Terkadang, apa yang kau pikir serta harapkan untuk terjadi pada kehidupan nyata terwujud, kenyataanya justru selamanya tidak akan pernah terjadi.
Dan terkadang jika kau berpikir akan suatu hal yang tidak kau harapkan untuk terjadi, hal itu malah akan terus menghantuimu.
Membayangi tiap langkahmu dengan segala prasangka akan hal itu. Bahwa sesuatu yang tidak pernah kau harapkan akan menghampirimu suatu saat nanti.
Yah, memang seperti itulah kehidupan. Dan kehidupan semacam itu pulalah yang harus Seokjin rasakan.
Selama ini Seokjin berpikir bahwa kehidupannya hanya akan berputar di ruang penyiksaan milik tuannya, dan berakhir bagai boneka rusak yang sudah tak layak pakai. Namun satu hal yang tak pernah ia sangka dalam hidupnya yang malang adalah bahwa takdir ternyata mampu membalik semua kesukaran hidupnya, dan membawanya kepada enam pemuda yang paling di waspadai di Korea.
Karena sesungguhnya perputaran roda kehidupan adalah suatu hal yang takkan pernah bisa diprediksi oleh siapapun.
Kini, Seokjin tengah memandangi refleksi dirinya sendiri dari pantulan cermin besar yang terdapat di ruang ganti miliknya.
Ngomong-ngomong, ia sudah tidak lagi tidur sendirian di kamarnya, melainkan pindah ke kamar yang dimiliki para anggota Bangtan, dimana para pemuda itu tidur bersama. Karena Seokjin akhirnya tahu bahwa ke enam pemuda itu amat sangat needy. Biar begitu, mereka tetap memiliki ruang ganti masing-masing yang tentunya terisikan oleh koleksi pakaian yang tak terbayang nilai dan jumlahnya.
Dan malam ini Seokjin terlihat amat spektakuler. Ia masih mematut dirinya didepan cermin, dan segala hal ditubuhnya seakan berteriak bahwa ia tampak begitu anggun...
Dan penuh dosa.
Semua orang akan dapat melihat tiap lekuk tubuh Seokjin dibalik bajunya yang tipis, serta celana kulit super ketat yang membungkus kaki jenjangnya. Belum lagi ditambah sebuah pin yang tampak berkilauan yang terbuat dari batu rubi, yang menciptakan lingkaran cahaya di sekitar mahkota yang ia kenakan diatas kepalanya.
He looked like sex.
Seokjin tahu, bahwa ia bukan lagi Kim Seokjin yang harus mengemis dikaki tuannya hanya untuk mendapatkan pengampunan.
Kini, ia adalah Bangtan Jin.
"Yoongi hyung, jangan lupa ambil pesanan kita dari tua bangka itu." Ujar Namjoon kala berkunjung ke ruang kerja Yoongi didalam rumah mereka.
Yoongi masih tampak sibuk dengan berbagai dokumen di atas mejanya, namun ia masih tetap bisa menjawab titah leadernya itu, "okay." Balasnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.
BRAK!
Gema dari suara pintu ruang kerja Yoongi yang menggebrak terbuka dan menampakkan sosok Taehyung yang terlihat was was sontak saja membuat dua kepala yang berada didalamnya menoleh serempak ke arah yang bersangkutan.
"NAMJOON-HYUNG, JUNGKOOKIE MENGAMUK!" Seru Taehyung segera sebelum Namjoon dan Yoongi sempat bertanya.
"Mengamuk?"
Namjoon, Yoongi serta Taehyung menoleh bersamaan dan mendapati Seokjin yang tak sengaja melewati area itu karena mendengar keributan yang sempat Taehyung timbulkan.
Taehyung kembali berpaling pada Namjoon dan Yoongi, sedikit mengabaikan keberadaan Seokjin yang mulai terlihat bingung. "TOLONG SIAPAPUN CEPAT KE SANA SEBELUM DIA MENGHANCURKAN RENCANA KITA." Seru pemuda itu lagi, dan setelah itu mulai memberi sedikit atensi pada Seokjin sembari menaruh kedua tangannya diatas bahu pemuda itu. "You don't need to woory. There's nothing we can't handle, sweethearts."
"I'm on my way." Timpal Hoseok yang tiba dari arah berlawanan dan membuat Seokjin menoleh pada pemuda itu sekilas karena langka Hoseok yang begitu cepat hingga membuat Seokjin tak sempat untuk sekedar menyapa.
"Baby."
Seokjin sempat terperanjat kala merasakan sebentuk tangan bertempat dipundaknya, dan mendapati Yoongi yang tengah menatapnya iba.
