Jika kalian bertanya pada Seokjin, siapa yang paling posesif diantara ke-enam pemuda yang merawatnya, maka ia akan menjawab bahwa mereka semua adalah mahluk paling posesif yang ada di dunia.

Entah dari cara mereka bertindak, maupun dari cara mereka memperlakukan Seokjin.

Seokjin dapat merasakan aura yang membuat tubuhnya terjerat kembali ke arah mereka.

Namun jika kalian bertanya siapa yang paling manja, jawaban Seokjin hanya satu. Taehyung.

Pemuda paling tampan yang pernah Seokjin kenal sekaligus paling clingy.

Namjoon dan Jimin memang sangat posesif dan terlihat paling mendominasi Seokjin, tapi bila diperhatikan lebih baik, Taehyung mencurahkan seluruh rasa kasih sayangnya dengan amat terbuka.

Seperti pemuda itu selalu menyentuh Seokjin dimana pun, memastikan Seokjin berada dijangkauannya, entah itu hanya sekedar memegang tangan Seokjin atau hingga memeluk pinggang Seokjin.

Hal lain yang Seokjin sadari adalah Taehyung selalu berusaha menghabiskan waktu sebanyak yang ia bisa hanya untuk menatap Seokjin dengan begitu dalam.

Mereka mungkin berpikir bila Seokjin tidak mengetahui bahwa ada yang datang kekamarnya diam-diam, pada kenyataanya Seokjin tau.

Ia tau bahwa di malam pertama Jimin datang kekamarnya sambil terus membisikan kata-kata permintaan maaf dengan suara serak yang amat lirih.

Hati Seokjin seakan teriris bila mendengar itu, ia akan menangis dengan amat pelan, berharap tidak siapapun yang mendengarnya.

Tapi beberapa jam setelah Jimin pergi akan suara lain yang datang lorong kamarnya, tidak mengucapkan apapun.

Taehyung.

Tidak seperti yang lain duduk diam memunggungi pintu kamarnya, pemuda itu cukup menjarak.

Seokjin tidak begitu yakin apa yang Taehyung lakukan, tapi sepertinya pemuda itu hanya diam memandang pintu kamar Seokjin.

Hingga pelayan datang, tapi sepertinya Taehyung meminta untuk mereka tidak memberitahukan Seokjin kalau ia datang, namun tentu saja Seokjin mengetahuinya.

Selalu begitu, setiap hari selama ia memutuskan untuk mengurung diri, yang akhirnya ia meminta Hoseok untuk menemaninya kembali menghadapi dunia.

Selama beberapa hari itu Seokjin memikirkan kemungkinan apa saja yang akan ia hadapi kedepannya. Sejauh apa dirinya akan terlibat dikehidupan ke-enam pemuda itu. Apakah ia akan bertahan ?

Sejujurnya ia belum tau apa jawabannya, tapi setidaknya sekarang ia memutuskan untuk sedikit demi sedikit membuka dirinya sendiri. Karena mereka berhak mengetahuinya, apa yang sesungguhnya terjadi dengan dirinya.

Sekarang Seokjin sedang menikmati tehnya dengan amat perlahan, menikmati rasa hangat yang mengalir ditubuhnya karena udara malam yang memang sedikit dingin.

Kali ini ia duduk di taman lain yang ada dimansion itu, bukan lagi ditaman belakang ataupun rooftop tetapi dihalaman samping yang memiliki kolam ikan serta hammock mengantung dipohon-pohon.

Mengganti suasana.

Sudah seharian ini tidak ada member Bangtan yang pulang ke Mansion karena jadwal yang padat, jadi Seokjin hanya bisa menghibur dirinya sendiri dengan melakukan banyak kegiatan rumah.

Seperti berkebun, memasak ataupun merajut, ia tidak bisa lagi keluar rumah sendirian tanpa salah satu anggota Bangtan menemaninya.

Bangtan sudah tidak lagi bekerja bagaikan menjalankan hukuman, melainkan bekerja dengan normal, mereka sudah kembali kejadwal makan malam bersama atau terkadang makan siang.

Seokjin kurang mengetahui kesibukan seperti apa yang para pemuda itu hadapi, tapi semenjak kejadian itu Seokjin tidak lagi dibebani satupun tugas, bahkan bila itu berarti harus mengorbankan jadwal mereka yang lain.

Seperti kemarin, seharusnya Seokjin bisa datang sendiri ke salah satu charity yang Bangtan adakan sebagai perwakilan, berharap mereka tidak menyadari kalau Seokjin datang sendirian, tapi sesaat setelah ia sampai, Yoongi datang dengan keadaan panik dan berantakan seperti amat terburu-buru, namun pemuda itu tetap bisa membawa dirinya dengan amat baik, mengabaikan wajah kesal Seokjin.

Setelahnya Yoongi malah meminta maaf karena ia datang terlambat, bukan karena ia datang keacara itu.

