Teikō gym, sepulang sekolah.
"Akashi, kau percaya yang seperti itu?" Midorima membetulkan kacamatanya yang merosot hingga ke pangkal hidung. Di antara semuanya, dia yang paling bisa menguasai diri dari shock akibat perkataan si surai merah.
"Ini bukan masalah percaya atau tidak percaya, Shintarou. Aku tidak akan membicarakan hal ini bila tidak nyata terjadi."
Kise masih bergidik sambil memeluk lengan Aomine, "Huee... Berarti yang kemarin menemui itu hantu-ssu? Aku takut sekali, huaaa!"
Biasanya, Aomine akan menjauhkan Kise dari dirinya kalau sudah mulai ribut begitu. Namun, karena Aomine sama pengecutnya dengan Kise--sama-sama takut hantu--jadilah dia membiarkan lengannya dipeluk teman berambut pirangnya itu, dan malah memeluk balik hingga mereka berpelukan, "Heh, yang benar saja! Aku tidak mau dihantui arwah gentayangan, apalagi yang wujudnya seperti itu! Akashi, maafkan aku! Aku akan melakukan semuanya yang kau suruh tapi kumohon jangan hantui kami!" Aomine meracau, dia kacau. Akashi hanya bisa mencibir. Badannya besar begitu nyalinya tidak bisa diharapkan.
Murasakibara lain lagi. Dia yang masih asyik memakan snack malah tidak terlalu peduli. Bahkan, menangkap penjelasan Akashi dengan arti yang lain dari Aomine dan Kise. "Jadi yang menemuiku bukan Aka-chin, tapi kembaran Aka-chin?"
Midorima menepuk dahi, Kuroko nyaris terkekeh sedangkan Momoi mengernyit.
"Aku anak tunggal, Atsushi."
"Oh iya." Murasakibara sekali lagi tidak peduli, maka yang lain lalu memilih untuk mengabaikan dia.
"Jadi, Akashi-kun, doppelganger yang kemarin kau bilang itu menemui kami semua?"
"Momoi-san sudah tahu dari kemarin?"
Lain karakter, lain pula reaksinya. Ketika Kuroko mengkhawatirkan suatu hal, duo Aomine-Kise malah membingungkan hal tidak penting. "Doppel-doppel tadi itu apa?"
Midorima menghela napas, memilih mengambil alih penjelasan karena tidak enak melihat ekspresi Akashi yang telah menggelap, "Doppelganger adalah mitos tentang suatu makhluk yang menyerupai diri kita dari dimensi lain. Atau lebih mudahnya, doppelganger itu semacam kembaran diri kita nanodayo."
Aomine dan Kise mengangguk-angguk, padahal entah mereka berdua paham betulan atau hanya pura-pura saja.
Momoi mengangguk, menjawab pertanyaan Kuroko. "Iya, kemarin Akashi-kun bilang begitu."
"Iya, doppelganger itu menemuiku di ruang ganti, setelah latihan, setelah semuanya pulang."
"Lalu apa yang terjadi-ssu?" Wajah Kise pucat, tidak bisa membayangkan dirinya terjebak di ruang ganti bersama seseorang yang sama persis dengan dia, horror.
"Mengoceh hal yang sama berulang-ulang, merepotkan. Sama tidak pentingnya dengan dia yang menemui kalian dengan alasan akan membicarakan tentang membuat sekolah. Ini salah paham, aku akan meluruskannya." Akashi mulai menjelaskan. Tidak memedulikan ekspresi Aomine-Kise yang masih sama pucatnya, ditambah sekarang wajah Kuroko juga mulai memucat. "Aku tidak pernah berpikir untuk mendirikan sekolah. Kalaupun kalian berpikir itu bisa saja terjadi karena perusahaan ayahku, jawabannya adalah tidak. Bisnis keluargaku tidak bergerak di bidang itu, jadi mustahil saja."
"Aku sudah menduga ini-nanodayo. Kau tidak mungkin membahas bisnis dengan kami semua."