"Are you sure wanna going without us?" Tanya pemuda berkulit pucat itu yang sontak saja menerbitkan tanda tanya baru dalam kepala Seokjin.
Bagaimana tidak, baru beberapa detik saja berlalu usai Taehyung mengatakan bahwa tak perlu khawatir akan segala sesuatu, dan kini Yoongi malah membuatnya semakin bimbang. Karena biar bagaimanapun, mana mungkin Seokjin dapat mengabaikan keributan yang sempat terjadi? But, there's nothing he can do.
Seokjin mengangguk, berusaha meyakinkan Yoongi yang terlihat tak tega padanya. "Tentu saja, sepertinya kalian punya banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." Jawabnya dengan senyum simpul, berharap agar Yoongi berhenti menghawatirkannya. Walau tak dapat dipungkiri ia sedikit kecewa akan rencana semula yang kemungkinan takkan terlaksana itu.
"Lagipula aku butuh hiburan, dan aku hanya akan memotong pita seperti yang biasa Namjoonie lakukan, kan?" Tambah Seokjin lagi.
"Aku minta maaf, baby, karena harus bekerja di akhir pekan." Timpal Taehyung yang menatapi Seokjin dengan mata bulatnya yang hampir membuat Seokjin salah tingkah dan berbalik mengasihani pemuda itu.
"Karena itu kita harus tetap menjadi yang lebih unggul dibanding yang lain, Kim Taehyung, jangan lupakan itu." Sambung Namjoon lalu menepuk bahu Taehyung demi menyemangati pemuda itu.
"Maafkan aku juga karena kau harus menggantikan pekerjaanku, Princess." Ucap Namjoon pada Seokjin sembari membelai lembut pipi pemuda itu hingga menerbitkan rona kemerahan dibalik wajah yang telah terbalut make up minimalis itu.
Yoongi tampak seperti tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, dan meletakkan benda tipis itu kala perbincangannya dengan seseorang diseberang sambungan usai, lalu kembali menatap Seokjin seraya berkata, "aku sudah menghubungi pengawal, dan mereka akan mengantarmu."
Mendengar itu, Seokjin lantas menatapi Namjoon, Yoongi, serta Taehyung bergantian, "berarti, setelah itu aku akan ditinggalkan sendirian?"
Yoongi menghela napasnya, "don't be ridiculous, Jin. Mereka akan menemanimu seharian, dan aku tidak ingin kau sedetikpun berpisah dari mereka. You should be always on our surveillance."
Seokjin kembali menatapi ketiganya dengan ragu, "aku bisa menjaga diriku sendiri Yoongi..."
"Yang Yoongi-hyung bilang benar, baby." Putus Taehyung dan membuat Seokjin seketika mengatupkan bibirnya. "Kami ingin kau selalu aman. Oh shit!" Taehyung lupa kalau ia memiliki urusan yang harus segera diselesaikan. "Sorry, sepertinya aku, Hobi, dan Kookie akan sulit dihubungi untuk beberapa saat. We love you guys. And Jinnie, always be carefull." Pungkasnya sembari berjalan menjauh.
"Bye Taetae." Balas Seokjin lirih sembari melambaikan tangan pada Taehyung yang mulai hilang dari pandangan.
"Namjoon tidak akan suka bila miliknya disentuh oleh siapapun, dan sepertinya kita tidak akan bisa bertemu malam ini, baby." Ucap Yoongi lagi sembari menarik Seokjin kedalam pelukannya, dan membelai surai pemuda itu dengan lembut. "See you tomorrow, Princess, be safe."
Seokjin balas mendekap Yoongi sesaat dan menjawab, "you too, Yoongi."
"Pekerjaanku mungkin akan selesai beberapa jam lagi, jadi setidaknya aku bisa menemanimu malam ini, Princess." Tutur Jimin yang datang entah dari mana kala Yoongi melepas pelukan pada tubuh Seokjin, dan membuat pemuda itu tersenyum akan sedikit harapan yang mampu Jimin beri.
"Tak perlu memaksakan dirimu, Jiminie, aku bisa melakukannya sendiri." Balas Seokjin cukup percaya diri, walau tak bisa dipungkiri bahwa ia senang jika salah seorang dari ke enamnya masih bisa menemaninya melewati hari.
Seokjin tidak sadar sejak kapan dirinya seakan tergantung oleh keberadaan para anggota Bangtan dalam hidupnya, hanya saja, ia benar-benar merasa lebih aman jika bersama ke enamnya.
