Fanfic Change – By Hafidzhaan (Legs Hunter)
Chapter 17 – Heavenly Tiger successor and Dark Force awakening
Rf online Not mine but character is mine but some character not mine
-Nirvana-
Pria berambut hitam duduk diatas batu menatap langit novus, seolah dia memikirkan sesuatu namun saat tengah asyik memandangi langit seseorang menepuk pundaknya.
"Memikirkan sesuatu?" Tanya orang itu, yang ditanya hanya menoleh dan menjawab "Yha sedikit, hanya saja aku tak yakin dengan jawabanya." Balas pria berambut hitam tadi.
"Mungkin aku bisa membantu mencarikan jawaban untuk mu." Lalu dengan cepat pria berambut hitam itu beratanya, "Jika aku bertemu mereka sekarang ini apa meraka akan lakukan." Yang ditanya kini menjawab
"Waspada mungkin, karena kau sedikit berubah dari apa yang ,mereka ketahui tentang mu, kau rindu kawanmu?" kini yang di Tanya malah balik bertanya.
"Bisa di bilang begitu, aku sepertinya merindukan mereka berdua, aku harap bisa bertemu dengan mereka secepatnya." Masih memandangi langit sore Novus pria berambut hitam tadi masih termenung.
"Temuilah APIT, mereka pasti ingin bertemu dengan mu dan mungkin, kau akan di hujani banyak pertanyaan oleh merka." Ucap orang itu lalu meninggalakan Apit.
-Holy Aliansi Cora – Haan family house-
Keluarga kecil nansederhana sedang melakukan makan malam bersama dimana ada sang suami si kepala keluarga, istri yang setia dan anak perempuan mereka satu-satunya, dan bonus Adik sang suami yang kerjaanya numpang makan di sana.
Setelah makan malam selasai pria berambut putih ke sofa dan mulai berleha leha.
"Ahhhhh aku lelah…. Kapan selesainya pekerjaan ku menjadi dewan support ini, rasanya aku ingin berhenti." Pria cortie berumur kepala 4 ini tiduran di sofa meregangkan badanya.
"Kenapa gak pensiun? Lagian kan dirimu sendiri yang mendaftar menjadi dewan supporter." Tanya istri sang kakak.
"Aku gak pernah mendaftar kak Cuma sekali sewaktu Generasi Fernandes dan antek anteknya menjadi dewan, lagian juga sia abangkan menjabat di pemerintahan waktu itu apa kakak lupa?" kini sang adik masih merajuk dengan tugas yang menumpuk.
"Aku ingat kok, itu sewaktu 19 tahun lalu waktu Rea masih kecil kan, lagipula tugas mu hanya membantu selagi di butuhkan apanya yang lelah?" Istri sang kakak masih di dapur membuat teh.
"Nah dari saat itu aku selalu di tunjuk jadi dewan Supporter, hayati ini lelah kak aku ingin bebas dari semua tugas tugas dewan yang membuat ku ingin muntah." Kini ia dari posisi tidur ke posisi duduk karena frustasi.
"Yha yang berlalu biarlah berlalu, saat ini kau harus jalani yang sekarang kan." Istri sang kakak menyediakan teh dan cemilan untuk sang adik.
"Dengarkan apa kata kakakmu Rajes, kau dari tadi hanya menggerutu saja, ngomong-ngomong pergi kemana Rea?" tanya sang kepala keluarga.
"Rea bukanya di kamarnya? Setelah makan tadi dia langsung ke kamar ada apa sayang?" tanya Sang isitri.
"Besok bukanya hari itu yah?" Tanya rajes.
"Ah.. iya kau benar hari pertandingan antar warrior seluruh Aliansi." Wanita berambut hitam tadi baru ingat besok adalah ahri pertandingan untuk menentukan siapa yang akan di jadikan posisi elit di bidang warrior.
"Yang ku tahu Rea gak pernah ikut selama dia dalam militer, apa sekarang dia harus ikut? Well kakak kan statusnya masih templar kan." Sang kakak hanya menangguk untuk menjawabnya.
"Nah kalo sia bang sendiri sih dia cross job, ranger bukan warrior juga bukan gak jelas, mending kayak aku lah jelas Statusnya Specialist." Ledek sang adik ke abangnya.
Sedikit gak terima di ledek sang abang ngeledek sang adek, "Setidaknya Statusku udah menikah gak kayak kamu, statusnnya masih Jomblo gak jelas." Jlebb bagai pedang menusuk hati dan gak bisa kena blok.
"Ah si abang gak seru, bedebah." Si adek makin kesel dan untuk suami istri itu malah ketawa liat penderitaan sang adek.
