Mature content ‼️
Don't like , Don't Read ❗️
Happy reading , have a nice day and stay healthy everyone ❤️
Pada awal kehidupannya, hal pertama yang ada diIngatan Seokjin adalah Tuannya yang pertama, seorang pria dewasa lengkap dengan pakaian necis yang hanya bisa dilihat Seokjin di Tv tua keluarga mereka, datang ke rumah orang tuanya yang sudah bagaikan sebuah gubuk tua dengan banyak padang ilalang mengelilingi.
Datang untuk membelinya dari kedua orang tuanya.
Seokjin tidak dapat mengingat wajah dari ayah dan Ibunya sendiri, mungkin karena trauma masa kecil yang ia alami membuat dirinya melupakan kedua orang yang membuatnya hadir di dunia yang bagaikan neraka ini.
kemudian ia habiskan masa kanak-kanaknya di sebuah tempat pelelangan 'boneka' yang bisa dibilang cukup kecil dibandingkan tempat pelelangan lainnya di Gwacheon ,kota tempat ia lahir. Meskipun sudah di beli dirinya masih harus melakukan pelatihan seperti 'boneka-boneka' lainnya.
Selama 3 bulan penuh ia diajarkan cara untuk melayani tuannya oleh seorang mucikari terkenal asal Seoul yang hanya menjual 'boneka-boneka' terbaik di Korea karena tuannya saat itu hanya menginginkan yang terbaik untuk kepuasan dirinya.
Wanita itu terkenal dengan nama 'madam', semua orang memanggilnya begitu.
Saat pelatihan ia di ajarkan bagaimana caranya berdandan, berpakaian yang layak, bagaimana caranya makan dengan tuannya, bahkan bagaimana cara memuaskan tuannya yang akhirnya membuatnya amat terkenal di kalangan para boneka karena kemampuan serta fisiknya yang di atas rata-rata
Madam menyebutnya 'The diamond in a rough' saat ia pertama kali datang ketempat pelatihan sebelum semua orang kemudian memanggilnya 'the perfection'
Setelah menurut madam ia lulus dari pelatihan, barulah ia di boyong oleh tuannya kesebuah rumah raksasa yang ada di tengah Seoul, tuan pertamanya ini adalah seorang politikus yang amat rakus sehingga masyarakat terpaksa untuk terus memilihnya.
Soekjin sebagai mainan paling muda dan paling tidak berpengalaman milik tuannya kemudian menjadi sebuah trofi yang selalu di boyong kemana pun dengan pakaian yang sangat minim dan tipis menunjukkan seluruh aset tubuhnya kepada dunia.
Dengan jelas tuannya ingin menunjukkan seluruh mainan yang dimilikinya kepada semua orang untuk menunjukkan kekuasaan yang bukan hanya di bidang politik dan pengaruh melainkan juga bagaimana kekayaannya mempengaruhi kehidupannya.
Seumur hidupnya seokjin tidak pernah tau kehidupan yang layaknya manusia normal itu seperti apa , ia tidak tau apakah yang ia lakukan ini adalah hal yang benar atau tidak . Satu hal yang ia tau bahwa ia masih bisa hidup, bernafas dan makan serta terus melanjutkan hidupnya bagaikan sebuah benda.
Sejujurnya ia merasa sedikit kasihan dengan boneka lain milik tuannya yang pertama karena ia tau bahwa mereka akan disksa hanya untuk kesenangan semata, meskipun begitu mereka tidak pernah memperlakukan seokjin dengan ketidakadilan meskipun perbedaan perilaku yang ia terima dari tuannya.
Saat itu ia baru berusia 14 tahun.
Hingga dua tahun kemudian mulai di sentuh oleh tuannya layaknya boneka yang lain, Seokjin tau waktu kejayaannya dirumah itu akan segera berakhir dengan kemungkinan besar tuannya akan membawa mainan baru kerumah itu.
Namun belum mereka mencapai tahap yang lebih intim tuannya menjual Seokjin kepada madam agar ia mendapatkan tuan baru.