Akashi melirik, "Kalau merasa aneh, mengapa kau tetap datang?" Serangan itu telak, hingga Midorima langsung mengatupkan mulutnya, tidak punya amunisi untuk menjawab.
"Jadi, Aka-chin tidak jadi membuat sekolah?"
Akashi menggeleng, "Tidak, Atsushi, itu hanya karangan orang itu."
"Tapi, Akashi-kun," Kuroko yang wajahnya sudah pucat mencoba berbicara. Yang keluar adalah suaranya yang mencicit, "apa Akashi-kun tidak takut?"
"Takut?" Akashi mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang perlu ditakutkan dari seorang peniru?"
"Eeeh, itu menakutkan-ssu!"
Ucapan Kise di-iyakan oleh Aomine, "Benar, itu buatku merinding bahkan sekarang."
Akan tetapi, Kuroko menggeleng, "Bukan, bukan tentang itu."
"Lalu tentang apa, Tetsuya?"
"Bukankah kehadiran doppelganger adalah pertanda kematian?"
Suara Kuroko menggema di dalam gym yang hening. Tidak ada yang berani berbicara, semua tatap mata terpaku pada si bocah bersurai biru langit itu. Kuroko menunduk, menggigiti bibir karena merasa bersalah telah mengubah atmosfer menjadi mencekam seperti ini. Kise dan Aomine tidak lagi berpelukan, melainkan mencengkeram bahu satu sama lain dengan tatapan shock. Momoi mengerjap, menatap Kuroko dan Akashi bergantian, lalu menggeleng-geleng. Murasakibara berhenti mengunyah, pandangan ia jatuhkan pada lantai gym, hatinya tiba-tiba mencelus. Sementara Midorima yang paling kacau di antara mereka. Kacamatanya melorot hingga ke pangkal hidung, tapi dia tidak berusaha membetulkannya.
"H-hei jangan percaya mi-mitos seperti itu na-nanodayo."
"Benar, itu hanya mitos. Mana ada kembaran seperti itu, menakutkan! Iya kan, Kise?"
"I-iya, Aominecchi benar-ssu!"
"Ma-maaf." Kuroko semakin menunduk, merasa bersalah. Momoi jadi kasihan melihat Kuroko terbebani rasa bersalah seperti itu. Maka Momoi menepuk-nepuk bahu Kuroko, "Tetsu-kun pasti mendengar itu dari suatu tempat, 'kan? Itu mungkin hanya perkataan orang, Tetsu-kun."
Semuanya kembali hening tatkala melihat Akashi. Biasanya kapten mereka akan tenang tanpa terbebani apa pun. Namun melihatnya sekarang membuat semuanya khawatir.
"Aka-chin tidak akan mati, 'kan?"
Perkataan polos Murasakibara membuat Akashi terhentak dari pikirannya. Dia memandang Murasakibara dengan alis berkerut. "Semua orang akan mati, Atsushi." Akashi menjadi teringat semua perkataan orang itu.
"Perbaiki semuanya, atau di masa depan, semua akan meninggalkanmu."
"Aku akan jujur di sini, Seijuro. Kalau kau kira relasimu selama ini sudah cukup untuk membuat mereka mengantarmu hingga akhir, itu salah. Tidak ada manusia yang ingin pergi sendirian, bahkan kau dan aku. Tapi kenyataan menggariskan demikian. Kau memang memiliki segalanya, tapi kau akan sendirian tanpa teman. Kau sudah lelah mencari cara, tapi yang kau dapat hanyalah penyesalan. Kau sia-siakan orang-orang terbaik yang pernah ada, tapi semuanya telah terlambat untuk kau perbaiki. Maka dari itu, Seijuro, dengarkan aku sekali ini, dan aku akan pergi."
"Bertemanlah, itu saja. Tidak perlu dengan banyak orang. Cukup beberapa saja, tapi dengan mereka yang kau percaya dengan hatimu. Bertemanlah, dan kau tidak akan menyesal."
Seketika, Akashi mengerti apa yang dimaksud orang itu.