"Unn sayang bisa panggilkan Rea sebentar aku ingin bicara." Tak biasanya sang suami seperti ini entah kesambet apaan tapi ya sudah di turuti saja.
Tak lama Rea datang dan duduk di hadapan sang ayah.
"Ada apa ayah?" tanya sang anak.
"Begini besok kau akan di daftarkan pertandingan antar warrior aliansi, apakah kau siap?" Tanya sang ayah.
"Umm aku sih tidak terlalu peduli dengan pertandingan itu, apa aku harus ikut?" Kini sang anak yang kembali bertanya.
Pltak suara keras dari centong sayur yang terbuat dari kayu mendarat ke kepala sang anak.
"Aduhhh ibu sakit….. apa harus sampai memukul ku begitu." Ucapnya kesal.
"Ini petandingan serius dan juga ini test untuk mu apakah kamu benar benar sudah layak untuk jadi penerus keluarga Haan, semua warrior dari keluarga Haan selalu bertanding di pertandingan ini, jadi kau harus serius menanggapinya." Ucap sang ibu agak keras, well ini memang omongan serius.
"Ahh Ara sayang tolong jangan terlalu keras, lalu Rea kau sudah dengarkan dari ibu mu, jadi ayah harap kau besok sudah siap, dan hasil latihan mu semoga gak sia sia." Sang ayah sedikit menghibur anaknya yang baru saja terkena semprot dari Penerus keluarga utama Haan.
"Ya aku mengerti." Ucapnya sedikit murung.
"Hey hey Rea, jika kau menang apa yang kau inginkan? Nanti paman carikan jika kau menang." Rajes sedikit menghibur agar sang ponakan tidakt erlalu murung.
"aku ingin anak harimau." Ucap Rea,
"APA!" ucap seisi rumah kaget dengan apa yang ia minta.
"Iya aku ingin anak harimau, aku gak mau macam macam cuma itu, ya sudah ayah ibu aku kembali ke kamar." Ia meningalkan ke 3 orang yang masih bingung dengan apa yang masih terheran heran.
"Harimau ya, ini permintaan yang sulit." Rajes hanya garuk garuk dagu.
"ini permintaan yang paling aneh yang penah ku dengar." Sang ayah hanya bisa tepok jidat dengan apa yang di minta anaknya.
"setidaknya dia ada minat bertarung karena itu." Ara kini memebriskan dapur yang kotor dan mengerjakan pekerjaan rumah lain sebelum tidur.
-di waktu yang sama di Federasi Bellato-
Malam yang begitu nyaman di daerah bellato perkotaan yang ramai penuh orang mencari kesenangan di malam hari.
Agak jauh dari keramaian itu terdapat rumah utama keluarga Hardji, besar memang karena ini rumah penerus keluarga utama, di dalamnya ada seorang wanita bellato yang tengah duduk sambil membuka album yang begitu kusam.
Dalam hati wanita itu berfikir 'apa aku harus menunjukan ini padanya? Apakah ini waktu yang tepat untuk memberikan ini?' penuh pertimbangan baginya untuk memberikan album kusam itu pada seseorang.
Amethyst Hardji yang kini bukan dari kemiliteran melainkan kerja di Pemerintahan sebagai mentri, sejujurnya ia tak ingin posisi ini melainkan karena terpaksa dan juga keinginan orang itu.
-24 tahun yang lalu-
"Oi ame sini bentar gue mau ngomong serius." Pria berambut merah menariknya ke tempat yang agak sepi dari orang orang untuk berbicara yang mungkin rahasia.
"Apaan narik narik gue, lu dah punya bini masih mau gue?" ejek Amethys ke pria berambut merah itu.
"Tolonglah me gue mau serius." Mata merah itu langsung menusuk mata amethyst tentu saja membuat amethyst teridam (AN : me di disini panggilan buat amethyst biasanya di panggli Ame/Me relvian sendiri make keduanya biasanya).
"lalu apa yang pengen lu omongin." Amethyst kini menyeriusi tanggapan pria rambut merah itu.
"Gini me, feeling gua gak enak tentang pemerintahan ini, lu tau kan Ren sekarang udah gk di Novus lagi dan yang megang jabatan archon notabene Shin, karena konflik beberapa waktu sebelum Ren pergi dia sedikit ngasih info tentang pemerintahaan yang mulai ngacak ngacak kemiliteran." Ucap Si rambut merah masih dengan nada menekan.
