GUE UDAH MAEN BALIK AJA

Story ini bakal up cepet karena gue lagi mood plus lagi liburan.

Jan lupa komen or fav or foll. Dilarang plagiat ciin.

-HunaHan GS-

Wanna' XOXO

Aku menguap dan mulai tenggelam pada lamunan pagi. Pagi ini kelihatannya cerah. Tapi ranjangku masih sama empuk dan nyamannya seperti semalam. Membuatku tidak segera bangun.

Hari terakhir orientasi dan welcome party bersama laki-laki seniorku yang ternyata super ideal bernama Minho itu sudah terlewat sebulan yang lalu.

Sekarang aku resmi menjadi mahasiswi. Tidak ada lagi Luhan si anak SMA di bawah umur yang tidak legal keluar malam.

Aku tidak ingin menyalah gunakan apartemenku yang jauh dari ayah dan ibu, tapi sejujurnya dari lubuk hati terdalam, aku bahagia dengan keleluasaan ini.

"Han, kau ada kelas jam berapa?"

Kyungsoo menyembulkan kepalanya di celah pintu. Seakan ini mengingatkanku bahwa masih ada cewek kolot macam Kyungsoo yang jadi teman se-apartementku yang akan selalu jadi monitor hidup.

Hebatnya, Kyungsoo dan aku bisa sangat mudah cocok dan memutuskan tinggal bersama di apartemenku.

"Pagi." Gumamku tanpa minat.

"Kalau begitu berangkatlah duluan. Aku naik bus siang ini."

Aku menendang selimutku dan bangkit. "Oke. Tapi aku harus pergi ke perpus hari ini. Sepertinya bakal lama di kampus. Kau mau pakai mobilku saja, Soo?"

Kyungsoo membuka pintuku lebar-lebar dan berbalik, kemudian berteriak dari kamarnya yang di seberang kamarku. "Tidak, kau yang lebih butuh. Kau tahu, aku masih tidak menyangka cewek genit macam Luhan ternyata rajin juga."

"Terserah sih, yang perting sudah kutawari ya, pendek~" Godaku yang dibalas bantal melayang.

Itu mengenai tengah wajahku. Karena aku sedang dalam posisi berjalan di dekat ambang pintunya.

"Wajah cantikkuuu!"

"Panggil aku pendek lagi, Luhan!"

Aku berlari masuk kamar mandi setelah berucap, "Jahat, sukanya main kasar. Atau mungkin kau biasa di kasari di ranjang, pendek?"

"Luhaen!"

Begitulah…

Setelah teriakan Kyungsoo, aku bersiap berangkat sementara Kyungsoo tidak keluar kamar sama sekali. Kutebak dia sedang bersih-bersih. Membersihkan setiap sudut dan setiap celah sampai tak berdebu.

Si clean freak.

-LINE BREAK-

"Mau minum setelah kelasmu selesai?" Tanya Wonwoo saat kami berdua sudah keluar mobilnya.

Ternyata ketimbang mengendarai kuda putihku sendiri, aku lebih tertarik menerima Wonwoo, teman sekelasku yang menawariku tumpangan.

Aku membenarkan lipatan dress pastelku sebelum menjawab. "Sepertinya tidak bisa, Wonwoo-ya. Aku sudah punya acara nanti." Mataku menangkap raut kecut di wajah tampan itu.

"Kau mau hang out dengan siapa?"

"Hai Sun," Kami sudah masuk kelas dan duduk di deret pertama. Wonwoo mengambil kursi di sebelah kananku yang kosong. Sementara di sisi kiriku ada gadis berambut pendek berpakaian kalem bernama Sunny. Aku menoleh lagi pada Wonwoo yang melingkarkan lengannya di sandaran kursiku. "Aku tidak hanging out malam ini."

Aku harus mencicil tugas-tugas. Dan memang Luhan si cewek suka keluar malam harus bersabar malam ini.

Semua temanku sudah tahu. Aku bukanlah gadis berkomitmen.

Aku cuma suka mencoba, mencoba main dengan banyak laki-laki.

Wonwoo mengendikkan bahu dan aku menepuk pahanya. "Besok, oke?"

"Oke." Jawab si tampan.

-LINE BREAK-

Nyatanya Wonwoo tidak oke.

Kelas pagiku baru saja selesai, tapi Wonwoo masih berusaha membujukku dengan segala rayuan manis. Aku tidak keberatan. Tapi laki-laki yang sedang menggandeng tanganku yang sekarang keberatan.

"Berhenti, Wonwoo. Kami akan masuk kelas bersama." Katanya yang hanya kutertawakan.