Dari yang ia ketahui dari 'boneka' lainnya bahwa tuannya gagal mendapatkan kursi hangat di salah satu kursi parlemen sehingga ia mulai menjual aset-asetnya, termasuk Seokjin.
Tidak lama, karena Seokjin sendiri sudah terkenal di kalangan boneka sebagai sebuah porcelain yang amat berharga, ia kembali terjual dengan harga lelang yang sangat tinggi.
85 juta won untuk harga lelangnya.
Madam tentunya sangat bangga dengan dirinya karena ia tidak merasa rugi telah membeli Seokjin cukup mahal kepada tuannya yang lama.
Ia terjual kepada seorang pria muda yang menguasai bisnis narkoba, sayangnya ia salah satu orang yang ikut mencoba obat-obatan terlarang itu.
Pria itu memang sudah beberapa kali mencoba menawar Seokjin pada tuannya yang pertama namun di tolak, padahal pria itu memiliki reputasi yang cukup baik karena tidak pernah memiliki boneka.
Hingga Seokjin menjadi boneka pertama dan terakhir yang dimiliki oleh Tuannya yang kedua.
Seokjin memang menjadi satu-satunya mainan yang dimiliki tuan keduanya namun bukan berarti hidupnya bahagia.
Selama menjadi boneka dari tuannya ia sering sekali di gunakan bergiliran dengan kolega bisnis milik tuannya itu, belum lagi perlakuan kasar yang diterimanya membuat Seokjin amat trauma namun tidak ada yang dapat ia lakukan selain menerima takdirnya.
Tidak bertahan lama waktu hidup tuannya tergerogoti oleh obat-obatan yang orang itu konsumsi.
Seokjin ingat dengan jelas malam di mana tuannya hampir saja menghabisi hidup Seokjin namun berakhir dengan peluru yang menancap di kepalanya sendiri karena pengaruh obat-obatan itu.
Sebagai satu-satu nya orang yang memiliki hubungan dengan tuan keduanya itu, ia mendapatkan sedikit harta warisan.
Sebuah choker berbahan kain lembut dengan bordiran yang cantik berwarna putih tidak lupa sebuah bandul emas berbentuk bulat dengan bintik-bintik permata di dalamnya.
Seokjin yakin choker itu bisa seharga setengah harga jual dirinya.
Tuannya yang kedua memang seorang pemuda tampan dan kaya sebagai penguasa sektor pbat-obatan namun ia tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah bersama Seokjin tanpa satu pun pelayan, tidak seperti tuannya yang sebelumnya.
Meskipun ia mendapatkan perlakuan yang kasar, tuannya selalu akan memanjakan dirinya bila ia memiliki mood yang bagus, memijat tubuhnya, memberinya banyak hadiah, serta kegiatan intimmereka yang sangat lembut hingga Seokjin terlena.
Ia sedikit menyayangkan dengan hal yang menimpa tuannya yang kedua dan memutuskan untuk mengenakan hadiah terakhir dari tuannya itu. Namun tidak hingga sekarang.
Itu semua terjadi saat ia sudah 23 tahun.
Kemudian ia kembali ke pelelangan, namun madam yang tau kisah hidupnya yang cukup tragis membiarkannya untuk tidak terpajang sepanjang hari sambil menunggu penawar tertinggi, tapi tidak harga yang memuaskan madam.
Akhirnya madam membawanya ke pelelangan tahunan yang kali ini diadakan di Seoul, pelelangan boneka terbesar yang pernah ada.
Pelelangan yang hanya diadakan 1 kali dalam setahun ini merupakan pelelangan bergengsi.
Hanya boneka-boneka terpilih yang dijual tiap tahunnya dan seluruh boneka yang dijual disana memiliki garansi akan terbeli oleh orang-orang paling berpengaruh yang pernah ada.
Akhirnya ia terbeli oleh seorang mafia yang cukup terkenal di dunia hitam, seorang pedagang organ serta tuan rumah tempat perdagangan lelang mereka.
Belum sempat masuk acara inti yaitu acara display, Seokjin sudah di tawar dengan harga yang sangat tinggi.
180 juta won, harga termahal yang dimiliki sebuah boneka, karena boneka biasa bisa terjual dengan harga dibawah 15 juta won.
