Teikō chugakkō, suatu sore.
Gym telah kosong dari anak-anak yang mengikuti latihan rutin klub olahraga basket. Menyisakan beberapa orang dari tim inti yang tengah bercakap.
"Midorimacchi apa tidak berat bawa-bawa benda itu-ssu?" Seorang bersurai pirang, yang memiliki wajah tampan sekaligus cantik itu, Kise Ryouta tengah menunjuk koper yang temannya bawa.
"Tidak, Kise. Ini lucky item-ku hari ini-nanodayo." Seorang yang berkacamata, Midorima Shintaro menjawab dengan enggan.
"Iya tahu," Kise mengerucutkan bibir. Sebal dengan Midorima, "Aku kangen Murasakibaracchi, Aominecchi, dan Kurokocchi-ssu. Latihan sepi sekali kalau hanya kita berdua-ssu."
Midorima mendelik galak. Kise yang tidak menyadari kode darinya masih saja mengeluh tidak jelas. Maka dari itu, Midorima terpaksa menendang teman satu timnya itu.
"Sakit-ssu!"
"Baka-kise!" Umat Midorima sambil berbisik. Matanya masih melirik awas ke arah sang kapten yang sedang berjalan di sisi lain lapangan basket.
"Ada apa sih-ssu?!" Kise tambah cemberut. Tapi kali ini, ia mengikuti arah pandangan Midorima, dan terkejut mendapati seseorang yang teman kacamatanya itu maksudkan, "Huaaa, Akashicchi masih disini-ssu!!"
Midorima menepuk dahinya. Kise memang tidak akan mengerti kalau tidak dijelaskan secara gamblang. Ah, tidak, ralat. Kise terkadang bahkan tidak juga mengerti meski sudah dijelaskan secara detail. Lelah Midorima berteman dengan orang sepertinya. Alasan Midorima masih mau berteman dengan Seorang model berisik-kekanakan yang punya jutaan fans merepotkan itu adalah, Kise bisa dipercaya, dan Midorima percaya sepenuhnya.
Benar saja, akibat teriakan nyaring Kise, sosok berambut merah itu menoleh, dan kini berjalan ke arah mereka. Meski Akashi berjalan dengan tenang seperti biasa, tapi jantung Kise serta Midorima sudah berdebar tidak karuan, rasanya seperti seekor singa akan mengoyak mereka hidup-hidup.
"Ryouta, Shintarou." Akashi memanggil dengan suara pelan. Membuat keduanya menggigil, "Kenapa kalian belum pulang?"
"Iya ini mau pulang, kok, Akashicchi! Aku sedang menunggui Midorimacchi membereskan kopernya! Midorimacchi ayo pulang, nanti neecchi dan neechanku mencariku."
Kise menyikut Midorima, menyadarkan temannya dari tatapan horor, "I-iya nanodayo. Ayo pulang. Kami pulang dulu, Akashi."
Sebagai jawaban, Akashi mengangguk. Menatap dua punggung rekannya itu hingga hilang dari balik pintu gym.
Bocah bersurai merah itu menghela napas, namun, tidak ada rasa kecewa dari sana. Setelah memastikan semua peralatan disimpan di gudang dan semua pemain telah pulang, Akashi meninggalkan ruangan besar itu. Tak lupa mematikan lampu dan segala alat listrik, juga mengunci gym dengan gembok dan memastikan gedung itu kini terkunci rapat. Akashi yang bertanggung jawab, maka ia akan selalu melaksanakan tugasnya dengan baik.
Sekolah sudah sepi. Kegiatan ekstrakulikuler telah selesai. Lapangan dan jogging track yang biasa digunakan anak-anak atletik dan sepakbola telah kosong, hanya meninggalkan debu-debu yang beterbangan. Begitu pula gedung utama dengan koridor yang amat lengang. Ketika Akashi mengembalikan kunci gym ke ruang guru, ia bahkan tidak berpapasan dengan seorang pun. Suara langkah kakinya yang menggema di lorong gedung menjadi alunan musik yang dia suka. Akashi merasa, gema langkah di lorong adalah suara sebuah keagungan--dan keangkuhan yang tak terbantahkan.
Cukup lama Akashi menikmati kesendirian itu. Hingga, ketika satu langkah dia keluar dari gedung utama sekolah, untuk pertama kali dalam berbulan-bulan lamanya, Akashi terkejut.
Biasanya, segala hal telah diperhitungkan dengan baik oleh penyandang nama Seijuro itu, hingga hampir tidak ada hal yang bisa membuat Akashi terkejut. Apalagi, sudah menjadi rahasia umum bahwa Akashi memiliki kemampuan itu. Hampir mustahil membuat seorang Akashi Seijuro terkejut.
Tapi tidak untuk sekarang.
Akashi amat-amat terkejut, hingga ia bahkan menampar pipinya sendiri, berharap semua yang dia lihat hanyalah ilusi.
"Halo, Seijuro."
Akashi tersedak salivanya sendiri.
"Ada apa dengan tatapan itu, Seijuro?"
Netra heterokromia melebar. Ketika dia membuka mulut untuk berkata, sosok itu lebih dahulu menyela.
"Tentu saja aku Akashi Seijuro. Siapa lagi?"
Akashi tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak menganga. Alisnya mengernyit, bertaut karena kebingungan. Yang kemudian terucap di bibirnya adalah sebuah decihan.
"Yang benar saja. Siapa pun kau, peniru, enyahlah."
Tidak ada yang boleh membantah Seijuro, bahkan bila itu adalah sosok yang serupa dengannya.
"Hei hei, jangan terburu-buru kawan--"
"Aku bukan kawanmu," Mendadak, Akashi teringat akan hal penting, "aku tidak butuh kawan, apalagi peniru sepertimu."
Yang tidak Akashi duga adalah reaksi sosok itu. Dia tertawa--terbahak. Membuat Akashi sendiri mengernyit, seolah melihat dirinya sendiri tengah terbahak, dan itu tidak cocok dilihat dari segi mana pun.
"Astaga diriku, kau benar-benar memiliki aura raja yang agung. Hm, begini saja. Karena kau tidak mungkin mendengar penjelasanku, aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan."
Akashi masih memikirkan makna kata "diriku" yang sosok itu ucapkan, tapi sosok itu sudah kembali berbicara.
"Aku hanya harus menyampaikan pesan pada diriku, Akashi Seijuro. Perbaiki semuanya, atau di masa depan, semua akan meninggalkanmu."
Tanpa membiarkan Akashi berpikir barang sejenak, sosok itu perlahan memutar. Wujudnya menjadi transparan bak kaca, sebelum kemudian berhambur layaknya debu yang diembuskan angin musim gugur. Akashi masih tertegun di tempat. Kakinya seolah terpaku ke dalam bumi, enggan bergerak, sementara angannya berkelana tak tentu arah.
"Tadi itu... Apa?"
️️️
