Hoseok tau apa yang seharusnya mereka ber enam lakukan sekarang.

Berlutut di kaki Seokjin dan meminta pengampunan sebesar-besarnya.

Apa yang sudah dilakukan oleh Jimin bukanlah yang tidak mungkin tidak akan terjadi lagi dikemudian hari.

Karena mereka ber enam tau.

Bahwa monster itu memang disitu.

Menunggu dan menunggu.

Untuk dilepaskan.

Hoseok melangkah perlahan menuju lorong kamar yang di tempati Seokjin, suara antara Sol sepatu yang ia gunakan dengan lantai marmer yang ada, terpantul diseluruh lorong.

Semenjak malam itu, Seokjin meminta untuk kamarnya di pindahkan, dari yang tadinya berada dilantai yang sama dengan Namjoon dan Yoongi menjadi di lantai paling atas Mansion mereka.

Kamarnya berada di ujung lorong dan ia hanya sendiri di lantai itu.

Seokjin meminta siapapun untuk tidak mendatanginya untuk beberapa hari dan membiarkan para pelayan mengurusnya tak lupa dokter yang sudah bolak-balik mengurus lukanya.

Meskipun ia tau para member yang lain diam-diam datang kekamar Seokjin tengah malam.

Hanya untuk duduk didepan pintu kamar Seokjin dan mendengarkan apapun yang mereka bisa dengar.

Karena Seokjin sudah menjadi udara untuk mereka bernafas.

Dari yang Hoseok dengar dari para pelayan, Seokjin terkadang keluar dari kamar hanya untuk duduk terdiam di taman rooftop mereka.

Diam, memperhatikan langit. Ekspresinya tidak terbaca.

Lain cerita dari para member. Mereka mendengarnya dengan sangat jelas.

Tangisan malaikat, ujar mereka.

Malam setelah Seokjin melihat sendiri monster macam apa yang harus ia hadapi kedepannya, mereka ber enam ketakutan.

Rasa takut yang amat mencengkram mereka, bagaikan adegan film yang terus terulang-ulang, kemungkinan terburuk dari tindakan mereka.

Untuk pertama kalinya, pada malam itu mereka mengakuinya. Bahwa mereka amat ketakutan, hingga rasanya mereka selalu ingin mengeluarkan isi perut mereka.

Ini baru awal mula dan mereka sudah merusak malaikat mereka.

Hoseok ingat saat mereka ada diposisi terbawah, bahwa hanya ada mereka dan dunia.

Bagaimana satu-persatu dari mereka terus berkembang hingga terbentuk sosok monster mengerikan itu.

Tapi apa yang mereka alami saat itu amatlah berbeda dengan keadaan yang berbeda pula.

Bagaimana kekalahan membuat mereka bangkit dan mencapai titik WINGS yang sekarang.

Bagaimana Bangtan dari sekelompok pemuda yang hanya gemar membuat keributan, menjadi panutan untuk sebuah organisasi besar semacam WINGS.

Bagaimana Namjoon yang hanya menjadi bayang-bayang dari orang lain, Yoongi yang selalu menderita, Taehyung yang hampir gila, Jimin yang terkurung dan Jungkook yang hanyalah anak kecil yang tidak tau apapun tentang dunia ini.

Berubah untuk selamanya.

Bila melihat kebelakang, perjuangan mereka bukan lah sihir yang terjadi dalam semalam.

Seumur hidup mereka habiskan untuk membuat kerajaan yang mereka miliki menjadi kerajaan terkuat yang ada. Dan mereka tidak akan berhenti, karena musuh tidak akan pernah ada habisnya.

Namun para malaikat tau bahwa jiwa mereka rusak. Termakan oleh rasa putus asa yang mendalam.

Sehingga para malaikat mengutus malaikat terbaik mereka untuk menyelamatkan Bangtan dari monster itu.

Tapi mereka malah menyakiti malaikat mereka.

Hoseok yakin Seokjin mendengar suara jeritan Jimin yang menggema di seluruh Mansion saat Jungkook mencambuk pemuda itu habis-habisan.

Itu bukan hukuman, melainkan permintaan.

Di Bangtan bila kau melakukan sebuah kesalahan, mereka berhak untuk menghukummu seberat apapun sekuka hati mereka.

Tapi apa yang Jimin lakukan bahkan membuat seluruh member ingin membunuh diri mereka sendiri.

Esok paginya Jimin menangis dibawah kaki Namjoon yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Namjoon terlalu takut bila monster miliknya bangun.

"NAMJOON-HYUNG TOLONG BUNUH AKU !" , derai airmata yang mengucur dipipi Jimin membuat Jungkook iba.