"Lalu hubungannya dengan gue apaan? Gue kudu jadi pelindung lu di balik layar?" tanya Amethyst
"Kemungkinan iya tapi gue rasa gak perlu, namun gue punya permintaan,ketika gue gak ada misalnya gue mati atau gue pindah ke bellator atau pergi ke galaksi lain jadi buronan, lu saat itu juga harus bergerak ke pemerintahan, gua gak yakin hidup gue bakal lama dan lu tau sendiri kalo gue mati dan ibunya anak gue juga pasti ngikut di jalan gue, jadi kayak magnet." Si rambut merah itu menjelaskan secara detail rencana yang akan datang.
"lalu ketika gue dah di pemerintahaan gue haru ngapain?" Tanya amenthyst.
"lu hapus semua data tentang anak ini dan juga jangan sampe pemerintahan tau tentang adanya dia, dan kalo bisa lindungin dia dari pemikiran pemerintah, lu tau seberapa bajingan mereka, gue gak mau anak gue jadi alat untuk kerja mereka, jadi me ini gue mohon sama lu, ini utang gue seumur hidup bisa lu kabulin gak?" Amethyst melihat pria itu sujud di bawah kakinya memohon, ia tau pria ini gak pernah memohon dengannya pake cara seperti ini dan keseriusannya itu membuat ia tak bisa bilang enggak.
"Gak perlu sujud gitu Relv, tentu gue akan lakuin apa yang lu bilang, lalu ue ada syarat buat ngabulin itu." Ucap amethyst serius.
"Apa syaratnya?" Relvian menanyakan syarat yang di minta Amethyst.
"Kalo udah waktunya gue bakal jadi Guru dia buat ngebangkitin sesuatu dalam dirinya itu, dan juga kalo udah berumur 25 tahun dia gk bisa nolak gue jadi ibunya, dan gue berhak atas kuasa penuh dari seorang ibu setuju?" Permintaan yang sedikit sulit jika relvian masih hidup di saat anaknya berumur 25tahun mau gak mau dia harus ngasih anaknya ke Amethyst atau dia yang harus ngambil amethyst.
Relvian narik nafas panjang lalu menjawab "Haahhh…. Ok gue setuju." Dan saat itu lah Relvian dan Amethystmembuat perjanjian dan juga membuat di kertas atas tandanya bukti sah perjanjian itu.
-end of flashback-
"Jadi udah saatnya gue mengclaim hadiah dari perjanjian itu ya, tapi apa anak itu akan percaya dan bakal mau." Ucapnya sambil melihat tulisan perjanjian di album itu masih tersimpan rapih dan juga bagus.
"Nyonya ada surat untuk anda." Kata pelayan tersebut.
"Terimakasih kau boleh keluar." Setelah mengucap itu pelayan tadi pergi dan Amethyst membaca isi surat itu.
"Hooh jadi begitu, mereka bergerak sekarang, tak akan ku biarkan mereka mengambil sesuatu yang berharga untuk ku." Amethyst bangun dari kursi tersebut dan menyiapkan peralatan saat ia menjadi inflitrator.
-di waktu yang sama di kediaman Novteen-
Lace yang kini masih enak tidur di malam yang tenang gak hujan maupun gak panas asik dengan tidurnya namun di dalam fikirannya berbeda.
-Lace dream-
Ia bermimpi di dalam ruangan gelap tanpa adanya cahaya di ruangan itu, Lace mencari-cari entah itu apa di saat itu juga ia bertemu dengan sesosok mata merah di ujung ruangan.
"Jadi sekarang kau berani kesini, untuk apa kau datang kemari?" Tanya mata merah tersebut.
"Entah gue tiba tiba datang kesini dengan sendirinya, ini mimpikan?" Kini giliran Lace yang bertanya.
"Bisa dibilang begitu, atau mungkin bisa dibilang ini alam bawas sadarmu,dan juga bisa dikatakan kau masuk kedalam dirimu sendiri."jelas mata merah itu.
"Lalu kenapa disini gelap gak ada warna lain selain hitam?" Lace melihat sekeliling dengan tatapan penasaran.
"Tergantung karena ini adalah tubuh mu, dan Warna hitam ini adalah Force Mu,dan juga ini semua adalah bukti akan kebencianmu pada federasi dan orang orang yg mengkhianati mu dan rasa dendam ingin membunuh mereka." Mata merah itu menunjukan serpihan ingatan masa lalu kelam Lace.
"Force ya, menarik lalu Lu itu siapa?" Tanya Lace lagi.
"aku adalah kau, dan kau adalah aku, dua coin di sisi berbeda, kau bagai cahaya dan aku bayangan, namun saat ini kau tidak bisa di bilang cahaya, karena kau berada di tengah tengah." Ucapnya sang mata merah.
"gue gak begitu mengerti." Ucap lace garuk garuk kepalanya.
