Hidup bersama Bangtan tidak akan pernah mudah.

Bahkan setelah beberapa bulan ia hidup dengan ke enam pemuda itu.

Ia tetap tidak bisa membiasakan dirinya dengan segala stigma yang ada di dalam keenam pemuda itu.

Segala perhatian yang mereka curahkan, darah yang mereka teteskan, serta segala ancaman yang mereka hadapi.

Jika kalian bertanya apa yang membuat Bangtan menjadikan Seokjin salah satu anggota mereka, maka Seokjin sendiri tidak akan bisa menjawabnya.

Untuk dijadikan pemuas nafsu ? Agak tidak masuk akal mengingat para malaikat pencabut nyawa itu sangat menggairahkan.

Teman ? Mereka sudah memulai bisnis ini bersama-sama pastinya hubungan mereka lebih erat dibandingkan apa yang bisa Seokjin tawarkan nantinya.

Uang ? Ini alasan yang paling tidak memungkinkan.

Jadi kesimpulannya adalah Seokjin meragukan posisi dirinya diantara para serigala kelaparan itu.

Setelah ia mendapatkan malam penyambutan untuk dirinya sendiri anggota Bangtan jadi lebih berani untuk menyentuhnya, meskipun masih dalam tahap yang wajar.

Mereka belum memasuki hubungan yang lebih intim.

Tapi Seokjin sudah lebih mengerti dinamika yang dijalankan oleh masing-masing member.

Dibalik segala perhatian yang mereka curahkan, Seokjin tau ada sisi dimana mereka tidak ingin Seokjin melihat keadan mereka, tapi saat disisi itu lah mereka sangat membutuhkan Seokjin.

Hari dimana ia mendapatkan tato pertamanya.

Hari dimana ia akhirnya mengerti peran apa yang ia miliki untuk Bangtan.

Tato yang berada di sekeliling jari manis tangan kirinya, bentuknya mahkota, yang menyatakan statusnya serta tato lambang Bangtan di bahu kanannya.

Kedua tato yang memang dimiliki setiap member itu yang artinya mereka akan bersumpah setia kepada Bangtan dan mereka tidak akan berani melanggarnya hingga akhir hayat mereka.

Ia ingat hari itu.

Namjoon pulang ke Mansion mereka dengan wajah pias dan tangan penuh darah, yang Seokjin tidak tau darah milik siapa.

Ia masuk ke meja makan dimana Seokjin dan yang lainnya bersiap untuk makan malam.

Dan itu adalah kali pertama Namjoon bersimbah darah dihadapan Seokjin.

Karena ada peraturan tidak tertulis bahwa mereka tidak ingin menunjukkan sisi buas mereka dihadapan Seokjin.

Para member WINGS yang menjadi pengawal di Mansion mereka pun seluruhnya langsung bergerak menyiapkan berbagai senjata layaknya bersiap untuk perang.

"They kept him" , Suara namjoon terdengar serak berbisik pelan seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Kesimpulan yang Seokjin dapatkan adalah pria yang menjadi anak buah Namjoon malah berbalik menghianati mereka dengan melakukan penyerangan dan Taehyung ditangkap.

Karena tadi siang Namjoon dan Taehyung izin untuk pergi berpatroli di dermaga namun hanya dengan beberapa anggota, sebab mereka berfikir bahwa hari itu hanya akan menjadi patroli biasa bukan penyergapan berencana.

Yoongi langsung bereaksi, bergegas keluar ruangan dengan Hoseok yang menyusul.

Namjoon duduk disalah satu kursi masih dengan keadaan syok.

Seokjin kemudian duduk disamping pemuda itu dan memeluknya dengan lembut karena ia dapat merasakan perasaan murka yang meluap-luap dari tubuh ketua mereka.

Dari sudut matanya Jungkook terlihat sibuk memberi perintah menggantikan Namjoon yang terlihat masih belum bisa menerima kenyataan sementara Jimin segera meminta seluruh pasokan senjata mereka disiapkan untuk penyergapan.

Seokjin terus memeluk Namjoon, tubuh pemuda itu menegang menahan emosi.

"I will kill them all" , pemuda itu berbisik di telinganya sambil berusaha mengatur nafasnya agar beraturan. Seluruh tubuh Seokjin merinding mendengar ucapan pemuda itu, nadanya amat berbahaya, amat rendah sarat akan rasa ingin membunuh yang amat tinggi.