Kalau kau kira relasimu selama ini sudah cukup untuk membuat mereka mengantarmu hingga akhir, itu salah.
Mengantar hingga akhir...
Akashi sungguh mengerti apa maksudnya.
Orang itu sengaja menggunakan alasan konyol demi mengumpulkan semuanya. Karena, bahkan Aomine sekalipun pasti akan heran dan memilih untuk datang jika alasannya tentang membahas mendirikan sekolah bersama. Lain ceritanya jika ia meminta berkumpul dengan dalih kepentingan tim, Aomine pasti malas, dan Kuroko bahkan tidak akan datang mengingat dirinya sudah bukan lagi bagian dari tim. Akashi perlu bertemu semuanya, tapi orang itu tahu Akashi tidak akan berinisiatif untuk melakukannya. Maka, orang itu memutuskan untuk bergerak terlebih dahulu.
"Tetsuya," Kata Akashi dengan suara serak, "dan semuanya,"
Netra heterokromia itu menatap satu-persatu wajah rekan-rekan satu timnya. Tidak, kalau Akashi boleh bilang, teman-temannya?
"Jika doppelganger memang benar adalah pertanda kematian telah dekat, bila dia tidak membuat kita berkumpul saat ini, apa kalian datang di pemakamanku?"
"Akashi-kun, jangan berkata seperti itu." Momoi berkata khawatir. Rasanya dadanya sesak, gadis itu mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar.
"Tidak, Satsuki, aku serius." Dia memegang dahinya, memejam sejenak. "Dia hanya mencoba memperingatkan dan aku mengabaikannya."
"Akashicchi jangan begitu-ssu. Aku jadi sedih."
"Karena semuanya sudah di sini, jadi sekalian saja aku ingin meminta maaf pada kalian--"
"Tidak, Akashi-kun!" Kuroko tiba-tiba berdiri, enakan tepat ke hadapan Akashi, membuat semuanya tercekat. "Jangan meminta maaf kepada kami!"
"E-eh Tetsu/ Kurokocchi / Tetsu-kun / Kuroko / Kuro-chin?" semuanya bertanya berbarengan.
Akashi hanya menatap Kuroko tidak mengerti. Apa yang membuat pemain keenam bayangan Teikō itu begitu marah?
"Kalau Akashi-kun mulai berpikir kalau semua ini salahmu, itu memang benar. Ketika Aomine-kun mulai menjauh karena bakatnya muncul, seharusnya Akashi-kun tidak membiarkan dia berbuat semuanya. Ketika Murasakibara-kun mulai meremehkanmu, seharusnya Akashi-kun tidak merasa rendah dan membiarkan sisi gelapmu berbuat semaunya."
Akaahi berkedip sekali, menatap Kuroko berbicara dengan manik yang sedikit berkaca, "Apa yang ingin kau sampaikan, Tetsuya?"
"Seharusnya Akashi-kun tidak menyimpan semuanya sendiri, kita semua adalah teman, 'kan? Seharusnya kita semua juga saling berbagi, agar situasi semacam ini tidak terjadi. Dan yang lebih penting, jangan berkata seolah-olah Akashi-kun akan meninggal. Tidak usah percaya perkataanku tadi."
"Itu benar-nanodayo. Doppelganger hanya mitos."
"Benar-ssu!"
"Mengerikan."
"Aku ingin menghancurkan kembaran Aka-chin."
"Mukkun, itu bukan kembaran, tapi doppelganger."
"Sama saja, Momo-chin."
"Akashicchi," Kise memanggil, rautnya menunjukkan kekhawatiran, "kalau ada apa-apa cerita saja pada kami seperti ini-ssu. 'Kan kalau begini jadi bisa kita bahas bersama dan temukan jalan keluarnya. Semuanya juga begitu ya ssu!"
Mendengar perkataan bernada polos dari Kise, hati Akashi mencelos. Dia lalu menatap teman-temannya, lalu tersenyum tipis.
"Baiklah, kalau begitu."
️️️