Ke tujuh pemuda itu memiliki sebuah ruang obrolan atau group chat dari salah satu aplikasi penyedia layanan pesan singkat yang selalu ramai akan berbagai hal yang bisa mereka bahas didalamnya.
Tidak pada saat ke enam pemuda itu memiliki pekerjaan yang bersamaan memang, dan tidak selalu yang dibahas disana adalah masalah pekerjaan.
Terlebih dengan datangnya Seokjin dalam kehidupan ke enamnya, mereka terkadang hanya akan bertanya mengenai hal remeh atau hal kecil seperti "apa Seokjin sudah makan?" Atau "apa yang Seokjin inginkan? Akan ku belikan dalam perjalanan pulang nanti."
Seokjin memang sudah di peringatkan bahwa ada kemungkinan besar ia akan sering ditinggal di mansion besar mereka sendirian mengingat banyaknya perkerjaan yang dimiliki Bangtan dan WINGS. Yah, walau kini Seokjin telah resmi menjadi bagian dari Bangtan, bukan berarti ia juga akan digelutkan dengan jadwal padat milik ke enam pemuda itu.
Contohnya saja malam ini, mereka sebenarnya telah berjanji untuk mengajak Seokjin menonton film secara maraton bersama, atau sekedar berjalan-jalan santai di taman kota menikmati segarnya udara malam, karena sudah sangat jarang rasanya mereka berkumpul bersama. Namun, tiba-tiba ada kebocoran informasi di salah satu kantor cabang mereka yang disebabkan oleh 'seekor tikus' penghianat.
Taehyung yang pertama kali mengetahuinya langsung melapor pada Namjoon, hingga Hobi sebagai assasin andalan mereka serta Jungkook yang akan 'membersihkan' jalan harus turun langsung untuk penyerangan besar-besaran ke grup mafia 'LUX' kerena salah seorang bawahan mereka telah berani menyusup ke dalam salah satu kantor cabang WINGS.
Penyerangan ini bertepatan dengan dibukanya cabang bisnis baru dari Bangtan, yaitu perusahan farmasi berskala internasional yang diharapkan akan menjadi sebuah gebrakan baru di industri obat-obatan Korea, mengingat reputasi Bangtan di mata pemerintah amatlah baik. Padahal, pada kenyataannya mereka diam-diam memasukan narkoba, sehingga siapapun yang meminumnya bisa menjadi kecanduan bila tidak sesuai dengan resep yang di berikan oleh dokter.
Tetapi, Namjoon dan Yoongi siang tadi terpaksa berangkat menuju Macau karena barang pesanan mereka, yaitu narkoba jenis terbaru yang akhirnya keluar, dan keduanya terpaksa harus datang langsung untuk mengurus pengiriman karena sulitnya menemukan seseorang yang dapat dipercaya dan diandalkan dalam hal sepenting ini.
Lalu menyisakan Jimin yang ternyata juga harus pergi ke Jeonju akibat pasokan amunisi yang terhambat, dan Jimin adalah orang yang paling tidak sabaran yang Seokjin kenal, hingga Seokjin yakin jika pemuda itu akan menghabisi sendiri orang-orang yang ia rasa tidak kompeten.
Jadi, Seokjin harus datang seorang diri tanpa satupun member yang menemaninya. Sudah menjadi tugasnya sebagai salah satu anggota Bangtan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada. Meski ia tahu bahwa member yang lain sebenarnya lebih suka ia tetap berada di mansion besar mereka.
Seokjin menyemprotkan parfum mahalnya sebelum keluar dari ruangan. Dan malam itu hanya ia habiskan dengan meneguk segelas champagne serta makan beberapa kue manis yang telah di sajikan.
Acara pemotongan pita telah berakhir satu jam yang lalu, dan iapun telah memberikan sedikit kata sambutan untuk khalayak seperti yang biasa Namjoon lakukan.
Selama acara berlangsung, ada dua orang pengawal yang selalu berada disisinya. Sementara dua orang lainnya berada di radius yang cukup jauh, namun tetap mampu memperhatikan segala gerak-gerik orang-orang yang ada diruangan itu. Karena bila Seokjin terluka, meski hanya setitik darah yang keluar, maka nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya.
Sejujurnya Seokjin cukup bosan karena tidak dapat banyak berinteraksi dengan siapapun karena pengawalan super ketat yang ia miliki. Dan sejenak, ia mulai memikirkan cara agar dapat terbebas dari jeratan orang-orang ini.