"Kau pindah kemari ?" , Suara berat terdengar dari belakang tubuh Seokjin. Tanpa menoleh Seokjin mengangguk sebelum kembali meneguk tehnya.

Tangan panjang tiba-tiba mengalungi lehernya kemudian orang itu menempelkan pipi dingannya ke pipi Seokjin.

"You're getting thinner Jinnie", orang itu melanjutkan tindakannya dengan menggesek-gesekan pipi mereka , "apakah ini karena kami ?", Seokjin hanya bisa pasrah.

"Tidak Taehyung, aku hanya sedikit.. malas makan ?" , Taehyung mengehentikan gerakannya mendadak dan menjauhkan dirinya untuk duduk di kursi depan Seokjin.

Pemuda itu lagi-lagi menatap dirinya dengan matanya yang tajam itu.

Wajahnya datar, tapi bukan karena marah melainkan karena itu ekspresi yang selalu ditampilkan Taehyung, yang terkadang membuat orang lain salah persepsi.

"Apa aku perlu mengubah menu dirumah ?"

Rumah ya ?

Seokjin menggeleng.

"Aku mungkin hanya terlalu banyak memikirkan hal tidak perlu kupirkan"

"Apa itu karena suhunya ? karena musim menjadi lebih dingin kau menjadi lebih murung Jinnie", Taehyung tetap bersikeras bertanya.

"Tidak Taehyung"

"Aku lebih suka pipimu yang tembam, kau terlihat seperti hamster", Sekarang mata Taehyung menyipit skeptis, pemuda itu membawa tangannya untuk mengapit kedua pipi Seokjin , Seokjin hanya kembali menggeleng.

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan Tae", Sekarang mereka berdua terdiam, suara percikan ikan terdengar dengan amat jelas serta suara hewan-hewan malam yang mengisi keheningan.

"ini tempat aku biasa merokok, tidak apa-apakan bila aku merokok disini? atau aku perlu pindah dan membiarkanmu sendiri?"

"Tentu saja silahkan, aku tidak keberatan"

"Ok" , Dengan itu Taehyung berdiri untuk sedikit menjauh memunggungi Seokjin.

Ia mengeluarkan sebungkus rokok yang tersimpan disalah satu kantung jaket kulitnya, sebelum mengambil sebatang rokok dan menghidupkannya.

Melihat Taehyung yang mehisap bantang penuh racun itu bagaikan melihat seorang algojo yang minum hingga mabuk karena baru saja memancung selusin orang, sangat lelah.

Matanya tertutup, kepalanya sedikit mendongkak sebelum menghembuskan asap putih kelangit laman dengan perlahan menikmati tiap detiknya. Rambut Taehyung yang sudah mulai panjang itu bergoyang-goyang ditiup angin, bahunya perlahan-lahan mulai rileks seperti baru saja melepaskan beban yang sangat berat.

Entah mengapa Seokjin ingin sekali memeluk punggung lebar Taehyung.

Setelah merasa dirinya siap, Seokjin berdiri untuk memeluk punggung Taehyung, menenggelamkan kepalanya, menghirup bau citrus dan tembakau yang menjadi satu.

"Kau tau, dulu tuan ku yang kedua pernah berkata bahwa ia tidak membutuhkan siapapun kecuali aku, tapi ia membiarkanku disentuh oleh pria-pria menjijikan itu", Taehyung hanya terdiam dengan mata masih tertutup.

"Aku sangat mual hingga rasanya aku ingin selalu membersihkan tubuhku dari tanda-tanda yang mereka tinggalkan, tapi luka itu masih disana, bekasnya mungkin menghilang tapi pikiran bahwa tangan-tangan kotor itu ada disana menyentuhku... aku tidak bisa" , Tubuh Seokjin bergetar, ia semakin erat memeluk tubuh hangat Taehyung.

Entah Sejak kapan pemuda itu membalikan tubuhnya untuk menghadap tubuh Seokjin, membalas pelukan Seokjin sama eratnya, sambil menghembuskan nafas ditelinga Seokjin, sehingga bau tembakau menguar disekeliling mereka.

Taehyung hanya mengangguk, tidak berniat membalas cerita Seokjin, melainkan mengalihkan topik mereka.

"ada perjanjian yang dilanggar dan itu oleh salah satu musuh besar kami dan aku tidak tau pasti yang jelas perang akan berlangsung, entah itu besok , bulan depan, atau tahun depan. Tapi cepat lambat itu akan terjadi" , Taehyung berbisik ditelinga Seokjin dengan suara beratnya tanpa emosi.

Seokjin mengangguk mengerti.

"karena itu Jimin amat panik bukan hanya Jimin, kami amat panik. Kami mengerti tindakan Jimin karena aku bisa membayangkan posisi Jimin saat itu, mungkin bila itu aku, aku bisa melakukan hal yang lebih dibandingkan Jimin" , Pemuda itu mengelus punggung Seokjin kemudian menangkup kedua pipi Seokjin dengan telapak tangannya yang besar, menghapus jalur airmata yang ada dipipi Seokjin.