"karena ini pertemuan kita yang pertama akan ku berikan kau hadiah sedikit kekuatan dari milikku." Mata merah tadi merasuki Lace dan mencoba mendominasi tubuhnya
-end of lace dream-
"gukh…akhhhhhh….." lace bangun dengan kaget serasa dirinya kesetrum oleh listrik yang berdaya tinggi.
"haah..haah… tadi itu apa?" fikirnya masih memegang jidatnya yang tidak terasa sakit sama sekali.
-Holy aliansi cora – Haan house-
Bagai kilat menyambar di kepala pria berambut biru itu dan tiba tiba langsung terbangun dari tidurnya.
"haah… tadi itu apa…apakah suatu pertanda." Karena dia tiba tiba bangun membuat istrinya yang di sebelahnya ikut terbangun.
"ada apa sayang? Ada yang aneh?" tanya Sang istri.
"haah…" hela nafas yang agak panjang ia lakukan, "hanya mendapat mimpi buruk." Ucapnya sambil mengelus rambut hitam sang istri agar tidak khawatir.
"mau ku ambilkan minum? Atau kau mau minum teh herbal agar kau tenang?" masih khawatir akan keadaan sang suami yang gak biasanya terbangun seperti saat ini.
"gk apa-apa kok aku sudah baikan." Ucapnya masih kalem dan santai
"kalo gitu mau lanjut ronde ke 2? Kau mengalahkan ku di ronde pertama tadi." Goda sang istri.
"hee… kita liat kali di ronde ini siapa yang menang aku lagi apa dirimu fufufu." Yak dengan begitu mereka melanjutkan aktifitas malam hari mereka.
-paginya-
Sepertinya mereka melakukannya terlalu ekstream sampe lupa waktu dan Ara sampe bangun kesiangan dan belum nyiapin sarapan.
"Hey sayang bagun, nukankah hari ini kau ahrus nyiapin bekal buat Rea dan juga kita untuk di stadion." Pria berambut biru tadi masih mengguncang-guncang sang isitri pelan.
"Ukhh bisa kau lakukan untuk ku? Aku masih ingin tidur sebentar lagi, tolong buatkan sarapan saja sisanya serahkan padaku nanti." Ucapnya masih ngantuk dan juga lelah, entah main berapa ronde mereka sampe keleahan dan kurang tidur seperti itu.
Pria berambut biru itu menuju kamar mandi ya membasuh muka dan sikat gigi lalu ke dapur untuk masak.
"Yo bang tumben bangun siang." Tanya rajes yang lagi ngeteh sambil makan cemilan.
"Aku gak bisa tidur tadi malem,udah makan Rea mana?" tanya sang abang ke adeknya.
"Di luar lagi nyiram taneman." Ujarnya santai sambil mleahap cemilan di meja.
Ia memasak masakan simple untuk sarapan, pancake dengan madu dan sedikit cream lembut agar semakin nikmat, makanan simple untuk sarapan.
"Jes tolong tata meja yang rapih." Ucap pria berambut biru yang masih asyik dengan adonan pancakenya.
Sarapan pagi ini pancake lalu ada telur dan daging panggang dan beberapa sosis bakar.
"Wahhh ayah tumben masak, pasti enak." Rea siap makan tapi di halangi sang ayah.
"Tunggu ibumu kita makan bersama." Ia mencari istrinya di kamar ternyata gak ada dan di lihat di kamar mandi ternyata ia sedang membersihkan wajahnya yang berantakan dan kusam.
"Ayo sarapan semua sudah menunggu." Ucapnya kalem dan di balas dengan anggukan cepat.
Sarapan di pagi hari terlihat normal dan tanpa masalah, makananpun rasanya gk terlalu buruk, atau malah di bilang enak.
"Kau mau di bawakan apa Rea buat makan siang?" Tanya Sang ibu
"Sesuatu yang ringan dan tak terlalu berat, sandwich boleh gk terlalu repot untuk di makan." Ucap Rea.
"Baiklah nanti ibu siapkan, tugas mu sekarang siapkan pakaian mu untuk perlmbaan hari ini." Tugas sang ibu dan langsung di kerjakan oleh Rea.
"Dia anak yang lincah." Si rajes masih asik dengan pancake ke 3 nya.
"Menurut mu apa dia akan berhasil?" tanya sang ayah kepada Rajes.
"Dia anak mu dan juga kakak Ara kenapa harus khawatir sejauh itu? Percayalah didikan kalian lebih dari cukup, malah lebih keras di banding kemiliteran federasi itu sendiri, aku malah takut kalian terlalu membebaninya, lagi pula usianya juga masih masa-masa mencari kesenangan." Ia menyeruput teh dan memandang mereka berdua.
