Teikō chugakkō, sepulang sekolah.

Selama ini, yang paling sulit ditemui di antara semuanya adalah Kuroko. Terlebih karena anak yang satu itu mempunyai hawa keberadaan setipis udara, maka hampir setiap orang yang berada di dekatnya perlu waktu untuk menyadari bahwa ada seorang anak bersurai biru langit berada di sana.

Tapi itu tak berlaku bagi Akashi.

Sang kapten berjalan cepat ke kelas Kuroko, tepat setelah bel pulang dibunyikan. Tanpa mengucap salam untuk formalitas dan sebagainya, Akashi langsung menghampiri meja Kuroko yang ada di pojok belakang, sebelah jendela.

Netral biru muda melebar tatkala mendapati--mantan--kaptennya berdiri di depan bangkunya.

"Akashi-kun, ada ap--"

"Tetsuya, ikut aku."

Kuroko mengernyit, "Untuk apa, Akashi-kun?" tapi selanjutnya ia seperti teringat sesuatu, "Oh ya, kemarin Akashi-kun bilang mau membahas sekolah bersamaku."

Akashi sempat terkejut. Tapi dia tidak menunjukkannya, "Aku mengumpulkan semuanya. Aku harus membicarakan itu dengan kalian semua."

Akashi tahu, Kuroko tidak akan menolak ajakannya kali ini. Bocah bersurai biru itu terlalu menyayangi teman-teman satu timnya, hingga memutuskan untuk keluar kala mereka mulai berselisih pendapat. Tak dapat dipungkiri, sebagai lelaki, hati Kuroko terlaku lembut. Akashi bahkan masih ingat kalau Kuroko hampir menangis ketika terakhir kali berbicara dengannya, sekitar satu bulan lalu.

"Baik, Akashi-kun." Kuroko mengangguk, berdiri. Akashi tersenyum samar, berjalan ke luar kelas yang diikuti oleh Kuroko hingga ke dalam gym. Kuroko semakin tak bisa menahan senyumnya kala mendapati semuanya tengah duduk melingkar.

"Kurokocchi!" Yang berseru paling awal adalah Kise. Small forward Kiseki no Sedai itu langsung berdiri dan memeluk Kuroko erat.

"Sesak, Kise-kun." Kuroko berujar, namun dia sebenarnya tidak keberatan dengan pelukan itu, Kuroko merindukannya.

Sementara itu, Akashi memilih abai dengan reuni kecil-kecilan antara Kise dan Kuroko. Dia menatap temannya satu persatu. Murasakibara sedang sibuk makan pocky rasa cokelat, Midorima sedang membetulkan kacamata sambil mengomentari cara Murasakibara makan : remahannya berjatuhan ke lantai gym. Momoi tengah berseru melarang Daiki yang sedang mengorek telinga dengan jari kelingking, bilang kalau itu perbuatan jorok.

Akashi mengambil napas.

"Aku mengumpulkan kalian semua di sini bukan karena hal yang tidak penting."

Semuanya lalu fokus ke pemuda bersurai merah itu.

"Ya-ya. Aku tahu, Akashi. Yasudah mulai besok aku akan berlatih lagi. Tapi asal tahu saja aku sudah mendapat undangan beasiswa olahraga di Tōō gakuen. Jadi soal sekolah yang kau bicarakan, aku tidak bisa masuk ke sana." Daiki berkomentar paling awal. Membuat Kise berseru heboh.

"Huaaaah, Aominecchi dapat beasiswa-ssu!"

Yang segera dijitak kepalanya oleh si pemuda berkulit hitam itu, "Kau juga dapat undangan ke Kaijou, dasar bodoh!"

"Ehehehe, Oh iya."

Sementara Kise terkekeh tidak jelas, Akashi hanya tercenung. Apa yang sebenarnya doppelganger dirinya katakan pada mereka? Akashi malah menjadi bingung. Jika itu hanya alasan untuk mengumpulkan mereka bertujuh, maka Akashi meledek makhluk itu bila bertemu sekali lagi.

Sepertinya Akashi harus jujur sekarang.

"Begini," kata Akashi, "yang kemarin menemui kalian itu bukanlah aku."

️️️