Sebagai tangan kanan Namjoon, dengan amat berat hati pemuda yang termuda dikelompok mereka mencabuk tubuh Jimin.

Dengan tangan bergetar Jungkook terus mencambuki pemuda itu hingga ia hilang kesadaran.

Yang lain hanya berdiri dan melihat itu. Sambil menahan diri mereka sendiri.

Menahan diri untuk tidak menemui Seokjin yang masih tertidur dikamar Jimin dengan tubuh bagaikan diserang mahluk buas.

Hoseok yang melihat keadaan Seokjin pertama kalinya, langsung menampar wajah Jimin dengan amat keras.

Jimin langsung berlutut meminta dirinya untuk dibunuh.

Siang harinya keadaan Seokjin tidak bisa dideskripsikan.

Pemuda itu hanya tersenyum lemah mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, mereka pada saat itu juga membatalkan semua jadwal yang ada, tapi Seokjin memang pemuda yang kejam.

Ia meminta mereka memindahkan kamarnya dan hanya mau bertemu dengan mereka bila hatinya sudah siap, membuat ke-enam pemuda itu bekerja dengan membabi buta, membunuh siapapun yang tidak mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik.

Apalagi Jimin, yang sejak kemarin sudah pergi keluar kota, tanpa mengobati lukanya.

Hingga kemarin malam ada pesan yang masuk ke ponsel hoseok, dari Seokjin. Pesan singkat yang mengatakan bahwa ia ingin keluar dan menikamati matahari besok.

Mengetuk pelan pintu mahoni Seokjin, sebelum masuk kekamar Seokjin.

Pemandangan pertama Hoseok adalah kamar yang terlihat amat rapi dengan banyak sentuhan warna biru disana-sini, berbeda jauh dengan kamar Seokjin sebelumnya yang lebih mengambil tema minimalis.

Kamar itu terlihat baik-baik saja, tidak ada satupun barang yang tidak berada ditempatnya.

Begitupun Seokjin. Yang terlihat amat baik.

Malaikat mereka terlihat amat indah, duduk di sofa dekat balkon, memandang lurus keluar menembus horizon.

Rambutnya yang hitam legam, terlihat amat lembut disentuh oleh angin yang berhembus, tubuh rampingnya dibalut sweater putih ukuran besar sehingga bahu lebarnya tertutup penuh dengan celana bahan lembut yang membungkus kaki jenjang itu.

Seokjin benar-benar terlihat seperti malaikat tak bersayap.

Seluruh rasa rindu yang memenuhi hati Hoseok, runtuh seketika, digantikan perasaan untuk selalu melindungi pemuda itu.

Seokjin yang sepertinya mendengar bahwa ia masuk, menolehkan kepalanya sebelum menampakan senyum cerah yang membuat menjadi Hoseok pria paling bahagia didunia.

"Kita pergi sekarang ?"

Siang itu mereka memutuskan untuk pergi ke taman hiburan, Seokjin bilang ia ingin makan cotton candy yang enak dan dimana lagi makan cotton candy ter-enak selain di taman hiburan sembari menikmati atraksi yang ada.

Hoseok memutuskan untuk menyetir sendiri siang itu karena menurutnya, Seokjin masih belum bisa diajak bicara soal kejadian yang menimpanya dan Hoseok tidak ingin terjebak dikeheningan yang kurang mengenakan.

Setidaknya, bila ia menyetir, ia bisa sedikit mengalihkan pikirannya kearah jalanan kota yang cukup ramai.

Sesampainya ditaman hiburan sudah ada manajer taman hiburan yang bertugas dihari itu menunggu kedatangan mereka.

Hoseok memang memberitaukan bahwa ia dan Seokjin akan datang ketaman hiburan itu, tapi Hoseok tidak menyangka mereka akan disambut sedemikian rupa.

Sementara Seokjin hanya terdiam, memperhatikan sekelilingnya, namun tubuhnya tetap berada dekat dengan Hoseok. Tanpa Seokjin sadara bahwa Hoseok sudah selesai mengurus keperluannya didalam.

"Ayo kita masuk Angel" , Hoseok berujar sembari mengulurkan salah satu tangannya, berharap Seokjin menerima uluran tangan itu.

Seokjin terlihat menimbang-nimang sebelum kembali tersenyum cerah dan menggengam erat tangan Heseok, membiarkan Hoseok membimbingnya.

Mereka berbincang tentang banyak hal selama mengelilingi taman hiburan itu, Hosoek berusaha sebisa mungkin untuk tidak sedikitpun menyinggung topik-topik yang bisa membuat mereka menjadi canggung.

Membiarkan Seokjin mengatakan apapun tanpa perlu memikirkan rasa takut.