"apa kalian fikir kalian tidak terlalu keras kepadanya? Kalo kupikir sih kalian terlalu memaksa, apa lg kakak teralu ketat untuk Rea, aku gk bisa complain sih toh itu anak kalian, Cuma sekedar saran apa yang kuliat aja gk kurang gek lebih." Dia bangkit dari tempat tidur dan menuju ke ruang depan.
"bersikaplah lebih santai sedikit kak, terlalu keras membuat mu terlihat tua hahaha" ledeknya dan membuat Ara nimpuk centong sayur dan Bltakk pas kena kepala Rajes.
Mereka berempat berjalan menuju kota, karena acara pembukaan di adakan di kota, lagipula di pusat kota juga posisi yang bagus.
"Hey Hafidz" yang di panggil menoleh ke sumber suara.
"Els? Tak biasanya ada apa?" tanya Hafidz ke Els.
"Seharusnya aku yang bilang begitu, tak biasanya kau datang di acara ini, apa ada yang ikut lomba? Kalo aku sih memang selalu menonton acara ini, seru loh." Ucap els sambil merangkul leher sang kawan.
"hee, yah kali ini Rea berpatisipasi jadi mau gak mau harus nonton, kau sendiri?" kini hafidz balik bertanya lagi.
"Gak sih, tuh sama si Rena sama Lily juga, sekeluarga selalu nonton ini acara." Ucap Els lalu "Di sini ada tempat bertaruh yang lumayan asik untuk di acara utama,hadiahnya juga cukup besar, kau bisa dapat uang setara jual rumah mewah." Bisik els ke hafidz.
"Berapa total hadiah biasanya?" kini hafidz penasaraan dengan hadiah dari bertaruh itu.
"Kemarin sih 500 juta disena, lumayankan pasang dikit menang banyak." Ucap els sambil memberi bayangan ke hafidz jika mereka menang taruhan itu.
"Fufufufu kau memang selalu memberikan seusatu menarik Els." Tiba tiba hafidz jadi sumigrah akan tawarannya,
"Untuk saudara kenapa enggak. Fufufu." Lalu mereka melakukan tos tanda stuju.
"Kalian bicarain apa?" tanya Rena.
"Urusan pria biasalah." Jawab Els santai sambil memberik kode jangan cerita apapun ke rena.
Yang di kode Cuma mangut mangut doang.
"Jes gimana pendaftaran?" Hafidz kini mendatangi rajes.
"Beres anak buah ku udah ngurusin semuanya, oh iya Rea ini sebelum masuk ke tempat pertendingan berikan ini pada penajaga karena kau masuk sleksi berkas." Sambil memberikan kertas lalu Rajes berbisik 'sepatu mu sudah paman upgrade'
"Terimakasih paman aku permisi dulu." Dengan wajah ceria dia meninggalkan sang paman.
"Apa yang kau bisikan ke Rea?" Ara yang liat gelagat Rea jadi aneh.
"Ummm buff word mungkin atau yang lain hohohoho." Rajes kini ngikut rombongan els dkk.
"Yah terserah lah." Ucap Ara gak terlalu peduli juga.
-Federasi Bellato – Novteen house-
"Mau kemana Lam rapih amat." Tanya Lace yang baru keluar dari kamar mandi dan nyapa lamia yang rapih kayak ibu pejabat.
"Mau ngajar emng menurut lu mau kemana?" Yang di tanya sekarang balik nanya.
"Ya kali aja mau kencan, atau kali aja lu di panggil dewan, ya mana gue tau sih." Lace yang masih mandangain Lamia dengan pakaiannya.
"Cantik juga lu dandan begitu, lu mau ngajar apa mau godain murid lu Lam?" seneng di puji eh taunya di ledek setelahnya buat Lamia kesel di pagi hari.
"Lu itu ya….. Muji sih Muji gak pake ngejek juga!." Buakkk tinju mau menghantam pipi kiri Lace.
"Sakit woy!" yang di tinju gak terima memang salah dia sendiri sih.
"gak peduli hufft." Lamia balikin badang dab menyilangkan tangannya di dada.
"ya udah gue berangkat." Sebelum keluar rumah dia di hentikan sama Lace.
"hei Lam sini bentar ada yang mau gue bisikin." Dengan rayuan halus Lamia nurutin Lace dan nuggu apa yang mau di bisikin ke dia.
'Dasar siluman gunung' setelah bisikin itu dan di kecup pipi kiri Lamia, yah biasa sih bagi lace mah cyma sekedar cipika cipiki doang.
"Buahahahaha." Lace langsung ngaprit ke dapur biar gak di hajar sama Lamia karena ngeldekin dia Siluman gunung.