"Permisi, sepertinya aku merasa sedikit pusing, bisa tolong bawakan aku obat?" Ucap Seokjin pada salah seorang pengawalnya dan berlagak memijat kening untuk meyakinkan pria itu.
Si pengawal melirik rekan satunya, dan kembali pada Seokjin seraya berucap, "tapi Tuan, pesan dari Guard-"
Seokjin lantas mendelik tak suka kala si pengawal mulai mencoba beralasan, "kau mau aku melaporkan pada Sunshine bahwa aku sakit kepala dan kau tidak bisa melakukan apapun?"
Si pengawal sontak menggeleng cepat.
"Maka dari itu lakukan cepat, dan kau," Seokjin menunjuk pengawal satunya, "bawakan aku kursi karena rasanya kakiku mau patah sekarang."
Seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu, kedua pengawal itu bergerak cepat untuk memenuhi segala permintaan Seokjin, dan dari raut wajah keduanya, Seokjin dapat melihat bahwa mereka cukup takut dengan ancaman yang Seokjin berikan.
Beruntung malam itu Seokjin tidak mengenakan sepatu boots tinggi yang biasa ia gunakan, sehingga sebelum dua pengawal lainnya menyadari bahwa dirinya tidak memiliki pengawalan, ia dengan cepat berlari dari ballroom itu.
Apa yang Seokjin lakukan benar-benar tanpa persiapan. Ia tidak membawa rencana untuk dirinya sendiri. Karena sesaat setelah ia lari dari pengawalnya dan berlalu dari tempat dihelatnya acara, lalu menjumpai gelapnya malam diluar sana sampai ia tak bisa melihat dengan jelas, Seokjin dapat merasakan ujung pistol menempel di punggungnya. Dan perlahan, ia berbalik sembari mengangkat kedua tangannya, dengan debar jantung yang terdengar begitu kencang dibalik dada.
Seokjin dapat melihat sekilas bahwa pria di depannya tampak cukup tua, dengan janggut pendek dan perut yang amat buncit dengan sebuah bir di tangannya.
"Seokjin, kau kelihatan baik-baik saja." Ucap pria itu masih dengan satu tangan yang menodongkan pistol padanya.
Seokjin menjerit seketika dengan kedua tangan menutup mulutnya. Ia mengenal pria itu. Ingatannya sontak saja berputar pada apa yang dikatakan Namjoon padanya, disalah satu malam dimana Namjoon serta anggota Bangtan lainnya memutuskan bahwa dirinya akan hidup bersama dengan ke enamnya, ketika Seokjin masih belum begitu yakin akan perlindungan yang para anggota Bangtan janjikan, dan menunggu salah seorang dari mereka menyakitinya dengan apa pun yang mereka miliki, kapan pun mereka mau.
"Seokjin, jika kau tertangkap oleh salah seorang musuh, ingatlah untuk selalu berteriak sekeras yang kau bisa, dan ketahuilah bahwa kami akan selalu datang untukmu." Ucapan Namjoon kala itu kembali berputar dalam kepalanya, dan membuat Seokjin merasa lebih aman setelahnya.
Namun kali ini ia sedang tidak merasa aman.
"Tolong!" Seokjin kembali berteriak lebih kencang, berharap akan datangnya seseorang yang akan menolongnya.
Si pria yang masih menodongkan pistol pada Seokjin tampak mulai berkeringat kini, lalu mengulurkan tangan untuk mencekik Seokjin dengan tangan gemuknya.
Suara derap langkah tergesa beberapa orang mulai terdengar kala netra Seokjin menangkap sosok para pengawal yang sebelumnya berada di ballroom berlari kearahnya, dan Seokjin sungguh amat bersyukur akan kedatangan para pengawalnya.
Namun yang tidak Seokjin sangka adalah tangan lain yang lebih cepat meraihnya. Sosok itu membuat tubuh Seokjin berbalik dan mempertemukan tubuh keduanya yang saling bertubrukan, dan Seokjin dapat melihat sosok itu dengan cepat mengambil pistol dari tangan si pria gemuk, kemudian mengarahkannya pada pria itu, sebelum akhirnya sebuah peluru menancap ditubuh pria gemuk itu dengan suara yang menggema di seluruh area.
"We've - Told - You - To - Be - Always - Under - Our - Surveillance." Ucap pemuda itu dengan penekanan ditiap kata serta nada dingin yang meluncur mulus dari mulutnya.
Pemuda itu adalah jimin, yang tengah menatap geram Seokjin
tanpa topengnya.
.
.
.
So , yeah jd gua mulai dari jimin guys.
Thankyou for all the support
Stay healthy and have a nice day ❤️ ❤️ ?