Suara Seokjin bagaikan energi yang membuat dirinya hidup, dari sudut matanya ia dapat melihat mata berbinar Seokjin yang sepertinya baru pertama kali datang ketaman hiburan, hati Hoseok menjerit karena itu.

Seokjin berhak menerima segala hal didunia ini.

Jadi setiap kali mata Seokjin berbinar penuh ketertarikan pada barang-barang yang ada disana, Hoseok akan segera membelikannya, entah apapun itu.

Hal itu membuat Seokjin geli dengan tingkah Hoseok, hingga rasanya Hoseok ingin teriak sekarang mungkin saking bahagianya.

"Kau mau cotton candy lagi ?" , Hoseok menawarkan kepada Seokjin yang terlihat sangat menikmati cotton candynya, mengambil suapan-suapan besar disetiap gigitannya.

Dengan pipi menggembung Seokjin menggeleng berusaha mengunyah permen yang ada dimulutnya, membuat Hoseok tertawa pelan sembari mengelus pipi Seokjin yang berantakan dengan cotton candy.

Mereka menikmati hari itu dengan amat perlahan.

Tapi tiap kali ia mengajak Seokjin menaiki salah satu permainan yang ada, pemuda itu menolak dan berkata bahwa ia hanya ingin berjalan-jalan.

Mereka terus megelilingi taman hingga hari mulai menjadi gelap, langit yang tadinya terang benderang, berubah menjadi warna sepia yang cantik yang perlahan menghilang digantikan langit malam yang gelap.

Mereka berdua duduk disalah satu kursi taman sambil menunggu kembang api yang akan dinyalakan.

Hoseok dapat merasakan tangan hangat Seokjin yang sejak tadi menggengam tangannya bergerak, ibu jari Seokjin yang halus mengelus pungung tangan Hoseok, yang memberikan rasa tenang.

"Hoseok-ah, kau tidak perlu khawatir, aku sudah baik-baik saja", Seokjin menjeda, memilih kata yang tepat, "Hanya.. sedikit, terkejut?", Hoseok hanya diam mendengarkan, tidak berniat untuk menimpali.

"Aku tidak pernah bepikir akan seperti ini jadinya, hidup bersama kalian dan menjadi bagian dari Bangtan, mungkin aku belum bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dihidupku secara keseluruhan kepada kalian

"tapi apa yang Jimin lakukan sebenarnya bukan masalah besar, aku hanya sedikit terkejut, itu saja, lagi pula itu bukan sepenuh salah Jimin, melainkan salah ku yang melanggar aturan kalian, padahal jelas-jelas kalian melarang."

Saat Seokjin tidak lagi berbicara Hoseok baru mengeluarkan suaranya.

"Tapi bukan berarti Jimin bisa melakukan itu pada mu, mengklaimu, hanya orang bodoh yang mengeklaim pria bebas" , Seokjin menghembuskan nafas pelan kemudian menyederkan kepalanya dipundak Hoseok.

"Bisakah kalian tidak menghukum Jimin lagi?", Seokjin bertanya dengan nada yang memohon, membuat Hoseok dihadapkan dengan tatapan penuh harap milik malaikatnya.

"itu bahkan bukan hukuman, tapi permintaan Jimin , kami hanya mengabulkannya" , Seokjin mengenduskan nafas kesal mendengar jawaban Hosoek

"Jimin juga terlalu keras pada dirinya sendiri" , ujar Seokjin menggerutu.

'DUAR !'

'DUAR !'

'DUAR !'

Suara kembang api yang meledak dilangit malam, Seokjin yang sibuk menggerutu sekarang terkagum-kagum dengan warna cantik yang dihasilkan oleh ledakan itu.

Mulutnya sedikit terbuka, dengan mata yang melebar membisikan kata-kata kagum yang hanya bisa didengar oleh Hoseok.

Hosoek berusaha untuk membuat ekspresi itu melekat erat diotaknya dan disimpan di memorinya untuk selamanya.

Tiba-tiba Hoseok bangkit dari duduknya dan menundukan dirinya di kaki Seokjin.

Membuat Seokjin yang sibuk mendongkak memperhatikan kembang api, sekarang menunduk menatap aneh tingkah Hoseok.

"Hoseok apa yang kau lakukan !" , Seokjin berusaha menarik tubuh Hoseok untuk kembali duduk, Namun Hoseok tidak bergeming dari posisinya. Kepalanya tertunduk menatap jalanan.

"Angel, tolong berjanji untuk tidak pergi dan meninggalkan kami apapun yang terjadi"

"Hoseok bodoh. Aku sudah terikat dengan kalian untuk selamanya, entah kalian sadar atau tidak" .

Dan ledakan terakhir berakhir.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sekian.