Yang di kecup masih membeku gak sadarkan diri dengan wajah kayak tomat merah.
"Ya tuhannnnn…. Tadi itu apaaaaaaa!" batin lamia masoh shock tapi pura pura kalem.
"Awas lu ya Lace gue hajar lu kalo ketangkep nanti." Tangannya bergumpal force Aqua yang siap menghancurkan apapun.
Tak lama setelah sarapan dan sebagainya Lace ingin ngambil misi namun niatnya itu terhenti ketika Mini komputer di lengannya berbunyi.
"Halo ini Lace Lachrymose maaf ini siapa yang menelpon?" Tanya lace dan orang di ujung sana belum menjawab.
"Ini Bibi Amethyst bisa kamu datang ke tempat bibi, bibi tunggu 15 menit." Setelah itu telfon di matikan
"What the hell, et dah 15 menit di tunggu ada apa ini?" Lace bingung gak biasa-biasanya ada kejadian begini.
-15 menit kemudian.-
"haah… bibi apa-apaan sih maksa aku dateng dalam waktu 15 menit,haah… lagian jauh tau kesini bi." Ucap Lace kelelahan karena lari secepatnya ia sampai.
"14 menit 15 detik, lumayan cukup cepat dari yang ku kira, yep pemanasannya sudah cukup, Mulai saat ini kamu dibawah pengawasan ku." Ucap Amethyst sambil menulis data-data.
"HAAAH!? Maksud bibi apaan?" Lace makin bingung dengan Bibinya ini.
"Aku akan melatih mu, ini janji ku dengan Relvian, dan siapkan senjatamu kita akan sparing 10 menit lagi, bibi ke belakang sebentar." Meninggalkan Lace dengan keadaan bingung Lace masih dengan keadaan cengo masih gak ngerti.
Masih keadaan bingung pundaknya di tepuk oleh seseorang.
"Oi nyet." Ucap pria itu.
"Hah.. oh elu dzof ada apaan." Tanya Lace ke dzofi yang ngampirinya.
"Nih staff lu udah jadi, tapi gue gak bisa 100% ngubah formasi forcenya jadi Bellato masih ada bentuk formasi force cora di dalamnya, sorry gak sempurna entar duit nya gue balikin seperempat." Ucap Dzofi agak kecewa dengan hasil craftingnya sebenernya gak 100% crafting yang bener remodel aja sih.
"Alah duit sedikit gak perlu lu balikin, gue liat ini bisa di pake jadi thanks yak." Lace ngambil Elven Staff ibunya yang mengkilat, staff emas dengan di ujung tongkat berwarna pelangi dan ornamen-ornamen lain.
"gue rasa itu gak bener bener bisa ngehasilin force yang stabil, cuz di dalamnya masih ada formasi force Cora, gue takut pas di pake malah ngelukain diri sendiri karena lu tau kan force Cora sama force Bellato bentuknya berbeda." Jelas Dzofi tentang definisi Staff.
"ah gue gak terlalu peduli, dan gue juga gak begitu ngerti tentang spiritualis, intinya bisa di pake yaudah, yowes dzof gue mau lanjut urusan sama bibi, balik bengkel sono lu." Lace ngusir Dzofi.
"gak perlu lu omongin gue juga tau, ya udah tunggu aje itu Spearnya gue benerin." Lalu Dzofi meninggalkan Lace dan kembali ke bengkelnya.
-setelah itu-
"tunggu bi kalo kita mau sparing terus itu paman Shin, bibi Hestia, Mama Tsukiumi sama paman Rogue ngapain disini?" Lace makin bingung dengan keadaan yang ada.
"ohh itu buat jaga-jaga aja dan buat melihat seberapa kemampuan mu." Amethyst udah siap untuk duel dengan Lace.
"keluarkan senjata mu Lace, bibi akan serius menghadapi mu." Amethyst menyuruh Lace dengan keras dan Lace nurut aja.
"well kalo bibi gak nahan diri, aku juga akan bertarung serius." Lace mengambill busurnya dan menaruh peluru Beam di paha kanan.
"Hee busur yang bagus, ayo mulai Lace!" Amethsyt membuka serangan dengan menerjang Lace dengan cepat tendangan memutar menajdi pembuka serangan.
Karena belum terlalu siap pipi kiri Lace sedikit terkena tendangan yang begitu cepat.
"Amethsyt gak ada ampun banget yak, udah lama gak liat dia begitu." Shin melihat serangan tadi dia mengingat masa-masa dulu.
"nah pertandinagn baru aja di mulai." Tsukiumi masih tenang dan meliaht jalannya duel.