Aku merangkul kedua laki-laki yang berdiri disisi dan mengungkungku. "Aku memang mengejar kelas berikutnya bersama Johny. Mau ikut, Wonwoo-ya?"

"Yasudah aku pergi!" Kemudian saat Wonwoo pergi menjauh dan ditelan kerumunan koridor, aku tertawa lebih keras.

"Gigih sekali dia." Gumamku yang diangguki oleh Johny. Laki-laki tinggi yang sebenarnya lebih tua dariku, namun masih harus mengambil kelas bernilai buruknya.

"Han-ie, aku punya coklat, kau mau?" Tanyanya sambil mengeluarkan sebatang coklat dari saku jaket kulitnya.

Coklat!

Aku menyambutnya suka cita. "Tentu, siapa yang bisa menolak coklat dari pria romantis sepertimu coba."

Tangan kami masih bergandengan tangan dengan aku memainkan coklat berbungkus keemasan. Akan kusimpan ini dan kumakan diam-diam saat di perpus nanti.

"Prof, aku pikir bagian ini masih butuh perhatian. Bisa anda bantu aku memperbaiki ini?"

Aku mendongak dan detik itu juga, aku menyesal.

Sepasang pria dan wanita berpakaian formal sedang berdiri dengan lembaran kertas diantara mereka yang tepat ada di ambang pintu kelasku.

Wanita berpakaian formal tapi bermake-up modis dan cantik itu adalah dosenku. Namanya Ms. Baekhyun. Masih muda dan selalu tampil segar.

Panutanku dalam hal riasan.

"Ms. Baekhyun." Sapaku pada Baekhyun saat Johny dan aku melewatinya. Kemudian entah dapat dorongan adrenalin dari mana, aku tersenyum pada pria yang kelihatannya di cegat oleh Baekhyun. "Selamat pagi, Professor Sehun."

Ya, itu Professor Sehun. Pria teman kuliah sarjana Rena yang kami bicarakan kemarinnya kemarin, atau kapan itu. Juga Oh Sehun yang sempat kuberi perasaan lebih. Dulu. Dulu sekali, saat umurku 13 dan dia 20.

Dulu, dimataku, Sehun adalah pria pendiam paling misterius dan paling suka kutempeli, sekaligus kurengeki setelah ibu. Rena ada di urutan kusayang kesekian karena dia sangat cerewet seperti ayah.

Johny mennggiringku untuk segera berjalan saat Sehun mengangguk membalas sapaanku. "Luhan, ayo. Ms. Baekhyun sedang ada urusan."

"Well, sebentar ya kiddo, kelasnya kumulai sepuluh menit lagi." Kata Ms. Baekhyun santai.

Kemudian aku tanpa sadar tersenyum lagi pada Sehun sebelum beranjak masuk kelas lewat pintu belakang yang tidak dipakai berduaan oleh sepasang itu.

Dan hanya itu.

Aku tidak percaya aku dan Sehun akan bertemu setelah sekian lama.

Demi Tuhan!

Sekitar lima tahun. Tapi aku lebih tidak percaya lagi kami berakhir seperti orang asing. Bagaimanapun, kami pernah sangat dekat.

Aku menggeleng-geleng tidak habis pikir. Johny menggelitikku dan membuatku sadar dari lamunan singkat. "Luhaan."

"Johny, kutusuk tanganmu dengan pena jika kau masih menggelitiku." Kataku sambil mengacungkan pena. Kami sudah di dalam kelas, dan sekali lagi aku memilih deret depan. Itu memudahkanku mencatat dan mendengar penjelasan dosen.

Ditambah, sekarang memudahkanku menguping pembicaraan Baekhyun dan Sehun.

"Luhan, imut sekali sih kau ini." Kata Johny sambil menarik pipiku sampai melar.

Aku tidak peduli dan lebih peduli pada Baekhyun yang mengelus lengan kokoh Sehun yang dibalut kemeja hitam.

Hey, aku juga ingin menyentuhnya!

Tanpa sadar aku menusuk tangan Johny yang masih di pipiku. Dia mengaduh keras dan aku mendesah lega penaku masih tertutup, jadi secara teknis, aku tidak melubangi tangan seseorang.

Aku mendongak lagi dan sudah menemukan Baekhyun diatas mimbar. Sehun entah dimana.

Suasana hatiku memburuk seiring kuliah Baekhyun berlangsung. Aku menatap Baekhyun terlalu lama sampai dosen itu menegurku dan bertanya kenapa. Aku berkata baik tapi hatiku tetap panas entah kenapa.

Aku sendiri juga tidak mengerti. Sebut aku remaja labil.

-TBC-