Namun ada hal lain di mata itu yang dapat Seokjin lihat.

Rasa takut.

Malam itu juga mereka menyerang balik pria tua bernama Choi Mi Hoon yang ternyata selama ini diam-diam mengkorupsi perdagangan jalur laut mereka, kemudian menyiapkan rencana untuk melarikan diri melalui jalur laut.

Sebenarnya Bangtan bisa saja hanya meminta anak buah mereka untuk mengurus masalah sepele macam itu, karena ini bukan pertama kalinya, namun pria tua itu dengan berani-beraninya menangkap salah satu member Bangtan.

Karena siapapun yang berurusan dengan Bangtan akan mati.

Seokjin hanya bisa diam di dalam mobil dengan pengawalan ketat, menunggu di dermaga.

Dari kejauhan Seokjin dapat melihat asap yang membumbung tinggi di langit malam dengan beberapa menit kemudian kapal yang membawa Bangtan kembali dan bersandar didermaga.

Akhirnya Seokjin berani untuk keluar dari mobil meski masih dengan pengawalan ketat.

Ekspetasinya saat bertemu Taehyung adalah pemuda itu akan memberikan reaksi yang sama seperti Namjoon, nyatanya pemuda itu memberikan Seokjin senyuman kotaknya yang biasa, berkata bahwa ia tidak apa-apa.

Berbanding terbalik dengan Namjoon yang masih terlihat seakan-akan pria itu ingin meledak. Saat Seokjin hendak mendekati ketua mereka , wajah Taehyung berubah serius.

"Aku sarankan kau tidak berdekatan dengan leader kita beberapa hari kedepan princess"

"...Kenapa?"

"Karena ia sedang berubah menjadi seorang Monster"

Saat mereka kembali ke Mansion, seluruh pengawal di perintahkan untuk pergi ke asrama mereka agar memberikan ke tujuh pemuda itu privasi.

Sementara Namjoon segera pergi untuk mengurung dirinya di kamar mandi.

"Can you tell what happened back there?" , Tanya Seokjin pada sisa member yang ada, kelima pemuda itu saling berpandangan, menimbang-nimbang apakah ia perlu tau tentang hal itu. cd

"Itu... akan sulit untuk dijelaskan princess-"

"biar aku yang menjelaskan" , potong Yoongi.

"you alread knew that we do many ... visious thing in life yang membuat kami akan selalu diburu dengan berbagai ancaman dan Namjoon selalu akan berubah dari sosok pemimpin yang hangat menjadi sosok monster yang mengerikan"

"bukan hanya Namjoon, itu menyangkut kami semua" , ujar Hoseok pelan, Yoongi mengangguk setuju kemudian menlanjutkan ceritanya.

"Kami akan berubah menjadi amat protektif dengan Bangtan karena kami sudah membangun ikatan ini sejak dulu, sejak hanya ada kami dan dunia"

"Jadi Namjoon menguliti pria itu untuk melindungi dirinya serta menenangkan pikirannya terhadap segala seusatu yang terjadi", Seokjin merasa tenggorokannya menjadi amat kering.

"itu terdengar lebih dari ganas, itu murni kekejaman", Ia mengambil nafas dalam, "Itu lebih terdengar bahwa ia takut".

"Jinnie itu hal yang konyol, seorang Kim Namjoon tidak mungkin takut", ujar Jungkook menyangkal, Seokjin semakin yakin dengan hipotesanya.

"Aku mungkin tidak mengenal Namjoon layaknya kalian mengenalnya, tapi aku memiliki perasaan yang kuat tentang ini", ia mengangkat tangannya meminta agar ucapannya tidak di potong.

"kalian hidup dalam berbagai ancaman bersama dan saat salah satu dari kalian terluka rasa takut itu akan muncul karena kalian takut untuk tidak sempat menghabiskan waktu kalian bersama, setelah semua hal tidak manusiawi yang kalian lakukan" ]

Dan kelima pemuda itu hanya bisa terdiam.

Satu minggu kemudian dan tingkah laku Namjoon makin tidak terkendali, pria itu akan pulang selalu dengan bersimbah darah dan ia hanya akan ikut berkumpul bersama mereka saat makan malam.

Tangan Seokjin akan selalu bergertar bila melihat dan mengingat apa yang dilakukan pria itu.

