Kediaman keluarga Akashi.
Akashi merasa dirinya gila. Setelah berkata pada Satsuki tentang kembaran lain dimensi yang menemuinya, sosok yang memiliki wujud persis dengannya itu semakin gencar menampakkan diri. Seharian di sekolah, sosok itu semakin sering muncul, terutama ketika Akashi tengah bercermin. Dengan penuh kesadaran, Akashi yakin dia tidak sedang tersenyum, tetapi pantulan di cermin memperlihatkan kalau bibir itu melengkungkan sebuah kurva naik, sembari terdengar sebuah kalimat yang terucap berulang-ulang.
"Di masa depan, kau akan kehilangan semuanya Seijuro, bila tidak kau jaga dengan baik."
"Pergilah dari hidupku, sial." Akashi mengacak rambut merahnya. Bahkan ketika ia baru membuka mata, sosok itu sudah terlihat di cermin. Tengah tersenyum, bukan senyum sini seperti biasanya melainkan senyum tulus dengan tatapan sedih.
"Dengarkan aku, Seijuro--"
"Aku tidak tidak akan mendengar perintah dari siapa pun, apalagi dirimu." Akashi membalas tajam. Gunting telah digenggam dengan erat, siap memecahkan cermin menjadi kepingan kaca dalam sekejap.
Sosok serupa tidak menghapus senyum, "Meski aku adalah kau, tidakkah kau akan mendengarkanku?"
"Aku mendengar semua perkataanmu tentang kehilangan semuanya dan hal-hal konyol itu. Pergilah, sebelum aku memaksamu pergi."
"Itu bukanlah hal konyol, Seijuro," Kini sosok itu menyipitkan mata, "hal yang aku maksud adalah teman-temanmu, Seijuro, teman-teman."
Akashi mendecih, "Yang benar saja."
"Aku akan jujur di sini, Seijuro. Kalau kau kira relasimu selama ini sudah cukup untuk membuat mereka mengantarmu hingga akhir, itu salah. Tidak ada manusia yang ingin pergi sendirian, bahkan kau dan aku. Tapi kenyataan menggariskan demikian. Kau memang memiliki segalanya, tapi kau akan sendirian tanpa teman. Kau sudah lelah mencari cara, tapi yang kau dapat hanyalah penyesalan. Kau sia-siakan orang-orang terbaik yang pernah ada, tapi semuanya telah terlambat untuk kau perbaiki. Maka dari itu, Seijuro, dengarkan aku sekali ini, dan aku akan pergi."
Akashi masih menatap tajam. Tidak terpengaruh sama sekali oleh ancaman sosok itu, yang seolah-olah mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan.
"Bertemanlah, itu saja. Tidak perlu dengan banyak orang. Cukup beberapa saja, tapi dengan mereka yang kau percaya dengan hatimu. Bertemanlah, dan kau tidak akan menyesal."
Sesuai yang sosok itu katakan, pantulan Akashi asing di cermin perlahan menghilang dengan senyum tipis. Dan kini, yang Akashi lihat di cermin adalah pantulan dirinya sendiri, yang tengah mengernyit menatap matanya sendiri. Mencoba mencermati kata demi patah kata yang baru saja ia dengar.
Berteman, ya? Akashi tertawa kecil di dalam hati, tawa meremehkan. Mereka yang akan datang kepadaku, bukan sebaliknya.
️️️
