Teikō chugakkō, hari sekolah.

"Akashi-kun, jadi tidak?" Istirahat makan siang, Momoi tiba-tiba menghampiri meja Akashi dengan sebuah pertanyaan.

"Jadi apa maksudmu?"

"Loh, kemarin, 'kan Akashi-kun bilang untuk mengumpulkan anggota tim inti dan membahas soal proyek!"

Akashi semakin bingung dibuatnya, "Aku tidak paham apa maksudmu, Satsuki."

Kali ini giliran Momoi yang mengernyit, "Akashi-kun kemarin menemuiku malam-malam, bilang kalau ingin mengajak semuanya berkumpul untuk membahas proyekmu yang baru, membuat sekolah impian!" Di akhir kalimat, mata Momoi berbinar. Akashi tidak sekejam itu bila menepis apa yang gadis itu katakan begitu saja. Akashi yakin sekali, sosok yang menemui Momoi adalah Akashi asing yang itu, begitu pula yang mengusulkan hal aneh seperti membuat sekolah impian.

Konyol, terlalu konyol sampai selera tawa Akashi kandas.

Akashi menyeringai kaku, "Oh, ya. Kita bahas itu selesai latihan."

Momoi melompat girang, "Oiya, aku akan memaksa Dai-chan ikut! Seperti yang kemarin kau bilang, Akashi-kun jangan lupa mengajak Tetsu-kun, ya?"

Seketika, ada sesuatu yang menghantam dada Akashi. Akashi hendak menyuruh Momoi sekalian memanggil keduanya, tapi gadis itu sudah berlalu keluar kelas dengan berlari riang. Akashi mengusap dahi. Bibirnya berdecih sebagai akibat atas kekesalan. Bisanya gadis itu memutuskan seenaknya. Tapi kalau begini, Akashi tidak bisa menolak, harga dirinya dipertaruhkan.

Bukannya apa-apa, tapi beberapa bulan terakhir, hubungan Akashi dengan seluruh tim inti basket memburuk. Aomine Daiki tidak pernah datang berlatih meski masih tercatat sebagai tim inti, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintaro, dan Kise Ryouta masih tetap ikut latihan, meski status mereka saat ini bukan lagi teman, melainkan hanya rekan. Yang paling parah adalah Kuroko Tetsuya, bocah bersurai biru langit itu bahkan keluar dari klub setelah pertengkaran hebat di antara mereka. Akashi tidak habis pikir kenapa gadis itu menyuruhnya repot-repot mengajak Tetsuya. Pasti si Akashi asing itu yang memintanya macam-macam.

Akashi mengembuskan napas kasar, menyenderkan punggung pada kursi, menatap langit-langit kelas. Berpikir kerasa mencari alasan logis tentang gagasan membangun sekolah impian itu, sekaligus alasan tentang mengapa harus melibatkan semuanya. Meski Momoi percaya ketika dia ceritakan perihal doppelganger itu, mustahil Akashi akan menggunakan alasan konyol--tapi nyata--semacam doppelganger untuk memberi penjelasan pada semuanya.

Berpikir Seijuro, ayo berpikir.

Akashi tidak kalah, bahkan oleh dirinya sendiri.

Maka dari itu, hai diriku yang lain, aku akan ikut permainanmu, dan memenangkannya.

️️️