Hingga tingkahnya tidak dapat Soekjin toleransi lagi, saat ada seorang pengawal tidak sengaja melukai Seokjin ditaman.

Sore itu Seokjin memutuskan untuk duduk sambil minum teh di taman belakang mereka. Menikmati angin sore yang sejuk bersama member yang lain.

Seorang pengawal yang diminta Seokjin mengambilkan bunga mawar lupa untuk menghilangkan sebuah duri hingga tangan Seokjin meneteskan satu titik darah.

Satu titik darah yang membuat pengawal itu harus di bunuh dengan amat tiba-tiba dengan satu peluru yang menancap dikepalnya yang mebuat Soekjin amat takut.

Ia tidak menyangka bahwa Namjoon akan pulang cepat hari itu, pria itu terlihat bagaikan malaikat maut yang sesungguhnya.

"Namjoon kau berlaku terlalu kejam pada pengawal itu !"

"Jiminie, itu adalah hal yang pantas untuk dirinya yang berani-beraninya membuat princess kita menetaskan darah" , ujar Namjoon yang terlihat amat kacau dan bingung kenapa Jimin malah membela pengawal itu.

"Namjoon kami perlu membahas tingkah mu akhir-akhir ini"

"Tingkah ku ? Aku perlu melindungi kalian dari musuh dan sekarang salah satu musuh kita sudah kumusnahkan"

"Tapi tingakh mu begitu keji terhadap mereka"

"Karena itu adalah hal yang selau kita lakukan Yoongi, kita berlaku keji pada siapapun yang menghalangi jalan kita"

"Tapi tidak dengan tanpa tujuan", Hosoek menabahkan.

"Dan apa yang kau harapkan dari ku hoseok ?"

Suasana diantara mereka menjadi amat mengeruh terutama daraha Namjoon yang terlihat mendidih, kemudian dengan suara pelan seokjin berbicara.

"Ak-aku tau kalau kau takut"

Otot-otot namjoon terlihat kaku "Kau pikir aku takut ?"

Entah mengapa tiba-tiba Seokjin merasa kecil dimata Namjoon.

Seperti dulu.

"Ti-tidak tuan, tentu saja ti.." , Seokjin kemudian kaget dengan kata-katanya sendiri. Ia tidak pernah keliru selama berbulan-bulan.

Seokjin dapat melihat teror diseluruh mata Bangtan "Ak-Aku tidak bermak-maksud" , Kalimat seokjin terhenti dari tatapan Namjoon yang terluka.

"Jinnie, astaga , Princess aku tidak akan mungkin menyakitimu"

"aku-aku tidak tau, aku minta maaf ,a-aku tau kau tidak mungkin menyakitiku, tapi itu terlewat begitu saja dan aku-" , Seokjin mulai berbicara tidak teratur dengan air mata yang mulai menetes.

Dengan itu seluruh member Bangtan memeluknya dan sebuha pelukan yang besar.

"Oh- Baby jangan menangis-"

"Awww jinnie, tidak apa-apa"

"Princess-"

Namjoon pun akhirnya kembali bersuara.

"Sejujurnya saat melihat Taehyung di tangkap dan ditahan oleh pria busuk itu aku sangat amat takut, berfikir bahwa kita kita tidak akan pernah bisa berkumpul lagi, aku menyesal tidak memanjakan kalian semua , pergi liburan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, memberikan kalian hadiah. Aku sudah melakukan banyak hal keji dalam hidupku dan aku takut kalian akan pergi dari pandanganku untuk selamanya"

Seokjin menahan tangisnya. Ia dapat merasakan entah tangan siapa mengelap pipinya.

"Aku tau Joonie, karena itu curahkan semuanya denganku, biarkan aku membantu kalian", kemudian saat itu juga mereka menghujaninya dengan banyak ciuman yang tersebar diseluruh wajahnya.

Malam itu juga adalah malam pertama hubungan mereka berubah menjadi lebih intim.

Dengan erangan disana-sini bersama-sama di kasur besar mereka.

Ia berakhir di atas dada Namjoon yang mengelus pelan helai rambutnya.

"Jinnie, aku ingin mengklaim statusmu di Bangtan, kau akan menjadi ratu yang akan mengatur kami semua, tidak ada satupun orang yang dapat mengalahkan perintahmu"

Dan semenjak itu Seokjin tau apa tujuannya berada di Bangtan.

Menjadi impulse control Bangtan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yep