"Kenapa mereka selalu memberikan bagian yang kurang mengenakkan padaku" , Seokjin sekarang menutup mata menikmati elusan tangan hangat itu, tersenyum geli, mengerti bagian yang Taehyung maksud.

Tanpa Seokjin sadari pemuda itu mengangkat tubuh Seokjin , sehingga kaki Seokjin mengait dibelakang tubuh Taehyung yang membuat Seokjin sedikit memekik.

Taehyung membawa mereka berdua kesalah satu hammock, membiarkan Seokjin untuk tidur didada Taehyung dengan menekuk kakinya, meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Menikmati malam yang cerah karena bulan berbaik hati menyinarkan cahayanya dengan penuh malam ini.

"Terimakasih karena telah memberitahukan ku tentang itu Baby, aku sangat merasa terhormat, kau tidak perlu merasa takut untuk menceritakan apapun kepada kami", Taehyung meyakinkan Seokjin.

"Dan kalian tidak perlu lagi khawatir, itu hanya... aku hanya sedikit, terkejut, itu saja", Mereka berdua kembali terdiam menikmati keheningan yang ada.

"Mengenai perang itu, apakah itu perlu dilakukan ?" , Taehyung terlihat berpikir sebelum mengeluarkan isi pemikirannya.

"Sebagai strategist Bangtan, aku berpikir itu memang diperlukan mengingat ada hal-hal yang memang hanya bisa diselesaikan dengan perang, tapi kembali lagi kepada keputusan Namjoon-hyung. Namjoon-hyung takut itu malah kurang menguntungkan meskipun kita memenangkan perang itu, tapi entahlah, pria macam Namjoon-hyung tidak bisa diperkirakan pemikirannya", Seokjin bergumam tidak menimpali.

Seokjin dapat merasakan kaki Taehyung yang terus bergerak menggesekan kakinya dengan kaki Taehyung.

"TaeTaeee~~, stop it !, you being too clingy" , Seokjin merengek risih, sementara Taehyung hanya tertawa, semakin menjadi-jadi menggoda Seokjin. Sekarang dengan sengaja pemuda itu menaik turunkan tangannya keseluruh tubuh Seokjin.

"aku clingy" , Seokjin memutar bola matanya.

"Halo Clingy aku Jin", Lalu Seokjin tertawa dengan leluconnya sendiri yang membuat Taehyung mengerang dan menghentikan gerakannya.

"It's not even funny"

"itu cukup lucu untukku" Seokjin masih terkekeh pelan, Taehyung tidak membalas ucapan seokjin namun membalikan tubuh Seokjin agar tengkurap diatas tubuhnya sebelum mengapit kedua pipi Seokjin dengan satu tangan hingga bibir Seokjin mengerucut.

Taehyung mengecup pelan bibir Seokjin yang membuat pipi Seokjin memerah, dengan segera ia mejauhkan kepalanya agar pipinya tidak lagi diapit.

Merasa Seokjin menjauh Taehyung membangkitkan tubuhnya hingga sekarang Taehyung duduk dengan Jin duduk diatas pahanya, Taehyung mendekatkan kepalanya menyatukan dahi mereka hingga hidung bangir keduanya saling menyentuh.

Dengan tatapan dalam khas Taehyung, pemuda itu pun berkata.

"apapun yang terjadi kedepannya aku minta kau berjanji untuk selalu percaya kepada kami", Taehyung mempertahankan kontak mata mereka, dengan mata memohon.

"Dan akupun begitu, tolong percaya padaku Tae"

"Deal", Taehyng menggesekan hidung mereka, memberikan eskimo kiss.

"We love you Kim Seokjin" , Taehyung berbisik dengan suara beratnya, didepan bibir Seokjin.

"Aku juga mencintai kalian" , dengan itu Taehyung memiringkan kepalanya, mencium bibir Seokjin cukup lama, ia tidak menggerakan bibirnya, bibir mereka hanya nempel merasakan perasaan yang meluap satu sama lain.

Menjauhkan bibir mereka Taehyung lalu kembali mengangkat tubuh Seokjin, yang kali ini tidak lagi kaget saat tubuhnya terangkat, membiarkan Seokjin digendong bagaikan anak koala dengan kepala Seokjin bersembunyi di leher jenjang Taehyung, mencari kehangatan.

"Ayo kita masuk, malam semakin dingin" , Seokjin hanya mengangguk patuh membiarkan Taehyung membawa tubuhnya kekamar mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Done.

Ini chapter tersoft yang gua ketik, meskipun gk gt dapet feelnya,begitulah ya ngetiknya ngebut :'). Draft chapter sesungguhnya berisi anuan , tp tiba" gua melihat betapa softnya Taehyung , ambyar sudah anuannya. Jadi paling next chapter.