Tuannya yang ketiga adalah pria tua yang amat tamak, tubuhnya tambun dengan gigi emas yang terlihat sangat aneh itu.
Rumah milik tuannya yang ke tiga belapiskan emas murni yang mengelilingi dindingnya yang bahkan dari kejauhan orang-oarang bisa melihat.
Selama tinggal dengan tuannya yang ketiga ia dijadikan pajangan yang inda, bagaikan patung.
Ia setiap hari akan di berikan perawatan, sebelum di 'taruh' diruang kerja tuannya hanya untuk dipandangi.
Tuannya jarang sekali menyentuhnya, ia benar-benar bagaikan patung yang di kagumi oleh tuannya.
Seokjin mulai sadar bahwa rumah tuannya yang berlapiskan emas itu mulai luntur karena kurangnya perawatan.
Satu persatu pelayan berkurang dan bonek-boneka lainnya mulai menghilang dari rumah raksasa itu.
Disitulah Seokjin sadar bahwa tuannya mulai bangkrut.
Seokjin sadar bahwa ia akan dijual kembali sekarang, ia memutuskan untuk berlatih gitar yang di belikan oleh tuannya beberapa bulan lalu.
Lebih baik ia menunggu untuk ditawar sambil melakukan sesuatu.
Sebelum ketukan dari seorang pelayan membuatnya terlepas dari lamunan.
"Ada apa ?"
"Tuan Besar memanggil anda ke ruangannya Boneka Seokjin"
Seokjin hanya mengangguk sebelum menghadap ke hadapan tuannya.
Yang ia harapkan adalah tuannya yang gempal itu akan duduk di kursi besarya dengan sebuah cigar menempel bibirnya.
Namun ia dapat melihat tuannya terikat di lantai dengan bercak darah di bajunya.
Ada seorang pamuda yang amat tampan duduk di kursi tuannya, sementara 3 pemuda tampan lainnya ada di sofa ruangan itu.
Kemudian 2 orang yang tidak kalah tampannya menginjak tubuh tuannya dengan salah satunya menodongkan pistol tepat di kening sang tuan.
Entah mengapa tatapan mereka membuat Seokjin segera menyimpuhkan dirinya di lantai.
"Kau Seokjin ?", pemuda yang duduk di kursi tuannya itu bertanya.
"Iya Tuan"
"Seokjin yang cantik, Tuan Besar mu telah meminjam uang yang sangat banyak kepada kami-" pemuda itu kemudian berdiri berjalan menghampirinya.
Mulut Seokjin terkatup rapat , matanya menunduk menatap lantai yang memiliki bercak darah itu.
"-Setelah kami tagih tuan mu mengatakan bahwa Seokjin tau dimana benda paling berharga milik tuan berada"
Mendengar itu mata Seokjin membelalak karena ia benar-benar tidak tau dimana benda yang di maksud itu berada.
Ia melirik kepada tuannya yang mulutnya terikat sehingga hanya gerakan matanya yang bisa Seokjin lihat.
Dan Tuannya menatapnya sangat dalam.
"Jadi berkenan memberitahuku dimana benda itu ?" Pemuda tampan itu sekarang tersenyum menampilkan lesung pipi yang amat dalam , sembari manrik dagunya hingga mata mereka beratatapan.
"Aku lah benda paling berharga itu" , pemuda tampan itu berdecak kagum sebelum mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, Hobi, tolong selesaikan" , pemuda tampan lainnya yang tadi mengarahkan pistol kemudian menekan pelatuk ke kepala tuannya.
Seokjin melihat hal tersebut dengan amat jelas , tubuh tuannya yang terus menerus mengeluarkan darah.
Pemuda tampan lainnya kemudian mulai mendekatinya, sementara pemuda berlesung pipi itu mengangkat tubuh hingga berada di gendongan hangatnya.
Pemuda itu kemudian mendekatkan mulutnya untuk berbisik.
"Selamat datang di WINGS Seokjin, atau namamu sekarang Bangtan Jin"
Saat itulah dunianya berubah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
So , Yay or Nay ?