Masih mendominasi serangan Tinjuan dan tendangan Amethsyt gak membiarkan Lace menggunakan busur
"Shadow step!" Lace mencoba kabur dari serangan untuk mencari jarak efisien untuk menyerang.
"Naif Lace, Shadow Step!" Amethyst menggunakan skill yang sama seperti Lace dan kecepatannya lebih dari Lace, membuat ia benar benar menghilang dari pandangan.
"A..apa" Kerah baju lace di tarik lalu ia di banting Oleh Amethyst.
"Auchh.." Ucap para penonton bebarengan.
"Awww… bibi bagaimana bisa menggunakan skill itu." Lace masih terheran dengan apa yang ia lihat barusan.
"Kalo kamu tanya bagaimana, akulah yang menyempurnakan skill itu, Relvian memang yang menciptakan skill itu, namun aku yang menyempurnakannya, jika kau mengguankan skill itu sama saja kau menunjukan sulap di depan pesulap." Amethyst masih menatap Lace dingin seperti ingin membunuh.
Karena bantingan tadi lace dapat menjauh dari amethyst dan mendapat spot untuk menembak.
"Fast shoot" tembakan yang cepat mengarah ke Amethyst namun dengan mudah amethyst menghindari itu , ia hanya bergerak ke arah kiri dan kepala sedikit di miringkan.
"Gak buruk, tapi Cuma segitu kemampuan menembak mu? Menyedihkan." Di provokasi oleh amethyst Lace menjadi sedikit terpicu. (AN Dia triggered Boys)
Lace menarik nafas dan mengalirkan force di tangan kanannya dan membuat anak panah dari force.
"Haah… Force Arrow" Lace menembakan panah force dan mengarah ke amethyst, amethyst cukup kaget karena force arrow itu sangat cepat kalo dia selip sedikit habislah nyawanya.
"Arc Shoot!" 5 panah di tembakan secara bebarengan dan menembakan secara acak.
Amethyst dia menghidnari panah panah itu menggunakan shadow step dan terkadang menggunakan back slide, back slide sendiri adalah gerakan lanjutan dari shadow step.
Kini Lace mendominasi serangan dan Amethsyt mulai terpojok.
"Force arrow ya, lu yang mengajarinya Tsuki?" Tanya Hestia dan di tanya hanya menggeleng.
"Gak gue gak pernah ngajarin skill itu, mungkin Rogue." Dan kini tsuki ngelmpar pertanyaan itu ke Rogue.
"Haah? Aku mana ada skill itu, mungkin dia belajar sendiri." Rogue yang menjadi korban pertanyaan mengelak dari tuduhan yang ada.
"Mempelajari skill tingkat tinggi yang notabene skill master, gue gak tau mau ngomong apaan, emang Si Lace bener bener calon mantu yang Pas buat Rina." Shin mangut mangut dan gosok gosok dagunya.
"Oi oi oi gak bisa gitu, Lace itu buat Lamia." Kini Rogue yang triggered dengan ucapan Shin.
"Oi kalian bisakah kalian tenang kita masih harus fokus dengan duel ini." Tsukiumi melerai mereka berdua.
"Haah ku kira aku gak bakal menggunakan ini." Amethyst melompat menghindari panah force dan mengeluarkan senjatanya.
Bang Bang Bang Suara peluru menghancurkan panah panah force itu.
"Itu…." Lace terkejut dengan senjata yang digunakan Amethyst.
"Ya Ini Relic Weapon Double Hitter, tapi tenang aku gak menggunakan peluru dengan kaliber besar namun, cukup kok buat kamu koma kalo kena terlalu banyak" dengan senyum yang dilontarkan makin membuat lace merinding.
'Aku berhadapan dengan monster' batin lace
Bang bang bang bang double hitter di tembakan secara beruntun ke arah lace dan membuatnya makin terpojok.
"Kau terus menghindar tanpa menyerang kau benar benar akan mati kalo begini terus, bisa serius gak sih." Amethys dari tadi menembakan pluru pluru panas ke lace tanpa henti dan sedari tadi Amethyst tidak menarik recoil dari double hitter itu.
"Apa hanya perasaan ku, dari tadi bibi tidak recoil sama sekali reload pun tidak terlihat." Lace masih mengamati Amethyst.
"Kelebihan Double hitter sendiri dia mempunyai Auto Recoli dan cukup sekali memasukan peluru sekaligus banyak kau tidak perlu Reload, di pertarungan asli ini sangat membantu, kelemahan ranger adalah saat dia reload pluru mereka dan peluru habis." Amethyst masih menunjukan double Hitternya dan menunjukan kuatnya senjata miliknya.
