau bilang Life Eater ini terbuat dari seseorang di tempat maksudmu gimana aku gak ngerti." Apit bertanya tentang senjatanya.
"senjata itu memang materialnya dari makhluk hidup atau bisa di bilang seseorang dari tempat ini." Ucap Rayen masih belum jelas.
"seseorang siapa?" tanya apit penasaran.
"Ratu dari kalangan ras ini Raina eirisvile dia mengorbankan dirinya untuk menjadi material senjata itu, atau dikatakan ia meninggal lalu dirinya di jadian material membuat life eater agar senjata ini stabil, dan senjata ini di gunakan orang yang di sebut pahlawan di Perang Sette beratus tahun yang lalu." Dari yang rayen katakan memang senjata ini di buat dengan material yang tidak terduga namun dari tampang apit yang heran ia saja masih tidak percaya akan hal itu.
"masih ada lagi, jika kau memang sudah memahami senjata itu dia bisa berganti bentuk semau mu, senjata yang unikkan." Memang benar apit masih belum bisa menyempurkan life eater ini yang ia bisa sekarang menarik jiwa musuh paksa dan menjadikan kekuatannya, tapi tetap saja itu terasa aneh pikirnya, membunuh dan menjadian nyawanya sebagai kekuatan sangat terasa aneh.
"jangan terlalu di fikirkan, kau akan menguasainya suatu saat nanti itu pasti percayalah,ngomong-ngomong armor mu sudah di perbaiki dan banyak melakukan rehap khusus." Rayen memberitahu tentang armor Apit yang dulu rusak parah dan gak bisa di gunakan lagi.
"benarkah aku tidak sabar ingin menggunakannya, mungkin akan berbeda." Ucapnya yakin.
"kallau begitu datang lah ke tempat kakek reisam armormu berada disana, oh iya itu bazoka atau launcher entahlah apa itu sepertinya di gunakan untuk daur ulang armor mu tidak masalahakan?"rayen kembali bertanya.
"yah lagipula sudah di daur ulang buat apa aku menolak, jika terus di simpan hanya akan menajdi besi rongsokan." Apit menuju ketempat kakek reisam untuk mengambil armor yang rayen katakan.
"ohh kau disini rupanya silahkan di coba armor mu, rayen memaksa ku membuatnya dasar anak itu." Ucap sang kakek kesal.
"maaf kek membuat anda repot." Apit bersikap sopan dan sang kakek mengahragi itu.
"sudahlah lagipula ia seperti cucuku jadi aku sudah terbiasa memanjakannya,dan armor mu ku buat lebih fleksibel dan nyaman di pakai, dan juga Di bagian helem kau bisa mentupi wajah mu agar terlindung dari serangan ke wajah." Ucap sang kakek.
"ini armor sangat hebat aku belum pernah merasakan armor yang seringan ini tapi kuat, dan juga di bagian helem aku serasa melihat diriku yang lama keren sekali." Apit merasakan armor yang ua kenakan saat ini berbeda dengan sebelumnya.
"termikasihlah pada senjata mu yang rusak itu, material khusus di dalamnya membuat armor mu menjadi ringan dan nyaman dan juga booster di bagian sepatu juga ku tambah jadi kau memilki dua booster di punggung dan di kaki." Sang kakek memberikan blue printnya, sangat detail dan hebat.
"ini akan menjadi menarik." Ucap apit dengan tampang serius.
To Be continued
Well guys Author Legs Hunter kembali lagi dengan chapter 16 di present line, dan sekdar info gue juga baru ngejalanin chapter akhir relvian serius ntu chap akhir.
Dan sadnya guys Laptop ane LCDnya ilang seperempat holy shit gak enak banget ngetik di layar ilang seperempat.
Kayaknya gue bakal kena hujat lagi deh ngebuat nih fic full romance, yah setidaknya kalo ada genre Slice of life pengen gue masukin jahaha.
Gak kerasa gue nulis udah berchapter-chapter dan makin absurd dan herannya gue masih asik ngeanjutinnya, mungkin karena ada pembaca kaliya haha.
Mungkin di chap ini agak sedikit gimanya yah errr gitulah susah ngejelasinnya hahaha, dan untuk yang masih penasaran dengan Accretia slow bung perjalanan masih panjang dan masih ada kejutan yang bisa di lakukan mungkin saat ini keliat lemah tapi itu hanya persepsi aja karena gue belum sepenuh nya fokus di line itu, yah makasih sarannya itu membuat gue berfikir ulang tentang konsep kedepannya.
Dan saran mbak rhieta memang bener gue ahrus fokus di arc relvian dulu dan alhamdulilah draftnya dah ajdi tinggal nyempurnain aja dan itu tadi ngetik di layar ilang seperempat adalah cobaan yang gue alami saat ini.
Lagu yang gue pake di fic ini yang pertama Connecting by Vocaloid (gue saran dengerin yang world edition aja keren)
Lagu kedua Giraffe Blues By Wlakure a.k.a Biduan Galaksi yang lagi ngehits
Dan gue update ini cerita karena adek gue (adek angkat) si langsyat itu pengen buru2 baca shit man tuh anak bikin kesel betapa sulitnya nulis di layar ilang seperempat defak.
Gimana puasanya masih kuat sabar bentar lagi lebaran tinggal di hitung hari aja kok gak lama hahaha
Thanks for reading this Absurd Fic and thnaks for review always make me better.
