Teikō chugakkō, hari sekolah.
Ada yang tidak biasa pada Akashi Seijuro, setidaknya itu yang Momoi Satsuki, gadis bersurai merah muda itu pikirkan.
Sebagai teman satu kelas sekaligus manajer tim basket selama tiga tahun, Momoi merasa sudah mengenal Akashi dengan cukup baik hingga menyadari kehadiran pemuda itu.
"Akashi-kun, kau tidak apa-apa?"
Untuk ketiga kalinya, Momoi mengagetkan Akashi yang tenggelam dalam lamunan.
"Tidak." Netral heterokromia mengerjap, kembali menajam menatap pertandingan latihan di depannya. "Aku tidak apa-apa. Kau, fokuslah pada tugasmu."
Momoi tidak membantah. Gadis itu kembali sibuk mendata permainan dan kemampuan tiap-tiap pemain. Memperhatikan Kise yang berteriak-teriak tidak kelas sambil sesekali melambaikan pada fans yang menonton di tribun gym, mencatat perolehan skor three point Midorima yang mustahil meleset, serta blok dari Murasakibara yang tidak membiarkan satu bola pun menyentuh ring pihaknya. Gadis itu tersenyum tipis. Meski sebagian dari kehangatan telah hilang, setidaknya mereka tidak berhenti berteman.
Tunggu, Momoi meralat ucapannya di dalam hati, setidaknya beberapa di antara mereka tidak berhenti berteman, dan itu lebih dari cukup.
Momoi sekali lagi melirik ke arah Akashi. Dan mendapati sang kapten kembali melamun. Wajahnya memang mengarah ke lapangan, namun pandangannya menerawang. Sudah Momoi duga, ada yang salah dengan Akashi hari ini. Tidak terhitung berapa kali gadis itu mendapati sang kapten melamun di kelas, tidak memperhatikan penjelasan guru, bahkan memalingkan wajah menghadap ke luar jendela hingga mendapat teguran. Ada yang salah dengan Akashi, tapi Momoi tidak lagi memiliki keberanian untuk sekadar menawarkan diri menjadi teman berbagi. Tidak karena kondisi mereka sekarang ini.
Momoi melirik jam di tangan kanannya. Lantas meniup peluit yang tergantung di leher, latihan hari ini cukup.
"Akashi-kun, kau tidak--"
"Satsuki," Perkataannya dipotong, Momoi menelan ludah kala iris merah-emas itu menghujam menatapnya, "Kau percaya doppelganger itu nyata?"
Momoi memiringkan kepalanya, "Etto ... Doppelganger itu apa?"
"Doppelganger adalah--"
"Ah, iya! Aku ingat!" Momoi tidak sadar dia memotong perkataan Akashi, hingga yang bersangkutan menatapnya tajam, "doppelganger itu kan, seseorang yang sama seperti kita dari dimensi lain itu, kan?"
Akashi mengangguk, "Benar. Apa menurutmu, hal seperti itu nyata?"
Momoi menggaruk dagunya dengan jari telunjuk sambil meringis, "Entahlah, Akashi-kun. Segala hal bisa terjadi di dunia ini. Bisa saja memang ada 'kembaran' kita di suatu tempat di dunia ini. Eh, memangnya kenapa Akashi-kun bertanya tentang itu?"
Akashi membuang napas.
"Kau begitu, kemarin aku bertemu doppelganger-ku."
Itu adalah jawaban paling tidak logis yang pernah seorang Akashi Seijuro katakan.
"E-EEEHH?! "
️️️