"Ahh senjata mengerikan." Lace mengganti Busur dan mengambil dagger yang ada di tasnya.
"Kalo gak bisa jarak jauh bagaimana kalo begini."Lace mngakselerasi larinya menggunkan shadow step untuk menyereang amethyst dari jarak dekat, Dagger putih dengan corak hitam dengan ornamen unik menunjukan betapa bahayanya senajta itu.
"Beratrung jarak dekat, menarik." Gerakan Lace terbaca oleh Amethyst sebelum sempat membackstab Amethyst melakukan tendangan roundhouse, sontak saja membuat lace kaget dan yang terjadi kepala Lace terkena serangan langsung.
"Sejujurnya aku sedikit kagum dengan apayang kau lakukan, namun milhat mu seperti ini, lebih baik kau tidak dilahirkan, lemah dan juga tak berdaya, apakah kau gak merasa malu dengan nama mu." Ucapan tajam itu sangat menusuk hati dan Lace mendengar itu semua ia masih belum bisa 100% sadar dan semua menajdi bayang bayang
'Apakah aku memang selemah itu?' fikirnya.
"Oi me gak seharunya lu bilang gitu, ketelaluan banget." Hestia sedikit marah dengan ucapan amethyst yang agak kasar menurutnya.
"Lebih baik kalian diam dan biarkan aku menyelsaikan duel ini." Amethyst kesal, lebih tepatnya kecewa mungkin.
'Lihat betapa lemahnya dirimu' ucap seorang yang tidak dikenal.
"Gue..Apakah gue selmah ini" lace merasa dirinya tenggelam di dalam air yang dalam.
"Gelap dan dingin." Ucapnya melihat keadaan sekitarnya.
"Apakah kau ingin kekuatan untuk bertahan ataukah kau ingin kekuatan yang dapat menghancurkan segalanya? Atau kau ingin keduanya?" ucap suara itu.
"Gua…gua Cuma pengen kekuatan untuk ngelindungi apa yang gue punya." Ucap Lace masih keadaan lemah.
"Naif..namun kau kesini untuk kedua kalinya aku akan memberimu kekuatan dan terimalah" Aura Gelap mulai masuk ke dada Lace membuat sekujur tubuhnya menjadi bayangan hitam keunguan.
"Dengan ini Force mu ku bangkitkan." Ucap suara itud an menghilang.
Masih dengan keadaan pingsan Amethyst memandangi tubuh Lace yang tak berdaya.
Lalu badan Lace tiba-tiba di banjiri bayangan Hitam.
"jangan bilang ini…" Ucap amethyst tertahan
To Be Continued.
Halo Fanfic apa kabar… astaga berapa lama gue hiatus? Dan berapa lama ini fanic gak kerus.
Yah karena beberapa kendala baru kali ini gue baru bisa nulis lagi, dan juga banyak kendala pikiran membuat otak gue stuck
Yuk sedikit kita bahas tentang chapter ini.
Double Hitter milik Amethyst kalo di Game Relic LvL 55 yang setara dengan Elven weapon
Yep dan disini dia make 3000 peluru jadi gak perlu Reload dan juga karena Double hitter memiliki autp recoil bisa dibilang senjata yang nembak sampe peluru abis.
Namun kalo udah overheat mau gak mau harus berhenti beberapa waktu.
Dagger Milik Lace nanti di bahas di chapter selanjutnya dan Siapa yang berkomunikasi di alam bawah sadar Lace?
Kalian udah tau di chapter pas lawan lak jow nah itu orang yang ngobrol sama Lace.
Untuk Cora sendiri bisa kalian liat sifat sifat characternya bagaimana.
Di sini gue buat Ara jadi ibu yang baik tapi keras gak keras sih namun disipilin, nah kalo untuk si Rea dia merasa gak peduli akannamanya Penerus keluarga atau yang sebagainya
Mungkin sifat bawaan dari bapaknya yang gak terlalu senang di keadaan terkekang,
Nah untuk menunjukan apakah Rea udah pantas untuk jadi pnereus nama keluarga dia notabene kudu kelar lah itu test yep test Warrior festival karena Keluarga Haam adalah keluarga pemakai Spear yang pasti adalah keluarga warriror.
Ntar pasti gue ceritain kok jalan ceritanya semenarik mungkin, dan kayaknya gue masih berjalan peerlahan di plot ini gue takut salah dan merusak polt yang akan datang.
Mungkin segini aja yang bisa gue omongin thanks for read support guys
See you next chapter
Quotes : "Yang berlalu biarlah berlalu, saat ini kau harus jalani yang sekarang kan" Ara Haan Chapter 17
